Drama (Part 9)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Presiden Kim Ji Seok masih berdiri terpaku di sisi jendela. Pandangannya tertuju lurus pada hamparan teh di perbukitan yang terpantau dari lantai dua villa. Ia suka sekali dengan pemandangan yang begitu alami, namun kali itu ia tidak bisa menikmati kesenangannya. Tatapan matanya yang dingin, tidak menyiratkan apa-apa. Hanya datar—begitu saja. Pria itu membalikkan tubuhnya. Ia menoleh pada seorang pemuda yang masih mengenakan seragam sekolahnya dan seragam itu begitu kotor. Wajah pemuda itu tampak lebam, bahkan kedua sudut bibirnya memamerkan luka yang masih baru. Ada sisa-sisa darah di cela-cela bibir. Ia pasti baru saja terlibat dalam sebuah perkelahian.

“Kau menemukan rumah?”

Pemuda yang tak lain adalah Cho Kyuhyun tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Presiden Kim.

“Tidak, tapi aku akan membangun rumahku sendiri,” jawab Kyuhyun. Ia tahu jika rumah yang dimaksud oleh Presiden Kim adalah keluarga.

“Mengapa kau ingin pergi?”

Presiden Kim terlihat tak senang dengan keputusan Kyuhyun. Ia selalu menghabiskan akhir pekannya di Boseong, menyendiri di villa kesayangannya, lalu mendadak Kyuhyun datang menemuinya hanya untuk mengatakan jika ia telah memilih jalannya sendiri. Kyuhyun pasti sangat berarti, sebab Presiden Kim tak terlihat siap untuk membiarkan Kyuhyun pergi.

“Masalah pribadi. Apa pun alasannya—aku sungguh ingin menata hidupku.”

“Aku memperlakukanmu dengan baik. Jika kau tahu betapa kerasnya hidup di jalanan Seoul, mengapa kau membuang kebaikan yang kutawarkan?”

Kyuhyun terdiam, “Yang kita lakukan saat ini adalah kesepakatan bisnis. Aku melakukan tugas yang kau berikan sehingga aku berhak menerima bayaran atas pekerjaan. Itu sebuah pertukaran yang adil. Selain itu, kau memperlakukanku dengan baik karena kau masih membutuhkanku.”

Niat Kyuhyun untuk keluar dari organasasi mafia sudah bulat. Keputusannya tidak bisa dibelokkan.

“Aku memberikanmu waktu untuk berpikir.”

Tak ada suara. Tidak ada lagi yang perlu dipikirkan oleh Kyuhyun. Ia ingin segera mengakhiri semuanya. Di ruangan itu, ada orang lain yang bersama-sama dengan mereka, tapi bukan para pengawal yang biasanya mengekori ke mana pun Presiden Kim pergi. Pria itu tidak pernah membawa pengawal jika sedang berada di Boseong.

Seorang wanita yang sejak tadi tak bersuara sedikit pun. Ia mengenakan gaun terusan selutut berwarna merah darah yang terlihat pas dengan tubuhnya, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Meski umurnya tidak lagi muda, namun wanita itu begitu cantik. Kulitnya putih dan kencang, sangat terawat. Ia hanya duduk di sofa sambil menikmati anggur putih dalam gelas anggur berbentuk ramping dan agak tinggi dengan tangkai kaki yang lurus dan cukup panjang. Wanita itu meletakkan gelas di atas meja, ia berdiri dan berjalan santai menghampiri Presiden Kim.

“Biarkan saja dia pergi. Anak seumurnya tidak akan tahan hidup sendirian di luar sana. Dia pasti akan kembali,” wanita itu berkata santai sambil melirik pada Kyuhyun yang justru memamerkan ekspresi dingin. Siapa pun yang melihat kondisi Kyuhyun mungkin akan memberikan pendapat yang sama dengan wanita itu. Seorang pemuda yang bahkan masih suka terlibat dalam tawuran antar pelajar—seperti tampilan babak belur Kyuhyun saat itu—mana mungkin bisa menata hidupnya dengan baik?

Presiden Kim terdiam. Ia lantas tersenyum, “Hwa Ran. Bisakah kau mengambil cerutuku? Aku meninggalkannya di gazebo, di kolam renang.”

Wanita itu tersenyum dan tanpa menunggu aba-aba selanjutnya, ia melenggang pergi. Mungkin itu hanyalah sebuah isyarat agar membiarkan Presiden Kim dengan Kyuhyun. Hanya mereka berdua.

“Sepertinya kau tidak mengijinkanku untuk membujukmu. Kyuhyun, kau tahu apa yang akan terjadi jika kau keluar?”

Tentu saja. Tidak mungkin ia tidak tahu-menahu dengan tradisi dalam organisasi hitam tersebut. Ia bahkan tetap bergeming saat Presiden Kim mendekati meja kerja, membuka laci pertama dan mengeluarkan sepucuk senjata dari dalam laci tersebut. Entah apa yang Kyuhyun pikirkan, tapi ia tak terlihat takut saat senjata ditodongkan padanya.

“Semua orang yang keluar dari organisasi akan diperlakukan sama. Aku tidak sedang mengancammu.”

Kyuhyun mengangkat wajahnya, menatap lurus pada Presiden Kim yang sedang mengarahkan moncong senjata tepat ke dahi Kyuhyun. Tenang sekali.

“Lakukan!” Kyuhyun justru memerintah. Sorot matanya yang dingin terlihat berkilat-kilat, ada amarah yang berpendar di sana, “Bahkan tidak seharusnya aku lahir.”

Raut wajah Presiden Kim justru menegang setelah melihat ketidaktakutan Kyuhyun. Kemarahannya membuncah. Matanya seolah dihalangi oleh sebuah tembok raksasa yang berwarna hitam. Pekat. Ia menggeram dan tak bisa memikirkan sesuatu, lalu…

DORR!

Tubuh Kyuhyun terpental, ia terhempas di lantai parkit. Kyuhyun mengerang kesakitan karena kepalanya yang terbentur kuat di permukaan lantai. Ia mencoba membuka matanya sebab tubuhnya terasa berat. Seseorang sedang menindihnya. Wanita bergaun merah tadi terlihat diam, tak berkutik di atas tubuh Kyuhyun. Kyuhyun sangat terkejut, tapi Presiden Kim jauh lebih terkejut melihat wanita itu sudah tak bergerak dengan luka tembakan di belakang kepala. Senjata di tangan Presiden Kim terlepas begitu saja dari genggamannya.

“Hwa-Hwa Ran…,” Presiden Kim terbata. Ia kebingungan di tempatnya berpijak. Seperti orang yang tidak tahu bagaimana caranya berjalan, ia melangkah kecil dan tertatih mendekati Kyuhyun dan wanita yang tak lagi bernyawa. Presiden Kim berlutut di sisi Kyuhyun yang masih tak berkedip memandangi tubuh wanita itu.

Sial. Kejadian itu tidak terbesit di otak Presiden Kim maupun Cho Kyuhyun. Sama sekali tidak.

 

***

Pengakuan Kyuhyun membuat jantung Mi Rae berdebar keras. Ini jauh lebih mengejutkan daripada saat dimana ia mengetahui Kyuhyun adalah bekas mafia. Kesedihan dan kebencian yang kental terpancar dari bola mata coklat gelap milik pemuda itu.

Ingin sekali Mi Rae menyentuh pundak Kyuhyun. Ia berharap mampu meredakan kemarahan dalam hati Kyuhyun. Namun tangan gadis itu hanya mengambang di udara dan kemudian kembali terkulai begitu saja. Mulut Mi Rae bergumam pelan memanggil nama pemuda itu, “Kyuhyun—”

Mi Rae tidak mengerti. Sama sekali tidak bisa mencerna skenario hidup Kyuhyun dengan kepalanya yang sudah pusing memikirkan perkuliahannya. Ia yakin jika ia tidak salah tanggap terhadap cerita Hyukjae tentang keluarga Kyuhyun. Keluarga yang kata Hyukjae adalah keluarga yang sangat bahagia. Ibu yang disebut-sebutkan sebagai wanita sederhana yang cantik dan baik hati. Ibu yang digambarkan sebagai wanita yang begitu diagungkan oleh Kyuhyun.

Lantas, sekarang Kyuhyun memberikan pengakuan lain bahwa ia sangat membenci ibunya. Jadi, apa yang harus Mi Rae percaya?

Cerita Kyuhyun? Atau cerita Hyukjae?

Mi Rae tahu jika Hyukjae tak membohonginya, namun sorot mata Kyuhyun pun tidak sedang bergurau. Jadi, sebenarnya apa yang terlewatkan olehnya?

Kyuhyun menengadahkan kepalanya. Ia terlihat memejamkan matanya sejenak, lalu tatapannya kembali tertuju pada Mi Rae yang terbungkam saking kerasnya memikirkan jalan hidup Kyuhyun yang begitu rumit. “Kau baik-baik saja?”

Pertanyaan Kyuhyun membuat Mi Rae menganga. Konyol. Kyuhyun tertawa kecil sambil mendorong ke atas dagu Mi Rae dengan tangannya sehingga membuat mulut gadis itu terkatup. Dengan kasar Mi Rae menepis tangan Kyuhyun. Ia melirik sebal pada pemuda itu.

Baru beberapa menit lalu Mi Rae menyaksikan Kyuhyun dalam dimensi yang berbeda. Sosok yang seolah dibungkus oleh amarah. Mi Rae sendiri mendadak kehilangan kata-kata karena hal tersebut, dan tentu saja tidak terbesit di otak pas-pasan miliknya jika Kyuhyun akan melontarkan pertanyaan tadi. Sekarang ia tak tahu harus mengatakan apa setelah Kyuhyun merebut kalimat yang seharusnya menjadi miliknya. Yang tersisa di kepala Mi Rae, “Kau yakin tak ada yang salah dengan otakmu?” tatap Mi Rae penuh selidik. Tawa Kyuhyun terdengar lebih keras daripada sebelumnya.

Terlalu pintar sehingga otaknya sedikit bermasalah, ya—mungkin saja. Terkadang orang jenius dan orang gila itu sulit dibedakan. Mi Rae berdecak sendiri, mengabaikan Kyuhyun yang hanya menyeringai. Melihat Kyuhyun yang masih tak bisa menyembunyikan gigi, sesuatu terasa menggelitik Mi Rae. Ia pun ikut tertawa.

“Cho Kyuhyun—kau gila, huh?”

“Kau lebih gila daripada aku. Orang-orang berkata begitu.”

Mi Rae meninju pelan lengan Kyuhyun dan ditanggapi Kyuhyun dengan sebuah sandiwara kecil. Ia meringis kesakitan, seolah ia baru menerima pukulan dari Hulk. Keadaan menjadi hening kurang-lebih empat menit lamanya hingga Mi Rae berbicara lebih dahulu.

“Kau tak keberatan jika aku bertanya?” Mi Rae menoleh pada Kyuhyun, dan ia melanjutkan perkataannya setelah melihat Kyuhyun tersenyum. Menyetujui permintaan Mi Rae. “Hyukjae bilang—” dan entah kenapa, Mi Rae urung. Mulutnya mengatup rapat.

“Melihat kebingunganmu, sepertinya Hyukjae belum menceritakan semua. Baguslah, anak itu bisa dipercaya,” Kyuhyun terkekeh. Ia lalu merangkul Mi Rae dan mengurung leher Mi Rae dalam apitan lengannya. “Hei, sahabat. Kita bersahabat, kan?”

Mi Rae yang terkejut dengan tindakan tak terduga Kyuhyun hanya berusaha melepaskan diri. Ia memukul-mukul tangan Kyuhyun.

“Beginikah caramu bersahabat? Dengan membunuhku?” amuk Mi Rae setelah berhasil kabur dari kurungan lengan Kyuhyun.

Lagi-lagi Kyuhyun terkekeh. Ia menyeringai, membuang jauh-jauh sesuatu yang dikatakan sebagai rasa bersalah. “Sesama sahabat tidak boleh menyimpan rahasia. Jadi, kau mau mendengar rahasiaku?” tanya Kyuhyun.

Tidak ada candaan. Kyuhyun sangat serius sehingga jantung Mi Rae berdetak cepat. Rasanya, apa pun yang akan keluar dari mulut Kyuhyun adalah sesuatu yang—mm, entahlah. Mi Rae tak dapat berkonsentrasi lagi.

“Apa?” Mi Rae mencoba bersikap tenang.

“Hyukjae tidak berbohong padamu. Ibuku, dia wanita yang sangat lembut dan penuh kasih sayang,” Kyuhyun tersenyum ketika teringat pada sosok itu. “Dia memiliki kesabaran melebihi kesabaran manusia normal. Entahlah, tapi bagiku—dia seperti wanita bodoh yang tak bisa melakukan apa pun.”

Belum jelas apa yang membuat Kyuhyun membenci ibunya, karena bagi Mi Rae; Kyuhyun bahkan masih menyimpan rasa sayang yang begitu besar terhadap wanita itu.

“Lantas, mengapa kau tiba-tiba berbalik membenci ibumu?”

“Aku tidak membencinya. Sama sekali tidak.”

“Tapi—kau bilang bahwa kau membenci wanita ini?” Mi Rae menatapi makam Nyonya Song.

“Dengan kata lain, aku adalah pembohong. Begitu? Tentang kebencianku terhadap Nyonya Song, aku hanya mencoba jujur dengan isi hatiku.”

Nah, semakin pusing kepala Mi Rae mendengar perkataan Kyuhyun. Apa Kyuhyun berbeda planet dengannya? Mengapa setiap kalimat yang keluar dari mulut Kyuhyun membuat gadis itu merasa harus meminum obat pereda sakit kepala?

“Mereka adalah dua orang yang berbeda.”

Mi Rae berpaling seketika. Dua orang yang berbeda? Apa maksudnya?

“Wanita yang aku agung-agungkan sebagai ibu terbaik di dunia,” Kyuhyun terdiam. Ia tertawa pelan. Tawa yang menyiratkan kepedihan. Kyuhyun menoleh pada Mi Rae. Menatap Mi Rae dengan tatapan sendunya, “Aku bukan anak ibuku,” katanya sedih.

Baek Mi Rae tersentak.

Jadi—Kyuhyun bukan… ah, Mi Rae masih tak bisa menyembunyian keterkejutannya. Sosok ibu yang begitu disanjung Kyuhyun, bukan wanita yang terbaring di dalam tanah. Sosok ibu yang dipuja sedemikian rupa oleh Kyuhyun, bukan wanita yang melahirkannya. Ibu biologis Kyuhyun adalah wanita yang telah meninggal itu.

“Suatu hari, sepulang dari sekolah, aku mendapati kedua orang tuaku bertengkar. Mereka sangat jarang bertengkar, itulah sebabnya aku penasaran. Seandainya saja jika saat itu aku tidak menguping. Apa semuanya akan baik-baik saja?” Kejadian awal yang memutarbalikkan pemahaman Kyuhyun tentang keluarga bahagianya, membuat ia merasa tak lebih dari seorang pesakitan. Menderita. “Dunia serasa runtuh di atas kepalaku saat mengetahui kenyataan itu.”

“Kyuhyun,” Mi Rae bergumam pelan. Seperti sebuah kontak batin. Rasanya Mi Rae akan menangis dan ia memilih membuka matanya lebih lebar demi mencegah air matanya keluar begitu saja.

“Aku adalah anak dari hasil perselingkuhan ayah dengan wanita ini, Nyonya Song.”

Sebuah kalimat yang diutarakan dengan ekspresi paling tenang milik Kyuhyun. Suaranya yang stabil, namun dengan aura yang terasa aneh di sekitar mereka. Ungkapan yang menghenyakkan Mi Rae.

“Beberapa hari yang lalu, ibu mengirimiku sebuah pesan. Katanya, ayahku sakit. Ibu memintaku menemui ayah. Bagaimana bisa? Orang itu yang membuat hidupku berantakan.”

Kyuhyun bungkam sekian detik. Kesunyian tetap terjaga. Tak ada satu pun yang bersuara, dan Kyuhyun kembali melanjutkan ceritanya.

“Aku tidak bisa menerima kenyataan tentang keberadaanku. Kupikir ini adalah mimpi buruk, tapi rasa sakitnya terlalu nyata. Bodohnya, aku pernah merasa iri melihat keharmonisan mereka. Kenyataan di balik itu adalah sebuah aib.”

Detak jantung Mi Rae meningkat. Hatinya ikut teriris. Kesedihan Kyuhyun yang ia rasakan semakin kental.

“Berulang kali aku berpikir. Masuk akalkah semua perlakuan ibu terhadapku? Di mana akal sehatnya hingga memilih merawat anak hasil hubungan gelap suaminya dengan wanita lain? Mungkinkah dia telah melupakan wanita itu setiap kali melihatku? Mustahil. Alasan dibalik kasih sayangnya. Aku selalu memikirkan itu. Tidak bisa kutebak orang seperti apa dia. Terlalu sabarkah? Atau bodoh? Kupikir aku mengenalnya dengan baik, tapi ternyata aku tidak tahu dengan siapa aku hidup selama belasan tahun itu. Semua kebahagiaan yang aku terima, terlihat seperti sebuah sandiwara. Senyum bahagia di wajah kedua orang tuaku, seperti sebuah topeng yang mereka kenakan saat bersamaku. Mungkin saja, selama ini ibu hanya berpura-pura menyayangiku.”

“Hal-hal baik akan datang jika kau memikirkan sesuatu yang baik. Berpikirlah yang positif, Kyu.”

“Aku bilang mungkin saja,” Kyuhyun mengelak. “Ibu begitu takut berpisah dengan ayah. Mungkin dia terpaksa melakukan itu karena tak ingin ditinggalkan oleh ayah. Sangat lucu,” Kyuhyun tersenyum sinis. “Mereka sangat mengecewakan.”

Mi Rae teringat pada alasan yang dikemukakan Kyuhyun beberapa waktu lalu. Alasan yang membuat Kyuhyun tergabung dalam organisasi mafia dan berakhir sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Sepak terjang yang Kyuhyun sebut sebagai sebuah pelarian dan karena itu, rahang Mi Rae seakan tertarik gravitasi bumi. Mencengangkan. Pada saat itu Kyuhyun mengatakan jika ia kecewa pada orang tuanya. Hari ini, Mi Rae akhirnya mendengar sendiri sebuah cerita yang membuat Kyuhyun harus menelan kepahitan dan rasa kecewa yang begitu dalam.

“Aku kecewa pada ayah yang tega mengkhianati ibu. Aku kecewa pada ibu yang diam saja menerima perlakuan ayah,” Kyuhyun terdiam. Ia adalah orang yang begitu menghormati ayah dan ibunya. Dikecewakan oleh orang yang paling dipercaya adalah hal yang sangat menyakitkan. “Tapi semuanya, aku lebih kecewa pada diriku sendiri,” katanya kemudian. Ia hampir tak bisa melanjutkan kata-kata dengan suaranya yang serak. Tenggorokannya mulai terasa sakit. Pemuda itu menengadahkan kepala, memandangi langit. Ia adalah orang yang kuat, dan mencoba untuk selalu tegar. “Keberadaanku di dunia ini adalah sebuah kesalahan.”

Satu kalimat yang membuat hati Mi Rae tersayat. Kyuhyun, orang yang sehangat musim panas dan secerah musim semi, tapi ia menyimpan kisah pilu yang mampu membuat hati menjadi lebih dingin daripada salju di musim dingin. Masih memiliki orang tua, tapi seolah tidak. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada ketika kau tahu di luar sana ada sekelompok orang yang kau sebut keluarga, tapi di saat yang bersamaan kau menyadari jika di dunia ini kau sendirian. Mi Rae paham seperti apa rasanya.

“Aku membenci Nyonya Song karena dia alasan aku harus hidup dan tetap hidup meski aku ingin mati.”

Rasa sesak yang membuncah di dada Kyuhyun membuatnya sulit bernapas. Ia terdiam sekian detik, menghirup udara untuk sekedar melegakan rongga dadanya yang terasa sempit. Di sisinya, Baek Mi Rae hanya menggigit bibir, menahan tangis.

Ada lengkungan dari sudut bibir Kyuhyun. Ia tersenyum getir. “Aku bukan orang yang tidak berpikir ulang ketika memutuskan untuk melakukan sesuatu. Meski aku merasa hancur, tapi aku tidak berpikir untuk menjerumuskan hidupku. Kata orang, sudah kepalang basah—sebaiknya mandi sekalian. Aku bukan penganut prinsip itu. Lalu mengapa aku justru terjebak dalam organisasi hitam itu?”

Mi Rae menoleh seketika. Sungguh. Ia sangat penasaran. Ketika Kyuhyun menggerakkan kepalanya, Mi Rae membuang muka. Ia menghindari kontak langsung dengan mata Kyuhyun. Ia tak ingin Kyuhyun melihat matanya yang sembab dan mulai memerah karena menahan air mata.

“Nyonya Song—adalah wanita Presiden Kim,” Kyuhyun berkata tenang. Rasanya seperti batang leher Mi Rae dicengkeram hingga ia kesusahan bernapas. “Aku ingin tahu wanita seperti apa dia yang seharusnya kupanggil ibu. Sungguh runyam rasanya. Perih seperti luka basah yang kembali dicambuk. Menyakitkan. Kupikir seseorang hanya akan jatuh ke dalam lubang yang sama sekali saja, tapi wanita itu—dia justru berakhir sebagai wanita simpanan bos mafia. Aku jijik memikirkan jika dia adalah orang yang melahirkanku,” Kyuhyun menyeka sudut matanya. Kemudian ia menarik napas panjang, “Nyonya Song tahu siapa aku, tapi dia bersikap seolah aku bukan siapa-siapa. Dia hanya memandangku dengan ekor matanya. Kupikir aku akan melihat sedikit saja penyesalannya, tapi aku terlalu naif untuk mengharapkan sesuatu yang mustahil. Aku tidak mengharapkan pengakuannya, tapi melihat caranya memperlakukanku, entahlah. Aku hanya sangat sedih.”

Mulut Mi Rae terbuka pelan, “Kyu—” diurungkan lagi kata-kata yang hendak keluar dari bibirnya yang gemetar. Tidak dianggap, Mi Rae pun tahu seperti apa rasanya. Ia terlalu sering diperlakukan begitu. Meski terbiasa dengan perlakuan seperti itu, tapi bukan berarti rasa sakit yang dialami adalah rasa sakit yang biasa.

“Alangkah baiknya jika sampai akhir Nyonya Song konsisten, tapi dia…,” Kyuhyun memalingkan wajah. Tangannya kembali menyeka sesuatu yang bergulir di pipinya dengan gerakan yang sangat cepat. Ia lalu menatap makam Nyonya Song. “Dia justru tertembak karena aku…karena anak yang tidak dipedulikannya…karena anak yang seumur hidup berjanji akan membencinya…,” Kyuhyun berpaling, menatapi Mi Rae, tak peduli lagi dengan air matanya yang menetes, “Mi Rae…mengapa dia melakukan itu?”

Mi Rae terbiasa melihat Kyuhyun yang tersenyum. Ia terbiasa melihat tawa jenaka Kyuhyun. Ia terbiasa dengan semua perlakuan hangat Kyuhyun. Melihat Kyuhyun yang menangis di hadapannya—Mi Rae kehilangan kata-kata.

Hanya tangan Mi Rae yang mulai mengambang, perlahan mendekati wajah Kyuhyun dan menyeka air mata di pipi pemuda itu. Gadis itu tersenyum tipis, “Kau, tidak benar-benar membencinya, kan? Dan Nyonya Song—ibumu itu tak serius ketika mengabaikanmu,” kata Mi Rae. Dahi Kyuhyun berkerut dalam. “Perlakuannya pantas membuat kebencianmu menggunung, tapi kau mungkin tidak melihat makna tersembunyi dari apa yang dia lakukan. Maaf jika salah, tapi aku mengira dia sengaja melakukan itu. Alasannya? Membuatmu tak akan tahan, muak dan pergi. Kau tahu apa artinya? Dia sedang mengusirmu. Kenapa? Karena dia tak ingin kau berada di tempat mengerikan itu. Dia menyelamatkanmu hanya karena satu alasan. Jika dia membencimu, dia tak akan sudi berkorban demi dirimu. Pikirkan itu Kyu? Kau adalah orang yang terlampau cerdas jadi tak sulit bagimu untuk menerjemahkan maksudku.”

Dada Kyuhyun berdebar tak beraturan. Benar. Rasanya ia telah menangkap maksud perkataan Mi Rae. Tentang kebenaran dibalik ketidakpedulian ibu kandungnya. Sesuatu yang membuat Kyuhyun merasa dadanya sedikit menghangat.

“Tidak ada orang tua yang ingin menggali kuburan anaknya sendiri,” ucapan lembut Mi Rae seperti sebuah oase bagi Kyuhyun. “Ah—kecuali orang tua gila,” tambah Mi Rae.

Di tengah suasana serius, Kyuhyun mendadak tertawa. Mi Rae paling bisa membuat suasana hati Kyuhyun berubah secepat kedipan mata. Entahlah, tapi Kyuhyun sepenuhnya telah tersihir dengan semua pesona yang dimiliki Mi Rae. Setelah Kyuhyun menetralisir diri, Mi Rae melanjutkan perkataannya.

“Dalam sebuah pertandingan sepak bola, kau tahu siapa yang paling hebat? Komentator. Mereka mengatakan ini dan itu, terkadang menyudutkan bahkan menyalahkan pemain, padahal bukan mereka yang berlarian di lapangan hijau. Kebanyakan orang suka mengomentari hidup orang lain. Aku tidak ingin begitu, aku bahkan tak bisa membayangkan seperti apa rasanya jika aku berada di posisimu,” Mi Rae membuang napas, memberi jeda pada kalimatnya yang sepertinya akan menjadi sebuah kalimat yang sangat panjang. “Sebagai seorang sahabat, ijinkan aku mengatakan ini padamu. Kapan kau tak membuatku merasa iri? Kau kehilangan ibu biologis, tapi di luar sana—kau masih memiliki ibu dan ayah yang menyayangimu. Ah, baik. Kau mengatakan jika mereka mungkin hanya berpura-pura menyayangimu. Ingat, kau menyertakan kata mungkin pada pernyataan sepihakmu. Mungkin adalah kata yang tidak pasti, Kyu. Artinya itu bisa benar, dan juga bisa saja salah. Kau yakin jika kasih sayang yang mereka berikan padamu hanya sandiwara?” Mi Rae bertanya. Sementara Kyuhyun masih merenung. Ia lantas meletakkan tangannya di dada Kyuhyun, “Jawabannya ada di sini,” katanya mantap. Ia menatap lekat bola mata coklat Kyuhyun dan kembali melanjutkan perkataannya. “Jangan membenci dirimu. Kau tak bisa mencintai orang lain, sebelum kau mencintai dirimu sendiri.”

Satu kata. Menenangkan. Semua yang Mi Rae katakan seperti angin sejuk bagi Kyuhyun. Dari mana asalnya pemikiran hebat Mi Rae? Bagaimana caranya gadis itu mendapatkan pernyataan-pernyataan yang tak terbantahkan?

“Cobalah untuk menerima dan memaafkan dirimu. Setelah itu, memaafkan orang lain akan terasa lebih mudah dilakukan. Memaafkan bukan berarti kau kalah, tapi memaafkan karena itu adalah sebuah keindahan. Kyu, satu hal yang harus kau ingat bahwa kita tidak bisa memilih untuk terlahir dari orang tua yang seperti apa.”

Kalimat sakti Mi Rae diakhiri dengan sebuah tindakan yang membuat Kyuhyun tersentak kaget. Kyuhyun membatu saat Mi Rae memeluknya lembut. Dadanya bergemuruh. Ia tak bisa menggerakkan tangannya yang terkulai lemas.

“Tidak apa-apa, Kyu,” ujar Mi Rae dengan sedikit terbata. “Tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja,” Mi Rae menepuk-nepuk pelan punggung Kyuhyun. Mereka terdiam beberapa menit dalam posisi itu.

Tubuh Mi Rae sedang berguncang sangat pelan dan Kyuhyun merasakannya. Ia lantas memegangi kedua tangan Mi Rae dan gadis itu berpaling saat Kyuhyun mencoba memandangi wajahnya.

“Mi Rae, kau…menangis?”

Tak ada suara yang keluar dari mulut Mi Rae. Matanya yang memerah memang terlihat berair. Ia menyeka air mata yang sudah terlanjur mengalir di pipi sambil berkata, “Ada sesuatu yang masuk ke mataku.”

Gadis itu hanya beralasan, namun Kyuhyun bukan orang bodoh. Bergantian Kyuhyun yang memeluk Mi Rae. Menyinggung masalah orang tua, Mi Rae baru kehilangan ibunya. “Tidak apa-apa,” ujar Kyuhyun pelan. Ia membelai lembut rambut Mi Rae. “Kita akan baik-baik saja,” ujarnya dan Mi Rae mengangguk lemah dalam dekapannya.

***

“Di mana pacarmu?”

“Kyuhyun bukan pacarku!”

Excuse me. Siapa yang menyebut nama Kyuhyun di sini?” Jin Ae menyengir tajam melihat Mi Rae yang mendadak pucat. Puas rasanya jika berhasil mengelabui Mi Rae, “Ah—aku mengerti sekarang. Kau mulai merasa jika dia adalah sosok yang kau idam-idamkan untuk dijadikan kekasih.”

Secepat kilat Mi Rae menepuk puncak kepala Jin Ae. Geram, tapi tak bisa berkata-kata dan wajah Mi Rae terasa terbakar. Memalukan sekali. Mengapa ia harus terpedaya dengan lelucon Jin Ae? Mi Rae merutuki ketololannya. Rupanya Jin Ae semakin pintar.

Jin Ae menyesap jus alpokat, tapi matanya terus menggoda Mi Rae. Lototan Mi Rae hanya dibalas dengan seringaian lebar Jin Ae.

“Jangan menggodaku!”

“Hei, biasanya kau tak bereaksi seheboh ini. Ada apa? Apakah dewi asmara telah menyentuhmu?”

Mi Rae memutar bola matanya. Muak. Ia meletakkan setumpuk buku di atas meja, tepat di hadapan Jin Ae yang mendadak tertawa tawar. Itu adalah caranya untuk membungkam Jin Ae. Buku-buku itu dipinjam Mi Rae di perpustakaan selepas mata kuliah terakhir tadi. Giliran ia yang menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis saat melihat kesuraman yang terbaca di wajah Jin Ae. Bertolak belakang dengan ekspresi Jin Ae beberapa menit lalu.

“Dalam kamus hidup Baek Mi Rae saat ini adalah segera lulus dan menjadi dokter. Aku tidak peduli dengan hal lain,” tukas Mi Rae. Sangat datar.

Benarkah Mi Rae? Belakangan ini hatinya sedikit mengalami pergeseran karena keberadaan Cho Kyuhyun. Sekarang, ia masih tidak mempertimbangkan untuk membuat perkembangan dalam hubungannya dengan pemuda itu. Ia hanya ingin segera menyelesaikan studi-nya. As soon as possible.

“Tapi Mi Rae, kau tak takut jika Kyuhyun akan berpaling darimu?”

Mi Rae yang sejak tadi terlena dengan buku tiba-tiba terhenti. Ia mengangkat kepala, memandangi Jin Ae yang sedang mengaduk-aduk jus dengan sedotan.

“Kau terus mengabaikannya. Okay, dia setengah mati tergila-gila padamu, tapi berapa lama dia akan bertahan? Tidak ada yang bisa menjamin jika dia akan setia memujamu. Apalagi kau menggantung perasaannya. Mengambang begitu saja. Jika tidak, katakan tidak. Jika iya, kau hanya perlu menyambut uluran tangannya. Menunggu itu bukan hal yang menyenangkan, terutama menunggu tanpa kepastian.”

“Sungguh, saat ini aku belum memikirkan terlalu jauh ke arah sana. Jika dia memutuskan untuk berhenti peduli padaku, tak ada kuasaku untuk mencegahnya. Itu keputusannya.”

“Kau tidak sedikit pun merasakan sesuatu pada Kyuhyun?”

“Dia—seseorang dengan pribadi yang hangat. Orang yang membuatku merasa nyaman selain kau. Aku menikmati saat-saat bersamanya, tapi aku belum tahu perasaanku yang sebenarnya. Jin Ae, kau tahu orang seperti apa aku. Kau juga tahu apa yang kebanyakan orang pikirkan tentang aku. Baek Mi Rae terlatih untuk menjadi gadis yang tangguh dan tidak mudah percaya begitu saja pada orang lain. Lalu tiba-tiba datang seorang pemuda yang kata orang nyaris sempurna. Aku bukannya tidak pernah memikirkannya, atau hanya mengabaikannya dan menganggapnya sebagai angin lalu. Aku akan senang jika dia benar-benar tulus, tapi masalahnya ada pada diriku. Hatiku belum sepenuhnya bisa mempercayai orang lain. Trauma dari masa lalu seperti penyakit kronis menahun yang sukar disembuhkan. Aku akan menerima perasaannya, hanya jika aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Apa gunanya bersama jika hanya satu pihak yang jatuh cinta? Itu sama saja dengan bertepuk sebelah tangan.”

“Aku mengerti, tapi—”

“Semua hanya tentang waktu. Aku selalu percaya pada takdir. Jika kami memang berjodoh, maka sejauh apa pun kami pergi, kami akan kembali ke tempat yang sama. Jadi, untuk saat ini aku hanya ingin mengejar mimpiku. Memantaskan diriku untuk dicintai dan mencintai.”

***

Seorang pria sedang berdiri di depan salah satu gedung di Fakultas Kedokteran. Postur tubuhnya tinggi dan rambutnya di sisir rapi. Setelan jas berwarna biru gelap terlihat cocok membalut tubuhnya. Berpenampilan elegan seperti itu, ia cukup mencolok sehingga menarik perhatian orang-orang yang lewat, terutama para mahasiswi. Tangan pria itu sibuk dengan ponsel, ia terlihat cemas menanti seseorang.

Rautnya menjadi lega saat melihat Jin Ae. Terburu-buru Jin Ae mengayunkan kaki dan pria tersebut berlari kecil menghampiri Jin Ae yang jelas sedang berusaha menghindari.

“Apa?” Jin Ae menoleh pada sosok yang telah berjalan sejajar di sisinya.

“Maafkan aku, Sayang.”

Jin Ae terhenti dan bibirnya menyunggingkan senyuman kecut saat mendengar kata-kata itu, “Kenapa mencariku lagi?” ia kesal. Pria itu adalah mantan kekasihnya, Park Ji Hoon. “Dan apa kau bilang tadi? Sayang?” Jin Ae tertawa, “Pergilah!”

“Sayang, aku tidak benar-benar ingin meninggalkanmu. Orang tuaku yang memaksaku untuk mengikuti perjodohan itu.”

“Kau terpaksa? Tapi kau suka, kan?”

Jin Ae sangat marah sekarang. Baiklah jika itu adalah perjodohan yang diatur oleh orang tua Ji Hoon, tapi setelah itu Ji Hoon tidak menemui Jin Ae. Ji Hoon mengabaikan semua panggil dan juga pesan Jin Ae. Terakhir, Jin Ae menerima sebaris kalimat pendek ‘Maaf, kita akhiri saja’ yang dikirim Ji Hoon.

“Kudengar gadis itu jauh lebih cantik dan menarik daripada aku. Oh ya, satu lagi. Apa dia juga lebih kaya?” Jin Ae sangat sengit dengan pertanyaannya yang begitu tajam. “Baguslah. Dia lebih cocok denganmu yang memiliki latar belakang keluarga terhormat,” sinis Jin Ae.

Beruntung Mi Rae tak ada di situ. Jika tidak, ia mungkin akan menggeleng prihatin melihat perdebatan itu yang memang terdengar merupakan percakapan sengit khas anak-anak dari keluarga kaya seperti Jin Ae maupun Ji Hoon. Semua tentang bibit, bebet dan bobot.

“Aku bisa menjelaskan pada orang tuaku,” kelihatan sekali rasa tak rela Ji Hoon untuk melepas Jin Ae. “Aku sangat menyesal, Jin Ae.”

“Tentu saja. Jika penyesalan itu ada di muka, dunia ini akan penuh dengan kebahagiaan,” Jin Ae mendengus.

“Jin Ae—” Ji Hoon kehabisan kata untuk membujuk Jin Ae. Ia mulai frustasi.

“Siapa orang itu?”

Sebuah suara yang mengalihkan perhatian Jin Ae dan Ji Hoon. Mereka menoleh. Lee Hyukjae sedang menghampiri mereka.

“Apa mungkin dia ini—Park Ji Hoon?” tanya Hyukjae lagi selepas berdiri mantap di sisi Jin Ae. Ia menatap penuh selidik pada Ji Hoon yang dahinya berkerut dalam karena sedang bertanya-tanya tentang sosok pemuda asing di hadapannya.

“Siapa kau?” Ji Hoon tak terlihat senang dengan keberadaan Hyukjae. Jika pemuda itu tahu tentangnya, itu artinya hubungan antara Jin Ae dan pemuda itu cukup dekat. Ji Hoon mulai tersulut api cemburu.

“Aku?” Hyukjae lalu menoleh pada Jin Ae, “Kau tak mengatakan padanya siapa aku?” pertanyaannya membuat Jin Ae kebingungan. Memangnya apa yang harus Jin Ae katakan pada Ji Hoon? Toh, Hyukjae tak ada hubungannya dengan perselisihannya dengan Ji Hoon.

“Apa hubunganmu dengan orang menyebalkan ini?” tuntut Ji Hoon.

Situasi itu membuat Jin Ae merasa konyol. Sebenarnya, ia tak perlu menjelaskan apa-apa pada Ji Hoon atau Hyukjae, tapi tiba-tiba saja ia merasa seperti berada dalam situasi yang tidak seharusnya terjadi. Namun, sebelum Jin Ae meluruskan semuanya, tangan kanan Hyukjae sudah lebih dahulu bergelayut di pundaknya. Hyukjae merangkulnya.

“Apa?” tanya Hyukjae pada Jin Ae yang memelototinya. Pemuda itu lebih memilih meladeni tatapan marah Ji Hoon, “Kau tidak bisa melihatnya?” Hyukjae membuat emosi Ji Hoon naik. Apalagi ia meminta Ji Hoon mengartikan sendiri seperti apa hubungannya dengan mantan kekasih Ji Hoon. “Sayang, hari ini ulang tahunku.”

Bola mata Jin Ae melebar. Ia meminta penjelasan Hyukjae dengan kata ‘sayang’ yang terlontar dari mulut pemuda itu. “Kau gila?” desis Jin Ae. “Ada apa dengan semua orang hari ini?”

“Hei, jangan marah,” Hyukjae menggodanya. “Boleh kuminta hadiahku?” tanyanya kemudian.

“Sejak kapan kita menjadi sedekat itu hingga harus berbagi hadiah? Kau serius ini ulang tahunmu?” Jin Ae mengira jika itu hanya akal-akalan Hyukjae.

“Apa perlu kutunjukan kartu identitasku?”

“Iya, eh..maksudku…tidak.”

“Baiklah, tapi aku akan tetap mengambil hadiahku,” Hyukjae menyengir tajam.

Jin Ae mendengus. Kenapa ada orang semenyebalkan Lee Hyukjae? “Baiklah. Daripada kau menerorku dengan hadiah, akan kuberikan apa yang—”

Hyukjae menangkap bibir Jin Ae. Ia membungkam Jin Ae dengan ciumannya. Jin Ae terkejut bukan kepalang. Mendadak kakinya terasa lemas. Mata Jin Ae melotot. Tak percaya dengan apa yang sedang berlangsung, tapi ia kehilangan tenaga untuk menolak perlakuan Hyukjae. Jangankan mendorong, mengangkat tangannya saja ia sudah tak mampu. Ciuman Hyukjae yang begitu dalam, terasa hangat. Ia mulai terbawa dan menikmatinya. Jin Ae akhirnya membalas ciuman Hyukjae.

Mereka tak peduli pada Ji Hoon yang mengepalkan tangannya kuat sekali. Menyaksikan dua orang yang berciuman di hadapannya—amarah Ji Hoon sampai ke ubun-ubun. Dengan gigi yang bergemelatuk, ia pergi meninggalkan Jin Ae dan Hyukjae yang masih berciuman. Dua orang itu bagai tak peduli dengan tatapan mata dari orang-orang di sekitar mereka.

Ciuman itu berakhir saat mereka hampir kehabisan napas. Dada keduanya terlihat naik-turun. Mereka saling pandang dengan terengah-engah. Situasi berubah menjadi aneh dan Jin Ae merasa sangat malu. Ada kecanggungan yang mulai tercipta.

“Uhm, begini. Aku tahu niat baikmu,” Jin Ae berkata pelan. Ia sedikit tertunduk. Dari awal, ia tahu jika Hyukjae ingin membebaskannya dari kejaran Ji Hoon, tapi tak disangka mereka justru keterusan, “Terima kasih sudah menolongku. Ciuman tadi, jangan cemas. Aku akan melupakannya,” wajah Jin Ae memerah.

“Aku tidak bermaksud menolongmu.”

“Apa?”

“Yang tadi itu, aku serius ingin melakukannya.”

“Ap-apa?”

“Han Jin Ae, kau—pacaran saja denganku. Bagaimana?”

“APA?”

Lee Hyukjae mendesis, “Tidak adakah yang bisa kau katakan selain, apa?”

“Bukan begitu, aku…,” Jin Ae terbata. Ia terdiam. Mencoba menguasai diri, lalu sorot matanya yang mulai tenang tertuju pada Hyukjae. “Baiklah,” ia mengangguk setuju dan Hyukjae tampak lega. “You’re a good kisser.

Hyukjae menganga. Ia menatap tak percaya pada Jin Ae, “Alasanmu menerimaku karena—” rasanya tak sanggup melanjutkan kalimat. “Gadis macam apa kau?”

“Selain itu, aku memang mulai menyukaimu.”

Hyukjae tak jadi marah setelah mendengar lanjutan penjelasan Jin Ae. Ia memeluk Jin Ae dan mengecup sekali bibir Jin Ae. Kecupan selanjutnya berubah menjadi ciuman yang jauh lebih dalam. Hari itu, mereka menjadi pusat tontonan semua mahasiswa yang kebetulan berada di sekitar situ.

***

Cho Kyuhyun dan Lee Hyukjae berlari-larian di koridor kampus sambil membetulkan jas putih yang melapisi kaos yang mereka pakai. Mereka tidak janjian datang terlambat ke kelas anatomi Professor Kang, tapi pagi ini mereka sama-sama mendesis ketika bertemu di pertigaan koridor menuju lab anatomi.

Suara pintu yang terbuka membuat perhatian semua orang tertuju pada dua pemuda yang baru saja masuk dengan wajah kelelahan.

“CEPAT MASUK! SUDAH TERLAMBAT, MASIH SAJA MEMAMERKAN TAMPANG TAK BERDOSA!”

Teriakan Prefessor Kang membuat jantung mereka jatuh ke lantai. Hyukjae bergidik. Ia tak berani menatap mata setan Professor Kang.

Professor Kang menatap Kyuhyun dan raut wajahnya langsung berubah, “Ah Kyuhyun, masuklah,” katanya lembut.

Mulut Hyukjae terbuka sangat lebar. Ia menoleh pada Kyuhyun yang hanya mengedikkan bahu.

“Mengapa hanya aku? Mengapa?” jerit Hyukjae meski dengan berbisik pada Kyuhyun saat keduanya melangkah menuju kelompok. Ia tak terima dengan perlakuan pilih kasih Professor Kang.

“Jangan protes padaku!”

Hyukjae menghela napas panjang. Memang sulit rasanya jika harus bersaing dengan Cho Kyuhyun.

Keadaan hening di dalam lab. Mereka fokus pada praktikum yang sedang berlangsung. Mereka keluar dari dalam lab beberapa jam kemudian. Beberapa orang berjalan bergerombol sambil membicarakan sesuatu.

Kyuhyun tiba-tiba saja melompat ke depan Hyukjae dan mulai berbatuk pelan. Lalu menarik pena dari saku jas putih yang masih dipakainya, menjadikan pena sebagai mic dan mulai menyanyi.

Congratulations and celebrations. When i tell everyone that you’re in love with me. Congratulation and jubilations. I want the world to know i’m happy as can be.

Orang-orang tertawa melihat Kyuhyun yang sedang menyanyi sambil menari dengan gaya jenakanya yang sangat khas. Tak terkecuali dengan Lee Hyukjae yang justru ikut bertepuk tangan mengiringi nyanyian Kyuhyun. Ia tak keberatan dengan tingkah Kyuhyun yang sedang menggodanya. Berbeda dengan Jin Ae yang berjalan di belakang mereka. Pipi gadis itu bersemu merah dan segera menggandeng lengan Mi Rae lalu berjalan tergesa-gesa mendahului Hyukjae dan Kyuhyun yang masih sibuk dengan perayaan mereka seperti sedang merayakan kemenangan tim sepak bola Korea Selatan dalam ajang bergengsi piala dunia.

“Dasar cassanova,” Kyuhyun menepuk-nepuk pundak Hyukjae.

“Aku akan mengajarimu trik mendapatkan hati Mi Rae.”

“Tidak. Tidak. Aku tidak butuh bantuanmu.”

“Kalau begitu jangan iri melihat kami.”

“Saat itu, kau harusnya tidak menyangkal.”

“Apa?”

“Saat kubilang kau dan Jin Ae berpacaran.”

“Kami memang belum berpacaran saat itu. Remember?” elak Hyukjae. “Dan aku tidak menyangka jika aku akan menyukai Jin Ae. Meski sedikit cerewet, tapi dia orang yang baik dan menyenangkan.”

“Sedikit katamu?” Kyuhyun mendelik. “Dia sangat cerewet. Seorang Lee Hyukjae yang hanya bermain-main dengan gadis dan enggan terikat dalam suatu hubungan—justru bertekuk lutut di hadapan Han Jin Ae.”

“Itulah yang dinamakan kekuatan cinta,” Hyukjae mengerling dan tertawa lagi.

“Cho Kyuhyun.”

Kesenangan Hyukjae dan Kyuhyun dicela oleh kedatangan Choi Siwon.

“Bisa bicara denganku sebentar?”

Mereka sama-sama tak bersuara. Hanya saling pandang. Situasinya terasa sangat serius.

“Kau pulanglah duluan,” kata Kyuhyun pada Hyukjae. Hyukjae mengangguk meski penasaran, dan ia pun pergi meninggalkan Siwon dan Kyuhyun.

“Katakan,” Kyuhyun menanti dengan tenang.

“Apa motifmu mendekati Baek Mi Rae?”

Siwon bertanya terus terang. Matanya menikam langsung ke manik mata Kyuhyun. Keduanya saling menatap dalam durasi yang cukup lama. Entah apa maksud Siwon bertanya begitu, tapi dari sinar matanya terlihat ketidaksenangannya terhadap Kyuhyun.

“Aku tak mengerti maksud pertanyaanmu, tapi—sepertinya kau sedang diserang virus cemburu,” Kyuhyun tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya. Entah apa yang ada di otak Kyuhyun, tapi menggoda orang tanpa pandang bulu sepertinya sudah menjadi kebiasaan Kyuhyun. Termasuk yang ia lakukan pada Siwon

“Apa pun yang kurasakan, tak perlu kau tahu,” Siwon berujar dingin. “Apa yang kau inginkan dari Mi Rae.”

“Bagaimana denganmu?” Kyuhyun balik bertanya, “Apa yang kau inginkan darinya?” ia mengembalikan pertanyaan yang diberikan Siwon.

“Aku tak yakin denganmu. Mengapa kau begitu gencar di sekitar Mi Rae?”

“Tak kusangka kau memikirkanku sebegitu dalam,” Kyuhyun kembali tersenyum, “Cemburu memang tidak menyenangkan. Aku tahu rasanya,” katanya lagi sambil terkekeh.

“Kau begitu percaya diri. Kau tahu siapa aku? Meski Mi Rae memperlakukanku dengan dingin, tapi aku adalah orang yang pernah membuatnya jatuh cinta. Aku tidak akan melepaskan Mi Rae. Tidak untukmu.”

Okay, dia jatuh cinta padamu—ah, maksudku pernah. Tapi, mengapa sikapnya berbalik? Kau tak lupa dengan hukum sebab-akibat, bukan?” tatapan tenang Kyuhyun mulai menggoyahkan Siwon. “Lebih dari itu. Aku sangat penasaran, sebenarnya apa yang kau lakukan terhadap Mi Rae?”

Gigi Siwon saling menggigit. Geram sekali. Ia marah. Sementara Kyuhyun terlihat lebih santai, seperti biasanya.

“Terhadap Mi Rae, kau serius?”

Siwon penuh dengan kecurigaan. Ia menghujani Kyuhyun dengan tatapan aneh. Seperti seorang penyidik yang sedang menginterogasi tersangka.

“Tunggu dulu. Jangan-jangan kau—” ekspresi Kyuhyun menjadi aneh. Ia terlihat mundur satu langkah. “Kau tidak jatuh cinta padaku, kan?” tanyanya frontal. Terkesan biasa-biasa saja seolah itu pertanyaan yang lazim. Ia lantas tertawa melihat wajah kaku Siwon. “Ah, terima kasih. Bukan apa-apa. Jangan tegang begitu. Aku hanya bercanda,” ia menyapu tangan di udara, bagai sebuah isyarat agar roh Siwon kembali ke raga. “Seperti katamu. Apa pun yang kurasakan, kau tak perlu tahu,” pemuda ini memang pandai sekali membalikkan kata-kata.

Kyuhyun melenggang pergi, namun ia dicegah oleh Siwon yang tidak puas dan masih menuntut jawaban dari Kyuhyun. Siwon ingin sebuah penyelesaian, di sini dan sekarang juga. Kyuhyun langsung menghempas kasar tangan Siwon yang sedang mencengkeram lengannya. Kali ini ia tak memperlihatkan ekspresi tenang dan santai seperti sebelumnya. Sorot mata Kyuhyun berkilat. Marah.

“Choi Siwon. Apa-apaan kau ini?” kesal Kyuhyun. “Kau sebegitu ingin tahu perasaanku?”

“Aku tidak bisa membiarkan Mi Rae dipermainkan.”

“Siapa yang kau tuduh?”

Ada apa dengan sorot mata Kyuhyun? Siwon merasa terintimidasi dengan tatapan itu seolah Kyuhyun sedang berkata, ‘kaulah yang mempermainkan gadis itu.’

“Kau ingin tahu?” Kyuhyun bertanya sambil menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana. “Mari kita bahas ini lebih jauh. Terus terang saja, Mi Rae tidak cantik. Tidak cukup menarik. Otaknya pun terlalu standar. Dia bukan berasal dari keluarga terpandang. Katakan saja dia miskin. Tipe yang selalu dipandang sebelah mata, bahkan dianggap tidak ada. Kau juga tahu itu, bukan begitu?”

Siwon rasanya tak bisa berkedip melihat sorot mata Kyuhyun yang semakin memojokkannya. Tatapan yang diartikan Siwon sebagai ‘kau mencampakkannya karena alasan-alasan itu.’

Kyuhyun menghirup napas dalam-dalam dan berkata, “Jadi menurutku, mencintai seorang gadis seperti Baek Mi Rae adalah sebuah kebodohan.”

~bersambung~

Helluuuwww…jumpa lagi dengan sy ^^

Sehat2 kah kalian semua? Sehat, pastinya. Amin.

Duuuh, ampuni eyke yang telat melulu setor ff hehehe

Ya udah, gak pake banyak cincong, semoga terhibur. Dan kalau gak keberatan, mohon kritik & sarannya. Makasih. Mmuuuuaccchh *kecup badai*

Iklan

215 thoughts on “Drama (Part 9)

  1. Kyuni berkata:

    Suka banget tiap baca interaksi kyu,mirae,eunhyuk,dan jin ae bikin senyum
    kisah hidup kyuhyun memang rumit tpi setidakx dia punya orang-orang yang cinta sma dia,,itu yg terakhir klw mirae tw bahaya lo kyu

  2. noebita berkata:

    Kisah hidup kyu rumit banget. Ngakak ma hyuk jin akhirnya mereka bersama. Trus kapan kyu ma mirae bisa bersama juga?

  3. aulia fitri berkata:

    Hadeuh akhirnya hyukjae menytakanperasaannyaa hahah. Tapi kok kyuhyun samapi berkata seperti itu tentang mi rae huhu makin menarik aja nih ff. Makasih ya udah bikin ff ini saya senaang baca nya haha
    👍❤

  4. shin naya berkata:

    hadeeehh rumit banget kisahnya kyu..
    kakak sukses bikin kepalaku pening tapi seru ..
    btw mereka ber-4 slalu buat aq ketawa heheheheh…g sabar baca part selanjutnya

  5. Lala berkata:

    Kak.. itu kyu gk mungkin ngomong gitu kan
    Itu pasti kyu blum slese ngomong kan
    Waduh, bahaya tuh kalo mirae denger kyu ngomong kyk gitu

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s