Drama (Part 12)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Kilatan kamera makin gila-gilaan menyerang mereka yang sedang memberi keterangan dalam konferensi pers, menyorot langsung ke arah Cho Kyuhyun yang baru diperkenalkan oleh Nyonya Cho. Pemuda itu pun berdiri dan membungkukkan tubuhnya, memberi salam pada para awak media. Tatapan matanya yang begitu tajam menyiratkan ketenangan yang diselimuti oleh kharismanya yang begitu menghanyutkan. Setelah itu, ia kembali duduk dengan santai.

“Identitas penerus Daehan hampir tidak tercium media karena anakku yang tampan ini memang tidak begitu suka jika kehidupan pribadinya di sorot kamera. Kami membiarkan dia melakukan apa pun yang dia inginkan. Selama ini dia selalu menjadi orang yang bebas. Bahkan, dia berkuliah di Universitas Anam. Kalian pasti akan terkejut jika tahu jurusan apa yang dipilih olehnya. Baru-baru ini dia memutuskan untuk tampil di hadapan media karena kondisi kesehatan Presiden Direktur Daehan Group yang terus menurun. Seperti yang Anda ketahui bahwa setahun belakangan ini Presdir Cho Seung Jo harus beristirahat karena komplikasi penyakit yang dideritanya. Sebagai pewaris tunggal Daehan Group, Kyuhyun harus melupakan kesenangannya. Dia perlu mempersiapkan diri dan terjun langsung ke perusahaan. Di pundaknya ada tanggung jawab besar terhadap jaringan perusahaan dan nasib ratusan ribu karyawan Daehan Group yang tersebar di beberapa negara. Untuk itu, kami berharap bahwa Anda dapat membantu kami dalam mengawasinya.”

*

Suasana kafe yang sempat senyap sampai selesainya penayangan konferensi pers, mendadak menjadi bising. Para mahasiswa memiliki topik baru untuk dibahas yaitu berita menggemparkan yang baru beberapa menit lalu disaksikan oleh mereka. Bukan semata karena ketampanan sang pewaris Daehan Group, tapi karena mereka cukup mengenal siapa sosok yang terus menutup mulut rapat dan terkadang hanya tersenyum tipis penuh wibawa di layar televisi tadi.

Cho Kyuhyun selalu diidolakan oleh para gadis karena wajahnya, kepintarannya, keramahannya, dan sebagainya lagi. Lalu tiba-tiba saja identitasnya terbongkar. Gadis-gadis akan semakin sulit berpaling dari pesonanya. Kyuhyun yang mereka kenal adalah sosok yang kehidupannya jauh dari hingar-bingar kemewahan. Seorang pekerja keras. Namun dibalik itu semua, ia memiliki latar belakang keluarga yang luar biasa.

Siapa yang tidak tahu Daehan Group?

Sebuah group raksasa yang di dalamnya berdiri perusahaan-perusahaan besar. Jaringan perusahaannya bahkan sampai ke manca negara. Pendiri Daehan Group adalah kakek Kyuhyun yang telah meninggal dunia belasan tahun silam. Daehan Group diwariskan kepada ayah Kyuhyun, dan tongkat estafet itu akan berpindah tangan kepada Kyuhyun sebagai generasi ketiga Daehan Group. Keluarga mereka adalah chaebol dan media selalu mengincar pemberitaan tentang mereka.

Selama ini wajah pewaris Daehan Group hampir tidak diketahui oleh media. Kyuhyun pernah muncul di hadapan media ketika dirinya masih sangat kecil. Setelah itu, ia seperti menghilang di telan bumi. Kehidupan sang pewaris yang seolah-olah sengaja ditutup-tutupi membuat banyak orang begitu penasaran. Begitu banyak spekulasi yang timbul karenanya. Oleh sebab itu, kemunculannya di hadapan publik, kontan saja membuat kehebohan. Nitizen pun mulai ramai membicarakan si tuan muda tampan itu.

Setelah bosan dalam keterpakuan, Han Jin Ae berpaling ganas pada Lee Hyukjae yang sejak tadi terus-menerus menelan ludah. Jantungnya berdebar-debar melihat kilatan tajam di mata Jin Ae. Gadis itu terlihat sangat siap untuk menerkamnya.

“Kau tahu ini?”

“Maaf.”

“Lee Hyukjae!”

Meski tahu jika Jin Ae akan marah, Hyukjae tetap tak bisa mencegah dirinya sendiri untuk tidak terkejut karena hardikan Jin Ae.

“Pewaris Daehan Group?” Jin Ae bertanya bodoh. Ia mendengus dan kemudian tertawa. Lalu tatapannya kembali menusuk manik mata Hyukjae. Ketajaman tatapannya terasa menembus hingga ke jantung Hyukjae. “Kau tahu? Kalian berdua benar-benar pandai membuat orang lain merasa bodoh,” ia tertawa tawar.

Selama ini, pikirnya, mereka telah bersahabat, tapi ternyata ada hal-hal yang sama sekali tidak terlintas di otaknya—dan juga Mi Rae. Jin Ae menoleh pada Mi Rae yang mulutnya masih terkatup rapat. Gadis itu sama terkejutnya dengan Jin Ae. Walaupun ia tahu lebih banyak hal tentang Kyuhyun daripada yang Jin Ae tahu, tapi tetap saja berita tentang Kyuhyun membuatnya terhenyak.

Sebenarnya Mi Rae pernah merasa penasaran tentang keluarga Kyuhyun. Keluarga yang membuat Kyuhyun patah hati dan memilih kabur. Ia tahu betapa tidak nyamannya perasaan Kyuhyun, tapi yang tidak terbesit di benaknya adalah latar belakang keluarga pemuda itu.

Untuk apa hidup bersusah payah jika Kyuhyun bisa memperoleh apa pun yang ia inginkan?

Orang lain mungkin akan berpikir jika Kyuhyun cukup gila dengan membiarkan dirinya menderita, padahal ia adalah seorang tuan muda. Namun tidak demikian dengan Mi Rae. Selain Hyukjae, ia adalah orang yang cukup tahu tentang Kyuhyun. Cho Kyuhyun yang mendadak menjadi pembicaraan di negaranya, namun mereka tidak tahu apa yang dialami oleh Kyuhyun. Mungkin saja tidak ada dari mereka yang mengira jika orang seberuntung Kyuhyun justru menyimpan luka, kekecewaan dan kesedihan yang mendalam terhadap orangtuanya, setelah ia mendapati kenyataan tentang dirinya.

Kesimpulan Mi Rae tetap sama. Memiliki segalanya tidak menjamin seseorang akan bahagia.

Mi Rae sedikit terkenang pada peristiwa penculikan yang dilakukan oleh kelompok mafia beberapa waktu lalu. Saat itu Kyuhyun terluka sangat parah dan tak sadarkan diri selama beberapa hari. Mi Rae sendiri, meski tak mengalami luka serius, tapi ia harus mendapat perawatan. Saat terbangun di rumah sakit, ia sempat melihat berita tentang penangkapan kelompok mafia tersebut. Ia masih ingat detail pemberitaan yang menyebutkan jika penangkapan itu adalah berkat informasi yang diberikan oleh Daehan Group.

Gadis itu mulai berargumen di dalam hati. Selama ini, orangtua Kyuhyun tetap mengawasi Kyuhyun dan memberikan bantuan disaat Kyuhyun berada dalam kesulitan. Betapa besarnya kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki oleh Daehan Group. Bahkan hanya dalam hitungan jam—pihak Daehan membongkar aktivitas terselubung kelompok mafia yang selama ini bersembunyi di balik bendera Dowa Coorporate. Meringkus semua anggota mafia dan membuat perusahaan itu hancur berantakan. Semua hanya karena mereka menyentuh Kyuhyun.

“Pertama kali mengenal Kyuhyun, dia memang orang yang sangat sederhana. Aku bahkan tidak tahu jika aku berteman dengan seorang pewaris group besar,” kenang Hyukjae.

Alasan Hyukjae cukup dipahami Jin Ae dan Mi Rae. Mereka sudah bertemu dengan ibunya Kyuhyun di aquarium COEX Mall. Perasaan Hyukjae bisa mereka bayangkan dengan jelas, sebab akhirnya mereka menyadari jika wanita cantik berpenampilan sederhana yang mereka temui waktu itu adalah anggota keluarga konglomerat.

Jin Ae bahkan tanpa sadar menepuk dahinya sehingga membuatnya dipandang aneh oleh Hyukjae dan Mi Rae. Jin Ae yang selera fashion-nya sangat tinggi tak menyangka jika ia meluputkan banyak hal dari penampilan sederhana Nyonya Cho. Seharusnya ia sadar jika pakaian sederhana namun tampak menawan yang kala itu dikenakan Nyonya Cho tidak sesederhana kelihatannya.

Satu hal lagi. Saat bertemu di COEX Mall, Han Jin Ae merasa pernah melihat wanita itu, tapi ia tidak bisa mengingat dengan tepat. Kini ia mengerti, mungkin saja sebelumnya ia telah melihat wanita tersebut saat muncul di majalah atau pun televisi.

“Tidak seperti kebanyakan kaum konglomerat, Kyuhyun bergaul tanpa memandang kelas. Saat hidup sendiri dan pontang-panting di jalan atau bahkan ketika dia masih hidup nyaman sebagai seorang tuan muda, dia tidak pernah dengan sengaja memunculkan dirinya di hadapan media. Aku pernah bertanya alasan dia melakukan itu,” Hyukjae tersenyum. Ia menyeruput jus di gelas dan kembali melanjutkan perkataannya. “Resiko menyandang status sebagai konglomerat apalagi pewaris Daehan Group adalah hidup yang terjadwal. Dia tahu jika suatu saat dia tidak bisa melakukan apa pun yang dia inginkan sesuka hati. Jika media tahu siapa dirinya, mereka pasti akan terus memburunya dan dia akan kehilangan privasi. Sebelum saat itu benar-benar tiba, dia memilih untuk menjalani hidupnya dengan bebas.”

“Ah, Han Jin Ae. Seharusnya kau tetap percaya pada insting-mu,” Jin Ae mengipas wajahnya dengan tangan. “Sebenarnya, aku sungguh tak percaya jika Kyuhyun hanya pemuda biasa, tapi karena gadis ini terus mengomporiku dan mengatakan jika Kyuhyun tidak seperti yang aku bayangkan—aku melewatkan kenyataan itu.”

Mi Rae menggeleng prihatin melihat Jin Ae yang terus-terusan menatap kesal padanya, hanya karena Mi Rae tidak memercayainya waktu itu.

“Kau tidak perlu sekecewa itu. Media sangat penasaran tentang Kyuhyun, tapi mereka tidak pernah sukses memecah teka-teki pewaris Daehan,” Hyukjae bersandar di kursi tempat duduknya. “Kyuhyun itu orang yang sangat berkomitmen. Saat dia memutuskan untuk menghindari sorotan media, dia tidak akan melakukan sesuatu yang membuat orang lain mencium identitasnya. Termasuk, tidak pergi ke tempat-tempat milik keluarganya. Ah, kecuali apartemenku.”

Jin Ae tiba-tiba teringat sesuatu, “Jadi, COEX Mall?” meski pertanyaannya belum tuntas, Lee Hyukjae sudah membenarkan apa yang ia pikirkan.

Kompleks bergengsi COEX, termasuk COEX Mall adalah salah satu dari sekian banyaknya aset yang dimiliki oleh Daehan Group. Bukan hanya itu, bangunan-bangunan mewah dan jejeran apartemen elit di Gangnam, termasuk bangunan apartemen yang ditinggali Hyukjae juga milik Daehan Group. Jaringan hotel berbintang, mall, dan perusahaan-perusahaan lain. Mendadak Mi Rae tak berani membayangkan seberapa kayanya seorang Cho Kyuhyun yang selama ini terlihat begitu memprihatinkan. Tidak heran, sebab Daehan Group memiliki begitu banyak perusahaan yang bergerak diberbagai jenis bidang usaha dan industri. Itulah sebabnya mereka berada pada peringkat pertama chaebol atau konglomerat di Korea Selatan.

“Tapi setidaknya, kalian tidak perlu menutup-nutupinya.”

“Dengan mulutmu yang begitu cerewet itu? Detik itu juga, identitas Cho Kyuhyun terbongkar,” decak Hyukjae.

“Bagaimana dengan Mi Rae? Jika Kyuhyun tidak memercayaiku, dia seharusnya bisa memercayai Mi Rae.”

“Kyuhyun pernah ingin mengungkapkan hal ini pada Mi Rae,” jawab Hyukjae cepat. Mi Rae lantas menoleh. “Kau tidak ingat? Saat itu kau justru mencegahnya dengan alasan kau sedang sibuk,” Hyukjae menatap Mi Rae, dalam. Gadis itu terlihat berpikir sejenak.

“Hei, sahabat…Sebenarnya, ada satu hal lagi yang belum aku katakan padamu. Ini tentang—”

“Aku sedang sibuk….Katakan dengan cepat!”

Ah, jadi begitu? Terakhir kali Kyuhyun memang pernah mengatakan hal demikian, tapi ia mengira jika itu hanya akal-akalan Kyuhyun agar bisa berbincang-bincang dengannya. Ia mengabaikan Kyuhyun karena saat itu ia sedang marah—well, sekarang kemarahannya belum sepenuhnya hilang—setelah mendengar percakapan Kyuhyun dengan Siwon. Gosh! Kalau saja Mi Rae mendengar percakapan itu hingga tuntas, mungkin saja ia akan melayang karena rangkaian kalimat yang diuntai Kyuhyun tentang dirinya.

“Itulah sebabnya aku memintamu untuk tetap percaya pada Kyuhyun. Di hadapanmu, dia ingin memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya. Kau tahu? Dia sangat gelisah sebelum konferensi pers. Sebelum dunia tahu, dia ingin kau yang lebih dahulu mengetahui siapa dia, tapi kau tidak memberinya kesempatan. Bagaimana jika kau semakin membencinya? Bagaimana jika kau tidak bisa memaafkannya? Kyuhyun selalu bertanya seperti itu. Aku tidak tahu persis masalah apa yang terjadi di antara kalian berdua. Kyuhyun menolak memberitahuku sekalipun aku memaksanya. Namun, yang harus kau tahu bahwa Kyuhyun tidak seperti apa yang kau pikirkan.”

Lee Hyukjae memberikan wejangan yang panjang lebar. Anehnya, Mi Rae yang selalu meremehkan perkatan Hyukjae, justru terpekur. Merenung dalam diam.

“Mi Rae, kau tidak apa-apa?” Hyukjae mengayunkan tangan di depan wajah Mi Rae karena gadis itu terlihat seperti kehilangan kesadaran.

“Dipikir bagaimanapun, Cho Kyuhyun itu seperti bawang. Semakin kau mengupasnya, kau akan terus menemukan sesuatu,” Mi Rae beringsut, memperbaiki posisi duduknya. “Jangan percaya hanya dengan melihat, sebab mata benar-benar bisa menipu,” gumamnya pelan.

Apa yang selama ini disuguhkan oleh mata, tidak selamanya tampak seperti itu. Ada hal-hal lain yang tidak bisa dideteksi hanya dengan melihat. Salah satunya adalah identitas Kyuhyun yang sebenar-benarnya.

***

Berada di bangunan pencakar langit membuat pemandangan kota tertangkap jelas tanpa hambatan di mata Kyuhyun. Ia sedang termenung di sisi jendela, membiarkan seluruh tubuhnya ditempa cahaya matahari yang menembus kaca jendela kamar hotel tempatnya menginap.

Lamunan Kyuhyun dicela oleh suara langkah kaki yang terdengar berjalan mendekatinya. Ia menoleh dan mendapati seorang pemuda telah berada di ruangan yang sama dengannya.

“Apa jadwalku hari ini, Sekretaris Kim?”

Begitu mendengar pertanyaan Kyuhyun, pemuda berperangai mungil itu buru-buru membuka agenda hitam di tangannya.

“Hari ini kegiatannya tidak banyak. Jam sepuluh pagi ini, ada acara amal, Anda akan memberikan sambutan di pembukaan acara. Siang harinya Anda harus menghadiri undangan makan siang bersama Pangeran Dubai. Setelah itu Anda bisa beristirahat sampai sore hari. Lalu, pukul tujuh malam ada pesta yang digelar yang akan dihadiri oleh semua relasi bisnis di Dubai,” Kim Ryeowook, sekretaris pribadi Cho Kyuhyun menyebutkan rentetan acara yang harus dihadiri oleh Kyuhyun.

Kyuhyun beranjak, ia menghampiri sofa dan duduk tenang di sana. Tangannya meraih sebuah majalah, “Baiklah,” jawabnya.

Sepeninggal Sekretaris Kim, Kyuhyun meletakkan kembali majalah di atas meja. Ia tidak bisa berkonsentrasi saat ini. Rohnya masih berada di Seoul. Bunyi ponsel yang mengalun membuat Kyuhyun sedikit bereaksi.

“Kau merindukanku?”

Jangan bertanya begitu. Kau kira aku siapa? Baek Mi Rae?

Kyuhyun tertawa mendengar celoteh Hyukjae.

Apa kau tidak akan kembali ke kampus?” pertanyaan Hyukjae membuat Kyuhyun bungkam, “Ini adalah minggu ketiga sejak kemunculanmu di hadapan publik. Dihitung-hitung sejak kau kembali ke rumah, kita tidak pernah bertemu lagi. Kurasa, sudah sebulan lebih.

“Aku—” Kyuhyun mendesah sembari memijit pelipis. “Saat ini aku tak tahu harus bagaimana. Aku ingin, tapi aku tak bisa seenak sendiri. Aku tahu pasti bahwa kehidupan seperti ini yang akan aku lalui setelah memutuskan kembali ke rumah. Aku merindukan saat-saat di mana aku hidup tanpa memusingkan banyak hal. Dan juga,” ia terdiam sejenak, seraut wajah kembali melintas di benaknya, “Aku terus memikirkannya.”

Kau belum menemui Mi Rae?

“Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak yakin memiliki banyak waktu untuk bersantai. Aku heran bagaimana ayahku bisa bertahan selama ini?”

Sekembali dari Dubai, cobalah untuk menemuinya.

“Kau tak perlu mengatakan itu. Bahkan jika memungkinkan, saat ini juga aku akan pulang ke Seoul dan berdiri di hadapannya,” Kyuhyun mendesis.

Bukan karena Kyuhyun tidak mampu melakukan itu. Ia bisa saja terbang ke Seoul dengan jet pribadi, tapi hidupnya yang sekarang telah jauh berbeda. Ia bukan lagi seorang mahasiswa pengangguran, melainkan pewaris perusahaan besar. Ia harus bekerja, memikul tanggung jawab besar terhadap Daehan Group.

“Berbaikanlah dengannya, Kyu.”

“Aku tidak suka terjebak dalam keadaan ini, tapi Mi Rae membutuhkan lebih banyak waktu. Di masa lalu, dia pernah mengalami hal yang buruk. Aku tidak bisa menyalahkannya jika dia tidak memercayaiku. Jadi yang bisa kulakukan untuknya adalah menunggu.”

Kau hebat, Kyu,” gumam Hyukjae. “Kau sudah sangat terlatih untuk menunggu rupanya,” katanya lagi dengan candaan dan Kyuhyun tertawa menanggapinya.

“Tanpa disadari aku telah menunggunya untuk waktu yang cukup lama,” Kyuhyun tersenyum tipis, menerawang ke masa-masa yang telah lewat. “Walau itu adalah hal yang sangat menyebalkan, meski jengah, namun pada kenyataannya—aku selalu berdiri di tempat yang sama. Menatapnya dari kejauhan.”

Terkadang kau tak harus selalu menunggu, kau bisa menghampirinya.

“Kau benar,” Kyuhyun menyandarkan tubuhnya di sofa, lebih santai. “Lee Hyukjae. Kau pasti tahu jika aku tidak pernah terburu-buru dalam bertindak, tapi apa kau juga tahu jika aku ini adalah orang yang sangat egois?”

Hyukjae bergeming, namun sejurus kemudian ia tersenyum sumringah. Tentu saja ia mengerti apa yang Kyuhyun maksud.

Saat Kyuhyun menginginkan sesuatu, ia akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan itu. Sesuatu yang berharga adalah hal yang pantas untuk diperjuangkan. Ia hanya akan berhenti jika Tuhan menyuruhnya berhenti. Meski kecewa, ia tahu bahwa itu artinya ia sedang dilatih untuk menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Juga, setelah itu, ia akan belajar untuk merelakan. Bukankah untuk mengetahui hasilnya, ia harus mencobanya terlebih dahulu?

“Sudah waktunya, Anda harus pergi sekarang,” kedatangan Sekretaris Kim menyela percakapan Kyuhyun dan Hyukjae.

“Hyukjae, aku harus pergi.”

Baiklah.

“Hyukjae,” panggil Kyuhyun, mencegah Hyukjae memutuskan sambungan telepon, “Bagaimana keadaannya?” tanyanya kemudian.

Mi Rae mendadak menjadi gadis yang gila belajar. Uhm, maksudku, dia memang selalu belajar, tapi tidak seperti akhir-akhir ini. Saat jam kosong, dia akan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Tak cukup itu, dia bahkan mengambil lebih banyak pekerjaan part time. Jin Ae sering mengeluhkannya padaku. Tampaknya dia sedang berusaha keras untuk mengalihkan pikirannya,” terang Hyukjae panjang lebar. Desahan napas Hyukjae sampai ke telinga Kyuhyun. “Jika kau benar-benar cemas padanya, maka segeralah kembali dan temui nona dramamu itu.

“Iya, aku mengerti.”

Kyuhyun terdiam beberapa saat setelah percakapan itu usai. Lalu setelah menyimpan ponsel di saku jas yang dikenakannya, ia lantas menghampiri Sekretaris Kim yang telah menantinya. Kedua orang itu pun berlalu, meninggalkan kesunyian di dalam kamar hotel mewah yang ditempati Kyuhyun.

***

“Pewaris Daehan Group, Cho Kyuhyun terlihat di Incheon Airport. Cho Kyuhyun baru saja kembali dari perjalanan dinasnya di Dubai. Sejak kemunculannya secara resmi di hadapan publik, saham Daehan Group terus menanjak.”

Malam itu, Baek Mi Rae sedang menyetrika pakaian sambil menonton televisi ketika tanpa sengaja ia melihat headline news. Ia terpaku memandangi seraut wajah tampan berkaca mata hitam itu. Tubuh tinggi Kyuhyun cukup menyolok di bandara. Kyuhyun tampak berjalan tergesa-gesa diikuti oleh beberapa orang. Mereka seolah sedang bermandikan blitz kamera. Dengan sigap seseorang membuka pintu mobil dan Kyuhyun pun masuk ke dalam mobil.

Hingga berita tersebut usai ditayangkan, Mi Rae masih bergeming. Mendadak ia tersedot ke dalam sebuah lamunan yang tak berujung. Orang yang dilihatnya tadi memang Cho Kyuhyun, tapi Kyuhyun terlihat seperti orang lain.

Tentu saja, Kyuhyun yang sekarang adalah seorang chaebol pewaris Daehan Group. Kalau dulu, hanya segelintir orang yang tahu tentang Kyuhyun. Sekarang, mata seluruh dunia melihatnya. Orang itu seperti bintang di langit. Sangat sulit dijangkau.

Tarikan napas panjang membuat udara memenuhi rongga dada Mi Rae dan disaat yang bersamaan, ada rasa sesak di sana. Mi Rae meletakkan tangannya di dada. Rasa sesak itu menghimpitnya kian dalam. Seolah tak cukup mengambil udara melalui hidung, ia lantas membuka mulut. Lagi-lagi ia menarik napas panjang. Lalu, tanpa bisa dicegah, bulir air mata pun mengalun jatuh di kedua belah pipinya. Tak tahu apa yang sedang merasukinya. Tak mengerti dengan perasaannya saat ini.

Mi Rae tercekat saat hidungnya menangkap aroma sesuatu. Ia terpekik setelah menyadari bahwa kemeja coklat kesayangannya telah terpanggang. Buru-buru disingkirkan setrika di tangannya. Mi Rae menggigit bibir kesal. Ia harus berhemat, tapi dengan bodohnya ia telah merusak pakaiannya.

Ia sudah kehilangan semangat untuk melanjutkan pekerjaan rumah. Bukan karena ia telah menghanguskan kemeja tadi, tapi semenjak pemberitaan Kyuhyun, ia merasa tak bisa berkonsentrasi. Akhirnya, Mi Rae memilih untuk beranjak. Ia berjalan menuju pintu keluar dengan kepala yang tertunduk lesuh. Lebih baik ia menenangkan pikirannya dengan menghirup udara malam sembari menatap langit. Hari ini sangat cerah, mungkin saja langit sedang berbintang.

Begitu keluar dari rumah, tak lupa Mi Rae menutup kembali pintu itu. Ia baru saja akan melangkah, ketika ia memekik karena terkejut melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.

Cho Kyuhyun.

Entah sejak kapan Kyuhyun berdiri di situ, dan karena ia terus melamun sehingga tak menyadari keberadaan Kyuhyun sampai ketika ia mendongakkan kepala saat hendak menuju halaman rumahnya.

“Baek Mi Rae,” suara Kyuhyun mengalun lembut di telinga Mi Rae. “Aku pulang,” katanya lagi sambil mengukir senyuman di sudut-sudut bibirnya.

Seluruh tubuh Mi Rae menjadi kaku. Matanya tak berkedip melihat Kyuhyun. Selain tanpa kaca mata hitam yang membingkai mata, penampilan Kyuhyun masih sama seperti yang ia saksikan di televisi tadi.

Jujur saja, jauh di dalam hati, Mi Rae merasa lega melihat pemuda itu. Dadanya yang sesak pun berangsur meringan. Namun saat ia tersadar akan sesuatu, sorot matanya kembali memancarkan rasa yang kurang bersahabat. Ada kesedihan di sana.

“Kau terlihat baik,” Mi Rae berkata datar. “Syukurlah,” katanya lagi dengan suara yang lebih pelan. “Mengapa kau di sini? Aku tak mengira jika kau masih akan menginjakkan kakimu di tempat ini.”

“Aku—” Kyuhyun terdiam. Sekian detik, kembali ia berkata, “Aku ingin melihatmu.”

“Sama sepertimu, I’m fine.”

“Tapi aku tidak baik-baik saja! Kau tidak rindu padaku?”

Rindu?

Mi Rae tercekat. Mungkin itulah jawaban dari rasa sesak dan air matanya tadi, tapi saat ini ada hal lain yang harus diselesaikan dengan pemuda itu. Namun, sebelum ia berbicara, Cho Kyuhyun lebih dulu menyela.

“Aku sangat merindukanmu.”

Debaran dada Mi Rae meningkat. Kyuhyun selalu membuatnya merasakan hal itu. Apalagi melihat sinar mata Kyuhyun saat menatapnya, seperti yang dilakukan pemuda itu sekarang dan membuat kegugupan Mi Rae meningkat. Di dalam hati, ia merasa senang. Namun disisi lain, insting-nya sedang memberinya sebuah peringatan.

“Menyenangkan bagimu, bukan begitu?”

Melihat ekspresi dingin Mi Rae saat berbicara, Kyuhyun tahu jika konflik di antara mereka belum berakhir.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Sama sekali tidak,” Kyuhyun mengerang.

Kemunculan Kyuhyun ke publik secara otomatis membolak-balikkan persepsi Mi Rae terhadapnya. Mi Rae pernah mengalami hal tidak menyenangkan yang membuatnya memproteksi diri sedemikian rupa. Gadis itu pernah disakiti oleh Choi Siwon. Lantas, setelah Mi Rae tahu siapa dirinya, ia mungkin akan beranggapan bahwa Kyuhyun tak berbeda dengan Siwon. Orang-orang kaya yang gemar mempermainkan perasaan orang lain. Terutama gadis miskin seperti Mi Rae.

“Apa hakku untuk tidak memaafkanmu?” gumaman itu terdengar pelan keluar dari dalam mulut Mi Rae. “Lagi pula kau tidak perlu meminta maaf padaku. Ini bukan salahmu. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri. Seharusnya aku tidak memercayai orang lain semudah itu,” jawaban Mi Rae sangat menusuk hati Kyuhyun.

“Mi Rae.”

Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan, membalas tatapan Kyuhyun. “Jalani saja hidupmu dengan tenang. Jangan merasa bersalah padaku. Sungguh, aku tidak apa-apa. Jadi, cukup sampai di sini dan abaikan saja orang sepertiku.”

“Baek Mi Rae, mengapa kau berkata begitu?”

Tak berniat menjawab pertanyaan Kyuhyun, Mi Rae membalikkan tubuh. Ia ingin segera menghilang dari hadapan Kyuhyun. Berlama-lama seperti itu, ia takut jika pertahanannya akan goyah.

“Mi Rae, tunggu!”

Kyuhyun menangkap pergelangan tangan Mi Rae. Gadis itu terhenti dan terdiam. Setelah menarik napas dalam, lalu secara perlahan ia berbalik menghadap Kyuhyun.

“Sudah dua orang yang berkata bahwa hanya orang bodoh yang akan jatuh cinta padaku. Kim Yoo Jo dan kau, Cho Kyuhyun,” tukas Mi Rae. Kyuhyun terperanjat. Mi Rae menatap nanar padanya sambil tersenyum tipis dan kembali bertanya, “Kau sungguh mencintaiku?”

Kata-kata yang tersurat, namun dengan makna yang tersirat membuat debaran jantung Kyuhyun meningkat. Ia dapat melihat luka dari tatapan Mi Rae. Gadis itu memegang tangan Kyuhyun, lalu dengan lembut ia melepaskan cengkeraman Kyuhyun di tangannya.

“Aku yakin kau tidak sebodoh itu, Kyu,” ujar Mi Rae sambil tersenyum getir. Setelah berkata begitu, ia masuk ke dalam rumah, membiarkan Kyuhyun yang mematung.

Jadi…

“Baek Mi Rae mendengar apa yang aku katakan pada Siwon waktu itu?” Kyuhyun bergumam kaku. Karena itu…karena itukah mengapa Mi Rae bersikap dingin padanya?

Dengan sekuat tenaga Kyuhyun mencengkeram rambutnya. Ia menggeram frustasi. Bukan itu maksudnya! Mi Rae harus mendengar semuanya. Walaupun kepalanya terasa akan pecah, setidaknya saat ini ia tak lagi bertanya-tanya tentang akar permasalahan yang terjadi antara dirinya dan Mi Rae. Mi Rae hanya salah paham.

***

“Jadi benar desas-desus itu? Anam terancam?” Jin Ae membuka topik percakapan dengan materi yang cukup berat di telinga Mi Rae. Mereka sedang berada di kafe saat itu, tempat favorit mereka. “Lalu apa yang akan terjadi dengan universitas dan rumah sakit?”

“Saat Daehan memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan Anam, para pemegang saham menjadi kalang kabut,” tanpa membuat perhitungan, Hyukjae langsung saja memenuhi rongga mulutnya dengan air dingin sehingga membuatnya menjerit akibat mulutnya yang terasa beku. Kelakuannya itu mengundang tatapan sedih Mi Rae dan Jin Ae. Setelah berhasil mengatasi keteledorannya, ia kemudian melanjutkan analisanya, “Yayasan Anam sedang dibawah tekanan. Apalagi saham mereka menurun drastis. Kurasa, tidak lama lagi mereka akan menggelar rapat umum pemegang saham.”

“Rapat umum pemegang saham?” Jin Ae bertanya, heran.

“Tentu saja, untuk memecat Direktur Yayasan Anam dan memilih direktur yang baru,” jawab Hyukjae sambil menyengir puas.

Mi Rae keheranan dengan ekspresi Hyukjae. Seseorang sedang dalam kesulitan tapi Hyukjae terlihat senang. Kalau tidak salah, orang yang sedang mereka bicarakan adalah keluarga Choi Siwon. Insiden terakhir yang terjadi dengan Siwon membuat Mi Rae marah, tapi mendengar kemalangan yang menimpa Siwon, rasanya ia tetap tidak bisa memamerkan seringaian mengerikan seperti yang dilakukan Hyukjae tadi.

Bagaimanapun, tidak baik jika bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.

“Selama ini Anam baik-baik saja. Ini adalah pertama kalinya Anam diterpa badai besar,” Jin Ae memiringkan kepala, terlalu serius berpikir.

Sementara itu, Mi Rae lebih memilih diam. Pembicaraan Hyukjae dan Jin Ae adalah sesuatu yang diluar jangkauannya. Ia sedikit paham, tapi baginya tidak ada guna jika ia ikut berbicara. Ia lebih tertarik mengawasi ponselnya yang baru saja bergetar.

-Maafkan aku, Mi Rae. Jika kau tak sibuk, ada yang ingin aku sampaikan padamu.-

Setelah berpuluh kali Mi Rae mengabaikan telepon dari Kyuhyun, pemuda itu lantas mengiriminya sebuah pesan. Mi Rae mendongakkan kepala, menatap langit-langit kafe sambil mengembuskan napas panjang.

“Kau mau ke mana?” tanya Jin Ae begitu melihat Mi Rae beranjak.

“Tugasku belum selesai.”

Jin Ae dan Hyukjae hanya saling pandang melihat kepergian Mi Rae. Keduanya sudah tahu ke mana lagi gadis itu akan pergi kalau bukan perpustakaan. Terasa seperti tidak ada yang lebih sibuk di kampus selain Baek Mi Rae. Hyukjae bahkan beranggapan jika otak Mi Rae telah dicuci oleh Professor Kang agar menjadi penerus dosen yang dijuluki si gila oleh para mahasiswanya.

Apa pun yang dipikirkan Hyukjae dan Jin Ae, alasan mengapa Mi Rae menyibukkan dirinya adalah ia ingin segera lulus. Dan juga, belajar adalah cara yang ampuh untuk mengalihkan pikirannya dari Kyuhyun.

“Baek Mi Rae!”

Langkah Mi Rae terhenti melihat Choi Siwon yang sedang menghampirinya. Gadis itu memeluk buku dalam dekapannya dengan begitu erat. Ia berusaha untuk mengendalikan diri.

“Bisa bicara sebentar denganku?”

Mi Rae tak bersuara, namun ia menyetujui permintaan Siwon. Ia mengikuti Siwon. Mereka berjalan menuju ke sebuah tempat yang lebih sepi.

“Katakan!”

Seru Mi Rae karena sekian lama Siwon membungkam. Ia sudah jengah berada di situ dan ingin segera pergi.

“Tentang perlakuanku padamu saat itu—”

“Jangan dibahas lagi!” potong Mi Rae cepat, “Anggap saja hal itu tidak pernah ada. Tolong jangan membuatku teringat pada kejadian hari itu.”

“Aku minta maaf, Baek Mi Rae.”

Mi Rae tertegun. Ia menatap Siwon lebih serius lagi. Kejadian terakhir kali membuatnya semakin sulit memercayai Siwon.

“Ini salahku. Seharusnya aku tidak muncul di kehidupanmu. Sejak awal, yang aku berikan padamu hanyalah luka,” Siwon berujar pelan. Ia sangat sedih. Betapa buruk yang ia lakukan pada Mi Rae.

Sejujurnya Mi Rae merasa sedih. Bagaimanapun juga, Choi Siwon adalah orang yang pertama kali membuatnya mengenal cinta.

“Tidak ada yang bisa kita ubah, Siwon.”

“Tentang perasaanku padamu, aku sangat tulus. Aku mencintaimu sepenuh hati.”

“Aku tahu,” ucapan Mi Rae membuat Siwon tertegun. “Lantas, apa gunanya sekarang? Yang kau lakukan padaku—” Mi Rae terdiam. Menyentuh kembali kenangan buruk di masa lalu adalah sesuatu yang ia hindari. “Gadis yang kau kenal sudah lama menghilang. Gadis yang berdiri di hadapanmu sekarang, telah membuang jauh perasaannya padamu. Seperti inilah aku, Baek Mi Rae.”

Sepoi angin bermain manja menyapu permukaan kulit. Mereka masih saling pandang dalam kesunyian. Siwon mendesah pelan, ia menatap lembut dan tersenyum pada Mi Rae.

“Aku menyesal terlambat menyadarinya. Waktu dapat mengubah segalanya. Itu benar,” ujar Siwon. “Aku patah hati dan cemburu pada orang yang telah menggantikan posisiku di hati Baek Mi Rae.”

Bola mata Mi Rae sedikit melebar. Entah apa maksud Siwon berkata demikian, dan itu membuat jantungnya berdebar-debar kuat.

“Cho Kyuhyun sangat beruntung. Dia pasti sangat senang.”

“Aku tidak—”

“Mencintai Baek Mi Rae adalah sebuah kebodohan.”

“Kau?” Mi Rae tersentak. Tidak mengira jika ia masih akan mendengar kalimat seperti itu.

“Makna dari satire yang Kyuhyun lontarkan sangat berbanding terbalik. Dia memang menyindirmu habis-habisan, tapi setelahnya, sindiran itu berubah menjadi sebuah sanjungan. Dia tidak keberatan jika terjebak dalam kebodohan semacam itu, katanya, mencintaimu adalah kebodohan yang sangat manis. Bukankah terdengar lucu?”

Alis Mi Rae saling bertaut, ia tidak mengerti apa yang sedang diungkapkan oleh Siwon. Apa niat Siwon sebenarnya? Matanya hanya menatap bulat, mengawasi Siwon yang mendesah.

“Caranya mencintaimu tidak biasa. Aku bahkan tidak bisa mencintaimu seperti yang ia lakukan. Aku iri padanya.”

Terdiam, dan akhirnya Mi Rae tertawa kaku. “Jangan mengada-ngada,” sebenarnya, ia masih digerogoti oleh kebingungan yang luar biasa di dalam pikirannya.

“Dan kau sangat menyedihkan, Mi Rae,” tatapan tajam Siwon seolah memenjarakan Mi Rae. Ia tak berkutik. “Karena kau buta.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kau hanya melihat dengan matamu, itulah sebabnya kau tidak bisa melihat ketulusannya, ” jawab Siwon. “Kau jauh lebih bodoh daripada yang kukira. Bahkan jika orang lain tidak percaya padamu, seharusnya kau lebih percaya pada dirimu sendiri. Kau justru meragukan perasaanmu.”

“Choi Siwon. M-mengapa, kau mengatakan ini padaku?” tanya Mi Rae dengan terbata. Kata-kata Siwon terlalu keras di telinganya.

“Karena aku muak pada kalian!” ucapan yang dilontarkan Siwon kedengaran sangat kejam. Siwon berpaling, meninggalkan Mi Rae tanpa memedulikan Mi Rae yang terlihat sangat terpukul. Ia kembali berkata pelan pada dirinya sendiri, “Aku muak hanya sebagai orang ketiga.”

Entah berapa lama Mi Rae bergeming. Jangankan menggerakkan tubuh, berbicara saja tidak bisa ia lakukan. Siwon seolah baru saja menyetrumnya dengan listrik tegangan tinggi. Tubuhnya serasa disengat. Seluruh sarafnya seakan saling tarik-menarik. Hingga ia memaksakan kakinya melangkah pelan, pikirannya masih saja mengambang di udara. Kosong. Aneh. Sedih. Atau mungkin saja—senang? Ia begitu sulit menjelaskan suasana hatinya sendiri. Air mata pun tidak bisa dibendung.

Ia menangis pelan. Meneteskan air mata dalam kesunyian pada saat ia justru sedang berada di tengah keramaian. Hiruk pikuk, khas suasana kampus tertelan entah ke dasar bumi ke berapa. Mengapa ia tiba-tiba merasa sangat sendirian sekarang?

Hingga akhirnya Mi Rae tersadar, otaknya yang sedang kalut mulai berpikir secara jernih dan menyeluruh. Hal pertama yang ia lakukan setelah mendapatkan kembali akal sehatnya adalah mengais-ngais isi tas selempangnya. Ia tak membuang waktu dan segera melakukan panggilan melalui ponsel setelah menemukan benda itu tersembunyi di antara kumpulan buku di dalam tas.

Tidak menjawab.

Kembali Mi Rae mencoba untuk menghubungi nomor itu. Terhubung, tapi tidak dijawab. Setidaknya sudah enam kali ia mencoba menelepon.

Mi Rae tidak bisa bersabar kali ini. Tidak seperti biasanya yang selalu cuek dan malas tahu. Tanpa membuang banyak waktu, ia lantas bergegas, terburu-buru meninggalkan kampus. Ia terus meremas jari-jari tangan sembari menunggu bus di halte di seberang kampus. Gugup dan cemas sedang menggodanya habis-habisan. Sekarang, di dalam kepala Mi Rae hanya terlintas satu hal.

*

Distrik Gangnam.

Disebut-sebut sebagai tempat paling elit di Korea Selatan, bahkan para pejalan kakinya pun seolah sedang mempertontonkan fashion terkini. Tempat di mana semua orang ingin berada atau sekedar merasakan gaya hidup kelas atas. Namun tidak terbesit di otak Mi Rae yang sangat sederhana itu untuk sering menginjakkan kaki atau nongkrong di tempat-tempat hiburan di Gangnam seperti yang dilakukan kebanyakan muda-mudi. Seolah menjadi ajang bagi mereka untuk menemukan pasangan yang kaya. Bagi Mi Rae, Gangnam adalah tempat yang sebisa mungkin harus ia hindari.

Sekarang, ia harus menarik napas panjang ketika ia membuat pengecualian terhadap prinsip hidupnya, sehingga membuatnya harus berada di depan sebuah bangunan yang berdiri kukuh dan menjulang tinggi. Daehan Group.

Setelah menghirup udara dalam-dalam dan membulatkan tekad, ia mulai melangkahkan kakinya dan bergabung dengan orang lain.

Mi Rae sedikit kebingungan berada di lobi kantor pusat Daehan Group yang begitu luas itu. Matanya hanya memerhatikan ke sekeliling, mengawasi orang-orang yang lewat. Dengan rasa gugup yang terus mendera, ia melangkah pelan menuju tempat para receptionist.

“Ada yang bisa kami bantu?” sapa ramah salah seorang receptionist.

“Ng, aku—aku ingin bertemu dengan Kyuh—” Mi Rae terdiam setelah menyadari sesuatu, dan buru-buru memperbaiki kesalahannya, “Maksudku, Cho Kyuhyun,” ia tidak bisa seenaknya menyebut nama Kyuhyun secara tidak formal. Apalagi di Daehan Group.

“Direktur Cho Kyuhyun?”

Gadis itu justru terhenyak mendengar pertanyaan sang receptionist yang seolah sedang meyakinkan orang yang ingin ditemuinya. Ah, benar. Kyuhyun sekarang adalah salah satu direktur di Daehan—kalau tidak salah ingat, beberapa hari lalu Hyukjae pernah mengatakan padanya dan Jin Ae bahwa Kyuhyun dilimpahi tugas sebagai direktur, tapi ia lupa di divisi mana.

“Iya, benar.”

“Apakah Anda sudah membuat janji dengan Direktur Cho?”

“Ah—itu…belum,” jawab Mi Rae.

“Maaf Nona, Anda harus membuat janji terlebih dahulu sebelum menemui Direktur Cho.”

“Aku tidak mengira akan sesulit ini,” gumamnya pelan.

“Maaf?”

“Tidak. Tidak apa-apa,” elak Mi Rae. “Bisakah Anda menghubungi direktur dan memberitahunya jika aku ingin bertemu? Dia pasti akan menyetujuinya,” wajah receptionist itu terlihat ragu dan hendak menolak permintaan Mi Rae, “Ini sangat penting. Kumohon.”

Wanita itu terlihat berpikir sejenak, hingga akhirnya ia berkata, “Baiklah, tunggu sebentar,” ia segera menelepon ke kantor Kyuhyun, tepatnya ke meja sekretaris pribadi Kyuhyun. Beberapa saat, ia menutup pesawat telepon tanpa sempat berbicara dengan siapa pun di seberang. “Maaf Nona, teleponnya tidak diangkat.”

Kekecewaan tercetak di raut wajah Mi Rae. Ia tidak pernah mengira jika akan sesulit ini bertemu dengan Kyuhyun. Padahal, dulu Kyuhyun selalu muncul di mana pun ia berada.

“Baiklah. Terima kasih,” ujar Mi Rae dengan gesture yang penuh hormat dan sopan. Ia berpaling dan pergi.

Sementara itu, Kim Ryeowook yang sempat melihat dari kejauhan, datang menghampiri receptionist tadi. “Ada apa?”

“Sekretaris Kim, kebetulan sekali. Tadi aku menelepon ke tempatmu. Gadis itu berkata ingin bertemu dengan Direktur Cho Kyuhyun.”

“Menemui—direktur?” ulang Kim Ryeowook dan dijawab oleh anggukan kepala wanita penerima tamu itu. Dari lipatan dahi yang terlihat, ia pasti sedang berpikir.

Pemuda itu lantas beranjak. Berjalan menghampiri lift, begitu sebuah lift terbuka, tanpa pikir panjang ia masuk ke dalamnya dan bergabung dengan karyawan lain. Buru-buru ia menuju kantornya yang berada di lantai lima belas.

Ryeowook duduk sejenak di belakang meja kerjanya, ia kembali berdiri dan berjalan ke arah sebuah pintu yang tertutup. Ia membuka pintu tersebut. Ruangan di dalam yang tertata rapi itu tampak kosong. Lalu, ia kembali ke meja kerjanya dan mulai fokus menatap monitor.

Kedatangan Cho Kyuhyun hampir satu jam kemudian membuat Ryeowook berdiri sigap. Kyuhyun masuk ke dalam ruang kerjanya, diikuti oleh Ryeowook.

“Ada dokumen-dokumen yang perlu ada periksa, Direktur,” ujar Ryeowook pada Kyuhyun yang baru saja menghempaskan diri di kursi kerjanya yang sangat nyaman.

“Aku akan memeriksanya sebentar lagi,” jawab Kyuhyun sembari memijit pelipisnya. Ibunya mengharuskannya untuk hadir dalam setiap rapat. Sekarang, ia terlihat cukup lelah.

Setelah memberi hormat, Kim Ryeowook bermaksud untuk membiarkan Kyuhyun sendiri dan beristirahat. Sebelum keluar dari ruangan itu, ia teringat pada sesuatu sehingga membuat niatnya untuk pergi urung.

“Direktur, tadi ada seorang gadis yang datang dan ingin bertemu denganmu,” ucapan Ryeowook membuat perhatian Kyuhyun teralih. Kyuhyun mengangkat wajahnya, menatap Ryeowook. “Seorang gadis yang tampak sangat kaku. Ia seperti tidak memiliki ekspresi di wajahnya,” ia berusaha mengingat ciri-ciri gadis yang dilihatnya tadi dan tanpa sadar hal tersebut justru membuatnya bergidik.

Mendengar itu, Kyuhyun terhenyak. Ia langsung menebak siapa gadis yang dimaksud oleh sekretarisnya itu. Dengan sigap ia meraba saku jas, hendak mencari ponsel, tapi benda yang dicarinya justru terletak manis di atas meja kerja. Kyuhyun semakin terkejut saat melihat beberapa panggilan yang dilakukan oleh Mi Rae. Mi Rae tidak pernah menghubunginya lebih dahulu, apalagi dengan sengaja datang mencarinya. Apakah sesuatu telah terjadi?

Daripada merenung dan bertanya pada diri sendiri, Kyuhyun lebih memilih bergerak cepat untuk menjemput jawaban. Ia meninggalkan ruangan tanpa memberi cela pada Kim Ryeowook untuk sekedar mengatakan sesuatu.

*

Langkah kaki gontai Mi Rae terdengar di sepanjang jalan kecil yang ia susuri. Ia menapaki anak tangga satu per satu. Tidak bersemangat. Ia sudah hampir sampai di rumah, namun pikirannya masih tertinggal di Daehan Group.

Mi Rae terus berpikir. Tidak biasanya Kyuhyun akan mengabaikannya seperti saat ini. Kyuhyun adalah orang yang akan selalu merecokinya, bahkan disaat ia sedang marah.

Baek Mi Rae, apa yang sebenarnya kau inginkan?

Gadis itu merasa lucu terhadap dirinya sendiri. Lalu mengapa ia harus sedih dan kesal saat Kyuhyun tidak bisa ditemui? Bukankah ini yang ia mau? Mengusir Kyuhyun dari kehidupannya. Pasti ini yang dirasakan Kyuhyun ketika ia terus mengabaikan pemuda itu. Ah, jadi sekarang ia sedang menerima hukum karma.

Tepat di bawah sebuah lampu jalan, Mi Rae berhenti. Jarum jam di tangan kirinya telah menunjukkan pukul 22.14 waktu setempat. Hari ini tidak ada jadwal part time. Begitu pulang dari Daehan Group tadi, ia tak langsung ke rumah. Terkurung di rumah dalam situasi seperti itu bisa memperparah rasa sesak yang di dadanya. Alih-alih ke perpustakaan seperti yang biasa ia lakukan untuk mengalihkan perhatian, ia lebih memilih menghabiskan waktu berharganya dengan berjalan-jalan tanpa tujuan. Ia tahu jika tetap memaksakan diri untuk belajar adalah ide yang sangat buruk. Sudah pasti tidak ada satu pun yang akan tertinggal di otaknya.

Mi Rae menggeleng kasar, berusaha mengembalikan dirinya seperti sedia kala. Sudahlah, sebaiknya ia pulang dan tidur. Ia langsung mengayunkan kakinya menuju rumah yang hanya beberapa langkah. Lagi-lagi ia berhenti. Bukan karena otaknya tiba-tiba memaksa untuk memikirkan kejadian hari ini, tetapi melainkan karena apa yang tertangkap oleh retinanya dalam remang-remang malam.

Cho Kyuhyun sedang duduk di dipan yang berada di halaman rumahnya. Pemuda itu mengenakan kemeja putih yang lengannya telah digulung. Ia telah melepaskan jas dan meletakkan jas itu di atas dipan, tepat di sebelahnya. Ia membelakangi Mi Rae, menghadap ke sisi lain sambil mengawasi pemandangan malam Kota Seoul yang terpantau jelas dari situ.

Mi Rae mengedipkan matanya sekali. Kyuhyun masih di situ. Berarti, ia tidak sedang berhalusinasi melihat Kyuhyun. Dalam kegugupannya yang mendadak dipaksa bangkit, ia melangkah mendekati Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun.”

Mendengar suara Mi Rae membuat Kyuhyun segera menoleh, memadaangi Mi Rae sedang berdiri kaku.

“Dari mana saja?” tanya Kyuhyun dengan suaranya yang terdengar lembut seperti biasa. “Aku sudah menunggumu sejak beberapa jam lalu. Mengapa ponselmu tidak bisa dihubungi?” tanyanya lagi.

Yang ditanya langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan ia baru menyadari jika ponselnya mati. Kyuhyun tersenyum.

“Duduklah,” ia meminta Mi Rae duduk di sisinya. Gadis itu hanya menuruti apa yang diucapkan oleh Kyuhyun.

Mereka terdiam beberapa saat. Jantung Mi Rae mulai berdegub kencang. Apalagi kesunyian yang tercipta membuatnya bisa mendengar saat Kyuhyun menarik napas panjang. Ia memberanikan diri menoleh pada Kyuhyun. Pemuda itu masih membungkam sambil memandangi lampu-lampu Kota Seoul. Saat Kyuhyun menoleh dan membuat mata mereka bertemu, Mi Rae buru-buru memalingkan wajah. Sungguh, ia sangat gugup sekarang. Keadaan seperti ini bisa membuatnya gila.

Kyuhyun tersenyum melihat kegugupan yang terbaca dari gesture tubuh Mi Rae. Ia bahkan tertawa memamerkan susunan giginya, meski tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Hei~ mengapa keadaan menjadi sangat canggung begini?”

“Eh? Apa?” Mi Rae tersentak. Suara Kyuhyun bisa membuatnya kaget berkali-kali lipat, padahal Kyuhyun berbicara dengan suara yang cukup pelan. “Ah—itu, itu, maksudku…,” otaknya tiba-tiba kosong sehingga susunan kalimat yang telah ia rangkai di otaknya mendadak hilang.

Kyuhyun mengubah posisinya. Ia memiringkan tubuh, sehingga posisi duduknya sedikit menyerong dan menghadap Mi Rae.

“Baek Mi Rae,” panggil Kyuhyun pada Mi Rae yang terus menunduk. “Mi Rae. Lihat aku!” titahnya. Karena Mi Rae belum juga bergerak sehingga Kyuhyun harus memegang kedua tangan Mi Rae, membuat gadis itu berhadapan dengannya. Kyuhyun kembali tertawa melihat wajah Mi Rae yang pucat pasi, “Kau lapar?” goda Kyuhyun.

“Tidak!”

Kyuhyun tertawa lagi. Lalu mereka kembali terdiam. Mereka memandang satu sama lain. Mi Rae menarik napas panjang. Bagaimanapun juga, ia harus mengatakan sesuatu. Diam seperti ini membuatnya merasa sangat bodoh. Kyuhyun sengaja memberinya waktu untuk berbicara.

“Tadi aku—”

“Aku tahu.”

“Apa?” Mi Rae terkejut karena Kyuhyun memotong kalimatnya.

Jika Kyuhyun sudah tahu, lalu apa gunanya ia bertingkah seperti orang yang akan mati hanya demi mengutarakan isi hatinya pada Kyuhyun? Mendadak ia menjadi sangat kesal dan langsung menghempas kasar tangan Kyuhyun.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun yang kebingungan melihat perubahan suasana hati Mi Rae yang begitu drastis.

“Kurasa tak perlu kukatakan. Kau sudah tahu, bukan?”

“Mi Rae.”

Kyuhyun tertegun, tapi itu tidak berlangsung lama. Ia justru tertawa terpingkal-pingkal dibuat Mi Rae.

“Dan sekarang kau menganggap ada yang lucu di sini?”

“Ah, maaf,” kata Kyuhyun disela-sela tawa. Sebelum Mi Rae benar-benar meledak, sebaiknya ia tutup mulut. “Baiklah, katakan padaku,” Kyuhyun berujar lembut.

“Aku sudah tidak tahu apa yang akan aku katakan,” jawab Mi Rae polos. Kyuhyun hampir tertawa lagi, tapi ia memilih menahan hasratnya itu sebelum Mi Rae memusuhinya untuk selama-lamanya. “Tadinya, banyak sekali yang ingin aku katakan padamu. Kata-kata yang tersusun di benakku hilang begitu saja.”

Senyuman manis terukir di sudut bibir Kyuhyun, “Bahkan jika kau tak mengatakan apa pun. Aku selalu ingin memahamimu.”

Mi Rae memandangi langit. Hari ini tidak ada bintang. Pandangannya berubah. Ia memberanikan diri beradu pandang dengan Kyuhyun. Meski begitu, jari-jari tangannya saling meremas menandakan jika rasa gugup yang menderanya belum sepenuhnya hilang.

“Bagaikan sebuah mimpi buruk, aku selalu hidup dalam kecemasan dan ketakutan karena aku tidak memiliki seseorang yang bisa kupercaya. Mimpi buruk yang terus berulang itu, aku ingin mengakhirinya di sini,” ujar Mi Rae pelan. Ia mengumpulkan banyak udara di rongga dadanya. Matanya menatap sendu, sementara Kyuhyun masih tersenyum hangat menanti kelanjutan kata-kata yang akan ia lontarkan. “Jadi, bolehkan aku memercayaimu?”

Senyuman Kyuhyun menghilang bersama detik-detik yang berlalu setelah mendengar apa yang terlontar dari mulut Mi Rae. Tak bisa dipungkiri jika ia sangat terkejut. Tidak ada yang mencoba berbicara. Mereka hanya diam dan saling menatap dengan durasi yang jauh lebih lama dari sebelum-sebelumnya. Hanya desir-desir aneh yang berperan aktif di sekujur tubuh mereka.

Tangan Kyuhyun bergerak perlahan, mengambang di udara dan mulai mengarah pada Mi Rae. Ia menyentuh rambut Mi Rae yang tersibak dipermainkan angin, menyelipkan rambut itu di belakang telinga Mi Rae.

Mi Rae merasa dirinya akan terbunuh karena rasa gugup yang menyerangnya tanpa ampun. Bagaimana tidak, ia dapat merasakan bahwa wajah Kyuhyun terlihat lebih dekat dalam pandangannya. Isi otak Mi Rae seperti dikuras habis dan ia mulai kehilangan kewarasannya. Bahkan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Lumpuh.

Apa ini? Kyuhyun akan menciumnya?

~bersambung~

Hai..hai…sy datang lagi ^^

Apa kalian berjamur menunggu part 12 ini sodara2?

Setelah sy lirik postingan terakhir part 11, ternyata sudah hampir tiga bulan yang lalu. Astagaaaa!!

Ya udah, gak mau banyak cincong. Selamat membaca dan semoga terhibur.

Mohon bantuannya utk koreksi, kritik atau pun saran2.

Omong2, biar udah lewat…Merry Christmas ya buat teman2 yang merayakan. Jesus bless us.

Selamat tahun baru juga.

Di tahun baru ini, semoga apa yang dicita-citakan teman2 semua bisa tercapai.

Amin.

Iklan

246 thoughts on “Drama (Part 12)

  1. cho_hyuri berkata:

    Huwaaaaaa…… !!!!
    Pacaran, pacaran, pacaran.
    Semnagat nya saya, greget nya sayyaaaaa….
    Aaaaaaaa…..
    Eonnniiiii…… 😂😂😂😂😂😂😂😂😆😆😆😆

  2. nae.ratna berkata:

    sadar juga ternyata mirae
    asyek dah mulai mau percaya nih sama kyuhyun cie cie cie…kkk
    klo ibu.a tau kyuhyun deket sama mirae gimana yah(?)

  3. Leah berkata:

    Konfliknya makin seru dan disini akhirnya mirae udah tau perasaan Kyuhyun yg sebenarnya.
    Aduh kakak Author yg kece, please itu bersambungnya kenapa ada disitu? Ini udah deg degan loh nunggu kelanjutannya

  4. Hana Choi berkata:

    Bakalan kaya drama sesungguhnya engga ya? Greget bangettttt deh sama mereka berdua apalagi mi rae kaya masih ragu” semoga di next part mereka udh jadian

  5. My labila berkata:

    Jin Ae selalu heboh kalau dengar berita yg menggemparkan, akhirnya kesalah pahaman kyuhyun dan Mi Rae selesai juga, yg pas akhir deg-degan….sampai sekarang

  6. ina berkata:

    ahhhhh akhirnya kesalahpahamannya selesai juga……
    greget banget sama mereka ber2.. udah si jadian…. nikah aja kalo bisa .. wkwkwk
    sika sama karakter kyu disini hangat lembut perhatian dan terasa banget cintanya wkwkw

  7. whitedear berkata:

    semakin lama hubungan mereka semakin dekat yaa.. udah deh pacaran aja 🙂 ayoo mi rae buka hatimu untuk kyuhyun hehehe nggak sabar nunggu mereka jadian

  8. Kyuni berkata:

    Suka dengan kalimat jgn percaya dgn apa yg kmu lihat,karna mata dapat menipu,,,entah knpa aku geli sendiri klw byngin reaksi jin ae dan mirae pas liat konferensi pers kyu,,,akhirnya kesalahpahaman mereka telah selesai dan mirae jgn raguin kyu lagi ya

  9. noebita berkata:

    Jadi mewek ngeliat kyu ma keluarganya. Yaaak .., kyu gak mau nyium mirae kan ya? Kyu kan tau jelas bagaimana prinsipnya mirae. Kasihan hyukjae dikasih beban berat buat ngurus 2 wanita absurd. Hhh

  10. aulia fitri berkata:

    Gak nyanka kyuhyun seorang tuan muda. Kirain kyuhyun itu anak seorang mafia asli. Kasian juga sma mi rae dia pasti ngerasa ga percaya diri lagi huhu. Makimn suka aja sma ff ini

  11. Lala berkata:

    Aaaaaaaaa….. itu bersambung knp disituuuu
    Greget kakk 😆😆😆
    Tambah so sweet aja mereka 💕💕💕

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s