Drama (Part 14)

drama

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Cho Kyuhyun, kau—mau berpacaran denganku?

Aku sedang bertanya padamu. Kau mau jadi pacarku?

Itu….

Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Sudah gilakah aku? Apa aku benar-benar Baek Mi Rae?

Mi Rae meraih bantal dan membenamkan wajahnya di sana. Ingatan membawanya pada kejadian hari ini di Jinhee. Saat dengan sangat percaya diri ia meminta Kyuhyun menjadi pacarnya. Tak habis pikir. Bagaimana bisa ia melakukan itu?

Ataukah karena pengaruh suasana alam di sana? Jalan-jalan di sepanjang jalur kereta api dengan tebaran bunga cherry, itu sangat romantis. Bisa saja, saat itu dewi asmara sedang membagi peruntungannya.

Lalu, dengan gamblang…

Ia…menyatakan…cinta…pada…

Cho Kyuhyun? Jadi, sekarang kami…

Dengan wajah kaku dan sorot mata yang menegang, sebenarnya Mi Rae sedang menjerit-jerit di dalam hati. Ya Tuhan, urat malunya sudah putus tadi. Dan sekarang, kenapa rasa malu itu baru terasa? Seolah menenggelamkan dirinya di dalam perasaan yang tak menyenangkan itu.

Perasaan aneh yang membuat darah dalam tubuhnya memanas. Menguat hingga ke permukaan kulit. Terlihat jelas dari wajahnya yang berubah warna. Merah. Jadi, sekarang ia harus memutar otaknya.

Apa yang harus kulakukan jika bertemu Kyuhyun?

Kata-kata semacam apa yang harus kuutarakan padanya?

Hai, pacar?

Akh, itu terdengar menjijikkan.

Sayang?

Tidak! tidak!

Jadi…aku harus bagaimana? Ini terlalu memalukan. Baek Mi Rae bodoh!

Berapa kali pun Mi Rae berpikir, ia tak bisa menemukan kalimat yang tepat. Otak pas-pasannya dituntut untuk bekerja keras lagi. Lihat saja, keringat sebesar biji jagung mulai nampak di dahinya. Malam itu menjadi malam paling mengerikan yang harus dilalui oleh Mi Rae. Ia harus menelan obat penenang.

Tidak ada yang lebih diinginkan oleh Mi Rae selain menghapus beberapa bagian dari ingatannya.

Keesokan harinya, di kampus ia harus menghadapi masalah lain. Han Jin Ae. Dari jauh, ia sudah bisa merasakan aura aneh yang berpendar dari tubuh Jin Ae yang terlihat mondar-mandir di depan gedung utama Fakultas Kedokteran. Perasaannya tidak enak akan sesuatu yang akan keluar dari mulut Jin Ae. Pagi ini, ada lima belas panggilan tak terjawab dari gadis itu. Vampire-kah si Jin Ae itu? Jin Ae dengan begitu tak tahu diri meneleponnya dijam-jam kecil. Saat di mana seorang gadis baik-baik dan normal seharusnya sedang terlelap.

Melihat Mi Rae yang berjalan was-was, senyum Jin Ae mengembang secerah matahari di langit Seoul. Bagaimana pun, ia tak boleh menunjukkan perilaku aneh di hadapan Jin Ae. Gadis itu memiliki radar yang sangat kuat dan itu menjadi hal yang cukup mengerikan bagi Mi Rae.

Sebenarnya apa masalahnya? Toh, ia tidak melakukan kejahatan. Mungkin, saat ini ia belum siap jika orang lain tahu tentang hubungannya dengan Kyuhyun. Terlebih lagi jika mereka tahu siapa yang lebih dulu berinisiatif mengubah status hubungan mereka.

Hanya memikirkan itu sudah membuat Mi Rae kehilangan kewarasannya. Ia tak menyadari saat Jin Ae sedang menatap heran padanya sambil melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajahnya.

“Ada apa dengan wajahmu?” pasti Mi Rae terlihat seperti mayat hidup sekarang. “Kau memiliki mata panda,” percayalah, obat penenang tidak berhasil pada Mi Rae.

Mi Rae mengayunkan kaki, lemas. “Jangan bertanya.”

Alis Jin Ae bertaut sesaat, lalu ia berjalan pelan di sisi Mi Rae yang benar-benar terlihat seperti zombie. “Oh ya, Hyukjae bilang, kemarin kau dan Kyuhyun pergi ke Jinhae.”

Jinhae.

Satu kata yang memukul jantung Mi Rae.

“K-kenapa? Memangnya…kenapa? Apa aku tak boleh ke sana?” jelas sekali kepanikan yang secara spontan menghampiri Mi Rae. “Mengapa kau begitu ingin tahu kehidupanku? Apa kalian mata-mata? Sudahlah, aku tidak ingin membahas apa pun dan jangan bertanya lagi. Kau…kau paham?” dan gesture Mi Rae yang seperti cacing kepanasan itu adalah pemandangan yang sangat langka.

Mi Rae bergegas meninggalkan Jin Ae yang rahangnya seakan tertarik gravitasi bumi. Mulut Jin Ae menganga lebar. Entah itu takjub, atau terkejut. Memangnya apa yang salah dengan pertanyaannya tadi? Padahal ia baru saja akan mengatakan pada Mi Rae kalau ia berhasil mengajak Hyukjae melihat pemandangan romantis itu di Jinhae. Ia tahu jika sahabatnya itu punya watak yang tidak biasa, tapi ‘serangan’ Mi Rae tadi benar-benar diluar prediksi. Yang terlintas di otak Jin Ae sekarang adalah Baek Mi Rae sedang datang bulan.

Berbeda dengan Mi Rae yang merasa seperti seorang kriminal yang takut ketahuan. Kim Ryeowook sedang memutar otak karena gelagat Cho Kyuhyun. Sesekali ia mengintip dari balik pintu. Kepalanya bahkan memiring secara alami saking otaknya yang sedang berpikir keras karena rasa penasaran yang membuncah. Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya. Buru-buru ia menghampiri Lee Hyukjae yang tampak terengah-engah.

“Ada apa dengannya?” tanya Hyukjae. Tak biasanya Kyuhyun menyuruhnya datang ke kantor. “Si gila itu bahkan hanya memberiku waktu lima belas menit untuk tiba di sini. Sekretaris Kim, belakangan ini dia pasti melalui masa-masa yang sulit, kan?”

“Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi melihatnya hari ini membuat bulu badanku meremang,” Kim Ryewook bergidik ngeri. “Sudah sejak pagi dia seperti itu. Dia bahkan menolak menghadiri semua kegiatan hari ini,” katanya lagi sambil menarik napas panjang. Sejak tadi ia terus memutar otak dan bersilat lidah demi memberi alasan atas ketidakhadiran Cho Kyuhyun di ruang rapat ataupun kegiatan lain yang harus dihadiri Kyuhyun.

Kedua orang itu mengintipi Kyuhyun dari cela pintu yang sedikit terbuka. Alunan musik piano klasik Fur Elise karya Beethoven terdengar lembut di dalam ruangan sang direktur muda. Cho Kyuhyun tidak sedang duduk di belakang meja kerjanya, tapi justru duduk di sofa mahal berwarna coklat gelap sambil memangku kaki. Sebelah tangannya terangkat di udara, terayun-ayun mengikuti irama. Ia bertindak seperti seorang konduktor. Wajahnya yang biasa terlihat tenang, kali ini terus tersenyum. Senyum kecil, lalu senyumnya melebar, terkadang barisan giginya ikut terekspose. Lalu ia akan tertawa terbahak-bahak. Keadaan itu telah berjalan selama berjam-jam. Sangat konsisten.

Pelan sekali saat Hyukjae menarik pintu agar tertutup rapat. Ia menghirup napas sangat panjang lalu menatap pada Ryeowook. Tatapannya terlihat memancarkan keteguhan dan sebuah tekad yang membulat penuh di dalam hatinya. Sepertinya ia telah mengambil sebuah keputusan.

“Sekretaris Kim, jangan cemas. Aku akan masuk menemui Kyuhyun,” ia berembus pelan, lalu kedua tangannya berpegang kukuh pada bahu Ryeowook. Sambil melirik jam tangan, ia berkata, “Jika sampai dua puluh menit aku tidak berhasil keluar dari ruangan itu, tolong segera hubungi NIS dan Garda Nasional.”

Setelah berkata demikian, Hyukjae pun melesat masuk dan menghilang dibalik pintu ruang kerja milik Kyuhyun.

“Baiklah. Jangan khawatir. Aku pasti akan menghubungi rumah sakit jiwa,” sambil berdecak, Ryeowook berjalan menuju meja kerjanya.

Hyukjae yang duduk di hadapan Kyuhyun hanya diam memerhatikan Kyuhyun yang sangat menikmati ‘profesi’ barunya. Lelaki itu mungkin sedang bermimpi menjadi seorang maestro. Sampai akhirnya Hyukjae mulai bosan dan berjalan menuju gramophone, lalu ruangan pun menjadi senyap.

Mata Kyuhyun yang semula terpejam, lantas terbuka secara perlahan. Ia melihat Hyukjae yang sedang mengamati piringan hitam yang baru saja dipisahkannya dari gramophone. Setelah meletakkan piringan hitam itu begitu saja, ia berjalan kembali ke tempat semula dan duduk di hadapan Kyuhyun.

“Apa kau memanggilku ke sini hanya untuk memastikan bahwa kau positif gila, huh?”

“Kau pasti tidak tahu jika mendengar musik klasik sangat baik untuk kesehatan.”

“Oh, jadi, Direktur Cho sudah melakukan riset, begitu?” Hyukjae melengos dan Kyuhyun tertawa kecil. “Kenapa kau memintaku ke sini? Dilihat dari aura yang berpendar dari tubuhmu—sesuatu pasti sudah terjadi. Apa itu kabar yang menyenangkan untuk didengar?”

Senyuman di wajah Kyuhyun kian terpahat sempurna. Dengan sebelah alis yang terangkat dan jari telunjuk yang dimain-mainkan seperti saat legenda sepak bola Brazil, Ronaldo berhasil mencetak gol, Hyukjae sudah mendapat sedikit signal.

“Jangan bilang bahwa kau—”

“Jangan bilang bahwa kau tak akan memberiku ucapan selamat,” potong Kyuhyun. “Aku memanggilmu ke sini agar kau menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat padaku. Rasa setia kawanku sangat tinggi, bukan begitu?”

“Sungguh?” Hyukjae sedikit tidak yakin, namun saat melihat Kyuhyun tertawa senang, ia lantas berdiri. “Bagaimana itu terjadi? Ah, apa kemarin saat kalian di Jinhae?” Hyukjae memaksa duduk di sofa yang sama dengan Kyuhyun. “Apa yang kau katakan hingga membuat nona kaku itu tak bisa menolakmu lagi? Kau memberinya sepuluh ribu mawar? Atau mungkin kau membelikannya Audi keluaran terbaru? Atau cincin berli—”

Belum selesai Hyukjae melayangkan pertanyaannya yang berapi-api, tapi Kyuhyun sudah mendorong kasar kepalanya, “Baek Mi Rae-ku bukan seperti gadis yang kau katakan itu.”

“Lalu bagaimana bisa dia bersedia menjadi kekasihmu? Cho Kyuhyun, kau tidak bermain mantra, kan?” jika Hyukjae tak mengelak, maka ia pasti akan merasakan tamparan keras Kyuhyun di puncak kepalanya.

“Karena Mi Rae mencintaiku.”

“Dengan mulutnya sendiri, dia bilang—dia mencintaimu?”

Kyuhyun menggeleng, “Mi Rae adalah seorang gadis yang kaku dan tertutup, tapi aku dapat merasakan perasaannya,” ujar Kyuhyun. Ekspresi tak yakin masih tercetak jelas di wajah Hyukjae. “Ehm, sebenarnya,” Kyuhyun mendekatkan bibirnya di telinga Hyukjae. Beberapa saat kemudian bola mata Hyukjae seolah akan melompat keluar.

“APA?”

Kyuhyun mengangguk mantap.

“Mi-Mi Rae…gadis itu…benarkah?”

Kyuhyun memijit pelipisnya, “Dia pandai sekali membuatku malu,” ucapnya dengan pipi yang merona.

Melihat keadaan Kyuhyun, entah kenapa Hyukjae justru berdecak prihatin. “Cho Kyuhyun, kau yakin tidak sedang berhalusinasi?”

“Lee Hyukjae, kau ingin terjun bebas dari sini?”

“Kau sudah pergi ke pusat psikiatri?”

“Dan kau mungkin akan menjadi korban pertamaku.”

“SEKRETARIS KIM! HUBUNGI GARDA NASIONAL SEKARANG JUGA!”

“Lee Hyukjae! Tutup mulutmu atau aku benar-benar akan membuatmu mendarat dengan mulus di lantai dasar.”

“SESEORANG, TOLONG SELAMATKAN AKU!”

“LEE HYUKJAE!!”

“Ya Tuhan, kenapa aku harus berhubungan dengan orang gila seperti mereka?” Kim Ryeowook hanya bisa berserah pasrah sambil menyembunyikan wajah di balik telapak tangannya. Gaduh sekali dua orang itu.

.

.

Han Jin Ae yang hari ini duduk sedikit jauh dari Baek Mi Rae segera mengemasi buku-bukunya begitu dosen meninggalkan kelas. Ia menghampiri Mi Rae yang sedang menandai dengan catatan-catatan kecil pada buku tebal yang terbentang di hadapannya.

“Kudengar Professor Kang sedang memakamkan mertuanya,” ucap Jin Ae, memulai percakapan di antara mereka.

Mi Rae menoleh sejenak pada Jin Ae lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, “Tak perlu memaksakan diri untuk berekspresi sesedih itu.”

Wajah sedih yang dipamerkan Jin Ae pun menghilang terseret angin. Ia terkekeh pelan. Sebenarnya sejak tadi ia ingin berlonjak-lonjak bahagia begitu mengetahui kelas Professor Kang hari ini ditiadakan karena mertua sang professor yang meninggal dunia, tapi rasanya tidak etis jika ia bergembira di atas kedukaan orang lain.

“Karena setelah ini kita tak memiliki jam kuliah, bagaimana jika kita pergi berbelanja?”

“Aku tak melihat Hyukjae di kelas.”

Saat Mi Rae mengalihkan topik pembicaraan, saat itu pun Jin Ae mengerti jika Mi Rae telah menolak ajakannya. Tidak ada pilihan lain, selain mengikuti alur yang diinginkan oleh Mi Rae.

“Katanya, dia dimintai menemui Kyuhyun. Entah pembicaraan penting apa sampai-sampai harus memaksa Hyukjae begitu. Dasar pemaksa,” dengus Jin Ae.

“Kyu-Kyuhyun?” mendengar nama itu, jantung Mi Rae berdentam kuat sekali.

Sambil melirik ponselnya, Jin Ae berkata, “Sekarang mereka sedang menuju ke sini.”

“Ke…ke sini? Me-mereka? Maksudmu, Hyukjae dan—Kyuhyun?”

“Bukan. Hyukjae dan Professor Kang,” sambar Jin Ae datar. “Memangnya siapa lagi? Tentu saja kekasihku Lee Hyukjae dan pemujamu, Cho Kyuhyun,” ia sangat kesal karena Mi Rae yang tiba-tiba saja menjadi begitu lambat mencerna ucapannya. Dalam hati pun ia mulai merasa heran, tidak biasanya Mi Rae bersikap begitu.

Dengan wajah yang tegang, Mi Rae menyimpan semua buku di dalam tas. Ia sangat terburu-buru seperti sedang berlomba dengan sesuatu. Ia menyampir tas dan berdiri kasar, “Aku pergi.”

“Baek Mi Rae, kau mau ke mana?”

“Aku..aku..ada sedikit urusan.”

“Hey! Sebentar lagi mereka sampai di sini. Kyuhyun mengatakan akan mengajak kita makan. Ini kesempatan bagus untuk sedikit memoroti hartanya.”

Benar-benar tak berperasaan si Jin Ae itu. Kalau saja Mi Rae sedang tidak terburu-buru menghindar, sudah pasti ia akan dengan senang hati berbalik dan menghadiahi cubitan gemas di kedua belah pipi Jin Ae. Jadi, dengan sangat terpaksa ia meninggalkan Jin Ae yang berteriak-teriak memanggil namanya.

Keberuntungan atau kesialan? Hanya beberapa langkah dari ruang kelas, retina Mi rae menangkap dua orang pemuda yang berjalan dari arah berlawanan. Jantung Mi Rae terasa jatuh di lantai. Secepat kilat ia membalikkan badan dan mengayunkan kakinya, berbaur di antara para mahasiswa. Hyukjae dan Kyuhyun yang sedang berbincang-bincang tak melihat Mi Rae.

Gadis itu tak dibiarkan bernapas lega, karena Han Jin Ae sedang berjalan menuju ke arahnya dan sepertinya ia akan menghampiri Kyuhyun dan Hyukjae. Panik. Satu kata yang mendera Mi Rae. Ia berada di tengah-tengah dan tak tahu harus bagaimana. Seandainya saja ia memiliki kekuatan supranatural untuk berpindah tempat. Ingin sekali ia menghilang dari tempat itu.

Tangannya agak gemetar saat mengais-ngais tas, mengeluarkan buku dan menutupi wajahnya. Ia berjalan di belakang seorang pemuda bertubuh tambun, berusaha menyembunyikan diri. Jin Ae yang matanya lebih fokus pada Hyukjae dan Kyuhyun, tidak menyadari jika Mi Rae baru saja berpapasan dengannya. Setelah berhasil melewati Jin Ae, ia bergegas pergi dengan langkah seribu.

“Di mana Mi Rae?” Hyukjae bertanya heran karena melihat Jin Ae sendirian.

“Baru saja pergi. Kupikir kalian akan berpapasan.”

“Pergi ke mana?” giliran Kyuhyun yang bertanya.

“Tak tahu. Dia pergi begitu saja dan sangat terburu-buru.”

Rasa kecewa yang kental tergambar dari raut wajah Kyuhyun karena tidak menjumpai gadis yang ingin dilihatnya. Kyuhyun segera menghubungi Mi Rae, dan kemudian ia menggeleng lemah pada Hyukjae dan Jin Ae karena Mi Rae tidak mengangkat teleponnya.

***

Malam itu, Baek Mi Rae baru saja tiba di rumah. Seperti biasa, jika pulang selarut itu, artinya ia memiliki pekerjaan part time. Tubuh yang terasa gerah membuatnya segera beralih ke kamar mandi setelah melempar tas di atas tempat tidur. Sepuluh menit berlalu, ia keluar dari kamar mandi. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil berwarna putih, ia berjalan keluar kamar, membuka kulkas dan mengeluarkan makanan siap saji yang dibelinya tadi pagi. Sebagai mahasiswa kedokteran, ia tahu jika menyantap makanan siap saji tidak cukup baik bagi kesehatan, tapi itu adalah pilihan terakhir daripada mati kelaparan. Hari ini ia tidak memasak. Selain karena jadwal yang cukup padat, ia belum sempat berbelanja. Kulkasnya saja begitu gersang.

Saat sedang menikmati makan malamnya, ponselnya terus berbunyi. Namun ia tetap mengabaikan itu. Kalau bukan Kyuhyun, itu pasti Jin Ae. Hanya dua orang itu yang sejak tadi terus menerus menerornya dengan telepon dan juga berpuluh-puluh pesan yang belum dibaca olehnya. Dengan malas-malasan, ia meraih ponsel.

-Mi Rae, di mana kau?-

-Mengapa tidak menjawab panggilanku?-

Pesan dari Kyuhyun. Mi Rae kembali meletakkan ponsel di tempat semula. Tak berniat membaca sisa pesan yang masuk.

Ia hanya ingin sendiri untuk sementara waktu. Ia merasa perlu menetralkan otaknya yang sedang terganggu. Sebenarnya, alasan yang membuatnya bertingkah seperti itu adalah…ia belum siap bertemu Kyuhyun setelah pernyataan cintanya beberapa hari lalu. Ia bahkan rela bertingkah seperti seorang ninja dengan segala macam kamuflase untuk menyembunyikan diri.

“Aish!”

Mi Rae mengerang pada diri sendiri karena teringat pada kejadian di Jinhae. Ia lantas membuang begitu saja piring di wastafel. Untungnya tidak pecah. Bukannya ia tidak menyukai Kyuhyun. Sungguh. Pun hendak disangkal, tapi hatinya telah terperangkap pada pemuda itu. Ia sedang malu jika harus berbicara, terlebih bertatap muka dengan Kyuhyun. Malu. Iya, malu. Alasan yang sangat konyol, bukan?

Ia masih tidak percaya jika hubungannya dan Kyuhyun sudah berubah. Tak menyangka jika si pemuda tampan itu adalah kekasihnya.

Kekasih?

“Kyaaaa!!”

Seperti orang gila saat Mi Rae menjerit histeris sambil mengebas-ngebaskan tangan pada wajahnya yang terasa terbakar.

Lalu suara bel yang memekakkan telinga terdengar mengamuk sehingga menyentakkan Mi Rae dari aktivitasnya yang agak menyimpang itu. Siapa yang bertamu tak kenal waktu seperti ini? Ia menggerutu kecil, tapi tetap menghampiri pintu. Pintu di buka dan begitu melihat Han Jin Ae sedang berdiri sambil memamerkan senyum paling manis yang pernah dilihatnya, sontak saja ia menutup pintu.

Duk! Duk! Duk!

“Baek Mi Rae!”

Jin Ae berteriak dengan suara lantang sambil menggedor-gedor pintu. Mi Rae yang bersandar di balik pintu hanya mendesis sebal. Nekat sekali gadis itu. Ia tak menyangka jika Jin Ae akan menghampirinya.

“Buka pintunya! Biarkan aku masuk!”

Sudah bisa ditebak apa yang ingin disampaikan Jin Ae. Mi Rae yakin gadis itu akan menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaan. Ia sengaja tak membaca puluhan pesan Jin Ae karena memang tak ingin meladeni gadis itu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, tapi Jin Ae nekat bertandang ke rumahnya. Ck, Han Jin Ae itu memang benar-benar lebih mengerikan daripada arwah penasaran manapun.

“Baiklah. Aku akan pulang, tapi jangan salahkan aku jika besok pagi puluhan reporter akan berada di depan rumahmu karena saat ini juga aku akan menulis di SNS bahwa kekasih pewaris Daehan Group adalah—”

Ceklek.

Pintu terbuka lagi dan Jin Ae tersenyum lebar. Tak memedulikan Baek Mi Rae yang bertampang datar, Jin Ae melesat masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu, Mi Rae mengikuti Jin Ae. Ia mengawasi Jin Ae yang menuju kulkas dan langsung meraih bir kaleng terakhir yang tersimpan di dalamnya. Nah, benarkan? Gadis itu tidak berperasaan.

“Aahhh…tenggorokanku sakit,” kata Jin Ae setelah menenggak bir itu. Ia sedang mengeluhkan sikap Mi Rae yang membiarkannya berteriak-teriak seperti tadi. Pandangannya lalu beralih pada Mi Rae yang masih membungkam, “Dasar gadis gila!”

Mi Rae hanya mendesah kasar, “Aku tak ingin mendengar sumpah serapahmu!”

“Bagaimana bisa kau tak memberitahuku, hah? Aku, aku merasa dikhianati oleh sahabatku sendiri,” jelas Jin Ae dengan berapi-api, tangannya bahkan bergerak ke sana ke mari saking gemasnya ia.

“Jangan berlebihan, Jin Ae.”

Dalam sekali teguk, Jin Ae menghabiskan sisa bir. “Sahabatku yang merupakan jelmaan sebongkah batu dari Gunung Seorak, justru digilai oleh seorang pemuda yang sepertinya datang dari langit. Setelah melewati rintangan dan perjuangan panjang, akhirnya si batu menjalin kasih dengan pemuda impian para wanita itu. Sekarang katakan, apa ada alasan untukku bersikap tenang?” rentetan kalimatnya itu terdengar seperti sebuah legenda atau dongeng rakyat.

“Tapi tetap saja kau—”

“Sssttt!” Jin Ae meletakkan telunjuknya di bibir Mi Rae. Ia bosan dengan semua pidato-pidato Mi Rae yang baginya terdengar seperti pidato kenegaraan. Kaku. “Aku sudah menduga hubungan kalian pasti akan seperti ini. Nah, Nona Baek, yang ingin kutanyakan padamu adalah—mengapa kau menghindari Cho Kyuhyun? Ke-ka-sih-mu?”

Penekanan kata terakhir itu mengharuskan Mi Rae menarik napas sangat dalam. Ia mendesah berat. Terdiam sejenak. Jin Ae masih mengawasinya sehingga ia hanya bisa berkata pasrah, “Aku yang memintanya menjadi pacarku.”

“A-A-APAAAA?”

“Karena itu aku malu bertemu dengannya. Coba bayangkan bagaimana perasaanku sekarang? Maksudku, aku memang menyukainya, tapi..tapi… aahhh, sudahlah…mengingatnya saja membuatku ragu, siapa gadis yang mengatakan itu pada Kyuhyun di Jinhae? Apakah dia benar-benar Baek Mi Rae?”

Mi Rae mengerang. Baru kali ini, Jin Ae melihat Mi Rae berceloteh panjang lebar tanpa henti dengan ekspresi yang sefrustasi itu.

“Kau…kau serius?”

“Jadi, kumohon, jangan tanyakan apa pun padaku.”

“Tapi Mi Rae, mengapa kau harus malu? Menyukai seseorang itu bukan hal yang memalukan? Lagi pula, tidak ada salahnya jika kau menyatakan perasaanmu padanya. Itu sah-sah saja, kan?”

“Iya, tapi…”

“Temuilah Kyuhyun. Tidak baik mengabaikannya seperti itu, apalagi sekarang kalian berpacaran. Tidak penting siapa yang menyatakan lebih dahulu, toh kalian saling mencintai.”

Dan pipi Mi Rae kembali memerah. Kulitnya yang memanas itu terasa kian terbakar. Jika gadis lain yang bertingkah seperti itu, maka akan terlihat normal. Namun, karena yang berdiri di hadapan Jin Ae dengan wajah yang bersemu merah jambu dan tangan yang menangkup kedua belah pipinya sendiri sambil menggerak pelan kaki kanannya dengan irama maju-mundur adalah Baek Mi Rae, maka di mata Jin Ae apa yang dilakukan Mi Rae sangat tidak normal. Dengan menganggap sahabatnya abnormal, semakin mempertajam sifat Han Jin Ae yang termasuk dalam golongan manusia tidak berperasaan. Namun, Jin Ae tidak sepenuhnya salah karena sahabatnya itu orang yang sangat unik.

***

“Kristal Residence. Resort ini akan dibangun dengan konsep alam dan konstruksi berbentuk modular sehingga kompleks resort dapat digabungkan menjadi sebuah volume tunggal atau dibagi-bagi menjadi unit hunian kecil. Dirancang dengan atap vertikal dapat menambah jumlah ruang hijau sehingga sangat ideal untuk memandang langit malam atau kanopi dari hutan di dekat resort.”

Pria bertubuh jangkung itu sangat fasih berbicara di depan sana. Semua orang fokus pada design resort yang memantul dari infocus. Namun, apa pun yang sedang dijelaskan orang itu, tetap tidak disimak oleh Cho Kyuhyun. Padahal semua orang yang duduk mengitari meja rapat panjang berbentuk bulat lonjong itu tampak sangat serius.

Sedari tadi kepala Kyuhyun terus menunduk, ia lebih tertarik dengan apa yang disembunyikannya di bawah meja. Ponsel yang digenggam tangan kirinya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Sunyi. Diam. Layarnya hitam pekat.

Gadis itu!

Resah sekali hatinya. Baek Mi Rae tidak memberi kabar, tidak juga membalas pesan yang ia kirim, apalagi menjawab panggilannya.

Lampu ruangan dinyalakan lagi. Ia tersadar. Rapat sudah selesai. Semua orang mulai beranjak. Kyuhyun turut bergerak keluar dari ruang rapat diikut oleh Sekretaris Kim.

“Kau sudah menemukannya?”

“Ya, Direktur.”

Kyuhyun menoleh, nyawanya terasa kembali begitu mendengar jawaban Kim Ryeowook. Memang itu yang ia harapkan.

“Nona Baek, saat ini sedang berada di Pascucci,” terang Ryeowook. Itu adalah nama kafe tempat Mi Rae bekerja part time.

Kyuhyun memarkirkan mobil yang ia kendarai tepat di depan bangunan bergaya eropa dengan papan nama besar yang bertuliskan ‘Caffe Pascucci’, lalu ia keluar dari mobil itu. Ia masih berdiri di luar, dan memandang ke dalam, menembus jendela-jendela besar berkaca transparan. Ada rasa lega yang meluap begitu saja ketika melihat gadis yang berdiri di belakang meja kasir. Gadis yang tengah melamun itu, tak menyadari saat Kyuhyun mendorong pelan pintu kafe.

Kafe begitu sepi. Hanya ada sepasang muda-mudi yang duduk di dekat jendela, namun mereka telah bersiap pergi saat Kyuhyun masuk. Kyuhyun berjalan pelan menghampiri Mi Rae. Berhenti tepat di depan gadis itu.

“Dua chocolate coffee,” Kyuhyun memesan.

“Iya,” jawab Mi Rae tanpa memandangi Kyuhyun.

Tampak jelas jika banyak yang sedang bergelayut di pikiran Mi Rae. Ia sedikit pun tidak melirik pada Kyuhyun. Seharusnya, ia bersikap ramah pada setiap pelanggan yang datang, bukan? Untung saja, manager yang suka mengomelinya tidak berada di tempat.

Mi Rae sedang menyiapkan pesanan Kyuhyun, tangannya bergerak mantap. Tidak terburu-buru, juga tidak lambat. Kyuhyun tak bisa menahan diri untuk tidak mengulas senyum di wajah tampannya. Mengawasi Mi Rae seperti itu ternyata sangat menyenangkan. Setelah selesai semuanya, Mi Rae meletakkan dua cangkir berbahan keramik yang berisi chocolote coffee di atas nampan dan menaruhnya di meja kasir yang terbuat dari batu marmer hitam mengkilat. Meja kasir setinggi dada itu yang menjadi pemisah antara dirinya dengan Kyuhyun.

Kyuhyun menyodorkan sejumlah won dan Mi Rae menerimanya. Gadis itu mulai sibuk dengan mesin penghitung. Menyerahkan kembalian pada Kyuhyun. Lagi-lagi tanpa memerhatikan wajah si pelanggan. Benar-benar seorang pelayan kafe yang tidak sopan.

“Mau menemaniku minum?”

Mi Rae terkejut karena disodor cangkir dengan asap yang masih mengepul, tepat di depan wajahnya. Ia mengerjap. Jantungnya berhenti sesaat. Orang yang sedang dipikirkannya sudah berdiri di hadapannya, tersenyum lembut.

“Aku tidak bisa menghabiskan dua cangkir chocolate coffee ini sendirian.”

Si gadis masih membatu. Jantungnya bekerja tidak normal. Oh Tuhan, ia masih tak percaya jika yang sedang dilihatnya sekarang ini adalah Cho Kyuhyun.

“Kyu-Kyuhyun,” sekarang lidah Mi Rae ikut membeku. Ia terdiam beberapa saat sebelum mengupayakan suaranya keluar, “Aku—aku sedang bekerja.”

“Sudah tidak ada orang di sini,” kata Kyuhyun. Mi Rae mengedarkan pandangannya. Benar saja. Kafe yang selalu ramai, tampak lengang kali ini. Apa ia terlalu banyak melamun tadi sehingga tidak menyadari keadaan itu? “Aku sudah menutupnya,” kalimat terakhir Kyuhyun membuat Mi Rae tersentak, matanya menatap pemberitahuan di pintu masuk…close.

Close?

Sekejap Mi Rae menerjang Kyuhyun dengan tatapan bengisnya yang meminta penjelasan. Kyuhyun justru tersenyum manis, dan hanya dua menit berselang setelah aksi tatap-menatap, ‘jangkrik’ berbunyi. Mi Rae melirik ponsel di saku celananya dan tanpa berpikir panjang ia menerima panggilan itu. Kyuhyun berdecak sebal. Bagaimana tidak, Mi Rae tak mengubrisnya—lalu dengan enteng ia menjawab panggilan orang lain. Namun, bukan itu pokok masalahnya sekarang. Kyuhyun tetap bersikap tenang, senyum di wajahnya justru semakin lebar.

Hallo, Manager,” sapa Mi Rae. Orang yang dipanggilnya manager sedang berbicara di seberang. Mi Rae terus mengawasi Kyuhyun, sesekali ia mengangguk walau lawan bicara tidak bisa melihat apa yang ia lakukan. Setelah pembicaraan singkat itu berakhir, mata Mi Rae memicing. “Apa kebetulan kau adalah pelanggan yang dimaksud itu?”

“Ah,” seolah-olah terkejut, Kyuhyun berkata, “Bukan aku, tapi Sekretaris Kim yang mengatur semuanya.”

“Oh, jadi kau sedang memamerkan kekayaan yang kau miliki—persis seperti yang terjadi di drama-drama itu?” pertanyaan Mi Rae terdengar sangat sinis. Ia pernah melihat adegan itu di drama, bahwa karakter utama pria rela mengosongkan sebuah tempat meskipun harus mengeluarkan uang yang sangat banyak demi bisa berkencan dengan gadisnya.

Seringaian manis Kyuhyun membuat Mi Rae tak bisa untuk tidak berdebar-debar. Ditambah lagi Kyuhyun menyampingkan nampan berisi cangkir, lalu menopang dagu dengan tangan yang bertumpu pada meja kasir.

“Nona Drama, apa yang sudah kau lakukan padaku? Mengapa aku bisa sangat menyukaimu, hm?” itu pertanyaan atau racun? Mi Rae bisa mati berdiri jika Kyuhyun bersikap begitu. Lalu Kyuhyun kembali berkata, “Jadi, bisakah kita berkencan, sekarang? Pertama-tama, ini yang harus dilakukan,” ia menyerahkan langsung cangkir ke tangan Mi Rae. Dengan gerakan kepala, ia memberi kode agar Mi Rae keluar dari balik meja kasir. Gadis itu cukup penurut.

Lalu mereka berdua duduk berhadapan. Meja mereka terletak tepat di sisi jendela kaca besar. Jadi mereka bisa leluasa melihat ke luar. Lokasi yang cukup mendukung keputusan Mi Rae yang memilih menatap ke luar. Tak sanggup jika harus membalas tatapan Kyuhyun. Ia mengakui kekalahannya, karena semenit saja bertahan menerima terjangan langsung kelembutan sorot mata pemuda itu, ia merasa akan meleleh seperti es krim yang terkena cahaya matahari.

Jujur saja, Mi Rae sudah resah. Kyuhyun belum bersuara sejak mereka berpindah tempat. Entah apa maksudnya berlaku begitu? Apa ia sangat menikmati kekikukan yang mendera Mi Rae? Entahlah, tidak ada yang tahu kecuali pemuda itu sendiri, dan tentu saja Tuhan.

“Tak hanya menghindar, kau bahkan tak mau menatapku. Padahal aku ingin selalu melihatmu.”

Refleks saja Mi Rae berbalik pada Kyuhyun. Ia tercengang. Sinar mata Kyuhyun begitu sendu. “Kyu,” bukan itu. Bukan seperti itu. Walau tak ada suara lagi yang keluar dari mulutnya, tapi tatapan matanya sedang mengatakan bahwa Kyuhyun salah mengira.

“Ck, aku tak mengira jika harus mengeluarkan sedikit trik agar kau mau melihatku,” Kyuhyun tertawa kecil. Ah, jadi kata-katanya yang tadi itu… “Kau malu padaku, ya?”

Deg.

Luar biasa sekali Cho Kyuhyun itu. Ia bisa memberi serangan yang mengarah tepat ke jantung Mi Rae yang belakangan ini sangat lemah jika berdekatan dengannya. Orang itu mungkin memiliki kemampuan membaca pikiran.

Tatapan Kyuhyun turun ke tangan Mi Rae di atas meja, pada tangan mungil yang saling meremas. Gadis itu sangat gugup. Kyuhyun menyentuh tangan Mi Rae, sedikit saja. Sentuhan itu menyentakkan Mi Rae. Sekarang, setiap kontak fisik yang terjadi dengan Kyuhyun pasti rasanya akan jauh berbeda. Efeknya lebih hebat dari sebelum-sebelumnya.

“Boleh aku menyentuh tangan ini?” tanya Kyuhyun tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari tangan Mi Rae. Dengan telunjuknya ia mengetuk-ngetuk pelan punggung tangan Mi Rae.

Mi Rae diam. Kyuhyun diam. Sama-sama saling pandang. Sama-sama menahan tawa. Tak terelakkan lagi ketika tawa itu menggema. Suara mereka mengudara, memecah kesunyian.

Apa maksudnya bertanya begitu sambil menyentuh takut-takut tangan Mi Rae?

Tidak mungkinkan ia lupa dengan apa yang pernah ia lakukan pada Mi Rae? Seperti menggenggam tangan Mi Rae, merangkul Mi Rae, membopong Mi Rae saat gadis itu ketiduran—yah, dan aksinya itu gagal total. Ia pernah memeluk Mi Rae dan itu bukan hanya sekali atau dua kali. Bahkan ia sudah dua kali mencium Mi Rae. Pertama saat di atap rumah sakit, kecupan di pipi yang ia sebut sebagai ciuman persahabatan. Lalu yang kedua, saat mereka sedang duduk di dipan, di halaman rumah Mi Rae. Waktu itu mereka baru saja berbaikan. Ia lantas mencium kening Mi Rae, lalu ciumannya berpindah ke dahi Mi Rae. Tunggu sebentar! Bukankah itu artinya, ia telah mencium Mi Rae sebanyak tiga kali?

Ternyata Kyuhyun sudah seagresif itu sebelum mereka berpacaran.Jadi wajar saja jika pertanyaannya tadi terdengar sangat konyol.

Tawa mereka sedikit mereda. Suasana yang sebelum terasa sedikit ganjil dan kikuk telah menghilang. Kyuhyun selalu punya cara untuk membuat Mi Rae lebih santai. Ia lalu menggenggam tangan Mi Rae dengan kedua tangannya.

“Aku akan memberimu dua pilihan,” kata Kyuhyun pelan. Ia mengelus lembut jemari tangan gadisnya. “Minum chocolate coffee-mu dan duduk bersamaku di sini. Atau, jangan diminum sama sekali, lalu kau boleh pergi meninggalkanku.”

Sulit sekali mengartikan perkataan Kyuhyun. Mi Rae harus terdiam sekian detik sambil mengernyit tipis. Nada Kyuhyun barusan terdengar serius, walau pemuda itu berkata dengan sangat santai. Apa pun maksud terselubung dari perkataan Kyuhyun, ia merasa bahwa pilihannya akan menentukan jalan seperti apa yang harus ia tempuh ke depan. Terdengar seperti pilihan hidup, kan? Yang jelas, melihat tatapan sendu Kyuhyun yang sedang menantinya mengambil keputusan, ada rasa hangat yang menyambar hatinya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Tangannya bergerak pelan menyentuh telinga cangkir, membawa benda itu mendekati bibirnya. Ia meneguk sekali, dan tidak melepaskan cangkir dalam genggamannya.

Kyuhyun tersenyum, “Kau yakin tidak akan menyesal? Pikirkan baik-baik ya,” katanya lagi. Namun, Mi Rae justru mengecap minumannya untuk kedua kali. “Kau tahu apa maksudku tadi?”

Kepala Mi Rae menggeleng pelan. Matanya yang jernih memancarkan kepolosan. Ah, ia sangat menggemaskan jika berekspresi seperti itu. Mendadak Kyuhyun ingin memeluknya, tapi—sudahlah, nanti saja. Kyuhyun tersenyum jahil dan alis Mi Rae semakin bertaut karenanya.

“Karena kau memilih tetap di sini, itu artinya kau tak boleh hilang dari radarku. Saat kau memutuskan untuk memilihku, kau tak punya pilihan lain selain tetap bersamaku. Bahkan jika suatu saat nanti kau memaksa untuk pergi dariku, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau pasti tahu jika aku orang yang sangat egois. Aku tidak akan melepaskan sesuatu yang menjadi milikku. Jika kau merasa tidak bisa bertahan dengan semua persyaratan yang kuajukan, kau boleh mundur sejak awal. Yang tadi itu, aku sedang memberimu kesempatan, dan karena kau sudah memilih—sekali lagi aku akan bertanya. Kau yakin tidak akan menyesali keputusanmu?”

Pernyataan Kyuhyun begitu diplomatis. Dalam dan penuh makna. Hening berlangsung diantara mereka, lalu Mi Rae pun bertanya padanya.

“Apa yang akan kau lakukan jika tadi aku pergi?”

“Sebenarnya aku sudah memikirkan itu. Aku sulit bernapas karena menanti jawabanmu tadi, tapi jika kau pergi, maka aku akan menyusulmu. Memintamu untuk tetap di sini. Kalau kau bersikeras pergi, aku akan mengikutimu dan kita bisa memikirkan tempat lain sebagai tempat untuk berkencan.”

Dengusan tajam Mi Rae terdengar jelas dan ia tersenyum miring. “Jadi itu yang kau sebut pilihan?” tanyanya. Kyuhyun hanya mengulum senyum.

Intinya. Tidak pernah ada pilihan bagi Mi Rae, bukan?

Mi Rae pernah menyimpulkan bahwa Kyuhyun adalah orang yang sangat egois dan baru saja Kyuhyun mengakui itu dengan mulutnya sendiri. Tak dapat disangkal, tapi Mi Rae menyukai keegoisan Kyuhyun yang satu ini.

***

Sudah beberapa menit berlangsung sejak telepon di dalam ruang kerja Kyuhyun terus berbunyi. Kim Ryeowook yang memang selalu serius jika berhadapan dengan komputer nampaknya mulai terganggu.

Apalagi yang sedang dilakukan oleh direktur itu? Mengapa tidak bisa mengangkat telepon untuk meredam bunyi berisik itu? Akh, orang itu selalu bersikap seenaknya.

Tak ayal, dering telepon itu berpindah. Mungkin si penelepon jenuh karena panggilannya tidak dijawab. Ryeowook mengangkat gagang pesawat telepon yang terletak di atas meja kerjanya.

Sekretaris Kim,” itu suara Sekretaris Park. Orang yang menjadi sekretaris Nyonya Cho, ibu dari Cho Kyuhyun. “Di mana Tuan Muda? Nyonya menyuruhnya untuk segera ke ruang rapat utama, sekarang juga!

“Baik, aku akan memberitahunya.”

Setelah menutup telepon, Ryeowook bergegas ke dalam ruangan Kyuhyun. Majikannya yang satu itu memang cukup menyebalkan. Membayangkan jika Nyonya Cho dan dewan direksi sudah menanti di ruang rapat, Ryeowook dibuat bergidik. Nyonya akan marah besar. Sebagai seorang penerus, sudah seharusnya Cho Kyuhyun menjaga sikapnya.

“Direktur, Anda diminta untuk—”

Kosong.

Tidak ada siapa pun di dalam ruangan berukuran luas itu.

“Direktur?”

Kim Ryeowook mendekati meja kerja Kyuhyun. Ia melihat secarik kertas post it berwarna biru yang melekat di layar laptop.

Sekretaris Kim, aku menyayangimu ^^

Tanpa sadar, Ryeowook meremas kertas itu. Ia menggeram hebat, menatap langit-langit dengan bola mata yang berputar. Kim Ryeowook terus berpikir. Tadi ia hanya sebentar meninggalkan ruangan dan itu pun karena ia sudah tak bisa menahan hasrat buang air kecil. Cho Kyuhyun sangat licik.

Kim Ryeowook menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Sekarang ia harus mencari alasan untuk mengatakan kepada semua orang yang sudah menunggu di ruang rapat perihal ketidakhadiran Kyuhyun. Ya Tuhan. Tiba-tiba ia teringat pada ponselnya dan buru-buru menggeser layar sentuhnya. Hanya beberapa saat, ia menggeram lebih hebat lagi, kedua tangannya mengepal kaku dan kakinya dihentak-hentakkan—persis seperti seorang anak kecil yang sedang mengamuk.

.

.

“Ada apa?”

Hyukjae sedang menyetir, membawa mobil membelah jalanan. Ia menoleh sekilas pada Kyuhyun yang sedang duduk di sebelahnya.

“Hanya gangguan kecil,” jawab Kyuhyun sambil mematikan ponselnya. Ia terkekeh pelan karena membayangkan ekspresi Sekretaris Kim saat ini.

“Kau berulah lagi. Ck,” decak Hyukjae yang tahu jika sahabatnya itu telah melarikan diri dari kantor.

“Jadi—ke mana kita hari ini?” Han Jin Ae sangat bersemangat dengan double date mereka. Ia dan Mi Rae duduk di belakang.

“Myeongdong?

“Tidak. Tidak,” spontan Mi Rae menolak tempat yang disebutkan Hyukjae. “Di sana terlalu ramai,” ia tidak ingin orang banyak melihat mereka. Apalagi saat ia bersama Kyuhyun.

“Hm—kau benci keramaian ya? Baiklah, mungkin aku tahu ke mana kita akan pergi,” Kyuhyun berujar pelan. Sebuah tempat terlintas di benaknya.

“Katakan!” seru Hyukjae tak sabaran.

“Jeongdongjin.”

“Jeongdongjin??” mereka bertiga mengulangi apa yang dikatakan Kyuhyun. “Kau ingin kita ke pantai? Ayolah Kyu, lokasinya cukup jauh dari sini,” protes Hyukjae. Ia selalu menghindari perjalanan panjang jika mengendarai mobil. Itu melelahkan.

“Itu artinya kita harus ke Gangneung, membutuhkan tiga jam perjalanan dari Seoul,” sambung Jin Ae. “Pantai Jeongdongjin pasti cukup ramai,” teringatlah ia pada tolakan Mi Rae sebelumnya. Mereka harus menghindari tempat yang ramai.

“Ramai saat musim panas,” ujar Kyuhyun. Sekarang Korea Selatan sedang berada dipuncak musim semi, dan orang-orang lebih menyukai pergi ke tempat-tempat khas musim semi. Ia menoleh pada Hyukjae, “Dan kau, jangan khawatir. Kita akan menggunakan kereta.”

Tempat yang disebutkan Kyuhyun terletak di Gangneung, sebuah kota budaya, sejarah dan seni yang merupakan kota pantai. Kyuhyun sudah memikirkan masak-masak jika mereka tidak perlu mengendarai mobil ke sana dan itu artinya tidak ada alasan bagi Hyukjae untuk bersungut-sungut. Dari beberapa alternatif pantai di Kota Gangneung, pilihan Kyuhyun jatuh pada Pantai Jeongdongjin. Mereka akan pergi ke stasiun Chongyangni lalu naik kereta mugunghwa atau kereta wisata dengan pemberhentian terakhir stasiun Jeongdongjin. Sekelebat bayangan jalur kereta Jeongdongjin sudah melintas di kepala mereka. Itu adalah pemandangan yang sangat menawan karena stasiun Jeongdongjin terletak di tepi pantai. Jalur kereta menuju stasiun Jeongdongjin berada di sepanjang bibir pantai sehingga perjalanan mereka akan disuguhkan oleh pemandangan laut yang begitu eksotis.

Hyukjae menambah kecepatan mobil sehingga ia diteriaki oleh dua wanita yang duduk di belakang. Maklum saja, Hyukjae sangat bersemangat sekarang. Ia teringat pada liburan musim panasnya dengan Kyuhyun dua tahun lalu. Mereka menghabiskan empat hari di Jeongdongjin, menginap di sebuah hotel unik berbentuk kapal pesiar yang letaknya di atas bukit. Itu adalah saat-saat yang sangat menyenangkan.

Pyeongchang-dong.

Perawat Shin adalah wanita berumur 30-an. Ia tinggal di rumah orangtua Kyuhyun di Pyeongchang. Tugasnya adalah memantau keadaan ayah Kyuhyun. Keluarga Cho memiliki beberapa dokter keluarga, jadi Perawat Shin akan menghubungi mereka jika keadaan pasien diluar dari kuasanya.

Seperti biasanya, perawat Shin selalu rutin memeriksa tanda-tanda vital Tuan Cho. Masuklah ia ke dalam kamar tempat Tuan Cho terbaring. Sambil memakai handscoon ia berjalan menghampiri tempat tidur. Lalu mengambil sebuah jarum suntik di dalam wadah steril yang terletak di atas sebuah meja, tak jauh dari tempat tidur itu.

Lalu suara itu pun terdengar. Bunyi bip dengan durasi yang tak normal. Buru-buru Perawat Shin menghampiri Tuan Cho. Tatapannya langsung tertuju pada bedside monitor. ECG, respirasi, juga SpO2 yang ditampilkan oleh bedside monitor tampaknya tidak stabil. Perawat Shin lantas mengambil tangan Tuan Cho dan meraba denyut nadi lelaki itu. Lalu ia membuka kelopak mata Tuan Cho. Dari raut wajahnya, ia seperti baru saja menyaksikan sesuatu yang buruk.

Di kantor pusat Daehan, Nyonya Cho baru keluar dari ruang rapat. Sekretaris Park berjalan di belakangnya. Mereka yang berada di dalam ruangan mulai membubarkan diri. Nyonya Cho yang cantik itu tampak memendam kekesalan. Sementara Sekretaris Park hanya berjalan gelisah, ia mengayun kakinya lebih cepat agar bisa sejajar dengan Nyonya Cho.

“Di mana anak nakal itu?”

“Sekretaris Kim sedang mencarinya, dan—aku belum menerima kabar apa pun dari Sekretaris Kim.”

“Kalian sudah menghubungi Lee Hyukjae?”

“Dia tidak menjawab teleponnya,” jawab Sekretaris Park dan sesaat berselang, ponselnya  berdering. Ia terlihat berbicara sejenak dengan seseorang. Lalu ia menyimpan kembali ponsel di saku jas yang dikenakannya. “Orang yang ditempatkan untuk mengawasi Tuan Muda baru saja memberi kabar. Tuan Muda sedang menuju Jeongdongjin.”

Sebelah alis Nyonya Cho terangkat tinggi. “Jeongdongjin? Untuk apa dia ke sana?”

“Aku tidak begitu tahu, tapi Tuan Muda bepergian bersama teman-temannya.”

“Teman-temannya?” kembali Nyonya Cho bertanya. Ia menuntut penjelasan lebih. “Jadi, dia pergi bukan hanya dengan Lee Hyukjae, begitu?”

“Ya, Nyonya. Tuan Muda dan Lee Hyukjae, juga dua orang gadis lainnya.”

“Dua orang gadis?” alis Nyonya Cho terangkat lebih tinggi lagi. Ini sungguh mengganjal di hatinya. Selama ini, Cho Kyuhyun tidak pernah terlibat dengan para gadis yang berusaha mendekatinya.

“Tampaknya kedua gadis itu cukup dekat dengan Tuan Muda dan juga Lee Hyukjae.”

“Cari tahu siapa mereka!” titah Nyonya Cho dibalas dengan sikap patuh Sekretaris Park yang menundukkan kepala, santun. Siap melakukan apa pun tugas yang diberikan kepadanya.

Lagi-lagi ponsel Sekretaris Park berdering, ia menahan langkahnya, membiarkan Nyonya Cho berjalan lebih dahulu. Entah kabar apa yang diterimanya sehingga membuat ekspresinya menegang. Walau gelisah, tapi ia tetap melangkah cepat menyusuli Nyonya Cho yang telah menantinya di depan pintu lift.

“Sudah mendapat kabar dari Sekretaris Kim?”

“Belum, Nyonya,” jawab Sekretaris Park dengan wajah yang memucat. Nyonya Cho menatapnya tajam. Wanita itu tahu jika kalimat sekretarisnya belum berhenti di situ. “Kondisi Presdir tiba-tiba memburuk. Presdir sedang dilarikan ke rumah sakit.”

Betapa terkejutnya Nyonya Cho setelah mendengar kabar tak menyenangkan itu. Bola matanya membulat penuh, memancarkan ketidakyakinan akan berita yang baru saja sampai di gendang telinganya.

~bersambung~

Pertama-tama, sy mau mengucapkan terima kasih banyak untuk Riska Indah Damayanti yang sudah mengirimkan poster *tunjuk2 poster di atas*

Sebenarnya, untuk karakter Baek Mi Rae di sini sy meminjam ‘Moon Chae Won’ seperti di poster2 sebelumnya, tapi tidak apa-apa. Sy sangat menghargai kerelaan Riska yang sudah berbaik hati membuatkan poster yg cantik itu dan sy rasa hal itu tidak mengurangi isi ceritanya. Apalagi sy ini gak begitu berbakat bikin poster, jadi selalu happy kalo dikasih poster hahaha

Omong2, apa kabar kalian nih? Eyke yakin deh, pasti banyak yg udah lupa jalan ceritanya huhuhu tp tidak apa2 asalkan teman2 masih setia menanti, membaca & terutama kalian2 yg berlapang dada memberikan kritik dan saran di sini. Terima kasih banyak *peluk satu2*

Mohon bantuan koreksi ya. Kalo salah dimana, langsung sebut sj. Mata sy ini udah burem kalo mau ngecek satu per satu.

See you again ^^

Iklan

161 thoughts on “Drama (Part 14)

  1. Rizkasenja berkata:

    Aduhhhh makin gemesssss sama mi rae , lucu…. hahahhaha . Semoga aja Nyonya Cho setuju dengan hubungan kyu-rae….
    Kak tau gak, aku ngulang ke 4 kalinya baca the sweet bodyguard kak hehheheh, gak ada niatan kah buat sequelnya?
    Btw… aku rada kaget tadi liat covernya , kok bukan yg biasanya , ngebayangin tokoh mirae gak tau kenapa kok kebayang yg biasanya terus kak hehehehe.
    Lanjutkan! Lanjutkan! Lanjutkan! #radamaksa 😀 , FIGHTING!!! KAK 🙂

  2. Kim berkata:

    Baru sempet baca part 14 ini hohoho. Yeeeee posternya dipake hihihi. Maap loh maap jadi mengganggu ekspektasi author dan reader sekalian yg ngebayangin MiRae itu ChaeWon haha.

    Jangan bilang itu Tuan Cho meninggal terus Kyu gabisa dihubungin. Terus kejadian MiRae yg ibunya meninggal keulang lagi. Terus ibunya Kyu jadi gasuka sama MiRae, JinAe, sama Hyuk ;; *tebakan reader ngaco* haha

    Lucu banget si MiRae pake malu malu kucing gitu hahaha. So sweet banget ih Kyu. Posesif tapi romantis gimana gitu. Meleleh udah kalo jadi MiRae haha. Itu Kyu beliin dia stock makanan kenapa.. kasian kan MiRae berasa ngekost di rumah sendiri *salah fokus*

  3. Widya Choi berkata:

    Hahaha si mirae lucu bgt.. msih blom tbiasa pny pacar kykny dy..mgkin efek malu krn nembak duluan y neng maka ny ngindar mulu klo ktemu si abang hahaha.
    Cie yg mau double date..q ikutan dunk #Ngarep :p
    Omo..keadaan appa kyu drop?..smg baik2 aj…aduh mn kyu lg prgi..
    Nah eomma ny kyu mau cari tau siapa gdis yg dekat am kyu. Smg responny baik n dy sk am mirae. Q kok jd tkut ntr mirae g dsukai am eomma ny kyu huhuhu.
    Dtgu next chapter ny y kk

  4. Haru berkata:

    Andwe, jangan sampe nyonya cho ngelarang hubungan kyu dan mirae. Gak tega. Apa lg sampe j0d0hin kyu sama anak pembisnis kyak drama drama itu. Tidak eon.

  5. Haru berkata:

    Andwe, jangan sampe nyonya cho ngelarang hubungan kyu dan mirae. Gak tega. Apa lg sampe j0d0hin kyu sama anak pembisnis kyak drama drama itu. Tidak eon. .

  6. dya berkata:

    hai kak…
    gak tau nih mau ngomong apa..
    yg jelas aku suka. berharap nextpart hubungan kyumi direstui ma mama^^

  7. dya berkata:

    dan berharap kakak buat sesuatu yg beda kayak biasanya jalan cerita yg gak ketebak.
    thanks kak buat cerita.
    keep writing…

  8. Suchii berkata:

    Ahhh Akirnya Bisa Baca #Drama14
    Kesibukan yg melanda Jiwa ckcckck Ops!!!
    Kembali Focus Awww ka chia So swett Binggo Gktahu Hrs blng Apa???
    #Hope hubungan mereka direstuin,,
    lalalala……Keep Writing U ka Chia Yg kece badai… 😀😀😀😀

  9. anie berkata:

    miss drama aduuhhh sweet buanget,,,, mdh2han ibu nya kyu g nglrng hbungan mreka,,, ditunggu part15 ny eonni😊

  10. kyuri berkata:

    Uowwwoooowww lucu amat tingkah mi rae
    Bener2 drama jd kenyataan..
    Huaahhh khayalan yg menyenangkan
    Pastukah ada di dunia nyata?

    Bpak cho di suntik mati yah ckckckkc teganya
    Kyu nakal amat sih kabaur

    Kelanjytannya ditunggu bgt bgt bgt nih kapaannn

  11. Afwi berkata:

    Aah cho kyuhyun maniss sekalee, mirae malu banget itu maah… Hahaha
    itu emak kyuhyun halang2in hubungan mereka ya kaak

  12. Lhana Minoz berkata:

    Akhirnya ni ff di posting juga, udah sekian lama nunggu2 Sampe ane lumutan 😀 . Hehe
    Ceritanya makin bikin perasaan untuk part nextnya. Apalagi klo udah ngebahas Mi rae ma kyu hyun.

  13. Cloud246 berkata:

    Salut sama kyu yg ttp trus mncoba mngalah mnghadapi baek ma ri yg luar biasa kaku,,,dn kadang2 sngat mnjengkelkan,,dn lbh salut lgi sma jin ae yg msh brtahan dgn mi rae sbgai sahabt!!
    Smga dgn liburan mrka hbngan kyu sm ma ri lbh manis lgi dn ma ri lbh santai!!
    Apa yg akan dlakukan nyonya cho jka tau latar blakang ma ri?????
    Good job!!

  14. naynamika berkata:

    Anyeong unnei
    Woooah. Akhirnya. Aku telat lagi hahaha. Ft unnie selalu tak di ragukan kekerenannya. Deh. Ya mereka asik2 pacaran . semoga nggak ada apa2 deh emang ya kalau lagi berbunga jadi lupa ah nggak mau di ganggu. Keke
    Unnie. Fighting keren. Selalu.

  15. tifanyseptiany berkata:

    aaarrrgghhh… mereka pasanagan lovely dovely yang paling manisss… ya ampun mi rae nya lucu banget >•<

    semoga ga ada sesuatu yang buruk lgi yg nimpa ayahnya kyu yaaa… hiks

  16. kimseok berkata:

    haloo.. apa kbr sis?

    aku ktinggalan bnyak nih tau2 ada 3 part bru. amsyoong..
    lma gx mmpir ke wp u, sbb PR bejibun ampe lupa nyningin dri hehee… mlh jd curhat ^-^.

    akhr’a jadian, salut deh ama Mi Rae. skrng mh cwe nmbak cwo hahaa..*like

    cho kyuhyun sneng’a gx ktulungan psti, ampe skrtris Kim liat’a bgtu.

    walah ibu’a udh mw brtindak nih .

    lnjut baca dlu… 😀

  17. cho_hyuri berkata:

    Yanga ada di benaku sekarang adalah, apakah nyonya cho tipikal orang yang rese disini.
    Aku cuman takut, kalo nyonya cho gak ngerestuin hubungan kyu ma mirae.
    Gak ya kan author, gak lah.
    Eiiyyyy….
    Jangan gitu lah. 😡😡😡😳😓

  18. nae.ratna berkata:

    moga2 nyonya cho ga ngehalangin hubungan kyu sama mirae yah
    klo iya sampe terjadi ga tau dewh gimana lagi sikap mirae yg pasti c bakalan berubah lagi…

  19. Leah berkata:

    Astaga mirae, dia baru sadar pas udah dirumah. Hanjir lah, kerasukan setan apa dia waktu nyatain ke Kyuhyun wkwk ujung2nya dia malu sendiri kan.

    Oh may gat, dia Tn.Cho kenapa? Aduh jangan sampe kejadian di drama drama terjadi => emaknya Kyuhyun nyelidiki latar belakang cewek yg deket Kyuhyun => ga setuju => Kyuhyun mewek biar disetujuin wkwk imajinasi liar mode on

  20. Hana Choi berkata:

    Aku kira ny cho orang baik, tapi waktu keluar dari ruang rapat entah kenapa aku ngebayangin ny. Cho kaya ibu nya gu jun pyo. Semoga aja hubungan kyuhyun sama mi rae baik” aja deh

  21. My labila berkata:

    lucu ekspresi mirae waktu jin ae nemuin dia, takut di tanya yang macam-macam tentang hubungan dia sama kyuhyun wkwk… tp kyuhyun malah bahagia banget, lucu pula waktu kyuhyun meng ekspresikan kebahagiannya. waduh itu ayah kyuhyun kenapa ??

  22. ina berkata:

    kocak dah mereka ber4….
    si kyu juga… romantis banget… egois yang romantis… wkwk
    huhh semoga ibunya kyu ga mengganggu hubungan kyu dan mi rae yah….

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s