Pianist’s Melody (Part 2)

pianists-melody-2

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Maybe It’s Love

 

 

Siang itu, Seo Yun Ae dan sahabat karibnya, Cha In Hee, baru saja keluar dari kantin sekolah. Jam istirahat akan segera berakhir, jadi mereka memutuskan untuk kembali ke kelas, sebab setelah itu adalah jam pelajaran Guru Im yang terkenal dengan kekejamannya. Sementara berjalan, banyak hal yang mereka bicarakan. Mulai dari pelajaran, gosip yang berembus di sekitar mereka, deretan siswa popular dan pembicaraan lainnya yang selalu menjadi topik khas remaja. In Hee sedikit melambat, dan ia mengarahkan dagunya ke sebuah tempat setelah melihat kebingungan Yun Ae. Hanya beberapa meter di depan mereka, ada segerombolan gadis yang tampak berhimpit-himpitan di depan jendela sebuah ruangan yang mereka ketahui adalah ruang musik.

Keduanya menghampiri gerombolan siswi yang seperti berlomba-lomba untuk menyaksikan sesuatu yang menarik. Sayup-sayup suara piano terdengar lembut di telinga mereka. Daripada membiarkan rasa penasaran menggeluti mereka terlalu lama, Yun Ae dan In Hee segera mengayunkan kaki dan ikut bergabung dengan para gadis itu. Di dalam sana, ada seorang siswa yang sedang bermain piano.

“Baru-baru ini, dia memenangkan kompetisi piano antar SMA se-Korea Selatan.”

“Ah, benar. Kebetulan, aku menontonnya saat itu. Dia sangat luar biasa.”

Gadis-gadis terlihat antusias membahas sosok siswa di dalam sana yang sedang terlena dalam dunianya. Sementara itu, Yun Ae memilih menarik In Hee agar menjauh dari kerumunan tersebut.

“Sepertinya deretan penggemar Cho Kyuhyun terus bertambah,” kata In Hee sambil menegok ke belakang, pada kumpulan gadis yang mungkin tidak akan beranjak dari sana sebelum Kyuhyun pergi. “Kau tidak merasa cemburu pada mereka?” In Hee bertanya pada Yun Ae yang mengangguk antusias saat membenarkan pendapatnya tadi.

“Aku? Cemburu? Untuk apa?” Yun Ae kemudian tertawa kecil. “Setiap hari aku bisa melihat Kyunie-ku selama 24 jam? Bagiku, Kyunie itu seperti sahabat dan juga saudara.”

“Dan baginya, kau hanyalah seorang nona muda,” celetukan itu membuat In Hee dihadiahi Yun Ae dengan sebuah cubitan pelan di pipinya. Sambil kejar-kejaran, kedua gadis itu kembali ke kelas dan mengikuti mata pelajaran selanjutnya.

Bel panjang pun berbunyi, menandakan usainya jam pelajaran hari ini. Murid-murid mulai membereskan buku-buku mereka. Yun Ae dan In Hee yang duduk bersebelahan, segera meninggalkan kelas setelah semua benda-benda yang tadinya berserakan di atas meja, telah tersimpan di dalam tas.

Bodyguard-mu sudah menunggu,” celoteh In Hee. Ia dan Yun Ae menatap lurus pada Cho Kyuhyun yang sedang bersandar di dinding sambil menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana. Seo Yun Ae berbeda kelas dengan Kyuhyun. Karena otak pintarnya, Kyuhyun menempati kelas inti. “Kita berpisah di sini,” kata In Hee sambil menepuk bahu Yun Ae. “Masih ada yang harus kuselesaikan di perpustakaan,” lanjutnya lagi sebagai penjelasan. Cha In Hee selama setahun belakangan ini telah menjadi pengurus di perpustakaan sekolah.

“Baiklah, sampai jumpa besok,” balas Yun Ae. In Hee mengangguk dan berbalik pergi, meninggalkan Yun Ae yang sedang dihampiri oleh Kyuhyun.

Yang pertama dilakukan Kyuhyun saat berhadapan dengan Yun Ae adalah mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Kyuhyun menyodorkan roti lemon, kesukaan Yun Ae. Gadis itu tersenyum ketika menerima roti, lalu membuka bungkusnya dan langsung menjejalkan roti ke dalam mulutnya.

“Kau sudah lama menunggu?” tanya Yun Ae dengan mulut yang penuh.

Kyuhyun melirik pada jam tangannya dan berkata, “Satu jam lewat lima belas menit, waktu yang cukup lama untuk membuat perutmu bersenandung,” jawaban Kyuhyun kembali membuat Yun Ae tertawa lebar memamerkan deretan giginya. Cho Kyuhyun memang sangat mengerti dirinya. “Nona, tolong perhatikan sikapmu,” desis Kyuhyun saat melihat apa yang dilakukan Yun Ae dengan mulut yang penuh makanan itu. “Tuan tidak akan su—”

Seo Yun Ae segera menekan telunjuknya di bibir Kyuhyun, “Apa kau CCTV berjalan ayahku? Dasar menyebalkan,” desis Yun Ae, manyun. Tingkah Yun Ae mengundang senyum tipis Kyuhyun. Pemuda itu hanya mengacak-acak lembut rambut Yun Ae, tapi itu justru membuat desisan Yun Ae menajam. Kakinya menghentak-hentak saat Kyuhyun justru berjalan mendahuluinya. “Hey! Kyunie!” teriaknya dan berjalan tergesa-gesa menyusuli Kyuhyun.

Yun Ae terus menjejalkan banyak hal ke telinga Kyuhyun, mengeluhkan sikap Kyuhyun dan semua itu adalah hal yang kedengarannya sama di telinga Kyuhyun hampir disetiap kali Yun Ae mengomel. Lalu, seperti biasanya, Kyuhyun tidak akan membalas barang sedikit pun kicauan tiada henti Yun Ae. Kyuhyun justru menikmati semua omelan Yun Ae, ia menyukai Yun Ae yang seperti itu, dibandingkan Yun Ae yang dikenalnya diawal perjumpaan mereka. Yun Ae yang terasa dingin. Pada saat itu, Kyuhyun melihat gambaran dirinya pada diri Yun Ae, dan ia sadar jika ia tidak pernah menyukai dirinya yang seperti itu. Dirinya yang hanya berselimutkan rasa sepi dan sedih sepeninggal kedua orangtuanya.

“Apa lagi yang kau tunggu, Nona? Kau bisa melanjutkan ocehanmu itu di perjalanan nanti,” ujar Kyuhyun yang telah siap mengayuh pedal sepedanya.

Yun Ae tak punya pilihan, selain duduk di boncengan belakang sepeda itu sehingga Kyuhyun dapat membawanya pulang. Rumah mereka memang tidak begitu jauh dari sekolah. Kyuhyun sudah sering mengeluhkan itu pada Yun Ae, bahwa sebaiknya Yun Ae pulang bersama sopir, namun si keras kepala itu tidak pernah menyetujui permintaan Kyuhyun.

♪♫♩♬

Dari jauh, Seo Yun Ae dan Cha In Hee sedang mengamati Kyuhyun. Pemuda itu tidak sedang sendirian. Ada seorang gadis yang berdiri canggung di hadapannya. Gadis itu mungkin junior mereka. Entah apa yang sedang dikatakan gadis itu, namun melihat ekspresi dan warna wajahnya, mereka sudah bisa menebak jika saat ini Kyuhyun sedang menerima sebuah pengakuan cinta. Gadis tersebut hanya menundukkan kepala saat Kyuhyun berbicara dengan raut wajah yang sendu. Kyuhyun tersenyum tipis dan mengulurkan tangan padanya. Gadis itu menjabat tangan Kyuhyun sebelum akhirnya pergi dengan tergesa-gesa sambil menyeka sudut-sudut matanya.

“Kupikir Cho Kyuhyun agak kejam,” mata In Hee menyipit, “Bisa kau lihat, kan? Lagi-lagi dia membuat seorang gadis menangis.”

“Hanya karena Kyunie menolak mereka, lalu kau mengatainya begitu? Kyunie tidak meminta mereka menyukainya, kan? Dan juga, Kyunie hanya berkata jujur tentang perasaannya.”

Kontan saja In Hee menatap dalam-dalam wajah Yun Ae sehingga gadis itu mundur selangkah karena wajah In Hee yang begitu dekat dengannya. “Oh, hallo, apa sekarang Cho Kyuhyun mempunyai seorang juru bicara?”

“Aku hanya mengatakan apa yang kutahu. Lebih baik jujur walaupun menyakitkan, daripada berbohong demi menyenangkan perasaan orang lain,” Yun Ae melakukan pembelaan diri, namun In Hee tidak berhenti sampai di situ. Tatapan mata In Hee sekarang seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangkanya. “Ada apa dengan matamu itu, huh?”

“Aku mencium sesuatu yang mencurigakan di sini. Nada bicaramu tadi  terdengar sangat riang. Kau senang karena Kyuhyun menolak gadis itu, kan?”

“Kau ini bicara apa?”

“Seo Yun Ae. Apa kau yakin hanya menganggap Kyuhyun itu sebagai sahabat? Terlebih lagi—saudara?”

Yun Ae tertegun, “Itu—itu, aku,” dan otaknya terasa kosong karena pertanyaan itu. Ayolah, mengapa dirinya harus sebingung ini? Ia hanya perlu mengatakan ‘Ya’ atau ‘Tidak’ tapi ternyata ia membutuhkan banyak waktu untuk memikirkan perasaannya sendiri.

Pertanyaan In Hee tak mau beranjak dari kepala Yun Ae. Seharian, ia terus memikirkan itu. Kyuhyun sedikit bingung melihat Yun Ae yang tak seantusias biasanya ketika ia menyodorkan roti lemon. Jadi mereka hanya berjalan dalam kebisuan. Kyuhyun agak penasaran dengan perubahan sikap Yun Ae, tapi ia bukan orang yang akan bertanya terlebih dahulu. Ia hanya akan menunggu karena ia tahu, Yun Ae akan bercerita padanya tanpa diminta.

Di depan mereka, Lee Hyukjae, sedang berjalan dari arah yang berlawanan. Lee Hyukjae adalah teman seangkatan mereka, dan kebetulan ia sekelas dengan Kyuhyun. Kyuhyun tidak benar-benar memerhatikan Hyukjae sampai saat dimana Yun Ae yang tiba-tiba saja terus membicarakan pemuda itu. Lee Hyukjae cukup terkenal di kalangan siswi karena ia adalah kapten tim basket. Selain itu, Hyukjae juga sangat aktif di beberapa bidang olahraga.

Yun Ae selalu mengolok-olok Kyuhyun dengan berkata, “Lee Hyukjae sangat keren, menurutku. Seharusnya kau melihatnya di lapangan, saat keringat di wajahnya mengalir ke tengkuk dan turun perlahan membasahi lehernya. Uuhh, dia sangat seksi. Tidak sepertimu yang tidak suka berolahraga.”

Kyuhyun sangat yakin jika Hyukjae sedang melirik pada Yun Ae. Sungguh aneh. Kyuhyun lantas mengayunkan kakinya dengan langkah panjang sehingga ia bisa sejajar dengan Yun Ae. Lihatlah, bahkan Lee Hyukjae diabaikan begitu saja oleh Yun Ae, padahal pemuda tadi jelas-jelas tersenyum padanya. Yun Ae pasti sangat serius dengan topik yang ada di dalam kepalanya. Lalu Kyuhyun mulai melambatkan langkahnya, membiarkan Yun Ae berjalan di depannya dan ia hanya mengikuti di belakang, menyamakan langkah kakinya dengan gadis itu.

Perjalanan pulang yang mereka tempuh dengan sepeda pun tidak berjalan seperti biasa. Tidak seperti dimana Yun Ae akan menceritakan banyak hal, atau justru melayangkan pertanyaan pada Kyuhyun, persis seperti sedang mewawancarai seorang pelamar pekerjaan. Kyuhyun mengayuh sepedanya dalam diam, mengikuti kebisuan Yun Ae. Hanya sesekali ekor matanya yang mencoba menggapai Yun Ae yang duduk di belakang. Angin begitu sejuk berembus. Daun-daun berwarna coklat kemerahan dari pepohonan yang berbaris rapi di sepanjang jalan tampak berjatuhan dari tangkainya dan mengotori jalan.

Yun Ae tidak pernah menyadari bahwa punggung Kyuhyun tampak sangat tegap—sepertinya itu adalah tempat yang sangat nyaman untuk menyandarkan kepala. Kyuhyun yang dulu, Kyuhyun yang hanya anak-anak, ternyata sudah bertumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Selama ini, Yun Ae hanya melihat Kyuhyun sebagai anak lelaki yang datang ke rumahnya. Gadis itu, secara sadar, mulai melingkarkan tangannya di perut Kyuhyun. Tidak mengherankan jika Kyuhyun terperanjat, sebab Seo Yun Ae tidak pernah berlaku begitu. Seo Yun Ae hanya akan memegang ujung kemeja seragamnya.

“Apakah aku terlalu kencang mengayuh sepeda?” tanya Kyuhyun sambil menengok ke belakang, pada Yun Ae yang telah menyandarkan kepalanya di punggung Kyuhyun. Ia dapat merasakan jika pelukan Yun Ae di perutnya kian erat.

“Ti-tidak apa-apa, Kyunie,” jawab Yun Ae pelan. “Aku menyukainya,” lanjutnya lagi. Ia memejamkan matanya, sementara wajahnya telah merona, seperti buah apel merah yang telah ranum. Ia hanya berharap, semoga Kyuhyun tidak ikut merasakan debaran jantungnya yang begitu kuat itu.

♪♫♩♬

“Kyunie, kau punya pacar?”

Mereka sedang berada di sebuah ruangan di rumah mewah milik Keluarga Seo, saat Yun Ae yang tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan itu. Otomatis Kyuhyun yang awalnya sedang bermain piano, mendadak berhenti.

“Kau tahu, kan? Malam perpisahan sekolah tidak lama lagi. Kau harusnya mencari teman dansamu nanti. Ah, aku lupa, kau punya banyak penggemar di sekolah.”

Sementara Yun Ae bergumam sambil menekan satu-satu tuts piano dengan telunjuknya, Kyuhyun justru menoleh pada gadis itu. Mereka duduk di bangku yang sama, cukup muat jika diduduki oleh dua orang, dan tepat di depan piano. “Bagaimana denganmu?” tanya Kyuhyun.

“Entahlah,” Yun Ae menghentikan permainan piano asal-asalannya, lalu ia mengedikkan bahu dan kembali melanjutkan kalimatnya, “Mungkin, Lee Hyukjae akan menjadi pasanganku di pesta itu. Ya, siapa yang tahu.”

“Aku belum memikirkan itu.”

“Hm, jika kita tak memiliki pasangan, bagaimana jika kau dan aku yang berpasangan?” senyum lebar Yun Ae merekah.

“Boleh saja,” dengan santai Kyuhyun menyetujui itu. “Tapi, kurasa Lee Hyukjae benar-benar akan menjadi pasanganmu. Dari apa yang kuamati, belakangan ini dia semakin penasaran terhadapmu,” Kyuhyun mengerling.

“Begitu ya,” Yun Ae menarik napas panjang.

“Ada apa? Nona, sepertinya sedang tidak bersemangat?”

“Tidak apa-apa, Kyunie. Aku hanya sedikit kelelahan karena mata pelajaran olahraga tadi.”

“Aku akan meminta bibi menyiapkan vitamin untukmu. Sebaiknya, setelah ini, Nona berendam dengan air hangat.”

Yun Ae mengangguk pelan. “Mainkan Moonlight Sonata, Kyunie.”

Tangan Kyuhyun mulai bergerak dan tak lama kemudian, alunan piano kembali terdengar memenuhi tempat itu. Yun Ae merasa sangat nyaman mendengar permainan piano Kyuhyun. Alunan itu membuainya sampai ke awan-awan. Ia suka. Teramat menyukai itu. Apalagi Kyuhyun yang memainkannya. Kyuhyun tersenyum tipis, melirik Yun Ae yang menyenderkan kepala di bahunya. Ia hanya membiarkan semuanya seperti itu, dan tetap melanjutkan permainannya hingga tuntas. Dari cela pintu yang terbuka, seorang pria sedang mengawasi mereka dengan tatapan yang agak sulit untuk diartikan. Tuan Seo, ayah dari Yun Ae, kemudian berbalik dan pergi.

♪♫♩♬

Setelah mengetuk pintu, Kyuhyun masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan yang di dalamnya terdapat lemari berisi susunan buku. Di depan lemari, ada sebuah meja yang di atasnya pun terdapat beberapa buku dan pernak-pernik lainnya, tak ketinggalan sebuah laptop. Tak jauh dari situ, ada sofa berwarna hitam. Dinding ruangan dipajangi beberapa lukisan mahal. Penataan ruangan yang begitu khas, seperti ruang-ruang kerja pada umumnya.

“Duduklah, Kyu,” Kyuhyun menuruti perintah Tuan Seo dengan menduduki sebuah single sofa, berseberangan dengan sofa lain yang diduduki Tuan Seo. “Bagaimana dengan sekolahmu?”

“Berjalan dengan baik, Tuan.”

“Oh ya, tentang kompetisi piano itu, aku sudah mendengarnya. Selamat atas kemenanganmu.”

“Terima kasih.”

Seekor anjing berwarna hitam, berjenis labrador, terlihat menghampiri Tuan Seo. Rambo, nama hewan kesayangan Tuan Seo itu, mulai menjilati tangan Tuan Seo yang memang sengaja diulurkan. Hanya beberapa menit berselang, Rambo merebahkan tubuhnya tak jauh dari kaki Tuan Seo.

“Kau tahu kenapa aku sangat menyukai anjing?” pertanyaan itu tidak dijawab Kyuhyun. Rambo memang terlihat sangat menggemaskan, tapi Kyuhyun tidak tahu benar, apakah itu adalah alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Tuan Seo. “Anjing bisa menjadi teman. Hewan itu tidak pernah mengkhianati tuannya. Apalagi menikam dari belakang. Mereka sangat setia.”

Tidak ada kata yang coba dilontarkan Kyuhyun untuk menanggapi perkataan Tuan Seo. Kyuhyun tahu, jika itu bukan sebuah ungkapan biasa, ia paham akan pesan lain yang coba disampaikan Tuan Seo kepadanya. Kyuhyun bukan orang bodoh sehingga tidak dapat menangkap makna sebenarnya yang terkandung dalam rangkaian kalimat itu.

“Yun Ae, anak itu mungkin tersilap dan melakukan kesalahan, tapi aku tahu kau tidak akan begitu. Aku percaya bahwa kau akan selalu memperlakukan Yun Ae sebagaimana mestinya, sehingga dia tahu di tempat seperti apa seharusnya dia berada.”

Dengan raut tenangnya, Kyuhyun akhirnya berkata, “Aku mengerti, Tuan,” tidak ada waktu untuk menyalahkan orang lain. Tuan Seo hanya melakukan tugasnya sebagai seorang ayah yang ingin melindungi putrinya. Kyuhyun paham bahwa setiap orangtua selalu mengharapkan yang terbaik bagi anaknya.

Apalagi yang diharapkan oleh yatim-piatu sepertinya? Pamannya adalah kepala pelayan di rumah itu, dan bibinya, adalah orang yang merawat Yun Ae sedari kecil. Jika bukan karena paman dan bibinya, Kyuhyun tidak akan seberuntung saat ini, ia disekolahkan oleh keluarga kaya raya itu. Jadi, tanpa diberitahu, Kyuhyun sadar siapa dirinya. Ia sadar dengan keberadaannya di rumah itu. Sebisa mungkin ia akan bersyukur tentang hidupnya, walau terkadang ada saat-saat dimana sosok lain dalam dirinya ingin berontak.

-Bersambung-

Hai, jumpa lagi.

Tadinya, sy berharap yang sy posting hari ini adalah ‘Drama’ tapi ternyata tidak berjalan sesuai apa yang sy inginkan. Ada kondisi lain yg membuat sy tidak sempat menulis kelanjutan Drama.

Hari ini, Pianist’s Melody part 2 sy posting, dengan harapan bisa menghibur teman-teman semua.

Sy tidak jemu2 meminta dukungan teman2, entah itu kritik atau saran, yaaaaa walaupun sy balas komennya lama hohoho.

Sekian lama menghilang, blog ini pun jadi terabaikan dan sy bisa memahami kalau teman2 menjadi jenuh karena keseringan di PHP *Plaakkk!!*

Sy akan melihat seberapa jauh ff ini berhasil menarik hati pembaca. Okay, teman2, kalian pun tahu kalau dari awal sy tidak terlalu mempermasalahkan itu, sy akan selalu memberikan password pada siapa pun tanpa terkecuali.

Yang menjadi masalahnya bukan pada kalian semua, tapi ada pada diri saya sendiri. Belakang ini kepercayaan diri sy dalam menulis memang menurun drastis.

Mungkin perasaan sensitif ini muncul ke permukaan karena faktor umur. Tanda2 bahwa sy harus meninggalkan dunia per-ff-an yg sy cintai ini. Akhhh, eyke baru 17 taon *tapi sepuluh taon yg lalu* XD XD

Sy harap, sy masih bisa menulis dan tidak menemukan alasan untuk berhenti atau bahkan saat sy menemukan alasan untuk mengucapkan selamat tinggal, namun sy bisa memilih untuk tetap bertahan melakukan apa yang sy cintai ini. Tidak peduli akan seperti apa, selama masih ada teman2 yang setia membaca tulisan2 sy.

See u soon. Sepertinya, postingan selanjutnya masih akan tetap ‘Pianist’s Melody’ jadi mohon bersabar lebih lama untuk ‘Drama’ ya.

Mmuuuuacccchhh *love u all*

Iklan

110 thoughts on “Pianist’s Melody (Part 2)

  1. nissa kim jw berkata:

    Kyanya sih mrka saling suka tpi blm brani ngungkapin,
    Apa lg kyanya ayahnya yun ae gk suka liat kdkatan mrka

  2. alviegyu berkata:

    YUN-AE SUKA KYUHYUN
    KYUHYUN? SUKA AKU JADI KUDU OTOKE? WKWKWK
    Back to topic, kayanya bapaknya Yun-ae gak setuju ya kalau Kyu sama Yun-ae nanti bersatu?:((((

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s