Pianist’s Melody (Part 3)

pianists-melody-2

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Hurt

 

 

“Kau yakin?”

Mereka sedang makan siang di kantin saat Yun Ae mulai mengeluarkan uneg-unegnya. Pertanyaan In Hee hanya dijawab dengan anggukan kepala Yun Ae yang terlihat sangat lemah.

“Kyunie, begitu konsisten. Sepertinya, baik kata-kata maupun tingkah lakunya terhadapku, semua terlalu stabil. Di matanya, aku ini hanyalah nona muda,” Yun Ae menggerakkan pipet dalam gelasnya, mengaduk-aduk jus yang belum diminum sedikit pun. Ia menarik napas dalam dan In Hee hanya mengawasi sambil berpikir.

“Cobalah untuk membuatnya cemburu,” celetuk In Hee tiba-tiba.

“Apa?”

“Kyuhyun selalu berada di sekitarmu, dia juga tahu persis tentangmu. Dia pasti tahu siapa-siapa saja yang dekat denganmu. Kau tidak pernah menunjukkan ketertarikanmu pada seseorang, kan?”

Yun Ae terlihat berpikir sejenak. “Ah, tapi saat aku memuji-muji Hyukjae di depannya, dia tidak bereaksi. Dia benar-benar datar.”

“Ck, Seo Yun Ae, yang seperti itu kau katakan sebagai bentuk ketertarikanmu pada lawan jenis? Bahkan aku juga tahu kalau kau hanya berniat mengolok-olok Kyuhyun dengan memanfaatkan Hyukjae. Dasar gadis aneh.”

“Kita tidak usah membahas masalah itu. Aku sendiri tidak begitu yakin pada perasaanku. Mungkin aku hanya termakan oleh sugestiku. Orang-orang mengatakan Kyunie keren, Kyunie ini dan itu, sehingga otakku mulai terbiasa menganggapnya begitu. Rasanya, harga diriku akan terluka jika aku sungguh jatuh cinta pada Kyunie.”

“Apa maksudmu?”

Yun Ae enggan menjawab, dan yang terlontar dari bibirnya hanya sebuah gumaman tak jelas. “Hm, ya, kau tahu maksudku.”

Cha In Hee langsung mendorong tubuh ke belakang, menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. “Oh. Jadi, kita sedang berbicara tentang level atau kasta atau tingkatan dan sejenisnya,” In Hee bersidekap. “Baiklah, aku akan mencoba memahami alasan seorang nona muda enggan berhubungan dengan seseorang yang berasal dari kelas rakyat jelata,” decaknya heran.

♪♫♩♬

“Dia memintaku menjadi pasangannya di pesta.”

Sial. Seo Yun Ae hanya menggigit bibir bagian dalam ketika tanpa diduga-duga, ia justru melontarkan kalimat itu. Dirinya dan Kyuhyun sedang mengisi waktu luang mereka di ruang musik sekolah.

Beberapa jam lalu, Lee Hyukjae memang menghampirinya di kelas. Menyampaikan maksud kedatangan pemuda itu padanya. Yun Ae tak merasa seantusias sebelum-sebelumnya. Ia yang notabenenya begitu mengidolakan Hyukjae, justru tidak merasakan euforia itu ketika Hyukjae memintanya menjadi pasangan di pesta perpisahan nanti. Apa mungkin karena sugestinya tentang Kyuhyun? Padahal, Yun Ae sendiri berharap jika dirinya salah. Sehingga kemudian, ia mendapati jawaban yang cocok untuk disandingkan dengan harga dirinya yang begitu mahal itu.

Namun, menghabiskan waktu bersama Kyuhyun seperti sekarang ini, selalu saja memanggil jiwa melankolisnya. Alih-alih mengubah topik pembicaraan, Yun Ae justru berharap dapat melihat sesuatu dari gelagat Kyuhyun pasca berita yang disampaikannya tadi. Seo Yun Ae hanya meringis dalam hati karena Serenade yang sedang dimainkan Kyuhyun tidak berubah sama sekali. Tidak ada nada sumbang yang terjadi karena—mungkin—Kyuhyun terkejut atau apa, setelah mendengar penuturannya beberapa menit lalu.

Serenade For Strings Op. 3 No. 5 adalah komposisi karya Haydn. Ada yang bilang, seandainya ungkapan ‘bahagia itu sederhana dapat bersuara, pasti akan terdengar seperti komposisi yang sedang dimainkan Kyuhyun saat ini. Musik mengalun dengan manisnya. Yang tertangkap di telinga Yun Ae masih sama. Bahagia. Sepertinya, apa pun yang disampaikan Yun Ae, tidak berdampak negatif bagi Kyuhyun. Raut wajah Kyuhyun masih begitu tenang. Yun Ae hanya mengawasi Kyuhyun hingga Kyuhyun selesai bermain piano, dan kemudian menoleh padanya sambil tersenyum.

“Kalian akan menjadi pasangan yang sangat serasi.”

Yun Ae terdiam. Sedikit pun ia tidak melihat kecemburuan dalam diri Kyuhyun. Pemuda itu justru memamerkan sinar mata yang terlihat begitu tulus. Justru karena respon Kyuhyun yang seperti itu, Yun Ae merasa harga dirinya telah dilecehkan. Entah apa yang sebenarnya diharapkan oleh gadis tersebut.

Moonlight Sonata, please.”

Kyuhyun tetap tersenyum dan mulai melantunkan karya Beethoven yang selama ini menjadi kesukaan Yun Ae. Sementara Kyuhyun bermain piano, Yun Ae mengatup mulutnya rapat-rapat, tapi kepalanya terasa pening. Ia masih memikirkan reaksi Kyuhyun tadi.

“Kyunie, kau pikir, kenapa aku sangat menyukai Moonlight Sonata?” Yun Ae bertanya di sela-sela permainan piano Kyuhyun.

“Aku tidak tahu.”

Moonlight Sonata adalah wujud cinta Beethoven kepada Countess Giulietta Guicciardi, muridnya. Beethoven menuangkan perasaannya ketika membuat komposisi ini,” terang Yun Ae dengan ekspresi yang sebisa mungkin ia usahakan untuk terlihat tenang. Kyuhyun tetap menyimak, walau jari-jarinya memiliki kesibukan tersendiri di atas barisan hitam-putih tuts grand piano di hadapan mereka. “Kau juga merasakannya, kan? Dia melukiskan betapa dalam perasaannya itu. Cinta. Kesedihan. Pemberontakan. Sakit hati. Putus asa. Beethoven menyampaikan emosinya di situ. Takdir yang membuat cintanya dan Giulietta tidak bisa bersatu. Ya, takdir. Lelaki itu begitu naif sehingga mencintai gadis bangsawan seperti Giulietta, sementara dia hanya rakyat biasa. Beethoven membuat kesalahan itu. Dia yang menyakiti dirinya sendiri karena mencintai orang yang salah.”

Selepas berkata begitu, keadaan tiba-tiba saja terasa agak mencekam, menghimpit di dalam dada, meskipun dentingan piano masih mengalun lembut. Yun Ae terdiam. Kyuhyun pun begitu. Keadaan tetap berlangsung seperti itu sampai Kyuhyun menyudahi Moonlight Sonata-nya. Lagi, ia menggerakkan kepala, menoleh pada Yun Ae yang duduk di sisinya.

“Dibalik Moonlight Sonata, ada kisah cinta Beethoven dan Giulietta yang melegenda. Moonlight Sonata menjadi sangat terkenal, bahkan ratusan tahun setelah komposisi itu diciptakan, perasaan Beethoven masih seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja di hati orang-orang yang mendengar Moonlight Sonata,” Kyuhyun sedikit menerawang, namun kemudian irisnya kembali terarah pada Yun Ae. Pemuda itu tersenyum. Yun Ae mengakui jika Kyuhyun mempunyai senyum yang begitu menawan. “Meskipun aku sangat mengagumi Beethoven, aku tidak ingin menjadi sepertinya,” ujar Kyuhyun. Ia menatap langsung ke manik mata Yun Ae sembari berkata, “Aku tidak ingin jatuh cinta pada seseorang yang tidak seharusnya kucintai.”

Seseorang seperti baru saja mengarahkan senapan ke jantung Yun Ae. Keduanya saling tatap dan itu berlangsung cukup lama. Rasanya aneh, dan Kyuhyun yang lebih dulu berdiri.

“Hari sudah sore. Mari kita pulang,” Pemuda itu berjalan pergi. Kyuhyun selalu bergerak lebih dulu. Seperti saat ini. Saat di mana ia hanya membiarkan Yun Ae terpaku.

Yun Ae begitu gamang. Apa ini? Apakah Kyuhyun tidak akan pernah menaruh hati padanya? Seperti itukah perasaan Kyuhyun? Mata yang terpejam, Yun Ae menarik napas. Dadanya sangat sesak sekarang. Mendengar Kyuhyun mengatakan hal itu, membuat tatapannya menjadi kosong. Pening di kepalanya makin menjadi-jadi. Menarik oksigen pun agak susah dilakukan. Matanya perih, seperti ingin menangis. Ia menyadari itu. Yang ia takutkan akhirnya terjadi. Seo Yun Ae jatuh cinta pada Cho Kyuhyun.

♪♫♩♬

Hari masih sangat pagi ketika Kyuhyun telah menunggu di depan rumah. Udara yang cukup dingin membuatnya mengusap-usap telapak tangannya. Ia mengenakan jaket hitam, menyembunyikan seragam sekolah dibalik jaket tersebut. Untuk beberapa saat, Kyuhyun hanya sibuk mengotak-atik rantai sepeda. Tubuhnya menegak setelah melihat Yun Ae keluar dari dalam rumah. Gadis itu hanya menoleh sebentar, dengan sorot mata yang terlihat begitu angkuh—persis seperti pertama kali Kyuhyun melihatnya. Tanpa mengatakan apa-apa, Yun Ae masuk ke dalam mobil.

Empat hari belakangan ini, sikap Yun Ae tampak berbeda. Gadis itu tiba-tiba saja menjadi seorang nona muda yang menyebalkan. Mobil yang ditumpangi Yun Ae bergerak lambat, dan mata Kyuhyun mengikuti mobil itu hingga keluar dari gerbang. Kyuhyun baru mengayuh pedal sepedanya setelah mobil tersebut menghilang dari jarak pandangnya.

“Astaga! Seo Yun Ae. Memangnya kau anak kecil? Kalau kau suka pada Kyuhyun, harusnya kau katakan begitu. Bukan justru membuat semuanya terlihat seperti kisah cinta ala drama kolosal yang mengusung tema perbedaan derajat.”

“Aku menyadari kekeliruanku setelah Kyunie menegaskan sikapnya. Semua sudah telanjur.”

“Dan—sekarang, kau justru bersikap kekanak-kanakkan seperti itu. Apa yang kau harapkan dengan berpura-pura membencinya, hah?”

“Cha In Hee, kenapa sekarang kau marah-marah padaku?”

“Karena kau menyebalkan!”

“Yang menyebalkan itu kau! Bukan aku!”

In Hee menarik napas sangat dalam. Ia berusaha untuk meredam kekesalannya. “Begini saja. Sekarang bukan zamannya untuk gengsi! Minta maaf pada Kyuhyun, dan cobalah untuk mengutarakan perasaanmu.”

“Kau gila? Jelas-jelas aku sudah ditolak, bahkan sebelum aku mengatakan apa-apa padanya.”

“Terserah padamu saja. Aku bisa hipertensi jika terus-terusan kau jejali dengan asmara terpendammu itu,” ujar In Hee dengan malas-malasan seolah ia sudah tidak peduli lagi dengan apa pun yang akan dikeluhkan oleh Yun Ae. In Hee mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas, dan mulai membaca. Sementara Yun Ae hanya bisa merengut kesal.

Yang dikatakan In Hee mungkin ada benarnya. Daripada memendam sendiri, ada baiknya jika Yun Ae berterus terang pada Kyuhyun. Yun Ae bukannya bersikap seolah ia tidak tahu, tapi akan lebih baik jika ia mencoba jujur. Bukan pada Kyuhyun, melainkan jujur pada dirinya sendiri.

Genap satu minggu, setelah Yun Ae bersikap menyebalkan dengan mengabaikan Kyuhyun. Sekarang, Yun Ae sudah berdiri di pintu yang akan membawanya ke balkon, bagian yang ia sukai dari rumahnya. Dugaan Yun Ae benar, Cho Kyuhyun ada di sana. Berdiri tenang dengan kedua tangan yang berpegangan pada pagar pengaman di tepi balkon. Kyuhyun menoleh ke belakang karena menyadari kehadiran orang lain di situ dan ia tersenyum. Matanya mengikuti Yun Ae yang melangkah mendekatinya, dan berhenti ketika gadis itu sejajar dengannya. Mereka berdiri bersisian. Kyuhyun selalu sama, tidak pernah menyimpan dendam bahkan masih bisa tersenyum sehangat itu pada Yun Ae yang telah mengabaikannya.

“Kyunie, maafkan aku,” kepala Yun Ae tertunduk saat berkata demikian.

“Kenapa meminta maaf padaku?” kata-kata Kyuhyun mau tidak mau membuat Yun Ae sekejap menoleh padanya. Gadis itu mulai menduga, kalau-kalau pemuda yang berdiri di sisinya, sesungguhnya adalah malaikat. Kyuhyun selalu baik, sejak awal ia memang orang yang begitu.

“Ya, kau tahu, beberapa hari ini aku—”

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kerling Kyuhyun.

Senyum Yun Ae mekar lagi. Ah, memang lebih menyenangkan begini. Bersama Kyuhyun. Tersenyum bersama. Atau hanya diam membisu dan memandang objek yang sama—seperti saat ini. Lalu, Yun Ae mengeluarkan ponsel. Ia terlihat sibuk beberapa saat, sampai sebuah melodi piano yang bersumber dari ponsel itu terdengar. Kini Kyuhyun menatap padanya.

Clair De Lune?” Gumam Kyuhyun dengan sebelah alis yang naik.

Yun Ae mengangguk. “Mau berdansa denganku?” tanyanya. “Aku butuh teman berlatih sebelum pesta perpisahan itu,” imbuhnya lagi setelah melihat sorot penuh selidik yang terpancar jelas dari mata Kyuhyun.

Kyuhyun tidak menggunakan suaranya untuk mengiyakan atau menolak, yang ia lakukan ada menyambut tangan Yun Ae yang sudah terulur. Tangan yang satu lagi digunakan untuk merengkuh pinggang Yun Ae. Mereka mulai berdansa, mengikuti irama. “Kupikir hanya Moonlight Sonata, tapi rupanya Nona juga menyukai ini. Apa karena keduanya mempunyai arti yang sama?”

Clair De Lune adalah bahasa Perancis yang berarti sinar bulan. Sebuah komposisi modern karya Claude Debussy.

Yun Ae hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Kyuhyun dan itu membuat Kyuhyun mengerti bahwa dugaannya tidak meleset. “Terlebih, karena kedua komposisi itu, terasa sangat cocok denganku. Sebuah melodi. Cahaya bulan. Terdengar sangat romantis.”

Mendengar itu, Kyuhyun kembali tersenyum. Mereka masih berdansa. Jari yang saling taut. Tangan Kyuhyun yang masih merengkuh pinggang Yun Ae, sementara tangan Yun Ae sudah berada di atas pundak Kyuhyun. Kaki mereka bergerak seirama sehingga gerakan tubuh mereka tampak begitu indah. Tidak ada lagi yang bersuara. Tangan yang semula saling genggam pun terlepas. Kini kedua tangan Yun Ae sudah berada di pundak Kyuhyun dan perlahan melingkar di leher pemuda itu. Demikian juga dengan Kyuhyun, ia dapat mengukur sekecil apa pinggang Yun Ae dengan kedua tangannya yang sedang berada di pinggang gadis itu.

Suasana yang manis membuat keduanya seakan terbuai. Mata mereka saling tatap. Sebuah tatapan yang sarat makna. Debaran jantung Yun Ae mulai meningkat. Ada sesuatu yang sejak gerakan pertama mereka tadi terus mendesaknya dari dalam. Gadis itu seperti mulai kehilangan pemikirannya yang jernih.

“Kyunie,” suara Yun Ae bergetar ketika memanggil Kyuhyun. Sementara Kyuhyun menatapnya, menanti kelanjutan kata-katanya, ia sedang menelan ludah dengan susah payah. “Percayakah kau kalau kubilang—aku menyukaimu?”

Kyuhyun langsung menjawab dengan mudah, “Tentu saja. Nona selalu menyukaiku.”

Tidak. Bukan rasa suka yang seperti itu.

Yun Ae meringis karena Kyuhyun mengartikan rasa sukanya seperti rasa suka sebagai sahabat. “Maksudku. Jika aku tidak menganggapmu sebagai teman kecilku. Mm, maksudku—” dengan gelagapan Yun Ae berusaha menjelaskan, “Kalau lebih dari itu.”

Ekspresi Kyuhyun mulai berubah, “Nona.”

“Aku—jatuh cinta padamu.”

Langkah mereka terhenti. Terpaku di tempat mereka berpijak. Rahang Kyuhyun mengetat. Jelas saja jika pengakuan Yun Ae membuatnya membatu.

“Aku bilang—aku telah jatuh cinta padamu, Kyunie.”

“No-Nona,” Kyuhyun terbata. Omong-omong, Kyuhyun tidak pernah segugup itu.

“Aku tidak tahu sejak kapan, tapi saat kau berkata bahwa kisah Beethoven dan Giulietta tidak akan terjadi padamu, hatiku sangat sakit mendengarnya,” dan Yun Ae yakin jika wajahnya sudah memerah. Melihat cara Kyuhyun menatapnya sekarang, ia seperti ingin menghilang di dalam kaos longgar yang dipakainya. Namun, mulutnya sudah kehilangan kendali, dan ia terus saja berbicara. “Kyunie, tidak mungkinkah bagiku untuk mendapatkan hatimu? Ah, bukan. Sebuah cela kecil untukku saja sudah cukup. Aku—”

“Aku anggap tidak pernah mendengar itu.”

Seo Yun Ae terperangah. Ia menatap ke dalam bola mata Kyuhyun yang memancarkan sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya mendingin, dan ia paham jika Kyuhyun tidak senang dengan situasi mereka sekarang.

“Dan, Nona tidak pernah mengatakan apa pun padaku. Yang tadi itu, tidak pernah terjadi.”

Ketegasan dan sinar mata Kyuhyun yang begitu tajam dan menusuk, membuat Yun Ae menggigil. Kyuhyun menolaknya. Yun Ae tak berkedip dan matanya mulai berair. Kyuhyun berlaku sangat kejam padanya. Setelah berhasil mengatasi diri, walau dengan napas yang memburu karena menahan berbagai macam gejolak yang sedang berkecamuk dalam dada; Yun Ae memejamkan mata sangat kuat dan kedua tangannya mengepal. Telinganya menangkap langkah Kyuhyun yang berjalan menjauh. Mengapa Kyuhyun selalu meninggalkannya seperti ini?

“Nona! Nona! Selalu saja begitu!”

Langkah Kyuhyun terhenti begitu mendengar teriakan Yun Ae. Ia berbalik dan mendapati Yun Ae sedang menatap marah padanya. Tatapan yang begitu terluka. Melihat air mata yang mengalir di wajah Yun Ae membuat Kyuhyun kembali tertegun. Seo Yun Ae adalah seorang nona muda yang sangat dimanjakan oleh ayahnya. Gadis itu bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan sehingga itu yang membuatnya sangat berantakan karena satu kalimat penolakan yang terucap dari mulut Kyuhyun.

“Aku punya nama! Kenapa tidak sekalipun kau memanggil namaku? Di matamu, aku ini hanya nona muda, begitukah?” cerca Yun Ae dengan mata yang berair.

Cho Kyuhyun terkesiap. Tidak sekalipun Yun Ae menangis di hadapannya. Kyuhyun agak menyesal sekarang, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun selain mengepal kedua tangannya kuat-kuat. “Sekarang kau meributkan caraku memanggilmu?” Kyuhyun tersulut emosinya. Bergantian Yun Ae yang tertegun. Kyuhyun tidak pernah semarah dan sekasar itu padanya. “Kau pikir bagaimana denganku? Kau selalu memanggilku Kyunie. Aku tidak pernah protes! Tolong untuk tidak menjadi kekanak-kanakkan, Nona!”

Kyuhyun seperti gunung berapi yang memuntahkan lava panas, yang terpendam jauh di dalam dirinya. Mungkin Kyuhyun sudah menahan diri terlalu lama, dan kesabarannya hampir habis. Ia pergi dan tak menoleh sedikit pun pada Yun Ae yang terpaku dengan ekspresi tak percaya.

Yang barusan lewat tadi, bukan Cho Kyuhyun yang selama ini dikenal Yun Ae. Cho Kyuhyun yang sabar itu seolah menghilang bagaikan embun. Entah dikemanakan Kyuhyun yang selalu bersikap dan berkata santun padanya. Yun Ae gemetar hebat. Ia terluka. Sangat. Pada akhirnya, ia hanya bisa berjongkok lemas, memeluk lutut dan membenamkan wajahnya di sana. Tubuhnya berguncang karena menangis. Hanya beberapa saat lalu mereka berbaikan, dan sekarang?

Kyuhyun belum benar-benar pergi dari sana. Ia hanya tidak terlihat oleh Yun Ae. Pemuda itu sedang bersandar lemas di balik dinding yang menjadi pemisah antara dirinya dan Yun Ae. Ia mendongak, memandang penuh rasa putus asa pada langit-langit rumah. Padahal, ia tidak akan menemukan apa pun walau matanya tak berkedip pada untaian lampu hias mewah yang tergantung di langit-langit itu. Mendengar isak tangis Yun Ae membuat matanya mulai berkaca-kaca. Ia memejamkan kelopak mata sekuat tenaga.

Maaf.

♪♫♩♬

 

Kau…berengsek, sialan!

Seo Yun Ae masih saja mengeluarkan umpatan setiap kali teringat pada Kyuhyun. Yun Ae tidak ingin menangis lagi, tapi begitu wajah Kyuhyun melintas, air mata mulai membendung di kelopak matanya. Seperti ini rasanya sakit hati. Dan Cho Kyuhyun itu laki-laki paling menyebalkan, paling ingin dibenci, tapi…Yun Ae menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal yang telah basah. Mengapa sulit sekali membalikkan perasaannya? Mengapa dirinya tidak bisa membenci Kyuhyun setelah kejadian hari itu? Seharusnya…seharusnya…

Kyunie, bodoh!

“Nona!” Bibi Han berdiri di muka pintu kamar Yun Ae. Di tangannya ada sebuah nampan yang berisikan makanan juga minuman, sementara tangan yang satunya sibuk mengetuk-ngetuk pintu. “Tolong buka pintunya, Nona!”

Hari sudah hampir petang, dan belum ada sedikit pun makanan yang masuk ke dalam perut Yun Ae. Dua hari belakangan ini, sangat sulit membujuk Yun Ae untuk menelan sesendok nasi. Sepulang sekolah, gadis itu akan mengurung diri di kamar. Lalu keesokan paginya, ia akan didapati dengan mata yang bengkak.

“Nona, makanlah barang sedikit. Tuan akan cemas jika tahu Nona mengurung diri di kamar seperti ini.”

Entah untung atau buntung, ketidakberadaan Tuan Seo di rumah karena perjalanan bisnis ke luar negeri membuat sikap Yun Ae menjadi-jadi. Para pelayan cemas. Kalau Tuan Seo tahu tentang ini, sudah pasti lelaki itu akan segera kembali ke Seoul dan meminta mereka menjelaskan situasi tersebut. Ya, Tuhan, ada apa dengan nona muda itu?

“Nona masih tidak mau keluar?”

Bibi Han menoleh dan mendapat Kyuhyun sudah berdiri di sana. Wanita itu mengangguk, cemas sekali.

“Aku akan membujuknya,” ujar Kyuhyun sembari mengambil alih nampan makanan yang dibawa Bibi Han. Wanita itu terlihat ragu, tapi memilih untuk menyetujui usul Kyuhyun. Barangkali nona mereka akan menurut jika itu Kyuhyun.

“Tolong, ya,” Bibi Han menepuk-nepuk pundak Kyuhyun sebelum berlalu untuk mengerjakan pekerjaan lain yang terbengkalai.

Kyuhyun berdiam diri beberapa saat, kemudian tangannya bergerak. Ia mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu. Sekali ketuk, dua kali ketuk, dan masih tidak direspon. “Nona, tolong buka pintunya,” kata Kyuhyun. Tidak terdengar seperti ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana. “Aku tahu Nona mendengarku.”

Yun Ae menyingkirkan bantal yang menutup wajahnya.

“Tidak inginkah Nona melampiaskan kemarahan Nona padaku? Aku tahu ini salahku. Jadi, aku tidak akan melawan. Aku janji. Nona boleh memukul, atau menamparku. Nona bisa menendang lututku, dan percayalah itu akan terasa sangat menyakitkan. Tapi sebelum itu, Nona harus membuka pintu ini terlebih dahulu.”

Ceklek.

Segaris senyuman tipis terangkai di wajah Kyuhyun begitu mendengar suara itu. Kyuhyun menarik napas panjang, menyiapkan diri, seolah di dalam kamar itu, ia akan menerima sebuah penghakiman. Tangannya memutar kenop pintu, mendorong pelan pintu itu hingga terbuka. Setelah menutup pintu, Kyuhyun melangkah pelan mendekati Yun Ae yang sudah duduk di tepi tempat tidur. Ia meletakkan nampan makanan di nakas, lalu menarik sebuah kursi ke depan Yun Ae dan duduk di situ. Melihat mata Yun Ae yang bengkak dan sembab, Kyuhyun mendesah panjang. Gadis itu menolak melakukan kontak mata dengannya.

“Nona, lihat aku.”

Yun Ae masih memalingkan wajah ke kanan, pada tirai jendela yang tersibak dan menari-nari karena dipermainkan oleh angin. Lantas Kyuhyun menangkup wajah Yun Ae dengan kedua tangannya, mengiring Yun Ae sehingga mata mereka bertemu. Bola mata indah itu mulai berkaca-kaca.

“Kyunie, kau bodoh!”

“Aku tahu.”

“Idiot.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kau sangat kejam padaku?” dan air mata Yun Ae kembali berlinang. “Kenapa aku tidak boleh jatuh cinta padamu? Kau bahkan tak mau mendengarku,” isakan Yun Ae bertambah, dadanya kembali menyesak. “Tidak bisakah kau memikirkanku? Mengapa? Mengapa kau tak bisa membalas perasaanku?”

Sungguh! Seo Yun Ae benar-benar seorang nona muda pemaksa. Cinta tidak boleh dipaksakan. Setidaknya, sudah lebih dari selusin orang yang pernah berkata demikian.

“Nona, aku bukan orang yang harus kau pedulikan. Aku sangat berterima kasih karena Nona sudah mau jujur padaku tentang perasaanmu, tapi aku tidak bisa. Aku masih punya banyak hal yang harus kupikirkan. Untuk sekarang ini, aku tidak ingin menyibukkan diriku karena masalah percintaan. Tidak bagi gadis-gadis itu, tidak juga bagi Nona.”

Hebat. Dibalik ketenangannya, Cho Kyuhyun punya lidah setajam samurai, yang mampu mengoyak hati Yun Ae hingga berkeping halus.

“Juilliard memberiku beasiswa,” Yun Ae terkesiap mendengar berita yang baru saja disampaikan Kyuhyun. “Aku ingin Nona menjadi orang pertama yang mendengar ini, tapi aku tidak mengira jika akan memberitahumu dalam situasi yang tidak menyenangkan. Aku akan segera ke sana.”

Juilliard? Kyuhyun akan ke Amerika? Ya, tentu saja. Setelah memenangkan kompetisi musik itu, tidak mengherankan jika Kyuhyun mendapat rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan di institute musik bergengsi tersebut. Seolah sayatan yang dirasa Yun Ae masih kurang, sekarang hatinya dilanda oleh kekosongan. Bagaimana tidak. Jarak antara Seoul dan New York itu jauh. Sangat jauh.

“Karena itu, aku tidak ingin memikirkan hal lain, selain musik. Aku harus fokus pada study-ku,” itu adalah kesimpulan dari kalimat panjang yang Kyuhyun lontarkan sebelumnya. Yun Ae masih tercekat, seharusnya ia memberi selamat atas kabar gembira itu, namun, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak bisa bergembira bersama Kyuhyun. Ironis. Kyuhyun mulai menggenggam tangan Yun Ae yang tergeletak lemas di atas pangkuan gadis itu. “Aku tulus meminta maaf padamu. Jangan merasa putus asa dan bersedih. Seperti yang kulakukan, Nona pun harus mengutamakan masa depan. Sekarang, jangan menangis, okay?”

Hari ini Yun Ae menjadi anak gadis yang sangat cengeng. Lihat, air matanya tidak bisa berhenti. Kyuhyun luar biasa menjengkelkan, menurutnya. Membuatnya patah hati, tapi disaat yang bersamaan, pemuda itu bisa mengeluarkan kata-kata yang menghibur dan menentramkan dirinya. Kepala Yun Ae mengangguk pelan, walau air matanya masih menetes. Kyuhyun tersenyum sambil menyeka air mata Yun Ae dengan ibu jarinya lalu mengambil piring di atas nampan, yang sebelumnya ia taruh di nakas.

“Jadi, Nona harus makan terlebih dahulu sebelum memukul, menampar atau terserah apa yang ingin kau lakukan terhadapku. Karena jika tidak, apa pun itu, tidak akan berpengaruh padaku. Lihat, saat ini Nona tidak punya tenaga sama sekali,” celetuk Kyuhyun sambil menyendoki nasi dan lauk-pauk. “Apa perlu aku menyuapimu?”

Mendengar candaan itu, Yun Ae merengut kesal sambil memanyunkan bibirnya. Ia langsung menarik piring di tangan Kyuhyun dan mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Kyuhyun tersenyum, lagi, “Gadis pintar,” katanya sambil mengelus-elus kepala Yun Ae. Gadis itu menepis tangan Kyuhyun sambil mendesis tajam. Kyuhyun tidak boleh lupa kalau Yun Ae masih marah. Melihat tingkah Yun Ae, justru menggelak tawa Kyuhyun.

“Aku tidak mau makan!”

“Maaf, aku tidak akan tertawa,” Kyuhyun mencegah Yun Ae membanting piring, lalu kemudian tangannya bergerak di permukaan bibirnya, sebuah kode bahwa ia akan mengunci mulutnya rapat-rapat.

Gadis itu terbujuk dan mau menyendoki makanannya lagi. Kyuhyun tidak tertawa, tapi bukan berarti ia tidak tersenyum. Senyum itu akan hilang sekejap saat Yun Ae melayangkan tatapan pembunuh padanya. Lalu ketika perhatian Yun Ae teralih, ia akan menampakan lagi senyum tersebut. Begitu seterusnya.

-Bersambung-

I’m back.

Hola, gimana? Udah mulai bisa mengira-ngira akan seperti apa cerita ini?

Yuuk, tebak-tebakan dimulai 😉

Omong2, maaf ya belum sempat balas komen2 kalian di part sebelumnya. Ini pun eyke cuma mampir di blog buat posting part 3. Nanti komennya sy rapel ya.

Okay, sy pamit dulu.

Mohon kesediaan teman2 untuk memberikan tanggapan yang membangun. Kritik dan saran diterima dengan senang hati. Be a good reader.

See you on a week later 🙂

Iklan

81 thoughts on “Pianist’s Melody (Part 3)

  1. honeymarhaeny berkata:

    Hebat buat author!!!
    Aplause dehh…. #prokprokprok

    Aku nangis beneran baca ini seriuuusss..
    Feelnya beneran nusuk sampe bikin aku nangis.
    Aku jadi paham sama alurnya, tiap rangkaian kata yang tertulis terasa bermakna. Aigioo.. Bahkan sambil ngetik komentar ini feelnya masih nyelekit di hati.
    Aku berharap terbaik dan happy ending buat mereka. Semoga orang tuanya nona muda (ayahnya) tidak memandang apapun dari segi kasta.

    Terkadang untuk kisah ini aku berharap ada yang berbeda dari pembicaraan Kyuhyun dan Ayahnya nona muda waktu itu. Aku berharap Tuan Seo larang Kyuhyun pacaran sama Yun Ae karena nyuruh anak2 itu buat fokus pendidikan dan masa depannya dulu baru dapet restu. Boleh kah????

  2. herisshea berkata:

    Hhem makin seru nih ceritanya
    kyuhyun bener” gak suka ?Atau suka cuma karna tuan seo dia gak berani pny perasaan ke yun ae ?
    Penasaran kl kyuhyun pergi nanti gimana yun ae sendirian di korea ,kayaknya kyuhyun gak balik” ke korea deh pas pergi ke amerika mangkannya dia gak suka maenin melodi moonlight sonata krn ngingetin ke yun ae #mulaisotoy 😀

    Ada typo ,dan typonya nama mi rae 😀 mungkin kak marchia lg kepikiran drama kali ya pas nulisnya 😛

    Ditunggu lah nextnya makin penasaran ama kelanjutannya

  3. kyun berkata:

    kenapa aku ngerasa kyuhyun jadi korban keegoisan ayah yun ae ya…
    bener kan, awalnya ayah yun ae yg udah wanti” dia. .
    aku pengen bgt yun ae tau kalo dr awal ayahnya yg nglarang kyuhyun buat bales sama perasaan yun ae..biar kyuhyun gx terlihat kejam gitu di mata yun ae..

    • marchiafanfiction berkata:

      sekalipun ayah yun ae gak ngelarang, kyuhyun mungkin tidak akan memberanikan diri untuk menghampiri yun ae. bukan karena dia pengecut, tp dia menyadari hal lain. namun, dia tidak akan melarikan diri tapi berusaha untuk mengatasi itu dengan caranya sendiri 😉

  4. 🍁KyuRhyn0305🍁 berkata:

    Ahh suka suka..
    Part ini penuh dengan emosi kyu & yun ae
    Yahh mereka pisah deh abis kelulusan.. trus gmna nasib yun ae? LDR sma kyu? Atau kyu bner2 gak pernah ngungkapin persaan nya k yun ae sblum dia pergi?
    Penasarn.. ditunggu part selanjutnyaa..

  5. kyu2045 berkata:

    Nyesek bgt pas kyuhyun nolak yun ae terus kyuhyun bakal ninggalin yun ae ,oh ya kak kapan nih ceritanya nyeritain part masa sekarang ini kan flashback ya

    Oke ditunggu next part kak

  6. Afwi berkata:

    Mungkin kyuhyun jg cinta k yunae, tpi mungkin kyuhyun menolak krna sudah d peringati sama ayah yunae. Dn kyu menghormati itu.
    Mengenai melody yg hilang blm tau itu apa.
    Apa wktu kyu mengambil beasiswa nya, mereka brpisah baik2, atau malah buruk.
    Atau kyu balik k seoul memang ntuk kembali ke yunae,
    atau.. Atau apa lgi??
    Udah ah nebak2nyaa, cerita d serahkan k kakak aja. Hehe
    D tunggu kelanjutannya kak…

    • marchiafanfiction berkata:

      mereka berpisah secara baik2.. mungkin bakalan manis perpisahannya hehehehe

      tapi, akan ada hal lain yang terjadi…

      tentang kyuhyun kembali ke korea, sebenarnya dia tidak ingin karena…. *rahasia* 😀

  7. songhobae berkata:

    Kakak, maafkan aku yg ngomen cuma part inii,,eheheee
    Knapa ya aku lebih penasaran sma cerita setelah kyuhyun slesai sma konserny, aku penasaran knapa dia gk mau nyari yun ae, terlalu banyak kenapaaa,,,
    Aku suka ff ny karena lebih ke konflik mereka berdua tanpa ada orag ketiga,,wkwkwk
    Smoga part depan udh bisa kjawab ya kak,,
    Pkoknya aku mah nungguin apapun ff deh kak, beneran, (efek setelah ditinggal hiatus)
    Tetap semangat kak,,,💪💪💪💪

    • marchiafanfiction berkata:

      iya dek, ff konfliknya lebih ke mereka berdua sekalipun di masa mendatang akan ada seseorang…

      inti dari perasaan kyuhyun ketika memainkan moonlight sonata di part pembuka, mengapa kyuhyun begitu enggan memainkan komposisi itu…ada keterkaitannya dengan cerita flash back

      semangat!!

  8. nazaki berkata:

    Kyu bener2 bisa mrnempatkan dirinya dengan baik, sangat tahu diri & balas budi.dia sadar lo sekArang posisinya g seimbang banget sama yunae, & akan sangat sulit buat mereka berdua lo maksain berhubungan.

  9. naynamika berkata:

    Anyeong
    Wooo. . Jadi gitu yah tapi emang ayah yn ae tidak membolehkan sebenarnya penasaran kyuhyun ngga mau memainkan moonlight sonata kah?? .
    Ini masih flashback jadi yun ae sekarng ap mengingat kyuhyun?? Kekeke
    Kyuhyun apa masih tidak di bolehkan ayah yun ae? Yakin penasaran selanjutnya
    Fighting

  10. nieadrian berkata:

    baru sempet baca..dan sukses bikin aq nangis..
    semangat nulis nya marchia..
    di tunggu klanjutan drama nya..

  11. syalala berkata:

    kok sedih sih… udah aja jadi kisah mereka dulunya begitu.. nona yg jatuh cinta sama kyuhyun terlebih dahulunsampe akhirnya mereka harus pisah karena beasiswa itu… beasiswanya dari tuan seo bukan soh? itu jelas bgt kalo tuan seo kan gamau anaknya sama kyuhyun, makanya juga kyuhyun besikap kaya gitu huhu sampe akhirnya kyuhyun skrg udah pulang ke seoul dah yeah pasti dia nyari2 nonanya huhu ditunggu selalu lanjutannyaaa

  12. Dufy berkata:

    Aku suka juga kyuhyun yg seperti ini.. tentu saja sebagai pria dia harus ambil sikap tegas untuk masa depannya.. tdk melulu soal cinta.. mungkin nanti, saat ada yg bisa dibanggakan kyuhyun dihadapan orang2… Perasaan Kyuhyun masih belum terbaca.. yg terlihat baru seperti perasaan sayang dan tulus pada ” nona”nya saja… kalo cinta? Mungkin next partnya bisa terlihat…

  13. kim_vikyu94 berkata:

    Ahhhhhh ! akhirnya dapet feel baca Pianist’s Melody .. sebelumnya masih samar dan gak ada feel , langsung lewat gitu aja ceritanya.. tapi di part ini udah membaik dan mulai terbawa kedalam ceritanya hehehehe ngomong apa sih 😀

    ditunggu lanjutan atau postingan ff yang lain ya kak .. semangat terus ..

  14. yuliani mokoagow berkata:

    huwaaa .. Bagaimana dgn Klanjutan kisah mereka …. mkin penasaran k’ … gk tau mau koment apaaa 😀 inii bner2 ngenaa feelnyaa 😦
    dtunggu next Chap

    Smangattt Slaluuu (y)

  15. chochoklik berkata:

    kakaa aku ikut nyesek deh bacanya.. kyuuu hobi banget si buat orang patah hati T_T
    dan semakin penasaran sama cerita setelah kyuhyun jadi terkenal
    kakaa ayo dilanjut next chap haha

  16. kampungfanfic berkata:

    JUST CRY.
    titik, biasanya anik komen panjang, ini cukup segini aja, udah ada gambaran (sotoy)
    hatur nuhun udah diposting

  17. nabilatrrsydh berkata:

    Ya ampun pertama ditolak secara halus, kedua ditolak secara terang2an. Udh gitu mau ditinggal pergi jauh pula. Gak kebayang itu sedihnya Yun Ae berlipat2..
    Berharapnya sih cinta itu masih ada dan mereka bisa bersama.

  18. cha eunna berkata:

    kirain aku kyu d New York gara2 di usir ama ayahnya yun ae, ternyata gara2 beasiswa.*sotoy sih.*hehehe✌

    hadeuh.. yun ae di tolak ama kyu(╥_╥) yg sabar ya yun ae..

    kyuhyun nolak yun ae gara2 ayahnya yun ae *ini kayaknya fitnah ke ayah yun ae mulu ya* apa gara2 kyuhyun mo fokus ama study nya?

    ditunggu lanjutannya..
    SEMANGAT KAK!!^^

  19. citraarum96 berkata:

    Ashaaaa…
    Kalu dipart pertama masih bingung. Part dua udah mulai keliatan belangnya.. Upss mksudnya konfliknya. Dan part ketiga ini makin jelas kak.
    Jadi disini, kyuhyun jadi namja yg super duper hebat aktingnya. Penurut . Kalem kalem aja idupnya. Intinya kyuhyun sama sekali blom beranjak dari zona amannya.
    Sang nona muda jatuh Cinta dengan pengawal setianya… Klasik memang. Tapi bneran bkin penasaran sama kelanjutannya.
    Apalagi ini masih jelasin hubungan antara sun ae dan kyuhyun sebelum kyuhyun sukses jadi pianist.
    Dan kalu dari prolognya kyaknya kyuhyun udah pisah dari sun ae lama banget. Jadi penasaran gimana mereka bisa lost kontak. Mungkin juga krna ulah ayah sun ae.
    Huhhh… Tapi disini kyuhyun juga pinter banget bermuka datar dan biasa biasa aja. Padahal aku yakin kyuhyun juga punya rasa sama nona mudanya.
    Dan ternyta itu alasan dibalik kyuhyun gak pernah mainin moonlight sonata. Mungkin dengerin melodi itu bkin dia keinget sama sun ae… Hehe

    • marchiafanfiction berkata:

      mau ta’ koreksi namanya si karakter cewek, tp mengingat sudah dikoreksi duluan sama sista di part 4 jadi yaaa… aman hahaha makasih ya, kita ikuti cerita ini akan seperti apa 😉

  20. Rrin'sLove berkata:

    eleh eleh si nona musa merajuk ini teh namanya hahahaha

    aduh aduuuh
    Kyuhyun itu hanya merasa tidak pantas aku rasa
    aigoooo
    demi menghindari Kyuhyun dia rela jadi nona muda yg diantar supir kkkk

    eiiiiii

  21. Widya Choi berkata:

    Hati ku brasa d aduk2 jg bc ny huhuhu. Aplg yg pas yun ae nytain prasaanny k kyu tp kyu ny malah nolak huhuhuhu sedih bc ny. Brasa q yg d tolak 😢😢😢😢.
    Brti kyu mau prgi.. trs gmn yun ae?…dy pst sedih bgt.. trlebih hari2ny slu am kyu.

  22. sy_pyeol berkata:

    Ak mrasa kyu jga mrasakan apa yg yun ae rasa. Tpu krna strata jadi ia pendam.
    Kyu mrasa kecil. Dan ia ingin mnjadi org besar. Smoga kyu bsa hppy ending ya sma yun ae tpi dri part pertama spertinya kyu sdah jd org bsar tpi ia trpusah dri yun ae…sedihhh dehh ..alur critanya krreenn …mmbawa para reader trbawa kdalamnya..

  23. nurul berkata:

    nyess banget jadi cinta terpendam. kasihan yun ae nya,ayah yun ae juga masih mandang sosial, parah deh.
    mungkinkah kyuhyun jadi suka juga ka sama yun ae? makin penasaran

  24. AFF berkata:

    Serasa gak asing sm ditolak halus terus ditolak terang2annya deh 😂
    Aduuhh dimana yahhh? Oh mungkin anu…
    Tp yahhh, wajar sih klw sikap yun ae gitu udh ditolak, manusiawi

  25. elfrye berkata:

    Kyuhyun sadat dg keadaan dirinya,dia mungkin sebnrnya jg suka ma yun ae tp mengingat tn seo dia jd mundur.
    Apkh kyu akn ke amerika dan gmn dg yun ae

  26. Leah berkata:

    Yg pertama, sebelum nyatain cinta udah ditolak secara ga langsung, terus kedua kali ditolak terang-terangan dan menusuk ckck. Udah gitu mau ditinggal jauh pula. Sedih banget loh, sumpah. Mereka ini saling suka tapi terpisah oleh kasta. Kyuuuu i love you. Semoga saat Kyuhyun suskses nanti mereka bisa bersatu

  27. ina berkata:

    aku bingun mau komen apa
    yg jelas ini nyesek😭 bener2 nyesek😭😭
    yg paling bikin nyesek krn kyu memendam rasa cinta nya dan itu nyesek😭😭
    keren tor…

  28. KIKI berkata:

    Aaa aku suka setiap kata yang Kakak deskripsiin kisah Beethoven. Kata kata Kyuhyun serat maknak sekali. Hubungan Nona muda dengan rakyat biasa itu akan terasa sulit dan seperti alunan Moonlight Sonata yang menyayat hati

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s