Drama (Part 8)

Drama

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Sejuk. Hembusan angin yang bertiup menyapu permukaan kulit Kyuhyun, alasan yang membuat kelopak matanya bergerak lambat, perlahan terbuka. Sedikit terbuka lebih tepatnya, namun tempaan cahaya matahari telah menyilaukannya. Dipejamkan lagi matanya. Untuk beberapa saat, tangannya mulai terangkat, menghalau kontak langsung antara cahaya dengan retinanya.

Dedaunan di atas sana terlihat begitu jelas. Kyuhyun berkedip sekali. Beberapa helai daun berguguran, melambai dengan anggun ketika jatuh ke tanah. Ada cahaya matahari yang memaksa melewati cela-cela pepohonan. Udara segar memenuhi rongga dada Kyuhyun. Aroma musim gugur yang sangat kental. Kyuhyun tidak salah, ia memang sedang berbaring di bawah rimbunan pepohonan dengan daun yang beragam warna. Coklat, kuning, ada juga yang berwarna kemerahan—warna khas musim gugur. Daun-daun yang gugur seakan berubah fungsi sebagai pengalas tubuhnya. Seumur-umur, Kyuhyun baru pertama kali berbaring di bawah pepohonan musim gugur dan rasanya tidak buruk, ia menyukainya.

Sebuah tangan membelai rambutnya. Lembut sekali rasanya dan Kyuhyun mendadak ingin tidur, tapi ia tetap memaksakan matanya terbuka. Seorang wanita berambut sebahu, warna rambutnya yang kecoklatan sama persis dengan milik Kyuhyun. Wanita itu sedang tersenyum pada Kyuhyun. Cantik sekali. Kyuhyun mengerjap.

“Kau kah itu, Nyonya Song?”

Wanita itu tidak menjawab. Ia terus saja tersenyum, seakan senyuman itu tak akan pernah luntur. Tangannya pun tetap mengelus rambut Kyuhyun.

“Sungguh…aku sangat membencimu.”

Kyuhyun mendesah, ia menatap langsung bola mata hitam milik wanita itu. Sinar mata miliknya terlihat sangat menenangkan, tidak ada kegusaran, bahkan bibir tipisnya tetap merekah senyum.

“Tapi,” Kyuhyun terdiam beberapa saat. “Bolehkah aku tinggal di sini?” lanjutnya kemudian.

Wanita itu tetap tidak menjawab. Bibirnya merekat. Ia bahkan tersenyum dengan lengkungan yang lebih lebar daripada sebelumnya.

“Benar-benar tidak boleh?” tanya Kyuhyun. Wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Nyonya Song itu memang tidak berbicara, tetapi seolah Kyuhyun mengerti apa yang sedang dikatakan olehnya, mungkin lewat sorot matanya yang terlewat teduh itu. Kyuhyun mendesah pelan sekali, “Baiklah jika memang begitu, tapi ijinkan aku tidur sebentar. Aku lelah—sangat lelah, Nyonya Song,” ia hampir berbisik ketika mengatakan itu dengan mata yang telah terpejam. Wanita tersebut terus membelai rambut Kyuhyun dengan lembut.

***

Baek Mi Rae tersadar dan mendapati dirinya di dalam kamar rawat di sebuah rumah sakit, entah di rumah sakit mana ia berada. Ada infus yang tertanam di tangannya. Juga, Lee Hyukjae sedang menungguinya. Lee Hyukjae?

“Kau sudah sadar?”

Pertanyaan Hyukjae seperti sebuah kode yang membuat Mi Rae harus benar-benar sadar. Ya, orang itu memang Lee Hyukjae.

“Ah—aku bersama Jin Ae. Katanya dia ingin minum kopi,” terang Hyukjae. “Kau pasti sangat terkejut.”

Pengaruh obat atau apa, Mi Rae membutuhkan beberapa saat untuk mengingat kembali alasan keberadaannya di rumah sakit sekarang. Seseorang yang menculiknya, lalu ada yang datang menyelamatkannya, “Cho Kyuhyun,” Mi Rae tersentak. Ia teringat pada Kyuhyun, “Di mana Kyuhyun?” tanyanya sembari menyingkap selimut. Ia hendak turun dari tempat tidur tapi dicegah oleh Hyukjae. “Bagaimana keadaan Kyuhyun?”

“Operasinya berjalan lancar. Meski masa kritisnya telah terlalui, sampai saat ini dia belum sadar.”

Mi Rae terperanjat. Separah itu kah? Saat itu, Kyuhyun memang diserang habis-habisan tanpa bisa melakukan perlawanan. Semua karena dirinya, batin Mi Rae berkecamuk.

“Kyuhyun masih berada di UGD dan kami tidak diperkenankan dokter untuk menungguinya. Jangan cemas, Kyuhyun akan baik-baik saja. Dia bukan orang yang mudah menyerah,” Hyukjae sedang menenangkannya. Pemuda itu menyadari kekalutan yang mencengkeram seluruh tubuh Mi Rae.

‘Presiden Kim Ji Seok dari Dowa Coorporate diringkus atas tuduhan korupsi, pencucian uang, dan berbagai tindakan kriminal lainnya. Penangkapan besar ini berkat kerja sama kepolisian setempat dengan Daehan Group dimana pihak Daehan telah memberikan bukti-bukti kuat yang mendukung aksi kejahatan yang dilakukan oleh Dowa Coorporate.’

Berita yang ditayangkan di televisi di dalam kamar rawat Mi Rae mengalihkan perhatian mereka. Dari gambar yang ditayangkan terlihat belasan, mungkin puluhan mobil polisi dan orang-orang sedang digiring masuk ke dalam mobil.

‘Ada kabar lain yang mengatakan jika perusahaan yang bergerak dibidang real estate tersebut hanya sebagai kedok untuk menutupi kebenaran tentang Dowa Coorporate yang ditengarai telah melakukan kejahatan terorganisir seperti pencurian, perdagangan narkoba dan senjata, pemerasan, pembajakan, penyeludupan bahkan kontrak pembunuhan. Polisi belum memberikan kepastian tentang kabar tersebut karena kasus ini masih dalam penyelidikan. Dari kantor Polisi Distrik Gangnam, Reporter Im Ji Woo melaporkan.’

Jika saja saat itu mata Mi Rae tidak ditutup, mungkin ia akan terpekik melihat wajah-wajah yang baru saja digiring masuk ke mobil polisi. Presiden Kim dan Kang In termasuk diantaranya. Mi Rae hanya menyimak, tapi ia mulai bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia menatapi Hyukjae, dan pemuda itu mengangguk sekali—sepertinya sangat mengerti apa yang ditanyakan Mi Rae melalui sinar matanya tadi.

Lee Hyukjae mengelus belakang lehernya, “Syukurlah mereka cepat diringkus.”

Mi Rae hanya diam. Otaknya masih sibuk memikirkan kejadian mengejutkan yang terjadi padanya beberapa waktu lalu. Memang sulit dipercaya, tapi seperti itulah kenyataannya. Mi Rae menarik napas dalam, ia memandangi Hyukjae, “Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”

Kali ini, bergantian Hyukjae yang menarik napas panjang. Berkali-kali. Ia tak mungkin menghindar dan lagi pula Mi Rae telah mengetahuinya. “Bagian mana yang ingin kau tahu lebih dulu?” rasanya sulit bagi Hyukjae memulai kisah yang akan ia ceritakan.

Dan Mi Rae tahu kegelisahan Hyukjae, “Mengapa Kyuhyun bisa terlibat dengan mafia?” Mi Rae memperjelas keingintahuannya. Mungkin dengan begitu, Hyukjae dapat sedikit terbantu memikirkan kalimat pembuka yang harus ia rangkai.

Sangat dalam dan panjang ketika Hyukjae menghirup udara masuk ke rongga dadanya. Ia lalu membuang napas berat. Seberat cerita yang akan ia ungkap pada Mi Rae.

“Aku pindah ke Seoul saat kelas empat SD dan itu adalah masa-masa yang cukup berat bagiku. Di Austria, aku terbiasa dengan kehidupan kelas satu, lalu tiba-tiba saja orang tuaku memindahkanku ke Seoul—dan masuk ke sekolah biasa. Ah, sebelumnya aku homeschooling.”

Hyukjae menggeleng, ia belum melupakan bagaimana beratnya ketika ia harus berinteraksi dengan teman sekelas dan juga beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Orang pertama yang menyapaku di kelas adalah Kyuhyun. Dia duduk di sebelah kananku, tepat di sisi jendela favoritnya. Dia suka sekali melihat anak-anak yang berolahraga di lapangan lewat jendela itu,” Hyukjae tersenyum. Cerita yang membawanya pada kenangan masa kecil yang terdengar bahagia dan membawa efek manis. “Kyuhyun, dia tak ubahnya seperti sekarang. Pintar, ramah, ceria dan sederhana. Mungkin itu alasan mengapa aku betah bersahabat dengan Kyuhyun.”

“Bagaimana dengan keluarganya?” potong Mi Rae ditengah cerita. “Kyuhyun pernah bilang jika dia tak lagi memiliki orang tua.”

Diam. Mereka berdua terdiam. Entah mengapa topik tentang orang tua menjadi lebih berat dan itu membuat Hyukjae harus mendesah beberapa kali.

“Bagi Kyuhyun, orang tua hanya sepenggal kisah yang disebut kenangan. Entah bagaimana caranya menjelaskan padamu,” kata Hyukjae dan kemudian ia mendesah berat karena melihat alis Mi Rae yang bertaut. “Kyuhyun sangat sensitif jika membahas tentang orang tuanya. Mungkin akan lebih baik jika Kyuhyun sendiri yang menceritakannya padamu.”

Mi Rae terdiam. Ia akan mengikuti anjuran Hyukjae. Memang tak baik jika harus mengorek sesuatu yang dikeramatkan oleh Kyuhyun, apalagi ketika ia teringat bagaimana kesedihan yang terpancar dari sinar mata Kyuhyun saat itu. Saat Kyuhyun berbicara tentang orang tuanya. Jelas sekali jika Kyuhyun sangat terluka. Sangat kesepian.

“Kyuhyun memiliki seorang ibu yang sangat cantik. Dia wanita sederhana yang lembut, sikapnya begitu hangat dan dia adalah wanita yang baik hati,” Hyukjae tersenyum ketika menggambarkan sosok dalam ingatannya itu. Mi Rae mengangguk pelan. Ya, akhirnya Mi Rae mengerti dari mana Kyuhyun mendapatkan pribadi seperti itu. “Percayalah, Kyuhyun sangat mencintai ibunya.”

“Lalu, ayahnya?”

“Sama seperti kebanyakan ayah lainnya. Seorang ayah dan juga sahabat bagi anaknya. Ayah yang mengajak anaknya pergi memancing ketika akhir pekan. Ayah yang tegas, tapi memiliki hati penyayang. Intinya, Kyuhyun memiliki keluarga yang selalu membuatku iri. Tidak seperti orang tuaku yang seolah ditelan kesibukan mereka. Maksudku, bukan berarti orang tua Kyuhyun tidak memiliki kesibukan, tapi mereka selalu ada untuk Kyuhyun. Kau tahu? Ayahku begitu sibuk di perusahaannya dan ibu…dia memang seorang dokter tapi dia juga adalah wanita sosialita—yang, mm…mungkin kau bisa membayangkan seperti apa hidupnya,” Hyukjae menggeleng sebal.

Anggukan pelan Mi Rae seolah ia pun mengerti dengan perasaan Hyukjae. Terkadang, memiliki banyak uang bukan berarti orang itu selalu bahagia. Ada hal-hal yang tidak dapat dibeli oleh uang.

“Suatu hari, Kyuhyun datang ke rumahku. Aku masih tinggal dengan orang tuaku sebelum mereka kembali ke Austria dan membuangku di apartemen itu,” Hyukjae melanjutkan ceritanya.

Sepertinya Hyukjae berniat menjelaskan kepada Mi Rae sejelas-jelasnya—termasuk tentang dirinya sendiri dan Mi Rae kini ikut membayangkan apartemen mewah Hyukjae yang terletak di Distrik Gangnam, lokasi paling elit di Korea Selatan. Terlalu spesial untuk dikategorikan sebagai sebuah tempat pembuangan.

“Aku ingat sekali, malam itu Seoul sedang diguyur hujan. Kyuhyun menginap di rumahku dan dia tidak berbicara sedikit pun. Dia tidak tidur dan yang dilakukannya hanya menangis semalaman. Kupikir sesuatu telah terjadi. Sejak saat itu, Kyuhyun tak pernah pulang ke rumahnya. Dia sering membolos dari sekolah. Semuanya berubah sejak dia keluar dari zona nyaman hidupnya. Aku menyuruhnya tinggal denganku, tapi dia menolak. Saat itu, dia hanya seorang murid kelas satu SMP. Lalu, dia bertemu dengan Presiden Kim.”

Cerita Hyukjae mampu menggetarkan hati Mi Rae. Dia tak mengira jika Kyuhyun telah melalui banyak hal. Sesuatu yang bahkan tidak terlintas di benak Mi Rae.

“Kyuhyun tidak terlibat langsung untuk melakukan kegiatan-kegiatan mengerikan yang dilakukan para mafia itu—seperti yang kau saksikan di berita tadi. Kejeniusannya yang dimanfaatkan bagi kepentingan kelompok mafia tersebut. Dia mampu membobol kode rahasia perusahaan-perusahaan besar, instansi bahkan pemerintah—dan tentu saja masih banyak hal jenius lainnya. Jika Kyuhyun tidak berhenti, mungkin dia akan menjadi orang nomor satu dalam daftar pencarian agen-agen rahasia.”

Terkesiap. Seolah rahangnya tertarik gravitasi bumi, Mi Rae masih menganga lebar. Ia tahu jika Kyuhyun jenius, tapi ia tak pernah membayangkan sejenius apa seorang pemuda yang bernama Cho Kyuhyun.

“Lalu mengapa Kyuhyun berhenti dari organisasi itu?”

“Aku tak tahu alasan pastinya. Tapi saat hari kelulusan SMA, Kyuhyun datang menemuiku, dia sangat berantakan. Katanya dia terlibat tawuran dengan pelajar dari sekolah lain. Dia bertanya padaku: jika kau ingin melindungi seseorang, hal apa yang akan kau lakukan?”

Hyukjae teringat lagi, Kyuhyun dengan wajah yang babak belur tampak seolah baru saja menemukan secercah harapan yang menciptakan semangat baru untuk menjalani hidupnya dan itu terlihat dari pancaran sinar matanya yang berbinar. Terasa begitu hidup.

“Menjadi seseorang yang bertumbuh dengan baik adalah jawaban yang kuberikan padanya.”

“Bagaimana caranya kau meyakinkan dirimu jika kau akan menjadi orang yang jauh lebih baik di masa depan?” pertanyaan Mi Rae membuat Hyukjae tertegun. Sama persis dengan apa yang Kyuhyun tanyakan padanya waktu itu. “Dokter? Menjadi dokter?”

Hyukjae tersenyum, Baek Mi Rae telah menyimpulkan dengan benar. “Dibandingkan perusahaan ayah, aku lebih mencintai profesi ibuku—aku akan mengambil alih rumah sakit di Austria. Lagi pula adikku, Donghae akan menjadi penerus ayah yang baik,” Lee Hyukjae terkekeh.

Perlahan Mi Rae mulai mengerti bagaimana Kyuhyun akhirnya menjadi seorang mahasiswa kedokteran dan alasan yang membuat Kyuhyun memilih jalan itu.

“Jadi, karena ingin melindungi seseorang?”

“Kyuhyun tak pernah mengatakan siapa orang itu, tapi aku tahu jika orang yang dia maksud adalah ibunya.”

Kesunyian berlangsung di antara mereka kurang-lebih lima menit lamanya. Masing-masing bergelut dengan apa yang ada di kepala mereka. Mi Rae selalu menyangka jika hidupnya sangat sulit dan menderita, tapi begitu mendengar apa yang Kyuhyun alami; tiba-tiba saja ia merasa bersyukur pada Tuhan atas kehidupannya. Sebenarnya, di luar sana banyak orang mengalami kesulitan yang bahkan lebih berat daripada apa yang kita alami.

“Mi Rae, selama ini Kyuhyun selalu cemas jika kau mengetahui seperti apa hidupnya dulu. Dia takut jika kau tidak akan menemuinya lagi,” Hyukjae menatap dalam pada Mi Rae. “Aku tidak akan menyalahkanmu jika pada akhirnya kau memilih menjauhi Kyuhyun. Aku juga bisa memaklumi perasaanmu. Tapi, hal lain yang aku tahu bahwa Baek Mi Rae adalah gadis yang berpikir paling logis yang pernah aku temui,” Hyukjae tersenyum.

Suara pintu yang terbuka mengalihkan tatapan keduanya pada Jin Ae yang baru saja masuk. Ia kesulitan menutup pintu karena tangannya yang memegangi dua buah gelas kopi dan sebuah kotak berisi roti aneka rasa yang ia beli di toko roti yang terletak di seberang rumah sakit.

“Kyuhyun tidak suka mengungkit masa lalunya karena ia cemas tidak ada yang mau berteman dengannya,” Hyukjae berkata lebih pelan agar perkataannya tidak sampai ke telinga Jin Ae.

“Aku mengerti,” jawab Mi Rae. Meski tak sejenius Kyuhyun, tapi ia tak begitu bodoh untuk menerjemahkan kata-kata Hyukjae. Ia tidak mungkin mengumbar masalah tersebut pada siapa pun, termasuk pada Jin Ae.

Jin Ae menyodorkan kopi pada Hyukjae. Kopi miliknya dan kotak roti ia letakkan di atas meja. Ia segera memeluk Mi Rae, “Syukurlah kau tidak apa-apa,” isaknya. Mi Rae tersenyum tipis sambil memberi tepukan pelan di belakang Jin Ae seraya mencoba menenangkan sahabatnya itu.

***

Sudah pukul 23.10 waktu setempat, tapi mata Mi Rae masih terbuka lebar. Sejak dua jam lalu ia mencoba memejamkan mata, apalagi dokter memintanya untuk beristirahat lebih banyak—tapi malam ini matanya begitu sulit terpejam. Mungkin karena perasaan Mi Rae sedang kacau. Ia tak bisa berhenti memikirkan Kyuhyun. Kenyataan tentang masa lalu Kyuhyun turut serta menjadi bagian dari sekian banyaknya topik tentang Kyuhyun yang silih berganti menari dalam benaknya.

Mi Rae duduk, dan bersandar pada kepala tempat tidur. Tangannya meraih ponsel yang tersembunyi di laci pertama nakas. Jika dokter mendapati aksinya, sudah tentu ia akan diomeli—dan bisa jadi ponsel tersebut akan disita.

“Apakah aku mengganggumu?”

“Tidak. Aku baru saja sampai di rumah.”

Mi Rae terdiam, ia menarik nafas dan desahannya sampai ke telinga Jin Ae.

“Ah, aku sedang bosan. Kebetulan sekali kau menelpon. Bagaimana jika kita mengobrol?”

Suara Jin Ae yang terdengar riang cukup menciptakan lengkungan senyum di bibir Mi Rae. Sepertinya Jin Ae telah menangkap kegelisahan Mi Rae.

“Jin Ae, ada seorang kenalanku. Katakan saja dia adalah saudara jauhku. Saudaraku mempunyai seorang teman,” Mi Rae memulai ceritanya. “Temannya itu adalah orang yang sangat baik. Rasanya segala sesuatu tentang orang itu terdengar sangat menyenangkan. Sampai suatu waktu, saudaraku mengetahui sisi lain dari temannya itu. Meskipun sisi itu adalah bagian dari masa lalu, tapi hal itu cukup menggetarkan hatinya. Entahlah, tapi rasanya sulit mendefinisikannya dengan kata-kata.”

Berat bagi Mi Rae untuk mengatakan secara langsung pada Jin Ae bahwa kisah yang ia ceritakan itu adalah tentang dirinya sendiri dan juga Kyuhyun. Mi Rae pun tahu jika ia tak mungkin membuka masa lalu yang ingin dikubur Kyuhyun. Ia sudah berjanji.

“Saudaraku meminta pendapatku; bagaimana dia harus bersikap pada temannya itu?”

“Bersikaplah seperti biasanya.”

Jin Ae menjawab cepat. Entah ia menyimak dengan benar atau tidak cerita Mi Rae.

“Sekarang, jika kau berada di posisi saudaramu—apa yang akan kau lakukan, Baek Mi Rae?”

Pertanyaan yang menghenyakkan Mi Rae. Jin Ae sedang membawanya untuk merasakan sendiri situasi itu. Tidak sulit. Toh, cerita itu memang tentang dirinya.

“Aku tak tahu masa lalu seperti apa yang dimiliki oleh teman dari saudaramu itu, tapi rasanya sangat tidak adil jika masa lalu seseorang ikut mempengaruhi sikap kita pada orang itu. Mi Rae, kau adalah orang realistis, kurasa kau lebih memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh saudaramu.”

Mi Rae terdiam. Jin Ae benar. Sejauh ini, Mi Rae selalu yakin dengan pemikirannya. Ia hanya mencari dukungan orang lain. Ia memang tidak mungkin menjauhi Kyuhyun hanya karena masa lalu Kyuhyun yang begitu kelam. Dibandingkan dengan Kyuhyun yang ia kenal saat ini, apa pun yang Kyuhyun lakukan dulu bukan menjadi alasan baginya untuk membenci Kyuhyun. Kyuhyun adalah seseorang yang akan selalu membuat Mi Rae iri dengan kepribadian hangat dan menyenangkan yang dimiliki oleh pemuda itu.

***

Hari ini Mi Rae sudah diperbolehkan pulang. Ia sedang berkemas ketika suara ponselnya mengalun memenuhi ruangan. Hyukjae yang menelepon, katanya ia baru saja dikabari bahwa Kyuhyun sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa dan itu artinya Kyuhyun sudah boleh dibesuk. Hyukjae sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mi Rae sangat senang mendengar itu dan tanpa pikir panjang, ia segera bergegas menuju kamar rawat Kyuhyun.

Mi Rae memegang gagang pintu, memutar pelan dan pintu terbuka. Ia masuk dan menutup kembali pintunya. Tidak ada seorang pun di ruangan itu dan Kyuhyun tampaknya masih tertidur. Mi Rae berjalan menghampiri Kyuhyun. Ia lalu menarik sebuah kursi ke dekat tempat tidur dan duduk di kursi tersebut.

Kyuhyun begitu pucat. Masih ada bekas luka yang mulai mengering di wajah dan juga bagian tubuh yang tidak terhalang pakaian. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya ada orang lain yang berada di sisinya. Keluarga. Ya, keluarga. Tapi melihat ruangan yang kosong tanpa seorang pun yang menungguinya, Mi Rae merasa lirih. Cerita Hyukjae tentang Kyuhyun kembali melintas di ingatannya.

Mi Rae baru saja menemukan sebuah jawaban atas pertanyaannya tentang Kyuhyun, namun hal itu justru disambut dengan pertanyaan lain. Mi Rae tidak ingin memaksakan kepalanya berpikir untuk sekedar mengobati rasa penasarannya tentang permasalahan Kyuhyun dengan orang tuanya. Apa pun yang terjadi dengan keluarga Kyuhyun, itu adalah masalah internal mereka. Mi Rae tidak ingin mengusik terlalu jauh karena ia hanya orang luar.

Mi Rae sedikit terkesiap ketika melihat kelopak mata Kyuhyun bergerak. Matanya terbuka seiring dengan perasaan senang yang meluap dalam hati Mi Rae.

“Kyuhyun?”

Pemuda itu mengedipkan matanya pelan. Ia lalu menoleh pada Mi Rae yang tampak kaku dengan bola mata berkaca-kaca.

“Mi Rae—benarkah?”

Cepat-cepat Mi Rae menyeka air matanya yang menetes tak tertahankan.

“Iya.”

“Kau menangis?”

“Tidak. Aku tidak menangis,” Mi Rae menggeleng pelan. “Aku hanya terlalu senang. Kau sudah sadar.”

Kyuhyun tersenyum. Kedua orang itu saling pandang. Senyuman Kyuhyun memudar. Ia menoleh lagi, memalingkan wajahnya dari Mi Rae.

“Mengapa kau ke sini?” Kyuhyun bertanya, lirih.

“Aku tak boleh menemuimu?”

“Kupikir kau tak akan datang. Kau mungkin tak akan mau menemuiku lagi.”

“Karena masa lalumu? Memangnya kenapa dengan masa lalumu?”

Kyuhyun kembali menoleh pada Mi Rae. Wajah gadis itu terlihat teduh, meskipun ekspresi datarnya lebih mendominasi.

“Mi Rae, aku pernah terlibat dengan mafia.”

“Aku tahu.”

“Kau tidak keberatan?”

“Lalu kau ingin aku bagaimana? Kupikir kau selalu menutupinya karena tak ingin dijauhi dan setelah semua ini—kau justru berharap aku menjauhimu.”

“Maafkan aku.”

“Berhentilah meminta maaf!”

“Mi Rae, aku—”

“Kita tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi masa depan akan ditentukan oleh apa yang kita lakukan saat ini.”

Perkataan Mi Rae yang terdengar begitu menenangkan itu membuat Kyuhyun membatu. Mi Rae tersenyum. Jarang sekali ia memamerkan senyumnya yang begitu mahal, meskipun senyuman itu sangat tipis.

***

“Kyuhyun, bagaimana dengannya?”

Jin Ae berbisik pada Mi Rae. Berbahaya jika Professor Seo mendapati gerak-gerik aneh di tengah kelasnya.

“Tidak lama lagi dia sudah bisa pulang. Mengapa tidak kau tanyakan saja pada Hyukjae?”

“Hyukjae? Mengapa aku?”

“Akhir-akhir ini kalian begitu dekat.”

“K-kau bilang apa?”

“Lupakan saja, tapi kau tak perlu segugup itu,” decak Mi Rae. “Sudahlah, fokus saja ke depan sebelum Professor Seo memergoki kita.”

Sudah cukup bagi Mi Rae ketika membuat kekacauan di kelas Professor Seo beberapa waktu yang lalu. Mi Rae ingat sekali, saat itu adalah hari dimana pertama kali Kyuhyun mengirimkan sms padanya dan berujung pada keributan yang ia timbulkan yang berakibat pada rusaknya konsentrasi semua orang di dalam kelas, dan karena itu ia harus menerima teguran keras dari Professor Seo.

*

Mi Rae memasuki kamar rawat Kyuhyun. Banyak sekali barang bawaannya dan semua itu adalah pesanan Kyuhyun. PSP kesayangan Kyuhyun yang membuat Mi Rae harus pergi ke apartemen Hyukjae demi mengambil benda itu. Hyukjae banyak beralasan, ujianlah, tugaslah—oh hallo, bagaimana dengan Mi Rae? Hyukjae justru dengan entengnya menitipkan Kyuhyun pada Mi Rae. Belum lagi permintaan Kyuhyun yang lain. Katanya ia bisa gila di rumah sakit jika Mi Rae tidak membawakannya PSP dan juga buku-buku bacaannya. Mi Rae mendengus, memang berbeda sekali bacaan orang jenius. Komik? Iya, komik. Mi Rae mengelus dada karena teringat pada bacaan keramatnya di rumah. Atlas anatomi.

Kamar itu kosong. Mi Rae meletakkan tentengannya di meja. Di mana Kyuhyun? Toilet? Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Berselang beberapa menit, ponsel Mi Rae berbunyi. Ia baru saja mengganti bunga mawar yang mulai layu di vas keramik dengan bunga daisy yang baru dibelinya saat mampir di toko bunga tadi.

“Di mana kau?”

Atap,” suara Kyuhyun terdengar sangat bersemangat. “Kemarilah! Ada yang ingin kutunjukkan padamu!

Mi Rae membuang napas. Ia menyimpan ponsel di saku celana jeans yang ia kenakan. Setelah meletakkan tas selempang miliknya yang mulai terlihat lusuh di atas meja, ia meninggalkan ruangan itu. Menuju lift.

Beberapa menit kemudian, langit malam Seoul menyambutnya ketika ia tiba di atap gedung rumah sakit—begitu luas. Ada taman di atap itu. Taman lain, selain taman di halaman sekitar area rumah sakit. Rerumputan halus, pohon-pohon hias dan bunga yang mempermanis taman, lengkap dengan lampu taman dan juga bangku-bangku panjang. Beberapa orang juga terlihat di sana, udara malam yang cukup dingin tak menghentikan niat mereka untuk bersantai sejenak di tempat itu. Kyuhyun sedang duduk di salah satu bangku panjang. Mi Rae berjalan menghampirinya.

“Duduklah!” Kyuhyun menepuk-nepuk tangannya di bangku, memerintahkan Mi Rae untuk duduk di sisinya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Mi Rae setelah duduk.

“Mencari udara segar. Aku bosan di kamar. Oh ya, kau bawa pesananku, kan?”

Mi Rae mempertontonkan ekspresi sebalnya, “Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?” sepertinya ia sedang tidak ingin mengingat bagaimana repotnya ia hari ini demi memenuhi permintaan Kyuhyun.

Kyuhyun mengawasi layar ponselnya, “Sepuluh menit lagi. Aku melihatnya di internet. Malam ini akan ada hujan meteor di langit Seoul. Mungkin tidak akan begitu jelas karena tertelan cahaya Kota Seoul, tapi kurasa—jika beruntung kita bisa melihatnya dari sini.”

“Halaman rumahku adalah spot terbaik untuk melihat langit malam,” ujar Mi Rae, ia teringat pada dipan yang berada tepat di halaman rumahnya. Ia sering sekali menghabiskan banyak waktunya di situ. Berbaring di dipan dengan beratapkan langit malam berbintang adalah kegiatan yang paling disukainya.

“Kau benar.”

Kompleks tempat tinggal Mi Rae tidak terletak di tengah kota, lokasinya lebih ke sudut Seoul dan tempatnya pun lebih tinggi dibandingkan tempat lain di Seoul. Pemandangan malam kota Seoul bahkan dapat dilihat jelas dari rumah Mi Rae.

Mereka sama-sama memandangi langit di atas kepala mereka. Menantikan saat-saat meteor melintas. Kyuhyun memalingkan wajahnya, ia menatapi Mi Rae yang masih setia memandangi langit. Wajah kakunya yang tenang membuat Kyuhyun tersenyum.

“Sejak kapan kau menjadi begitu cantik?”

Kata-kata Kyuhyun mengejutkan Mi Rae. Mereka kembali saling pandang dengan durasi yang lumayan lama. Tanpa suara. Hanya perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak ke dalam dada masing-masing.

“Kau bercanda?”

Mi Rae tak tahu dari mana Kyuhyun mendapatkan ide untuk berkata seperti itu. Pasalnya, Mi Rae sangat menyadari jika dirinya bukan termasuk dalam golongan gadis cantik.

“Kau memang tidak cantik, tapi kau sangat unik dan menarik,” Kyuhyun berujar santai, “Aku tak tahu dan tak peduli pada pendapat orang lain tentangmu. Bagiku, keunikanmu yang sangat menarik itu membuatmu terlihat cantik.”

Mi Rae tertegun. Kyuhyun tersenyum.

“K-kau…berlatih pada Hyukjae?” Mi Rae bahkan terbata. Ini bukan pertama kalinya Kyuhyun membuatnya salah tingkah. Dengan sorot mata sehangat itu dan ditambah lagi dengan ucapannya barusan—katakan, siapa yang tidak akan terhipnotis?

“Hyukjae adalah Hyukjae dan aku adalah aku,” tegas Kyuhyun. Mi Rae salah. Kyuhyun bukan tipe penggombal seperti Hyukjae. “Hei, Mi Rae, tapi kau sungguh membuatku jatuh cinta.”

Jantung Mi Rae berdebar, “Aku—” ia tak tahu harus berkata apa.

Sementara itu Kyuhyun tertawa kecil melihat reaksi Mi Rae yang sedang gugup dengan wajah datarnya itu. Sangat lucu. Kyuhyun benar, gadis itu terlalu unik dan tak ada duanya. “Lihat, kau membuatku makin tak berdaya. Bahkan saat kau tidak mempercayai perkataanku, kau masih tetap terlihat sangat menggemaskan,” Kyuhyun terkekeh.

Mi Rae ingat, ini bukan pertama kalinya Kyuhyun mengutarakan perasaannya. Orang seperti Kyuhyun menyukainya? Seperti mimpi. Sulit dipercaya. Itu terlalu drama, pikir Mi Rae dan ia takut terjebak dalam drama-drama yang dibencinya.

Gadis itu menghela napas panjang. Ia memandang lurus ke depan, “Aku tidak membencimu, aku juga tidak keberatan jika kita menjadi cukup akrab, tapi aku masih belum memahami apa yang sebenarnya aku rasakan terhadapmu,” ujar Mi Rae. Ia menoleh lagi pada Kyuhyun. “Sampai saat aku tahu pasti seperti apa perasaanku, bisakah kita terus seperti ini?”

“Aku bukan orang yang terburu-buru,” Kyuhyun mengerling.

Mi Rae mungkin tidak akan percaya jika tahu Kyuhyun menyukainya sejak pertama kali mereka bertemu, sebab Kyuhyun tidak pernah memberikan signal apa pun padanya hingga kedekatan mereka beberapa waktu belakangan ini. Bahkan membutuhkan beberapa tahun bagi Kyuhyun untuk mengajak Mi Rae berkencan. Setelah mendapatkan nomor ponsel Mi Rae pun, ia tidak langsung menghubungi gadis itu. Jadi, Kyuhyun tidak sedang berbohong jika mengatakan bahwa ia bukan seseorang yang suka bertindak dengan terburu-buru.

“Tapi kita harus membuat hubungan ini lebih jelas,” kata Kyuhyun. Mi Rae mengerutkan dahinya, tak mengerti. “Bolehkan aku menjadi sahabatmu?”

“Sahabat? Selama ini, kita…”

“Kita berteman, tapi belum bersahabat,” sergah Kyuhyun. “Kau tahu apa yang membedakannya?”

Mi Rae hanya diam, tapi sejujurnya ia sedang berpikir. Perbedaan antara sahabat dan teman?

“Orang yang kita kenal di kampus atau dimana pun adalah teman, tapi belum tentu mereka dapat menjadi sahabat. Salah satu contohnya; teman hadir hanya ketika kita bersenang-senang, tapi seorang sahabat selalu ada ketika kita membutuhkannya. Hubungan yang tak mengenal waktu dan berlangsung lama,” terang Kyuhyun. Bola matanya yang berwarna coklat gelap menatap Mi Rae lebih dalam lagi. “Sangat menyenangkan rasanya jika aku adalah orang yang kau pikirkan setiap saat. Saat kau senang, saat kau bersedih, kau menangis ataupun tertawa—kau tak akan sungkan membagikannya denganku, begitupun sebaliknya…karena kita adalah sahabat.”

“Seperti kau dan Hyukjae. Aku dan Jin Ae. Bukan begitu?”

“Ya, seperti itu,” Kyuhyun mengangguk, “Tapi aku ingin yang lebih spesifik. Kau dan aku…sahabat terbaik.”

“Mm, tidak ada salahnya dicoba,” Mi Rae bergumam pelan. Ia tidak keberatan dengan permintaan Kyuhyun.

“Sebaiknya kita tidak mengungkit ini di depan Hyukjae dan Jin Ae. Aku yakin dua orang itu akan menciptakan perang dunia ketiga jika mengetahui siapa sahabat terbaik kita berdua,” Kyuhyun berujar sambil mengelus-elus dagunya.

Tanpa sadar Mi Rae justru tertawa. Lalu cepat-cepat ia menetralkannya dengan memandangi langit, dan berkata, “Lihat! Hujan meteor!” ia mengarahkan telunjuknya ke langit.

Kyuhyun lantas menengadahkan kepala. Beruntung sekali, mereka bisa menyaksikan hujan meteornya. Cahaya-cahaya yang bergerak cepat di langit malam Seoul, sangat indah. Untuk kedua kalinya, Kyuhyun menoleh pada Mi Rae. Gadis itu terpukau dengan pemandangan langit yang sedang disuguhkan pada mereka. Perlahan, Kyuhyun mendaratkan kecupan lembut di pipi Mi Rae. Mi Rae membatu. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Ia dapat merasakan kehangatan Kyuhyun, seolah rasa hangat itu mengaliri seluruh tubuhnya melalui bibir Kyuhyun. Mi Rae berpaling, menatapi Kyuhyun dengan bola mata yang tidak berkedip sama sekali.

“Ciuman persahabatan,” Kyuhyun pun tersenyum. Lidah Mi Rae rasanya susah digerakkan. Ia menyentuh pipinya, dimana rasa hangat kecupan Kyuhyun masih tertinggal di sana.

***

Siang itu, selepas jam mata kuliah, Kyuhyun, Hyukjae, Mi Rae dan Jin Ae memilih bersantai sejenak di kafe. Sepertinya tempat itu sudah menjadi tempat favorit mereka. Tadinya mereka hanya bersama-sama keluar dari ruang kelas sambil membicarakan materi juga rentetan tugas yang mereka terima dan tanpa sadar mereka telah berjalan menuju kafe. Jin Ae langsung menyandarkan kepala di atas meja. Ia terlihat letih. Matanya terpejam dan tak peduli pada tiga orang lainnya yang sibuk memesan makanan dan minuman mereka.

“Bagaimana denganmu?” tanya Mi Rae.

“Apa saja yang terasa enak.”

“Cih,” dengus Mi Rae dan langsung menerjemahkan perkataan Jin Ae dengan ‘samakan saja dengan pesananmu’.

Jin Ae menegakkan tubuhnya, ia lantas bersandar. Bibir pink-nya mengerucut. Setelah itu ia menarik napas dalam-dalam.

“Kau bertingkah seolah kau satu-satunya makhluk yang paling menderita di muka bumi ini,” protes Mi Rae.

“Tugas-tugas itu seperti mimpi buruk. Aku tak sempat shoping, aku mungkin sudah tak ingat bagaimana caranya menari. Mi Rae, sudah lama aku tidak pergi ke kelab malam.”

“Mengeluh tidak akan membuatmu menyelesaikan apa-apa,” Kyuhyun menyambungi. Ia mengecap mantap coffee latte yang beberapa saat lalu diantar oleh pelayan.

“Sudahlah. Untuk saat ini. Bisakah kita bicarakan topik lain?” Hyukjae mendelik. Ia sependapat dengan Jin Ae. Otaknya sudah kusut hanya karena memikirkan tugas yang menggunung. Tatapan Hyukjae jatuh pada Jin Ae yang masih merengut malas. “Bagaimana dengan Ji Hoon?”

Jin Ae terperanjat. Ji Hoon? Bagaimana Hyukjae bisa bertanya tentang pria menyebalkan itu padanya? “Apa maksudmu?”

“Kau berbaikan dengan orang itu?”

Alis Jin Ae bertaut. Ia berusaha keras mengingat sesuatu.

“Gadis ini tak akan pernah ingat apa yang ia katakan saat mabuk,” decakan Mi Rae hanya dibalas Jin Ae dengan gerutu pelan.

“Dia bukan seseorang yang harus kuperjuangkan,” ungkap Jin Ae. Ia telah mengambil keputusan bahwa tidak ada lagi kesempatan pada mantan kekasihnya itu.

“Bagus!” seru Hyukjae. “Kau harus memaafkannya, tapi bukan berarti kalian harus kembali seperti dulu.”

“Ya, kau benar. Ji Hoon hanya bagian dari sebuah cerita tentang masa lalu. Meskipun dia banyak menyakitiku, tapi aku berterima kasih padanya. Bagaimana pun, dia adalah orang yang pernah mengisi hari-hariku.”

“Lalu—apa yang akan kau lakukan?”

“Apa?”

“Kau masih patah hati? Aku bisa mengenalkanmu pada teman-temanku. Ya, hanya jika kau tidak keberatan.”

“Hyukjae, terima kasih untuk tawaranmu—tapi, jawabanku adalah tidak,” Jin Ae memamerkan wajah masamnya. “Untuk saat ini aku hanya ingin memikirkan bagaimana caranya agar cepat lulus. Asal kau tahu, aku bukan tipe wanita yang akan mati hanya karena tidak memiliki pacar,” ia menggerutu.

“Kupikir kalian berpacaran?”

“APAA?”

Pertanyaan spontan Kyuhyun membuat Hyukjae dan Jin Ae terkejut bukan kepalang.

“Kalian terlihat cocok bersama,” Kyuhyun mengemukakan pendapatnya. Santai.

“Kalian bahkan seolah melupakan keberadaan kami,” sambung Mi Rae. Datar.

“Hei, jangan salah sangka,” Hyukjae mengelak.

“Dengan orang ini?” Jin Ae memandangi Hyukjae dalam-dalam. Ia kemudian bergidik.

“Kau pikir aku menyukaimu?” Hyukjae terpancing emosinya melihat ekspresi Jin Ae.

“Lihat. Kalian benar-benar serasi,” Mi Rae berkata dengan mulutnya yang penuh. Ia baru saja menyuapi roti lapis jumbo ke dalam mulutnya.

“Tidak!” tolak Jin Ae.

“Aku tidak akan cocok dengan orang ini!” Hyukjae membalas.

Kyuhyun mendesah melihat tingkah kekanak-kanakan dua bocah tua di hadapannya. “Kecocokan itu, bukan karena kalian memiliki hobby yang sama, keinginan yang sama atau apa pun yang terdengar sama. Kecocokan justru datang dari ketidakcocokan yang saling melengkapi. Saling mengisi.”

Hyukjae dan Jin Ae masih saling membuang tatapan sengit. Mi Rae menatap ke udara di atas kepalanya, ia seperti melihat percikan api akibat dari pertemuan tatapan kedua orang itu.

“Tidak ada pasangan yang benar-benar cocok satu sama lain, atau cocok seratus persen. Mustahil,” kata Kyuhyun lagi. “Aku pernah membaca sebuah filosofi tentang cinta sejati. Diibaratkan seperti sepasang sepatu. Sekilas terlihat mirip, tapi sebenarnya tidak sama. Kiri dan kanan berbeda, tapi mereka tampak serasi. Meski berada di sisi yang berbeda, tapi mereka selalu bersama dan saling melengkapi.”

Hyukjae dan Jin Ae membungkam. Perkataan Kyuhyun membuat mereka seakan terhipnotis. Menarik. Mereka tertarik untuk menunggu Kyuhyun melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.

“Juga—” Mi Rae bergumam pelan, tapi cukup sampai ke telinga mereka bertiga. Mereka menoleh, menanti ucapan Mi Rae yang sempat tertahan. “Sepasang sepatu, meski berpisah ditiap langkah, mereka akan bersatu ditiap pijakan. Mereka saling mendahului, tak terlihat kompak, tapi punya tujuan yang sama. Pada akhirnya, mereka akan tiba di tempat yang sama.”

Kyuhyun tersenyum. “Dan jika salah satu diantaranya hilang, maka satu yang tersisa tidak lagi mempunyai arti,” ia menatap Mi Rae yang dibuat tak berkutik. Terkekang oleh tatapan lembut itu. Keadaan menjadi sedikit lebih hening padahal keramaian ada di sekeliling mereka.

“Sepasang sepatu yang sangat serasi—dan kalian terlihat seperti itu.”

Mi Rae dan Kyuhyun kompak menoleh pada Jin Ae. Kali ini kedua orang itu yang dibuat bergeming. Keadaan kembali berlangsung hening hingga ponsel Kyuhyun yang berbunyi mengalihkan perhatian mereka.

Kyuhyun terhenyak dengan sorot mata yang aneh ketika menatapi layar ponselnya. Wajahnya mendadak kaku. Ia terdiam sekian menit dan membuat ketiga orang yang sedang bersamanya memandanginya.

“Ah—maaf, sepertinya seseorang keliru mengirimkan sms,” kata Kyuhyun. Ia baru saja menyadari jika telah membuat mereka menautkan alis karena melihat gelagat anehnya. “Sampai di mana tadi kita?” tanyanya, berusaha mengembalikan suasana seperti semula.

“Lupakan cinta sejati, saat ini aku lebih membutuhkan kelulusan,” Jin Ae menekuk wajahnya

Mi Rae menggeleng pelan melihat Jin Ae yang menyeruput dalam-dalam jus hingga tak bersisa di dalam gelas. Jelas sekali jika Jin Ae sedang frustasi. Sangat frustasi. Sedangkan Hyukjae, ia terus mengawasi Kyuhyun yang duduk di sebelah kanannya. Pemuda itu terlihat sedang melamun. Ya, sejak ia menerima sms tadi.

Hyukjae memiringkan tubuhnya—ia mendekatkan kepalanya kepada Kyuhyun dan berkata dengan suara yang sangat pelan, “Dengar. Aku tahu itu bukan sms nyasar. Kupikir Presiden Kim dan antek-anteknya telah tertangkap,” Hyukjae bergumam. Ia tiba-tiba memikirkan hal lain namun mengurungkan niatnya untuk bertanya setelah Kyuhyun menatap sekejap padanya. Sorot mata Kyuhyun yang tajam sedang memintanya untuk diam.

***

Membaca kembali pesan yang diterima beberapa hari lalu membuat Kyuhyun mendesah. Ia menatap langit biru di atas kepalanya sambil menarik napas berat. Ia menyimpan ponsel di saku jaket ketika melihat Mi Rae sedang menuruni anak tangga.

Mi Rae melangkah tenang mendekati Kyuhyun yang sedang bersandar di motor besar berwarna hitam miliknya. Kyuhyun memang sedang menunggunya. Pemuda itu tak mungkin memarkir motor di depan rumah Mi Rae mengingat kondisi kompleks tempat tinggal Mi Rae. Ia hanya bisa menunggu Mi Rae di ujung anak tangga terbawah.

“Kau sudah lama menunggu?” tanya Mi Rae.

“Tidak,” jawab Kyuhyun.

“Kau akan mengajakku ke mana?”

Semalam Kyuhyun mengiriminya pesan. Ia meminta Mi Rae menyisihkan waktunya hari ini. Kyuhyun tak menjawab ia justru memajukan wajahnya mendekati Mi Rae.

“Kau berdandan?”

Mi Rae tersentak, “A-aku? H-heii..mana mungkin? Aku tidak melakukan itu,” elak Mi Rae dengan terbata.

Berdandan? Mana mungkin? Mi Rae lemas. Ia merasa bodoh ketika teringat bagaimana ia membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk menentukan pakaian mana yang akan ia pakai, walaupun pada akhirnya ia akan tetap memilih mengenakan celana jeans dan kemeja hitam longgar. Tadinya ia sempat berniat mengenakan gaun, tapi untung otaknya kembali normal. Kyuhyun mungkin saja akan jatuh koma jika melihatnya mengenakan gaun, batin Mi Rae. Belum lagi, make up minimalis di wajahnya, lalu kemudian ia hapus. Itu bukan dirinya. Sama sekali bukan gaya seorang Baek Mi Rae. Kyuhyun hanya mengajaknya ke suatu tempat, dan bukan berarti sebagai sebuah ajakan kencan. Jadi untuk apa ia merepotkan dirinya hingga sejauh itu? Mi Rae memukul kepalanya dan kemudian ia meringis.

“Kau baik-baik saja?”

“Tidak apa-apa,” jawabnya pada Kyuhyun, berusaha mengontrol dirinya sendiri. Bagaimana pun, ia tak ingin Kyuhyun mengetahui semua itu.

“Omong-omong,” Kyuhyun memandangi bibir Mi Rae. “Gincu yang kau pakai—”

“Gincu?” Mi Rae memotong perkataan Kyuhyun. Ia melempar Kyuhyun dengan tatapan sengit. Gosh! Di jaman mana pemuda ini hidup? “Gincu katamu? Tidakkah kau tahu apa itu lipstick? Dengar. Lipstick, okay?” ralat Mi Rae, dan sedetik kemudian ia tersadar. Kyuhyun telah memamerkan seringaian kemenangan khas-nya, sementara Mi Rae hanya menggigit bibirnya kesal, bercampur malu. Kyuhyun sengaja menjebaknya. “Aku pulang!” Mi Rae membalikkan tubuhnya. Kyuhyun segera menangkap pergelangan tangan Mi Rae. Ia berdiri, menegakkan tubuhnya.

“Warnanya cocok denganmu. Cantik,” Kyuhyun berkata sambil tersenyum. Ia mengambil helm, memakaikan ke kepala Mi Rae. Gadis itu masih membatu. “Hari ini aku akan mengenalkanmu pada seseorang,” katanya sambil menaiki motor, memakai helmnya sendiri. “Naiklah!” katanya lagi dengan suara yang lebih keras, mengimbangi suara deru mesin motornya setelah motor itu dihidupkan. Mi Rae hanya menuruti tanpa bersuara.

*

Mi Rae menjajakkan kaki pelan. Ia berjalan di sisi Kyuhyun. Sesekali mata Mi Rae memandangi makam-makam yang mereka lewati. Benar. Mereka berada di sebuah area kompleks pemakaman. Sejak tiba di tempat itu, tidak ada satu pun dari keduanya yang bersuara. Entahlah, tapi Mi Rae dapat merasakan suasana tenang yang aneh. Kyuhyun mengatakan jika ia ingin mengenalkan Mi Rae pada seseorang, tapi tempat mereka berada saat ini adalah tempat yang tidak lazim sebagai lokasi pertemuan. Jadi, siapa sebenarnya yang ingin Kyuhyun kenalkan padanya sehingga mereka harus ke kompleks pemakaman? Ataukah orang yang ingin dikenalkan Kyuhyun memang sudah tidak berada di dunia ini lagi? Meski banyak hal yang ingin ditanyakan Mi Rae, namun ia memilih untuk membiarkan kesunyian itu tetap terjaga. Lagi pula, sebentar lagi ia akan mendapatkan jawabannya.

Kyuhyun menghentikan langkahnya, “Sudah sampai,” katanya. Mi Rae menatapi Kyuhyun yang menatap lurus ke depan.

Mi Rae ikut memandangi makam yang berada tepat di hadapan mereka. Siapa pun itu, tapi pemilik makam itu adalah seorang wanita yang bernama Song Hwa Ran. Mi Rae mengetahui itu setelah membaca nama yang terukir di nisan yang terbuat dari batu pualam berwarna hitam. Mi Rae sama sekali tak mengenal siapa Song Hwa Ran, tapi ia tahu jika pemuda yang berdiri di sisinya itu mengenal wanita tersebut. Ekspresi Kyuhyun tak bisa dilukiskan Mi Rae dengan kata-kata. Ia tak bisa menerjemahkan arti dari sorot mata itu.

“Orang yang ingin kau kenalkan padaku,” Mi Rae memutuskan untuk memecahkan kesunyian di antara mereka, “Apakah orang ini?” ia menoleh pada Kyuhyun.

Kyuhyun pun menatapinya sambil tersenyum. Ia kembali membuang tatapannya pada makam. “Aku datang lagi. Semoga kau tak bosan,” Kyuhyun berujar. Suaranya yang pelan sedang melantunkan sesuatu yang berbeda. Lirih. Mi Rae dapat merasakan itu.

Pelan-pelan Kyuhyun menggerakkan kepalanya, berpaling pada Mi Rae. Matanya beradu pandang dengan Mi Rae yang tampak sedang kebingungan.

“Baek Mi Rae,” Kyuhyun memanggil namanya pelan. Raut wajahnya sedang menyembunyikan sesuatu, “Ini adalah tempat yang kudatangi saat aku tak tahu harus ke mana. Aku selalu bercerita padanya. Aku sering bercerita tentangmu padanya. Memperlakukannya seperti seorang sahabat, aku menceritakan kehidupanku padanya. Konyol,” Kyuhyun tertawa pelan. Menertawakan dirinya sendiri.

“Kyuhyun.”

“Jika kau membenciku, masihkah kau akan menemuiku?” tanya Kyuhyun, namun ia segera melanjutkan perkataannya sebelum dijawab Mi Rae. “Orang ini. Dia harus tahu semua yang kualami. Semua kepedihan karenanya,” Kyuhyun berkata tegas. Suaranya tetap stabil, tapi Mi Rae mampu merasakan kemarahan di situ. “Mungkin dengan begitu, dia akan menyesali semuanya, tapi lihatlah! Dia hanya diam. Dia—”

Tidak ada suara. Mi Rae tak bisa bersikap sedatar biasanya ketika melihat Kyuhyun yang seolah ditelan kebencian. Kebencian? Benarkah? Mi Rae tak begitu yakin dengan dugaannya, tapi apa pun yang Kyuhyun rasakan—hal itulah yang membuat pemuda tersebut sudah tak mampu mengucapkan kata-kata, seakan mulutnya terasa berat untuk digerakkan. Kyuhyun masih terdiam dengan napas yang memburu.

“Kyuhyun,” Mi Rae menyentuh tangan Kyuhyun.

“Terlahir dari rahim wanita mengerikan sepertinya, aku begitu membencinya hingga ke ubun-ubun. Kepalaku serasa akan meledak dan dadaku sangat sesak,” Kyuhyun bergumam pelan dengan kepala yang menunduk.

Mata Mi Rae sedikit terbelalak. Otak Mi Rae tak lagi mampu bekerja dengan normal ketika ia melihat Kyuhyun menegakkan kepala, menatap lurus pada makam di hadapan mereka. Seluruh tubuh Mi Re terasa ikut membeku bersama sorot mata Kyuhyun. Ekspresi di raut wajah Kyuhyun adalah ekspresi terdingin yang pernah dilihat Mi Rae.

“Nyonya Song. Atau, haruskah aku memanggilnya—Ibu?”

                                                     ~bersambung~

Pertama-tama, Dirgahayu RI yang ke-70.

Wish the best for Indonesia. God Bless Indonesia.

Hai semuanya. Apa kabar? Cepet banget kan sy publish kelanjutnya (dalam arti sebaliknya) *hehehe author minta ditabok nih kayaknya*

Sebenarnya ini sudah selesai sejak beberapa waktu lalu, tapi karena kesibukan jadi lupa gitu ^^ (Alasan yang diperhalus. Padahal yang sebenarnya adalah pengen ngincar jadwal publish bertepatan dengan HUT RI).

Oh ya, apa yang paling ingin dilakukan/cita-cita Kyuhyun itu bukan jadi mafia. Di part 7 ada beberapa teman yang komen dan sempat bilang seperti itu. Salah persepsi. Mungkin juga karena penjelasan sy juga kurang pas atau gimana…tapi, it’s okay. Sy hanya sedikit meluruskan biar semua kembali ke jalan yang benar -_-

Kyuhyun memilih menjadi dokter sebagai pelarian (karena gak bisa melakukan apa yang paling ia inginkan), tapi Kyuhyun juga bilang kalau sebelum jadi dokter, dia pernah melakukan hal lain yang kalo Mi Rae tau mungkin Mi Rae bakalan berpikir berkali-kali lipat utk bergaul dengan Kyuhyun (well, mafia maksudnya) tapi itu pun juga sebagai bentuk pelarian. Lalu, sebenarnya apa yang ingin dilakukan Kyuhyun? Nah, kalo bagian yang itu, sy gak boleh bocorin, biar Kyuhyun yang kasih tau nanti.

So, intinya…Kyuhyun itu cita-citanya bukan ingin jadi mafia ya. Jantung sy terpukul hebat (pake efek lebay) begitu melihat ada beberapa teman yang salah tanggap, dan mengira cita-cita Kyuhyun adalah jadi mafia (duuuh Nak, betapa mulia cita-citamu).

Omong-omong, filosofi cinta sejati yang diibaratkan seperti sepasang sepatu, sy pernah di-broadcast. Siapa pun pencetusnya: good. Menarik.

Baiklah, sekian kata penutup yang sangaaaaat singkat ini.

Bagaimana menurut kalian tentang part ini? Adakah yang mau beri tebakan-tebakan jitu tentang kelanjutan ff ini? Yuuk mari, ditunggu lho.

Mohon kritik dan saran ya. Muuuuaaccchh~

Iklan

234 thoughts on “Drama (Part 8)

  1. nae.ratna berkata:

    wah jin ae n hyukjae kya. sendal jepit kkk
    penasaran sama sejarah keluarga.a kyuhyun
    kok kyuhyun manggil ibu.a dengan nyonya song yah(?)

  2. kyunara berkata:

    akhirnya kyuhyun mau sedikit terbuka sama mi rae,,biar mi rae percaya gitu kalo kyuhyun bener” suka sama dia..
    maklum…mi rae kan punya masalah sama kepercayaan diri..

  3. Leah berkata:

    Aku agak bingung sih sebenernya, antara penjelasan hyukjae Dan Kyuhyun tentang ibunya Kyuhyun itu, kok kayanya beda ya. Kalo dari sudut pandang hyukjae, kayanya ibu Kyuhyun itu orang yg baik dan penyayang, tapi Kyuhyun? Dia kayanya benci sekali sama ibunya. Oh atau, ibunya ngelakuin sesuatu yang bikin Kyuhyun muak dan sakit hati? Entah lah,
    Eh tapi Kyuhyun itu so sweet syekaliii, Mirae aja si nona drama berwajah datar bisa tersipu gitu dibilang cantik sama Kyuhyun . Ah pokoknya da bomb lah ff nya, bikin senyum senyum sendiri bacanya apalagi pas filosofi cinta, sendal jepit itu loh aaaahhhhh 😍😍😍

  4. elfrye berkata:

    Bagus bgt filosofi cintanya,
    Ny song ibu kndungny kyukah,koq beda marganya.
    Mirae udh g datar lg mukanya klo sm kyu

  5. AeriLyz77_ berkata:

    Jdi mkin penasran tntang khidupan Cho hemzz.. Awl yg baik dengan memulai mnjdi shabat hehehe

  6. Hana Choi berkata:

    Di part ini aku ga ngerti, hyukjae bilang keluarga kyuhyun begitu bahagia ibu yg baik fan penyayang dan ayah yg tegas tapi tetep penyayang, dan bukannya kyuhyun pengen jadi dokter itu karena ibunya? Tapi kenapa kyuhyun seolah” benci sama ibunya. Apa ny. Song ibu kyuhyun ngebuang kyuhyun hingga kyuhyun di angkat jadi keluarga cho? Atau apa? Aku bingung

  7. lvraz berkata:

    Berarti selama ini kyuhyun gak pernah bohong sama cewek2 yg nembak dia kalau dia punya Cewek yg Dia suka, kehidupan kyuhyun Masih misterius banget, satu ketauan Tapi Masih ada Banyak yg tersimpan. Misterius.

  8. My labila berkata:

    Mi Rae memang beda sm orang-orang lain, dia bisa nerima masa lalu kyuhyun yg menurut kyuhyun kalau mirae tau dia bakalan jauhin dia, dan ternyata Mi Rae ya Mi rae, penasaran kenapa kyuhyun benci sama ibunya ?

  9. ina berkata:

    syukur deh mi rae berpikir dengan ke’logisannya’
    hmmm…. ko rasanya juga sedih ya dengan kehidupannya kyu
    masih banyak pertanyaan tentang hidup kyu
    dan juga permasalahannya dengan ibunya kyu, buakannya kyu mau melindungi sesuatu,,
    atas dasar apa dia mau ‘melindungi’
    dan ada apa dengan orang tua kyu.. ayahnya..?

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s