Drama (Part 13)

Drama (Part 13)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Benarkah Kyuhyun sungguh akan menciumnya? Jika ini mimpi, ia berharap seseorang akan segera membangunkannya.

Bibir mereka hampir bertemu, namun Kyuhyun berhenti. Ia mengawasi wajah Mi Rae yang begitu dekat. Sang gadis yang tengah menutup mata kuat. Pandangan Kyuhyun beralih pada kedua tangan Mi Rae yang mengepal erat di atas paha. Kyuhyun tersenyum lembut, lalu mengangkat kepalanya sedikit sehingga bibirnya menyentuh kehing Mi Rae. Lalu, berpindah lagi dan mengecup dahi Mi Rae, membuat gadis itu tertegun. Namun ia kembali memejamkan mata, meresapi kecupan dalam Kyuhyun.

Mata Mi Rae terbuka perlahan sesaat setelah dahinya bebas dari bibir pemuda itu. Ia dapat melihat senyum hangat Kyuhyun. Lalu pemuda itu meraih tubuhnya dan mendekapnya lembut.

Kyuhyun mendekatkan bibirnya di telinga Mi Rae dan berbisik, “Jika aku melakukannya, aku cemas bahwa kau akan meminta pertanggungjawabanku.”

“Apa?” tanya Mi Rae yang tidak mengerti maksud perkataan Kyuhyun.

“Katamu, kau hanya akan mencium suamimu. Jadi, dapat kusimpulkan bahwa menyentuh bibirmu sama artinya dengan mengakhiri masa lajangku.”

Mi Rae tercengang. Sedetik kemudian, ia mendorong kasar tubuh Kyuhyun. Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya pada Mi Rae sambil tersenyum jenaka dan ia mulai tertawa terpingkal-pingkal. Baek Mi Rae yang selalu teguh pada prinsip hidupnya, tapi kenapa tadi…. argh, ia sudah tak bisa berkata-kata bahkan di dalam hatinya. Pesona seorang Cho Kyuhyun memang sangat menakutkan dan harus diwaspadai. Sekarang ia sangat malu dan mulai marah. Kyuhyun sedang mempermainkannya.

Saat Mi Rae berdiri dan hendak pergi, Kyuhyun menariknya, membuatnya kembali terduduk. Senyumannya membuat amarah Mi Rae sedikit terkendali.

“Katakan, siapa yang tidak ingin menyentuh orang yang dicintainya?” kontan saja dada Mi Rae berdesir-desir. “Aku menyukai kau yang seperti ini dan aku tidak ingin mengubahmu. Kau jangan melupakan prinsip yang mati-matian kau pertahankan hanya karena aku, atau siapa pun. Aku sangat menghargai itu,” sekarang Mi Rae merasa tubuhnya mulai meleleh seperti es krim yang terkena panas. Apa-apaan Cho Kyuhyun itu? “Tapi kau jangan memprovokasiku. Kau harus tahu betapa sulitnya bagiku untuk menahan diri,” Kyuhyun memamerkan seringaian lebarnya.

Lama terdiam, Mi Rae tersenyum dan ia ikut tertawa. Semarah apa pun dirinya, tapi Kyuhyun selalu sukses membuatnya tersenyum. Orang yang jarang tertawa seperti dirinya, tapi nampaknya tak bisa berkutik di hadapan Kyuhyun. Dua orang itu sama-sama tertawa, entah apa yang mereka lucukan sekarang.

Lalu tiba-tiba saja suasana menyenangkan itu dirusak oleh Kyuhyun yang menarik Mi Rae dan tanpa pikir panjang langsung menggosok-gosok bibir Mi Rae dengan tangannya. Hal itu membuat Mi Rae tersentak kaget dan berusaha melepaskan diri, namun Kyuhyun justru semakin bersemangat dengan tindakannya itu.

“Apa yang kau lakukan?” teriak Mi Rae setelah berhasil menghindar.

“Bibirmu pernah disentuh oleh Siwon!” erangnya, tidak terima. Lagi-lagi ia menggosok bibir Mi Rae dengan tangannya sambil berkata, “Aku harus menyucikan bibir ini! Dasar lelaki brengsek itu! Woaahh…bagaimana bisa dia menyentuhmu? Menyentuh Baek Mi Rae-ku yang polos…,” Kyuhyun emosi sendiri dan tak henti menggosok bibir Mi Rae seolah ada kotoran di sana yang sulit dibersihkan.

“CHO KYUHYUN!” Mi Rae mendorong Kyuhyun.

“Kenapa?” melihat Kyuhyun yang bertanya dengan lugu membuat Mi Rae mengigit bibir bawahnya. “Jangan coba-coba kau meminta Choi Siwon bertanggung jawab!” serang Kyuhyun. Mi Rae mendelik. Tak cukup sampai di situ, Kyuhyun masih saja memberi petuah pada Mi Rae, “Mi Rae, kau harus berhati-hati. Kau tak boleh percaya pada orang lain yang terlihat baik padamu sebelum kau mengetahui motif mereka—kau…,” melihat Mi Rae sedang menatap aneh padanya dengan sebelah alis yang terangkat, kata-katanya pun tertahan. Ia mulai menyadari sesuatu, “Ah, kecuali aku,” katanya dengan percaya diri. “Ingat! Kau harus berpegang teguh pada prinsip hidupmu. Jangan mencium orang yang bukan suamimu. Aish…apa sebaiknya aku menandaimu sebagai hak milik?”

“Cho Kyuhyun! Aku bukan barang! Kau mulai tidak waras rupanya,” decak prihatin Mi Rae melihat keanehan Kyuhyun. Mi Rae bahkan mulai menduga bahwa menjadi penerus Daehan mungkin membuat otak Kyuhyun sedikit bergeser. Gadis itu menarik napas panjang, “Yang tadi itu…,”

“Hm?”

“Aku senang kita bisa tertawa seperti ini. Tentang hubungan kita—” Mi Rae menarik napas dalam. “Aku—”

“Hey~ sahabat. Terima kasih sudah percaya padaku,” Kyuhyun memotong perkataan Mi Rae. Ia sudah bisa menebak apa yang mengganggu pikiran Mi Rae. “Kau tak perlu mencemaskan apa pun. Jangan sekali-kali merasa tidak enak terhadapku. Kita jalani hidup kita, biar saja mengalir seperti air. Aku akan membencimu jika kau menerimaku karena terpaksa. Aku ingin kau datang padaku karena kau punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan padamu. Sampai kau benar-benar siap dan yakin, aku akan tetap menunggu.”

Mendengar penuturan Kyuhyun membuat Mi Rae tertegun. Seperti kata Siwon jika Kyuhyun adalah seseorang yang penuh dengan ketulusan. Kyuhyun tersenyum dan Mi Rae tak sungkan mengulas senyum di bibirnya.

***

“Kondisi dimana terjadinya benturan pada dada atau dinding thorax, baik karena benda tumpul maupun tajam sehingga menyebabkan abnormalitas pada rangka thorax. Kita menyebutnya sebagai trauma thorax. Perubahan bentuk pada thorax karena trauma dapat menyebabkan gangguan fungsi atau cedera pada organ bagian dalam rongga thorax. Hal ini bisa menimbulkan kondisi patologis traumatik.”

Sementara dosen sedang menerangkan, roh Baek Mi Rae justru berpencar entah negeri antah berantah mana. Tidak memerhatikan pelajaran merupakan hal yang sebisa mungkin dihindari Mi Rae. Apalagi dengan kapasitas otaknya—yang menurutnya cukup memprihatinkan—membuat gadis itu berusaha keras untuk fokus.

Hari ini, Mi Rae melamun. Memang bukan pertama kali baginya untuk kehilangan pikiran di tengah pembelajaran, namun alasan yang membuatnya bertingkah seperti itu masih sama seperti alasan sebelumnya. Siapa lagi kalau bukan karena Cho Kyuhyun.

Tak tahu apa yang sudah Kyuhyun lakukan hingga otak Mi Rae tercemari. Gadis yang biasanya bertingkah lurus itu mendadak nampak seperti orang yang sedang amnesia. Tatapannya sedikit kosong. Tak jarang ia merengut malas, dan sesekali juga ada senyum tipis yang tiba-tiba saja menghiasi sudut bibirnya.

Han Jin Ae menggeleng pelan sambil berdecak. Sebetulnya, ia pun tidak konsentrasi hari ini. Dibandingkan memerhatikan dosen, ia lebih tertarik mengawasi gerak-gerik Mi Rae yang terasa janggal.

“Apa kita akan merayakannya?”

Mi Rae menoleh pada Jin Ae yang telah menyamakan langkah kakinya saat mereka keluar dari ruang kelas. Gadis itu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum aneh. Ia menyenggol-nyenggol lengan Mi Rae, bertingkah manja seperti seorang anak kecil.

“Jangan berlagak tak tahu apa-apa di depanku.”

“Aku tidak suka dengan percakapan terselubung seperti ini.”

“Kau bukan tidak suka. Bukan juga tidak mengerti apa yang kumaksud. Kau hanya mencoba menghindar. Ya, seperti biasanya. Kau selalu menghindar setiap kali kita membicarakan topik ini.”

Celoteh Jin Ae tanpa henti membuat Mi Rae menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik dan menatap jengah pada Jin Ae, “Aku sungguh tidak mengerti. Serius. Benar-benar tidak paham dengan maksudmu. Kita seperti makhluk yang berbeda planet. Mengapa tidak kau katakan secara gamblang dan terus terang? Sulit?”

Jin Ae menghela napas. Ia sedang menahan kesabarannya yang kian menipis. Ia membalas tatapan Mi Rae. Sambil tersenyum, ia berkata, “Kau dan Kyuhyun sudah resmi berpacaran?” entah sudah berapa kali ia harus melayangkan pertanyaan serupa.

“Apa?”

“Jika kau masih meminta penjelasan, itu artinya kita benar-benar makhluk yang berasal dari planet berbeda. Dalam artian, aku manusia dan kau alien,” sambil berdecak heran ketika Jin Ae menyerang Mi Rae dengan tatapan tak percaya, “Pertanyaanku masih kurang jelas, huh?”

“Han Jin Ae, mengapa kau begitu tertarik pada kehidupanku?”

“Karena kita bersahabat. Tentu saja aku sangat tertarik. Percaya saja padaku, bukan hanya aku, tapi tak lama lagi semua orang akan mencari tahu kebenaran tentangmu.”

“Aku? Memangnya aku siapa? Einstein?”

“Einstein sudah lama mati,” Jin Ae tertawa geli mendengar penuturan Mi Rae yang terkesan polos. Ia beranggapan bahwa sahabatnya itu memang sedikit gila, “Aku bukan peramal, tapi mendadak aku seperti mendapat penglihatan tentang kehidupanmu di masa yang akan datang.”

“Itulah sebabnya aku menyuruhmu untuk berhenti menonton drama.”

“Ini bukan drama,” tandas Jin Ae yang tak setuju dengan reaksi Mi Rae. “Aku yakin seratus persen dengan sikap malas tahumu, kau pasti tidak tahu kalau media sedang panas-panasnya membahas Cho Kyuhyun. Media yang haus akan pemberitaan tentang pewaris Daehan Group yang begitu lama menghilang, lalu secara mengejutkan muncul ke publik—ya, coba kau bayangkan bagaimana santernya pemberitaan tentangnya. Mereka pasti akan mencari tahu semua yang berkaitan tentang Kyuhyun. Baru-baru ini aku melihat sejumlah reporter datang ke kampus.”

“Kasus Anam belum kunjung usai, jadi wajar saja jika mereka terus meliput ke sini.”

Jin Ae tersenyum sumringah, ia menggeleng, “No! Mereka hanya bertanya tentang Kyuhyun pada mahasiswa yang bersedia diwawancarai. Cih, gadis-gadis menyebalkan itu berlomba memberikan keterangan yang seolah-olah mereka sangat dekat dengan Kyuhyun. Sangat menggelikan, bukan?”

Jika sudah membahas tentang Kyuhyun, mulut Jin Ae tidak bisa berhenti berceloteh. Telinga Mi Rae bahkan terasa panas karena lengkingan-lengkingan Jin Ae yang terus berpindah-pindah oktaf menyesuaikan dengan keseruan topik yang dibawakannya dengan sangat apik. Berita yang disampaikan Jin Ae secara berapi-api mendadak terhenti bersamaan dengan langkah Mi Rae. Gadis itu menghunuskan tatapan tajam pada Jin Ae.

“Okay, aku sudah bisa menangkap garis besarnya. Sekarang yang sedang aku bingungkan adalah—di mana relevan antara semua hal tentang Cho Kyuhyun yang kau ributkan tadi, dengan kau yang tiba-tiba dianugerahi oleh sebuah penglihatan tentang masa depanku?” tanya Mi Rae sarkastik, “Kau harus belajar untuk tidak memperlebar pembahasan utama kita.”

Selepas menyerang Jin Ae, ia kembali melanjutkan langkahnya. Jin Ae memajukan bibirnya, tanda kesal, tapi tak berselang lama ia mengejar Mi Rae.

“Baik. Baiklah Nona Baek. Jadi maksudku begini. Kau pikir berapa lama lagi media tidak akan mencium keberadaanmu?”

“Cih,” Mi Rae mendengus dan tertawa geli. “Kau lucu sekali.”

“Aku tidak main-main. Kebanyakan orang di kampus tahu jika Cho Kyuhyun menyukaimu. Dia terang-terangan mendeklarasikan perasaannya padamu. Ya, sekalipun banyak yang menyangsikan itu, tapi masa bodoh, toh Kyuhyun serius dengan perasaannya terhadapmu. Baek Mi Rae, kau ini terlalu polos atau bodoh? Kau tahu sendiri seperti apa sebenarnya Daehan Group. Apa kau tidak berpikir bahwa selama ini media terus mengorek informasi tentang kehidupan pribadi Kyuhyun? Jika sedikit saja mereka mengendus tentangmu, maka kau harus bersiap-siap.”

“Kau berlebihan. Tidak ada apa pun antara aku dan Kyuhyun. Kami memang dekat, tapi kedekatan kami hanya sebatas sahabat. Sama seperti aku dan kau.”

“Kau serius? Kau tidak memikirkan perasaan Kyuhyun sedikit pun?” lama-lama Jin Ae yang merasa putus asa terhadap Mi Rae. “Ya Tuhan, sebenarnya apa yang kau tunggu? Kesempatan tidak datang dua kali. Orang seperti Kyuhyun yang menjadi incaran para gadis, justru jatuh cinta padamu—tapi kau…”

“Setelah mengetahui siapa Kyuhyun yang sebenarnya, kupikir aku membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang kubayangkan. Terlalu banyak perbedaan antara kami. Ada hal-hal yang perlu aku pertimbangkan dengan cermat. Aku tidak ingin jika keegoisanku justru akan menghancurkan kami.”

“Tapi kau menyukainya, kan?” ditanya begitu olehnya, Mi Rae hanya tersenyum. Itu sebuah pembenaran bahwa ia memang menyukai Kyuhyun. “Kau mencintainya?” pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang sangat sakral. Melihat Mi Rae yang hanya menatapnya sendu, ia mendesah panjang, “Jangan terlalu mengandalkan logikamu. Seberapa pun hebatnya kau berpikir, kau tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta dengan logika,” gadis itu melangkah gontai sambil sesekali melirik pada Mi Rae yang tetap bungkam. “Jika Kyuhyun tidak bertepuk sebelah tangan, mengapa kau masih saja mengabaikan perasaannya?”

Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut Mi Rae. Ia tidak mengelak, tidak juga membenarkan. Ia lebih memilih menutup mulutnya rapat-rapat, dan dalam diam menjajakkan kaki diikuti oleh Jin Ae yang kini membisu bersamanya.

Keadaan itu tidak berangsur lama, Jin Ae yang masih tidak puas kembali menjejalkan sebuah kalimat yang diyakininya akan mampu menohok hati Mi Rae, “Ada yang bilang bahwa seseorang bisa memahami cinta setelah dia merasakan bagaimana sakitnya kehilangan cinta.”

Memang benar, sesuai dugaan, kalimat itu mampu membuat Mi Rae bereaksi, terbukti dengan bola matanya yang sedikit melebar ketika ia berpaling menatap Jin Ae. Secepatnya ia memaksa kakinya melangkah, menghindari serangan-serangan halus yang sedang diarahkan Jin Ae padanya.

“Kata cinta rasanya terlalu mahal untuk orang sepertiku,” Mi Rae berkata tenang setelah menyimpan buku yang sejak tadi dipegangnya ke dalam tas. “Oh ya. Kau tahu jika cinta itu seperti api?” cetusnya datar, sebenarnya tak berniat meladeni Jin Ae. “Siapa yang tahu jika cinta yang kau rasakan akan menghangatkan, atau justru membakarmu. Jadi, terimalah saranku. Mengapa kita tidak terlebih dahulu fokus pada pendidikan kita?” tanpa rasa berdosa ketika ia membungkam Jin Ae dengan jurus andalannya.

Jin Ae meringis sebal. Mengapa sulit sekali berbicara dengan si kaku itu? Tak ingin kalah, ia telah bersiap membalas Mi Rae, “Baiklah Nona Baek. Dengar ya. Cinta memang bisa disembunyikan dengan kata-kata, tapi asal kau tahu, mata tidak pernah menyembunyikan cinta,” ia tersenyum lebar melihat sahabatnya tertegun sejenak, sedang mencerna kalimatnya barusan. “Tatapan matamu tidak bisa berbohong. Caramu memandang Kyuhyun…oh ayolah, aku tak perlu mendeskripsikan semuanya secara mendetail, kan?” Jin Ae memeletkan lidahnya, mengejek Mi Rae dan buru-buru mendahului Mi Rae yang kini tengah memelototinya.

“Hey! Han Jin Ae!”

Yang diteriaki justru mempercepat langkah, beberapa kali menoleh ke belakang. Tawanya berurai. Jin Ae sangat puas bisa mengalahkan Mi Rae. Sebenarnya ia memahami Mi Rae. Ia tahu apa yang dirasakan Mi Rae saat ini. Ia juga tahu bagaimana rasanya sakit hati karena cinta, tapi ia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Mi Rae. Sebab, ia sendiri tidak yakin jika ia akan bersikap lebih terbuka daripada yang dilakukan oleh Mi Rae apabila ia diperlakukan sama seperti yang terjadi pada sahabatnya itu, dulu.

Semua hal yang membuat Mi Rae membentengi dirinya dengan begitu berhati-hati pada dunia luar adalah sesuatu yang bisa dimengerti jika menoleh ke belakang, pada trauma yang dialami gadis itu. Yang membuat Jin Ae sedikit gemas adalah kehati-hatian Mi Rae yang sudah dalam taraf mengkhawatirkan. Padahal, jelas-jelas Cho Kyuhyun begitu menyukainya, begitu memujanya. Jelas juga bahwa perasaannya terhadap Kyuhyun mulai tumbuh. Jin Ae merasa heran mengapa orang seperti Kyuhyun justru terperangkap pada Baek Mi Rae, si gadis dingin dan kaku. Dipikir bagaimana pun, Jin Ae jauh lebih mengasihani Kyuhyun. Baginya, Kyuhyun seperti sedang mencintai sebongkah batu.

***

“Sayang, mengapa wajahmu terlihat kecil seperti wajah ikan koi?”

Sambil tetap menyetir, tangan Hyukjae mengelus pipi gadis yang duduk di sebelahnya. Han Jin Ae mengerucutkan bibirnya, sangat manja.

“Benarkah?” berlagak shock, Jin Ae menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, mengamati pantulan wajah dari kaca spion. Setelah itu, ia menghempaskan tubuhnya dan bersandar lemas, “Aku pasti sangat stress. Tugas-tugas memberikan siksaan yang sangat hebat. Kau lihat sendiri, aku semakin kurus. Iya kan, Sayang?”

“Aku tidak suka jika kau sakit. Kau harus banyak beristirahat. Jangan terlalu memaksakan diri. Oh ya, jangan lupa minum vitamin,” seperti seorang dokter profesional, Hyukjae memberikan saran-saran, memperlakukan Jin Ae seperti seorang pasien.

“Kau yang terbaik. I love you.”

I love you too.

“Tolong fokus menyetir.”

Mendengar suara sumbang yang merusak suasana romantis, Hyukjae dan Jin Ae menoleh ke belakang pada Mi Rae yang lebih memilih menyumbat telinganya dengan earset dan membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Menjemukan sekali adegan romantis yang disuguhkan mereka. Persis seperti drama-drama murahan.

“Aku sama sekali tidak iri!”

Dumal Mi Rae seakan ia bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh sepasang kekasih itu sehingga membuat keduanya bergidik ngeri. Konyol sekali jika mobil mereka mengalami kecelakaan hanya karena perbuatan sepasang muda-mudi yang tengah bermesraan, dan Mi Rae tidak ingin itu terjadi. Lebih baik tidur di rumah atau pergi bekerja daripada harus semobil dengan dua orang itu, tapi ia tidak punya pilihan.

Mereka sudah memasuki kawasan Nonhyeon-dong, Gangnam. Mata Mi Rae memerhatikan lebih seksama. Nonhyeon La Folium adalah kompleks hunian mewah yang terdiri dari delapan belas gedung. Ini pertama kalinya ia berada di kawasan itu. Dulu, ia sempat melihat di televisi jika beberapa selebriti dan seniman tinggal Nonhyeon La Folium. Seperti langit dan bumi, kompleks mewah itu berbanding terbalik dengan daerah tempat tinggalnya.

Mobil melambat dan berhenti di depan sebuah gedung. Mi Rae masih terdiam di dalam mobil, masih dengan pandangan matanya yang sedikit liar saat memerhati sekitarnya. Sementara Hyukjae dan Jin Ae sudah lebih dahulu keluar dari dalam mobil. Jin Ae bahkan harus mengetuk kaca mobil untuk menyadarkan Mi Rae. Dengan sebuah gerakan kecil, Jin Ae menyuruhnya untuk segera keluar.

Mereka melangkah ke dalam gedung itu. Meski kekaguman tampak jelas dari raut wajah Mi Rae, ia berusaha untuk tidak terlalu menampakkannya. Ia hanya mengikuti langkah dua orang yang telah berjalan mendahuluinya. Dimana-mana ada CCTV yang tidak berhenti memantau. Bahkan mereka memiliki sensor gerakan dan sensor infra red. Belum lagi pihak keamanan yang berjaga selama 24 jam.

Di dalam lift, otak Mi Rae masih terus mengolah data yang baru diterima matanya. Dengan sistem keamanan yang begitu ketat dan kendali terhadap akses masuk yang sangat rapi—penghuni di kompleks itu pasti merasa sangat aman. Jika saja ia tinggal di situ, ia tak perlu cemas untuk menjemur pakaian di luar rumah karena tidak ada yang akan menjarah pakaiannya.

Sontak saja dengusan Mi Rae menajam, sakit hatinya ketika mengingat celana jeans yang baru saja dibelinya beberapa waktu lalu hilang di tali jemuran. Kemudian ia menenang lagi, berpikir lagi. Jika ia tinggal di kompleks itu dan masih menjemur pakaian di halaman, berarti ia satu-satunya yang terlihat seperti orang kampung. Tak ayal, Mi Rae tertawa kecil karena itu.

Ia berhenti tertawa dan langsung memasang wajah datarnya saat menyadari jika Hyukjae dan Jin Ae sedang memandanginya, curiga. Tanpa ia ketahui, kedua orang itu justru bergidik ngeri melihat ekspresi wajahnya yang terus berubah-ubah dalam hitungan detik. Yang tadinya tersenyum, lantas tampak kesal, lalu tertawa dan tiba-tiba saja menjadi sangat datar.

Ting.

Beruntung lift terbuka sehingga tidak ada alasan bagi Jin Ae dan Hyukjae untuk memandanginya lebih lama, terutama dengan sorot mata yang menyebalkan itu. Mi Rae yang sudah tak tahan, memilih lebih dulu keluar dari lift. Kemudian ia terpaksa menahan langkahnya karena—di sini, ia hanya seorang pengikut.

Sesampai di depan sebuah pintu, Hyukjae mulai menekan bel. Lalu ia melambai-lambaikan tangan pada intercom video. Pintu pun terbuka. Cho Kyuhyun sendiri yang membukakan pintu. Pemuda itu tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.

“Masuklah,” katanya mempersilahkan mereka masuk. Hyukjae seenaknya menyelonong, sikap khas orang yang bukan pertama kalinya berada di tempat itu.

“Woaahh,” sementara Jin Ae langsung berdecak begitu menginjakkan kaki di dalam kondominium mewah itu.

“Bagaimana denganmu, Nona Baek?” Kyuhyun bertanya pada Mi Rae yang masih mematung di depan pintu. Tanpa menunggu jawaban Mi Rae, Kyuhyun menggenggam tangan Mi Rae dan menariknya masuk.

Lototan Mi Rae tidak bisa disembunyikan. Interior ruangan itu begitu mewah dan sangat berkelas. Ia tak mengira bisa menyaksikan langsung hal-hal seperti itu, biasanya ia melihat interior seperti itu hanya di dalam drama. Jin Ae menarik tangannya, mengajaknya untuk meneliti setiap sudut ruangan. Ia memang takjub, tapi tidak seheboh Jin Ae yang pada dasarnya berasal dari keluarga kaya. Fasilitas kondominium cukup lengkap. Ada tiga kamar berukuran besar, kamar utama ditempati Kyuhyun. Mini bar, ruang fitness, bioskop pribadi pun ada di dalamnya. Hijaunya lapangan golf dapat dinikmati dari balkon. Pantas saja jika Nonhyeon La Folium disebut-sebut sebagai salah satu hunian mahal. Semua tempat dijelajahi oleh Jin Ae, dan Mi Rae yang terpaksa karena terus diseret Jin Ae.

Asyik mengobrolkan sesuatu, Kyuhyun dan Hyukjae yang berdiri dekat mini bar hanya mengikuti Mi Rae dan Jin Ae dengan tatapan mata ketika dua orang itu melintas, bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Sesekali mereka tertawa karena kehebohan yang ditimbulkan oleh para gadis.

“Impianku adalah memiliki kondominium seperti ini,” celetuk Jin Ae sambil menyentuh kitchen set. Mereka sedang berada di dapur. “Kurasa, aku harus menikahi seseorang yang seperti Kyuhyun,” katanya lagi.

“Ck, jadi itu alasanmu terus-terusan menempeli Lee Hyukjae,” seloroh ringan Mi Rae. Meski tidak sekaya Kyuhyun, tapi Hyukjae pun berasal dari kalangan atas. Jin Ae hanya tertawa menanggapinya, lalu tawa itu berubah jadi dengus kekesalan. Baek Mi Rae itu mungkin tidak memiliki hati. Selalu saja menyinggung perasaannya.

Lalu, Kyuhyun dan Hyukjae datang menghampiri mereka. “Wow! Kalian ingin memasak sesuatu untuk kami?” tanya Hyukjae.

“Yang benar saja!” Jin Ae mengerang, tak setuju. “Kami adalah tamu,” protesnya kemudian.

Mereka lalu berpindah ke ruang tengah. Duduk di sofa, Lee Hyukjae satu-satunya yang memilih duduk di atas karpet berbulu yang terasa lembut saat menyentuh kulit. Tak berapa lama kemudian, Kyuhyun datang membawa dua botol wine. Sebelumnya ia telah meletakkan beberapa kaleng minuman bersoda di meja.

Walaupun sudah mengitari seluruh ruangan, Mi Rae masih menyisiri sekelilingnya. Ia seperti mencari-cari sesuatu.

“Di sini aku tinggal sendiri,” ujar Kyuhyun sembari duduk di sisi Mi Rae. Ia sudah menangkap maksud dari tatapan liar Mi Rae tadi. Ia tahu apa yang sedang dicari gadis itu. “Aku memang memutuskan untuk pulang, tapi dalam konteks, aku tetap ingin hidup mandiri.”

“Rumah utama keluarganya masih berada di Gangnam, dan Kyuhyun bisa sesering mungkin pulang ke rumah besar,” imbuh Hyukjae.

“Jadi aku belum memberitahumu, Hyuk?”

“Apa?”

“Sudah seminggu berlalu sejak Ayah dan Ibu memutuskan untuk tinggal di Pyeongchang-dong.”

“Pyeongchang? Kenapa? Lalu bagaimana dengan rumah besar Daehan Group?”

“Kepala pelayan masih tinggal di sana. Mereka akan mengurusnya dengan baik.”

“Rumah itu hanya ditinggali para pelayan. Kau tak perlu pindah ke sini hanya untuk mandiri, kan?”

“Jangan cemaskan itu. Ayahku hanya membutuhkan udara yang lebih segar untuk membantu proses penyembuhannya, jadi itulah sebabnya mereka tinggal di Pyeongchang. Setelah Ayah sembuh, mereka bisa saja kembali ke rumah itu.”

Percakapan antara Hyukjae dan Kyuhyun terkesan biasa-biasa saja, tapi ternyata tidak bagi Mi Rae. Bagaimana tidak, jika otaknya kembali beroperasi saat mendengar tempat yang disebut Kyuhyun tadi. Lupakan kaum konglomerat seperti Kyuhyun, orang-orang menengah ke atas pasti memiliki beberapa rumah. Bagi Mi Rae sendiri, untuk membiaya perawatan rumah sederhananya saja, ia sudah kewalahan.

Pyeongchang-dong adalah daerah perumahan khusus yang dikatakan sebagai Beverly Hills Amerika versi Korea. Lokasinya berada di lereng Gunung Bukhan. Udara yang bersih dan sejuk dari pegunungan membuat daerah itu menjadi lebih dingin dari pusat Kota Seoul. Di sana ada sejumlah galeri seni dan museum, serta kafe dan restaurant kelas atas. Kebanyakan orang yang tinggal di Pyeongchang-dong adalah pengusaha, seniman, diplomat juga eksekutif bisnis.

Gangnam memang merupakan distrik elit dan glamor di Seoul, tapi bagi orang-orang yang memiliki selera estetika tinggi, terutama pada arsitektur bangunan—mereka akan lebih memilih tinggal di Pyeongchang karena perumahan di sana memiliki sesuatu yang berbeda. Ketenangan, harmoni serta getaran seni adalah sesuatu yang jarang ditemukan di kota sibuk, namun dapat dijumpai di Pyeongchang.

Hari itu, mereka menghabiskan banyak waktu di kondominium Kyuhyun. Hyukjae dan Jin Ae pulang lebih dulu. Hanya tersisa Mi Rae yang duduk gelisah sambil meremas jari-jari tangannya. Sebenarnya ia sudah curiga melihat gelagat aneh Hyukjae dan Jin Ae yang saling memberi kode. Mereka pamit pulang, tapi menolak mengikutsertakan Mi Rae bersama mereka dengan berbagai alasan. Ya—berbagai alasan yang membuat mereka tidak kompak dan tentu saja Mi Rae tahu jika itu hanya akal-akalan keduanya untuk membuatnya bertahan di situ lebih lama. Berduaan saja dengan Kyuhyun.

Argh! Ini sangat menyebalkan. Ia merasa sangat gugup sekarang. Cho Kyuhyun tadi menerima telepon, mungkin sedikit pribadi sehingga membuat pemuda itu memilih menjauh. Ia harus segera menyingkir dari situ, atau ia akan mati karena menahan gugup. Sungguh! Frustasi sekali.

“Maaf, aku jadi membiarkanmu sendiri.”

Ia tersentak kaget mendengar suara Kyuhyun. Pikirannya tadi sudah bercabang ke mana-mana. Kyuhyun duduk di hadapannya. Beberapa saat mereka hanya membisu dan kesunyian itu justru membuatnya semakin tersiksa.

“Kau tampak tak nyaman,” ungkap Kyuhyun kemudian. Ia pasti bisa melihat itu dari gerak-gerik Mi Rae.

“Sebaiknya aku pulang saja.”

Kyuhyun diam sejenak, ia berdiri, “Aku akan mengantarmu,” katanya sambil tersenyum.

“Ah—tidak. Tidak perlu!” tolak Mi Rae secepatnya dan itu membuat air muka Kyuhyun sedikit berubah. “Kau tidak perlu mengantarku. Ada hal lain yang harus kukerjakan,” ia berdiri terburu-buru sambil mengambil tas. Berjalan cepat menuju pintu. “Baiklah, aku pergi! Sampai jumpa lagi!” ia tak memberi peluang bagi Kyuhyun untuk menyela.

Begitu Mi Rae keluar dan menutup pintu, Kyuhyun memandang langit-langit sambil menarik napas panjang. Setelah diam beberapa saat, ia bergerak menuju ruang tengah dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tangan kirinya dinaikkan di atas wajah—ia menutupi matanya dengan meletakkan lengannya di sana.

***

Choi Siwon menutup pintu dengan berhati-hati. Ia bersandar lemas sambil memejamkan mata pelan. Kondisi perusahaan, rumah sakit bahkan kampus sedang guncang. Tadinya ia hendak menemui ayahnya, tapi melihat ayahnya yang sedang merenung sambil memijit pelipis membuat niatnya urung. Ayahnya akan terlihat seperti itu jika sedang memiliki masalah.

Daehan Group memutuskan untuk tidak berinvestasi lagi pada perusahaan milik keluarganya. Beberapa investor ikut menarik diri tanpa sebab yang pasti dan itu meresahkan para pemegang saham. Mereka terus menuntut penyelesaian untuk meredam gejolak. Baru-baru ini, ia mendengar dari ibunya bahwa mereka akan melakukan rapat umum pemegang saham. Ia sudah tahu jika mereka akan memecat ayahnya jika tidak berhasil mengembalikan kondisi Anam seperti sebelumnya.

Sebenarnya apa yang sudah ia lakukan?

Kalau dipikir-pikir, ini semua salahnya. Ia yang dulu menantang Cho Kyuhyun, tanpa mengetahui apa pun tentang pemuda itu. Siapa yang akan menduga jika Cho Kyuhyun adalah seorang pewaris Daehan Group? Setelah identitas Kyuhyun terkuak, justru malapetaka yang mengincar Anam.

Jadi, haruskah ia memohon maaf? Mengakui kekalahannya? Atau mungkin ia memang perlu menjilat kaki Kyuhyun seperti katanya waktu itu. Sambil melangkah pergi, ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

Sementara itu, di lain tempat, keberadaan Cho Kyuhyun di kampus telah menyita perhatian semua mahasiswa yang berpapasan dengannya. Kyuhyun baru saja menemui dekan untuk membicarakan sesuatu. Karena tatapan sengit yang diterima membuatnya sedikit terganggu.

Ia sudah mengira akan sangat merindukan saat-saat di mana tidak ada seorang pun yang tahu siapa dirinya. Ia begitu bebas berkeliaran tanpa perlu diikuti oleh sorot mata seperti yang ia alami saat ini. Sekarang waktunya lebih banyak dihabiskan di perusahaan. Hari ini ia bisa melenggang santai di kampus pun berkat Sekretaris Kim yang berhasil dikelabui.

Sambil melilitkan syal di leher, ia berjalan menuju auditorium. Sedikit senggang di sana. Beberapa orang yang ditemuinya dalam perjalanan tak luput membicarakannya. Suara pintu besar auditorium yang dibukanya membuat perhatian seseorang teralih.

Kyuhyun masuk dan berjalan menghampiri Choi Siwon. Tadi Siwon meneleponnya, memintanya untuk bertemu. Beruntung ia sedang berada di kampus sehingga bisa menyanggupi permintaan Siwon.

“Kau yang melakukan semua, bukan?” Siwon bertanya setelah sekian menit keduanya bungkam dan hanya saling pandang.

Walau diam, tapi seperti terjadi perang yang tidak terlihat oleh mata. Senyuman tipis menyungging di sudut bibir Kyuhyun.

“Kau pasti sangat menikmatinya. Apa kau perlu bertindak sampai sejauh itu terhadap keluargaku?” emosi Siwon mulai terpancing. Sayangnya, Kyuhyun masih saja bungkam. Ia tetap tersenyum, tapi lama-kelamaan senyumannya justru membuat Siwon kian tidak sabaran.

Kehidupan orang lain akan hancur, tapi Kyuhyun masih bisa tersenyum seperti itu…ini sungguh…argh! percuma, sepertinya apa pun yang ia akan katakan tetap tidak bisa membuat Kyuhyun bersuara. Lalu untuk apa mereka bertemu?

“Baik. Kau menang. Kau yang paling hebat. Aku akui itu. Jadi, bisakah kita hentikan permainan kekanak-kanakan ini?” Siwon memandang tajam, dan Kyuhyun bergeming. Sambil menyisir rambut dengan jari-jari tangannya, Siwon tertawa pelan dan mendengus. Sepertinya tidak ada cara lain.

“Sekalipun kau berlutut, bahkan menangis di kakiku—aku tidak akan mengubah keputusanku,” Kyuhyun akhirnya berujar tenang saat melihat gerakan Siwon yang menekuk lutut, hendak berlutut.

Siwon kembali menegakkan tubuhnya. Alisnya berkerut dalam. Sial! Apa sebenarnya yang orang itu mau? Apakah Kyuhyun sungguh berniat menghancurkan keluarganya?

“Kau pikir aku melakukan ini hanya untuk membuktikan siapa aku?” dengan nada enteng Kyuhyun bertanya. “Aku tidak membutuhkan pengakuan apa pun darimu,” setelah berkata demikian, ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Siwon.

“Cho Kyuhyun!” seruan Siwon menghentikannya. “Sebenarnya apa yang kau inginkan?”

Meski tersamarkan, tapi senyuman Kyuhyun bisa terlihat. Tanpa membalikkan badan, ia menjawab rasa penasaran Siwon, “Orang yang kau butuhkan saat ini bukan aku, tapi Baek Mi Rae. Anam akan baik-baik saja jika gadis itu memaafkanmu,” ia tak lagi menahan langkahnya untuk berada di situ lebih lama.

Saat itu juga, Choi Siwon merasakan tubuhnya lemas. Ia gemetar. Perasaan takut telah menguasainya. Bagaimana bisa nasib perusahaan, rumah sakit bahkan yayasan keluarganya justru bergantung pada pengampunan seorang gadis miskin seperti Mi Rae? Ini tidak masuk akal. Pangeran Daehan Group sungguh memiliki watak yang tidak biasa. Dibalik keramahan dan kelembutannya, ia adalah orang dengan pemikiran yang sangat gila. Dan hanya ada seseorang yang bisa membuatnya bertindak segila itu. Baek Mi Rae.

Sambil melirik pada arloji di tangan kirinya, Kyuhyun mempercepat ayunan kaki. Tatapan-tatapan yang tertuju padanya tidak lagi digubris. Kali pertama ia terlihat di kampus semenjak identitasnya sebagai pewaris utama Daehan Group terkuak. Wajar saja jika ia harus menerima tatapan seperti itu. Ia menuju ke sebuah ruang kelas. Senyumnya kembali mekar saat melihat Mi Rae yang sedang duduk bersama Jin Ae. Keduanya sedang mengobrolkan sesuatu dengan sangat serius. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Jin Ae terlihat menarik napas berkali-kali sambil membuang tatapan kesal pada Mi Rae yang selalu bersikap seperti biasanya—datar. Jin Ae yang lebih dahulu menyadari kedatangan Kyuhyun dan langsung memberi kode pada Mi Rae.

“Cho Kyuhyun?” raut wajah Mi Rae sedikit keheranan melihat Kyuhyun yang telah berdiri di hadapannya. “Apa yang kau—” pertanyaannya terpotong. Ia menyadari jika Kyuhyun pun berstatus mahasiswa di situ. Lalu ia mengganti pertanyaannya, “Kau memutuskan untuk kembali ke kampus?”

Hanya dengan gelengan kecil sambil mengangkat bahu, itulah jawaban Kyuhyun. Pemuda itu justru memalingkan tatapannya pada Jin Ae, “Di mana Hyukjae?”

“Hari ini aku belum melihatnya. Saat kuhubungi, ponselnya pun sibuk,” dahi Jin Ae sedikit berkerut saat menjawab pertanyaan yang diajukan Kyuhyun. “Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya?”

“Tidak, tidak,” Kyuhyun tertawa, tak mengira jika imajinasi Jin Ae sangat berkembang hanya karena satu pertanyaan yang ia lontarkan. “Sebenarnya aku berniat meminjam Mi Rae, tapi kulihat kalian sangat serius tadi.”

“Ah—itu…,” lototan mata Mi Rae membuat Jin Ae harus menelan kata-kata yang hendak ia ucapkan. “Sebaiknya kau bawa saja gadis ini!” ia mendesis kesal.

“Apa pun yang hendak kulakukan, aku tak perlu mendapat ijin darimu,” Mi Rae mendengus sambil memasukkan buku terakhir ke dalam tas. Ia lalu menatap Kyuhyun, “Dan kau! Mengapa kau harus bertanya padanya, hahh?”

“Baek Mi Rae, kau sedang menstruasi?” Jin Ae mengerucutkan bibirnya. Kekesalannya hanya ditanggapi oleh Mi Rae yang menatapnya dingin.

“Baiklah. Kalau begitu, kau akan pergi denganku, bukan?”

“Aku?”

“Sudahlah!” Jin Ae menarik tas Mi Rae dan menyerahkan pada Kyuhyun. “Pergilah dari sini! Kepalaku sudah hampir pecah karenanya.”

“Hey! Kau! Han Jin Ae!” Mi Rae kerepotan menangani Jin Ae yang sekarang mendorong tubuhnya. Ia sangat sebal melihat Jin Ae yang gencar mengusirnya. Sambil tertawa, Kyuhyun memegang pergelangan tangannya dan membawanya pergi. Sudahlah! Bisa apa dia menghadapi dua orang itu, selain pasrah.

“Mau ke mana kita?”

“Melihat bunga.”

*

Setengah mati Mi Rae menahan kegeramannya yang membuncah di dalam hati. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskan pelan-pelan. Menarik lagi, dan diembuskan lagi. Ia melakukan itu hingga beberapa kali, berharap kekesalannya sedikit berkurang. Lalu ia pun turun dari mobil. Berjalan tenang menghampiri Cho Kyuhyun yang sedang bersandar di badan mobil.

“Yang kau maksudkan dengan melihat bunga—” Mi Rae diam. Ia merasa jika melanjutkan kata-katanya, kemungkinan besar ia akan menyalak seperti seekor anjing.

Dengan mendongakkan kepala dan mata yang terpejam, Kyuhyun tersenyum. “Kau tahu ‘kan, pemandangan bunga cherry yang sedang bermekaran sangat terkenal di sini.”

“Menghabiskan berjam-jam jam perjalanan hanya untuk melihat bunga cherry di Jinhae?” Mi Rae menggeram, berkata dengan gigi yang saling menggigit.

Sama sekali tidak terlintas di benaknya jika tempat yang mereka tuju sangat jauh dari Seoul. Musim semi di Kota Jinhae memang sangat terkenal. Jinhae memiliki pemandangan paling menakjubkan saat pohon cherry yang memenuhi beberapa sudut kota tengah bermekaran dan bunga-bunganya yang berguguran jatuh memenuhi jalan-jalan. Pemandangan yang indah itu harus mereka bayar dengan menempuh kurang-lebih empat jam perjalanan dari Seoul. Padahal hari ini ia memiliki jadwal part time dan sudah dipastikan ia tidak akan bisa bekerja karena ulah Kyuhyun hanya demi melihat bunga. Yang lebih mengerikan lagi, manager kafe tempatnya bekerja sangat menakutkan. Mungkin ia harus mempersiapkan mentalnya menghadapi amukan manager pemarah itu. Ishh! Menyebalkan sekali.

Mulut Mi Rae komat-kamit tak jelas, ia yang sedang asyik menggerutu tak menyadari jika aksinya terus mendapat perhatian intens dari Kyuhyun. Pemuda tersebut hanya tersenyum geli. Ia tahu jika telah membuat Mi Rae marah, sebab terbukti sejak mengetahui tempat tujuan mereka—Mi Rae tak lagi mengeluarkan suara selama dalam perjalanan tadi.

Dengusan tajam yang entah segala jenis umpatan sudah Mi Rae keluarkan mendadak terhenti karena Kyuhyun menautkan jari-jarinya di antara jari-jari tangan Mi Rae. Menggenggam lembut tangan Mi Rae. Ia tersenyum saat Mi Rae menatapnya lebar.

“Aku yakin kau tak akan menyesal setelah melihatnya,” ujar Kyuhyun dan langsung menarik Mi Rae. Membawa gadis itu melangkah bersamanya.

Benar saja. Beberapa saat kemudian, Mi Rae telah disibukkan dengan menganggumi apa yang tertangkap oleh retinanya. Mereka sekarang sedang berada di jalur kereta api Kyeong-Wha station. Pohon-pohon cherry yang berbaris rapat di sepanjang jalan, menempatkan rel kereta api tepat di tengah-tengah. Seolah-olah pepohonan cherry di sisi kanan dan kiri itu sedang mengawal jalur kereta tersebut. Bunga cherry yang berwarna pink pucat sedang bermekaran. Angin yang bertiup membuat kelopak cherry beterbangan di udara. Guguran kelopak bunga itu berakhir di atas bebatuan halus di sepanjang jalur kereta.

Kyuhyun dan Mi Rae tengah menyusuri jalur tersebut. Mereka berjalan dengan menjaga jarak dari rel kereta, menapaki jalanan berbatu. Angin sepoi-sepoi yang bermain di balik pepohonan menyampaikan semerbak aroma cherry ke hidung mereka. Sesekali Mi Rae menangkap kelopak-kelopak cherry yang berguguran akibat tiupan lembut sang angin. Sungguh, itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan. Kyuhyun sangat senang melihat keceriaan Mi Rae telah kembali. Gadis itu masih mengayunkan tangan di udara berusaha untuk menangkap bunga cherry. Suara tawanya bahkan terdengar sehingga membuat Kyuhyun ikut tertawa bersamanya.

“Kau senang?”

Suara Kyuhyun menyadarkan Mi Rae bahwa ia tak sedang sendirian. Ia terlalu asyik dengan cherry sehingga melupakan keberadaan Kyuhyun. Ia hanya tersenyum lebar menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Kau tak lagi marah padaku?” Kyuhyun menyegir tajam setelah melihat perubahan pada senyum Mi Rae. Gadis itu tampak malu. “Syukurlah,” lega rasanya. Ia selalu tak tahan jika Mi Rae marah padanya karena itu akan sangat menyiksa.

Mereka masih melangkah pelan menyusuri jalan, mengikuti rel kereta api. Dalam diam, hanya suara langkah yang berdecit tatkala sepatu bertemu batu-batu kecil. Suasana damai yang terjalin, tak ingin mereka rusak. Kebisuan saat itu justru mereka nikmati. Walau hanya berdiam, tapi anehnya mereka justru merasa sedang mengobrolkan banyak hal. Kyuhyun kembali menggenggam tangan Mi Rae, jari-jari mereka bertaut erat.

Walau mencoba berpaling, tapi tatapan Mi Rae selalu bergeser, tertuju pada Kyuhyun yang berjalan pelan di sisinya. Cho Kyuhyun terlihat sangat tampan. Ia dapat merasakan tangannya digenggam lebih erat. Kyuhyun selalu membuatnya merasa nyaman.

“Setampan itukah aku?” pertanyaan Kyuhyun membuat Mi Rae tersentak, “Jangan menatapku begitu. Kau membuatku malu.”

“Ti-tidak,” elak Mi Rae, “Aku sedang melihat bunga,” katanya lagi. Ia memalingkan wajahnya dan mendesis pada dirinya sendiri.

Kyuhyun tersenyum dan Mi Rae menunduk, namun kaki mereka tetap berayun seirama. Lagi-lagi mata Mi Rae berkhianat. Entahlah, tapi ia masih saja mencuri pandang pada Kyuhyun setelah aksinya tadi ketahuan.

“Kau akan jatuh cinta padaku jika terus menerus menatapku,” Kyuhyun berujar tenang. Ia menoleh pada Mi Rae dan tersenyum hangat.

Tangan Kyuhyun yang menganggur di dalam saku coat hitam yang dikenakannya itu, kini bergerak bebas mengacak-acak lembut rambut Mi Rae hingga menjadi sedikit berantakan. Memang tidak ada sangkut pautnya, tapi perlakuan manis Kyuhyun padanya selama ini, bisa-bisa membuatnya terkena diabetes.

Langkah Mi Rae tertahan. Ia bergeming. Kaki Kyuhyun pun berhenti mengayun. Kyuhyun yang sudah sempat maju selangkah dari Mi Rae, kembali mundur. Ia berdiri di hadapan Mi Rae dan sedikit bingung melihat Mi Rae yang tiba-tiba tak bergerak.

“Baek Mi Rae, kenapa?”

Jangankan menjawab, membuka mulut pun tidak dilakukan Mi Rae. Matanya hanya menatap Kyuhyun. Debaran jantungnya mengalami peningkatan daripada sebelumnya. Kyuhyun mulai mempertontonkan kecemasan yang tercetak di wajah tampannya itu.

“Mi Rae,” Kyuhyun memegangi pundak Mi Rae dengan kedua tangannya. “Apa yang terjadi?”

Mi Rae terus saja memandangnya. Tatapan itu sulit dimengerti. Sulit diartikan oleh Kyuhyun. Sorot mata yang begitu sendu. Sorot mata yang memancarkan kasih. Hangat dan terasa nyaman. Ekspresi tenang Mi Rae yang seperti itu, yang membuat jantung Kyuhyun berdetak tak normal.

“Nona Baek. Seperti katamu, kita tidak tahu jika cinta itu akan menghangatkan atau justru membakar. Okay, cinta tidak selalu menjaminkan kebahagiaan. Mungkin kau akan terluka. Namun jika kau tidak mengikuti kata hati, itu akan terasa jauh lebih menyakitkan karena kau tidak pernah memberi jalan bagi cintamu.”

Beberapa jam lalu, ia dan Jin Ae masih saja berdebat. Kedatangan Kyuhyun yang memutuskan perdebatan mereka. Dirinya yang lebih memilih mengesampingkan urusan percintaan. Lalu Jin Ae yang meski mengaku putus asa melihat kakuan Mi Rae terhadap cinta, tapi tetap saja mengutarakan pendapat-pendapatnya yang cukup menghentakkan dirinya. Terbukti, kata-kata Jin Ae masih sangat membekas dan mendapat tempat tersendiri di dalam hatinya.

“Baek Mi Rae, kau paham? Jangan takut jatuh cinta hanya karena kau pernah terluka. Cinta sejati tidak datang begitu saja, akan tetapi melalui proses sedih dan tawa bersama.”

Seperti komedi putar, kata-kata Jin Ae terus saja berputar di kepalanya. Kata-kata itu rupanya memiliki efek jangka panjang. Padahal tadi ia baik-baik saja. Padahal tadi ia masih sengit menampik pernyataan Jin Ae. Lalu kenapa sekarang rasanya telah berbeda? Dadanya bergemuruh hebat, seperti ombak yang pecah saat mencium pantai. Entah pengaruh angin, atau apa, tapi matanya terasa perih.

“Baek Mi Rae, kau baik-baik saja?” Kyuhyun masih menanti dengan cemas.

Gadis itu menarik napas panjang. Matanya terpejam sejenak, lalu membuka pelan. Menangkap Kyuhyun dengan retinanya. Sudah berapa lama ia membisu? Sudah sangat lama ia mengabaikan. Lelah rasanya jika harus terus melarikan diri. Mungkin, inilah saat yang tepat baginya untuk mencoba membuka hati.

“Cho Kyuhyun,” mendengar namanya disebut, Kyuhyun merasa sedikit lega. Matanya begitu lekat menatap Mi Rae yang sudah bersikap tenang. “Kau—mau berpacaran denganku?”

Tangan Kyuhyun yang memegang pundak Mi Rae langsung terlepas begitu saja. Terkulai. Ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

“Tadi…kau bilang apa?”

“Aku sedang bertanya padamu. Kau mau jadi pacarku?” Mi Rae mengulang dan ekspresinya yang luar biasa tenang itu justru berbanding terbalik dengan Kyuhyun.

Jantung Kyuhyun berdetak sangat kuat. Bisa-bisa ia kena serangan jantung, “Kau..bilang…,” Kyuhyun terdiam. Matanya mendelik, sedikit tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Mereka saling pandang cukup lama sampai akhirnya Kyuhyun menutup wajahnya dengan tangan kanan, menyembunyikan wajahnya di sana. Ia membuka jari-jari, mengintip Mi Rae dari antara cela jari. “Ya Tuhan…Baek Mi Rae,” katanya setelah menyingkirkan tangannya. Wajahnya yang berubah warna menjadi merah padam terlihat sangat jelas.

Kyuhyun sama sekali tidak menyangka bahwa Mi Rae akan mengatakan hal seperti itu. Selama ini ia yang terus gencar mengutarakan perasaannya, tapi pada saat Mi Rae yang melakukannya…rasanya itu seperti…ah, ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi.

Tak terhitung berapa banyak gadis yang telah mengutarakan perasaan mereka padanya, tapi semua terkesan biasa saja. Tidak seperti saat ini. Seluruh tubuhnya lemas, tulang di tubuhnya tiba-tiba saja terasa lunak dan perasaannya pun meluap-luap.

“Mengapa kau tidak ada manis-manisnya sedikit saja?” Kyuhyun berkata sambil mendongakkan kepala, memandangi pohon cherry yang menaungi mereka. Ia tertawa sambil memijit-mijit dahinya. Warna merah merona masih tetap bersemu di wajahnya.

Padahal berkali-kali ia mengatakan cinta pada Mi Rae, meski terlihat santai tapi sebenarnya tubuhnya panas-dingin. Lantas, Baek Mi Rae justru mengatakan secara lugas, dan dengan ekspresi setenang itu. Seharusnya yang dikatakan Mi Rae tadi adalah bagiannya. Gadis itu pandai sekali membuatnya salah tingkah dan menjadi sangat malu seperti ini.

“Baik. Lupakan yang kukatakan tadi!”

Secepatnya Kyuhyun memegang tangan Mi Rae, “Kau gila?” ia tersenyum. “Kau tak boleh menarik perkataanmu,” ujarnya sambil membawa Mi Rae ke dalam dekapannya. “Mengapa kau sangat menggemaskan, Mi Rae?” napasnya terasa lembut menggelitik kulit leher Mi Rae. Sambil mengeratkan pelukan saat ia berkata, “Aku mencintaimu.”

Senyuman Mi Rae mulai mengembang, mekar seperti bunga cherry. Ia tidak mengira jika tubuhnya akan terasa sangat ringan seperti sekarang. Hatinya begitu tenang dan sangat…bahagia. Di antara kelopak-kelopak cherry blossom yang beterbangan di tiup angin dan saat sebuah kereta melintas, ia membalas cinta Kyuhyun. Tangannya tak lagi ragu untuk menyambut pelukan Kyuhyun.

Tak ada perang tanpa korban. Tak ada cinta tanpa rasa sakit. Tak perlu takut jatuh cinta hanya karena takut tersakiti. Sebab cinta tanpa rasa sakit hanya terjadi dalam dongeng.

~bersambung~

Kyuhyun & Mi Rae aja udah jadian…trus, pembacanya kapan? Masih betah ngejomblo yaaa wkwkwkwk

.

.

Ditatap sinis Kyu-Rae, sambil ngomong, “Lha, authornya sendiri kapan?”

Disitu kadang sy merasa syediiiiiihhhh…. haghaghag

Semoga terhibur & sangat diharapkan bagi teman2 agar memberikan kritik ataupun saran yang membangun.

Sampai jumpa di part 14. Byeeee ^^

Iklan

232 thoughts on “Drama (Part 13)

  1. Elie Park berkata:

    Bahkan cinta dalam dongeng pun, sang putri awalnya merasakan penderitaan dulu sebelum bahagia sama pangeran.

  2. kyunara berkata:

    aaaaa….. cho kyuhyun start.mu dicuri koq diem aja..pasti lg senam jantung dia
    nyawanya lg melayang” gr” penyataan cinta mi rae

  3. starlily16 berkata:

    omg so sweet.. kyuhyun salah tingkah ditembak duluan. wkwk semoga hubungan kalian berjalan baik kedepannya.semoga kyuhyun bisa menyembuhkan sakit hati mirae akan masa lalu

  4. Leah berkata:

    Ahh sumpah ya mirae ini memang tidak terduga, turunlah derajat Kyuhyun sebagai seorang pria wkwk. Sumpah, bayangin muka kaku dan datarnya mirae pas bilang, “Kau—mau berpacaran denganku?” bikin ngakak. Padahal selama ini Kyuhyun udah ngebet banget kayanya pen bilang gitu ke mirae, eh malah dia yg ditembak
    Akhirnya.. akhirnya setelah perjalanan panjang mereka jadian juga yuhuuu

  5. Shatia berkata:

    Sooooo Swwweeettt 😘😘
    Sebaiknya Siwon segera meminta maaf pada mi rae agar perushaannya selamat…

  6. Hana Choi berkata:

    Yeyyyyy akhirnya mereka jadian, congrats buat mereka berdua dan buat jin ae ya ampun sekarang seperti kebalikannya ya jin ae yg nyeramahin mi rae tentang Cinta, berterima kasihlah sama jin ae yg udh mencuci otaknya mi rae dengan kata” nya.

  7. My labila berkata:

    akhirnya…akhirnya mereka jadian juga, aku ikut senang, gak sia-sia jin ae merecoki mirae wkwk….. suka sm ekspesi kyuhyun yang malu-malu tapi mau waktu mirae nembak dia duluan kkkk…

  8. faliin berkata:

    Ahahhaha gak kebayang jd kyuhyun ditembak pake ekspresi datar begitu tp bikin jantungan…
    Selamat buat kyumi gak sia2 perjuangan mu kyu, tp sayang harus mi rae yg mengucapkan terlebih dulu 😅😅

  9. ina berkata:

    huahhhhhhhh so sweet……….
    ga nyangka mi rae yang ngajakin pacaran……
    kerennnnnnnn kata-katanya ngena banget…….
    btw kocak pas mi rae bagaikan setan antara jin ae dan hyuk wkwkwk

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s