Pianist’s Melody (Part 1)

panists-melody

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

First Meet

 

 

Pianis Cho Kyuhyun, akan melakukan resital bertajuk Classical Eve.

Klik.

Seorang wanita berambut pirang datang bersamaan dengan layar televisi yang telah berubah menjadi hitam pekat. “Sudah cukup waktu untuk bersantai,” kata wanita itu dengan tangan kanan mencengkeram pinggang mungilnya. Ia berdiri di hadapan seorang pria yang matanya lebih tertarik mengikuti benda dalam genggaman tangan kiri sang wanita, yang bergerak bebas ke sana dan ke mari—lebih banyak menunjuk ke wajah si pria.

Akhirnya pria itu tahu misteri hilangnya remote control yang mengganggunya sejak tadi. Jessey, nama wanita berparas mungil itu, pasti secara sengaja menyembunyikannya.

“J, kembalikan!” pria itu lebih suka memanggilnya ‘J’ ketimbang Jessey, cukup irit menurutnya. Kemudian tangannya terulur, berharap remote itu segera berpindah tempat.

“Kau datang ke sini bukan untuk duduk bermalas-malasan begitu.”

Melihat Jessey yang justru mengantongi remote di saku belakang hotpant-nya, membuat pria itu mendesah kesal. Ia berdiri dan berlalu ke ruangan lain. Jessey masih mengikutinya di belakang. Sesampai di mini bar, ia mengambil gelas dan menuangkan minuman ke dalam gelasnya.

Oh, man,” geram Jessey saat melihatnya hanya santai-santai sambil meneguk coctail. “Setelah sekian tahun dan…dan….ah, sudahlah. Tolong pikirkan para penggemar yang telah menanti-nantikan resitalmu di sini. For the first time in Seoul, Kyu.

Cho Kyuhyun. Sang pianis yang sedang menjadi buah bibir. Pria itu hanya duduk di kursi bar, menggoyang-goyang minuman dalam gelasnya dengan gerakan yang halus. Matanya yang setajam mata elang hanya menatap tenang, dan ada seulas senyum tipis yang tergurat di wajah tegasnya.

“Tenanglah, J,” Kyuhyun menepuk-nepuk kursi bar di sebelahnya. Jessey pun duduk di situ dan menerima gelas yang baru dituangi coctail oleh Kyuhyun. “Kau seperti tidak mengenalku saja. Jangan membuang-buang energimu untuk mencemaskan sesuatu yang tidak akan terjadi, okay?

Jessey meneguk sekali, dan kembali meletakkan gelasnya di atas meja. Ia menoleh pada Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan sorot mata yang lembut. “Baiklah,” Jessey menyerah.

Seperti kata Kyuhyun, sebaiknya Jessey tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Cho Kyuhyun bukan pianis biasa. Pria itu seorang jenius musik. Selama Jessey menjadi managernya, tidak pernah Kyuhyun melakukan kesalahan pada penampilannya.

“Tapi setidaknya, kau harus melihat panggungmu.”

“Aku memercayakan semuanya padamu.”

“Kyu,” Jessey mendelik, dan Kyuhyun secara spontan mengangkat kedua tangannya sambil tertawa.

Okay. Okay,” Kyuhyun menyetujui keinginan managernya. Ia tahu jika Jessey tidak akan berhenti mengatakan ini dan itu, memaksanya, dan—yeah, memang begitulah Jessey.

Jessey adalah seorang wanita dengan kecantikan yang khas. Ibunya berasal dari Korea sehingga Jessey mewarisi wajah oriental, dan rambut pirang yang didapat dari ayahnya yang merupakan seorang Amerika. Selama Kyuhyun mengenal Jessey, sifat pemaksa Jessey tidak pernah hilang. Keduanya bersahabat sejak mereka berkuliah di Juilliard. Jessey adalah seorang violis, namun harus mengubur impiannya karena kecelakaan yang membuat kedua tangannya cedera parah.

Kyuhyun kembali meneguk minumannya dalam diam, dengan segala macam hal yang mengusiknya sejak tiba di Seoul. “Kenapa menatapku begitu?” tanya Kyuhyun. Walau tak menoleh, ia tahu jika Jessey sedang mengawasinya.

“Kau mau aku mencarinya?”

Pertanyaan yang membuat Kyuhyun sedikit tertegun, namun ia berusaha untuk bersikap seperti semula. “Apa?” tanyanya sambil menyesap coctail. Kyuhyun tahu apa maksud Jessey, dan ia sedang berpura-pura seolah ia tak mengerti.

“Melodi itu,” jawaban Jessey membuat Kyuhyun agak mendesah.

“Tidak perlu.”

“Kita sudah di sini, Kyu. Aku bisa membantumu untuk—”

“Jess!” seru Kyuhyun. Ia berdiri. Menatap Jessey dengan sorot mata yang begitu tajam. “Maafkan aku, tapi aku hanya ingin fokus pada resital nanti,” katanya sembari berlalu.

Jessey menggerakkan tubuh sehingga kursi yang didudukinya ikut berputar, “Kyu,” panggilnya lirih. Ia menatap punggung Kyuhyun.

“Jangan lakukan itu!” suara Kyuhyun terdengar berat. Jessey tak lagi menahan Kyuhyun ketika pria itu pergi dan menghilang di balik pintu kamar.

Satu-satunya yang terdengar kini hanya tarikan napas Jessey. Ia mendongak sambil mengembuskan napasnya, kasar. Suasana hati Kyuhyun sedang buruk. Ia tidak akan mengusik pria itu sampai keadaan menjadi jauh lebih baik.

Ya Tuhan, apa masalahnya? Jessey hanya ingin membantu. Sedikitnya, Jessey tahu cerita di masa lalu Kyuhyun. Cerita tentang melodi yang hilang itu. Kyuhyun memang begitu misterius. Jessey sudah lama bersahabat dengannya, tapi ada hal-hal tertentu yang disimpan Kyuhyun seorang diri. Menjaga itu di dalam dirinya. Sesuatu yang terkubur dalam sebuah bilik rahasia di hatinya. Tiada yang tahu. Pun demikian halnya dengan Jessey.

♪♫♩♬

Seoul Arts Center telah dipadati orang-orang yang datang untuk menyaksikan resital piano Cho Kyuhyun. Seorang pianis yang sangat terkenal di panggung musik dunia. Walaupun berdarah Korea, ini adalah resital pertama Kyuhyun di Korea Selatan. Jadi wajar saja jika penggemarnya penuh sesak di gedung itu sebab mereka sudah lama menantikan penampilannya.

Kyuhyun sedang menunggu di sebuah ruangan yang di kelilingi oleh cermin, ruang ganti sekaligus ruang tunggu. Tidak lama lagi dirinya akan tampil di hadapan ratusan orang. Ia sudah terlihat siap dan tampak begitu gagah. Memakai tuxedo tail coat dengan gaya single breasted berwarna hitam yang dipadukan dengan dasi kupu-kupu dan rompi di dalamnya berwarna putih. Rambutnya pun di tata rapi. Kedatangan Jessey mengusir ketenangan Kyuhyun. Matanya mengikuti Jessey yang menghampirinya, dan mengambil tempat di hadapannya.

“Maafkan aku, Kyu,” Jessey masih menyesali perkataannya waktu itu. Tidak seharusnya ia memaksa Kyuhyun.

Pria itu tersenyum. Sedikit memajukan tubuhnya agar tangannya dapat menggapai pipi Jessey, “Bukan Jessey namanya jika kau tak keras kepala,” goda Kyuhyun sambil mencubit gemas pipi Jessey.

“Hentikan, Kyu!” Jessey menepis tangan nakal Kyuhyun. “Apa kau siap?” tanyanya dan Kyuhyun kembali tersenyum, “Baiklah, Tuan Cho. Buat mereka semua terpukau,” kerling Jessey sambil berdiri. Diikuti Kyuhyun, keduanya bersama-sama meninggalkan ruangan tersebut.

Sayup-sayup dari kejauhan, suara-suara itu mulai menyambangi telinga Kyuhyun. Semakin mendekati panggung tempatnya akan bermain piano, semakin jelas juga suara itu. Kebisingan yang datang dari ratusan orang yang sudah berada di dalam ruang pertunjukan, memenuhi tempat itu sehingga tidak menyisakan barang satu pun kursi yang kosong.

Suara tepukan tangan menggema begitu Kyuhyun muncul dari pintu di sisi panggung. Ia berjalan, dengan gagahnya menghampiri grand piano yang berada di tengah panggung. Kyuhyun berbalik, menghadap langsung pada penonton. Ia membungkukkan tubuhnya seraya memberi hormat. Aksinya membuat tepukan tangan penonton semakin menggila. Setelah menegakkan tubuh, ia langsung mengambil posisi dan duduk di hadapan piano yang seperti sudah tidak sabar menanti disentuh.

Dalam-dalam Kyuhyun menghirup oksigen agar memenuhi rongga dadanya. Kedua tangannya terangkat, melayang di udara, tepat di atas tuts-tuts hitam putih grand piano. Dentingan piano pun mulai terdengar.

Di sisi lain panggung, Jessey yang menatap dari balik pintu, menampilkan reaksi yang berbeda. Ia terkejut setelah mendengar nada-nada yang mengalun indah itu.

Movement pertama yang dibuka dengan not oktaf di tangan kiri yang melawan triplet di tangan kanan. Sebuah melodi yang disebut lementation atau ratapan. Pergerakan melodi itu terdengar begitu lembut.

Moonlight Sonata,” bibir Jessey bergerak pelan. Wajahnya agak tegang dan buru-buru ia membuka map di tangannya.

Moonlight Sonata, tidak tercantum dalam daftar. Jessey kembali memandangi Kyuhyun yang memunggunginya. Seiring detik yang berganti, debaran jantung Jessey meningkat. Jessey tahu siapa Cho Kyuhyun. Jenius musik itu tidak pernah sekalipun memainkan Moonlight Sonata. Tidak ada dalam ingatan Jessey dimana Kyuhyun pernah memainkan karya Beethoven yang satu itu. Kyuhyun selalu mencoret Moonligth Sonata dari daftar setiap kali ia harus melakukan sebuah pertunjukan. Kyuhyun tidak pernah mengatakan alasannya. Jessey tidak pernah tahu. Namun, setelah ini, setelah mendengar sendiri, tampaknya Jessey mulai dapat mengira-ngira. Sedikitnya, Moonlight Sonata yang sedang dimainkan itu seakan memberikan sebuah pencerahan padanya.

Di barisan penonton, tidak ada suara yang terdengar. Yang mengalun lembut memanjakan telinga mereka hanya dentingan-dentingan piano yang sedang dimainkan sang pianis di atas panggung sana. Semua orang terdiam. Mereka terpukau. Tatapan mata yang hanya terfokus ke satu arah.

“Apa karena Cho Kyuhyun terlalu hebat sehingga membuatku dapat merasakan perasaan Beethoven yang dituangkan dalam not-not itu? Perasaan cinta yang begitu besar, kesedihan, keceriaan, ketidakadilan, amarah, dan keputusasaan. Sebuah emosi yang tidak dapat dikendalikan.”

“Permainannya sangat memukau dan begitu hidup.”

Beberapa orang yang tampaknya tidak tahan untuk memendam kekagumannya mulai berpendapat. Setelah itu, mereka kembali fokus pada Kyuhyun.

Wajah sang pianis tampak sangat serius, dengan ekspresi yang begitu dalam. Kyuhyun memejamkan matanya, melampiaskan perasaannya di situ. Perasaan yang Kyuhyun kira telah dilupakannya, namun, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Tak tertahankan.

Kau mendengarnya?

Kau suka?

.

.

.

Bulan Desember, ketika salju sedang turun, adalah saat pertama kali Cho Kyuhyun tiba di rumah mewah itu. Sebuah rumah yang terasa sangat besar dalam pandangan anak berumur sepuluh tahun. Dengan pergelangan tangan yang digenggam kuat, saat dirinya dibawa masuk ke dalam rumah itu. Perasaan takjub yang bercampur dengan ketakutan telah merasukinya.

“Mulai sekarang kau akan tinggal di sini,” pria bertubuh kurus yang terus menggenggam tangannya itu, menatapinya dari balik kaca mata yang hampir melorot ke ujung hidung pria itu. “Aku akan mengawasimu.”

Anak sekecil dirinya bahkan tahu jika arti lain dari kalimat yang dilontarkan oleh pamannya adalah jangan berbuat macam-macam. Jadi, Kyuhyun hanya menurut ketika pamannya membawanya ke sebuah kamar yang akan menjadi dunia kecilnya. Kamar itu berada di lantai dua.

PRAANG!

Suara yang menghentak Kyuhyun, cukup untuk membuat langkahnya tertahan. Terdengar seperti bunyi yang dihasilkan dari sesuatu yang pecah. Kegaduhan itu bersumber dari sebuah ruangan. Dari pintu yang terbuka, mata Kyuhyun dituntun kepada seseorang. Ada anak kecil lain di rumah itu. Seorang gadis kecil yang hanya diam, begitu dingin raut wajahnya, mengalahkan dinginnya salju pada malam itu.

“Nona!”

Bahkan ketika seorang pelayan wanita menjerit dengan eskpresi yang entah apa—cemas, takut, sedih—gadis kecil itu bergeming. Tidak ada penyesalan apa pun yang coba diperlihatkannya. Gadis yang membuat semuanya terlihat sederhana, sesederhana caranya memecahkan cermin yang potongan-potongannya sementara dibersihkan oleh pelayan lainnya.

“Nona harus segera tidur.”

Pelayan yang menjerit tadi mulai menuntun si gadis. Gadis itu menoleh, melihat Kyuhyun yang masih mematung di koridor. Mata mereka bertemu. Tatapan yang sama-sama sedang menyelidiki.

“Cepat!”

Pamannya tidak memiliki cukup kesabaran, sehingga menarik Kyuhyun dengan begitu kasar. Namun, mata si gadis kecil masih mengikutinya sampai ia benar-benar menghilang, terhalangi dinding. Kyuhyun tak akan lupa bagaimana cara gadis itu memandangnya. Dingin dan kosong. Kyuhyun paham akan satu hal, walau tak ada seorang pun yang berbicara sekadar menjelaskan situasi yang tengah berlangsung. Mata coklat gelap itu telah mengatakan semuanya dengan begitu jelas. Pertemuan yang terjalin dari sebuah tatapan antara dua orang asing yang memiliki cerita yang sama. Kesepian.

Seberapa hebatnya tempat yang Kyuhyun tinggali, bahwa orang akan berdecak ketika melintas di depan bangunan megah bergaya eropa dengan green garden yang, tentu saja sangat menyolok itu, namun, tidak ada yang lebih dirindukan Kyuhyun daripada rumah mungilnya di Busan.

“Aku ingin pulang!”

Teriak Kyuhyun dengan air mata yang berlinang. Kyuhyun dapat melihat jika pamannya sedang menahan kegeraman. Sementara seorang lainnya—seorang wanita yang kala itu tengah menenangkan gadis kecil itu. Wanita yang adalah bibinya, sedari tadi hanya diam dan menampilkan sorot mata terenyuh.

“Bibi akan mengajakmu ke Lotte World, kau akan menyukainya.”

Kyuhyun tahu jika wanita itu sedang membujuknya, tapi ia tidak menginginkan apa pun.

“Tidak! Tidak mau! Aku hanya ingin ayah dan ibuku!”

“Kau ingin pulang? Baik! Pulang saja! Aku juga tidak mau repot-repot mengurusmu!” pamannya mendelik, menatap dengan mata yang menyala-nyala. Seperti serigala yang siap menerkamnya.

“Sayang, jangan terlalu keras padanya.”

“Dia harus belajar menerima kenyataan jika orangtuanya sudah meninggal.”

Hentikan. Kyuhyun tidak ingin mendengar itu, dan ia berlari meninggalkan paman dan bibinya yang mungkin sedang berdebat di dalam kamarnya. Tak peduli sampai sejauh mana kakinya kuat membawa dirinya pergi. Ia hanya ingin berlari hingga benar-benar lelah dan—mati.

Keinginannya tidak akan, atau mungkin belum terkabul dalam waktu dekat. Sebab kini, Kyuhyun hanya meringkuk di sudut dinding, terisak hingga bahunya berguncang. Lalu sepasang kaki itu terlihat berdiri di hadapannya. Kyuhyun pun mendongak dan mendapati gadis itu sedang menatapnya. Gadis yang dilihatnya pada malam itu.

“Bagaimana kau tahu tempat ini?”

Baru disadari Kyuhyun jika mereka sedang berada di luar, karena matanya dapat dengan bebas memandangi langit biru dengan gumpalan awan, juga pepohonan yang masih diselimuti salju tipis. Di luar, tapi tidak benar-benar di luar rumah.

“Balkon ini milikku.”

Gadis itu berbicara dengan nada yang datar dan dingin. Ada boneka beruang berukuran kecil dan berwarna putih, yang didekap erat di depan dada. Sorot mata yang terlihat tidak senang, seolah sedang menegaskan bahwa siapa saja tidak diijinkan datang ke tempat itu.

Mereka—untuk kedua kalinya—saling pandang dengan durasi yang cukup lama hingga gadis itu mendesah, seperti telah memutuskan sesuatu, “Baiklah, aku akan berbagi tempat ini denganmu.”

Mata Kyuhyun mengikuti gadis yang rambutnya dikuncir rapi itu. Gadis itu berpindah tempat, dan ikut berjongkok di sisinya. “Kenapa kau menangis?”

Kyuhyun diam, lalu dengan enggan ia berkata, “Aku merindukan ayah dan ibu.”

“Di mana mereka? Kau ingin menemui mereka? Kalau begitu, lakukan saja!”

“Aku ingin, tapi aku tidak bisa,” Kyuhyun menjawab dengan kepala yang tertunduk, “Mereka tidak di sini. Bibi bilang, mereka sudah berada di surga.”

Si gadis menarik napas panjang, “Ibuku juga ada di sana,” katanya sambil melirik pada boneka beruang dalam dekapannya itu. “Dia hanya meninggalkan ini untukku.”

Mereka berdua terdiam. Sekian lama, kesunyian itu berlangsung. Tidak ada yang mencoba untuk berbicara. Hanya sesekali mereka saling lirik.

“Siapa namamu?”

“Cho—Kyu—Hyun—” jawabnya, ragu.

“Oh,” gadis itu mengangguk kecil, sebelum kembali berkata, “Kyunie, kau tahu siapa aku?”

Desahan napas berat Kyuhyun mengudara. Ia  agak mengerang. Sangat tidak setuju mendengar bagaimana cara gadis itu memanggilnya. Begitu seenaknya. Namun, ia sedang tidak ingin mendebat siapa pun. Jadi, ia hanya menggeleng atas pertanyaan yang baru saja diutarakan padanya.

“Seo Yun Ae.”

-bersambung-

Hai, ini dia cerita yang saya janjikan.

Lumayan buat menemani malming kalian, sambil nunggu si Drama posting hehehe. Omong2, cerita ini per part-nya tidak dibuat panjang ya, jadi saya akan mengabaikan komentar ‘kurang panjang’, ‘kependekan’ dan bahasa2 sejenisnya 🙂

Di antara kalian, ada gak yang suka dengerin musik-musik klasik?

Sy bukan maniak musik klasik, tapi sy mengagumi musik klasik. Sy sangat menikmati musik klasik. Bagi yang tidak suka, musik klasik dianggap kuno, tapi menurut saya pribadi, musik klasik memiliki pesona tersendiri. Terdengar sangat elegan dan berkelas.

Ada beberapa komposisi karya komponis dunia yang saya masukkan dalam ff ini. Mungkin saja ada yang pernah mendengarkan karya-karya tersebut.

Sebenarnya, sangat direkomendasikan untuk mendengar komposisi-komposisi itu. Cobalah untuk mendengarkan Moonlight Sonata, La Campanella, Liebestraum, Clair De Lune, dan lain-lain yang tidak sempat saya sebutkan…trus komposisi yang memiliki kerumitan tingkat tinggi seperti Etude In A Minor Op. 25 No. 11, yang bikin berdebar-debar gak karuan (ini menurut saya lho, jadi saya maklum kalo ada yang tidak sependapat dengan saya 😀 ).

Paling tidak, komposisi inti dalam ff ini adalah Moonlight Sonata (Beethoven). Nah, download saja yang satu itu ya hehehe kalau diresapi, kalian akan bisa merasakan perasaan si Beethoven dalam komposisi tersebut.

Okay, saya sedang berjuang melanjutkan Drama.

Yang mampir, mohon tanggapannya ya. Kritik atau saran, sy terima dengan senang hati. Itu sangat berarti bagi saya.

See u soon. Muach!

Iklan

111 thoughts on “Pianist’s Melody (Part 1)

  1. Choalfi berkata:

    Yaampun kaaaak aku baru buka blog ini lagi setelah sekian lama.
    Seneng deeeeeh bacanya. Aku lanjutin ya baca part selanjutnya. Penasaran banget sama masa lalu kyuhyun

  2. KIKI berkata:

    Baru sempet baca sekarang..
    Kakak Kyuhyun dalam versi beda. Seorang pianis. Suasanya dapet banget jaman dulu, eropa, suasana klasik nya juga. Beda sama FF kaya yang lainnya

  3. whitedear berkata:

    habis baca drama cus cari ff yg lainnya, dn kepo sama ff ini hehehe
    jadi penasaran sama cerita masa lalu kyuhyun.. trus cewek yg dicari itu Seo yun ae kah? trus siapa Seo yun ae? cinta masa lalu kyuhyun atau cinta monyet nys kyuhyun 🙂

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s