Drama (Part 11)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Hari itu adalah hari yang paling ditunggu oleh Mi Rae. Dirinya bahkan berharap, saat bangun pagi, ia telah telah berada di tanggal 07 April. Ketika hari itu benar-benar tiba, Mi Rae sangat gelisah bercampur senang. Bagaimana tidak, hari itu Choi Siwon berulang tahun. Seorang senior yang menjadi pangeran di tempat Mi Rae bersekolah, SMP Yongsan. Terlebih lagi, Siwon secara khusus memintanya untuk hadir. Tidak ada kata tidak. Mi Rae wajib hadir dengan alasan ada hal penting yang ingin disampaikan Siwon kepadanya.

Terlalu percaya diri atau apa, tapi hanya dengan mengingat permintaan tulus Siwon membuat pipi Mi Rae bersemu merah. Dibenaknya bahkan mulai bermunculan imajinasi-imajinasi liar. Ia bisa tersipu seorang diri karena hal tersebut.

Jadi, demi menghadiri pesta ulang tahun Siwon, Mi Rae terus meminta pada ibunya untuk membeli pakaian yang akan ia kenakan di pesta Siwon. Ia tak punya banyak gaun menarik di lemari. Ibunya hanya mengomel, tapi tak kuasa menolak permintaannya. Gaun yang diminta Mi Rae juga tidak main-main, harganya bisa membiayai hidup mereka selama seminggu.

Mi Rae tak jemu memandangi pantulan dirinya di kaca. Berjalan, lalu berputar bak seorang pragawati yang berada di atas catwalk. Mini dress hitam selutut yang sangat cantik. Modelnya simple. Gaun dengan leher terbuka dan lengan potong, namun tetap elegan. Sangat cocok dikenakan oleh Mi Rae. Apalagi dipadu dengan make up natural yang sesuai dengan usia Mi Rae yang masih sangat belia.

Kini Mi Rae kebingungan. Gaunnya sangat cantik, tapi sama sekali tidak sesuai dengan sepatunya. Ia lupa jika kebanyakan sepatu yang dimilikinya adalah sepatu kets. Alangkah bahagianya ia ketika tanpa diduga ibunya menyodorkan sepatu high heels berwarna putih gading. Gaun yang dibeli sudah sangat mahal, tapi ibunya justru menambahkan sepatu cantik. Mi Rae memeluk ibunya, dan mencium pipi wanita itu bertubi-tubi.

Meski Nyonya Baek adalah tipe ibu yang cerewet, tapi ia tahu jika itu adalah kali pertama anak gadisnya pergi ke pesta. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri jika anaknya tidak akan dipermalukan di hadapan orang lain. Tak masalah jika mahal. Uang bisa dicari.

Buru-buru Mi Rae pergi setelah bosan bertaut di depan cermin. Khusus untuk hari itu, ia mengucapkan selamat tinggal pada bus yang selalu menjadi sarana transportasi andalannya. Itu bisa merusak dandanannya. Berbekal uang yang diberikan ibunya, ia bisa menyetop taksi dengan percaya diri.

Choi Siwon memang kaya raya. Mi Rae sampai terperangah begitu tiba di alamat yang disebutkan Siwon. Bukan. Bukan karena ia tak pernah tahu tentang status keluarga Siwon, tapi melihat sendiri dengan mata kepalanya membuat gadis itu takjub.

Rumah Siwon berada di Apgujong. Sebuah rumah bergaya Eropa dengan taman yang menghiasi area kediaman. Suasananya sungguh nyaman dan benar-benar tenang. Keindahan di luar, sebanding dengan apa yang Mi Rae saksikan begitu memasuki rumah. Interior design yang begitu manis dan bersih.

Mi Rae sempat kebingungan. Matanya mencari sosok Siwon di antara tamu-tamu yang sebagian besar tidak ia kenal. Beberapa diantaranya adalah murid-murid kaya di sekolah yang sama dengannya. Ia bernapas lega setelah menemukan Siwon yang berdiri di dekat tangga melingkar di pojok ruangan. Siwon sedang bercakap-cakap dengan seorang gadis cantik. Kim Yoo Jo, teman seangkatan Mi Rae, tapi mereka tidak sekelas. Kim Yoo Jo duduk di kelas inti karena ia murid yang pintar. Yoo Jo juga cukup terkenal di sekolah. Melihat kebersamaan dua orang itu, Mi Rae didera rasa cemburu. Selama ini Siwon dan Yoo Jo selalu digadang-gadangkan sebagai pasangan paling serasi di sekolah. Lamunan Mi Rae terhenti saat melihat Siwon melambaikan tangan padanya.

“Kupikir kau tak akan datang,” kalimat pertama yang diucapkan Siwon begitu sampai di hadapan Mi Rae.

“Kupikir juga begitu, tapi Sunbae memang seorang pemaksa.”

“Sudah kubilang, jangan panggil aku seperti itu. Siwon. Cukup Siwon, itu terdengar menyenangkan dan membuat kita jauh lebih akrab.”

“Baiklah—Siwon,” Mi Rae tersenyum sambil menyelipkan rambut di belakang telinganya dengan gaya yang malu-malu dan sedikit canggung.

“Hari ini kau cantik sekali,” pujian Siwon membuat Mi Rae tiba-tiba merasa kakinya tidak lagi memijaki lantai keramik di rumah Siwon. Ia serasa melayang.

Percakapan ringan terjalin di antara mereka. Mi Rae tak segan-segan memamerkan tawanya. Keakrabannya dengan Siwon membuat Kim Yoo Jo menghadiahinya tatapan tak sedap.

Saat yang paling mendebarkan dalam hidup Mi Rae adalah ketika Siwon berbicara di tengah pesta, beberapa saat sebelum acara dansa dimulai. Mi Rae hanya berjarak beberapa langkah dari hadapan Siwon yang sedang berdiri tengah-tengah ruangan. Ketika seorang pelayan menawarkan segelas minuman, Mi Rae sudah tak mampu berkata-kata, sekadar menolak tawaran itu. Ia terlalu tegang dan hanya fokus pada Siwon yang terus menatapnya intens.

“Hatiku sangat berdebar,” Siwon memulai pidatonya dengan sebuah kalimat yang mengundang gelak tawa semua orang, termasuk Mi Rae. “Aku menyukai seorang gadis.”

Mi Rae tertunduk malu. Jantungnya bekerja lebih keras daripada biasanya. Melihat cara Siwon memandangnya, melihat cara Siwon tersenyum padanya, rasanya ia akan meleleh saat itu juga.

“Kau mungkin sudah tahu perasaanku, tapi di hadapan semua orang, aku memberanikan diri untuk mengaku,” Siwon menarik napas dalam dan kemudian melanjutkan kata-katanya, “Aku menyukaimu.”

Semua orang bersorak mendengar pengakuan Siwon dan napas Mi Rae seakan tertahan. Oh, God—ia bahkan telah sangat lama menantikan kalimat sejenis itu keluar dari mulut Siwon. Tanpa ragu ia pun menjawab.

“Aku juga menyukaimu, Siwon.”

Siwon tersenyum miring. Ia berjalan mendekati Mi Rae. Semakin dekat, semakin kuat pula debaran jantung Mi Rae. Lebih dekat, lebih dekat lagi, dan… tapi Siwon tak menghentikan langkahnya. Mi Rae menoleh, membalikkan tubuhnya dengan pandangan yang terus mengikuti Siwon yang berjalan melewatinya. Ia kebingungan melihat Siwon berhenti di depan Yoo Jo.

“Kim Yoo Jo. Kau harus jadi pacarku!”

Jantung Mi Rae yang tadinya berdebar-debar kuat mendadak terhenti sejenak. Raut wajahnya langsung berubah. Pengakuan itu ditujukan untuk Yoo Jo? Tapi…bukankah selama ini…? Ah, mengapa semua begitu membingungkan?

Apa niat Siwon yang sesungguhnya terhadap dirinya? Mengapa Siwon berlaku semanis dan sebaik itu padanya? Kenapa selama ini Siwon memupuk harapannya hingga bertumbuh subur? Apa yang terlintas di benak Siwon ketika memaksanya untuk hadir di pesta ulang tahun pemuda itu? Inikah yang dimaksud Siwon dengan hal penting yang ingin ia sampaikan? Tentang apa semua ini?

Yoo Jo tersenyum dan mengecup singkat bibir Siwon. Mereka berpelukan dan semua orang bertepuk tangan. Satu-satunya yang bergeming dengan air mata yang mengalir di pipi adalah Mi Rae. Semua orang seakan tak peduli dengan keberadaannya. Mi Rae tak tahu lagi harus bagaimana menyikapi keadaan itu. Ia telah kehilangan akal dan terburu-buru melepas pijakannya dari lantai tempatnya berdiri.

Praaannggg!

Tapi ia justru menabrak seorang pelayan sehingga membuatnya terjungkal dan nampan yang dipegang oleh pelayan itu menimpanya. Mi Rae basah karena minuman yang jatuh di atas tubuhnya, mengotori pakaian termahal yang pernah ia kenakan seumur-umur ia hidup. Dirinya menjadi tontonan semua orang. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit dan malu yang mendera, menghantam harga dirinya. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari meninggalkan ruangan tersebut.

Langkah Mi Rae mulai melemah begitu tiba di halaman rumah Siwon. Ia berhenti di dekat sebuah patung yang berdiri gagah di halaman rumah Siwon. Patung yang seolah sedang menatapnya sombong. Mata Mi Rae yang memerah, terasa panas hingga air matanya jatuh.

Siwon bilang, pesta tak akan ada artinya jika ia tak datang. Jadi, inikah arti kehadirannya? Hanya untuk dipermalukan dan menjadi hiburan tersendiri bagi kaum kaya seperti mereka? Seharusnya ia sadar. Seharusnya ia mengerti. Seharusnya ia tak mengabaikan kata hatinya. Tempat itu sama sekali tidak cocok dengannya.

“Baek Mi Rae!”

Kim Yoo Jo sedang menghampirinya. Mi Rae menyeka air mata. Ia tak ingin terlihat lebih memalukan. Matanya yang sembab hanya mengawasi Yoo Jo yang berpangku tangan di hadapannya, menatapnya dengan tatapan angkuh, tak ketinggalan segaris senyum sinis di sudut bibirnya.

“Mengapa kau pergi? Acara intinya belum dimulai,” tutur tenang Yoo Jo. Matanya yang tajam mengawasi Mi Rae sedemikian rupa sehingga membuat tubuh Mi Rae seakan terkurung dalam manik mata gadis itu. “Kenapa? Apakah ini tidak sesuai dengan imajinasimu?” Yoo Jo kembali menyunggingkan senyum di bibir tipisnya. “Siwon sangat memerhatikanmu. Dia begitu baik dan selalu bersikap lembut padamu. Aku tidak menyalahkanmu jika kau mulai berpikir bahwa Siwon pun menaruh perasaan yang sama terhadapmu. Akan tetapi, Choi Siwon yang kau puja setengah mati itu justru menyatakan cinta padaku. Kau pasti sangat kebingungan, bukan begitu?”

Yoo Jo berjalan pelan mengitari Mi Rae. Ia menyisiri Mi Rae dari kaki hingga kepala dengan tatapan menyebalkan. Senyum kecut di wajahnya tetap bertahan. Ia berhenti lagi, tepat di depan Mi Rae.

“Baek Mi Rae. Kau harus tahu siapa dirimu sebelum kau memberanikan dirimu untuk jatuh cinta. Kaya? Kurasa, tidak. Pintar? Ah, kau tahu sendiri seperti apa kemampuan otakmu. Atau, cantik? Huh! Yang benar saja,” Yoo Jo tertawa pelan. “Lalu apa kelebihanmu?” tanyanya. “Ah, mungkin karena semua orang mengatakan jika kau seperti matahari. Karena kau sangat periang. Kau selalu terlihat ceria.”

Sebenarnya Mi Rae tak mampu mencerna dengan baik perkataan Yoo Jo. Hatinya yang sedang teriris membuatnya tak bisa berkonsentrasi pada apa pun yang mampir di kepalanya. Ia tak mengerti mengapa Yoo Jo masih saja mengusiknya. Seakan semua yang ia alami tadi belum cukup.

“Kau tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Lantas, mengapa Choi Siwon yang tampan, pintar, kaya raya dan digilai banyak gadis harus jatuh hati padamu?”

Sebelum Yoo Jo bertanya, Mi Rae telah jauh lebih dulu menyuarakan pertanyaan-pertanyaan itu untuk dirinya sendiri. Benar kata Yoo Jo. Mengapa Siwon terus mendekatinya?

Yoo Jo mendesah dan kemudian kembali menatap Mi Rae yang terus memamerkan ekspresi tegang di wajahnya, “Gadis yang disukai Siwon adalah aku. Kau lihat, bukan?” seakan ia meminta Mi Rae untuk mengingat kembali pengakuan cinta Siwon beberapa lalu. “Siwon mengatakan suka padaku, tapi aku memberinya sebuah syarat. Aku akan menerimanya jika dia berhasil mendekatimu,” perkataan tenang Yoo Jo justru menimbulkan keterkejutan Mi Rae. “Aku bilang padanya agar menarik perhatianmu. Okay, aku tahu kau memang menyukainya. Tentu saja, gadis mana yang tak terpikat padanya? Aku ingin dia membuatmu percaya bahwa dia benar-benar jatuh cinta padamu,” lanjut Yoo Jo. Penjelasan yang membuat kepala Mi Rae sedikit menggeleng dengan dahi yang berkerut dalam. Sama sekali tidak mengerti.

“Ke-kenapa?” tanya Mi Rae pelan dengan suara yang terbata.

Yoo Jo maju selangkah lebih dekat dengan Mi Rae. “Kau selalu antusias bercerita tentang drama yang kau tonton, seolah kau mengatakan bahwa semua yang terjadi dalam drama dapat terjadi di kehidupan nyata. Dengan kata lain, kau selalu mengharapkan drama-drama itu terjadi dalam hidupmu. Kau ceria dan memamerkan hati malaikatmu seakan hidupmu selalu bahagia. Huhh, apa kau sedang bermain drama?” Yoo Jo menyerangnya habis-habisan.

“Yoo Jo,” Mi Rae sampai kehabisan kata-kata.

“Baek Mi Rae. Semua pasti terasa seperti mimpi saat ada seseorang yang nyaris sempurna seperti Siwon yang tiba-tiba jatuh hati padamu. Astaga, jangan-jangan kau sungguh percaya dengan semuanya?” tatapan Yoo Jo terlihat sangat mengintimidasi Mi Rae. Jelas sekali sorot matanya yang begitu meremehkan Mi Rae. “Sadarlah! Kejadian seperti itu hanya akan kau lihat dalam drama. Hanya orang bodoh yang akan jatuh cinta padamu. Baek Mi Rae, kumohon, hiduplah dengan benar. Ini semua demi kebaikanmu agar mampu membedakan antara nyata dan drama. Kau mengerti? Ah, tidak apa-apa. Kau tidak perlu berterima kasih padaku.”

Setelah mencabik perasaannya dan memberi luka yang begitu dalam di hatinya, tapi apa kata Yoo Jo. Semua demi kebaikannya? Sebuah alasan yang menggerakkan bibir Mi Rae, tertawa kaku. Air matanya menetes. Lagi.

Ia tahu jika dirinya tidak secantik Yoo Jo. Ia juga sadar jika ia datang dari keluarga yang sangat sederhana. Ia bahkan tidak lupa pada otaknya yang sulit diajak bekerja sama dengan buku-buku pelajaran. Tapi, apa salahnya menjadi orang yang penuh semangat? Apa salahnya untuk terlihat ceria? Apakah orang-orang miskin dilarang untuk tertawa? Tidak bolehkah ia merasakan seperti apa rasanya jatuh cinta?

“Kusarankan padamu. Sebaiknya kau berdiam diri di rumah. Apa pun yang kau lakukan tidak akan berhasil. Bahkan jika masa depan itu ada, hal tersebut tidak akan berlaku padamu. Kau tidak punya harapan.”

Jantung Mi Rae berdentam hebat mendengar kata-kata Yoo Jo. Ia hanya memandangi Yoo Jo yang kembali ke dalam rumah Siwon, meninggalkannya yang membatu dengan lidah yang terasa keluh. Ia tak pernah membayangkan akan menerima penghinaan yang luar biasa mengerikan di malam itu.

Kim Yoo Jo sangat kejam, tapi Choi Siwon jauh lebih kejam.

Ponsel yang berbunyi membuat ia harus menyingkirkan sejenak rasa sakit dan menghapus air mata. Menarik paksa bibirnya untuk tersenyum sambil berkata, “Ibu pasti sangat penasaran. Pestanya tidak bisa aku gambarkan dengan kata-kata, aku sangat senang. Aku—”Mi Rae terdiam.

Yang terdengar di seberang adalah suara Bibi Jung, tetangganya. Wanita itu mengatakan jika ibunya ditemukan pingsan di rumah dan sedang dilarikan ke rumah sakit. Gejala awal penyakit yang diderita oleh ibunya. Alzheimer.

***

Sudah cukup lama Cho Kyuhyun berdiri di depan pintu itu. Ia sedang menimbang-nimbang sesuatu. Lalu, setelah menarik napas panjang, diberanikan dirinya untuk menekan bel. Tak berapa lama kemudian, pintu rumah itu terbuka dan ia disambut oleh seorang wanita tua yang langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok pemuda tampan yang berdiri kaku di hadapannya. Ia membekap mulutnya sendiri, mundur beberapa langkah dan bergegas ke dalam rumah.

Tak lama kemudian, wanita tua yang dulu namanya sering ia teriaki dengan manja—Bibi Han—itu keluar, tapi ia tidak sendiri. Seorang wanita cantik berambut pendek datang bersamanya. Ia sangat terkejut melihat Kyuhyun. Seperti melihat hantu, “Kyu-Kyuhyun?” katanya tergagap.

Kyuhyun menelan paksa ludahnya. Rasanya cukup sakit ketika ludah itu melewati kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering dan berpasir. Sudah sangat lama ia tak melihat sosok yang sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca itu, “Ibu,” panggilnya lemah.

Semenjak meninggalkan rumah delapan tahun lalu, ini kali pertama bagi Kyuhyun untuk kembali menginjakkan kaki di tempat itu. Kyuhyun lebih banyak diam, ia hanya menurut saja ketika ibunya mengajaknya menuju suatu tempat di dalam rumah itu. Sebuah ruangan yang merupakan kamar tidur.

Nyonya Cho membukakan pintu, ia memandangi Kyuhyun yang terus membisu dan tersenyum tipis pada pemuda tersebut. Kyuhyun menggerakkan kakinya, melangkah masuk ke dalam kamar. Nyonya Cho lantas menutup pintu setelah itu. Ia tak ikut serta ke dalam kamar, hanya menunggu di luar pintu bersama Bibi Han yang terus-terusan menitikkan air mata. Wanita berusia senja itu terlalu bahagia karena dapat melihat anak yang diasuhkan sejak kecil.

Di dalam kamar, ada seorang pria yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya yang terlihat begitu nyaman. Ada begitu banyak peralatan medis di sekitarnya. Dada Kyuhyun berdebar-debar ketika melangkah menghampiri pria tersebut. Wajahnya membuat hati Kyuhyun tersentuh. Tiba-tiba saja ia merasa sangat sedih melihat keadaan pria itu. Begitu pucat, tampak sangat lemah dan tubuhnya pun kurus. Sama sekali berbeda dengan yang dulu.

“Ayah.”

Entah sudah berapa lama kata itu mendekam di dalam mulut Kyuhyun. Rasanya kaku ketika diucapkan. Ia memang membenci orang itu, tapi entahlah—perasaan sedih lebih mendominasi kebenciannya. Memang sukar untuk mengampuni pria itu. Namun, apa dayanya untuk menolak takdir pahit yang harus ia telan?

Kita tidak bisa memilih untuk terlahir dari orangtua yang seperti apa.

Benar kata Mi Rae. Siapa pun tidak bisa mengatur itu. Ayahnya memang bersalah dan mungkin ini adalah hukuman yang harus pria itu terima atas segala perbuatannya, dulu.

Lambat laun, kelopak mata pria itu mulai terbuka. Suara Kyuhyun tadi telah memanggilnya untuk kembali sadar.

“Kyu..Kyuhyun…”

Ia memanggil nama Kyuhyun. Suaranya terdengar begitu lemah dan sangat pelan. Kyuhyun harus lebih mendekat agar mampu mendengar apa yang hendak ia ucapkan.

“Kaukah itu?”

Mulut seperti Kyuhyun terkunci. Ia hanya mengangguk, menatap penuh haru pada ayahnya. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca melihat sang ayah meneteskan air mata. Tuan Cho mengangkat tangannya, dan secara refleks Kyuhyun langsung menangkap tangan itu.

“Kyuhyun,” pria itu terisak pelan, “Maaf…maafkan aku…,” katanya dengan air mata yang bergulir jatuh dari sudut matanya.

Kyuhyun menggeleng, “Ayah…,” ia sangat sedih. Hanya satu kata itu yang mampu ia serukan.

“Maafkan Ayahmu ini, Nak,” tangisan Tuan Cho semakin kuat, tubuhnya bahkan berguncang.

Air mata Kyuhyun menetes tanpa bisa dibendung. Kepalanya terangguk antusias. Ia sudah terlalu lama memendam amarah. Ini saatnya untuk melepaskan semua. Dendam yang telah mengikis kebahagiaannya dan ia tak ingin selamanya dirantai oleh perasaan mengerikan itu.

Salah adalah hal yang biasa, tapi salah jangan dibiasakan.

Tidak ada orang yang luput dari kesalahan, tapi tidak ada seorang pun yang berhak menghakimi. Melepaskan kata maaf membuat Kyuhyun merasa bisa menghirup udara dengan lebih leluasa. Rasanya beban itu berangsur menghilang. Ia menggenggam erat tangan ayahnya. Tak sulit untuk tersenyum seperti dulu.

Tuan Cho terus menangis dalam diam hingga ia lelah dan tertidur, tapi ada yang berbeda daripada yang sebelumnya. Kini, dalam tidur pun ia tersenyum. Pelan-pelan Kyuhyun keluar dari kamar, lalu menutup pintu itu dan mendapati ibunya masih setia menanti di balik pintu.

“Bagaimana Ayahmu?”

Ia mengangguk, “Ayah sudah tidur,” katanya.

Beberapa saat mereka terdiam. Begitu lama tidak bertemu, keadaan menjadi sangat canggung. Dulu, Kyuhyun akan merengek dan bergelayut manja dipelukan wanita itu. Jujur saja, di lubuk hatinya, ia sangat merindukan masa-masa itu. Saat dimana ia hanya hidup bahagia sebagai seorang anak kecil. Tanpa beban.

“Aku tidak pernah menyangka jika kau akan datang secara suka rela ke sini,” Nyonya Cho bergumam sembari menarik napas panjang. “Bertahun-tahun Ayahmu hidup dalam penyesalan. Ia menerima keadaannya sebagai sebuah hukuman. Bertahun-tahun itu pula ia tak bisa untuk tidak memikirkanmu sejenak saja. Kau pasti tahu jika kami terus mengawasimu.”

Kyuhyun terdiam, tentu saja ia menyadarinya. Memangnya dari mana lagi bantuan-bantuan yang selama ini datang ketika ia sedang dalam keadaan yang terdesak? Meski bukan bantuan secara materi—yang pasti akan ia tolak—tapi ia tahu siapa yang selalu diam-diam menolongnya.

“Ayahmu cemas jika sampai mati ia tak akan melihatmu. Ia takut jika tidak sempat memohon maaf padamu,” Nyonya Cho memandang Kyuhyun dengan tatapan yang begitu dalam. Kembali ia menarik napas dan berkata, “Terima kasih untuk datang menemuinya,” ia tersenyum begitu tulus.

Dada Kyuhyun bergemuruh. Ia hampir tidak bisa membendung rasa rindunya melihat senyuman indah Nyonya Cho. Wanita itu berbalik hendak meninggalkan Kyuhyun, namun langkah kakinya tertahan.

“Ketika Ayahmu memutuskan untuk membawamu ke rumah ini, kau pikir apa yang aku rasakan? Aku bahkan berpikir untuk membunuhmu,” ia berkata pelan, dan tetap membelakangi Kyuhyun. Perkataan ringan yang tajam dan penuh kebencian itu serasa menusuk dan mengoyak jantung Kyuhyun. “Tapi—melihat matamu yang bersinar, tawamu yang menggemaskan dan saat tangan kecilmu menggenggam jari kelingkingku. Jantung ini berdebar dan hatiku terasa hangat.”

Rasa sesak dirasa Kyuhyun. Menghimpit dadanya dengan gila sehingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas. Ia mampu merasakan luka yang disembunyikan oleh ibunya.

Nyonya Cho tampak menengadahkan kepalanya, ia sedang mencoba untuk mencegah air matanya menetes.

“Ah, salah apa anak yang terlahir dari orang tua seperti itu? Anak-anak hanya korban yang terkadang harus menanggung beban akibat perbuatan orang tua mereka,” Nyonya Cho mendesah, ia tak bisa lagi menutupi air matanya yang ia biarkan mengalir jatuh di pipinya. “Kau adalah alasan mengapa aku bertahan dengan Ayahmu dan juga alasan yang membuatku mampu memaafkan wanita itu. Meski tidak terlahir dari rahimku, kau tetap anakku.”

Air mata Kyuhyun menetes. Tubuhnya membatu dan sulit digerakkan, namun ada hal lain yang meresap pelan dan lama-kelamaan memeluknya secara utuh. Perasaan yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Sebuah rasa yang telah lama meninggalkannya. Wanita itu menyeka air matanya dan kembali melangkahkan kakinya.

“Ibu,” panggilan Kyuhyun membuat Nyonya Cho kembali berhenti.

Kali ini, ia perlahan membalikkan tubuh, menatap langsung bola mata Kyuhyun yang tampak memerah. Kyuhyun mulai memperlihatkan seulas senyum di wajah tampannya yang sejak tadi menekuk.

“Aku—akan pulang.”

Nyonya Cho begitu terperanjat mendengar perkataan Kyuhyun. Dengan bola mata yang melebar, ia seolah sedang meyakinkan dirinya bahwa pendengarannya masih baik. Mencoba mencari keseriusan dari kalimat Kyuhyun yang berada di luar perkiraannya.

***

“Jadi, di mana Cho Kyuhyun?”

Lee Hyukjae menelan ludah paksa. Han Jin Ae sedang menatapnya penuh kecurigaan. Di sisi lain, ada Baek Mi Rae yang meskipun terlihat malas tahu, tapi ia yakin jika gadis itu sepakat dengan tindakan Jin Ae kali ini. Mendesak Hyukjae.

“Kau masih mengatakan jika kalian bersahabat sementara kau tidak tahu di mana keberadaan Kyuhyun? Kau pikir aku akan percaya?” Jin Ae mendesis pada Hyukjae yang sedang kebingungan.

“Bukan begitu.”

“Pertama, kau bilang dia sedang sakit. Lalu kau bilang dia sedang memiliki urusan penting. Kemarin kau bilang lagi, dia akan mengambil cuti kuliah,” Jin Ae mulai kehilangan kesabaran. “Mana yang harus dipercaya?”

“Haisshh! Baik! Baik!” Hyukjae berteriak pasrah. Ia tak cukup siap untuk menerima tekanan dari Jin Ae. “Si kurang ajar itu…wooaah, lihat saja, aku pasti akan membalasnya,” ia menggeram dan kemudian berbatuk pelan setelah menyadari jika tatapan Jin Ae dan Mi Rae semakin aneh. “Sebenarnya, Kyuhyun kembali ke rumahnya.”

“Eh?”

“Dia memutuskan untuk pulang. Ayahnya sedang sakit keras.”

Apa yang diucapkan Hyukjae membuat Mi Rae tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya barusan. Apakah artinya—Kyuhyun sudah berbaikan dengan kedua orangtuanya? Ah, apa pun itu, Mi Rae bersyukur. Ia bernapas lega.

“Harusnya kau mengatakan terus terang. Kau sangat mengesalkan!” rasanya Jin Ae ingin menarik rambut pacarnya.

“Aku juga tidak ingin melakukan itu, tapi Kyuhyun yang memintanya.”

“Kenapa?”

“Mungkin saja dia ingin menenangkan dirinya. Kau juga tahu jika belakangan ini dia sedang stress,” kata Hyukjae dan tatapannya tertuju pada Mi Rae yang langsung memalingkan wajah, berpura-pura tak menyadari maksud dari tatapan itu.

Jin Ae mengangguk kecil, “Baiklah, tapi dia tidak benar-benar serius tentang cuti kuliah, kan?”

“Entahlah, aku bahkan tak bisa menebak jalan pikirannya. Kita biarkan saja dia. Dia pasti akan segera kembali jika keadaan sudah berangsur membaik,” kata Hyukjae, namun ekspresinya kemudian berubah kesal sambil meracau, “Si gila itu. Argh! Aku memang harus membuat perhitungan dengannya. Bagaimana bisa dia membuatku gila seorang diri di sini?” ia menggaruk kepalanya, frustasi.

Kekesalan Hyukjae kian menjadi manakala mengingat perkataan enteng Kyuhyun di telepon yang menyuruhnya untuk menangani dua makhluk super penasaran yang haus akan penjelasan itu.

Sudah satu minggu belakangan ini batang hidung Kyuhyun tidak nampak. Tidak di kampus, tidak juga di kafe-kafe tempat ia sering datang untuk menyanyi. Ia seperti menghilang dari peredaran. Meski tak ingin mengakui, namun ketidakhadiran Kyuhyun di kampus membuat Mi Rae cemas. Ia mengkhawatirkan Kyuhyun, tapi jika memang Kyuhyun telah pulang ke rumahnya, itu akan baik-baik saja. Ia hanya tidak ingin insiden terakhir dengan kelompok mafia terulang kembali. Setidaknya, Mi Rae sudah tahu di mana Kyuhyun berada. Ya, tidak apa-apa. Mereka mengalami hal yang sangat berat. Baik Mi Rae maupun Kyuhyun, sama-sama membutuhkan banyak waktu untuk menenangkan diri dan berpikir.

***

Presiden Choi Han Byul adalah pemilik Yayasan Anam yang terdiri dari Universitas Anam dan juga Rumah Sakit Universitas Anam. Ia sedang duduk di belakang meja kerjanya yang terletak di dalam ruangan yang sangat luas. Sebuah Koran sedang terbuka di hadapannya. Wajahnya menegang. Kepalanya sedikit terangkat, menuntun matanya pada seorang wanita yang berdiri sambil meremas jari-jari tangannya. Wanita itu adalah istrinya. Dokter Shin Ye Seul, Direktur Rumah Sakit Universitas Anam.

“Ada apa ini?” Presiden Choi bergumam gusar.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” kecemasan di wajah Direktur Shin tercetak jelas.

“Segera kumpulkan semua pemegang saham. Bagaimana pun caranya, kita harus meyakinkan mereka,” jawab Presiden Choi. Ia memukul meja dengan begitu geram.

***

-Kau baik-baik saja?-

Baek Mi Rae memandangi pesan yang baru saja ia ketik di ponsel. Ia hendak mengirim pesan itu kepada Kyuhyun, tapi semenit berselang, ia justru membatalkan niatnya. Dengan cekatan ia menghapus pesan itu. Ia hanya mendesah sambil memandangi langit cerah di atas kepalanya. Bahkan untuk sekadar menanyakan kabar terasa sulit baginya. Ah, mengapa hatinya menjadi serumit ini?

Di lain tempat, Cho Kyuhyun sedang berdiri tegak di balik jendela tinggi dengan tirai yang menjuntai hingga ke lantai. Ia memandang ke luar dari balik jendela itu. Tatapannya sedikit kosong. Hanya tangannya yang sejak tadi terus bergerak, bermain-main dengan ponsel. Sejurus kemudian, ia menatap ponsel yang pasrah diperlakukan apa pun olehnya. Sebenarnya Kyuhyun sedang berharap jika seseorang menghubunginya. Ia kembali termenung, dan memutuskan untuk mengirim sebuah pesan.

-Baek Mi Rae. Kau tidak merindukanku?-

Membaca sebaris kalimat yang ia tulis justru membuatnya tertawa kecil. Ia menghapus lagi tulisan di ponselnya, untuk kesekian kali. Sudah sejak tadi ia merangkai kalimat yang dirasanya tepat. Ah, itu tidak terlihat seperti dirinya yang sebenarnya. Ia lalu memasukkan ponsel itu ke dalam saku celana dan kembali memandang ke luar jendela. Beberapa saat kemudian, ia kembali mengeluarkan ponsel dan terlihat menghubungi seseorang.

“Ini aku,” buru-buru Kyuhyun berkata sesaat setelah teleponnya diangkat. Sebenarnya ia tak perlu mengatakan itu. Lee Hyukjae masih mengenalinya dan nomor ponselnya belum hilang dari daftar kontak pemuda tersebut.

Bagaimana kabarmu?

“Seperti yang kau tahu. Aku akan sedikit sibuk. Hey, Lee Hyukjae, jangan sungkan-sungkan untuk meneleponku jika kau sedang merindukanku. Right?”

Cih! Ternyata kau memang gila,” dengus tajam Hyukjae. “Sebenarnya ada apa? Aku tahu jika kau tidak mungkin meneleponku tanpa maksud.

“Tidak diragukan lagi. Kau memang Hyukjae-ku yang sangat menggemaskan.”

Cho Kyuhyun!

Hardikan Hyukjae cukup membuat telinga Kyuhyun berdengung panjang. Ia tertawa. Sudah cukup lama tidak menggoda Hyukjae, dan rasanya tetap sama. Menyenangkan.

“Begini,” kata Kyuhyun pelan, menghentikan guyonannya. Ia memasukkan tangan kirinya yang menganggur ke dalam saku celana. “Tolong lakukan sesuatu untukku.”

Apa lagi?” kecurigaan yang kental dapat dirasakan Kyuhyun dari suara Hyukjae. Kyuhyun pun tersenyum sangat manis. Walaupun Hyukjae akan menggerutu hingga lelah, tapi ia tidak pernah menolak permintaan Kyuhyun.

Satu jam setelah Kyuhyun menerima informasi dari Hyukjae yang membuatnya dengan segera pergi meninggalkan rumah. Kini ia telah berdiri di depan sebuah bangunan yang orang-orang tampak masuk-keluar dari dalamnya. Aktivitas di sekitar gedung itu cukup ramai. Kyuhyun sangat bersemangat, ia tersenyum senang dan buru-buru masuk ke dalam bangunan tersebut.

Sementara itu, Baek Mi Rae sedang menikmati waktu santainya dengan berendam di sebuah jacuzi besar yang di dalamnya terdapat air yang beriak. Ia tidak sendiri. Ada orang-orang lain yang juga sedang berada di area pemandian air panas tersebut. Pergi ke jjimjilbang adalah kegiatan rutin yang dilakukannya setiap akhir pekan, tentu saja jika ia tidak sedang bekerja.

Jjimjilbang adalah tempat sauna khas Korea, merupakan tempat pemandian umum. Jjimjilbang tidak hanya menyediakan kolam air panas dan air dingin karena di dalam jjimjilbang juga menyediakan fasilitas lainnya. Seperti tempat sauna basah dan kering, rest area, kafetaria, restaurant, pijat, facial, ruang tidur, ruang TV, ruang komputer/internet, ruang karaoke, fitness, dan juga dilengkapi free hotspot/wifi.

Sebelum berendam, Mi Rae sudah lebih dahulu ke tempat sauna kering. Banyak sekali tempat sauna di dalam jjimjilbang yang meliputi beberapa lantai, untungnya tempat itu difasilitasi dengan lift. Tiap ruangan sauna memiliki efek penghilang racun yang berbeda, sesuai dengan bahan pelapis dinding yang digunakan seperti batu, kerikil, garam, arang, aneka mineral, lumpur, es, logam bahkan kristal. Mi Rae lebih senang duduk di dalam ruangan tertutup yang berbentuk seperti tungku pembakaran dengan dinding batu.

Setelah dirasa cukup untuk berendam, Mi Rae segera mandi bersih di shower area. Selesai mandi, ia lantas mengenakan seragam yang diberikan pada saat masuk ke jjimjilbang tadi. Sepasang celana dan baju berwarna coklat berukuran all size. Sambil mengalungkan handuk di leher, ia beranjak ke rest area.

Mi Rae tidak bisa tidur di ruang TV karena kumpulan ibu-ibu yang sangat berisik ketika menonton drama sehingga membuatnya dengan sangat terpaksa beranjak, mencari tempat yang lebih senyap. Ia lantas membaringkan tubuhnya di sebuah matras yang telah disediakan di rest area tersebut. Posisi Mi Rae berada di pojok, bersisian langsung dengan dinding. Ada beberapa orang di sekitarnya, dan mereka sudah terlelap.

Perasaan aneh yang menyapa sejak ia memasuki rest area membuatnya bangun dan duduk. Matanya mengawasi sekeliling. Tidak ada yang mencurigakan di sekitarnya, sebab orang-orang itu mungkin sudah berfantasi di alam mimpi. Mungkin hanya perasaannya saja. Ia kembali berbaring dan memejamkan mata.

Gadis itu meluputkan sesuatu. Tak jauh darinya, ada seseorang yang berbaring sambil menutupi wajah dengan handuk. Orang itu bergerak duduk dengan gerakan cepat sehingga handuk di wajahnya pun tersingkap. Cho Kyuhyun.

Matanya lalu tertuju pada Baek Mi Rae. Ia tersenyum. Sebegitu inginnya ia melihat Mi Rae sehingga memaksa Lee Hyukjae untuk menjadi seorang detektive dadakan demi mencari tahu keberadaan gadis itu.

Tubuh lelaki yang tidur di matras tepat di sebelah Mi Rae terlihat beringsut. Kyuhyun kaget melihat tangan orang itu berada di tubuh Mi Rae. Sontak saja ia berdiri, menghampiri mereka. Dengan menggunakan kakinya, ia sedikit mengangkat lalu menendang tangan orang tersebut. Setelah itu, ia kembali ke tempatnya.

Tak berapa lama kemudian, lelaki itu kembali beraksi dalam tidurnya. Ia memiringkan tubuhnya, tangannya kembali mendarat di perut Mi Rae. Kyuhyun emosi melihat Mi Rae yang sedang dirangkul oleh orang itu. Dengan geram ia menggulung handuk miliknya dan melempar handuk kepada lelaki itu sekuat tenaga. Orang itu begitu terkejut dan langsung terduduk. Ia terbangun karena handuk yang mendarat di wajahnya. Matanya melirik ke sekitarnya. Tidak terlihat orang mencurigakan yang telah melempar handuk di tangannya itu. Akhirnya, ia memilih berpindah tempat.

Sepeninggal orang itu, Kyuhyun membuka matanya perlahan-lahan. Tadi dirinya hanya berpura-pura tidur. Ia menegakkan tubuh, duduk bersandar di dinding dan kembali mengawasi Mi Rae. Lalu datang seorang pemuda, melihat ada tempat kosong, ia pun segera berbaring di sisi Mi Rae.

Mata Kyuhyun melotot tajam, menatap tak percaya karena aksi pemuda tadi. Sebenarnya, itu hal yang wajar jika berada di jjimjilbang, tapi masalahnya, ia tak rela jika ada laki-laki lain yang berada dalam jarak sedekat itu dengan Mi Rae. Sama sekali tak terima. Cepat-cepat Kyuhyun berjalan menghampiri pemuda itu. Ia langsung berdiri tepat di hadapan pemuda yang baru saja mencoba memejamkan matanya, namun merasa ada sesuatu yang aneh, matanya kembali terbuka.

Alisnya berkerut dalam karena mendapati Kyuhyun sedang melipat tangan di depan dada sambil menatap tajam padanya. Wajah Kyuhyun sungguh tidak bersahabat. Untuk itulah, pemuda tersebut segera menghindar sambil bergidik ngeri saat Kyuhyun mengusirnya hanya dengan satu kali gerakan kepala. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan dan mengambil handuknya yang sempat ia lempar tadi.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mengisi matras kosong itu sebelum tekanan darahnya meningkat karena ada laki-laki lain yang tidur di situ. Ia berbaring di sebelah Mi Rae. Memiringkan tubuhnya hingga menghadap pada Mi Rae. Entah berapa lama ia terus mengawasi wajah Mi Rae hingga tiba-tiba saja Mi Rae bergerak. Kontan saja Kyuhyun berbalik membelakangi Mi Rae dan kembali menutup wajahnya dengan handuk. Ia panik jika aksinya akan ketahuan.

Lima menit kemudian, ia memberanikan mengintip Mi Rae dan ia cukup terkejut karena Mi Rae hampir mencium punggungnya. Tanpa pikir panjang, dengan gerakan yang pelan agar tidak membangunkan Mi Rae, ia mengubah posisi tidur. Kini, posisinya dan Mi Rae saling berhadapan. Dadanya berdebar karena takut jika Mi Rae tiba-tiba saja membuka mata, tapi ia tak bisa melewatkan begitu saja untuk menatap langsung Mi Rae seperti itu. Kyuhyun menyingkap pelan rambut yang menutupi wajah Mi Rae. Menyelipkan rambut itu di belakang telinga Mi Rae. Senyuman di bibirnya merekah. Rasanya sangat menyenangkan.

Dua jam kemudian, Mi Rae terbangun. Ia beringsut duduk sambil merentangkan tangannya sejauh mungkin. Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi segar. Lalu matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di sebelahnya.

Iced shikhye dalam kemasan kalengan. Minuman dingin yang terbuat dari beras yang telah mengalami proses fermentasi. Ada kertas post-it berwarna kuning yang menempel di kaleng minuman itu. Ia lalu mengambil minuman tersebut dan membaca tulisan yang tertera di kertas itu.

Dari Pengagum Anda ^^

 

***

Suatu hari, Kyuhyun tampak sedang termenung. Lagi-lagi ia berdiri di balik jendela besar itu. Mungkin tempat tersebut telah menjadi tempat favoritnya untuk merenung. Ia lalu berjalan menghampiri meja di tengah ruangan dan mengambil ponsel yang sejak tadi hanya membisu. Sesaat, ia sibuk dengan benda di tangannya itu.

Hallo?

Mendengar suara pria di seberang, Kyuhyun tersenyum, “Apa aku mengganggumu, Choi Siwon?”

Cho Kyuhyun?

“Aku tidak mengira kau mengenali suaraku.”

Kau meneleponku tidak hanya sekadar berbasa-basi seperti ini, bukan?

Kyuhyun tersenyum miring, “Aku hanya ingin tahu keadaanmu,” dengusan tajam Siwon terdengar jelas di telinga Kyuhyun. “Aku yakin jika kau sedang sibuk. Ah, sepertinya aku sudah merusak konsentrasimu.”

Katakan saja apa maumu!

“Aku hanya penasaran dengan pernyataanmu waktu itu. Membeli kekuasaan, dan juga—” Kyuhyun berujar pelan. “Membeli aku? Kau serius?” Kyuhyun tertawa kecil.

Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya?” tanya Siwon. Ia lalu tertawa, “Kau tak yakin jika aku mampu melakukan itu? Jika benar, itu artinya kau sangat berkeyakinan bahwa aku akan berlutut dan menjilat kakimu, benar?” tawa Siwon terdengar kian keras.

Kyuhyun hanya tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, Siwon lebih dahulu memutuskan sambungan telepon. Senyuman di wajah Kyuhyun perlahan memudar, “Karena aku akan sangat menikmati jika saat itu benar-benar tiba. Woahh, rasanya aku tidak sabar lagi,” ia kembali tersenyum dan lambat laun senyumannya berubah menjadi tawa kecil.

Pada saat yang sama, seorang pria memasuki ruangan membuyarkan aktivitas Kyuhyun yang sedang tersenyum puas hanya dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan jika Siwon harus terkekuk lutut di hadapannya. Ia memandangi pria muda berpakaian sangat rapi. Setelan jas hitam. Setelah menutup pintu, pria itu menghampiri Kyuhyun dan kemudian menundukkan kepalanya, penuh ketegasan namun tidak mengesampingkan sopan santunnya.

*

Siang itu di kafe kampus. Jin Ae dan Mi Rae yang walaupun sedang makan, masih saja mendebatkan tugas-tugas mereka. Perdebatan mereka di kelas, berlanjut di kafe. Berbeda dengan keduanya, Hyukjae justru sedang gelisah. Bukan karena dua gadis di hadapannya yang begitu sengit memaparkan pendapat masing-masing, tapi ada hal lain yang sejak pagi hari telah membuat pemuda itu berkeringat dingin.

“Ada apa?”

“Kau tak terlihat sehat?”

Hyukjae tersentak mendengar pertanyaan Jin Ae dan Mi Rae. Dua orang itu mungkin telah mencurigai gerak-geriknya yang ganjil.

“Tidak apa-apa,” elak Hyukjae, tapi dua gadis itu justru menatapnya lebih dalam. Jawaban Hyukjae tidak membuat mereka percaya begitu saja. Menurut mereka, Hyukjae sedang menyembunyikan sesuatu. Hyukjae yang tak tahu harus mengatakan apa, akhirnya hanya mendesah, “Bagaimana harus mengatakannya?” Hyukjae membuang tatapan bingung ke sekeliling, lalu matanya menatap tajam pada Mi Rae. “Baek Mi Rae, begini. Tolong jangan membenci Kyuhyun.”

“Hm?”

“Kyuhyun sangat menyukaimu. Dia begitu peduli padamu, melebihi dirinya sendiri. Jadi, kumohon untuk percaya padanya.”

Mi Rae mengernyit, ia tak mengerti apa yang sebenarnya hendak dikatakan Hyukjae. Pemuda itu terlalu berbelit-belit dan menimbulkan lebih banyak kecurigaan. Ia dan Jin Ae hanya saling pandang. Perasaan was-was tiba-tiba saja menghampirinya. Apa Kyuhyun telah melakukan sesuatu? Semoga saja ini bukan lagi tentang kelompok mafia.

*

Mengenakan setelan jas berwarna biru pekat, kemeja putih serta dasi berwarna silver dengan corak garis biru yang senada dengan warna jas membuatnya terlihat sangat tampan. Tidak bisa dipungkiri jika Cho Kyuhyun memang sudah terlahir tampan, tapi melihatnya dengan penampilan yang cukup resmi dan tampak sangat elegan itu—ia benar-benar memukau. Ia sedang berada di sebuah ruangan, duduk tenang sambil memangku kaki. Tangannya membuka sebuah majalah.

Pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Kyuhyun. Seorang pria berjas hitam yang barusan membuka pintu. Mata Kyuhyun tertuju pada ibunya yang baru saja memasuki ruangan tersebut.

“Kau sudah siap?”

Kyuhyun tak menjawab pertanyaan Nyonya Cho. Ia hanya meletakkan kembali majalah yang dipegangnya di atas meja. Ia berdiri, menegakkan tubuhnya dan berjalan mantap menghampiri Nyonya Cho. Lalu bersama-sama mereka keluar dari ruangan itu. Di luar ruangan, sudah ada beberapa orang pria yang memiliki penampilan yang sangat rapi, sama seperti pria yang membuka pintu tadi. Mereka sedang berjaga di luar. Beberapa diantaranya mengikuti Kyuhyun dan Nyonya Cho menuju sebuah tempat, ruangan lain di dalam bangunan tersebut.

Pintu besar di hadapan mereka pun terbuka dan mereka langsung disambut oleh cahaya yang menyilaukan mata yang datang dari puluhan kamera yang dibidik ke arah mereka tanpa henti. Kyuhyun berjalan tenang di sisi ibunya. Mereka menuju ke tengah-tengah ruangan. Ada sebuah meja panjang dengan puluhan mic yang berjejer di atas meja. Nyonya Cho duduk di tengah. Ia diapit oleh Kyuhyun yang duduk di sebelah kanannya dan seorang pria paruh baya di sebelah kirinya. Di hadapan mereka, selain para kameramen, juga terdapat banyak meja yang telah di penuhi oleh pers yang datang dari berbagai media. Mereka telah siap dengan laptop di masing-masing meja.

“Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan pers,” pria yang duduk sebelah kiri Nyonya Cho mulai berbicara. “Konferensi pers akan segera dibuka. Konferensi pers kali ini tidak ada kaitannya dengan Yayasan Anam sehingga diharapkan Anda tidak melayangkan pertanyaan yang menyangkut dengan hal tersebut.”

Pria itu menoleh pada Nyonya Cho. Sepertinya ia telah menyudahi tugasnya untuk membuka konferensi pers sekaligus sebagai moderator yang mengarahkan jalannya konferensi pers.

Wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan sambil menautkan jari-jari tangannya di atas meja. “Selama ini kami tak pernah luput dari pemberitaan media. Kami tahu jika pers telah dibuat penasaran tentang satu hal. Seperti yang telah kami konfirmasikan melalui Sekretaris Park,” Nyonya Cho menoleh pada pria di sisi kirinya yang menundukkan kepala santun. “Kami akan menjawab rasa penasaran Anda. Yang Anda lihat sekarang, pemuda tampan yang duduk di sebelah kananku ini—”

Nyonya Cho tersenyum, menoleh pada Kyuhyun yang bersikap sangat tenang di hadapan puluhan wartawan yang sedang meliput. Ia kembali melanjutkan perkataannya yang terpotong tadi.

“Adalah generasi ketiga dan merupakan pewaris Daehan Group. Cho Kyuhyun.”

~bersambung~

Eh, tumben cepet update hihihi

Yaah..bener kata orang, kalo sy suka membelokkan imajinasi pembaca. Menyembunyikan fakta, seperti menyembunyikan Kyuhyun di rumah sy *digampar sparkyu*

Kyuhyun kan pernah bilang kalo Mi Rae seperti cenayang. Itu karena dua tebakan Mi Rae tentang Kyuhyun adalah benar adanya. Pertama, tentang anak orang kaya. Kedua, tentang kelompok mafia.

Yesungdahlah…terima kasih sudah menjadi pembaca setia di blog ini hehe. Jangan bosan2 memberikan saran dan kritikannya ya.

Sampai jumpa di part 12 ^^

Iklan

264 thoughts on “Drama (Part 11)

  1. tifanyseptiany berkata:

    kayaknya bakal jadi kenyataan dech siwon berlutut n menjilat kaki nya cho kyuhyun…

    tapi aku masih penasaran, knp hyuk segitu takutnya ngeliat reaksi mi rae klu dia tau kyu itu kaya?

  2. Elie Park berkata:

    Jadi salah satu tujuan Kyuhyun pulang ke rumah tuh itu? Hahaha ketawa evil. Pasti juga untuk bales dendam buat Mi Rae karena Siwon mempermalukan Mi Rae.

    Go Kyuhyun go!!!!!

  3. nae.ratna berkata:

    wah ternyata kyuhyun….
    mirae lagi2 dikelilingi orang berkuasa n kaya
    wih kyuhyun ga maen2 tuh sama ancaman.a ke siwon
    siwon bakalan berlutut di hadapan kyuhyun
    makin menarik aja nih

  4. Rrin'sLove berkata:

    Ahlele
    si Kyuhyun memang gak cocok jadi org miskin ahahaha
    demi membalikkan keadaan kepada siwon dia kembali ketempat asalnya
    aduh cinta mati dia sama Baek Mi Rae

    semangat Cho !!

  5. Leah berkata:

    Sedih ih pas interaksi antara kyuhyun, ibunya, dan ayahnya. Ya Tuhannn aku pengen nangis.
    Dan kayanya ancaman Kyuhyun buat membunuh siwon ga main main. Cho Kyuhyun udah mulai beraksi, yeayy!!
    Jreng jreng jreng ini dia Our Loveable CEO Cho Kyuhyun. Omaygatt aku seneng banget, fa sabar nunggu Kyuhyun ngehancurin siwon 🙌🙌

  6. vivirakim_94 berkata:

    Pantas aja si kyuhyun bilang baek mirae seperti cenayang. Gimana nggak coba, semua tebak an trg kyu bener. Pertama kyu mantan mafia plus kyu juga anak org kaya yg kabur wkkwk

  7. AeriLyz77_ berkata:

    Njirrr ku terjungkal :v wkwkwkwk pling sneng klo lhat Cho kyak gtu nunjuki kekuasaannya wkwkwkwk sudah kuduga klo Cho itu sbenernya anak holkay bekos dri aura2nya sudah trcium ank holkay :v wkwkwkwk

    Pngen lhat reaksi sluruh ank kmpus? Mi Rae + Jin Ae? En terutama Siwon? Bkalan mti gaya tuh holang

  8. Hana Choi berkata:

    Kayanya mi rae bakalan ngejauhin kyuhyun lagi deh kalau tau ternyata kyu orang kaya dan merupakan pemilik yayasan sekolah anam.
    Siap” aha siwon berlutut di kaki kyu hahaha kayanya bakalan makin seru deh sama

  9. lvraz berkata:

    Tuhh Kan apa Saya bilang, satu rahasia kyuhyun ketauan Masih banyak lagi rahasia yg kesimpan, pertama kyuhyun bekas mafia, kedua nyonya song itu ibu biologis kyuhyun Dan ketiga kyuhyun itu anak orang kayaaaa, sekarang rahasia apa lagi yg bakalan terungkap?! Mungkin itu Maksudnya kyuhyun yg nantang Siwon. Keren banget sih Ahjussi satu inii

  10. My labila berkata:

    setelah baca di awal2 di buat sedih, di tengah2 di syok dan senyum2 gaje waktu kyuhyun ngusir orang2 yg mau deket sm Mi rae, aku syok waktu tau fakta sesungguhnya kyuhyun, gimana reaksi orang2 kalau tau kyuhyun yg sesungguhnya..

  11. ina berkata:

    wahhh ga heran kenapa mi rae benci sama siwon..
    hmm… permasalahan kyu dan mi rae blum selesai…..
    kyu udah jadi pewaris… tapi kenapa hyuk jadi gelisah??
    semoga dengan jadinya kyu orang kaya, ga membuat mi rae minder..

  12. whitedear berkata:

    pantesan mi rae marah banget sama siwon, jadi ini kesalahan yg dilakukan siwon.. mi rae gadis yg polos, lugu dn ceria berubah seketika gara* siwon juga kn. dia yg beneran tulus sama siwon malah hanya dibuat permainan aja sama siwon.. hukum karma tu sekarang :p

  13. de15 berkata:

    Tuuuhhh kan ada lg rahasia.. Kyu itu orang kaya…
    Ini ff susah banget d tebak.. Tadinya udah percaya kalo kyu itu bukan org kaya, makanya dia ikut mafia… Karena kekurangan materi… Hadeuuhhh.. Salah tebak lagi!!!😂😂😂😂

  14. Kyuni berkata:

    Klw gini ceritanya nggak heran klw mirae benci sma siwon,,gimanapun siwon udh adalah orang yg udh mirae menjadi gadis berkepribadian unik*menurutku
    mantan mafia dan anak orang kaya adlh tebakan mirae yg benar skrng aku yakin kedepanx alurx makin sulit ditebak

  15. noebita berkata:

    Kyu balik kerumah mau membuat siwon hancur. Untung aja kyu tak benar2 membunuh siwon. Semoga kesalahpahaman mereka cepat terselesaikan

  16. shin naya berkata:

    si kyu beneran horang kayaaa…
    penasaran ama siwon bener² berlutut dan jilat kaki si kyu g yaah…???

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s