Drama (Part 17)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Baek Mi Rae tetap bergeming hingga menit demi menit berlalu. Ia menatap gamang pada bangunan yang berdiri kukuh di hadapannya. Tidak bisa dipercaya, tapi inilah kenyataannya. Beberapa kali ia mencubit dirinya sendiri, berharap jika ia hanya sedang bermimpi. Akan tetapi, ia tidak sedang berada dalam dunia fantasi mana pun.

“Mengapa kau masih berdiri di sana?”

Cho Kyuhyun melongok dari pintu. Suaranya membuat Mi Rae tersadar untuk kesekian kalinya bahwa memang di sinilah ia berada, di sebuah villa.

“Ibu sudah menunggumu.”

Bersama-sama dengan Cho Kyuhyun dan ibunya, Nyonya Cho.

Hari ini Baek Mi Rae secara paksa diseret ke Jeju. Pagi tadi, Cho Kyuhyun tiba-tiba saja menjemputnya. Kyuhyun bilang bahwa hari ini adalah ulang tahun ibunya dan meminta Mi Rae ikut serta dalam perayaan itu. Memang bukan sebuah pesta meriah ala keluarga konglomerat, melainkan hanya acara barbeque tanpa tamu undangan. Masalahnya, yang membuat Mi Rae menolak keras adalah lokasinya yang ternyata berada di Jeju.

Oh, hallo, seolah Kyuhyun lupa bahwa status Mi Rae di rumah sakit adalah mahasiswi magang. Mana mungkin ia seenaknya meminta ijin demi alasan menghadiri acara ulang tahun ibu dari kekasihnya. Sebelum Dokter Jung memarahinya, Dokter Park sudah pasti akan lebih dahulu membantainya. Akan tetapi, tiba-tiba saja Dokter Jung sendiri yang menghubunginya, mengatakan jika pasien VIP yang pernah dirawat Mi Rae—yang tidak lain dan tidak bukan adalah Nyonya Cho—mengundang Mi Rae secara khusus sebagai bentuk rasa terima kasih. Dokter Jung bilang, sekretaris Nyonya Daehan Group yang menghubunginya secara pribadi sehingga dengan senang hati ia mengijinkan Mi Rae untuk memenuhi permintaan mereka. Belum lagi, Mi Rae sedikit risih saat memasuki pesawat tadi. Biasanya keluarga konglomerat itu selalu bepergian dengan jet pribadi, tapi kali ini mereka memilih menaiki pesawat komersial. Memang mereka berada di kelas VIP, tapi tetap saja ada orang lain dalam pesawat. Akhirnya gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya dengan melilitkan syal sampai di hidung.

Sebelum melangkah ke dalam villa, Mi Rae menghirup udara dalam-dalam hingga memenuhi rongga dadanya. Nyonya Cho yang sedang duduk di ruang tengah, memberi perhatian pada Mi Rae yang baru saja masuk dan ia tersenyum sembari memberi kode pada Mi Rae agar bergabung dengannya. Kyuhyun sendiri tidak kelihatan batang hidungnya, begitu juga dengan Sekretaris Park.

“Mereka sedang menyiapkan segala sesuatu untuk pesta kecil kita,” Nyonya Cho menjawab rasa penasaran Mi Rae tentang ketidakberadaan Kyuhyun dan Sekretaris Park. Mungkin ia menyadari Mi Rae yang melayangkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

“Aku akan membantu mereka,” ujar Mi Rae seraya bangkit berdiri.

“Tidak, biarkan mereka yang melakukannya. Kau di sini saja bersamaku, kita bisa mengobrol,” kerling Nyonya Cho.

Mi Rae tertawa tawar, “Baiklah,” ia mengangguk, setuju dengan sangat terpaksa. Ia masih merasa canggung berada di dekat wanita itu.

“Omong-omong, bagaimana dengan rumah sakit? Mereka tidak memperlakukanmu dengan keras, kan?”

“Oh, tidak. Tentu saja tidak,” Baek Mi Rae menelan ludah kasar. Ia merasa berbohong kali ini adalah hal yang tepat, walau sebenarnya tidak ada satu pun kebohongan yang dibenarkan. Hanya saja, wanita yang duduk di hadapannya itu adalah orang yang penuh kejutan. Ia tidak ingin terjadi ‘kehebohan’ lain di rumah sakit setelah ia berkata jujur tentang pertanyaan tadi. Ayolah, bahkan seorang residen masih mengalami tekanan, lalu apalah arti dirinya yang berstatus mahasiswi magang?

“Kau sakit?” Nyonya Cho mengawasi wajah Mi Rae lekat-lekat, “Kau terlihat sangat pucat?” tanyanya lagi. Mi Rae langsung memegangi wajahnya. “Apa Kyuhyun membuatmu tertekan?”

“Tidak. Sama sekali tidak,” Mi Rae menggeleng kasar. Ia baru bisa bernapas lega saat melihat Nyonya Cho tersenyum setelah sekian menit menaruh perhatian penuh padanya. Apa sebaiknya ia jujur saja? Yang membuatnya tertekan saat ini adalah wanita itu sendiri.

Ladies, let’s party.

Itu suara Kyuhyun, ia baru saja muncul, memamerkan senyum menawannya sambil mengerling. Kyuhyun dan Sekretaris Park telah selesai melakukan persiapan untuk acara barbeque mereka. Untuk kesekian kalinya, Mi Rae mengembuskan napas panjang. Lebih melegakan daripada sebelumnya. Ia telah terbebas dari situasi yang mengharuskannya berdua-duaan dengan Nyonya Cho.

Mereka segera beralih ke taman di samping villa. Sekretaris Park begitu sibuk menyiapkan meja yang di atasnya telah terhidang beberapa jenis makanan pendamping. Sementara aroma wangi daging yang sedang dipanggang di pembakaran menguar tajam dan langsung menggugah selera. Hari ini, Mi Rae belum sempat menyentuh makanan sehingga secara otomatis perutnya bersenandung, meminta segera diisi.

Tak perlu menunggu lama, mereka akhirnya mulai menikmati makan malam mereka di alam terbuka. Sekretaris Park segera bergabung di meja makan setelah ditegur oleh Nyonya Cho agar dirinya berhenti beraktivitas di sekitar pembakaran. Barbeque mereka diwarnai dengan percakapan-percakapan ringan yang tak jarang mengundang tawa. Mi Rae tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat bagaimana ibu dan anak itu sesekali saling melempar candaan.

“Oh ya, kau sudah memberitahu Mi Rae?”

“Belum.”

“Kau ini bodoh sekali,” Nyonya Cho mendesis, kemudian ia menoleh pada Mi Rae. Sambil tersenyum ia berkata, “Akan ada perayaan pada ulang tahun perusahaan. Aku harap kau bisa datang. Kau memang harus datang.”

“Ulang tahun perusahaan?” Mi Rae menelan ludah. “Tapi aku—”

“Pastikan gadis ini hadir di pesta,” belum sempat Mi Rae menolak, saat Nyonya Cho sudah berbicara pada Kyuhyun dan dengan entengnya diiyakan oleh Kyuhyun yang sibuk menyuapi paprika ke dalam mulutnya. Kedua orang itu mengabaikan pendapat Mi Rae, seolah pendapat gadis itu tidak diperlukan.

Pesta?

Pikiran Mi Rae sedang mengambang. Ya Tuhan, sepertinya ia tidak diberi kesempatan untuk menolak. Pesta itu tidak mungkin hanya dihadiri oleh mereka yang sedang menikmati barbeque malam ini, bukan? Akan ada banyak orang di sana, mengingat yang berulang tahun bukan perusahaan kelas kacang, melainkan Daehan Group. Apa yang akan terjadi jika ia datang ke sana? Bukan tidak mungkin orang-orang akan segera mengetahui dirinya. Apalagi dengan sifat Nyonya Cho, rasanya pesta itu akan berubah menjadi pesta perkenalan calon menantu ke hadapan publik.

Baek Mi Rae tidak siap untuk hal tersebut. Ia sudah tahu risiko berpacaran dengan seseorang seperti Cho Kyuhyun. Namun, Mi Rae belum siap jika dirinya akan menjadi sorotan publik. Ia mungkin tidak akan bisa kembali ke kehidupannya yang biasa jika media tahu statusnya yang sebagai kekasih seorang penerus Daehan Group. Orang-orang akan memperlakukannya secara berbeda. Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang? Sementara ibu dan anak yang tak pedulian itu justru tampak bersenang-senang di atas penderitaan batin seorang Baek Mi Rae.

“Mi Rae,” Nyonya Cho membuat Mi Rae tersentak, kaget. Segera Mi Rae mengalihkan tatapannya pada wanita itu. “Aku akan bertanya sekali lagi. Tolong jawab dan abaikan saja Kyuhyun jika dia mengancammu,” kata-kata itu terdengar sangat serius sehingga mau tidak mau jantung Mi Rae jadi berdentam tak beraturan.

Cho Kyuhyun yang sejak semula lebih tertarik dengan makanan di hadapannya seolah ia tidak makan selama berhari-hari, terlihat terhenti sejenak, matanya sempat mengarah pada ibunya dan menit selanjutnya, ia sudah kembali beraktivitas dengan daging di piring. Benar-benar tuan muda yang gemar makan.

“Iya,” Mi Rae mengangguk. Belum apa-apa, ia sudah dilanda oleh rasa gugup. Entah pertanyaan seperti apa lagi yang akan keluar dari mulut Nyonya Cho.

“Kau dan Kyuhyun, menikah saja.”

Detik selanjutnya, suara batuk Kyuhyun sudah menggema. Ia tersedak sepotong daging setelah mendengar perkataan ibunya. Baek Mi Rae hanya melotot. Sementara Kyuhyun baru saja menghabiskan segelas air untuk mendorong daging yang tertahan di tenggorokannya.

“Ibu!”

Kyuhyun mendelik, wajahnya terlihat memerah. Entah merah karena habis tersedak atau merah karena alasan lain. Namun, Kyuhyun terlihat mencuri pandang pada Mi Rae dengan ekspresi malunya yang sangat menggemaskan.

“Kenapa? Jangan pura-pura marah, sebenarnya kau senang, kan? Sudahlah, ibumu ini hanya sedang membantu. Jangan sok jual mahal begitu,” Nyonya Cho tersenyum miring, mengejek Kyuhyun.

 “Ibu, kumohon, jangan membuatku malu,” Kyuhyun menggeram. Ia merasa tidak enak pada Mi Rae karena mulut ibunya yang sulit sekali dikendalikan.

“Malu?” Nyonya Cho membelalak, ia lantas menoleh pada Mi Rae yang membatu, “Sangat aneh jika dia berkata begitu. Dia sebenarnya tidak punya rasa malu,” terang Nyonya Cho, antusias.

“Ibu!”

Kedua orang itu kembali berdebat dengan sengit, lagi-lagi mengabaikan Baek Mi Rae yang masih betah berperan sebagai patung. Ada baiknya jika ia mulai membiasakan diri menghadapi sifat dua orang itu. Terlalu sibuk dengan rasa herannya tentang Kyuhyun dan Nyonya Cho, membuat Mi Rae tidak menyadari jika tahu-tahu saja kedua orang itu dan juga Sekretaris Park sedang menatapnya lekat.

“Mi Rae.”

“Ah, iya,” panggilan Kyuhyun membuatnya tersentak. Alis Mi Rae berkerut dalam melihat tatapan yang mereka tujukan padanya. “Ada apa?” tanyanya.

“Kami menunggu jawabanmu. Keputusannya ada di tanganmu,” Nyonya Cho berujar, serius. Mata Mi Rae beralih pada Kyuhyun yang memancarkan sorot mata cemas. “Aku bisa mengatur pernikahan kalian dalam semalam.”

Mi Rae terdiam. Ia memandangi satu per satu wajah mereka semua. Kemudian ia mulai berkata-kata dengan sedikit terbata, “Aku…aku sangat senang karena Ibu menerimaku. Aku tidak pernah bermimpi untuk berada di posisiku yang sekarang,” katanya sembari melirik pada Kyuhyun. “Semua gadis selalu bermimpi untuk menikahi orang seperti Kyuhyun. Baru-baru ini, aku berani memimpikan hal itu, namun, tidak terbesit dibenakku jika hal itu akan terwujud dalam waktu dekat,” Mi Rae terdiam. Ia menarik napas dalam. “Kyuhyun masih harus memelajari banyak hal. Aku pun masih ingin menikmati kehidupanku yang seperti sekarang. Aku ingin berhasil dengan usahaku. Aku tidak ingin orang-orang memandangku sebelah mata dan mengira keberhasilanku semata-mata karena pengaruh Daehan.”

Untaian kalimat Mi Rae mampu diartikan oleh Nyonya Cho. Wanita itu terlihat kecewa dan Mi Rae menyadari itu. Baek Mi Rae memberanikan diri untuk menyentuh tangan Nyonya Cho.

“Kalau Tuhan berkehendak, kami pasti akan menikah. Jadi, maukah Ibu memberi kami lebih banyak waktu lagi?”

Nyonya Cho hanya mendesah, namun melihat senyuman Mi Rae, ia merasa tidak bisa menolak permintaan gadis itu. Ia tersenyum tipis, dan menepuk-nepuk tangan Mi Rae yang sedang digenggamnya. Cho Kyuhyun mengembuskan napas lega, dan kemudian mengangkat jempolnya pada Mi Rae.

Percakapan mereka masih berlanjut bahkan setelah mereka selesai menyantap makan malam. Beberapa kali Nyonya Cho mengingatkan Sekretaris Park agar memastikan pesta perayaan ulang tahun perusahaan berjalan dengan baik. Baek Mi Rae sudah tidak sekikuk tadi. Ia sudah bisa menempatkan dirinya dengan baik, namun tetap menjaga tingkah lakunya.

“Mengapa tidak ada minuman di sini?” tanya Nyonya Cho.

Mereka sudah menghabiskan banyak minuman, tapi tampaknya masih kurang cukup untuk menemani malam panjang mereka. Sekretaris Park berinisiatif untuk pergi membeli minuman.

“Mengapa kau tidak mengajak Mi Rae jalan-jalan?”

“Aku?”

“Ini kali pertama Mi Rae ke sini, sangat tidak adil jika kita hanya mengurungnya di villa. Ajaklah dia melihat-lihat pantai.”

“Baik, kami akan menunggu Sekretaris Park,” Kyuhyun tidak keberatan. Ia berencana akan mengajak Mi Rae setelah Sekretaris Park datang, karena ia tidak nyaman membiarkan ibunya seorang diri.

“Pergilah! Hari ini cukup melelahkan, jadi aku akan ke kamar dan tidur,” Nyonya Cho beranjak, beberapa kali ia terlihat menguap.

Kyuhyun dan Mi Rae hanya saling pandang setelah Nyonya Cho menghilang di balik pintu kamarnya. Mereka berdua akhirnya menuruti saran Nyonya Cho. Villa terletak tak jauh dari pantai. Ke sanalah Kyuhyun membawa Mi Rae. Dari percakapan mereka, Mi Rae akhirnya tahu jika pantai itu memang tidak begitu ramai walau sebenarnya pantainya cukup indah. Mungkin karena letaknya. Villa tersebut cukup terisolasi, jauh dari keramaian, bahkan tidak ada rumah penduduk di sekitar situ.

Jalan-jalan santai di sepanjang pantai. Hanya suara ombak yang mengisi kesunyian malam. Cahaya bulan yang keemasan memantul di permukaan air laut yang beriak pelan. Mereka berdua kembali membisu. Kyuhyun melirik pada Mi Rae yang beberapa kali tertangkap mata sedang menarik napas panjang.

“Ada apa?”

Agak ragu, tapi Mi Rae tidak ingin menyembunyikan kegundahannya. “Tentang pesta itu. Haruskah aku—”

“Ya. Ibu akan mengomeliku jika kau tak datang.”

“Ah, jadi aku hanya sebagai jaminan keselamatanmu, begitu?”

Kyuhyun tersenyum geli melihat Mi Rae menggerutu dan berwajah masam. “Kau harus datang karena kau pacarku,” selepas berkata begitu, raut wajah Mi Rae berubah senang. “Itu adalah pesta topeng.”

“Pesta topeng?”

“Aku berhasil membujuk ibu agar tema pesta dibuat berbeda. Semua orang akan memakai topeng. Jadi, kau tak perlu cemas,” Kyuhyun mengerling. Ia tahu apa yang mengganggu Mi Rae.

Baguslah kalau begitu. Orang-orang tidak akan mengenali Mi Rae. Sekarang ia tidak begitu gusar dan tidurnya nanti pasti akan sangat nyenyak.

Malam semakin larut, Kyuhyun mengajak Mi Rae kembali ke villa. Sesampai di villa, Kyuhyun tidak melihat mobil mereka terparkir, “Sekretaris Park belum juga kembali? Cih, apa dia membeli minuman di Seoul?” Kyuhyun mendengus. Pasalnya, ia dan Mi Rae sudah cukup lama meninggalkan villa dan sekarang sudah hampir jam sebelas malam.

Mi Rae hanya mengedikkan bahu, tak memberikan respon yang berarti. Lalu keduanya pun masuk ke dalam villa. Sepertinya Sekretaris Park memang belum pulang. Mereka tidak menemukan pria itu. Suasana di villa pun terasa sangat sepi.

“Tunggu sebentar,” Kyuhyun melesat pergi, meninggalkan Mi Rae. Ia teringat pada ibunya. Kecemasannya terpanggil ketika menyadari jika ibunya hanya seorang diri di villa sebesar itu. Rasa-rasanya ia ingin mengomeli Sekretaris Park sekarang juga.

Di ruang tengah, Mi Rae memilih mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa yang begitu empuk. Ia mulai sibuk membalas pesan-pesan yang dikirim Jin Ae. Sahabatnya itu sangat heboh mendengar Mi Rae liburan bersama Keluarga Cho. Pertanyaan-pertanyaan konyol Jin Ae terkadang membuat Mi Rae tersenyum geli. Lalu derap langkah tergesa-gesa mengalihkan Mi Rae. Ia telah memberi perhatian pada Kyuhyun yang sudah terlihat di ruangan yang sama dengannya. Kyuhyun begitu panik.

“Kyu, ada apa?”

“Ibu tidak ada di kamarnya.”

“Kau yakin? Mungkin ibu sedang berada di toilet.”

Kyuhyun menggeleng tegas, “Aku sudah memeriksa semua tempat.”

Sekarang Mi Rae pun ikut cemas. Ia berjalan mendekati Kyuhyun. “Kau sudah menghubungi ibumu? Atau Sekretaris Park, mungkin?”

Pertanyaan Mi Rae menyadarkan Kyuhyun. Otaknya tidak berpikir cepat. Ia hanya tiba-tiba menjadi cemas setelah mendapati kamar ibunya kosong dan sempat berpikiran jika sesuatu yang buruk telah menimpa ibunya selama mereka tidak berada di tempat. Tanpa menunggu lama, Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari saku coat berwarna biru dongker yang ia kenakan. Namun, ponselnya sudah lebih dahulu berdering.

“Ibu menelepon,” katanya, menatap Mi Rae.

“Cepat dijawab.”

Kyuhyun mengangguk, dan segera menerima panggilan masuk tersebut. “Hallo, Ibu? Ibu baik-baik saja?”

Iya, tidak ada yang harus kau cemaskan. Maaf Kyu, tadi tidak sempat mengabari kalian.

“Terjadi sesuatu?”

Bukan hal yang penting. Hanya sebuah gangguan kecil. Ibu akan mengurus itu lebih dahulu.

“Baiklah, di mana Ibu sekarang? Kami akan segera ke sana.”

Tidak, tidak usah,” tolak Nyonya Cho mentah-mentah. “Tidak apa-apa kan’ kau dan Mi Rae berlibur tanpa kami?

Berlibur tanpa kami? Dikurangi Nyonya Cho dan Sekretaris Park, itu artinya hanya tersisa dirinya dan….

Mendadak Kyuhyun gusar. “Tapi, Bu—” merasa keberatan. Ia hendak protes, namun kata-katanya terhenti saat mendengar suara panggilan bagi penumpang dengan tujuan Seoul. “Ibu sedang di….bandara?” lengkingan Kyuhyun membuat Mi Rae berpaling seketika padanya.

Sudah ya, kami harus segera naik ke pesawat.”

Tut..tut..tut..

“Ibu! Hallo! Ibu! Ibu!”

Kyuhyun mencoba menghubungi kembali ponsel ibunya, tapi percuma. Ponsel wanita itu sudah tidak aktif lagi. Tangan Kyuhyun terkulai lemas. Ia dan Mi Rae saling pandang dengan ekspresi yang, entahlah—tapi keduanya sedang mengkhawatirkan hal yang sama. Kyuhyun tertawa tawar, Mi Rae juga ikut-ikutan tertawa.

“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di perusahaan.”

“Iya, kedengarannya sangat penting.”

Dua orang itu tertawa lagi, tapi kemudian mereka terdiam. Kyuhyun memalingkan wajahnya, dan detik selanjutnya ia mendesis hebat. Sementara Mi Rae sudah seperti robot rusak yang tak tahu harus melakukan apa. Mereka menjadi sangat kikuk.

“Aku akan keluar sebentar. Mungkin saja ada yang bisa memberi kita tumpangan,” kata Kyuhyun. Tanpa meminta persetujuan Mi Rae, ia langsung melesat pergi dengan langkah yang terburu-buru.

Sepeninggal Kyuhyun, Mi Rae langsung terhuyung-huyung dan rebah di sofa. Gila! Jantungnya sudah tidak bisa dikendalikan. Tadi itu benar-benar terasa sangat canggung. Astaga, mengapa mereka harus terjebak dalam situasi semacam itu?”

Di luar villa, Kyuhyun sudah terlihat seperti orang ling-lung. Jelas sekali jika tadi itu hanya alasannya agar bisa pergi. Kyuhyun tahu betapa terasingnya villa mereka yang satu itu. Akses ke jalan utama cukup jauh. Kalau pun mereka tiba di jalan utama, sudah tidak ada bus yang sampai ke halte terdekat situ. Dengan kata lain, sangat mustahil mereka meninggalkan villa sekarang.

Satu jam berlalu, Mi Rae masih menanti dengan cemas. Kedatangan Kyuhyun bukan menenangkannya, akan tetapi justru membuat jantungnya kembali bekerja keras. Melihat raut wajah Kyuhyun, ia tahu jika malam ini mereka akan menginap di villa.

“Tidurlah. Kau pasti sangat lelah,” kata Kyuhyun tiba-tiba memecah kesunyian di antara mereka. Mi Rae mengangguk.

Lalu Mi Rae bergerak menuju kamarnya. Kyuhyun masih di sana, berdiri memerhatikan gadis tersebut. Sekian lama Mi Rae hanya berdiri di depan pintu kamar tersebut sehingga menimbulkan rasa penasaran Kyuhyun.

“Ada apa?”

Mi Rae menoleh, “Pintunya. Terkunci.”

“Benarkah?” Kyuhyun menghampiri Mi Rae. Benar saja, pintu kamar itu memang terkunci.

“Aneh, padahal tadi aku meninggalkannya dalam keadaan tidak terkunci?” kening Mi Rae bertaut.

“Tidak apa-apa, masih banyak kamar di sini,” ujar Kyuhyun.

Ia dan Mi Rae berlalu ke kamar lain. Total kamar yang ada di villa berlantai dua itu berjumlah lima kamar yang terdiri dari dua kamar utama dan tiga kamar tamu. Keanehan demi keanehan masih berlanjut. Ternyata, kamar-kamar yang mereka tuju pun dalam kondisi yang sama. Terkunci. Kyuhyun beralih ke tempat yang biasa digunakan untuk menyimpan kunci cadangan, tapi tidak ada satu pun kunci yang bergelayut manis di tempat gantungannya. Akhirnya mereka menemukan satu kamar yang tidak terkunci dan itu adalah kamar utama yang dipakai oleh Kyuhyun.

For the sake of God!

Tiba-tiba saja Kyuhyun mendesis. Mi Rae sangat terkejut sebab dalam situasi seperti sekarang, satu suara yang dikeluarkan Kyuhyun berpotensi membuat jantungnya melompat ke lantai.

“Ada apa?” tanya Mi Rae, bertambah cemas. Melihat rahang Kyuhyun yang mengetat dan ekspresi kaku pemuda itu, mau tidak mau memanggil rasa penasaran Mi Rae. Apakah ada sesuatu lagi yang terjadi?

“Tidak,” jawab Kyuhyun singkat. Namun Mi Rae tahu jika ada hal lain yang disembunyikan Kyuhyun.

Menyadari Mi Rae masih menatap lekat padanya dengan penuh selidik, Kyuhyun lantas memalingkan wajahnya. Ia berusaha menghindar agar Mi Rae tidak melihat kegeraman yang sedang ditahan-tahan olehnya. Hanya kedua tangannya yang saling mengepal kuat.

“Kau boleh memakai kamarku. Aku akan tidur di luar,” Kyuhyun mencoba mengalihkan perhatian Mi Rae.

“Aku bisa tidur di sofa itu,” mata Mi Rae mengarah pada sofa. Ia merasa tidak enak jika harus merampas kamar milik Kyuhyun.

Alih-alih berkomentar, Kyuhyun justru mendorong pelan tubuh Mi Rae ke dalam kamar dan menutup pintu kamar itu. Ia tidak memberi Mi Rae kesempatan untuk menolaknya. Setelah itu, barulah Kyuhyun membuang napas panjang. Akan tetapi, rahangnya kembali mengetat ketika ia memikirkan sesuatu.

Liburan kali ini tidak seperti biasa. Ibunya memaksa Mi Rae ikut dengan berbagai macam alasan sekalipun Kyuhyun sudah menjelaskan jika dengan posisi Mi Rae yang hanya sebagai mahasiswa magang, akan sangat sulit membuat Mi Rae mengiyakan permintaan itu. Tak tanggung-tanggung, ibunya justru meminta Sekretaris Park berbicara langsung kepada kepala UGD dengan mengatasnamakan Daehan Group. Siapa yang akan menolaknya?

Lalu, mereka punya beberapa hotel dan juga villa di Jeju, namun ibunya memaksa untuk menggunakan villa yang lokasinya cukup sulit dijangkau jika tidak menggunakan kendaraan pribadi. Belum lagi ia dan Mi Rae diminta untuk jalan-jalan ke pantai, terkesan agak memaksa. Terakhir, tiba-tiba saja wanita dan sekretarisnya itu menghilang dengan meninggalkan misteri lainnya. Kamar-kamar yang terkunci.

Damn it!

Kyuhyun hampir saja menendang guci antik raksasa kesayangan ibunya, namun ia mengurungkan niatnya setelah menyadari jika mungkin saja Mi Rae sudah tidur. Jadi, yang dilakukan pemuda itu hanyalah menendang-nendang udara kosong.

Mengapa ia tidak menyadari itu sebelumnya?

Di lain tempat, dalam kelas VIP penerbangan Jeju-Seoul, Nyonya Cho dan Sekretaris Park sedang bersulang dan kemudian meneguk red wine dalam gelas masing-masing.

“Apakah baik-baik saja membiarkan mereka sendiri?”

Wanita yang ditanya terdiam sebentar dan kemudian menjawab, “Bagaimana, ya? Aku sangat cemas membiarkan anak-anak itu sendirian, tapi perusahaan juga membutuhkanku,” Nyonya Cho memberengut, dan anehnya, ekspresi itu tak terlihat alami.

Sekretaris Park mendesah, “Nyonya, sepertinya Anda sama sekali tidak cemas.”

Cengiran tajam langsung tergambar di wajah Nyonya Park. “Ah, terlalu kelihatan ya?” ia terkekeh. Urusan perusahaan? Omong kosong. Itu hanya sebuah alasan yang dibuat-buat. “Kau sudah melakukan seperti yang kuperintahkan?” pertanyaannya diiyakan Sekretaris Park dengan sebuah anggukan tegas.

“Aku sudah menaruhnya dalam minuman tuan muda. Obat itu adalah yang terkuat diantara jenisnya. Tidak ada seorang pun yang bisa menahan efek obat tersebut,” terang Sekretaris Park. “Setelah meminumnya, tuan muda tidak mungkin bisa bertahan. Ibaratnya, tidak ada kucing yang mampu menolak ikan yang terhidang di hadapannya.”

Nyonya Cho tersenyum puas, menyeringai. “Tuhan berkehendak, tapi manusia pun harus berusaha,” gelak tawa Nyonya Cho pun membahana. Persis seperti seorang penyihir yang sedang menyusun rencana jahat.

Suara jarum jam yang berdetak membelah kesunyian malam yang semakin larut. Cho Kyuhyun sudah bergelung dalam selimutnya, meringkuk di sofa. Tidurnya tak senyenyak biasa, terlihat dari tubuhnya yang beberapa kali memutar ke kiri dan kanan, mencari posisi yang nyaman. Bukan karena sofa, tapi karena situasilah yang membuatnya sulit tidur.

Kyuhyun menghempas selimutnya. Ia duduk. Gelisah. Dirinya masih merasa kesal dengan permainan kotor ibunya. Ya Tuhan, ibu semacam apa wanita itu? Tega-teganya menjebak anaknya sendiri untuk masuk dalam situasi genting dan teramat sangat berbahaya. Kyuhyun mendumal seorang diri. Namun, mendengar suara pintu yang terbuka, secara otomatis ia membanting tubuhnya dan pura-pura tidur.

Baek Mi Rae baru saja keluar dari kamar. Matanya menyapu ruangan yang hanya disentuh oleh sedikit cahaya, kemudian pandangannya dituntun pada sesosok pemuda yang tengah meringkuk di atas sofa. Perlahan, ia mulai berjalan menghampiri Kyuhyun.

Mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat, Kyuhyun semakin tidak fokus. Jantungnya mengalami peningkatan debaran. Ia dapat merasakan jika saat ini Mi Rae sedang mengawasinya. Lama sekali. Tanpa membuka mata pun, ia tahu kalau Mi Rae sudah berlutut di sisinya. Tak tahu apa yang sedang Mi Rae lakukan. Namun, Kyuhyun yakin bahwa Mi Rae mengira dirinya sudah terlelap.

Entah Mi Rae sadar atau tidak, tubuh Kyuhyun menegang saat Mi Rae menyentuhkan ujung telunjuknya di permukaan kulit wajah Kyuhyun yang selembut kulit bayi. Jari itu bergerak di alis Kyuhyun, lalu berpindah ke kelopak mata Kyuhyun. Menelusuri hidung mancung Kyuhyun. Mi Rae seperti sedang melukis wajah Kyuhyun dengan jarinya. Seolah Mi Rae mendapatkan kesenangan tersendiri saat jarinya itu bermain-main di bibir Kyuhyun.

Cho Kyuhyun setengah mati menahan perasaannya. Jantungnya mengamuk, berdentam sangat hebat. Jari Mi Rae tidak beranjak dari bibirnya. Ya Tuhan, apa yang dilakukan gadis itu? Apakah Mi Rae tidak sadar jika Kyuhyun berusaha mati-matian menahan diri? Berdua dengan Mi Rae di tempat itu saja sudah membuat Kyuhyun gugup. Memangnya Mi Rae tidak tahu?

Bullshit!

Ini tidak bisa dibiarkan! Sekejap, Cho Kyuhyun membuka mata yang sudah lelah ia tahan-tahan agar kelopaknya tetap mengatup rapat. Ia terdiam. Baek Mi Rae tengah menatapinya. Jarak di antara mereka sangat tipis. Mereka saling pandang dengan durasi yang cukup lama. Lalu Mi Rae yang berbicara lebih dulu, suaranya terdengar seperti suara malaikat maut yang memangkas jantung Kyuhyun.

“Bibirmu sangat seksi, Kyu.”

Refleks. Kyuhyun mendorong Mi Rae dan ia segera melompat ke belakang sofa. “Baek Mi Rae, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya, gugup.

“Aku?” Mi Rae bertanya sembari mengarahkan telunjuk pada dirinya sendiri. “Tidak. Aku, aku hanya kepanasan. Tubuhku seperti terbakar. Apa kau mematikan semua AC?” ia berbicara, sementara tangannya sibuk mengebas di depan wajahnya.

Kening Kyuhyun berkerut, ia melihat kejanggalan pada perilaku Mi Rae. Cara berbicara gadis itu terdengar sedikit melantur, gerak tubuhnya pun tak seperti biasa dan ia terlihat sangat berbeda. Dalam remang cahaya, Kyuhyun bahkan dapat melihat bahwa wajah Mi Rae tampak begitu merah.

“Kau—mabuk?”

Mi Rae menggeleng antusias. “Siapa bilang aku mabuk? Ah, maaf. Aku hanya minum sedikit, aku tidak menghabiskannya,” ujar Mi Rae. Ia terdiam, kemudian menyengir. Kyuhyun hanya menyapu wajahnya. Dugaannya tidak meleset.

Buru-buru Kyuhyun beralih ke kamar. Matanya langsung tertanam pada sebotol anggur tua kesayangannya yang terletak di atas meja. Ada gelas yang berisi sisa minuman. Dilihat dari botol anggur yang masih cukup penuh, artinya Mi Rae hanya meneguk sedikit saja dari minuman tersebut. Sepertinya toleransi Mi Rae terhadap alkohol hampir tidak ada.

Sementara Kyuhyun sibuk mencermati logikanya sembari mengamati botol anggur di tangannya, Mi Rae sudah menghampirinya. Gadis itu berjalan memutari Kyuhyun, dan berhenti di belakang Kyuhyun. Tangannya bergerak pelan mendekati punggung Kyuhyun yang terlihat sangat tegap.

“Mi Rae?” Kyuhyun berbalik saat merasakan tangan Mi Rae di punggungnya. “Ada apa?”

“Tidak. Aku hanya ingin memberimu pijatan?” jawab Mi Rae, tersenyum aneh.

“Tidak usah,” tolak Kyuhyun.

“Atau—mungkin kakimu lelah?”

Kyuhyun mundur selangkah karena Mi Rae hendak memegang pahanya. “Mi Rae, kau tidak perlu melakukan apa pun untukku,” Kyuhyun jadi kelabakan. Mi Rae semakin aneh, pikirnya.

“Ayolah, kau tidak perlu merasa sungkan,” Mi Rae mengerling nakal. Tak ayal bulu nyawa Kyuhyun meremang dibuatnya. “Astaga! Dadamu sangat keras!” jerit Mi Rae saat ia menyentuh dada bidang Kyuhyun, membuat pemuda itu mundur teratur beberapa langkah. Sesuatu pasti telah terjadi.

Ada yang tidak beres. Kyuhyun merasa bahwa Mi Rae menjadi liar. “Sebaiknya, kau tidur. Ini sudah larut,” Kyuhyun beralasan dan bergerak cepat menghampiri pintu. Saat tangannya memutar kenop pintu, dahinya kembali mengerut. Ia mencoba lagi. Pintu terkunci. Akhirnya, ia berbalik pada Mi Rae. “Kau mengunci pintunya?” tanyanya, rasa gugup pun bertambah. Mi Rae mengangguk sekali. “Mi Rae, di mana kuncinya? Berikan padaku!”

Mi Rae hanya tersenyum, menunjukkan kunci di tangannya. Setelah itu, ia kembali menyembunyikan kunci tersebut. Bola mata Kyuhyun membesar sempurna saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Mi Rae menyisipkan kunci itu di balik bra-nya. “Ambil saja!” Mi Rae tersenyum menggoda dan mengedipkan sebelah matanya.

 Cho Kyuhyun terhuyung dan berpegangan pada kenop pintu demi mencegah tubuhnya ambruk karena hampir saja ia kehilangan kesadaran. Perasaannya campur aduk. Antara bergidik ngeri dan terpukul melihat perubahan kekasihnya itu. Hari yang aneh masih terus berlanjut. Dalam kekalutan, bayangan ibunya yang sedang tertawa menggelegar tiba-tiba saja melintas di depan mata Kyuhyun. Kedua tangan Kyuhyun mengepal.

Damn! Mom, how dare you?” Kyuhyun meringis.

Mengapa ibunya seusil itu? Lihat! Apa yang sudah dilakukan ibunya terhadap gadis terpolos di dunia, Baek Mi Rae? Gadis yang bahkan sangat malu bertatapan dengannya, sekarang secara terang-terangan menggodanya. Gadis yang selalu berperilaku lurus itu, kini seperti wanita penggoda kelas dewa. Cho Kyuhyun tak sanggup melihat image gadisnya rusak. Anggur itu pasti bukan anggur biasa. Dirinya sangat yakin kalau ibunya telah melakukan sesuatu pada anggur tersebut.

“Wow! Wow! Apa yang kau lakukan? Berhenti di situ!” sekarang Kyuhyun kalang kabut melihat Baek Mi Rae sedang menghampirinya. Pandangan Mi Rae padanya seperti pandangan vampire terhadap buruannya. Mengerikan. Kyuhyun menghindar. Ia berlari ke sisi lain.

“Hey! Kyu, mengapa kau lari? Aku tidak akan menerkammu,” Mi Rae melangkah tenang, terus mengikuti jejak Kyuhyun.

Tidak akan menerkam katanya? Kyuhyun tidak percaya. Sama sekali tidak akan percaya. Keselamatannya sedang dipertaruhkan sekarang.

“Baek Mi Rae! Hentikan!” Kyuhyun berseru, sangat panik. Ia terus berusaha menghindar dari Mi Rae yang semakin tak terkendalikan. “Jangan mengejarku! Berikan kunci itu padaku!”

“Aku tidak mengejarmu! Aku berniat memberikan kunci ini padamu,” jawab Mi Rae sekenanya. “Tapi, harus kau yang mengambilnya,” ia menyeringai lebar.

Cho Kyuhyun menepuk dahinya. Situasi macam apa ini? Apa seperti ini rasanya dikejar-kejar oleh pemangsa? Yang pasti, Kyuhyun sudah seputih kertas. Keringat dingin mulai mengucur di dahi mulusnya. Aksi kejar-kejaran itu masih berlangsung, lalu tiba-tiba saja Mi Rae ambruk. Beruntung ia jatuh di tempat yang aman, tempat tidur.

“Mi Rae!”

Kyuhyun yang panik segera menghampiri Mi Rae. Wajah Mi Rae memang terlihat sangat merah, dan ia mulai menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu. Kekesalannya semakin bertambah pada ibunya setelah melihat kondisi Mi Rae. Kyuhyun sangat kasihan pada gadisnya itu. Tiba-tiba saja mata Mi Rae terbuka lebar.

Deg!

Jantung Kyuhyun serasa berhenti berdetak. Seringaian tajam di sudut bibir Mi Rae seolah mengunci seluruh tubuh Kyuhyun. Apa tadi—gadis itu hanya berpura-pura? Akan tetapi, sebelum Kyuhyun mendapatkan jawabannya, sebelum ia sadar dan menghindar, Baek Mi Rae sudah bergerak lebih dulu. Entah dari mana datang kekuatan sebesar itu, tahu-tahu saja Mi Rae telah membanting tubuh Kyuhyun di atas kasur. Mi Rae langsung naik ke perut Kyuhyun dan duduk di sana.

“Mi..Mi..Mi Rae,” ujar Kyuhyun terbata-bata, “Apa..yang..kau lakukan?”

Mi Rae tidak memberinya kesempatan untuk melarikan diri. Gadis itu benar-benar sangat liar dan tak terkendalikan. Tatapannya tidak dikenali Kyuhyun. Seperti orang yang berbeda dengan Mi Rae yang dikenalnya. Kyuhyun dibuat panas-dingin karenanya. Tangan Mi Rae memberikan sentuhan-sentuhan halus di dada Kyuhyun yang membuat Kyuhyun memalingkan wajah, memejamkan mata sangat kuat.

“Cho Kyuhyun!” Mi Rae menyebut namanya. “Lihat aku!” suaranya terdengar lembut. Suara itu seolah menuntun Kyuhyun untuk mengabulkan titahnya. Pandangan mereka bertemu.

Sinar mata Mi Rae yang lembut, paras manis yang menawan; harus diakui Kyuhyun bahwa ia menghindar bukan untuk keamanan dirinya, melainkan demi gadis itu. Apa yang dilakukan Mi Rae sungguh menguji gejolak darah mudanya. Kalau Mi Rae bertindak lebih lagi, Kyuhyun tidak bisa menjamin dirinya dapat terus bertahan. Situasi seperti sekarang adalah hal yang sangat berbahaya.

“Kau, pernah berciuman?” Mi Rae bertanya. Sementara Kyuhyun tetap diam, hanya mengawasi paras Mi Rae. “Aku ingin tahu seperti apa rasanya,” katanya lagi. Saat Mi Rae mulai menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun, jantung Kyuhyun sudah berontak seperti hendak menembus dada. Mi Rae berhenti saat jarak mereka hanya tersisa beberapa centi, “Maukah kau mengajariku? Aku ingin berlatih denganmu.”

Kata-kata vulgar Mi Rae sukses membelalakkan Kyuhyun. Yang benar saja? Tanpa diminta pun, Kyuhyun selalu ingin mengecup bibir Mi Rae, tapi ia tidak melakukannya karena Mi Rae sendiri. Kalau sekarang Mi Rae yang menggodanya, bukan tidak mungkin ia akan mengabulkan keinginan Mi Rae. Bahkan, bisa saja ia melakukan hal yang lebih jauh dan itu artinya, ibunya-lah yang menjadi pemenang. Ia tidak ingin begitu, tapi…

Mi Rae benar-benar menguji keyakinan diri Kyuhyun. Menelan saliva pun terasa sakit saat ini. Kyuhyun lupa bahwa sejak kapan ia sampai menahan napas begitu. Bibir Mi Rae hampir menyentuhnya, dan detik berikut, tubuh Mi Rae limbung. Kyuhyun mematung, merasakan wajah Mi Rae yang terbenam di lehernya.

Sampai tiga menit berlalu, Kyuhyun belum bergerak. Ia masih terkejut. Setelah yakin kalau Mi Rae benar-benar telah kehilangan kesadaran, barulah Kyuhyun beringsut. Secara hati-hati ia memindahkan Mi Rae yang sejak tadi menindihnya. Ia menjadi orang yang sangat tamak dengan menghirup oksigen sedalam-dalamnya. Seolah ia takut kehabisan pasokan oksigen. Kemungkinan karena sebelumnya ia hampir lupa bagaimana caranya bernapas akibat dari apa yang dilakukan Mi Rae.

Setelah berhasil mengatur peredaran darah dalam tubuh, perlahan Kyuhyun memiringkan tubuhnya, menghadap pada Mi Rae yang sudah pulas. Baru kali ini ia melihat Mi Rae dalam jarak yang sangat dekat sehingga dapat melihat wajah Mi Rae. Bulu mata Mi Rae cukup panjang, hidungnya yang tidak begitu mancung, ia memiliki bibirnya mungil tapi sedikit berisi. Mi Rae memang tidak secantik gadis-gadis di luar sana, tapi ia memiliki paras manis yang tidak bosan dipandang. Kyuhyun tersenyum, tangannya bergerak merapikan surai yang menutupi wajah Mi Rae. Malam ini, ia akan memanjakan matanya dengan memandangi wajah kekasihnya itu sepuas-puasnya.

Beberapa jam berlalu, dan matahari pun mulai menyingsing di ufuk timur. Baek Mi Rae menggeliat pelan. Gerakan kecil yang menandakan bahwa ia sudah terbangun. Namun, karena kepalanya yang terasa pusing membuatnya enggan membuka mata. Tangannya hanya bergerak menyentuh kepala. Aneh, mengapa ia sepusing itu? Sepertinya, Mi Rae tidak mengingat petaka apa yang ditimbulkan olehnya semalam.

Pelan-pelan, Mi Rae mencoba membuka kelopak matanya. Cahaya matahari yang merembes masuk melalui jendela membuatnya silau. Ia langsung menghalau cahaya tersebut menggunakan tangan. Setelah dirasa matanya telah beradaptasi, Mi Rae lantas menurunkan tangannya.

Mi Rae tersenyum. Mungkin seperti ini rasanya di surga. Pagi harinya disambut oleh kilauan wajah tampan malaikat yang sedang tersenyum padanya. Atau jangan-jangan memang ia telah berada di surga? Apa pun itu, Mi Rae akan memikirkannya nanti. Saat ini, ia hanya ingin menikmati pagi sempurnanya, dan kembali memejamkan mata. Malaikat itu sangat tampan dan ia terlihat seperti Kyuhyun, kekasihnya.

Kyuhyun?

Secara otomatasi, otak Mi Rae connect dengan kejadian semalam saat ia dan Kyuhyun terjebak di villa. Merasa perlu memastikan sesuatu, Mi Rae membuka matanya kembali.

Good morning,” malaikat itu menyapanya. Mata Mi Rae berkedip lambat. Kemudian bola matanya itu akhirnya membesar.

“Cho Kyuhyun?”

Siapa yang tidak akan terkejut saat terbangun dan mendapati seorang pemuda sedang berbaring di sisinya, menatap penuh cinta sambil memamerkan senyuman se-wooww itu? Rasanya, jantung Mi Rae sempat berhenti tadi.

“Bagaimana tidurmu? Kelihatannya sangat nyenyak,” ujar Kyuhyun. Kepalanya menindih sebelah tangannya yang ditekuk dan dijadikan bantal.

“Ka, kau…kenapa ada di sini?” keterkejutan membuat Mi Rae tak tahu hendak melakukan apa. “Apa yang kau…lakukan?” tanyanya gugup. Ia memastikan dirinya masih berpakaian lengkap.

Cho Kyuhyun tertawa geli melihat perilaku Mi Rae. Dengan sigap ia menangkap Mi Rae saat gadis itu hendak pergi, membuat Mi Rae kembali tertidur di sisinya. Mi Rae menahan napas karena Kyuhyun telah mendekapnya sangat erat.

“Kyu, Kyuhyun. Aku tak bisa bernapas,” kata Mi Rae gelagapan. Kyuhyun tak mengindahkannya dan justru memeluknya lebih kuat. “Kyu,” Mi Rae berusaha untuk melepaskan diri, tapi percuma saja. Usahanya tidak akan berhasil jika Kyuhyun tidak menyetujuinya. “Apa yang akan kau lakukan, Kyu?”

Melihat ketakutan Mi Rae membuat senyuman Kyuhyun menajam. “Aku ingin membuatmu merasakan apa yang kurasakan semalam,” aku Kyuhyun, senyum nakalnya menyungging. Pelukannya agak melonggar sehingga Mi Rae sedikit leluasa untuk menarik napas. Melihat tatapan Kyuhyun membuat sekujur Mi Rae panas-dingin. “Katakan. Kau masih ingin berlatih denganku?” tanya Kyuhyun, ia tersenyum lembut.

Seketika Mi Rae seolah tersihir dengan senyuman indah milik pemuda tampan dengan sejuta pesona di hadapannya itu. Ia sibuk merasakan dadanya yang berdesir-desir sampai lupa untuk bertanya apa maksud Kyuhyun. Bola mata bening yang memancar penuh kepolosan itu akhirnya kembali pada pemiliknya, dan Kyuhyun tersenyum lagi. Semua lelaki pasti akan senang dengan kejadian semalam dan memanfaatkan situasi tersebut, tapi Kyuhyun seribu kali lebih senang melihat pancaran mata Mi Rae kembali seperti semula. Ia lebih menyukai Mi Rae yang seperti ini.

Yang dilakukan Kyuhyun adalah meraih Mi Rae dan kembali melabuhkan gadis itu ke dalam dekapannya. Kali ini dilakukan dengan penuh kelembutan sehingga Mi Rae tidak keberatan dengan perlakuan Kyuhyun. Jantung Mi Rae terlalu lemah terhadap sikap Kyuhyun, apalagi saat Kyuhyun mengecup puncak kepalanya, begitu lama. Ia hanya memejamkan mata meresapi kehangatan yang diberikan Kyuhyun. Lalu, Kyuhyun sedikit memperat pelukannya itu, tapi tidak sampai membuat Mi Rae sesak napas.

“Kau harus bertanggung jawab padaku. Semalaman aku tak tidur karenamu. Jadi biarkan aku tidur sejenak,” Kyuhyun berujar pelan. Sementara alis Mi Rae sudah bertaut. Sepertinya banyak hal yang terjadi dan ia melewatkan semua itu. “Oh ya, jangan lupa membuka pintunya,” kata Kyuhyun dengan mata yang terpejam. “Karena aku tak memiliki kuncinya, jadi aku tak bisa melakukan apa pun pada pintu itu.”

“Kalau kau tak bisa, lalu kenapa aku?”

“Harus kau. Karena kau yang menyimpan kuncinya.”

“Aku?”

“Hm, di dalam bra-mu. Apa perlu aku membantumu mengambil kunci itu?”

Penuturan Kyuhyun membelalak Mi Rae. Mungkin ia sudah sadar perihal benda asing yang terasa mengganjal di dadanya. Sebenarnya, apa yang terjadi? Bagaimana kunci itu bisa sampai di sana? Mi Rae sama sekali tidak mengingatnya. Hal terakhir yang ia ingat adalah situasi semalam membuatnya gugup sehingga memicunya meminum sedikit anggur di dalam kamar Kyuhyun. Mi Rae merasa semalam telah melakukan sesuatu. Apa pun itu, saat ini Mi Rae sudah tenggelam dalam rasa malu. Ia berusaha melepaskan diri demi menghindari Kyuhyun, tapi Kyuhyun kembali mendekapnya.

“Nanti saja. Kau boleh berurusan dengan kunci beruntung itu setelah aku tertidur,” bisik Kyuhyun.

Wajah Mi Rae memerah. Tampaknya tidak ada yang bisa dilakukan Mi Rae selain berdiam diri, tenggelam dalam hangatnya dekapan Kyuhyun. Ia dapat merasakan napas Kyuhyun di puncak kepalanya. Jantungnya berdebar-debar kuat. Perasaan malu berganti dengan rasa damai. Berada dalam pelukan Kyuhyun, anehnya tidak membuat dirinya merasa terancam. Mungkin karena Mi Rae sudah sangat memercayai Kyuhyun dan pada akhirnya ia justru tertidur bersama pemuda tersebut.

***

Cho Kyuhyun tidak pulang setelah mengantar Baek Mi Rae kembali ke rumah gadis itu, Kyuhyun langsung meminta Kim Ryeowook bergegas ke kantor. Ia berganti pakaian di mobil yang sedang melaju menuju kantor. Pagi-pagi, Kyuhyun sudah menelepon Ryeowook untuk menjemputnya di bandara, sekaligus membawakannya pakaian ganti.

Begitu tiba di Kantor Pusat Daehan Group, Kyuhyun tidak serta merta mengikuti jadwal yang sudah disebutkan Ryeowook dalam perjalan tadi. Kyuhyun justru buru-buru mendatangi ruangan ibunya. Ia sempat menunggu kurang-lebih dua menit setelah diberitahu oleh Sekretaris Park kalau ada beberapa direktur unit yang sedang menemui ibunya itu. Sementara menunggu, Kyuhyun tidak meluputkan tatapannya dari wajah Sekretaris Park. Ia menatap tajam, seolah ingin menelan pria itu. Sekretaris Park sendiri berusaha menghindari kontak mata dan beberapa kali berbatuk pelan karena merasa tubuhnya terkunci oleh tatapan Kyuhyun. Saat orang-orang itu keluar, tanpa membiarkan waktu terbuang percuma, Kyuhyun pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia disambut dengan senyum manis tanpa rasa berdosa Nyonya Cho.

“Apa-apaan ini, Bu? Mengapa Ibu tega sekali padaku?” semprot Kyuhyun. Ia berdiri di hadapan Nyonya Cho yang hanya menatapnya bulat dengan mata yang bersinar. “Ibu tahu apa yang sudah Ibu lakukan? Mi Rae mengalami hal yang tidak menyenangkan karena meminum anggur yang kalian masukkan sesuatu,” dan aku harus menanggung penderitaan semalaman.

Nyonya Cho agak terperanjat, “Baek Mi Rae? Ya Tuhan, itu diluar skenario,” ujar Nyonya Cho. Wanita itu terdiam beberapa saat, tampak berpikir, dan tak lama kemudian ia kembali berkata, “Eih, jadi ceritanya, kau yang digoda?” tanyanya sembari tersenyum. “Ibu minta maaf jika jadi menyusahkan Mi Rae, tapi kalau dipikir-pikir, justru lebih baik jika anggur itu diminum Mi Rae. Kalau kau yang minum, Mi Rae mungkin akan ketakutan. Duduklah Kyu, sepertinya pembicaraan kita akan memakan banyak waktu,” Nyonya Cho terlihat bersemangat. Ia bangkit dari duduknya, menghampiri Kyuhyun, menarik anaknya itu dan mereka duduk di sofa. “Jadi, apa yang terjadi?” tanyanya, lagi-lagi dengan mata yang berbinar-binar.

Kyuhyun menarik napas panjang, menatap tanpa semangat dan berkata, “Jangan bermimpi, Bu,” dengan wajah yang super datar.

“Apa?” Nyonya Cho terperanjat. “Tidak terjadi sesuatu, sungguh?” ia menatapi Kyuhyun yang hanya diam dengan ekspresi malas. “Berdua dengan seorang gadis di villa. Gadis itu menggodamu habis-habisan tapi kau—astaga, Cho Kyuhyun. Kau benar-benar normal?”

“Ibu! Bukan begitu caranya. Apa yang Ibu pikirkan, hah? Mengapa Ibu tidak juga mengerti? Mengapa Ibu tidak bisa menghormati kami? Ibu selalu saja ikut campur! Ini sudah berlebihan!”

Situasi menjadi hening. Kyuhyun sangat marah sekarang. Tak habis pikir. Ibunya memang tipikal yang seperti itu, tapi kali ini ia merasa sudah sangat keterlaluan. Nyonya Cho tidak berbicara apa-apa, ia hanya diam memandangi Kyuhyun yang sedang mengatur napas.

“Sekretaris Park!” panggil Nyonya Cho dengan wajah tenang. “SEKRETARIS PARK!” ia berteriak, hanya karena pria yang dipanggilnya itu tidak muncul.

Cho Kyuhyun mendesah setelah melihat ibunya sudah berekspresi setenang telaga. Ia tahu jika wanita itu sedang marah, dan cara marahnya sangat mengerikan. Memangnya Sekretaris Park itu jin? Yang bisa muncul hanya sedetik setelah namanya disebut? Kyuhyun tahu watak ibunya. Nyonya Cho saat marah tidak akan mengeluarkan umpatan, ia melampiaskan kemarahannya dengan cara yang berbeda.

Perhatian mereka beralih pada Sekretaris Park yang baru saja masuk dan tergesa-gesa mendekati mereka. “Ya, Nyonya.”

“Dengarkan baik-baik. Cho Kyuhyun akan sibuk selama seminggu ke depan. Dia yang akan mengambil alih persiapan pesta ulang tahun perusahaan dan memastikan semua terkendali. Jika ada satu kesalahan, maka itu akan menjadi tanggung jawabnya. Pekerjaannya tidak boleh terbengkalai dengan alasan mengurus pesta perusahaan. Di samping itu, jadwalku selama seminggu ini, Kyuhyun yang akan melakukannya.”

“Ibu?” bola mata Kyuhyun membulat.

“Aku belum selesai. Katakan pada Sekretaris Kim agar memastikan Kyuhyun menghadiri semua rapat, semua pertemuan baik itu dengan investor, para pemegang saham dan juga kunjungan ke perusahaan-perusahaan cabang. Kalau ada satu kegiatan yang tidak dihadiri Kyuhyun, maka pecat Sekretaris Kim!”

Mulut Kyuhyun terbuka, rahangnya seolah tertarik gravitas bumi setelah mendengar vonis yang dijatuhkan ibunya. “Ibu, ayolah. Ibu bercanda, kan?”

Alih-alih menjawab pertanyaan anaknya, Nyonya Cho justru berdiri dan berkata pada Sekretaris Park. “Karena aku kehilangan pekerjaan selama seminggu, maka tidak ada gunanya kita di sini. Aku harus mengganti isi lemariku. Baiklah, antarkan aku ke mall. Oh ya, sebelumnya, aku ingin ke salon.”

Mereka pun pergi membiarkan Kyuhyun melongo bodoh di dalam ruangan yang telah hening. Lama sekali mematung, Kyuhyun baru beringsut. Kyuhyun tertawa tawar, mencoba tabah dan pasrah. Ibunya selalu bertingkah kekanak-kanakan jika sedang marah. Wanita itu sangat pintar, cerdik tapi licik. Ia tahu kelemahan Kyuhyun. Sekarang tidak ada yang bisa dilakukan Kyuhyun selain menuruti kemauan ibunya. Tidak mungkin dirinya tega membiarkan Kim Ryeowook terkena getah akibat perbuatannya. Kyuhyun menyapu rambutnya, sudah stress duluan sebelum menjalankan mission impossible versi ibunya.

~bersambung~

Akhirnya….

Ada yang kangen sy? Eh? Kangen Drama maksudnya.

Setelah perjuangan panjang, publish juga part 17.

Ngetiknya buru-buru , review juga cuma sekali dan sekilas pula, jadi kemungkinan typo bertebaran.

Pengen tau gimana reaksi kalian pas ngeliat image-nya Mi Rae hancur berkeping-keping dan ternodai. Waktunya ngetiknya, eyke rada gak tega sih, tapi tetap aja sempat senyum2 gaje. Itu anak yang hidupnya lurus tiba2 melenceng karena kelakuan emaknya kyu. Tapi sebenarnya yang lebih kasihan itu si Kyuhyun lho, iya gak?

Okay, sekian dulu untuk part ini.

Mohon koreksi ya. Kritik or saran sangat diharapkan.

Bye. Muach! ^^

Iklan

150 thoughts on “Drama (Part 17)

  1. Rrin'sLove berkata:

    SINTING
    IBU KYUHYUN JJANG HAHAHAHA
    tapi sayang eomeonin
    keinginanmu belum tercapai
    Kyuhyun benar2 menjaga dirinya dan Mi Rae wkwkwk
    Mi Rae ngegoda Kyuhyun habis2an dan Kyuhyun mengkeret karena takut salah langkah HAHAHA
    anjuuu pasangan gila ditambah Ibunya Kyuhyun yg terobsesi dengan pernikahan kkkk

    waaah
    gak ada cerita ttg dua lelaki tampanku lagi saat bersama (re: KyuHyuk)
    aku merindukan masa2 Kyuhyun dengan gilanya suka banget ngusilin Hyuk hehehe

    awuuuh kayaknya ff ini bakalan panjang
    tapi gak apa2
    aku sukaaaa
    alurnya lucu haha dan menyenangkan
    kakak jjang !!!

    ditunggu kelanjutannya kak ^^~~

  2. Widya Choi berkata:

    Bolehkah saya ngakak ngbyangin mirae brubah jd agresif gt hahahahahaha 😂😂😂😂😄😄😄. Ampun deh y… emakny kyu emg niat bgt kykny y hahaha. Ngebet bgt pngen mrk cpat nikah smpe ngrencanain kyk bginian sgala. Tp salutny am kyu yg bisa nahan mati2an godaan mirae . Mn si mirae nantang bgt kyk ny tu hahaha.. aplg yg pas dy masukin tu kunci k dalam kacamata keramatny mirae n suruh kyu yg ambil sndri tu kunci…ampun djjjjjjjjj 😄😄😄😄. Andai mirae ingat klakuan dy smlm..pst dy bingung mau nyimpan muka ny dmn 😂😂😂😂.
    Nah loh..liat emakny kyu ngambek gr2 rncana ny gatot… sprtiny kyu bakal d siksa am rapat2 trs deh 😄😄.

  3. Mrs choi berkata:

    akhirnya! lama ga kesini ternyata udah di publish bahkan ada ff baru ga sabar bacanya! btw Kyu kau sungguh polos gemes liat Kyu yg terlalu sopan kapan kau setidaknya mengecup bibirny Mi rae Kyu!

  4. aznadya berkata:

    Wahhhhh daebak.
    Selalu suka dengan fanfict ini, senyum2 sendiri bacanya. Plotnya gak ngebosenin dan cara penulisan rapi banget.
    Semangat buat authornya, jangan lama2 ya thor😍😍😋

  5. evivi407 berkata:

    Ibu kyuhyun bikin geleng” sumpah 😀

    aduhh mirae jadi agresif gitu.. si evil untung bisa nahan diri #anakbaikdia .. hehe

    ditunggu next partnya 🙂

  6. Elie Park berkata:

    Emak Kyuhyun gokiiiiil.. Haha… Itu tuh hukuman buat Kyu karena melewatkan ikan segar.. *eh…

  7. Afwi berkata:

    Ya ampun, emak yg satu ini kog begitu yaa, gk sabaran.
    Sabar maak, kak marchia pasti bikin mereka nikah kog. Kkkk

  8. Leah berkata:

    Emaknya Kyuhyun emang luar biasa wkwk seorang emak yg menjerumuskan anaknya untuk berbuat dosa
    Untung Kyuhyun tahan, meskipun susah. Mirae nya agresif banget, sampe kunci pintu aja dimasukin ke bra wkwk

  9. anie berkata:

    ya ampun kyuhyun punya emak ko gitu b
    anget yah,,hhhaaaaa somplak bangeut tuh emak,,, byngin kyuhyun brusaha brthan dri godaan miraa 😤kasian banget hhaaa,, seru seru semakin ksini critanya semkin pingin dilnjut kak,,,,

  10. KIKI berkata:

    Ini hal baru banget. Mi Rae beda dari yang biasanya, wow lucu Kyuhyun sangat tak berdaya saat di goda Mi Rae. Sungguh menyenangkan saat membacanya. Keren. Kyuhyun benar benar nunjukin perasaannya kalu dia sayang banget sama Mi Rae. Manisnya. Meraka masih belum pengen nikah. Sayang Nyonya Cho ngebet banget pengen mereka nikah… Senangnya baca part ini

  11. KIKI berkata:

    Ini hal baru banget. Mi Rae beda dari yang biasanya, wow lucu Kyuhyun sangat tak berdaya saat di goda Mi Rae. Sungguh menyenangkan saat membacanya. Keren. Kyuhyun benar benar nunjukin perasaannya kalu dia sayang banget sama Mi Rae. Manisnya. Meraka masih belum pengen nikah. Sayang Nyonya Cho ngebet banget pengen mereka nikah… Senangnya baca part ini 😁

  12. Hana Choi berkata:

    Ada ya ibu kaya gitu biar anaknya ngelakuin hal” itu. Kocak banget deh aku aja udh deg” an dikirain beneran bakalan terjadi eh ternyata gagal hahaha kasian banget kyuhyun disini dia yg ketakutan dan terkena imbasnya juga. Ny. Cho bener” ibu yg gokil lah demi ngedapetin cucu dan demi kyuhyun nikah dia lakuin segala cara tapi tetep aja ga berhasil

  13. faliin berkata:

    Ya ampun terbuat dr apa kau cho kyuhyun, bisa menahan godaan yg sungguh luar biasa… Dan pasti sangat tdk mudah hahahahaha
    Ternoda sudah image mu gadis datar!!!
    Ahhh suka banget part ini,,,nyonya cho maaf misimu belum berhasil!!!

  14. ina berkata:

    kyu…. sabar yah…… wkwkwkwkwk (jahat bgt)
    ibunya kyu ampun-ampun dah…. wkwkwkwk
    ah.. ga tau mesti komen apa lagi..
    sepanjang baca ini cuma ketawa cekikikan kerjaan nya wkwkwkwk

  15. whitedear berkata:

    baru kali ini lihat eomma yg mala menjerumuskan anaknya sendiri wkwkwk niatnya menjebak kyuhyun ehh malah mi rae yg kena hahahaha eomma kyuhyun selalu bikin tertawa aja ini :v

    untung kyuhyun bisa menahan untuk tidak tergoda dn juga mi rae langsung tertidur kalau nggak gitu jadi berhasilkan rencana eomma kyuhyun buat dapetin cucu wkwkwk

  16. de15 berkata:

    Ya Allah.. Ada yah ibu segokil itu.. Gak bisa nahan tawa…daritadi cekikikan kaya org gila😆😆😆
    Di saat para orang tua khawatir anaknya terjerumus ke hal yg tidak2.. Ini malah sengaja menjurumuskn anaknya.. Wakakakaka…. Gokil parah…

  17. Kyuni berkata:

    Satu kalimat buatkyuhyun “kyuhyun~ah iamnmu kuat banget” padahal udh digoda oleh penggoda tingkat terakhir masih aja tahan,,,nggak ada ibu didunia ini yg lebih luar biasa daripada nyonya cho nggak tertandingi keusilannya

  18. noebita berkata:

    Emak 1 itu ya tuhan bisa ketjeh banget dia. Haha aku slalu suka ma nyonya cho. .. gak ngerti gimana tampang kyu dikasih hukuman begitu banyak. Kyu pria keren , punya iman kuat banget

  19. Chokyuangel berkata:

    Hahahaaa..ibunya kyu ngeri ya marahnya…buat org susah…wwkwkkwkw….botak2 da tu si kyu semingg fulll kerjanya gantiin tugas ibunya pula……..

  20. aulia fitri berkata:

    Haha ngga nyangka aja nyonya cho bakal bertindak sejauh itu, wah tpi jatuhnya jdi lucu aja gitu hahaha. Kalo beneran punya ibu kaya gitu sudahlahhh,,,
    Salut sma kyuhyun yg ngejaga komitmen mi rae sampai sekuat itu 👍

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s