Drama (Part 7)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Professor Kang sedang memberikan kuliah singkat sebelum praktek dilaksanakan. Sesekali Mi Rae melirik pada Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Kyuhyun menatap kosong pada cadaver yang berbaring di hadapan mereka. Entah apa yang sedang dipikirkan Kyuhyun, namun itu mampu membuat Mi Rae mengerutkan alisnya—berpikir. Mi Rae tak sadar jika belakangan ini ia terlalu banyak berekspresi. Ia sangat penasaran dengan isi kepala Kyuhyun. Ingin rasanya ia mengeluarkan otak Kyuhyun demi mencari tahu apa yang sedang dipikirkan Kyuhyun. Apalagi saat ini mereka memang akan membuka kepala para cadaver demi mempelajari otak dan sarafnya, neuroanatomi yang selalu membuat Mi Rae uring-uringan.

Ketika pembedahan dilakukan, Mi Rae tidak bisa fokus seperti biasanya. Ia memang mengawasi dan bahkan ikut memegang pisau bedah, tapi ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk berkonsentrasi pada kepala-kepala yang telah terbuka hingga memamerkan otak di balik tempurung kepala itu. Seolah tatapan kosong Kyuhyunlah penyebabnya.

Kalau saja rombongan teman-temannya datang lima menit, ah dua menit lebih lama—Kyuhyun pasti mampu menuntaskan perkataannya beberapa waktu lalu dan artinya ia tak perlu lagi bertanya-tanya pada Kyuhyun tentang orang-orang misterius itu. Agaknya, perubahan Kyuhyun terjadi sesudah itu. Seperti Mi Rae; pemuda itu pun tak sepenuhnya mengikuti praktikum yang sedang berlangsung. Kini, pertanyaan terbesar di kepala Mi Rae bukan lagi tentang siapa orang-orang itu.

“Terjadi sesuatu?”

Jin Ae bertanya ketika mereka telah keluar dari ruang praktik. Sejak tadi, Jin Ae sudah ingin mengemukakan pertanyaan itu karena melihat keanehan sikap Mi Rae, tapi otak-otak di hadapannya tak memberinya ruang untuk melontarkan pertanyaan.

“Mi Rae, kita makan siang bersama!”

Siwon berlari-lari kecil menghampirinya, ajakannya disambut dengan ekspresi aneh Jin Ae. Tak mungkin bagi Jin Ae untuk menelan makanan setelah keluar dari lab anatomi. Tidak seperti Mi Rae yang dapat menelan makanan bahkan ketika mereka masih berhadapan dengan cadaver, Jin Ae membutuhkan lebih banyak waktu untuk menetralkan kerja organ-organ tubuhnya.

Mi Rae belum juga menjawab pertanyaan Jin Ae ataupun mengomentari ajakan Siwon. Ia lebih tertarik mencari Kyuhyun, dan ketika matanya menemukan sosok itu, tanpa menoleh pada dua orang yang sedang bersamanya ketika ia berkata, “Aku harus pergi!” hanya dua langkah, ia berhenti dan berbalik, “Ah—tidak ada yang ingin kalian katakan?” ia bertanya, namun segera bergegas pergi. Tampaknya Mi Rae tak membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan. Jin Ae dan Siwon melengos pasrah setelah mulut keduanya sama-sama terbuka untuk mengatakan sesuatu, namun justru disergah oleh Mi Rae.

Mi Rae melangkah pelan di belakang Kyuhyun. Ketika langkah Kyuhyun terhenti, Mi Rae melakukan hal yang sama. Mereka terus berjalan, lebih tepatnya—Mi Rae terus mengikuti Kyuhyun hingga Kyuhyun mendekati sebuah bangku panjang tepat di bawah sebuah pohon ginko. Mi Rae berdiri sambil memperhatikan Kyuhyun yang baru saja duduk. Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan lengan di atas pahanya dan saling menautkan jari-jari tangannya. Ia lalu mendekati Kyuhyun dan duduk di bangku yang sama.

“Maaf, aku masih berhutang penjelasan padamu.”

Mi Rae menoleh pada Kyuhyun yang berbicara tanpa menatapinya—ini kali pertama Kyuhyun melakukan itu. Mi Rae membuang tatapannya, kedua orang itu hanya memandang lurus ke depan.

“Mereka adalah—”

“Mengapa kau ingin menjadi seorang dokter?”

Kyuhyun perlahan memiringkan wajahnya, memandangi Mi Rae yang telah lebih dulu mengawasinya, tenang. Alih-alih mengikuti Kyuhyun karena penasaran tentang orang-orang itu, tapi tampaknya mereka bukan lagi menjadi hal prioritas yang ingin ditanyakan Mi Rae. Kyuhyun masih tak mengerti mengapa Mi Rae justru membelokkan pertanyaannya.

“Semua orang tahu jika kau pintar, berbakat…uhm, rasanya aku tidak perlu menjelaskan semua itu padamu,” Mi Rae sedikit mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Ia bersandar, kemudian melipat tangan di depan dada. “Setelah lulus, kau akan pergi ke rumah sakit terkenal dan menjadi dokter yang hebat.”

“Kau pikir akan begitu?”

Mi Rae mengangguk. “Ya—kau sangat mampu melakukannya, tapi…itukah yang kau inginkan?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu?” Kyuhyun menatap bingung pada Mi Rae.

“Aku sebenarnya ragu jika kau pernah tahu rasanya menggila bersama tugas-tugas, nilaimu selalu yang tertinggi. Kau ramah dan disenangi banyak orang, tipikal orang sepertimu pasti akan menjadi dokter yang baik. Kau melakukan segalanya dengan mudah, kau selalu menjadi yang terbaik dan kau—”

Mi Rae terdiam, sejurus kemudian ia mendesis parah setelah menyadari jika pada akhirnya ia mendeskripsikan pribadi seorang Cho Kyuhyun secara terbuka, dan tepat sasaran. Kyuhyun tersenyum, ia tak menyangka jika Mi Rae berpikiran seperti itu tentangnya. Semua orang akan berpendapat begitu, namun ketika itu keluar dari mulut Mi Rae, efeknya terasa sangat berbeda bagi Kyuhyun. Ia seperti baru saja menerima angin segar.

“Maksudku, meskipun kau melakukan semua dengan sangat baik, tapi entahlah…rasanya itu bukan dirimu yang sebenarnya,” perkataan Mi Rae yang diawali dengan kecanggungan karena terlanjur kedapatan memuji Kyuhyun, justru diakhiri dengan sebuah dugaan yang tak berdasar, tapi, “Apakah aku salah?”

Kyuhyun masih tertegun sejak Mi Rae menuturkan pendapatnya. Ia tak tahu dari mana atau bagaimana Mi Rae bisa menyimpulkan hal seperti itu, tapi anehnya—ia tak sedikit pun menyergah Mi Rae. Mulutnya seakan digembok.

Kyuhyun menarik napas, lalu bersandar, seperti yang dilakukan Mi Rae. “Aku sudah ber-acting semaksimal mungkin, tidak kusangka jika kau menemukannya,” Kyuhyun tersenyum pada Mi Rae yang berbalik mematung. Jadi dugaannya benar? “Rupanya aku adalah actor yang buruk,” Kyuhyun tertawa renyah. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Mi Rae mengedikkan bahu sambil menggeleng, “Hanya terlintas begitu saja di kepalaku. Aku bahkan terkejut karena kau membenarkan itu.”

“Aku rasa itu pertanda baik.”

“Apa?”

“Baek Mi Rae tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan Cho Kyuhyun. Kau tak tahu alasan mengapa itu terjadi padamu?” lambat tapi pasti, Kyuhyun mulai mempertontonkan sengiran tajam. “Mi Rae, kau yakin tidak ada sesuatu yang berubah di hatimu?”

Kyuhyun tersenyum dan Mi Rae terpesona.

Apa? Terpesona?

Mi Rae menggeleng kasar. Tidak! Sesuatu memang mulai berubah, tapi itu pasti otaknya yang bermasalah, elak Mi Rae.

“Ada apa?”

Mi Rae tersentak kaget. Suara Kyuhyun tiba-tiba saja membuatnya hampir terjungkal. Ia menoleh menatap Kyuhyun yang sedang memperlihat kecemasan di wajahnya yang bersinar dan terasa menyilaukan mata Mi Rae.

Apa?

Bersinar? Menyilaukan?

Kyuhyun mungkin tampan, baik, ramah, pintar dan…Mi Rae bergeming, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Barusan ia telah dua kali memuji Kyuhyun? Lagi-lagi Mi Rae menggeleng kasar.

Maksud Mi Rae, sekalipun Kyuhyun memiliki semua kebaikan itu—tapi, Kyuhyun bukan malaikat? Lalu mengapa ia seakan melihat sinar yang mengelilingi Kyuhyun?

“Mi Rae kau baik-baik saja?” kecemasan Kyuhyun makin menjadi-jadi karena melihat warna kulit Mi Rae yang putih pucat, seperti tak ada darah di sana. Juga, keringat halus telah membasahi dahi mulusnya.

“Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Kau benar, ada yang berubah padaku—kurasa, itu karena aku mulai gila.”

Melihat Mi Rae yang melemas sambil tertunduk pasrah, sesuatu terjadi pada Kyuhyun. Seluruh tubuh Kyuhyun serasa digelitik. Pipi Kyuhyun menggembung akibat menahan tawa yang tetap saja pecah hanya berselang sekian detik, menggelegar di udara seperti sebuah petir.

“Kau? Kau mengejekku?” Mi Rae mencoba untuk mengolah wajahnya agar tampak datar seperti biasanya. Ia menatap intens pada Kyuhyun yang setengah mati mencoba menenangkan diri. Mi Rae yang datar dan kaku itu, terlihat sangat polos.

“Astaga Mi Rae, aku sungguh menyukaimu.”

Tangan Mi Rae gemetar ketika ia menyentuh dadanya. Ia sudah terbiasa melihat Kyuhyun tersenyum tulus dengan sinar mata yang begitu hangat seperti itu, tapi Mi Rae tak pernah bisa menjelaskan mengapa kali ini jantungnya berdentam kuat sekali. Satu-satunya yang terlintas di kepala Mi Rae adalah jantungnya bermasalah dan ia harus segera melalukan medical check-up. Hanya membayangkan impiannya sebagai dokter akan kandas jika ia ketahuan berpenyakit, mendadak tubuh Mi Rae panas-dingin.

Bisa menyalahpahami dirinya sendiri, tidak diragukan lagi jika Mi Rae yang kaku dan terlampau datar itu tidak mampu mengeskpresikan perasaannya. Kesimpulan yang tepat tentang Mi Rae adalah gadis aneh, tapi kekurangan Mi Rae justru menjadi daya tarik tersendiri bagi Kyuhyun.

Manusia memang tidak ada yang sempurna, bukan begitu? Sehebatnya apa pun seseorang, ada hal-hal tertentu dalam dirinya yang dinilai kurang di mata orang lain, tapi seberapa frustasi atau mindernya seseorang karena kekurangannya; orang itu hanya tidak menyadari jika dirinya sangat sempurna di mata Tuhan. Tidak ada yang salah dengan hasil karya Tuhan karena tidak pernah setengah-setengah ketika Tuhan melakukan sesuatu.

Kyuhyun yang nyaris sempurna dalam penilaian kebanyakan orang, tapi ada sesuatu tentangnya yang berusaha ia sembunyikan, sisi-sisi yang ia tidak ingin orang lain tahu meskipun faktanya bahwa Mi Rae dapat menangkap signal aneh dalam diri Kyuhyun. Lalu Mi Rae? Gadis itu selalu dipandang sebelah mata, tapi Kyuhyun menyadari jika Mi Rae memiliki sesuatu yang tidak ditemukan pada orang lain. Kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi. Hidup yang seperti sebuah skenario tulisan Tuhan dan mereka hanya perlu melakoninya.

Semua orang, seperti halnya Mi Rae dan Kyuhyun yang mengalami berbagai kesulitan tapi sebenarnya itu adalah cara Tuhan memberi warna di hidup mereka—ya, dengan cara-Nya sendiri, sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh logika manusia. Pemikiran yang terbatas membuat manusia sulit memahami maksud Tuhan dan karena itu, orang-orang selalu mengatakan jika Tuhan tak adil. Semuanya terletak pada satu kata. Sebuah kata yang mudah diucapkan, sangat sulit dipraktekkan, tapi wajib dilakukan; bersyukur.

Setelah mendengar sendiri pengakuan Kyuhyun, Mi Rae yang sempat hilang fokus akibat signal aneh yang ia rasa—bahkan hingga saat ini—memutuskan untuk bertanya, “Menjadi seorang penyanyi?” duga Mi Rae. Ia telah dua kali melihat Kyuhyun bernyanyi dan ia tak bisa mengatakan bahwa itu adalah nyanyian yang biasa. Lagi-lagi, Kyuhyun selalu melampaui penilaian Mi Rae.

“Karena aku suka menyanyi?”

“Kalau bukan itu, lalu?”

“Tapi, menjadi seorang penyanyi bukan ide yang buruk,” pernyataan Kyuhyun yang ambigu berhasil membuat Mi Rae mendesah.

“Ada satu hal yang selalu ingin kulakukan, tapi karena aku kecewa pada mereka, lalu aku memutuskan untuk mengubur dalam semua itu. Sepertinya aku berhasil, karena mereka sangat terpukul,” sebuah senyuman mengukir di sudut bibir Kyuhyun. Senyuman itu sangat hambar.

Mi Rae lebih serius, tidak disangka jika ia akan sangat penasaran dengan kehidupan pribadi orang lain.

“Mereka yang kau bicarakan di sini—orang tuamu?”

“Bingo,” Kyuhyun mengerling ringan tanpa beban, ia seolah berusaha menutupi kecamuk di dadanya. “Kata orang tua terasa asing di telingaku,” ia tersenyum lagi.

“Kau tinggal dengan mereka?”

Kyuhyun diam. Ia menatap Mi Rae lalu menggeleng, “Orang tua? Aku sudah tidak punya. Aku sendirian.”

Sendirian. Sesaat, Mi Rae menangkap maksud dari konteks ‘sendirian’ Kyuhyun adalah hidup tanpa ada orang lain di sekitarnya, siapa pun itu—bahkan Mi Rae merasa saat ini, ia berada dalam dimensi yang berbeda dengan Kyuhyun. Ia tak bisa menjangkau Kyuhyun yang tenggelam dalam dunianya sendiri. Sebuah dunia yang selalu ingin dikubur Kyuhyun. Untuk pertama kalinya Mi Rae dapat menangkap rasa kesepian yang teramat dalam dari sinar mata Kyuhyun. Entah di mana ia sembunyikan sosok berhati hangat yang selalu melekat pada dirinya.

“Hidup seperti ini, mungkin adalah karma yang harus kuterima. Kata orang: apa yang kau tabur, itulah yang akan kau tuai.”

Mi Rae membatin. Sebenarnya, siapa pemuda yang duduk di sisinya yang sejak tadi terus menatap kosong. Dan apa maksudnya dengan berkata: hidup seperti ini?

“Karena aku sudah tidak bisa kembali pada ‘apa yang paling ingin kulakukan’, maka aku harus mencari hal lain yang sedikit lebih berguna. Hidup di Seoul yang sarat dengan persaingan dan tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi—setidaknya aku harus memiliki pekerjaan yang bisa menghidupiku, dan keluargaku kelak,” sembari menoleh pada Mi Rae yang masih bungkam ketika Kyuhyun berkata, “Kesimpulan dari ceritaku yang mungkin terdengar sangat melankolis di telingamu adalah…mm, lebih ke sebuah pertanyaan: mengapa aku ingin menjadi dokter?”

Kyuhyun tersenyum dan untuk sesaat Mi Rae senang, Kyuhyun telah kembali pada pribadi yang dikenalnya. Kyuhyun yang ramah dan penuh kehangatan.

“Pelarian.”

“Apa?”

“Aku menyebutnya sebagai bentuk dari pelarian. Sebelum mencoba menjadi dokter, aku pernah melakukan sesuatu yang jika kau tahu; kau mungkin akan berpikir berkali-kali lipat untuk duduk di sini bersamaku.”

Ucapan ringan yang sekali lagi mampu menghenyakkan Mi Rae. Ia sepertinya terhipnotis dengan kata pelarian sehingga tidak begitu mempermasalahkan maksud tersembunyi dari perkataan Kyuhyun.

Pelarian? Sungguh hanya karena pelarian? Rasa heran bercampur takjub telah memeluk Mi Rae secara bersamaan.

Bukan apa-apa. Mi Rae harus belajar mati-matian, mengurangi jam tidur bahkan selepas bekerja part time hanya demi mengerjakan tugas dan berkali-kali harus mencuci muka seraya mengusir kantuk—terlalu banyak rutinitas gila yang ia jalani hingga membuatnya melupakan kodratnya sebagai seorang gadis muda hanya karena keinginannya untuk menjadi seorang dokter.

Tentu saja ia terkejut bukan kepalang mendengar seloroh Kyuhyun. Disaat ia iri habis-habisan pada Kyuhyun yang selalu mendapatkan nilai tertinggi dengan sangat mudah—lalu tiba-tiba saja Kyuhyun memberikan pengakuan mengejutkan beberapa saat lalu. Ironis sekali, decak Mi Rae. Rasa iri Mi Rae kian menjadi karena kenyataan Kyuhyun tetap menjadi yang terbaik dalam ‘pelarian’.

“Kau pikir apa?”

Itu adalah pertanyaan Kyuhyun yang melihat Mi Rae sudah terlalu lama termenung, berdiam diri dan tak jemu-jemu mendesah.

“Hanya dua hal,” ucap Mi Rae santai. Dua hal yang melintas seperti sekelebat bayangan di benaknya, tapi tidak satu pun dari kedua hal itu yang menyangkut dengan apa yang terakhir kali ia pikirkan. Ia tak ingin mengatakan pada Kyuhyun betapa ia sangat menginginkan otak jenius Kyuhyun.

“Dua?”

“Ya, dua hal, tapi semua tergantung pada jawaban pertamamu.”

“Hm…permainan apa namanya?” Kyuhyun tertawa pelan, tetapi ia tak jadi meneruskan tawanya karena melihat Mi Rae yang menatapinya—tentu dengan raut wajah datar—dan ia sangat serius. “Kau bisa mulai,” Kyuhyun berbatuk kecil, entahlah tapi ia merasa harus mempersiapkan diri terhadap apa pun yang akan keluar dari mulut Mi Rae.

“Kau anak orang kaya yang sedang melarikan diri, dan pria-pria berjas hitam itu adalah orang suruhan atau mungkin saja pengawal di rumah mewahmu yang ditugaskan untuk menyeretmu pulang.”

Kyuhyun terkesiap. Untuk sekian menit kedua orang itu saling bertatapan, bola mata Kyuhyun berkedip sekali, dua kali, dan yang ketiga kalinya Kyuhyun berkata, “Itu pertanyaan? Atau pernyataan? Tidak ada penempatan tanda tanya pada kalimatmu.”

“Jawab saja!”

“Hei, kau sedang menginterogasiku?”

“Aku bukan polisi, atau detektif, atau apalah itu.”

Kyuhyun tersenyum. “Baiklah. Aku akan memberimu petunjuk. Pertama, aku adalah orang yang terus dihantui perasaan kecewa. Kedua, aku adalah orang yang mencoba untuk mengubur sesuatu yang disebut masa lalu. Dan yang ketiga, ini tak kalah penting daripada point pertama dan kedua, aku adalah pemuda tampan bersuara emas yang menggantungkan hidup dari beasiswa dan bekerja part time sama sepertimu, demi mengubah hidup. Bagian mana yang menurutmu paling relevan dengan vonismu terhadapku?”

Mi Rae menatap skeptis pada Kyuhyun. Pemuda itu justru memberinya sebuah teka-teki yang membingungkan. Mi Rae membuang tatapannya ke depan, menatap mahasiswa yang beberapa kali melintas di sekitar situ, mereka tertawa senang—seolah mereka hidup di dunia tanpa kepedihan. Tak ada gunanya dengan memandangi mereka karena Mi Rae tak bisa menyimpulkan apa yang Kyuhyun katakan padanya. Hei, ini bukan saatnya bermain teka-teki.

“Ok. Lalu yang kedua?” Kyuhyun memutuskan benang kusut yang sedang membingungkan Mi Rae dengan sebuah pertanyaan.

“Kedua?”

“Kau bilang ada dua hal yang sedang kau pikirkan.”

“Kau sangat yakin jika aku akan memberitahumu hal kedua.”

“Katamu, semua tergantung dari jawabanku pada pertanyaan—ah, ralat, maksudku pada pernyataanmu tadi,” Kyuhyun mengeluarkan ponsel, memeriksa sebuah pesan singkat yang ditulis Hyukjae bahwa Hyukjae akan pulang lebih dahulu. Setelah mengiyakan Hyukjae, ia lalu menyimpan ponsel dan melanjutkan perkataannya, “Jika aku adalah orang yang terdengar hebat dalam gambaranmu tadi, maka kau hanya akan ber-oh-ria, tetapi karena kau tidak bisa menyimpulkan siapa aku, kau pasti akan beralih pada hal yang kedua. Bagaimana?”

Tanpa sadar mulut Mi Rae sudah terbuka. Kyuhyun itu terlalu pintar atau bagaimana? Ia bahkan bisa mendeskripsikan hal-hal terkecil dalam satu kali helaan napas, Mi Rae tak tahu kapan Kyuhyun menganalisa perkataan Mi Rae. Cepat-cepat Mi Rae merapatkan mulutnya sambil berdehem pelan, mengatasi rasa takjubnya.

“Kalau kau bukan anak orang kaya, maka mereka adalah gangster atau yang lebih parahnya mafia.”

Nada Mi Rae yang terdengar lebih tajam dari sebelumnya, dua kali lipat membuat Kyuhyun terkejut. Kyuhyun sadar, seharusnya ia tahu dengan watak Mi Rae yang selalu menyampaikan sesuatu secara blak-blakan. Tapi, tetap saja hal itu tidak menyurutkan Kyuhyun untuk bereaksi sebegitu hebohnya. Terkejut.

“Sekarang…kau sedang membahas drama denganku?”

“Drama? Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Kau terlalu berburuk sangka rupanya. Siapa yang mengalihkan pembicaraan?” Kyuhyun mengelak. “Aku hanya penasaran. Kau pasti sering melihat hal-hal seperti ini dalam drama.”

Mi Rae memutar bola matanya, jengah. “Bisakah kita kembali pada topik?” pasalnya, ia merasa Kyuhyun terus berkelit. “Dan lagi, seseorang pernah mengatakan padaku bahwa drama diadopsi dari kisah nyata, tapi bumbunya yang terlalu berlebihan,” tatapnya tajam langsung ke manik mata Kyuhyun membuat Kyuhyun harus menelan ludah yang terasa sakit ketika melewati tenggorokannya. Tak disangka, Mi Rae akan berbalik membekukannya dengan kalimat yang pernah ia lontarkan pada gadis itu. Dulu. “Tapi karena kau beranggapan kita sedang berbicara tentang drama, mungkin saja begitu,” lanjut Mi Rae, belum melepaskan Kyuhyun dari jerat matanya.

Mulut Kyuhyun baru saja terbuka, ia hendak mengatakan sesuatu saat terdengar teriakan melengking yang memekak telinga, “Baek Mi Rae!” Han Jin Ae tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

“Apa?”

“Kejam sekali. Kenapa tidak menjawab telepon?”

Mi Rae memeriksa ponselnya, “Maaf. Silent, aku tidak mendengar apa pun.”

“Cih. Sudahlah, kita bergegas sekarang!”

“Ke mana?”

“Kita sudah sepakat akan mengerjakan tugas di perpustakaan,” Jin Ae memelototkan matanya. “Siang ini!” tambahnya lagi karena kesal pada Mi Rae yang membiarkannya pontang-panting mencari gadis itu di kampus. Seolah tak menyadari keberadaan Kyuhyun, Jin Ae tersentak setelah makluk tampan itu sedikit beringsut sehingga menimbulkan suara, “Ah—aku mengerti mengapa kau bisa lupa pada janjimu,” kata Jin Ae, ia memamerkan senyum termanis yang dimilikinya pada Kyuhyun.

Mi Rae menegakkan tubuhnya, “Baiklah,” katanya kemudian dan beranjak pergi bersama Jin Ae.

“Hei, Nona Drama,” Kyuhyun memanggil dan Mi Rae berhenti sejenak, ia menoleh pada Kyuhyun. “Pernahkah aku mengatakan ini padamu?” tanyanya. “Kau seperti seorang cenayang,” ia menyudahi kalimat itu dengan sebuah senyum. Hangat. Selalu hangat.

Mi Rae hanya diam, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Kyuhyun. Tetapi, dibandingkan mencari tahu maksud Kyuhyun, ia justru sedang bergejolak karena senyuman Kyuhyun. Ia begitu gugup dan buru-buru mengajak Jin Ae pergi.

***

Di sebuah ruangan di dalam bangunan mewah yang berdiri kokoh di Distrik Gangnam. Ruangan berukuran luas itu memiliki desain interior yang sangat berkelas. Dua orang pria berjas hitam sedang berjaga di luar pintu ruangan tersebut, mereka berdiri di kiri dan kanan pintu. Sekilas mereka terlihat mirip patung, tak bergerak.

Beberapa orang dengan penampilan yang sama sedang berada di dalam ruangan. Ada seorang pria yang duduk di sofa sambil menghisap cerutu, ia membulatkan mulutnya sehingga asap yang keluar dari mulut berbentuk persis seperti kue donat. Seseorang yang terlihat tenang, tapi menyembunyikan sesuatu yang mampu membuat bawahannya memucat. Ia dipanggil dengan sebutan Presiden Kim, orang yang memimpin perusahaan tempat mereka bernaung saat ini.

“Kalian belum berhasil membawanya ke sini?”

Ia menatap pria-pria yang berdiri kaku di hadapannya, mereka tertunduk, terlihat gugup.

“Sebegitu susahnya kah menyeretnya? Apa kalian bersungguh-sungguh melaksanakan tugas?” ia meletakkan lagi cerutu ke mulutnya.

“Kami akan segera menangkapnya!” suara itu terdengar bergetar.

BRAK!!!!

Gebrakan di meja mengagetkan semua orang, tetapi bukan pria tua itu yang melakukannya.

“Berapa kali kalian mengatakan hal yang sama?”

Seorang pria muda dengan postur yang tegap dan besar yang duduk di sofa yang berbeda baru saja berdiri, memamerkan kekesalannya. Matanya berkilat, ganas.

“Kang In,” Presiden Kim membuang tatapan pada si temperamen bernama Kang In, tatapannya adalah isyarat agar Kang In tidak berlebihan. Kang In menghempas kasar tubuhnya di sofa, masih kesal.

“Cih, susah sekali menyeret pemuda itu ke sini,” Kang In mendengus sebal, pada kebodohan orang-orang itu.

“Pemuda itu? Dia punya nama,” Presiden Kim tertawa pelan.

“Cho Kyuhyun? Baiklah, aku akan membawa pemuda bernama Cho Kyuhyun itu ke hadapanmu,” ujar Kang In percaya diri. Presiden Kim kembali tertawa, nada sumbangnya terdengar meremehkan Kang In yang juga sedang meremehkan Kyuhyun.

“Tidak perlu mencarinya,” sergah Presiden Kim. Kemudian ia melanjutkan perkataannya setelah melihat Kang In kebingungan, “Dia sendiri yang akan datang menemuiku.”

***

Senja telah menjemput ketika Mi Rae dan Jin Ae keluar dari perpustakaan. Jin Ae memegangi tengkuknya, pegal. Kedua gadis itu berjalan bersama-sama. Kampus sudah terlihat sunyi, hanya beberapa orang yang berpapasan dan orang-orang itu pasti bernasib sama dengan Mi Rae dan Jin Ae. Dibebani oleh tugas yang menguras tenaga serta pikiran hingga berujung pada kehilangan selera makan dan dihantui oleh mimpi buruk yang membuat tidur mereka tak pernah nyenyak. Tidak heran jika lingkar mata mereka terlihat jelas. Jin Ae sedang menyetir, ia akan mengantar Mi Rae pulang.

“Oh ya, kau dan Kyuhyun berpacaran?”

Mi Rae tersedak. “Ap..apaa??”

“Kau—dan—Kyuhyun—berpacaran?”

Batuk Mi Rae terdengar lebih keras. “Kau? Kenapa kau…hei, hei…aku tidak…” Mi Rae kesulitan bicara. Ia terbata-bata. Rasanya ada sesuatu di tenggorokannya. Jin Ae menjadi takjub, baru kali itu melihat Mi Rae kelabakan. Biasanya Mi Rae hanya akan menghadiahinya tatapan dingin dengan raut wajah yang datar—sedatar aspal yang mereka lintasi.

“Begitu rupanya,” Jin Ae tersenyum.

“Apa? Jangan mengada-ada!”

“Aku mengerti. Aku juga tak butuh jawabanmu,” Jin Ae mengerling. “Cho Kyuhyun…ck, siapa yang bisa menolaknya?”

“Han Jin Ae!” hardik Mi Rae tajam. Mendengar nama Kyuhyun disebut, rasanya tidak seperti dulu, “Aku dan Kyuhyun tidak seperti itu,” Mi Rae memucat. Bukan hanya mendengar namanya, tetapi ketika menyebut nama Kyuhyun, ada gelombang aneh yang menjalari lapisan kulit di tubuhnya.

“Apa pun jawabanmu, Nona Drama,” Jin Ae tersenyum aneh. Ia lalu fokus pada jalan, ia tak ingin mereka mengalami kecelakaan. Sementara Mi Rae hanya melipat tangan di depan dada sambil sesekali menoleh pada Jin Ae yang sedang menyetir. Keduanya terus diam. “Besok aku akan menjemputmu,” katanya setelah mobil yang ia kemudikan berhenti. Mereka sudah sampai di dekat rumah Mi Rae.

“Tidak usah,” jawab Mi Rae setelah turun dari mobil. Jin Ae mengangguk. Mobil mulai beranjak pergi. Setelah mobil menghilang di balik tikungan, Mi Rae baru berbalik dan mulai berjalan—ia menapaki anak-anak tangga.

*

Di lain tempat, Kyuhyun dan Hyukjae sedang duduk menonton televisi. Menginap di apartemen Hyukjae sudah biasa bagi Kyuhyun apalagi belakangan ia terus-terusan dibuntuti hingga membuatnya merasa tak aman jika pulang ke tempat tinggalnya.

Mereka membahas banyak hal mulai dari perang dingin Korut dan Korsel. Kedua orang itu seakan berlomba-lomba mengemukakan pendapat mereka yang terdengar sangat diplomatis. Tidak tahu bagaimana garis lurus dari perang dingin dengan drama kolosal, namun mereka telah membicarakan Lee Young Ae—Hyukjae mengaku sangat mengidolakan pemeran Jang Geum dalam Jewel In The Palace tersebut. Ia dilempari tatapan takjub Kyuhyun yang tak mengira jika ada sisi sentimental dalam diri Hyukjae. Kemudian mereka berbicara tentang girl band, sebenarnya pembicaraan itu lebih didominasi oleh Hyukjae. Kyuhyun sangat bersemangat ketika topik mereka telah berganti pada game terbaru yang Kyuhyun beli dua hari lalu.

“Tidak mau?”

Dengan matanya, Kyuhyun mengikuti Hyukjae yang berdiri—menuju ruang lain. Beberapa saat kemudian Hyukjae muncul sambil membawa sebotol wine dan dua buah gelas. Ia meletakkan benda-benda itu di atas meja, membuka tutup botol wine, menuangkan isinya ke dalam dua buah gelas, tidak sampai penuh—isi gelas justru tidak sampai setengah. Hyukjae lalu menyodorkan gelas yang satunya pada Kyuhyun.

“Ya!” tegas Hyukjae sambil meneguk wine di gelasnya. Menolak tantangan Kyuhyun untuk berduel game. Jelas saja, ia belum pernah mengalahkan Kyuhyun. Lebih baik menghindar daripada melakukan sesuatu yang sudah pasti hasilnya akan seperti apa.

“Kau sama sekali tidak seru,” respon Kyuhyun.

“Hei! Itu bukan soju!” protes Hyukjae yang melihat Kyuhyun menelan hingga tuntas wine dalam sekali teguk.

“Cih,” decak Kyuhyun, ia menuang lagi wine ke dalam gelasnya hingga penuh, “Mau kuapakan anggur ini—terserah padaku,” katanya dan lagi, meneguk isi gelas hingga kosong.

“Perlakukan wine selayaknya wine dan soju selayaknya soju. Perlakukan mereka sesuai tempatnya,” Hyukjae meneguk sekali lagi wine di tangannya, hanya satu tegukan kecil dan ia terlihat sangat berkelas ketika melakukan itu. “Kau bisa ditertawakan orang lain.”

“Orang lain? Maksudmu—kaum berduit sepertimu.”

Hyukjae hendak menyanggah perkataan Kyuhyun, tapi hanya dengan satu gerakan tangan Kyuhyun membuat niat pemuda itu urung. Kyuhyun sudah tahu apa yang ingin dikatakan Hyukjae dan ia tidak ingin mendengarnya.

“Topik itu terlalu membosankan,” Kyuhyun tersenyum tawar. “Hm…bagaimana jika kuceritakan sesuatu?”

“Apa?”

“Baek Mi Rae.”

“Tidak!” cegah Hyukjae, “Bagian mana lagi yang akan kau ceritakan? Aku mengerti jika kau sedang jatuh cinta tapi kumohon, bisakah kau tidak menceritakan itu padaku?”

“Kenapa? Kupikir kau sangat penasaran?”

“Awalnya—tapi belakangan aku sangat menyesal,” desis Hyukjae. Cho Kyuhyun tidak akan berhenti jika sudah berbicara tentang Mi Rae. Hyukjae berkali-kali harus berbesar hati ketika Kyuhyun menceritakan bagian yang sama. “Aish! Kenapa kau harus menceritakan padaku?”

“Tidak baik jika menyimpan kebahagiaan seorang diri,” Kyuhyun tersenyum jail, ia tahu betapa muaknya Hyukjae karena dongeng-dongengnya tentang Mi Rae. Sebenarnya Kyuhyun tidak berniat begitu, tapi setiap kali teringat pada Mi Rae ia akan terus dihinggapi rasa kagum dan rasanya ia tak tahan jika menyimpan itu sendiri di kepalanya.

“Aku jamin, ini yang terbaru—kau mungkin akan terkejut.”

“Apa? Bagian kau mengangkat Mi Rae ketika sedang tertidur dan Mi Rae menggagalkan aksimu? Aku sudah tidak ingat berapa kali kau berkoar-koar tentang itu bahkan hari ini kau sudah menceritakannya sebanyak dua kali,” rasanya Hyukjae ingin menangis.

“Tidak. Bukan itu,” kata Kyuhyun. “Hari ini, Mi Rae mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berhenti sesaat,” Kyuhyun diam. Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan, “Sebelum Mi Rae benar-benar membenciku, mungkinkah aku harus membuat pengakuan padanya?”

Hyukjae terkesiap. Dadanya berdebar keras. Ia mencari keseriusan dibalik perkataan Kyuhyun, “Mi Rae tahu siapa kau?” tatapnya lebih lekat pada Kyuhyun. Pemuda itu hanya diam, belum berniat merespon pertanyaan Hyukjae.

Suara Michael Buble yang melantunkan lagu berjudul Home memecah kesunyian di ruangan tersebut. “Sebentar,” Kyuhyun mengeluarkan ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. “Hallo?”

Cho Kyuhyun,” suara berat yang terdengar asing di telinga Kyuhyun. “Kami sudah muak denganmu, jadi sebelum semua menjadi lebih rumit, sebaiknya kau segera temui kami.

Kyuhyun tersentak. Meskipun ia tak tahu suara itu, tapi sepertinya ia sudah bisa menebak sesuatu.

“Aku sudah tidak punya alasan untuk menemui kalian,” Kyuhyun berkata dingin.

Jika kau butuh alasan, akan kuberikan kau sebuah alasan.

Tut..tut..tut..

Telepon dimatikan.

“Yang meneleponmu—” Hyukjae mendadak tak ingin menyelesaikan kalimatnya. Melihat ekspresi Kyuhyun, ia sudah tahu siapa yang barusan menelepon sahabatnya.

Tak lama berselang, layar ponsel Kyuhyun kembali menyala. Sebuah pesan baru saja diterima, dari nomor yang sama. Kyuhyun menggeser layar ponsel dengan jarinya. Sepersekian detik, mata Kyuhyun membulat. Wajahnya menjadi kaku.

“Ada apa?” Hyukjae yang melihat tangan Kyuhyun gemetar segera merampas ponsel. Mata Hyukjae membelalak lebar begitu melihat tampilan di layar ponsel tersebut.

Sms itu berisi sebuah foto. Foto seorang gadis yang mulutnya dilakban, matanya ditutup dengan kain dan kedua tangannya terikat di belakang. Ada sebaris kalimat lain yang menemani foto itu, ‘Kau tahu di mana kau harus datang.

“Mi…Mi Rae?” persendian Hyukjae melemas dan ia terduduk di sofa sambil berpegangan pada tepian meja kaca di hadapannya. Ketika ia mengangkat wajahnya, tidak ada orang lain di tempat itu selain dirinya. Kyuhyun telah menghilang.

*

Gelap. Mata Mi Rae ditutupi hingga ia tak bisa melihat apa pun. Ia tak pernah mengira jika seseorang akan membiusnya hanya beberapa saat setelah mobil Jin Ae pergi. Ketika tersadar, ia sudah berada dalam kondisi yang seperti itu—tangan terikat, mata ditutup dan mulut dilakban. Hanya telinganya yang menjadi satu-satunya indera yang membantunya tetap waspada. Sesekali ia mendengar orang-orang berjalan di dekatnya, lalu ada beberapa orang yang sedang berbincang-bincang. Mi Rae tak tahu alasan orang-orang itu menangkapnya. Seluruh tubuh Mi Rae mulai mengigil.

Suasana menjadi lebih gaduh. Ada seseorang datang.

“Aku tahu kau akan datang, tapi aku tak mengira dalam waktu yang secepat ini,” suara itu, Mi Rae tahu itu adalah suara yang sejak tadi paling sering terdengar di telinganya. Orang itu beberapa kali mengumpat.

“Kau apakan gadis itu?”

Mi Rae terlonjak kaget. Cho Kyuhyun? Ia tahu dan tidak mungkin salah. Itu adalah suara Kyuhyun. Mi Rae mulai berontak, tapi ada dua orang yang memeganginya.

“Gadis itu? Apakah dia orang yang sangat penting? Pacarmu?”

“Jika kau menyentuhnya, aku tidak akan memaafkanmu.”

Tawa menggelegar, berlangsung kurang-lebih semenit.

“Lepaskan gadis itu. Yang kau inginkan adalah aku!”

Ada derap langkah lain yang tertangkap telinga Mi Rae. Mi Rae menduga ada sekitar lima orang baru saja memasuki tempat itu.

“Lama tidak bertemu, Cho Kyuhyun.”

Itu suara baru, sepertinya ia adalah salah satu dari mereka yang baru saja datang.

“Presiden Kim,” dan Mi Rae mendengar ada getaran aneh dari suara Kyuhyun. Mi Rae tak tahu siapa orang yang dipanggil ‘Presiden Kim’ oleh Kyuhyun, tapi tampaknya Kyuhyun dan orang itu pernah berhubungan di waktu yang lalu. Mungkinkah orang itu termasuk dari bagian masa lalu yang ingin dikubur Kyuhyun?

“Bagaimana hidupmu? Apakah kau hidup lebih baik sesuai keinginanmu?”

Entahlah, benar atau tidak apa yang ditangkap Mi Rae, tapi orang itu sepertinya menyimpan perhatian untuk Kyuhyun.

“Ya! Sangat baik,” Kyuhyun menjawab begitu mantap.

“Kau pikir aku tidak tahu bagaimana kau melalui hari-harimu? Jangan menyusahkan dirimu, kembalilah! Tempatmu selalu ada di sini!”

Pembicaraan itu semakin membingungkan Mi Rae. Membuatnya begitu ingin menyingkap penutup matanya. Ia ingin melihat siapa orang-orang itu dan apa maksud mereka berkata begitu.

“Aku mungkin terlihat menderita, tapi itu jauh lebih baik daripada waktu-waktu yang aku lalui di sini.”

“Cho Kyuhyun, aku masih membutuhkanmu.”

“Maaf Presiden Kim, tapi aku tidak lagi membutuhkan Anda.”

Hening. Untuk sekian menit tidak ada yang bersuara. Meski tak dapat melihat, namun Mi Rae dapat merasakan bahwa suasana menjadi lebih mencekam daripada sebelumnya.

“Sepertinya aku tidak bisa mengubah keputusanmu.”

Langkah kaki terdengar lagi, dan itu memberitahu Mi Rae kalau pria yang dipanggil Presiden Kim telah meninggalkan tempat itu.

“Kau tahu kenapa aku sangat membencimu?”

Giliran pria yang pertama kali menyambut Kyuhyun yang berbicara.

“Tidak. Aku bahkan tidak mengenalmu.”

Orang itu tertawa, “Perlukah kita berkenalan? Kang In. Aku Kang In.”

“Kang In. Apa aku mengenalmu?”

“Kau tidak mengenalku, tapi aku tahu siapa kau. Aku adalah orang yang datang beberapa saat setelah kau pergi. Aku berusaha dan giat, aku melakukan segalanya dengan sangat baik, tapi coba tebak apa kata Presiden Kim? Dia mengatakan: ‘Seandainya Kyuhyun di sini, hal seperti ini tidak akan terjadi.’ Cih!”

Pria bernama Kang In mengumpat dan bisa dipastikan Mi Rae jika saat ini ia sedang menatap Kyuhyun dengan beringas.

“Seandainya Kyuhyun…kalau saja Kyuhyun…jika saja Kyuhyun… aku muak mendengar kata-kata seperti itu! Presiden selalu saja membandingkan aku denganmu!”

“Kenapa tidak kau tanyakan pada Presiden Kim. Itu adalah urusan internal antara kau dan dia.”

Mi Rae jelas sekali mendengar dengusan Kang In. Orang itu teramat sangat membenci Kyuhyun.

“Tapi terima kasih, Presiden Kim sepertinya sudah tidak mengharapkanmu lagi. Dia telah membiarkanmu pergi dan itu artinya kau pasti tahu apa yang akan terjadi padamu.”

Tak ada suara. Semua diam.

“Coba saja jika kalian bisa!”

Membingungkan. Mereka seperti berbicara dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka, tapi orang-orang itu terdengar akan melakukan sesuatu pada Kyuhyun yang diyakini Mi Rae adalah hal yang buruk dan apa pun itu, Kyuhyun justru tak terdengar takut. Ia malah menantang mereka.

Keributan terjadi. Tidak salah lagi, sekarang mereka sedang berkelahi. Terdengar dentuman aneh, seperti suara orang saling menumbuk, meninju, menendang. Erangan-erangan pun mulai menghiasi telinga Mi Rae. Gadis itu ketakutan.

“Bunuh dia!”

Mi Rae dapat merasakan jika dua orang yang mengapitnya telah pergi. Mereka mungkin saja bergabung dengan teman-temannya. Mi Rae menjadi panik. Kyuhyun hanya seorang diri, sangat tidak imbang jika ia harus berhadapan dengan—hm, belasan atau mungkin puluhan orang.

Ketakutan yang sangat besar sedang menggerogoti Mi Rae, ia berjalan dengan tuntunan telinga sebagai penunjuk arah. Ia harus menemukan Kyuhyun. Kyuhyun dalam bahaya. Ia tidak bisa membiarkan Kyuhyun dipukuli orang-orang itu.

“Aaahhh!!!” Mi Rae berteriak. Ia sangat terkejut saat seseorang menarik kasar dirinya. Orang itu mengurung leher Mi Rae dengan lengannya. Perlakuan yang kasar menyadarkan Mi Rae bahwa ia sedang berada di tangan yang salah.

“LEPASKAN DIA!”

Kyuhyun berteriak. Marah. Mi Rae tidak pernah mendengar Kyuhyun semarah itu. Kyuhyun yang ia tahu adalah seseorang yang penuh perhatian, ramah dan selalu bersikap lembut. Kyuhyun yang kedengaran di telinganya saat ini adalah sosok Kyuhyun yang berbeda. Kyuhyun yang sama sekali tidak ia kenal.

“Jika kau bergerak barang selangkah, pisau ini akan bersarang di lehernya.”

Itu suara orang yang bernama Kang In. Orang itu yang sekarang menawan Mi Rae. Mi Rae gemetar hebat begitu mengetahui benda dingin di lehernya adalah pisau. Apakah mereka sedang terdesak? Jika tidak, mengapa si Kang In itu harus menjadikannya sandera? Kyuhyun terlalu tangguh untuk dikalahkan sehingga ia merasa terancam? Mungkinkah itu? Tapi Kyuhyun hanya sendirian.

Perkelahian terdengar lagi, namun Kang In belum melepaskan Mi Rae. Sementara itu Mi Rae sudah menangis, ia menjerit tapi suaranya tidak terdengar. Ia berusaha melepaskan diri tapi pria itu sangat kuat. Dada Mi Rae mulai sesak. Cho Kyuhyun dalam bahaya. Suara bedebam aneh berkali-kali sampai ke telinga Mi Rae. Ia dapat mendengar rintihan Kyuhyun yang menahan sakit.

Cho Kyuhyun! Jangan mati!

Mi Rae keringat dingin dan gemetaran tubuhnya terlihat jelas.

Selamatkan Kyuhyun!

Kepala Mi Rae terasa penat. Ia sulit sekali bernapas. Rongga dadanya terasa begitu sempit. Sakit. Sesak.

Siapa pun! Tolong selamatkan Kyuhyun!

Sirine terdengar dari kejauhan, semakin lama suaranya semakin dekat.

“Polisi? Sial!”

Kang In mengumpat. Ia melepaskan Mi Rae. Keadaan menjadi sangat sunyi. Mereka mungkin telah melarikan diri. Mi Rae tersungkur lemas. Ia terduduk di atas tanah. Seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Rasanya tidak ada tulang yang menyanggah daging di tubuhnya.

Seseorang sedang mendekati Mi Rae,. Tertatih. Mi Rae tak mampu bergerak lebih jauh. Orang itu seperti baru saja berlutut di hadapan Mi Rae. Ia melepaskan kain yang menutupi mata Mi Rae.

Sejenak bola mata Mi Rae memicing karena tertimpa cahaya lampu. Ia sedang berada di sebuah ruangan besar, tampaknya itu adalah bagian dari bangunan yang telah terbengkalai. Pandangan Mi Rae mulai normal, ia dapat melihat jelas siapa yang sedang berlutut di hadapannya. Cho Kyuhyun! Pemuda itu babak belur. Ia bersimbah darah dimana-mana. Darah segar mengucur dari kepalanya, pakaiannya pun kotor dan dipenuhi darah. Air mata Mi Rae mengalir deras. Kyuhyun membuka lakban di mulut Mi Rae.

“Kyuhyun…” Mi Rae terisak. Ia sangat takut. Luar biasa takut. “..Kyuhyun…” luka-luka Kyuhyun terlihat sangat parah.

“Hanya dua hal,” kata Kyuhyun. Ia mencoba menyeka air mata Mi Rae, tapi tangannya yang berlumuran darah justru mengotori wajah gadis itu. “Pertama. Baek Mi Rae, maafkan aku.”

Air mata Mi Rae justru mengalir lebih deras. Ia tak dapat menahan isakannya. Tubuhnya berguncang hebat.

“Kedua…,” Kyuhyun menarik napas, ia terlihat kesulitan. “Kau tahu…siapa aku?” tanyanya pelan, matanya tampak sendu dan Mi Rae tahu jika ada yang salah dengan Kyuhyun.

“Kyuhyun hentikan! Jangan bicara lagi…,” sambil menangis Mi Rae berusaha melepaskan ikatan di tangannya karena sepertinya Kyuhyun sudah tak sanggup melakukan apa-apa.

“…aku…adalah..,” mata Kyuhyun terpejam, tapi kemudian terbuka lagi dengan gerakan yang pelan. Ia memaksakan diri agar tetap sadar. Mi Rae histeris. Kyuhyun sedang sekarat. “…bekas mafia…”

Brughh!

Cho Kyuhyun tersungkur.

 

~bersambung~

Sy terkesiap setelah menyadari jika konsep awal cerita ini adalah one shot dengan romance yang fluffy yang agak manis-asam-asin gimana gitu.

Sebenarnya, sy gak nyangka kalo Kyuhyun itu pernah jadi mafia -_- gak avalah, kalo mafia tampan kayak Kyuhyun.

Oke, terima kasih.

Reader tersayang, tolong responnya ya.. kritik or saran, sini kasih ke tante kkkkkk~

Iklan

296 thoughts on “Drama (Part 7)

  1. imgyu berkata:

    whoaaaaaaa! Aku dibuat speechless sama ff ini. Nggak nyangka kalo ‘Drama’ bakal bawa konflik -mafia- aku fikir konfliknya akan sekitaran kulih-jatuh cinta-patah hati- tapi ternyata???? I’m syok kak. Bener-bener syok sama bagian yang terakhir. aku dua kali ngerasain kaya gini. Pertama pas nonton drama Blood kedua pas baca ff ini. Good Job kak (y) aku suka banget sama ff ini kak 🙂

  2. qiqi amalia berkata:

    Astaga..akhirnya kejawab sudah semua rasa penasaranku ..
    Emang yee.. Eonni satu ini bisa ajaa bikin org penasaran tingkat akut 😀
    Itulah makin seneng aku baca ffnya..hihiii
    Itu smua kan masa lalu..yang penting kyu udah ninggalin masa lalunya dan hidup lbh baik lg
    Tp gmn itu keadaannya kyu,, luka parah itu

  3. missann berkata:

    bekas mafia??
    what?what? tetiba bingung, hilang arah, dan ???
    masih misterius bg aku..
    dan mi rae yaa..deg deg deg jatuh cinta ya? hihihi..
    thanKYU for this part, dear..

  4. Ulfah hasanah berkata:

    Oh jd begitu kyu bekas mafia ? Akankah mi rae meneriman kyuhyun yg bekas mafia tersebut wkwkw ?

  5. minkijaeteuk berkata:

    huhuy baru ke sini lagi.
    OMG jd kyuhyun itu bekas Mafia… udah penasaran di dr td nebak2 siapa kyuhyun tau y dia bekas mafia…..
    mengejutkan…
    kyuhyin y sekarat lagi…

  6. Cloud246 berkata:

    Ya tuhan,,,trnyata kyu mantan mafia!! Ga nyangka….pi sperti msh ada yg dembunyikan kyu,,ttg org yg dy buat terpukul!! Spa mrka???mngkinkah ortu kyu?????smakin penasaran!!

  7. Marcus Cho berkata:

    Eonni emang jagonya bikin para readers main tebak2an xD

    Awalnya aku kira Kyuyon itu kabur dari salah satu keluarga konglerat/keluarga yg kaya.. Tapi ternyata Kyuyon matan mafia..
    Tapi apa kabar keluarga Kyuyon ?? Apa orangtua nya udah meninggal ??

  8. fishcho berkata:

    Gk nyangka kyu bekas mafia. Kirain dia benar2 anak org kaya yg dkejar2 org suruhan org tuanya. Benar2 speechless

  9. sharonevellyn berkata:

    Kejutan yang di luar dugaan
    Tdinya aku fikir kyuhyun itu kayak anggota FBI gtu yg mengundurkan diri
    Ehh gk taunya mantan mafia

    Tpi penasaran di part2 sebelumnya terjawab di part ini
    Kyuhyunnya jgn mati ya author

  10. Kim berkata:

    Sukses banget ih si author bikin kesan kyuhyun anak orang kaya yg melarikan diri terus dikejar2 sama bodyguard orang tuanya. Tapi pas keluar tokoh presdir Kim, aku udah ngira itu bukan karena Kyuhyun dicari orang tuanya. Haaaaahhh dan ternyata dia mantan mafia. Hoho

  11. AzaleaFishyHae berkata:

    Ya Tuhan…. aku shock!!!! Beneran gk nyangka kalo Kyuhyun bekas mafia…. aku pikir opsi pertama Mi Rae yg bener kalo Kyuhyun itu anak orang kaya yg suka kabur2an sehingga jd objek kejar2an bodyguard. terus pas Kyuhyun ngomong kalo Mi Rae kayak cenayang, aku jd mulai berpikir mana nih dari pemikiran Mi Rae yg bener…. daaaannnnn….. jeng jeng jeng….. aku terkejut!!!! Gk nyangka, secara aku analisisnya dari cover yg pink2 gitu aku pikir ya romance dg bumbu dunia perkuliahan kedokteran dn omongan Mi Rae d part2 awal itu cuma olokan semata. Eh ternyata beneran si Kyuhyun mantan mafia… tp berhubung masih dikejar2 nih eon, berarti ntar akan lebih banyak bumbu action’nya dong????
    Aduhhhh…. mendadak cerewet lagi kan diriku ini. Sorry ya eon 😀 orang aslinya emang cerewet kok, pokoknya cocok sama duo AB line’nya SJ hehehe….
    As always ff Marchia Eonni selalu punya kejutan tak terduga. 4 thumbs deh *berhubung ngasih apresiasi pake kaki gk sopan, jd aku minjem jempol tangan Hae 😀 #geretDonghae *

    • marchiafanfiction berkata:

      sebentar..
      mau ketawa dulu…

      XD XD XD XD

      eh buseettt… kaget baca komen, ini anak komen apa ngamuk wkwkwkwk tp gak apa2, tolong ditingkatkan lagi ya,, sy suka komen sepanjang ini hahahaha mirip ff drable XD

      tuh kan, jd malah gak konsen mau jawab pertanyaan2mu…

      intinya… keep waiting *kecup basah*

  12. Yiatri2499 berkata:

    Kyuhyun mantan mafia???
    Sepertinya akan terjadi ‘drama’ dalam hidup mirae….
    Tpi msih penasaran ama semua kisah masa lalu kyuhyun…
    Fighting eon!!!

  13. aernis berkata:

    pelarian ambilnya kedokteran???
    otak jenius mau gimana lagi. kan juga pasti sibuk banget.

    udah rada menduga si kalo kyuhyun itu bekas mafia.

  14. reni oktaviani berkata:

    masa lalu kyuhyun mulai terbuka..
    ternyata dulu dia mafia..
    ga kepikiran kasana… dikira kyuhyun di kejar” sama bodyguard dri keluarga kaya raya ternyata kyuhyun mantan mafia..

  15. anianiya berkata:

    Nggak nyangka kalau kyuhyun itu bekas mafia…
    Tapi nanti giman reaksinya mirae saat tau kalau kyuhyun itu beks mafia nerima atau malah ngejahuinnya?

  16. Widya Choi berkata:

    Omo..jd kyu mantan mafia?…
    Tebakan ny mirae bnr dunk. Gmn nih responny mirae?.. Smg dy g jauhin kyu

  17. kyunara berkata:

    waw waw…. kirain kyuhyun pembunuh bayaran..ternyata ini lebih kompleks..mafia…..?
    gimana nasib kyuhyun selanjutnya..?

  18. Anh Chan-Kyu berkata:

    Ahhhhhh… Ternyata salah dugaan… Kyu mafia, gila mafia dengan suara emas… Orangbpastinya nebak dia klo gak orang kaya atau penyanyi… Ternyata eh ternyata mafia…

    Gimana tanggapan mirae??? Yo penasaran banget

  19. nae.ratna berkata:

    cie ada yg jatuh cinta nih kkk
    akhir.a ketahuan siapa kyuhyun
    apa mirae bakalan benci kyuhyun yah(?) jangan sampe murae ga benci sama kyuhyun

  20. Leah berkata:

    Ya ampun. Serius? Kyuhyun bekas mafia, aigoo seandainya aja Kyuhyun masih jadi mafia aku rela deh jadi sandera nya 😂😂
    Tapi masih rada bingung sama kata kata Kyuhyun yg ambigu ttng jati dirinya .
    Perlahan lahan perasaan Mirae udah mulai berubah kayanya, sekarang kalau ada sesuatu berbau Kyuhyun jantungnya dug dug ser gimana gitu ya. Okay. Next chapter kayanya bakal baper baperan ini, karna Kyuhyun udah ngungkap identitas nya.

  21. AeriLyz77_ berkata:

    Jdi… Cho… Bekas… Mafia.. WOW!
    Kupkir dia sperti opsi pertama Mi Rae gak taunya.. Dia dlunya seorng mafia ,, klo mafia tmpan mah gpp kali yah wkwkwkwk

    klo emng Cho yg skrng itu cma pelarian jdi sbenernya sifatnya Cho itu aslinya bkan sperti pmikirannya gadis2 di kampus trmasuk Mi Rae..

  22. Hana Choi berkata:

    Wow omg aku ga nyangka banget kalau diliat dari pribadi kyuhyun selama ini yg supel, pinter dan selalu menjadi pusat perhatian itu berasa mustahil. Ternyata dia bekas mantan mafia? Omg aku penasaran gimana sikap mirae ke kyuhyun setelah ini apa dia bakalan benci dan ngejauhin kyuhyun? Semoga aja engga

  23. My labila berkata:

    apa ???? kyuhyun mantan mafiaaaaaaaa #LebayModeOn…… waduh masasih gak percaya aku kyuhyun yg seperti itu bekas mafia, semoga kyuhyun selamat.

  24. ina berkata:

    njirrrrr dua hal yang di tebak mi rae saya udah berfikir kalau kyuhyun adalah orang bekas mafia..
    ternyata benar……….
    akhhhh semoga ga kenapa2 sama kyu…
    dan mi rae juga ga akan ngejauh dari kyu….

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s