Drama (Part 15)

Drama (Part 15)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

“Lee Hyukjae! Sekali lagi kau lakukan itu, kita putus!”

Han Jin Ae berteriak kesal pada Lee Hyukjae yang terus membuat cipratan air dengan kakinya agar mengenai Jin Ae. Namun, lelaki itu seolah menyumbat telinganya dari ancaman Jin Ae. Ia justru lebih gencar membuat Jin Ae basah.

“Kau!”

Dan Hyukjae berlari menjauh begitu Jin Ae mengejarnya. Tampak kesulitan memang jika berlari di air seperti itu. Kyuhyun dan Mi Rae sama-sama menggeleng prihatin melihat tingkah mereka. Kedua orang itu yang menjadi pusat perhatian Kyuhyun dan Mi Rae yang lebih memilih berjalan di bibir pantai. Membiarkan ombak yang datang menyapu kaki mereka, dan menghapus jejak yang mereka tinggalkan.

“Jadi—” suara Mi Rae terdengar bersamaan dengan deburan ombak. “Kau sudah membuat keputusan?” Kyuhyun menoleh, dan sorot matanya yang tenang tak bermaksud menyela walau sekadar bertanya. “Kupikir kau tak akan kembali ke kampus. Apa aku salah?”

Segurat senyum tipis tergambar di raut wajah tampan Kyuhyun. Iris coklatnya bergerak mengikuti sekumpulan camar yang berputar-putar di langit. Diam-diam ia menyesap rasa hangat yang sulit dijelaskan setiap kali bersama Mi Rae. Ia menyukai itu. Menyukai sensasi yang memberi debar-debar halus di dasar hatinya. Kemudian ia menyadari jika gadis manis yang berjalan di sisinya itu sedang menantinya berbicara.

“Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku,” aku Kyuhyun.

Benar. Mi Rae sudah menduga akan seperti itu. Tidak mungkin bagi Kyuhyun untuk bertahan di kampus. Lucu sekali jika pewaris tunggal perusahaan raksasa sepertinya justru memilih menjadi dokter. Pun jika ia bersikeras dengan pilihannya, lalu mau dibawa ke mana perusahaan yang telah dirintis oleh kakek dan ayahnya itu?

Tidak ada rasa kecewa di hati Mi Rae. Ini bukan tentang romansa percintaan kekanak-kanakan yang mengharuskan sepasang kekasih untuk tetap bersama, memiliki rutinitas yang sama, profesi yang sama atau intensitas pertemuan yang tinggi. Namun, ini tentang sebuah pilihan dan mereka harus dewasa menyikapinya.

Atmosfer manis terasa mengental saat Kyuhyun bergerak maju, ia membalikkan tubuh tepat di hadapan Mi Rae. Mereka berhadapan. Tanpa suara. Hanya ada Mi Rae yang melangkah pelan, diikuti oleh Kyuhyun yang bergerak mundur. Seirama. Deburan ombak terus bermain di kaki mereka, seolah sedang menggoda dua orang yang jatuh cinta itu.

“Kau bisa jatuh, Kyu,” tegur Mi Rae sambil tersenyum malu-malu. Manis sekali.

Mereka terus berjalan seperti itu. Dengan tangan kiri, Kyuhyun meraih tangan kanan Mi Rae. Ada kehangatan yang menyeruak dari tangan yang saling menggenggam. Lalu Kyuhyun kembali ke sisi Mi Rae, melangkah bersama tanpa melepaskan pegangan tangannya.

“Jangan marah ya, kalau aku tak bersedia melepas tangan ini.”

Kyuhyun sangat suka menggenggam tangan Mi Rae. Menautkan jari-jarinya di antara jari Mi Rae rasanya seperti menemukan pegangan yang selama ini dicari. Jika sudah begitu, ia tak ingin membiarkan genggaman hangat itu menghilang dari hidupnya.

Bibir Mi Rae bergerak dengan kedua sudutnya yang melengkung ke atas. Ia tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun dan nampaknya ia tak lagi sungkan untuk menggenggam tangan Kyuhyun lebih erat. Kyuhyun menoleh padanya disaat ia melakukan hal yang sama. Mereka tertawa pelan. Menyusuri pantai di bawah kemelut senja yang mulai memamerkan singgasananya.

“Kyu, sebaiknya kau mengaktifkan ponselmu.”

Hyukjae berkata saat mereka sudah berada di atas kereta yang akan membawa mereka kembali ke Seoul. Jin Ae yang sangat kelelahan terlihat memejamkan mata.

“Sekretaris Kim terus menelepon. Juga, ada beberapa nomor baru yang berulang kali meneleponku—dan aku yakin, itu pasti ada hubungannya denganmu.”

“Baiklah,” Kyuhyun tersenyum. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Kau sudah dapat beristirahat dengan tenang,” ia mengerling.

“Ck,” Hyukjae berdecak.

Tidak sampai semenit setelah diaktifkan, ponsel Kyuhyun berbunyi. Benar, Sekretaris Kim sangat gigih.

Direktur, di mana Anda sekarang? Mengapa mematikan ponselmu?”

Suara cempreng Kim Ryeowook menikam gendang telinga Kyuhyun pada saat pemuda itu baru akan hendak mengeluarkan rayuan mautnya pada sang sekretaris yang diyakininya sedang merajuk stadium akhir.

“Ah, itu—”

Cepatlah datang. Presdir…Presdir…

Mendengar ada isakan dibalik kepanikan Ryeowook, membuat tubuh Kyuhyun dijamah oleh perasaan aneh.

“Ada apa dengan Ayah?” tanya Kyuhyun dengan ekspresi kaku. Baik Hyukjae maupun Mi Rae yang semula sedang melihat ke luar jendela, kini mengawasinya yang tiap detik memamerkan ketegangan yang kian bertambah di raut wajah tampannya itu.

Presdir, Presdir—sedang kritis. Segeralah ke rumah sakit.

Tangan Kyuhyun terkulai lemas.

“Apa yang terjadi?” tanya Mi Rae.

“Cho Kyuhyun!” Hyukjae pun membentak karena Kyuhyun sudah seperti orang yang ling-lung. Suara lantang Hyukjae membuat Jin Ae terlonjak kaget, seakan-akan diseret paksa untuk kembali sadar dari rasa kantuk yang telah memeluknya sempurna.

Mobil berdecit panjang saat berhenti di depan bangunan rumah sakit. Cho Kyuhyun turun dari mobil tersebut. Ia mungkin tak sadar jika caranya menutup pintu mobil telah mengagetkan beberapa orang yang kebetulan melintas. Kaki panjangnya mengayun lebar. Ia berlari memasuki lobi rumah sakit dan langsung mencari lift.

Kyuhyun sudah gelisah di dalam kebisuan yang menyelimutinya. Lift dimana hanya ada dirinya di dalam situ, justu semakin menyiksanya dalam kesunyian yang sangat mencekam. Debar jantungnya berlomba dengan detik jarum jam di tangan kirinya.

Damn! Kenapa lama sekali?

Kyuhyun meradang karena rasa tak sabarannya itu. Perjalanan menuju lantai lima terasa begitu lambat baginya.

Saat lift terbuka, Kyuhyun melesat seperti sekelebat bayangan. Suara sepatu yang bertemu lantai keramik terdengar di sepanjang koridor yang dilalui Kyuhyun. Gerakan kakinya melambat. Di luar ruangan tempat ayahnya dirawat, sudah berjaga beberapa orang pria berjas hitam—anggota keamanan dari perusahaan mereka. Orang-orang itu berbaris rapi, saling berhadapan. Kyuhyun melangkah pelan melewati mereka.

Kim Ryeowook tampak berdiri di muka pintu. Sekretarisnya itu sedang terisak, dan tangisannya kian menjadi saat ia melihat Kyuhyun. Dibalik sikap tegas Ryeowook, sebenarnya ia memiliki sisi lembut dan hal itu yang terkadang membuatnya menjadi orang yang cengeng. Kyuhyun menyukai saat-saat ia menggoda Ryeowook jika Ryeowook memohon dengan setengah merengek karena ulahnya. Namun, hari ini ia benci melihat Ryeowook yang menangis seperti itu.

“Ayahku, baik-baik saja, kan?”

Suara Kyuhyun terdengar bergetar. Ryeowook hanya memandang dengan mata berkaca-kaca. Sekarang, menelan saliva pun membuat Kyuhyun kesakitan. Ia mengayunkan kaki, serasa ada benda yang beratnya berton-ton dan tengah bergelayut di kedua belah kakinya.

Namun ia tak bisa hanya sekadar berdiri di depan pintu karena menolak menghadapi rasa takut akan sebuah kenyataan yang tak ingin ia percayai.

Ruangan yang dimasukinya berukuran sangat luas. Langkahnya kian lambat. Ada Sekretaris Park di situ, masih berdiri di ambang sebuah pintu. Di balik tembok pemisah yang membagi ruangan dalam kamar rawat itu, ayahnya mungkin sedang menantinya. Sekretaris Park menatapnya dengan tatapan yang sulit sekali diartikan, ia menundukkan kepala saat Kyuhyun mendekatinya.

Dari tempat Kyuhyun berdiri, suara yang paling tidak ingin ia dengar justru menyambangi telinganya. Isakan tangis ibunya. Seluruh tubuh pun terasa membatu.

Para dokter hanya berdiri kaku di sana. Sementara ibunya sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh ayahnya. Kyuhyun ingin berteriak marah. Dokter-dokter kurang ajar itu seharusnya melakukan sesuatu, bukan? Namun sesaat kemudian ia tersadar bahwa tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, setelah ia melihat ayahnya. Kedamaian yang terpancar dari wajah itu justru mengoyak-ngoyak hati Kyuhyun secara membabi-buta.

Nyonya Cho akhirnya menyadari keberadaan Kyuhyun. Wanita itu berjalan pelan menghampiri Kyuhyun yang berdiri kaku dengan rahang yang mengeras. Ia langsung memegangi lengan Kyuhyun, mendongakkan kepala menatap wajah pemuda bertubuh tinggi itu.

Dengan air mata yang berlinang dan suara yang tersendat, Nyonya Cho berkata, “Kalau…kalau kau di sini, Ayahmu mungkin tidak akan pergi seperti ini. Kau bisa mencegahnya pergi…dia…pasti akan mendengarkanmu, Kyu.”

Air mata Kyuhyun menetes tanpa bisa dikendalikan saat Nyonya Cho mengakhiri kalimat menyakitkan itu dengan memeluknya. Ia ingin berteriak mengeluarkan kemarahan yang melebur bersama kesedihan dalam dirinya, tapi semua itu seperti dibelenggu. Ia ingin menangis sejadi-jadinya, tapi saat ini ia harus lebih kuat dari ibunya. Ia mendekap sangat erat tubuh Nyonya Cho dan mereka menangis bersama.

***

Menangis tak membuat orang yang sudah pergi itu akan kembali. Namun, menangis adalah cara yang ampuh untuk mengurangi kepedihan di hati. Belajar merelakan lebih baik daripada tenggelam dalam penyesalan. Sebab, pada hakekatnya hidup ini hanya sementara. Bahwa semua yang bernyawa akan kembali kepada Sang Pencipta.

Payung-payung hitam terbuka di lokasi yang sedang berlangsungnya prosesi pemakaman. Gerimis yang jatuh seperti ingin menghapus duka yang menggeluti Kyuhyun. Namun, justru hal sebaliknya yang dirasakan Kyuhyun. Butiran air yang terhempas ke bumi itu membawa Kyuhyun pada ingatan masa lalu, saat dirinya yang masih menjadi seorang bocah tengah berkejar-kejaran dengan sang ayah di taman belakang rumah mereka. Saat itu gerimis halus yang nampak seperti salju pun tengah berjatuhan, persis seperti sekarang. Hujan gerimis hari ini justru dilaluinya dengan kesedihan mendalam sambil berdiri di hadapan lubang yang menganga. Menatap lirih pada liang lahat yang membawa turun peti tempat sosok penuh kenangan itu terbaring. Dengan kukuh ia merangkul pundak ibunya yang tak pernah berhenti menangis.

Lee Hyukjae beberapa kali menoleh pada Kyuhyun, namun kemudian pandangannya kembali tertuju pada peti mati yang sepenuhnya telah masuk ke dalam lubang. Peti itu nampak seperti sedang didekap oleh bumi.

Dari kejauhan, Baek Mi Rae hanya bisa menatap dalam diam. Ia tak berani mendekat ke sana. Berkali-kali ia mencoba berlari untuk memeluk Kyuhyun, tapi kakinya seakan telah memaku tanah yang dipijakinya. Ia hanya mampu meremas kuat-kuat gagang payung yang melindunginya dari hujan. Rasanya ia tak sanggup untuk berdiri di tengah kelompok itu. Walau ingin meringankan duka Kyuhyun, ia masih harus berperang dengan berbagai gejolak yang berkecamuk dalam dirinya. Pada akhirnya, gadis itu tetap bergeming di bawah guyuran air yang jatuh dari langit.

***

Sudah berkali-kali Home yang dinyanyikan oleh Michael Buble terdengar mengalun lembut, memecah kesunyian di dalam sebuah ruangan yang diketahui sebagai kamar tidur.

Dengan kelopak mata yang sepertinya sulit sekali terbuka, Kyuhyun berusaha menggapai ponsel yang terletak di nakas tepat di sisi tempat tidur. Sinar matahari yang menyeruak masuk melalui jendela raksasa, menembus tirai berwarna biru muda transparan, membuat matanya sedikit memicing. Ketika kesadarannya terkumpul, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Seisi kamar tidur terus berputar-putar dalam pandangan matanya. Kepalanya terasa begitu pusing.

“Sekretaris Kim,” ia menyapa Kim Ryeowook yang entah sudah berapa kali meneleponnya pagi ini. “Sepertinya aku tidak bisa ke kantor,” ujarnya dengan suara yang serak. Suara khas orang yang baru bangun tidur. “Tidak apa-apa, aku hanya sedikit demam. Aku akan baik-baik saja setelah beristirahat. Jangan coba-coba mengirim dokter ke sini!” katanya sebelum pembicaraan mereka berakhir.

Jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 09.30 pagi. Pantas saja Kim Ryeowook terus menelepon. Harusnya pagi ini Kyuhyun sudah kembali bekerja. Mungkin karena terkena hujan pada waktu pemakaman ayahnya tiga hari lalu, ditambah lagi kondisi tubuhnya yang kelelahan sehingga membuat kesehatannya menurun dan ia akhirnya tumbang.

Untuk hari ini, Kyuhyun tak ingin meninggalkan pembarigan empuk itu. Kelopak matanya kembali terpejam. Namun, ponselnya kembali berbunyi. Tanpa membuka mata terlebih dahulu, ia meraba-raba, mencari ponsel yang tersembunyi di balik bed cover.

“Ada apa lagi?” jawabnya malas-malas.

Ng—maaf. Sepertinya aku mengganggumu.”

Begitu mendengar suara lembut yang menyambangi telinganya, mata Cho Kyuhyun langsung terbuka lebar. Otaknya secara cepat memerintah tubuhnya untuk bergerak. Duduk. “Baek Mi Rae?”

Apa aku menelepon di waktu yang tidak tepat?

“Tidak!” Kyuhyun menjawab cepat. “Kupikir itu telepon dari Sekretaris Kim. Pagi ini dia rajin sekali meneleponku.”

Kau tidak sedang berada di kantor?

“Tidak,” jawab Kyuhyun, tanpa berusaha menjelaskan alasannya. Ia tak ingin gadis di seberang itu mencemaskannya. Mereka terdiam beberapa saat. Kyuhyun menarik napas pelan dan kemudian bertanya, “Apa kau marah karena aku tidak menghubungimu?”

Sejak mereka bepergian ke Jeongdongjin, lalu ayah Kyuhyun meninggal dunia, ini adalah kali pertama mereka berdua kembali berhubungan.

Tidak,” suara Mi Rae terdengar sangat tenang. “Lalu—apa kau marah padaku karena baru menghubungimu?

Kyuhyun tersenyum, “Mana mungkin aku marah.”

Maafkan aku, Kyu.

“Serius. Aku tidak marah.”

Aku tidak berada di sisimu saat kau mengalami kesusahan,” Mi Rae sangat menyesal karena dirinya bahkan tidak bisa memegang tangan Kyuhyun, dan justru hanya mengawasi dari jauh.

Senyuman di wajah Kyuhyun kembali terukir. “Aku merasa kau selalu ada bersamaku,” ujarnya.

Mata Kyuhyun terpejam, tapi senyumnya tetap bertahan. Ia teringat pada seseorang yang dilihatnya di rumah duka dan di tempat pemakaman. Seorang gadis yang sorot matanya memancarkan kebingungan yang bercampur dengan rasa cemas. Gadis yang hanya berdiri di kejauhan dan mungkin tak pernah menyadari bahwa Kyuhyun telah melihatnya.

Bel berbunyi. Ada seseorang yang menyambangi kondominium Kyuhyun. Pemuda itu kembali menarik napas panjang. Ini bukan waktu yang tepat untuk menerima tamu. Ia enggan beranjak dari tempat tidur, tapi kemudian memutuskan untuk bergerak keluar dari kamar. Dalam hati ia sedang merutuki sekretarisnya. Kim Ryeowook mungkin mengabaikan larangannya untuk mengirim dokter ke tempatnya.

Suaramu terdengar berbeda. Kau baik-baik saja?

“Ah—itu karena aku baru saja bangun tidur. Suaraku terdengar sangat seksi bukan?” Kyuhyun berbohong, dan justru menggoda Mi Rae. Ia berjalan menghampiri pintu. “Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja,” katanya lagi, sambil membuka pintu kondominiumnya yang selalu tertutup rapat.

“Benarkah?”

Cho Kyuhyun pun tertegun menatap sosok yang berdiri di hadapannya, masih dengan ponsel yang menempel di telinga. “Mi Rae?”

Kyuhyun tidak salah lihat. Gadis yang dilihatnya sekarang adalah Baek Mi Rae. Gadis itu sedang memandanginya.

“Aku tahu jika kau berbohong,” ujar Mi Rae setelah melihat wajah pucat dan tatapan lesuh Kyuhyun. Ia melangkah masuk dan langsung merabah dahi Kyuhyun. “Lain kali kau harus berlatih lebih giat jika berniat membohongiku.”

“Ini hanya demam biasa,” elak Kyuhyun.

Mi Rae justru memegang pergelangan tangan Kyuhyun dan menarik pemuda itu, “Di mana kamarmu?”

Sontak langkah kaki Kyuhyun terhenti. “Mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang kamarku? Apa yang ingin kau lakukan padaku?” tanyanya. Ekspresi di wajahnya terlihat berubah. Mi Rae tak menjawab, tapi justru kembali menarik Kyuhyun.

“Kamarmu yang pintunya terbuka itu, kan?”

Wajah Kyuhyun menegang. “Baek Mi Rae, kau bukan gadis yang seperti itu, kan? Kau bilang kau tidak akan mencium orang lain selain suamimu,” ia terus melayangkan rentetan pertanyaan dengan ekspresi cemas yang berlebihan. “Tu-tunggu dulu! Aku belum siap,” dan ia hampir berteriak saat Mi Rae mendorongnya ke tempat tidur.

Mi Rae berdiri di tepi tempat tidur, memandangi Kyuhyun yang terburu-buru menarik bed cover untuk melindungi tubuhnya. Tak tahu apa yang sedang ditakutkan pemuda itu. “Cho Kyuhyun, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Apa penyakitmu separah itu sehingga membuat otakmu ikut terganggu?” tanya Mi Rae dengan ekspresi yang teramat sangat datar. “Tidurlah! Kau harus beristirahat. Jangan ke mana-mana sementara aku membuatkanmu makanan!”

Blam!

Suara pintu yang tertutup sedikit menghentakkan Kyuhyun yang masih terpaku. Ia menelan ludah. Termangu seperti idiot. Lalu ia menyentuh dahinya sendiri dengan punggung tangannya. Mungkin Mi Rae benar. Mungkin penyakitnya cukup parah sampai-sampai ia berhalusinasi seliar dan segila itu. Pandangannya kembali terarah pada pintu yang tak bergerak, tempat di mana Mi Rae menghilang dari jarak pandangnya. Lalu ia merebahkan tubuhnya. Memandang langit-langit kamar dan sesaat kemudian ia tersenyum geli mengingat tingkah konyolnya barusan. Memalukan.

Kyuhyun tak tahu berapa lama Mi Rae membiarkannya membisu bertemankan kesunyian di dalam kamar tidurnya sehingga membuat kantuk dengan leluasa menyerangnya. Ia terbangun saat mendengar suara pintu yang dibuka. Mata sayunya mengawasi Mi Rae yang berjalan menghampirinya. Gadis itu meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas. Aroma wangi menguar, membangkitkan selera makan Kyuhyun.

“Kau tidak pernah memasak ya?” tanya Mi Rae sambil mengawasi Kyuhyun yang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur. Mi Rae pun duduk di tepian pembaringan itu.

Sebenarnya, Mi Rae sedikit mengeluhkan isi kulkas di tempat tinggal seorang chaebol yang ternyata tidak lebih baik dari isi kulkas di rumahnya. Tadinya, ia hendak membuatkan bubur ayam gingseng yang memang sangat baik jika dikonsumsi oleh orang sakit, tapi karena bahan utama yang tersedia adalah sepotong labu—maka ia hanya bisa berkreasi dengan itu.

Sambil menyerahkan mangkuk berisi bubur labu ke tangan Kyuhyun, “Makanlah. Kau harus mengisi perutmu,” kata Mi Rae.

“Terima kasih,” ujar Kyuhyun. Ia memiliki kebiasaan membaui makanan sebelum menyuapkan ke dalam mulutnya. “Enak sekali,” katanya memuji keterampilan memasak Mi Rae.

“Tentu saja,” jawab Mi Rae santai dan dibalas dengan decak Kyuhyun. Pemuda itu tak mengira jika Mi Rae langsung menyambut pujiannya tanpa basa-basi. “Aku sangat terlatih untuk melakukan pekerjaan rumahan,” kata Mi Rae lagi. Kyuhyun terdiam, ia lupa jika keadaan ibu Mi Rae membuat Mi Rae yang notabenenya adalah seorang gadis muda, namun harus bersikap seperti seorang ibu rumah tangga.

“Sepertinya, kau akan menjadi calon istri idaman,” Kyuhyun berkata pelan sambil menyuapi bubur ke dalam mulutnya.

“Semua orang juga tahu itu,” jawaban Mi Rae yang terkesan sangat santai itu justru membuat Kyuhyun membelalak, menghujaninya dengan sorot mata yang mempertontonkan rasa tidak percaya karena kalimat Mi Rae barusan.

“Baek Mi Rae, apa selama ini kau memang sudah senarsis ini?”

“Aku hanya bercanda,” sahut Mi Rae malas. “Sudahlah, jangan bicara pada saat makan!” titahnya.

Kyuhyun tersenyum, “Tapi aku tidak bercanda,” katanya tenang setelah menelan bubur yang baru saja disendokinya.

“Tentang kenarsisanku? Ayolah, aku hanya ingin menghiburmu.”

“Calon istri idaman.”

Mi Rae tertegun, ia memandangi Kyuhyun yang kembali tersenyum lembut padanya. “Habiskan saja bubur itu!” katanya kemudian untuk menutupi rasa gugupnya.

“Sudah kulakukan,” Kyuhyun berkata sambil menyerahkan mangkuk yang telah kosong ke tangan Mi Rae membuat gadis itu terperangah. Cepat sekali?

“Kalau begitu, kau bisa beristirahat lagi—tapi jangan terlalu lama di tempat tidur, itu hanya akan memanjakan penyakitmu,” saran Mi Rae. Ia menyerahkan segelas air dan langsung dihabiskan Kyuhyun.

Gadis itu berdiri, lalu meletakkan mangkuk dan gelas kosong di atas nampan. Ia baru saja hendak mengangkat nampan itu saat dengan lembut Kyuhyun menyentuh tangannya seolah memintanya untuk menghentikan aktivitasnya. Dengan posisi yang tetap duduk di tempat tidur, Kyuhyun memeluknya dari belakang. Jantung Mi Rae berdetak cepat sekali karena merasakan kehangatan dari tangan yang mengurung pinggangnya dan juga ketika Kyuhyun menyandarkan kepala di belakangnya.

“Terima kasih.”

Suara Kyuhyun yang mengalun lembut itu menyampaikan sebuah ketulusan. Mi Rae terdiam, ia dapat merasakan tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya kian mengencang. Lalu, ia menyentuh tangan pemuda tersebut.

“Cho Kyuhyun adalah orang yang mengagumkan. Dia hangat dan selalu bersemangat. Dia penuh kelembutan. Dan—dia selalu terlihat sangat kuat dan tegar,” Mi Rae tersenyum tipis. Ia kembali mendesah pelan, “Namun, di hadapanku, Cho Kyuhyun tidak harus selalu menjadi sosok yang seperti itu.”

Kyuhyun sedikit tertegun mendengar perkataan Mi Rae. Ia memejamkan mata. Wangi tubuh Mi Rae terasa seperti sebuah aroma terapi yang membuatnya tenang.

“Kau tidak pernah ingin orang lain melihat sisi lemahmu. Kau selalu menutupi semuanya dengan baik, dan kupikir itu pasti sangat melelahkan. Kuharap, ada saat dimana kau bebas mengekspresikan perasaanmu. Kau tidak perlu berpura-pura tersenyum disaat kau ingin menangis, atau bahagia padahal kau sendiri sedang sedih. Kau tak perlu bersandiwara hanya untuk menutupi kecemasanku. Tolong biarkan aku menjadi seseorang yang bisa melakukan sesuatu untukmu.”

Selama ini, Kyuhyun adalah orang yang selalu melakukan banyak hal bagi Mi Rae. Mi Rae ingin sekali saja bahwa ia mampu melakukan hal yang sama. Sekali saja ia ingin merasa dibutuhkan oleh Kyuhyun walaupun memang tak banyak yang bisa ia lakukan.

Dada Kyuhyun berdebar halus setelah mendengar ungkapan hati Mi Rae. Ya, mungkin tidak seharusnya ia bersikap seolah dirinya selalu baik-baik saja. Ia selalu ingin memercayai gadis yang dipeluknya itu. Biasanya Mi Rae dikenal dengan sikap tenang dan terkesan dingin. Namun, kali ini—ia dapat merasakan kehangatan dari perlakuan maupun kata-kata yang diucapkan Mi Rae. Kehangatan yang bagaikan sebuah kunci untuk membuka rasa perih dan sakit yang sebelumnya ia kurung di sebuah ruang rahasia di dalam hatinya. Tak ayal, sesuatu yang selama ini ditahan pun keluar begitu saja. Air mata yang terasa hangat menyentuh kulit wajahnya.

“Ayah adalah seorang figur yang menjadi panutan anaknya. Seorang anak selalu bercermin pada ayahnya. Kebanyakan anak yang terlahir dari keluarga sepertiku selalu berakhir kesepian, tapi ayah dan ibu tidak membiarkanku mengalami itu. Mereka sibuk, tapi mereka selalu berusaha untuk membuatku merasa dipedulikan. Aku sangat bangga pada ayahku dan aku hampir selalu ingin menirunya. Ketika aku mengetahui kesalahan yang dilakukan ayah, hatiku sangat hancur. Aku sangat kecewa dan membencinya.”

Ya, Mi Rae tahu bagian itu. Ia cukup mengerti seterpuruk apa seorang Cho Kyuhyun akibat kekecewaannya terhadap orangtuanya.

“Saat aku meninggalkan rumah, aku sangat puas melihat orangtuaku menderita. Kupikir itu bentuk dari sebuah pembalasan, tapi ternyata dendam tidak menyembuhkan apa pun. Dendam tidak mengurangi sedikit saja lukaku. Aku justru semakin terpuruk,” Kyuhyun memejamkan matanya. Mengingat saat-saat itu cukup membangkitkan luka di hatinya. “Tapi—seorang ayah, tetaplah menjadi ayah. Sebenci-benci aku padanya, itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa dia adalah ayahku. Seperti katamu, kita tidak bisa memilih untuk terlahir dari orangtua yang seperti apa. Kau mungkin tak sadar, tapi berkat kau, aku mampu memaafkan diriku dan memaafkan orangtuaku. Aku selalu merasa bersyukur karena bertemu denganmu.”

Senyuman terulas di bibir orange muda Mi Rae. Kyuhyun pun mungkin tak menyadari bahwa karenanya, Mi Rae telah banyak berubah.

“Aku belum mengatakan padamu, tentang apa yang paling ingin kulakukan. Sesuatu yang aku cita-citakan.”

Benar. Dulu Kyuhyun sempat menyinggung soal itu. Mi Rae juga tahu jika menjadi dokter bukan tujuan utama Kyuhyun. Si jenius itu berkata bahwa baginya, menjadi dokter adalah sebuah pelarian. Sama seperti saat ia menjadi anggota dari kelompok mafia.

“Pun dirimu akan paham seperti apa kehidupan seorang penerus sepertiku. Orang lain akan melihat itu sebagai hal yang sangat menyenangkan, tapi mereka tidak mengerti apa yang sesungguhnya aku rasakan. Ada begitu banyak beban dan tanggung jawab yang harus kupikul, dan itu sangat memberatkanku. Namun, aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk kembali. Dari dulu, aku selalu berpikir bahwa akan sangat menyenangkan jika bekerja dengan ayah dan ibu. Berada di perusahaan adalah hal yang selalu aku inginkan, karena di sana ada jerih payah kakek dan kerja keras ayah. Di sana tersimpan impian kakek dan ayah, juga harapan orang banyak. Aku ingin menjaga Daehan karena Daehan adalah keluargaku.”

Sedikitpun tidak terlintas di benak Mi Rae bahwa itulah yang dicita-citakan Kyuhyun. Ia selalu mengira jika Kyuhyun tidak pernah menginginkan posisi itu. Di dalam kebisuannya, rasa kagum kepada Kyuhyun kian bertambah. Pemuda itu selalu membuatnya belajar banyak hal. Di dunia ini, cukup sulit untuk menemukan orang kaya yang peduli pada sesama. Karakter Chaebol yang di mata orang banyak selalu terkesan angkuh, justru tidak nampak pada pribadi Cho Kyuhyun. Kyuhyun adalah orang yang gemar memikirkan kepentingan orang lain, dibandingkan kepentingan dirinya sendiri.

Lalu Mi Rae melepas tangan Kyuhyun yang melingkar di perutnya dan berbalik, kemudian ia duduk kembali di tepi tempat tidur. Menatap Kyuhyun dengan begitu dalam. Ia tersenyum dan memeluk lembut tubuh Kyuhyun.

“Kau harus melakukannya dengan baik, Kyu.”

Ucapan Mi Rae membuat Kyuhyun tertegun sejenak. Hingga senyum di wajahnya mengembang dan ia pun membalas perlakuan Mi Rae dengan memeluk gadis itu lebih erat lagi. Baek Mi Rae selalu menumbuhkan tunas semangat baru di dalam hati Kyuhyun.

***

“Kecelakaan beruntun terjadi di Cheongdam-dong. Mengingat lokasi terjadinya kecelakaan adalah jalur padat sehingga beberapa pejalan kaki turut menjadi korban dan juga kecelakaan itu melibatkan sebuah bus penumpang. Jumlah korban diperkirakan terus bertambah.”

Raut-raut wajah itu menampilkan ketegangan dan juga keseriusan saat mendengarkan penjelasan seorang dokter. Atmosfer mencekam seperti itu sudah biasa dirasakan di rumah sakit, terutama di Departemen UGD.

“Severance Hospital sudah penuh, mereka tidak bisa menerima semua korban kecelakaan itu. Persiapkan ruang operasi karena kemungkinan kita akan menerima pasien gawat!”

“Baik!”

Para dokter yang bertugas di UGD segera bergegas setelah menerima instruksi dari dokter kepala. Beberapa orang perawat membantu mendorong brankar. Suara sirene mulai terdengar. Tak lama kemudian, beberapa ambulance damkar memasuki area rumah sakit, lalu berhenti di depan UGD dan langsung disambut oleh para dokter.

Dengan cekatan dan penuh kehati-hatian dan dibantu oleh petugas damkar, mereka mulai memindahkan para pasien ke dalam UGD. Ringisan dan jeritan akibat menahan rasa sakit terdengar di mana-mana. Ambulance terus berdatangan.

Damn!” umpat Dokter Jung yang merupakan dokter kepala di UGD. “Berapa banyak pasien yang dikirim ke sini?” ia menoleh pada seorang petugas damkar yang baru saja membuka pintu ambulance dan menarik brankar yang diatasnya terbaring pria paruh baya yang sudah tidak sadarkan diri.

“Sembilan orang.”

Dokter Jung mulai mencemaskan jumlah pasien yang terus berdatangan. Jika UGD penuh, maka ada kemungkinan sisa pasien harus dikirim ke rumah sakit lain dan yang paling ditakutkan olehnya bahwa besar kemungkinan pasien akan kehilangan nyawa dalam perjalanan. Bagaimanapun caranya, mereka harus mengusahakan semua pasien yang dikirim ke rumah sakit itu agar mendapatkan pertolongan.

Ia menoleh pada seorang gadis yang sedang mendorong brankar bersama seorang dokter lainnya. “Baek Mi Rae!” panggilnya.

“Ya!”

Gadis yang dipanggilnya itu pun berhenti. Ia menoleh pada Dokter Jung yang sedang berkacak pinggang dengan raut wajah cemas.

“Katakan pada Dokter Shim untuk memindahkan pasien yang kondisinya sudah membaik ke ruang rawat biasa!”

“Baik!” Mi Rae melesat masuk, mengikuti arahan dari Dokter Jung.

Ambulance kesembilan tiba di depan UGD. Saat pintu ambulance itu dibuka, tampak dua orang petugas damkar di sana. Seorang petugas sedang menekan leher korban dengan kain. Wajah petugas itu terlihat berdarah. Sementara petugas yang lainnya memegang ambu.

Beberapa dokter, termasuk Dokter Jung dan dua orang perawat membantu menurunkan brankar tempat terbaringnya si korban terakhir yang dibawa ke rumah sakit tersebut. Seorang gadis muda yang masih mengenakan seragam salah satu SMA di daerah sekitar terjadinya kecelakaan.

“Korban adalah seorang remaja berusia 17 tahun. Dia terjepit badan mobil dan lehernya terkena pecahan kaca,” terang petugas damkar yang tak sedikitpun memindahkan tangannya dari leher korban. Tampaknya darah di wajah petugas itu bukan darahnya, tapi darah korban yang terciprat saat petugas itu mencabut pecahan kaca di leher korban. “Arteri ceroidnya sobek,” tambahnya lagi. Alasan yang membuatnya tidak bisa berhenti menekan leher sang korban yang merupakan seorang gadis muda itu. Jika ia melepaskan tangannya, maka gadis itu akan mati.

“Apa lagi yang kalian tunggu? BAWA DIA KE RUANG OPERASI!” Dokter Jung berteriak pada para dokter. Dokter-dokter itu bukannya lambat, hanya saja nyawa gadis muda itu sedang terancam. Tidak ada dokter yang ingin kehilangan nyawa pasien.

Seluruh tim medis di UGD sangat sibuk merawat pasien akibat kecelakaan beruntun itu.

“Dokter! Dokter!” seorang wanita berlarian masuk ke dalam UGD. Ia sedang menggendong seorang anak laki-laki yang berumur sekitar tiga sampai empat tahun. “Dokter, tolong anakku!”

Baek Mi Rae menyambut wanita yang jika dilihat dari penampilannya, tampak berasal dari kalangan menengah ke atas. Mi Rae meletakkan anak tersebut di atas tempat tidur yang kosong. Ia lantas bergegas menuju seorang dokter yang sedang sibuk di tempat tidur lainnya, menolong pasien kecelakaan. Mi Rae terlihat berbicara sejenak dengannya. Entah apa yang dikatakan dokter tersebut pada Mi Rae sehingga membuat raut wajah gadis itu sedikit berubah. Tak menunggu lama, Mi Rae kembali menghampiri wanita yang terus berdiri di sisi tempat anaknya berbaring sambil terus memegangi tangan anak itu.

Dengan cekatan Mi Rae mulai memeriksa anak tersebut. Menaruh stetoskop di dada anak itu. Memeriksa nadinya dan mulai membuka mata anak itu untuk memeriksa pupilnya. Anak kecil itu mengerang. Mi Rae lantas membuka mulut anak tersebut dan mengarahkan pen light ke dalam mulut anak tersebut.

“Apa yang kau lakukan?” ibu anak itu bertanya dengan ekspresi sinis setelah ia melihat tanda pengenal yang disemat di jas putih yang dikenakan Mi Rae. “Apa kau dokter?” tanyanya lagi.

Mi Rae terhenti. Ia berdiri tegap menatapi wanita itu dan berkata, “Aku..aku. Maksudku—aku belum sepenuhnya menjadi seorang dokter.”

“Aku ingin dokter di sini! Bukan magang!” ungkapnya jengah. “Tolong panggilkan dokter sekarang juga!”

Mi Rae ingin sekali meneriaki wanita itu, tapi ia harus mengurungkan niatnya. Ia bukannya bertindak sesuka hati, tapi atas instruksi dokter pembimbingnya. “Nyonya. Kami baru saja menerima pasien kecelakaan dan para dokter sedang menangani mereka,” ujarnya dengan nada serendah mungkin.

“Apa nyawa anakku tidak lebih berharga dari mereka? Lantas anakku harus menjadi kelinci percobaan bagi magang?” bola matanya melebar, menatap tajam pada Mi Rae yang langsung dihampiri oleh dua orang rekan sesama magang dan beberapa orang perawat. Melihat keributan yang sedang terjadi sehingga mereka berniat membantu Mi Rae.

Dengan teratur Mi Rae menarik napas dalam. Ujian selalu saja datang. Kesal, tapi ia harus lebih bijak. Wajar saja jika orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Ia hendak menenangkan wanita itu, namun kedatangan dua orang petugas damkar mengalihkan perhatiannya. Dua orang petugas damkar yang terburu-buru masuk ke UGD sambil mendorong brankar. Ada seorang pemuda yang terbaring dengan leher diberi cervical collar atau alat penyangga.

Dokter Jung sudah berada di ruang operasi sehingga dokter yang diajak bicara Mi Rae sebelumnya yang datang menghampiri petugas damkar.

“Apa pemuda ini juga termasuk dalam korban kecelakaan beruntun itu?” tanya Dokter Park, dia adalah dokter pembimbing Mi Rae. “Kami hampir kewalahan menangani mereka semua. Mengapa kalian masih mengirim pasien ke sini?”

“Kami bermaksud membawanya ke Rumah Sakit St. Maria, tapi diperjalanan kondisinya semakin memburuk. Pemuda ini mengalami patah tulang leher. Selain itu, memar di dadanya karena benturan menyebabkan munculnya gejala hemothorax,” ujar petugas damkar yang memegang ambu. Dibandingkan ke St. Maria, Rumah Sakit Universitas Anam memang lebih dekat sehingga mereka memutuskan untuk membawa pasien tersebut ke RS Universitas Anam.

Dokter Park lantas membuka kelopak mata pemuda itu. Lalu menyingkap kemeja yang dikenakan pemuda tersebut dan memeriksa lagi dengan menggunakan stetoskop. Ia terlihat gusar dan memberi instruksi kepada kepala perawat.

Perawat Han bergegas. Ia datang dengan beberapa peralatan dan obat-obat di atas meja instrumen stainless steel yang ia dorong.

Setelah mengenakan handscoon, Dokter Park menyiram antiseptik di kulit dada pemuda itu. Dengan tangan kiri, ia meraba sejenak daerah yang diperkirakan terjadinya hemothorax, lalu tangan kanannya yang memegang jarum berukuran besar ditusuk masuk ke dalam dada pemuda itu dengan berhati-hati—di antara sela iga kelima dan keenam.

Baek Mi Rae masih berdiri di tempatnya yang hanya bersebelahan tempat tidur dengan pemuda yang sedang ditangani Dokter Park. Memerhatikan proses pemasangan chest tube yang dilakukan Dokter Park pada pemuda tersebut—baru kali ini ia melihatnya secara langsung. Mi Rae terlihat lega saat melihat darah kental keluar dari selang kecil yang dimasukkan ke dalam rongga dada pemuda tersebut. Hemothorax­-nya berhasil diatasi.

“Tolong lakukan MRT untuk melihat seberapa parah patah tulang lehernya,” ujar Dokter Park pada seorang dokter residen. “Siapkan ruang operasi dan hubungi Departemen Orthopaedic dan juga Neurolog. Mungkin kita akan membutuhkan bantuan mereka.”

“Dokter! Dokter!”

Langkah Dokter Park terhenti. Ia menoleh pada wanita yang sebelumnya marah-marah pada Mi Rae.

“Tolong selamatkan anakku, Dokter!”

“Nyonya. Gadis itu akan melakukan yang terbaik bagi anak Anda.”

“Tidak! Aku tidak mau anakku ditangani oleh magang!” ia kembali menghujani Mi Rae dengan tatapan yang terlihat sangat meremehkan. “Anakku lebih dahulu tiba di sini dibandingkan orang itu. Lalu mengapa kalian mengabaikan anakku? Kalian berniat membunuhnya? Apakah seperti ini penanganan rumah sakit terkenal seperti Anam? Jika terjadi sesuatu pada anakku, akan kutuntut rumah sakit ini!”

Suara menggelegar wanita itu cukup menyita perhatian orang-orang yang berada di UGD. Beberapa dokter dan perawat mendekat. Begitu pun dengan Dokter Park. Jantung Mi Rae berlomba-lomba dengan detik jarum jam. Sungguh, ini kali pertama baginya untuk menghadapi keluarga pasien yang mengamuk.

“Kau sudah melakukan observasi pada pasien?” tatapan Dokter Park tertuju pada Mi Rae.

Mi Rae mengangguk. Gugup. “Anak ini demam tinggi disertai keluhan sakit kepala juga mual. Selain itu, saat berbicara, suaranya terdengar serak dan juga ia terus berbatuk.”

“Diagnosanya?”

“Dari gejala yang ditunjukkan, pasien mengalami radang tenggorokan.”

“Lalu apa tindakanmu?”

“Pasien mengeluhkan susah menelan makanan. Saat diperiksa terdapat nanah pada daerah amandel dan daerah faring tampak memerah. Penanganan akan ditentukan dari penyebab radangnya,” ujar Mi Rae mantap. Ia mulai bisa menetralisir irama jantungnya. “Karena kemungkinan adanya masalah pada pita suara, maka sebaiknya dilakukan rontgen terlebih dahulu dan juga dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat keseriusan infeksinya. Setelah itu kita dapat memberikan pengobatan lebih lanjut.”

Dokter Park menganggukkan kepala pelan setelah mendengar penuturan tegas yang disampaikan Mi Rae. Ia lalu menatap ibu dari anak tersebut.

“Nyonya, UGD bukan loket pembelian tiket masuk bioskop atau taman hiburan yang mengharuskan pengunjungnya antri, sehingga yang pertama datang, maka dia yang pertama mendapat pertolongan. Di sini, kami harus menentukan prioritas pasien mana yang harus mendapat penanganan berdasarkan kondisinya. Anak Anda memang lebih dahulu tiba di sini dibandingkan pemuda korban kecelakaan tadi. Jika dilihat dari keadaannya, pemuda itu mengalami hemothorax—pendarahan di antara dinding dada dan paru-paru yang jika tidak segera dikeluarkan maka akan terjadi pembekuan darah. Selain itu, dia mengalami fraktur tulang leher yang berakibat pada terganggunya jalan kepatenan pernapasan. Nyawanya sangat terancam.”

Dokter Park berkata dengan eskpresi yang sangat tenang, sementara wanita yang sedang diguruinya itu diam seribu bahasa.

“Hari ini ada banyak korban kecelakaan yang dikirim ke sini. Dengan tenaga medis yang terbatas, kami tidak bermaksud mengabaikan anak Anda, tapi kami harus memprioritaskan penanganan kepada pasien yang lebih gawat. Jika kami tidak segera melakukan tindakan pada pemuda tadi, bisa saja saat ini dia telah kehilangan kesempatan hidup. Dibandingkan dengan anak Anda, kemampuan bertahan pemuda tersebut jauh lebih kecil.”

Entah kenapa, keadaan cukup hening berlangsung ditengah kesibukan yang terjadi di UGD. Wanita itu menampilkan raut wajah yang menyiratkan penyesalan di sana. Tatapan Dokter Park beralih pada Baek Mi Rae.

“Nona ini memang belum dibolehkan menangani pasien secara langsung tanpa pengawasan, tapi dia memiliki kompetensi untuk merawat anak Anda. Juga, Anda pasti akan lebih marah jika anak Anda dibiarkan harus menunggu semua dokter selesai menangani korban-korban kecelakaan. Nyonya, tolong percayakan anak Anda pada kami.”

Penuturan Dokter Park yang begitu tulus membuat hati Mi Rae terasa meluap. Ibu dari anak tersebut pun hanya bergeming, tampaknya ia sudah pasrah dan menerima semua yang disarankan oleh Dokter Park padanya.

“Aku mendengar kejadian hari ini di UGD.”

Celetuk Jin Ae sesaat setelah ia duduk. Jin Ae dan Mi Rae sedang berada di kantin rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat pun terlihat di sana—membentuk kelompok mereka masing-masing, berbincang-bincang sambil menikmati makan siang mereka.

“Beritanya menyebar dengan cepat rupanya,” gumam Mi Rae, lalu ia menyuapi makanan ke dalam mulutnya.

“Hm, beberapa perawat membicarakannya tadi,” kata Jin Ae. Ia kembali melanjutkan kata-katanya dengan ekspresi yang seperti baru saja memecahkan sebuah teka-teki. “Sebenarnya, topik itu timbul karena ada keterkaitan dengan Dokter Park. Kau tahu sendiri, kan? Dia cukup populer di sini. Beruntung sekali kau memiliki dokter pembimbing sepertinya.”

Park Jung Soo memang dokter yang disenangi banyak orang karena pembawaannya yang ramah. Selain itu ia pintar, juga tampan. Wajar saja jika orang sepertinya lebih sering dibicarakan.

“Sayang sekali dia sudah beristri,” ringis Jin Ae. Ia membanting sendok makannya. Berlagak seperti orang yang kehilangan selera makan.

“Ck, apa Lee Hyukjae tidak cukup bagimu?” heran sekali Mi Rae melihat kelakuan Jin Ae. Apa perlu memamerkan ekspresi sekesal itu disaat dirinya sendiri sudah punya kekasih? egois.

Jin Ae terkekeh pelan, “Hey, aku hanya mengagumi Dokter Park, bukan jatuh cinta padanya,” ia memindahkan nasi dari mangkuknya ke mangkuk Mi Rae sambil berkata, “Makanlah yang banyak, hari ini kau sudah bekerja keras.”

Mi Rae tersenyum, “Kau juga,” katanya.

“Yaa—kurasa hidup kita akan semakin berat. Hari ini, aku terus diomeli Dokter Cha. Sialan! Nasib buruk apa sampai-sampai harus mendapatkan dokter pembimbing si perawan tua itu?”

“Menjalani magang di rumah sakit selama empat tahun, dan sekarang kita masih di tahun pertama. Pikirkan tiga tahun sisanya. Jadi, sebaiknya jaga sikapmu agar kau tidak mendapatkan kesulitan nantinya,” tegur Mi Rae. “Tapi dengan mulutmu yang tidak bisa dikendalikan itu, rasanya akan sulit. Ya, setidaknya, kau dan Hyukjae di tempatkan di departemen yang sama. Dia masih bisa menghiburmu, tapi sebaiknya kau lebih berhati-hati karena itu artinya, kesempatan Hyukjae melihat kecerobohanmu semakin besar. Dia bisa saja berpaling darimu. Kudoakan, pergantian berikutnya, kalian tidak di departemen yang sama. Demi kebaikanmu,” kerling Mi Rae.

“Apa gadis ini benar-benar sahabatku? Mengapa tidak sedikit pun dia membelaku, haahh?” erang Jin Ae yang langsung memenuhi mulutnya dengan nasi. Mi Rae tersenyum kecil melihat ekspresi Jin Ae.

Lee Hyukjae, Baek Mi Rae dan Han Jin Ae sedang menjalani masa klinik mereka di RS Universitas Anam. Menyenangkan tapi penuh tekanan karena mereka harus berhadapan langsung dengan pasien, belum juga harus menghadapi beraneka ragam sifat dokter di rumah sakit tersebut. Sebagai magang, mereka akan ditempatkan di semua departemen secara bergantian.

“Oh ya, bagaimana dengan Kyuhyun?”

Sendokan sup yang baru saja hendak masuk ke rongga mulut Mi Rae, tertahan sejenak setelah mendengar pertanyaan Jin Ae. Lalu Mi Rae kembali menuntun sendok ke dalam mulutnya. “Bagaimana apanya?”

“Hubungan kalian.”

“Sudah seminggu dia di Jepang. Kami berdua sedang sibuk, tapi kami baik-baik saja. Aku harap, dia bisa memenuhi keinginannya,” jawab Mi Rae dan ia tersenyum.

Tidak bertemu karena kesibukan, tidak berarti hubungan mereka renggang. Kyuhyun mengerti kesibukan Mi Rae. Pun demikian halnya dengan Mi Rae. Ia tahu semua kegiatan terjadwal yang harus dilakukan Kyuhyun. Mi Rae paham jika kesibukan Kyuhyun sebagai penerus adalah cita-cita terbesar yang ingin dilakukan Kyuhyun. Sebab ketika ia meminta Kyuhyun untuk melakukannya dengan baik, ia telah sepenuhnya mendukung Kyuhyun.

***

Pagi hari di kediaman utama konglomerat Daehan Group.

Sekretaris Park melangkah tegap di sepanjang koridor rumah mewah itu. Ia lalu membuka sebuah pintu yang menjulang tinggi sehingga menimbulkan sebuah suara yang langsung membuat Nyonya Cho menoleh.

Semula Nyonya Cho sedang berdiri di depan lukisan kesayangannya yang menghiasi ruang kerjanya. Lalu ia bergerak, menuju meja kerja dan duduk menyandarkan tubuhnya di kursi yang nampak sangat nyaman. Sekretaris Park mengikutinya, terakhir, ia berhenti di depan meja Nyonya Cho.

“Bagaimana persiapan pestanya?”

“Persiapan untuk pesta nanti progress-nya sudah sembilan puluh persen,” jawab Sekretaris Park sambil menyerahkan sebuah map. Nyonya Cho mulai sibuk membaca kertas-kertas di dalam map tersebut.

“Empat hari lagi, pesta akan digelar. Tolong persiapkan semuanya dengan baik. Aku tidak ingin nama baik Daehan dipertaruhkan. Lalu, jangan lupa draft pidato yang akan dibawakan oleh Kyuhyun. Serahkan padanya sebelum hari H, biar dia mempelajari pidatonya dulu.”

“Ya, Nyonya.”

“Oh ya, apa Kyuhyun sudah pulang?”

“Iya, Tuan Muda kembali dengan penerbangan kemarin sore.”

“Kupikir seharusnya juga begitu, tapi mengapa dia belum menemuiku?”

Sekretaris Park terdiam. Tampaknya ia sedikit sulit untuk menjawab pertanyaan Nyonya Cho.

“Aku tahu, siapa yang Kyuhyun temui semalam,” gumam Nyonya Cho. Matanya terarah pada sekumpulan foto yang tersusun rapi di atas meja kerjanya. Foto yang berada di paling atas adalah foto Kyuhyun dan Mi Rae saat berada di sebuah kafe. Walau raut wajah Nyonya Cho terlihat cukup tenang, tapi dari sorot matanya, ia sedang memikirkan sesuatu. “Baiklah, tampaknya aku tidak punya pilihan,” katanya sembari berdiri.

.

.

BRAKK!

Suara bedebam keras memekak telinga bersumber dari pintu yang dibanting. Mi Rae keluar rumah dengan tergesa-gesa sambil menyarungkan sepatu di kakinya. Sambil memanggul tas punggung hitam, gadis itu berlarian.

“Sial!” umpatnya. Ia melirik jam tangannya.

Malapateka sedang menanti. Pasalnya, hari ini ia bangun kesiangan. Ia tak bisa membayangkan omelan apa yang akan diterimanya sesampai di rumah sakit karena keterlambatannya.

Mi Rae menuruni anak tangga di gang sempit sekitar tempat tinggalnya dengan sangat lincah. Seolah beton keras itu tidak akan melukainya jika ia terjungkal. Siapa yang peduli? Saat ini, dibandingkan malaikat maut, ia lebih takut pada murka Dokter Jung, celoteh pedas Dokter Park—terlebih komentar-komentar menyakitkan yang bisa saja dilayangkan oleh semua tim medis di UGD.

Saat Mi Rae melompati anak tangga terakhir, tiba-tiba saja sebuah mobil melambat di dekatnya. Jika ia tidak berhati-hati, ia bisa saja mencium badan mengkilap mobil yang terlihat sangat mewah itu. Ia memegangi dadanya yang berdebar-debar. Sepertinya ia sedang sial beruntun.

Seorang pria berpakaian rapi keluar dari mobil itu. Debaran jantung Mi Rae bertambah setelah pria itu membuka pintu belakang mobil. Kemudian seorang wanita cantik dengan anggunnya turun dari dalam mobil tersebut.

Apa yang terjadi dengan hari ini?

Sambil melepas kaca mata, wanita cantik berambut pendek itu menatapi Mi Rae. “Nona Baek Mi Rae?”

Wanita itu memiliki tatapan mata yang sangat tenang, namun seolah membelenggu Mi Rae di dalam irisnya. Mi Rae tidak asing dengan tatapan seperti itu. Ia tahu seseorang dengan sorot mata yang sama seperti yang dimiliki wanita tersebut.

Sulit sekali untuk menguasai diri saat ini. Apalagi sekadar membuat debaran jantungnya kembali normal. Apakah kesialan yang sejak tadi dialaminya belum berakhir?

Berkali-kali Mi Rae mengedipkan mata, tapi kenyataannya bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Wanita yang berdiri di hadapannya itu memang ibu dari kekasihnya, Cho Kyuhyun.

~bersambung~

Wahai teman2 yg memang asli berasal dari kalangan mahasiswa kedokteran, yg udah jadi dokter atau teman2 dari kalangan keperawatan, pokoke yg tau betul tentang medis—harap maklum jika kalian menemui kejanggalan dalam cerita ini.

Sy hanya bermodalkan perbandingkan sini-sana, belajar ini-itu, dan kesenangan sy menonton film maupun drama berbau medis jd punya sedikit gambaran. Lumayan menyenangkan sebenarnya, setiap nulis ff, ada hal2 baru yg sy pelajari.

Nah, sebelum teman2 ada yg bertanya; kok coass di ff ini 4 tahun? Kan’ biasanya cuma 1,5 tahun? (ini juga yg jadi pertanyaan sy selama nonton beberapa dramkor yg mahasiswa praktek di RS dengan durasi yg berbeda dgn apa yg sy ketahui. Kalo residen sih okelah ya 4 tahun, tapi moso’ coass pun selama itu? 4 tahun juga brayyy. Dan syukurlah, rasa penasaran sy terjawab).

Begini, kalo di Indonesia, fase praklinik (belajar di universitas) itu 3,5 tahun dan fase klinik (coass) 1,5 tahun. Tapi, kalo di Korea, praklinik hanya 2 tahun, dan kliniknya yang 4 tahun. Jadi, total pendidikan kedokteran di Indonesia 5 tahun, sedangkan di Korea itu 6 tahun. Ini baru dokter umum lho, belum lagi kalo mau ngambil spesialis.

Dalam kesempatan ini, sy mau ngucapin terima kasih untuk ANGEL CHO tersayang atas kiriman posternya. Simple tapi sarat makna *tsaahhhh* Makasih ya Njel, jadi gampang banget bayangin adegan2 mereka berdua, terutama yg pegangan tangan *hug*

Oh ya—teman2 udah tau’kan apa sebenarnya cita-citanya Kyu? Hehehe

Okelah, daripada kebanyakan omong yg bisa berujung pada curcol, mending sy berhenti di sini. Semoga teman2 semua terhibur. Mohon maaf kalau ada perkataan sy yg menyinggung hati teman2.

Sy gak bosan2 minta pendapat kalian semua, baik itu koreksi ataupun saran yg membangun yang membantu sy untuk tetap semangat dalam menulis.

Selamat membaca. See you again ^^

Iklan

169 thoughts on “Drama (Part 15)

  1. naynamika berkata:

    Anyeong
    Huaaaa . mirae keren deh . bisa ngerti kyu.keke
    Ooh semoga ibu mertua nggak masalah deh mirae ma kyuhyun . situasi darurat. Itu mau ngapain ya ibu mertua. Ya ampun. Hubungan mereka itu gimana gituuu. Romantis. Gimana. Haha sulit ngejelasinnya. Unik aja deh ya. Jekeje . .

    Unnie fighting. Aku selalu menunggu karya karya unnie. Ya walaupun jadi yg terakhir baca. @_@+

  2. AliceKim berkata:

    udah lama gak mampir ke blog kak marchia, jadi lupa jalan ceritanya..
    seperti biasa.. gaya penulisan kak marchia tetep daebakk!! aku suka banget,.. semangat, keep writing! ^^

  3. tifanyseptiany berkata:

    ternyata cita2 kyuhyun justru menjadi penerus daehan grup?
    seneng banget ngeliat mereka berdua udh mulai terbuka satu sama lain, apalagi kyu yang selalu bisa ngendaliin perasaannya…

    nah, itu knp ibunya kyu muncul d hadapan mi rae? jgn bilang mau ngelarang hubungan kyuhyun mi rae?

  4. hwasungbyul berkata:

    Anyeong eonn aduh udah lama ga nongol di blog ini.masih ngelanjutin dramakah ? Ah apa gak ada ff oneshoot terbaru eonn? Maaf bukannya aku ga suka sama ff drama tpi ceritanya terlalu panjang udah kapok lah baca ff chapter soalnya di omelin mamah

  5. dona silvia berkata:

    haii kak, aku reader baru. salam kenal 😃. aku suka jalan ceritanya, ngga terlalu cepet, ngga buru2 juga hehe. aku mengaharu biru scene kyuhyun dan ibu nya dirumah sakit 😢, padahal aku bacanya tengah hari bolong 😳 tapi nangis ngga karu2an. maap baru ninggalin komentar di part ini hehe. oya kak, ff nya bentar lagi mau tamat yaa? apa blm? trs ibu nya kyuhyun setuju apa ngga ya sama hubungan kyu-rae? ahhh aku penasaran kak 😱😱. ditunggu part selanjutnya yaa, tetap semangat kak 🙋

  6. kimseok berkata:

    sweett’a psngan kyu-rae. tpi ibu’a kyuhyun mw apakan mi rae? jgn smpe kisah junpyo-jandi di alami Kyu-Rae jg. *walah ini sya ktllarn Mi Rae hahaa…

  7. yanteuk berkata:

    apa yang akan ibu kyu lakukan Sama mi rae. kasihan ayah kyu meninggal. feelnya dapat. kyu yang sabar ya ada mi ra,ibu mu dan teman2 mu

  8. Eka puspita elf berkata:

    Kenapa aku ngrasa kaya nya ibu kyuhyun gk suka deh sama mirae, aduh semoga aja gk lah semoga aja dia restuin hubungan mreka

  9. Anh Chan-Kyu berkata:

    Itu pasti mamanya kyu… Pasti… Mau apa dia sama mirae??? Tolong jangan sampai dia mencoba untuk menjauhkan mirae dari kyu… Tidak, jangan… 😢😢

  10. nae.ratna berkata:

    asyek yg mengerti satu sama lain cie cie…
    wah jangan bilang nyonya cho mau ngelarang mirae berhubungan lagi sama kyuhyun(?)
    aduh jangan sampe dewh…

  11. Choanha berkata:

    As always ff nya eonni sangat keren. Adegan yg ditampilkan di UGD RS nya juga keren pisan eon. Di sini eonni juga udah ngejelasin tentang sistem triage (pemilahan pasien berdasarkan kondisi kegawat daruratan nya) yg lumayan real ya antara holang kaya yg pengennya didahulukan dan ditanganin sama bukan anak magang (aku mahasiswi keperawatan dan kurang lebih pernah merasakan hal seperti mirae T.T) dan pasien gawat darurat. Banyak2in adegan medis nya eon, eonni kece parah, lop u pull eon muach :*

  12. Leah berkata:

    Oh ya ampun, sedih banget. Tn.Cho meninggal.
    Kakak author yg kece, tbc nya itu lohhh 😂😂
    Ibunya Kyuhyun mau ngelabrak mirae kah? Aduh, drama pun dimulai.
    Moment Kyuhyun sama Mirae nya so sweet, Kyuhyun mah ga butuh dokter lagi sekertaris Kim, dia kan udah punya dokter pribadi sekarang *uhuk*

  13. anie berkata:

    mskipun sedih ayah nya mninggal tapi ttep aja mira bisa bkin kyuhyun bngkit,,hheee,,nyonya cho ktmuan ma mira smoga direstuin

  14. anie berkata:

    maaf bnget ya eonni bru bca ff mu lagi,,dan maaf juga wktu itu bru komen di part2 dan 14,,,tapi untuk kdepn nya insaaloh komen selalu hhee

  15. Hana Choi berkata:

    Penasaran apa ny. Cho bakalan jadi seorang ibu yg kaya di drama” yg ga setuju sama anaknya pacaran sama gadis biasa? Hmm makin seruu

  16. lvraz berkata:

    Calon mertua sama calon menantu bertemu, jangan sampe ibunya kyuhyun kayak emak2 di dalam drama Korea, yg Gak Setuju liat anaknya pacaran sama Cewek yg biasa aja.

  17. My labila berkata:

    kyuhyun histeris gitu waktu mirae nanyain kamarnya wkwk… dan fikiran liar itu tiba2. muncul di kepalanya kkkk. kyuhyun konyol wkwk….. siapa yg nemuin mirae ?
    itu ibunya kyuhyun ya,,,

  18. ina berkata:

    njir…. udah magang aja mi rae…
    ahhh suka kebersamaan kyu mi rae…
    kocak pas mi rae nanya kamarnya kyu wkwkwk
    aduhhhh ibunya kyu plisssss jangan jadi penghalang…. ntar mi rae minder lagi…

  19. Kyuni berkata:

    Awalnya mungkin di bikin sedih ayah kyuhyun meninggal,,,tpi setelah itu jdi senyum ngebaca interaksi kyu ama mirae,,apalagi perhatian mirae ke kyu pas banget nggk kurang nggak lebih,, semoga nyonya cho tdk menghalangi hubungan mereka

  20. noebita berkata:

    Nyonya cho pasti gak setuju ma hubungannya kyurae. Kenapa ada aja halangan buat mereka bahagia.

  21. shin naya berkata:

    aq turut berduka kyu…tp aq seneng liat kyu ma mirae tambah deket…makin perhatian..
    semoga mamsye kyu setuju dengan hubungan mereka

  22. aulia fitri berkata:

    Langsung verpikiran yang ngga ngga soalnya takut kaya drama korea seperti biasa disurh putus hubungan sma anaknya gitu. Jdi kasian mi rae udah dia kesiangan pasti bakal kena masalah lgi deh huhi kasian. Dan ff ini makin menarik apalagi mi rae nya udah terjun ke lapangan rumah sakit. ff ini makin suka sma jalan ceritanya sma karakter karakter orangnya

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s