Drama (Part 16)

Drama

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Kosong. Gambaran sebenarnya dari isi kepala Mi Rae saat ini. Bagaimana tidak, sekarang yang duduk di hadapannya adalah seorang wanita konglomerat dan sangat terpandang. Okay, lupakan status sosial wanita itu. Hal yang lebih penting dan membuat kepalanya berdenyut-denyut, bahwa wanita itu adalah ibu dari Cho Kyuhyun.

Dan siapa Cho Kyuhyun itu?

Memang, rasa gugup yang mendera Mi Rae telah mencapai stadium akhir, tapi bukan berarti ia lupa siapa Cho Kyuhyun, yang entah sial atau beruntung, justru menjadi kekasihnya.

Kedua tangan Mi Rae saling meremas kuat di atas pangkuannya. Nyonya Cho yang begitu anggun itu tengah menatapnya intens. Saking risaunya Mi Rae, sampai-sampai ia tak bisa berpikir di mana mereka sekarang. Restaurant bergaya hanok, namun diberi sentuhan modern, tapi rasanya seperti berada di dunia asing. Atmosfernya pun sangat mendukung penilaian Mi Rae bahwa mungkin seperti itulah yang dirasakan para angkasawan saat berada di luar bumi.

Tadi, sewaktu Nyonya Cho memintanya masuk ke mobil dan membawanya pergi, ia disiksa batin selama perjalanan. Kondisi kejiwaannya serasa terancam.

“Terima kasih.”

Bahkan satu kalimat yang terucap dari bibir Nyonya Cho pada pelayan yang mengantarkan dua cangkir kopi ke meja mereka, membuat jantung Mi Rae melompat ke lantai.

Ya Tuhan. Rasanya akan mati.

“Nona, kau tak suka kopi?”

“Tidak—” jawab Mi Rae spontan, lalu ia tersadar dan kembali meralat, ‘Suka. Aku suka.”

Mi Rae meraih cangkir. Namun, sebelah tangan terasa tak cukup untuk mengangkat cangkir yang bebannya tak seberapa itu. Ia memerlukan kedua tangannya. Cangkir dalam genggamannya bergoyang dengan irama halus. Ia gemetar. Giginya bergemelatuk.

“Kau baik-baik saja, kan?” Nyonya Cho memperhatikan Mi Rae dengan alis yang terangkat.

“Ti-tidak apa-apa. Di-di sini, terasa lebih dingin,” jawab Mi Rae terbata-bata.

Well, tubuhnya memang panas-dingin, tapi bukan karena AC. Lebih disebabkan oleh rasa gugup yang sedang memberikan siksaan penuh padanya. Mi Rae mengecap sekali, lalu meletakkan pelan-pelan cangkir di atas meja dengan sisa-sisa tenaga yang menempel di tubuhnya. Ia menelan ludah kasar.

Nyonya Cho tampak sangat cantik jika dilihat dari jarak sedekat itu. Ia sangat anggun. Berkelas. Sopan. Namun—bagi Mi Rae, wanita itu memancarkan aura malaikat maut.

“Kau tahu siapa aku, kan?”

Nada Nyonya Cho terdengar lembut, tapi membuat kulit Mi Rae seakan tersayat-sayat oleh sesuatu yang tak kasat mata. Ia mengangguk pelan karena suaranya tertahan jauh di dalam mulut.

“Artinya, kau tahu siapa anakku.”

Deg.

Mimpi apa semalam?

Mi Rae mengerang di dalam hati. Ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Maksudnya, ia sering kali melihat hal ini di drama. Siapa sangka jika sekarang drama itu menghampiri hidupnya. Jika ini hanya mimpi, maka ia berharap seseorang akan segera membangunkannya. Sekarang juga. Akan tetapi, lebih bijaksana jika ia bangun saat pertama kali Kyuhyun mendekatinya. Itu baru benar. Kembali ia merutuki ketololannya yang tidak bersikap tegas sejak awal. Seharusnya ia tetap berkata, ‘tidak’.

Tidak? Dengan pesona yang dimiliki Kyuhyun?

Oh, come on, jangan bercanda.

“Cho Kyuhyun adalah pewaris tunggal Daehan Group. Dia masih sangat muda, tapi kelak, dia akan menjadi Presdir Daehan, menggantikan posisi mendiang ayahnya. Dia memiliki kehidupan kelas atas yang tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang seperti—”

Nyonya Cho tak menuntaskan kalimatnya, namun ketajaman sorot matanya yang mengarah tepat ke manik mata Mi Rae telah menyusutkan tubuh Mi Rae.

“Sementara itu, Nona Baek adalah seorang yatim-piatu. Mahasiswi kedokteran. Riwayat keluargamu pun biasa-biasa saja.”

Mi Rae membatu. She’s going to die.

“Apa kau sudah bisa menebak mengapa aku ingin bertemu denganmu? Atau kau butuh penjelasan?” Nyonya Cho menyeringai tipis. Ia kembali meraih telinga cangkir yang turut membisu seperti Mi Rae. Begitu santai ia menyesap kopi. Wanita itu memberi jeda pada perkataannya, seolah ia dengan sengaja sedang membuat roh Mi Rae saling tarik-tarikan antara keluar atau kembali ke raga.

Telapak tangan Mi Rae berkeringat. Dingin. Panas. Dingin lagi. Lalu panas. Begitu seterusnya.

Tidak salah lagi. Ini situasi yang persis terjadi dalam beberapa drama yang pernah ditonton Mi Rae. Saat ibu-ibu konglomerat yang menentang hubungan anaknya karena status sosial, menemui kekasih anaknya, dan sudah dipastikan ada beberapa adegan yang melintas cepat di kepala Mi Rae.

Adegan pertama. Mungkin Mi Rae akan dilempari setumpuk uang sebelum memintanya menghilang dari kehidupan Kyuhyun. Dalam drama, biasanya sang gadis akan menolak uang itu dan memilih pergi secara suka rela atau tetap bertahan walau mendapat banyak kesulitan. Mi Rae merasa gadis-gadis dalam drama itu terlalu naif. Dengan kondisinya yang serba krisis, ia mungkin akan khilaf dan seketika melupakan Kyuhyun setelah melihat lembaran-lembaran won yang disodorkan padanya. Namun, ternyata itu tidak semudah celoteh ringannya saat mengomentari ketololan gadis-gadis dalam drama yang menolak uang.

Mi Rae menoleh pada tas dompet Nyonya Cho yang terletak manis di atas meja. Benda itu dirasa Mi Rae sedang ikut mengejek, dengan siap memuntahkan isinya. Mungkinkah di dalam sana tersimpan uang-uang itu? Tapi tampaknya tak begitu tebal seperti dalam drama? Well, uang setebal itu mungkin tidak muat dalam dompet, tapi bagaimana dengan cek?

Adegan kedua. Setelah malaikat dan iblis dalam diri Mi Rae bertarung habis-habisan dan dimenangkan oleh sang malaikat, maka itu artinya Mi Rae akan menolak berapa pun jumlah uang yang disodorkan padanya. Yeah, Kyuhyun jauh lebih penting daripada uang-uang itu. Kemudian, Nyonya Cho yang merasa terhina karena penolakan Mi Rae akan menjadi berang sehingga mendaratkan tamparan keras ke wajah gadis itu.

Seketika Mi Rae memegang pipinya. Ia bergidik. Namun, kemudian ia berpikir lagi. Jika Nyonya Cho termasuk orang yang sangat fanatik terhadap perbedaan status, bisa jadi wanita itu tak akan membiarkan terjadi kontak fisik secara langsung dengannya. Sekarang, Mi Rae merasa tak ada bedanya dengan kuman.

Adegan ketiga. Mata Mi Rae mengawasi cangkir kopi di atas meja. Akan lebih praktis jika Nyonya Cho menyiram isi cangkir itu ke wajahnya. Kini, kedua tangannya menempel di kedua belah pipinya. Terkena kopi panas bukan hal yang baik.

Jika seorang Baek Mi Rae yang serba perhitungan justru menolak uang, maka apalah artinya tamparan dan siraman kopi panas itu? Right?

Dan, adegan keempat pun membayanginya.

Adegan di mana saat ia pulang dari pertemuan dengan Nyonya Cho. Ia sedang berjalan bak orang ling-lung di antara para pejalan kaki yang penuh sesak di trotoar, dengan raut wajah yang kusut, mata yang sembab dan memerah. Sedih memikirkan penolakan Nyonya Cho. Lalu pada saat ia menyeberangi jalan, sebuah truck besar yang hilang kendali pun menabraknya, membuat ia terhempas bersimbah darah di jalanan. Belakangan diketahui jika sopir truck tersebut adalah orang bayaran dari Nyonya Cho untuk menyingkirkannya dan membuat itu seperti sebuah kecelakaan lalu lintas biasa.

Percayalah. Saat ini Baek Mi Rae sudah seputih kertas. Ia tak ada bedanya dengan mayat hidup. Hal-hal aneh yang menari-nari dibenaknyalah yang menjadi penyebab mengapa ia tampak mirip dengan zombie. Ck, dasar si otak drama.

Sementara itu, di lain tempat, Cho Kyuhyun baru saja masuk ke dalam ruang kerja, diikuti oleh Kim Ryeowook. Begitu duduk, Kyuhyun mengawasi ponsel. Ada beberapa pesan masuk, tapi tidak ada satu pun yang dikirim oleh Mi Rae. Ia menghela napas. Setidaknya Mi Rae selalu mengiriminya satu atau dua pesan dalam sehari, tapi—sudahlah, mungkin gadis itu sedang sibuk.

Pandangan Kyuhyun pun bergeser pada Ryeowook yang berdiri di hadapannya. Tumben sekali pemuda itu tidak bersuara. Sekretarisnya itu termasuk orang yang cerewet, ia seperti alarm berjalan yang selalu mengingatkan ini-itu pada Kyuhyun. Alis Kyuhyun terangkat sebelah karena menyadari ada yang aneh dengan bahasa tubuh Ryeowook.

“Ada apa lagi?”

Kim Ryeowook menatap Kyuhyun. Serius sekali. Ia menelan ludah, lalu berbicara dengan nada berhati-hati, “Nyonya pergi menemui Nona Baek.”

Kyuhyun langsung berdiri. Wajahnya berubah drastis. Sama sekali tak santai. “Kau bilang ibuku—apaaa?”

Sementara Ryeowook menjelaskan panjang lebar tentang ini-itu, Kyuhyun sibuk dengan ponsel. Berkali-kali Kyuhyun menghubungi ponsel ibunya, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Kyuhyun menggeram.

“Cari tahu di mana mereka berada!” titah Kyuhyun pada Ryeowook. Ia sendiri bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan Ryeowook yang langsung menyambut perintahnya.

Kembali ke tempat pertemuan Nyonya Cho dan Mi Rae.

Tidak ada yang diharapkan Mi Rae selain menghilang dari tempat itu. Tidak disangka jika ia akan sangat merindukan semua hal di UGD yang selama ini selalu membuatnya uring-uringan. Ia rindu pada teriakan melengking Dokter Jung. Ia rindu pada komentar pedas Dokter Park. Lebih aneh lagi, matanya mulai berkaca-kaca karena mengingat ibu seorang pasien yang memarahinya beberapa hari lalu. Tiba-tiba saja ia ingin memeluk wanita itu. Fine, ia sedang menuju tahap kegilaan.

Nyonya Cho melirik tanpa minat pada ponsel yang terletak di atas meja, bersebelahan dengan tas dompetnya. Sudah sejak tadi ponsel itu terus berdering, memecah kebisuan yang lebih banyak terjalin antara kedua wanita berbeda generasi itu.

“Hm, anak nakal itu sudah tahu jika aku menemuimu,” Nyonya Cho tersenyum miring.

Detakan jantung Mi Rae kian meningkat. Oh, astaga! Sepertinya, tanpa disadari, ia telah membuat hubungan seorang ibu dan anak merenggang.

Mi Rae tersentak karena giliran ponselnya yang berderik aneh. Nyonya Cho menautkan alis karena mendengar suara jangkrik, kemudian ia mendesah lagi setelah menyadari dari mana datangnya suara aneh tersebut. Ia menatap tajam pada Mi Rae yang terlihat ragu-ragu untuk menjawab panggilan masuk itu.

“Matikan ponselmu!”

Wanita itu sudah tahu jika Kyuhyun yang menghubungi Mi Rae. Gelagapan, Mi Rae mengikuti instruksi yang diberikan Nyonya Cho. Tenggorokannya kering sekali. Situasi terasa semakin sulit baginya, walau itu sekadar menelan ludah.

Kyuhyun memukul, melampiaskan kekesalannya pada stir yang memang tak bisa membalasnya. Ponsel Mi Rae tidak dapat dihubungi. Emosi Kyuhyun sudah naik sampai ke ubun-ubun. Begitu Kim Ryeowook menghubungi, ia langsung berbicara dengan sang sekretaris. Ryeowook memberitahukan keberadaan Nyonya Cho dan Mi Rae. Sambungan telepon terputus, dan Kyuhyun pun membanting stir—memutar arah mobil yang dikendarainya ke lokasi yang disebutkan Ryeowook.

“Nona Baek, kau tahu apa yang dilakukan anakku demi seorang gadis sepertimu?”

Ya Tuhan. Memangnya apa yang sudah Kyuhyun lakukan? Selama ini Kyuhyun selalu bersikap manis. Tidak mungkin orang selembut Kyuhyun sampai berbuat aneh-aneh, kan?

Mi Rae terdiam.

Ah! Kyuhyun memang punya masa lalu yang kelam, tapi itu tidak berarti bahwa ia akan membunuh seseorang. Come on, memangnya siapa dirinya sampai-sampai membuat Cho Kyuhyun rela menjadi seorang kriminal?

Halusinasi Mi Rae memang sangat mengerikan. Pandai sekali ia mengembangkan halusinasinya.

“Kau masih mendengarku?” Nyonya Cho kembali bertanya pada Mi Rae yang mulutnya terkatup rapat.

Sebenci-bencinya Mi Rae pada drama, ia harus mengakui bahwa pernyataan Kyuhyun dulu itu memang benar. Bahwa kebanyakan drama diadopsi dari kehidupan nyata. Terlalu mendramatisir, tapi kenyataannya memang begitu. Terbukti bahwa hari ini, ia justru mengalami hal yang selama ini dikiranya hanya terjadi dalam drama.

Akhirnya, ia pun harus mengakui tindakan gadis-gadis dalam drama itu. Tidak semudah yang terlihat. Tidak semudah pemikirannya. Tidak selamanya uang menjadi kepentingan utamanya. Ada waktu dimana ia menyadari bahwa ada yang jauh lebih berharga daripada uang.

“Nyonya,” Mi Rae memberanikan diri menatap langsung bola mata Nyonya Cho. “Hal seperti ini sudah tidak asing bagiku. Bukan karena aku beberapa kali terlibat dengan orang seperti Cho Kyuhyun,” ia memberi penjelasan tambahan setelah melihat alis Nyonya Cho yang—lagi-lagi—bertaut. “Aku tidak mengira bahwa ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata,” Mi Rae tersenyum sangat tipis dengan tatapan yang sedikit menerawang. “Kupikir semua itu hanya omong kosong, sampai aku bertemu dengan Kyuhyun. Dia sangat nyata.”

Nyonya Cho terlihat tenang, ia menyimak setiap kata-kata yang terlontar secara halus dari bibir Mi Rae.

“Sulit dipercaya bahwa pada akhirnya aku akan mengucapkan kata-kata yang kurang-lebih sama seperti yang diucapkan gadis-gadis dalam drama,” Mi Rae menarik napas panjang. Ia mengatur pernapasannya, mencoba menormalkan detak jantungnya lalu kembali ia berujar, “Aku dan Kyuhyun seperti langit dan bumi. Aku tidak menyalahkan Anda, jika Anda menentang hubungan kami. Pun begitu, aku tidak akan menyalahkan diriku atau Kyuhyun karena menjalani sebuah hubungan yang kelihatannya hampir mustahil ini. Kami tidak melakukan kesalahan.”

Tidak peduli apa reaksi Nyonya Cho nanti, tapi saat ini, Mi Rae merasa harus mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Kalimat yang ia ucapkan telah mengubah raut wajah wanita yang duduk berhadapan dengannya itu.

“Anda berhak menentang kami. Anda mungkin akan melakukan berbagai cara untuk memisahkan kami. Nyonya, yang ingin kukatakan adalah—aku tidak akan melepaskan Cho Kyuhyun.”

“Kau bilang apa?” bola mata wanita itu terlihat melebar. “Apa kau sadar dengan semua perkataanmu itu? Apa kau tidak akan menyesalinya?”

“Selama Kyuhyun tidak memintaku pergi, aku akan tetap berada disisinya.”

Jujur saja, sebenarnya Mi Rae merasa akan mati karena kegugupan plus ketakutan yang melumatnya habis-habisan. Wajah geram Nyonya Cho semakin membuat jantungnya berdenyut menyakitkan. Hari ini ia mungkin akan segera menemui ajal.

Ah, Ibu, nantikan anakmu ini di pintu surga.

Mi Rae membatin gila.

Nyonya Cho menyunggingkan senyuman miring yang terlihat sangat mengerikan. Dengan santai ia memangku kaki, lalu tangan kanannya meraih ponsel yang terletak di atas meja. Entah apa yang akan ia lakukan, tapi sesaat kemudian ia mulai berbicara dengan seseorang.

“Sekretaris Park, gadis ini memang sangat keras kepala,” Nyonya Cho menatap lurus pada Mi Rae. “Sesuai rencana B, aku ingin pesta per—”

Braakkk!

Suara pintu yang kedengarannya dibuka dengan tidak sabaran .

“IBU!”

Belum sempat otak Mi Rae menyimak maksud kalimat terakhir Nyonya Cho, ia sudah dikagetkan dengan kedatangan Kyuhyun yang begitu tiba-tiba. Cho Kyuhyun menghampiri ibunya dan langsung berdiri di hadapan wanita tersebut.

“Apa yang Ibu lakukan?”

“Ibu tidak mengira kau akan datang secepat ini,” kata Nyonya Cho setelah melirik pada arlojinya. “Duduklah! Kau ke sini bukan untuk menagih utang, kan?”

Kyuhyun mendesah kasar. Ia lalu menarik kursi di sebelah Mi Rae dan duduk di sana. “Apa yang Ibu lakukan?” Kyuhyun bertanya, mengulang pertanyaan sebelumnya.

“Memangnya kenapa? Ibu hanya ingin menemui calon menantuku.”

“Ibu—berhentilah mengatakan hal ini-itu.”

“Jadi kau tak berniat menikahi gadis ini?”

Kyuhyun menyapu wajahnya, “Bukan begitu. Aku memang ingin hubungan kami berlanjut ke tahap yang lebih serius.”

“Nah, lalu kenapa kau tidak setuju dengan rencanaku?”

“Aku akan menikah dengan gadis ini, tapi bukan sekarang.”

Ibu dan anak itu terus berdebat dan mereka melupakan keberadaan Mi Rae di situ. Mungkin ia tidak begitu kelihatan karena wajahnya yang sejak tadi tampak pucat dan tak sedap dipandang, menyerupai hantu.

“Ma-maaf,” Mi Rae akhirnya bersuara pelan. “Apa yang sedang terjadi di sini?” wajar saja jika Mi Rae kebingungan seperti itu. Percakapan yang berlangsung antara Kyuhyun dan ibunya tadi itu diluar ekspektasi Mi Rae.

“Nona Baek, jangan-jangan, kau yang tidak ingin menikahi putraku? Ah, dia memang agak menyebalkan, tapi kudengar tadi kau bilang tidak akan melepaskannya, bukan begitu?”

Mi Rae kebingungan. Kyuhyun yang tidak tega melihat Mi Rae pun langsung berkata pelan pada gadis itu.

“Ibu terus memaksaku untuk segera menikahimu.”

Mi Rae tersentak hebat. “Tapi—kupikir jika Ibumu tidak—”

“Ibu menakut-nakuti Mi Rae?” Kyuhyun memotong perkataan Mi Rae. Ia menatap tajam pada Nyonya Cho.

Wanita itu tersenyum lebar, “Aku hanya sedikit mengerjainya. Yang kau katakan itu benar, Kyu. Dia benar-benar Nona Drama.”

Wajah Mi Rae memerah karena ditertawakan Nyonya Cho yang teringat pada ekspresi serta kata-kata Mi Rae tadi.

“Inilah mengapa aku tidak setuju jika Ibu menemui Mi Rae seorang diri. Apa Ibu tidak kasihan melihat wajahnya yang seputih kertas ini?” Kyuhyun memamerkan wajah masamnya.

Nyonya Cho lantas menyentuh tangan Mi Rae yang saling meremas di atas meja, “Maafkan aku, ya? Jika tidak, maka anak nakal itu akan mendiamiku selama beberapa hari,” kerling Nyonya Cho.

Di luar dugaan, Nyonya Cho justru merestui hubungan Mi Rae dengan Kyuhyun. Mi Rae lega dan sangat senang, walaupun ia belum terbiasa dengan situasi semacam itu. Ia masih begitu canggung.

Melihat Mi Rae yang mengangguk, menyetujui permintaan maaf Nyonya Cho sehingga membuat wanita itu kegirangan, “Kyuhyun sulit diajak bekerja sama. Bagaimana? Kau ikut denganku setelah ini? Kita harus menyiapkan banyak hal untuk pernikahan kalian.”

“Buuu~” Kyuhyun setengah merengek seperti anak kecil, mungkin ia sudah kehilangan cara untuk mengatasi keagresifan ibunya. “Aku dan Mi Rae masih ingin menikmati masa muda kami.”

“Sampai kapan? Pemuda seumuran kalian seharus sudah memiliki paling tidak tiga orang anak. Tidak lama lagi kau akan naik takhta, sementara kau belum memiliki seorang penerus. Sepeninggal ayahmu, tidak ada hal lain yang dibutuhkan wanita tua ini selain menimang cucu.”

Keadaan menjadi hening.

Di zaman yang serba modern ini, sangat mengherankan jika menjumpai orang dengan umur diawal 20-an, justru sudah memiliki tiga orang anak.

Mi Rae mengernyit karena merasakan kejanggalan pada rangkaian kalimat Nyonya Cho yang terdengar begitu kuno itu. Ia sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Kyuhyun dan berbisik pelan, “Kau yakin kita tidak sedang shooting drama kolosal?”

Kyuhyun ikut berbisik, menjawab pertanyaan Mi Rae, “Aku agak malu mengakuinya. Ibuku pecinta drama kolosal.”

Mi Rae mengangguk-angguk bodoh, dan Kyuhyun memilih untuk mencoba meluruskan pemikiran sesat ibunya.

“Masih banyak yang harus kupelajari di perusahaan dan juga, Mi Rae baru memulai masa kliniknya di rumah sakit.”

“Begitu ya,” gumam Nyonya Cho.

“Akan lebih baik jika kami sudah sama-sama siap saat menikah nanti.”

Nyonya Cho terdiam. Ia berpikir. Menarik napas berkali-kali, lalu ia kembali menghubungi sekretarisnya. Sekretaris park. “Rencana B dibatalkan. Kembalikan konsep pesta ke rencana A! Dan, jangan lupa dengan draft pidatonya,” katanya dan mengakhiri percakapan yang sangat singkat itu.

Alis Mi Rae bertaut. Ia sungguh tidak mengerti apa yang sedang direncanakan oleh Nyonya Cho.

“Baiklah, saat ini aku akan mengikuti keinginan kalian.”

Mi Rae memang senang karena hubungannya tidak mendapat hambatan dari keluarga Kyuhyun, namun ia lebih senang lagi karena tidak dipaksa menikah. Sungguh. Ia sama sekali tidak merencanakan pernikahan diwaktu-waktu dimana otaknya terancam gila karena aktifitas perkuliahannya.

Setelah menikmati hidangan lezat dalam suasana yang terjali hangat dan harmonis, Nyonya Cho yang pertama pergi dari tempat itu, tapi sebelumnya ia berpesan pada Kyuhyun agar segera kembali ke perusahaan setelah mengantar Mi Rae ke rumah sakit. Wanita itu paling tahu kelakuan Kyuhyun yang suka lupa waktu jika itu menyangkut gadisnya, padahal sekarang adalah saat tersibuk bagi Kyuhyun di perusahaan.

“Jadi, katakan, mengapa Ibumu tidak keberatan denganku?”

Mi Rae sudah tak bisa memendam rasa penasaran yang terus mengusiknya sedari tadi. Kyuhyun belum menjawab, ia lebih fokus untuk memarkirkan mobil yang dikendarainya di pelataran parkiran rumah sakit. Kemudian, pemuda itu menoleh pada Mi Rae sambil tersenyum.

“Karena tidak selamanya hidup itu akan berjalan seperti drama yang kau tonton, Nona Baek,” cengiran tajam Kyuhyun sangat mengintimidasi. Sepertinya ia tahu apa yang bergelayut di otak drama Mi Rae.

Sejujurnya, Mi Rae agak malu sekarang. “Ya, sudahlah, kalau kau tak mau menjawab.”

“Ibuku adalah orang yang baik. Karena dia menyayangiku, dia tidak akan keberatan dengan pilihanku. Hanya dengan melihatmu, Ibu tahu jika aku memilih orang yang tepat. Ya, mungkin begitu.”

Mungkin begitu?

Tapi Mi Rae butuh jawaban yang pasti, bukan sebuah kemungkinan.

“Ibu tidak benar-benar mengatakan alasannya padaku, tapi dia sudah terlihat bersemangat hanya dengan mendengar cerita tentangmu.”

Delikan Mi Rae menajam, lalu perlahan matanya memicing, menatap penuh curiga pada Kyuhyun. “Apa saja yang kau katakan pada Ibumu?”

Melihat ekspresi Mi Rae, justru membuat tawa Kyuhyun pecah begitu saja. “Ya Tuhan, Baek Mi Rae, santailah. Bahkan jika aku tak mengatakan apa-apa, Ibu bisa menyelidikimu sampai ke akar-akarnya. Jadi, tidak ada yang perlu ditutupi. Tenanglah, kupikir Ibu sangat menyukaimu,” Kyuhyun mengerling mantap. Sementara Mi Rae hanya merengut pasrah.

Okay, tidak ada guna jika mendebatmu,” ujar Mi Rae sambil membuka pintu mobil. Namun tertahan karena Kyuhyun seperti belum benar-benar ingin membiarkan gadis itu pergi.

“Tidak apa-apa jika kau ke sana sendirian?”

Alis Mi Rae sedikit terangkat. Kyuhyun kembali bertanya padanya.

“Memangnya kau pikir apa yang akan diterima oleh seorang magang yang datang terlambat?”

What the hell?

Bodoh! Mengapa ia tak menyadarinya. Ini bukan lagi terlambat, tapi sangat-sangat terlambat. Saat melirik pada pintu UGD yang—seperti biasanya—tampak sibuk, sekujur bulu roma Mi Rae meremang. Ia bergidik.

Kyuhyun mendesah, “Sudah kuduga,” ujarnya lagi setelah melihat perubahan ekspresi Mi Rae. Selagi ia melepaskan seat belt-nya dan bersiap turun, Mi Rae menangkapkan tangannya, mencegahnya untuk keluar dari mobil.

“Kau mau apa?”

“Apa lagi? Tentu saja harus ada seseorang yang menyelamatkanmu dari amukan staff UGD.”

“Tidak. Jangan lakukan itu!”

Kepala Mi Rae serasa membesar. Baginya, yang akan Kyuhyun lakukan justru lebih menakutkan daripada kengerian apa pun yang akan ditemuinya di UGD nanti.

“Kau itu Cho Kyuhyun!”

“Apa sekarang kau sedang memperlakukanku seperti seorang pasien amnesia?”

Mi Rae memutar bola matanya, “Kurasa kau benar-benar hilang ingatan sekarang. Baiklah, kuperjelas saja. Coba tebak, apa yang akan terjadi jika seorang tuan muda konglomerat terlihat masuk ke dalam sana lalu menjadi juru bicara yang menjelaskan alasan keterlambatan seorang mahasiswi magang yatim-piatu miskin sepertiku?”

Oh, God, otak dramamu itu, ya,” Kyuhyun mengerang sempurna.

“Selain mengawasi lembar-lembar pekerjaanmu, cobalah untuk menonton televisi atau membaca majalah agar kau tahu seberapa terkenalnya Tuan Muda Cho Kyuhyun itu.”

“Apa yang salah dengan itu? Akan lebih baik jika mereka tahu siapa kekasihmu. Dengan begitu, tidak ada pria yang berani mendekatimu,” kalimat khas orang-orang bergelar tuan muda. Selalu terdengar mengintimidasi di titik-titik tertentu.

“Tidak, kumohon jangan lakukan hal-hal gila seperti itu. Sungguh, aku tak sanggup membayangkannya,” Mi Rae kembali bergidik ngeri karena membayangkan akan seperti apa hidupnya jika hubungannya dengan Kyuhyun terbongkar. Ia adalah orang yang tidak suka jika kehidupannya disorot. “Aku ingin sukses dengan caraku sendiri.”

“Baiklah,” ujar Kyuhyun. Ibu jarinya bergerak menyentuh pipi Mi Rae, mengelus-elus pelan di sana, “Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu. Jadi, katakan saja jika mereka memperlakukanmu dengan keras!”

Mi Rae tersenyum, ia lalu bergegas turun dari mobil dan menutup pintu mobil, “Jangan cemas, aku bisa mengatasinya,” ucapan Mi Rae disertai senyuman tipis yang menenangkan. Ia melambai pada Kyuhyun lalu berbalik meninggalkan pemuda itu yang terus memandangi punggungnya hingga menjauh.

Kyuhyun bergegas. Ia harus segera kembali ke kantor, atau ibunya akan merecokinya dengan banyak hal. Dikemudikannya mobil itu dengan berhati-hati, berbaur dengan puluhan bahkan mungkin ratusan kendaraan yang menyusuri ruas-ruas luas aspal mulus berwarna hitam pekat itu.

***

Sebuah bola terpental dan menggelinding hingga nyaris mencium ujung sepatu Mi Rae. Gadis itu berhenti, tatapannya mengarah langsung pada seorang anak yang duduk di sebuah bangku yang berada di koridor bangsal anak. Kebetulan Mi Rae baru menyelesaikan tugas-tugasnya. Semula, ia hendak ke atap, tapi tiba-tiba saja seorang residen meminta bantuannya untuk mendorong sebuah troli ke bangsal anak.

Anak lelaki yang masih menatap Mi Rae dengan tatapan penuh itu mengundang senyum Mi Rae. Kalau dilihat dari seragam pasien yang dipakai, anak itu adalah salah satu penghuni bangsal anak. Mi Rae lantas memungut bola itu lalu berjalan pelan mendekati si anak kecil yang mengatup mulutnya rapat-rapat.

Mi Rae berjongkok, menyamakan tingginya dengan anak itu, sambil tersenyum tipis ia menyerahkan bola kepada anak kecil tersebut.

“Ini milikmu, kan?”

Anak itu tak bersuara, ia hanya mengangguk sekali. Menerima bola yang disodorkan Mi Rae dan melompat turun dari tempat duduknya. Ia mungkin tidak terbiasa dengan orang asing. Alasan yang membuatnya bergegas masuk ke ruang rawatnya.

Tidak ada alasan bagi Mi Rae untuk berlama-lama di situ. Ia harus segera kembali ke UGD atau mereka akan memarahinya, lagi. Ia sudah sangat kenyang dengan omelan dan amukan dokter-dokter di UGD dua hari lalu saat ia terlambat datang. Tidak mungkin juga baginya untuk mengatakan alasan keterlambatannya. Karena itu, tugas jaga Mi Rae ditambah selama seminggu, dan ia tidak diperkenankan pulang ke rumahnya.

Di perjalanan, Mi Rae berpapasan dengan serombongan tim dokter. Instingnya bekerja cepat dengan mengenali wanita yang berjalan di tengah-tengah. Dokter Shin. Direktur RS Anam, dengan kata lain, wanita itu adalah ibu dari Choi Siwon. Dokter-dokter lain yang bersama Dokter Shin, tampaknya berasal dari kalangan staff Anam. Mi Rae refleks, bergerak lebih merapat ke sisi dinding. Ia memberi hormat dengan menundukkan kepala pada rombongan itu.

Tubuh Mi Rae kembali menegak manakala rombongan tersebut telah berjalan melewatinya. Ia bernapas lega dan kembali mengayunkan langkahnya. Mereka tadi terlihat sangat tergesa-gesa, entah hendak ke mana tujuannya.

Ketegangan lain sedang terjadi di kantor pusat Daehan, lebih spesifik, di ruang kerja Kyuhyun. Bayangkan saja, ia baru akan beristirahat sejenak setelah melakukan rentetan kegiatan dan tiba-tiba saja kabar tak menyenangkan itu menyambangi telinganya. Diurungkan niatnya untuk menghempaskan pantatnya di sofa empuk yang seolah menggodanya sejak ia memasuki ruangan tersebut.

“Siapkan mobil!” titah Kyuhyun. Hari ini sangat melelahkan. Ditambah lagi setelah mendengar kesehatan ibunya terganggu, cukup untuk mengacaukan otaknya. Ia tidak akan menyetir dalam kondisi seperti itu.

Selagi Kim Ryeowook sibuk menjelaskan pada Kyuhyun bahwa Nyonya Cho baik-baik saja selain kepalanya yang sedikit pusing, Kyuhyun sudah tidak sabaran dan bergegas keluar.

Kim Ryeowook melangkah cepat di sisi Kyuhyun. “Direktur, tapi bagaimana dengan meeting siang ini dengan—”

“Sekretaris Kim!” Kyuhyun terlihat sebal. “Kita pulang. Sekarang juga!” nadanya terdengar meninggi di dua kata terakhir.

“Nyonya tidak berada di rumah.”

Langkah Kyuhyun terhenti. Ia menoleh pada Ryeowook yang ikut menghentikan ayunan kakinya. Alisnya meninggi sebelah. Heran.

“Tapi, di rumah sakit.”

Lanjutan kalimat Ryeowook sukses membuat jantung Kyuhyun melompat kasar.

“Kau bilang tadi, ibuku baik-baik saja, kan?” dan Ryeowook menangguk takut-takut karena lototan tajam Kyuhyun. “Lalu mengapa sampai harus dibawa ke rumah sakit?”

“Nyonya yang memintanya.”

Baik. Ini lebih mengherankan. Ibunya adalah tipe yang benci dengan rumah sakit. Biasanya, jika sedang sakit, wanita itu hanya akan dirawat di rumah oleh dokter-dokter keluarga.

“Cukup penjelasannya. Jadi, di mana ibuku?”

Ryeowook menjawab, tegas, “Rumah Sakit Anam,” dan direspon dengan rahang Kyuhyun yang tampak menegang.

Mengejutkan sekali.

Di sebuah ruang VIP di Anam, barisan berjas putih itu berdiri mengitari tempat tidur. Ekspresi mereka tidak bisa ditebak, mereka hanya mengawasi seorang wanita berambut pendek yang terlihat menyenderkan tubuhnya di kepala tempat tidur yang sengaja ditinggikan. Wanita cantik yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri dari mendiang Presdir Daehan Group.

Sudah beberapa menit, Nyonya Cho yang telah berpakain pasien, hanya membolak-balik majalah yang terbentang di atas pangkuannya. Ia menatap jengah pada dokter-dokter itu.

“Kalian membuatku terlihat seperti orang yang akan segera mati.”

“Nyonya, kami akan melakukan yang terbaik untuk merawat Anda,” wanita yang berbicara itu adalah Direktur RS Anam. Dokter Shin.

Mereka pasti terkejut karena Nyonya Cho yang tiba-tiba saja datang ke rumah sakit itu. Sebelumnya, hal seperti ini tidak pernah terjadi.

“Aku hanya butuh sedikit istirahat,” tatapan Nyonya Cho seolah mengisyaratkan agar mereka cepat-cepat meninggalkan kamar tersebut.

“Tolong segera lakukan pemeriksaan,” Dokter Shin memberi instruksi kepada seorang dokter yang terlihat cukup senior. Ketika dokter itu hendak melakukan tugasnya, Nyonya Cho mengangkat sebelah tangannya dengan gerakan yang tegas. Kode agar mereka tidak melakukan apa pun padanya.

“Aku yang paling tahu kondisiku sekarang. Jadi kalian tidak perlu repot-repot mengurusiku.”

“Nyonya, Anda berada di Anam, jadi sekarang, Anda menjadi tanggung jawab kami. Biarkan kami melakukan tugas kami sebagaimana mestinya.”

Cho memutar menjadi jengah. Ia menarik napas panjang dan mengembuskan pelan-pelan. “Baiklah. Kalau kalian bersikeras, maka biarkan Dokter Baek yang merawatku.”

Dokter Shin tersenyum, senang. Lalu disaat yang sama, seorang dokter wanita melangkah mendekati Nyonya Cho.

“Ada apa?” Nyonya Cho menatap tajam pada wanita itu.

“Jangan cemas, Nyonya. Dokter Baek, adalah dokter yang hebat. Dia pasti mampu merawat Anda dengan baik,” terang Dokter Shin.

“Yang aku maksudkan bukan wanita ini, tapi Baek Mi Rae.”

Suara-suara mulai terdengar ketika para dokter itu berbicara satu sama lain. “Adakah dokter yang bernama Baek Mi Rae di sini?” tanya Dokter Shin.

“Aku tidak yakin jika orang yang dimaksud Nyonya Cho adalah orang yang sama. Namun, di departemenku ada seorang gadis yang bernama Baek Mi Rae, dan dia adalah mahasiswa magang,” Dokter Jung yang merupakan kepala UGD pun akhirnya memberi penjelasan.

“Ah, benar. Baek Mi Rae yang itu!”

Dokter-dokter itu semakin ribut begitu Nyonya Cho membenarkan perkataan Dokter Jung.

“Nyonya, gadis itu belum benar-benar menjadi seorang dokter. Dia bahkan tidak diijinkan menangani pasien tanpa pengawasan dari dokter pendamping. Di sini ada banyak dokter hebat yang bisa menolong Anda.”

“Untuk merawatku, tidak dibutuhkan satu atau bahkan lusinan dokter hebat. Aku hanya butuh gadis itu,” Nyonya Cho tetap teguh pada keinginannya. “Ada banyak pasien yang lebih membutuhkan kalian dibandingkan aku? Jadi mengapa kalian masih betah berlama-lama di sini? Baik. Jika kalian tidak membolehkan gadis itu merawatku, maka aku akan pulang sekarang juga!”

Orang-orang yang kasak-kusuk itu terdiam, namun mata mereka tetap saling berkomunikasi. Hanya desahan napas berat yang kadang-kadang terdengar berembus kasar dari hidung mereka.

Dan untuk alasan itulah, mengapa sepuluh menit kemudian, Baek Mi Rae berdiri di depan sebuah pintu di lantai VIP. Sungguh, ini kali pertama baginya untuk berada di area VIP. Ia cukup terkejut saat Dokter Jung yang didamping Dokter Park, terus memberikan petuah, nasehat dan kadang peringatan kepadanya tadi, manakala mereka mengatakan jika ada seorang pasien yang minta dirawat oleh Mi Rae.

Tak tanggung-tanggung, pasien itu ternyata pasien VIP. Hal itu sungguh mengejutkan Mi Rae. Dokter-dokter terus menyerangnya dengan berbagai jenis pertanyaan. Padahal, ia sendiri tak tahu-menahu siapa orang yang secara khusus memintanya.

Walau sebenarnya, Mi Rae punya sedikit firasat yang belum dapat disimpulkan sebagai firasat baik atau buruk. Setelah mengumpulkan keberaniannya, ia membuka pintu dan melangkah masuk. Ruangan tersebut benar-benar berbeda dengan ruangan rawat lain yang pernah dimasukinya. Mi Rae melangkah pelan, mengamati secara mendetail apa yang disampaikan oleh cahaya pada retinanya. Luar biasa. Jika ia mengambil foto dengan berpose di situ, orang-orang pasti akan mengira ia sedang berada di sebuah kamar hotel berbintang.

“Akhirnya kau di sini.”

Kekaguman Mi Rae akan tempat itu diputuskan oleh sebuah suara. Ia tersentak dan menjadi agak kelabakan. Saat ia melihat wanita berpakaian pasien yang sedang duduk di sebuah sofa yang membelakangi jendela besar dengan cahaya matahari yang menyeruak masuk—ia tidak bisa untuk bersikap datar.

Jujur saja. Mi Rae sangat terkejut setelah mengetahui siapa pasien VIP itu. Firasatnya benar.

Melihat Mi Rae yang masih mematung dengan raut wajah tegang, Nyonya Cho lantas memanggilnya. “Kemarilah.”

Mi Rae mendekat. Berdiri di hadapan Nyonya Cho yang tengah memandanginya dengan tatapan yang—lagi-lagi—sulit dijelaskan dengan kata-kata. Cukup lama terdiam dengan keadaan yang terasa canggung. Kesadaran Mi Rae terkumpul.

“Nyonya, apakah Anda benar-benar sakit?” tanya Mi Rae. “Ah, maaf, bukan maksudku untuk—” Mi Rae gugup dan ia tampak frustrasi dengan dirinya sendiri. “Aku akan memeriksa Anda.”

“Aku tidak membolehkan dokter-dokter hebat itu merawatku, lantas apa aku harus memercayakan tubuhku padamu?”

Tatapan penuh intimidasi itu membuat Mi Rae akan menyusut. Nyonya Cho membuatnya merasa sangat malu. Memang benar. Ia belum pantas menangani pasien seorang diri. Namun, untuk apa Nyonya Cho memanggilnya ke sini kalau bukan itu tujuannya?

“Aku baik-baik saja,” kata Nyonya Cho. “Duduklah,” ia mengarahkan dagunya ke sebuah sofa lainnya. Mi Rae menjadi gadis yang sangat penurut.

“Nyonya, apa tidak sebaiknya aku memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaanmu?” tanya Mi Rae yang merasa sangat tidak berguna sekarang.

Nyonya Cho tersenyum, “Aku bilang. Aku baik-baik saja,” katanya tegas, tak ingin dibantah. “Anak nakal itu tidak akan bisa membuat keributan di sini,” ia menyeringai tajam dan itu ekspresi yang sama persis dengan yang sering dilihat Mi Rae pada diri Kyuhyun, padahal tidak ada hubungan biologis antara ibu dan anak itu. Ah, bodoh, tentu saja, ikatan yang kuat telah terjalin di antara keduanya.

“Kyuhyun tahu Anda di sini?”

“Sekarang dia pasti sudah tahu, tapi dia tidak akan bisa ke sini dalam waktu dekat,” kembali seringaian itu tergambar di wajah Nyonya Cho.

Benar saja. Jangankan keluar keluar dari kantor, Kyuhyun bahkan tidak bisa keluar dari ruang rapat. Sewaktu Kyuhyun dan Ryeowook hendak pergi tadi, tiba-tiba saja mereka di hadang oleh Sekretaris Park. Pria yang adalah sekretaris Nyonya Cho itu mengatakan jika Kyuhyun harus mengikuti meeting dengan Xiwen Corp terkait kerja sama mereka di China. Kyuhyun tidak diperkenankan melangkah keluar dari kantor sebelum pertemuan penting itu usai. Jadi, bayangkan saja seberapa kesalnya Kyuhyun sekarang. Ia harus mengakui bahwa ibunya ternyata penuh dengan intrik dan cukup licik, persis seperti sifat egois para tokoh dalam drama kolosal kesukaan ibunya itu.

Keadaan hening lebih menyebalkan dibandingkan keributan di UGD. Mi Rae kesulitan mengatasinya. Rasa canggung yang berat sudah menyiksanya. Walau Nyonya Cho tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Kyuhyun, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman. Nyonya Cho itu orang yang cantik, berkelas, begitu anggun, namun tegas di sisi lainnya. Padahal wanita itu tersebut terlihat ramah, tapi ada sisi egois—seperti Kyuhyun—yang melekat pada dirinya.

“Nyonya—”

“Ibu.”

“Eh? Maaf?”

“Panggil aku, Ibu.”

“Ibu?”

“Karena kau akan menikah dengan anakku. Sudah seharusnya kau memanggilku begitu.”

Menikah?

Mi Rae menelan ludah.

“Tapi, Nyonya—” saat Nyonya Cho menatap Mi Rae dengan sinar mata yang menjelaskan ketidaksukaannya atas bantahan, “I-Ibu,” gadis itu, dengan terbata, berusaha keras untuk memperbaiki kesalahannya.

Ada yang aneh saat senyum Nyonya Cho memekar. Entah apa yang dipikirkannya. Mi Rae bingung harus bagaimana menyikapi itu dan ia sadar bahwa sudah begitu lama ia kehilangan ekspresi datarnya.

“Kau tahu? Walaupun Kyuhyun begitu dekat denganku, tapi ada hal-hal yang tidak mau dia ceritakan padaku. Sebenarnya aku sedikit penasaran,” Nyonya Cho tersenyum miring.

Mereka berdua sama persis.

Mi Rae mengerang di dalam hati karena semakin banyak ia mendapati kemiripan antara Kyuhyun dengan ibunya.

“Sudah sejauh apa hubungan kalian?”

Pertanyaan itu memancing kerutan halus yang hampir tak kasat mata di dahi mulus Mi Rae.

“Apa Kyuhyun sangat agresif?”

“Nyo—maksudku, I..bu,” Mi Rae terkejut. Itu pertanyaan yang terdengar aneh dan memberikan efek geli di sekujur tubuh Mi Rae.

“Aku sangat penasaran. Jadi, apa saja yang sudah kalian lakukan? Apa kalian sering berciuman? Atau—oh, astaga. Jangan-jangan kalian sudah pernah—” kedua tangan Nyonya Cho seketika membekap mulutnya. Lalu, ia mengayunkan tangannya di udara, seperti memukul angin di hadapannya sambil berkata, “Oh, ya ampun. Anak nakal itu ternyata sungguh nakal, ya,” pungkasnya.

Tidak ada yang lebih tepat untuk menggambarkan penampakan raut wajah Mi Rae saat ini. Ia hanya termangu dengan mulut yang terbuka. Mengapa wanita di hadapannya itu begitu terang-terangan? Pertanyaannya terdengar begitu…vulgar.

Mi Rae menggeleng kasar. Mencoba meraih rohnya yang baru saja berpencar. Ini tidak benar. Ia harus segera meluruskan pemikiran sesat Nyonya Cho.

“Kami,” Mi Rae terdiam sejenak. Ia merasa perlu menarik oksigen sebanyak-banyaknya sebelum melanjutkan perkataannya yang sebenarnya ia sendiri merasa aneh jika harus menjelaskan itu.

Sementara itu, ponsel yang berbunyi di ruang rapat telah mengusik ketenangan semua orang. Termasuk Kyuhyun. Ia menatap tak sedap pada semua orang, mencari-cari siapa orang yang tidak mematikan ponselnya, atau paling tidak mengatur mode silent.

Orang-orang juga terlihat kasak-kusuk, saling cari, saling tuduh dengan memandang ke semua yang duduk mengitari meja rapat yang di susun berbentuk persegi panjang, dengan ruang bebas di tengah-tengahnya.

Kyuhyun hanya memijit pelipisnya dengan sebelah tangan yang tertopang di atas meja. Matanya terpejam. Bunyi ponsel itu masih terdengar.

“Direktur.”

Kyuhyun mendongak. Kim Ryeowook telah berdiri di sisinya dengan sedikit membungkukkan tubuh agar suaranya yang sengaja dipelankan bisa sampai ke telinga Kyuhyun.

“Apa tidak sebaiknya Anda menerima telepon itu?”

Kyuhyun sedikit kebingungan, namun saat ia melihat jika tatapan semua orang sedang tertuju padanya, buru-buru ia memeriksa ponselnya. Sejurus kemudian, ia mendesis. Ternyata sumber keributan itu ada padanya.

“Maaf, silakan dilanjut rapatnya.”

Segera setelah berkata demikian, ia meninggalkan ruangan tersebut. Mengapa ibunya sampai menelepon? Biasanya wanita itu tidak akan menghubunginya jika tahu ia sedang dalam rapat.

“Hallo? Ada ap—”

Sudah berapa lama kalian berpacaran?

Lengkingan tajam suara itu memekakkan telinga. Mendengar pertanyaan ibunya membuat ia memejamkan mata sambil mendesah sebal, “Ibu, apa Mi Rae sedang bersamamu?”

Jangan mengalihkan pembicaraan!

Kyuhyun menarik napas. “Resminya, sekitar lima bulan,” jawabnya malas.

Dan kalian hanya berpegangan tangan? Berpelukan? Cium dahi? Pipi? Kalian serius?

Kembali mata Kyuhyun terpejam, ia memijit pelipisnya dengan menggunakan sebelah tangannya yang bebas. Ia tahu jika ibunya pasti sudah menanyakan pertanyaan-pertanyaan keramat itu pada Mi Rae. Oh, God.

“Oh, Ibu menyuruhku untuk menghancurkan masa depan anak gadis orang lain, begitu?”

Sekarang Ibu sedang mengkhawatirkan dirimu dibandingkan siapa pun. Nak, kau normal, kan?

“Bu,” kepala Kyuhyun terasa bertambah berat.

Tidak apa-apa, ceritakan semuanya pada Ibumu ini. Ibu akan mencarikan dokter terbaik jika kau memang bermasalah secara seksu—

“IBU!”

Tidak bisa ditahan lagi. Kyuhyun terlihat sangat kesal sekarang. Ibunya itu termasuk orang yang serba penasaran dan yang lebih parahnya lagi adalah sifat sok tahunya itu.

“Tidak ada yang bermasalah denganku. Aku hanya membatasi diri, sebab jika tidak, mungkin Ibu sudah punya lusinan cucu di luar sana. Cukup. Aku harus kembali ke ruang rapat, dan tolong untuk tidak bertanya yang aneh-aneh pada Mi Rae.”

Setelah menuntaskan kekesalannya, ia langsung mematikan ponsel. Ditengadahkan kepalanya, memandang ke atas dan menarik napas dalam-dalam. Kepalanya masih berdenyut-denyut seperti seseorang baru menusukkan jarum di sana. Ia harus menetralkan dirinya sebelum kembali ke ruangan rapat.

Nyonya Cho meletakkan posel di sebelahnya. Mi Rae mengawasi raut wajah Nyonya Cho yang terlihat beberapa kali mendesah lega setelah menelepon Kyuhyun barusan. Sekarang yang dipikirkan Mi Rae adalah Kyuhyun. Pemuda itu pasti sangat kesal dan malu. Namun ada hal lain yang menyadarkan Mi Rae, diam-diam ia tersenyum karena ibu dan anak itu. Mereka seperti sahabat. Pembicaraan yang lepas, terkesan sekenanya, tapi di sana ada kehangatan.

Aku merindukanmu, Ibu.

“Ada apa?” tanya Nyonya Cho yang melihat Mi Rae menatapnya begitu dalam dan sendu.

“Tidak,” jawab Mi Rae cepat. Ia terdiam lagi, lalu tiba-tiba saja keberaniannya muncul setelah merasa yakin bahwa wanita itu benar-benar orang yang baik hati dan hangat. Seperti Kyuhyun. “Mengapa Ibu menyukaiku?” ia tidak lagi merasa kaku untuk menyebut kata ibu.

Wanita itu tersenyum tipis. “Sebab Kyuhyun menyukaimu. Aku mengenal anakku. Dia selalu berhati-hati dengan pilihannya.”

Dada Mi Rae berdebar halus. Jawaban yang sama seperti yang dikatakan Kyuhyun waktu itu.

“Ketika Kyuhyun membuat pilihan yang salah dengan bergabung dengan kelompok hitam, aku tidak bisa menyalahkannya karena itu adalah kesalahanku. Kesalahan kami sebagai orangtua. Bertahun-tahun Kyuhyun menjauhi kami.”

Ada sesuatu yang mulai menggenangi ujung-ujung mata Mi Rae. Ia tidak ingin menjadi orang yang cengeng, namun ia dapat merasakan perasaan yang penuh kehangatan itu. Perasaan seorang ibu pada anaknya yang tersampaikan dari sinar mata Nyonya Cho.

“Lalu dia kembali ke pelukan kami, dan itu semua berkatmu,” mendengar itu, Mi Rae sedikit terperanjat. “Kami selalu mengawasi Kyuhyun. Mungkin kau tak menyadari itu, namun semua perubahan Kyuhyun terjadi setelah ia bergaul denganmu. Mi Rae, jangan dengarkan perkataan miring orang terhadapmu. Kau gadis yang baik. Orang baik selalu membawa kebaikan di sekitarnya.”

Air mata Mi Rae menetes begitu saja.

“Kau bukan gadis yang suka menangis. Mengapa bisa secengeng ini?” Nyonya Cho memegangi tangan Mi Rae yang saling meremas di atas pangkuan gadis itu.

Mi Rae tertawa kecil, “Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini,” katanya sambil menyeka air mata. Senyuman terukir di paras manisnya, “Terima kasih,” tuturnya dan direspon dengan tepukan kecil-kecil Nyonya Cho di punggung tangannya.

~bersambung~

Selalu yaaa…telatnya konsisten wkwkwk. Sangat diharapkan partisipasinya dalam memberikan kritik atau saran. Bye. Muach! ^^

Iklan

207 thoughts on “Drama (Part 16)

  1. dya berkata:

    Akhirnya kisah kyu-mi lanjut lagi.
    sblumnya maaf lahir batin ya kak.hehe udah telat ya. gak apalah kan kapanpun bisa minta maaf. maaf kalo aku ada salah kata selama jadi reader disini.

    back to ff..
    uowowo…
    IBUU. kok agresif banget sih pengen si bang evil berbuat yg iya2 ama mirae. sumpah terpana aku sama kata2 abang yg bilang selama ini aku membatasi diri kalau tidak ibu sudah memiliki lusinan cucu.
    “Ya… Oppa brarti selama ini kamu nahan diri gitu. LUSINAN CUCU. emangnya siapa aja yg mau nglahirin ampe lusinan bayi. sekagum kagumnya aku ma oppa ogah ah aku, ntar lemes aku. hehehe. Mirae ati2ya ntar kalo udah nikah ama bang evil. lusinan… ihhhh.”
    makasih ya kak udah dilanjut next episode aku tunggu nih.
    keep writing…
    fighting.^_^

  2. Kasih berkata:

    Tuh kan ternyata eommanya kyuh baik Dan ngerestuin mereka ber2, mirae bener2 Nona drama…. Hahaha…. Lucy bgt scene d restoran sm percakapan kyuh sm eommanya d telp…

  3. hanifah berkata:

    pemikiranku juga sama seperti Mirae. kalau ibu kyuhyun bajalan gak ngerestui hubungan mereka. ternyata eh ternyata. suprise. aku geli sendiri sama kelakuannya ibu kyuhyun.

  4. Chaerim berkata:

    Ini bukan cerita horor… Tapi deg degan banget bacanya… Dikira beneran ny.Cho bakal gak setuju. Tapi syukurlah.
    Hah LEGAA

  5. choya berkata:

    Yee akhirnya muncul jg ff nya. Aku suka ff km. Rasanya spt bukan membaca fiction, tp spt membaca kehidupan nyata yg di fokuskan pada orang tertentu. Baca ff ini spt baca realita” kehidupan yg pernah aku alami maupun yg pernah q lihat. Yg aku suka lagi dr ff km, yaitu ff ny komplit. Gak hanya menyajikan hiburan,tp jg menampilkan pesan” yg sangat bermanfaat.
    Aku sabar menunggu part berikutnya^^trmksh atas karya”nya yg dibagikan utk dibaca reader secara cuma”. Mksh y…

  6. qiqi amalia berkata:

    Hah ???
    Hahahahaha =))=))
    Demi apasih tingkahnya ibu kyu itu =D
    Ckckck daebak lah.. Udah bikin dagdigdug aja. Kirain mah kayak ibu2 org kaya laennya yg gag setuju sm pacar anaknya, aktingnya meyakinkan pula.
    Eh ternyata setuju hahaha padhal si mirae nya udah ngebayangin yg aneh2 kan =))
    Gag jauh beda ya sifatnya sm kyu..malah lebih nyebelin agaknya, huh syukur deh emang org baik nyonya cho.
    Tiap kali deketan sm ibu kyu dan denger omongannya bikin mirae spot jantung agaknya.haha
    Seru seru..ditunggu next nya thor

  7. nabilatrrsydh berkata:

    Deg degan bacanya.. Kirain mirae bakal dimarahin abis2an sama ibunya kyuhyun. Ternyata ya ampuuunnn, aku mau deh jadi mirae!!! Langsung diakuin jadi calon menantu hmmm
    Ibunya kyuhyun kocak juga yaa, frontal abissss hahahahaha 😀

  8. mae berkata:

    baru nemu ff drama…ahahahaha…Aq ngakak bacanya g’ kebayang ekspresi ibu kyu..aduuuh sakit perut ketawa

  9. Shin Haehyun berkata:

    Baru baca lanjutannya sekarang dan bersyukur karena ibunya cho merestui hubungan kyu mirae 😀
    Baca part awal ikut deg2an takut nggak nerima mi rae eh tau2 malah pengen mereka cepet nikah 😀 ..keren dah aktingny eomma
    Suka juga sama hubungan eomma sama anaknya yang udah kaya teman juga 🙂
    Dan tulisan kakak always daebak 😀 ada tegang terus ngakak
    Pokoknya daebaaaak semangat terus kak.ditunggu kelanjutannya

  10. sharon evellyn berkata:

    Hahaha
    Part ini emang sesuatu banget
    Kirain emaknya kyuhyun itu adalah wanita yang elegant tpi ternyata kagak
    Tpi cocok itu mi rae sama nyonya cho
    Ntar mereka bisa nnton drama korea bareng
    Anyway kuliah kedokteran kyuhyun gmna ??
    Dosennya gk nanyain tentang dia gtu karna gk ikutan magang

  11. LC_Ovan berkata:

    Demi apa udah deg”an kalo Nyonya Cho bakal macem Nyonya Goo (Emwk’a Goo Jun Pyo) bener dh pemikiran Q sama MiRae kalau bakal ada lempar uang, caci maki, lemapr minuman dll ternyta virus drama bener” daebak bisa membuat semua jadi drama

    Dan demi apa Nyonya Chosifat’a Evil dan kocak apalagi pas dia dengan blak”an nnya masalah sejauh mana “hubungan” Kyuhyun MiRae hahahaha Nyonya Cho gokillll suka dah sama sifat’a

    Dikit lagi Kyuhyun MiRae nikah yuhuuuuuu

  12. aureg berkata:

    So sorry author, aku coment jarang2 gini 😢
    Tapi beneran deh aku suka banget sm ff ini
    Alur ceritanya benr gk bisa ditebak deh
    Aku pikir ceritanya bener2 bakal ky yg ada di drama melankolis itu loh thor hahaha
    Pengen banget baca ff author yg lainnya, janji deh bakal rajin coment nantinya haha

  13. chobyul berkata:

    hahaha…lucu ya hub ny cho dg kyuhyun mereka sangat dekat..sikap ny cho bnr2 diluar perkiraan..daebak. ditunggu next..

  14. Eka puspita elf berkata:

    Astaga aku udah dag dig dug aku kira NY cho beneran gk suka sama mirae tapi ternyata apa, astaga itu ibu kyu ngomong nya frontal bener, haha ke banyakan orang tua mah sering nasehatin anak nya biar gk ber buat yg berlebihan sma pacar eh ini sebalik nya haha tapi aku suka sama ibu kyu orang nya kocak, aku penasaran kelanjutan nya eoni jangan lama” ya lanjutan nya:-|;-)

  15. Elie Park berkata:

    Haha ngakak sama part ini. Jadi nyonya Cho suka drama juga? Kolosal? Ibuuuuuu luv you…. Yuk kita nonton drama bareng. Hihi.

    Jadi nasip Siwon gimana? Kan dia belum minta maaf lagi sama Mi Rae sesuai perintah Kyuhyun. Anam udah baik? Atau masih bermasalah?

    Berharap nanti ada scene drama Mi Rae ketemu Kim siapa itu gadis yang mempermalukan Mi Rae dulu itu… Terus dia lihat Mi Rae udah sukses dan masuk ke kalangan atas.

    Ditunggu lanjutannya onnie

  16. Anh Chan-Kyu berkata:

    😂😂😂 diluar dugaan ternyata… Kirain ibunya kyu gak setuju…

    Hahahaha kyu sama ibunya udah kayak anak kecil berantem, sampe2 mirae kebingungan sendiri… Kyu aja dibikin frustasi sama kelakuan ibunya sendiri…

    Lanjut

  17. nae.ratna berkata:

    wah diluar ekspektasi nih kkk
    dikira ga ngerestuin eh ternyata… kkkk
    nyonya cho keren….
    ibu sama anak sama2 evil nih suka godain aja kkk
    mirae selamat yah dah direstuin
    asyeekkk

    di tunggu lanjutan.a^^

  18. Rrin'sLove berkata:

    kakak
    aku liat liat komen terdahulu dan itu isinya cuma aku dan berurutan puhahahaha

    aiiiih aku suka Ibu Kyuhyun
    dia ternyata pecinta drama
    kolosal pula -,-”
    wkakwkwk
    ngakak lah
    ibunya Kyuhyun mmng sdikit gila wkwkwk
    Kyuhyun aja hampir pecah kepalanya karena kelakuan abstrak ibunya wkwkwk
    ampun deeeeh

    aku sukaaaaa
    part ini mmng bikin ngakak lah

  19. Widya Choi berkata:

    Td ny smpet takut klo eomma ny kyu g ngrestui hubngn mrk…tp tyta mlah d luar dugaan aw aw aw 😄😄😄.. hahaha emakny kyu gokil bgt y 😂😂😂😂..
    Kykny justru emakny yg ngebet pngen nikahin ank ny y 😄😄😄😄

  20. evivi407 berkata:

    mirae asli drama banget.. ibu si kyu lebih gokil lagi.. drama pula lagii..
    kocak asli gkk nyangka aja sumpah ..

    ibunya kekinian ya.. masa anaknya ditanya punya masalah gituan..
    anak nya baik kali bu jaga wanitanya.. udah mati”an nahan kali .. hehe

    aduh jalan ceritanya keren thor ga bisa asal nebak karena selalu di patahkan aku.. hehe

  21. Leah berkata:

    Wkwk kok ngakak ya, sumpah part ini part yg terkocak dari part lainnya. Ibunya Kyuhyun yg iseng, mana si nona drama nya ikutan ketipu. Sudah lah. Dikuar ekspetasi, kirain gabakal setuju eh malah sebakiknya. Mirae si nona drama emng luar biasa imajinasinya, apalagi yg ke empat wkwk.
    Ada ya, ibu yg menjerumuskan anaknya sendiri. Malah nyuruh anaknya macem2 hadehh. Kyuhyun kudu hati hati ini mah, takut tiba2 dikerjain

  22. dija berkata:

    sumpah demi ap ibux kyuhyun soplak bingit… pake acra kerjain calon mantu sgala…. 😁😁. aq suka krakterx…

  23. anie berkata:

    gilaaa scene di lestoran bner bner buktiin mira sebagai gadis drama,,bkin ngkak ema nya kyu juga ada ada aja pke ngrjain mira segala,,, somplak bner ema nya c kyu hahahahaa,,, semngat bca part selanjutnya

  24. AeriLyz77_ berkata:

    Anjirr ngakak so hard :v
    Sumvahh ibunya nakut2in Mi Rae smpe bkin aku tegang sndiri gak taunya… Hemzz
    Pling suka klo bca epep ibunya sifatnya kyak gni hahahaha mski bkan ibu biologis tpi sifatnya 11 12 kyak Cho

  25. dya berkata:

    Udah lama gak mampir ke rumah ini. Hmpir setahun. Kakak masih inget ma reader yg satu ini gk ya? Aku aja lupa baca terakhir part brapa. Eh trnyata drama yg part ini udh prnah baca.
    Tetep ya yg paling membekas bwt aku “lusinan cucu” bener2 dah. Aku lanjut aja kak ya part selanjutnya.. makasih udah dilanjut dramanya.

  26. Hana Choi berkata:

    Ya ampun kocak banget deh dikirain ibunya kyuhyun kaya di drama” dari awal oart hingga kini ternyata ga ada yg bener” kaya drama kecuali tentang kyuhyun yg jatuh Cinta sama mirae yg notabennya dari kalangan biasa aja. Kyuhyun sama ibunya ternyata akrab banget yah bikin iri deh

  27. lvraz berkata:

    Ya ampun ibunya Kyuhyun Bener Bener ibu ibu drama, yg Lebih lucu lagi sampe hubungan seksual anaknya aja Ampe ditanyain, Coba kurang Keren apa lagi itu emak2

  28. My labila berkata:

    aku kirain ibunya kyuhyun tidak merestui hubungan kyuhyun dan mirae taunya itu cuma ngerjain mirae, padahal mirae udah panas dingin begitu dan fikiran ala dramanya kumat wkwk…. ternyata ibunya kyuhyun lucu juga. next ah bacanya..

  29. ina berkata:

    awalnya jadi ikutan deg-degkan juga
    eh ternyata?? wkwkwk
    kocaklah mereka wkwkwk
    ahhh…. jadi diragukan kalo kyu bukan anak kandung ibu asuhnya..
    cocok banget…

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s