Pianist’s Melody (Part 8)

pianists-melody-poster-2

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

She’s Back

 

 

Mobil yang dikemudikan oleh Kyuhyun melesat cepat di jalanan. Beberapa kali ia menyalib mobil lain. Terkadang klakson sengaja dibunyikan dengan tidak sabaran saat beberapa mobil seolah-olah menghalangi jalannya. Tak jarang umpatan keluar dari mulut Kyuhyun sembari memukul stir. Wajahnya masih menegang dan ia tampak sangat frustrasi sekarang. Mobil lalu berbelok. Jalanan yang selalu sepi itu memberi kesempatan pada Kyuhyun untuk menambah kecepatan mobilnya.

Suara decitan terdengar ketika mobil berhenti di pekarangan rumah mewah milik Keluarga Seo. Kyuhyun turun dari mobil dan tergesa-gesa memasuki rumah. Kedatangan Kyuhyun membuat Bibi Han berlari-lari dari arah dapur. Tergopoh-gopoh wanita itu menghampiri Kyuhyun yang berhenti melangkah di anak tangga pertama yang akan membawanya ke lantai dua.

“Kyuhyun? Kenapa kau tergesa-gesa?”

“Di mana nona?”

Bibi Han mengerjap, “Kau bicara apa? Kau juga tahu kalau nona sudah meninggal. Jadi kenapa kau bertanya begitu?” kepala Kyuhyun menggeleng, ia tidak memercayai apa yang dikatakan oleh bibinya.

“Bibi tahu? Hari ini aku melihatnya. Katakan di mana nona berada? Apa dia di kamarnya?”

“Cho Kyuhyun!” Bibi menarik tangan Kyuhyun, mencegahnya naik ke lantai dua. “Jangan mengada-ada. Nona sudah meninggal dunia tujuh tahun lalu. Kau pasti telah salah mengenali orang.”

“Bukan aku yang mengada-ada!” Kyuhyun menepis kasar tangan bibinya. “Aku melihatnya. Nona tepat di depan mataku dan aku tidak pernah salah mengenalinya. Kalaupun dia bukan Nona Yun Ae, lalu kenapa dia terlihat bersama-sama dengan Lee Donghae? Pelayan di rumah ini?” wajah Bibi Han memucat. Ia kebingungan dan juga tampak sangat cemas. Kyuhyun lantas memegang tangan wanita itu. “Bibi, tolong tidak membohongiku. Kumohon, katakan yang sebenarnya. Yang aku lihat tadi, benar-benar Seo Yun Ae dan Bibi tahu kalau aku benar,” kalau diingat-ingat, ia pernah merasa janggal dengan kematian Yun Ae. Keluarga Seo adalah keluarga yang terpandang, tapi anehnya tidak ada satu pun media yang memberitakan kabar kematian Seo Yun Ae.

“Cho—Kyuhyun?”

Suara itu memecah ketegangan yang terjadi antara Bibi Han dan Kyuhyun. Seorang gadis bersurai dark brown, entah sejak kapan telah berdiri di sana, di dekat pintu sebuah ruangan yang Kyuhyun tahu—kalau peruntukannya tidak berubah—adalah perpustakaan. Ada seorang pria yang bersamanya. Wanita itu memiliki tatapan sebening air. Sorot mata yang begitu bercahaya dan seolah-olah tersenyum. Hidungnya mancung, bibirnya mungil dan sedikit berisi.

Iris Kyuhyun bergerak mengikuti wanita yang sedang berjalan menghampiri mereka. Wanita itu memindai Kyuhyun dari kaki sampai kepala tanpa malu-malu. Di sini, justru Kyuhyun yang menjadi canggung. Dari sorot mata, wanita itu tampak terpesona dan mengagumi sosok tampan yang berdiri di hadapannya.

“Kau—Cho Kyuhyun sang pianis itu, kan?” ia bertanya tanpa memalingkan tatapannya dari Kyuhyun. Matanya sangat berbinar-binar. “Astaga! Aku adalah penggemar beratmu. Aku bahkan menonton semua penampilanmu di Seoul. Permainanmu luar biasa.”

“Terima kasih,” Kyuhyun kebingungan harus seperti apa menanggapi antusiasme wanita itu. Jadi, ia hanya tersenyum. Wanita itu seolah menahan napas karena melihat senyum menawan Kyuhyun.

“Aku sudah meletakkan obat di meja. Sudah waktunya untuk minum obat,” Bibi Han berujar pelan sambil menepuk lembut bahu wanita itu. Tatapan Bibi Han beralih pada pria yang masih berdiri di depan pintu perpustakaan, “Tolong antar nona ke kamarnya,” laki-laki itu mengangguk.

Baik Kyuhyun maupun Bibi Han masih memandangi wanita itu saat ia menaiki anak tangga. Pria yang terlihat keluar bersamanya dari perpustakaan tampak berjalan mengekorinya. Hingga mereka benar-benar menghilang, tatapan Kyuhyun mengarah pada Bibi Han yang langsung memberi penjelasan padanya. “Kau pasti kebingungan. Dia adalah Seo Hana, putri dari Tuan Seo Jin Hwan,” pantas saja Kyuhyun melihat kemiripan antara wanita itu dengan Yun Ae. “Dan yang bersama Nona Hana adalah Ray, pengawal pribadinya.”

Sebenarnya penjelasan Bibi Han membuat kerutan halus di dahi Kyuhyun muncul, tapi itu tidak berlangsung lama setelah Kyuhyun teringat lagi pada tujuan utamanya mendatangi rumah itu. “Lalu bagaimana dengan nona? Yang kulihat itu benar-benar nona, kan? Di mana dia sekarang?” Bibi Han diam beberapa saat sebelum kepalanya terangguk pelan, membenarkan kalau orang yang ditanyai Kyuhyun memang masih hidup.

Tangan Kyuhyun bergerak ke kepala dan mulai memijit pelipisnya. Bertahun-tahun ia hidup dalam duka. Mereka bilang Yun Ae meninggal. Jujur saja, dibalik kekalutannya, Kyuhyun berlonjak girang karena orang yang begitu ia harapkan ternyata masih hidup. Hanya saja, mengapa mereka harus menciptakan sebuah kebohongan? Kepalanya terasa akan pecah memikirkan semua hal yang berada diluar jangkauannya.

“Kyu. Nona Yun Ae yang sekarang, tidak seperti yang kau kira.”

Kyuhyun mengernyit, ia tidak memahami maksud Bibi Han. Mengapa semua orang seperti sedang bermain-main dengannya? “Katakan saja, di mana aku bisa menjumpai Yun Ae?”

“Tunggulah sebentar lagi. Nona akan segera pulang bersama Sekretaris Lee.”

“Sekretaris Lee? Apa dia orang yang sama dengan pelayan itu? Lee Donghae?” pertanyaan Kyuhyun tidak dijawab, namun ekspresi Bibi Han membenarkan dugaan Kyuhyun. Desisan Kyuhyun mengudara lagi. Entah kenapa, akan tetapi mereka semua senang berbohong.

“Nona akan mulai bekerja di perusahaan.”

Hebat. Orang yang dikabarkan sudah meninggal itu ternyata sedang sibuk mengurusi perusahaan. Kyuhyun hanya bisa tertawa bodoh. Ia bingung harus seperti apa menyikapi semua itu. Terlalu tiba-tiba dan ia tidak pernah menyiapkan dirinya untuk menghadapi situasi semacam itu.

“Selamat datang, Nona.”

Seorang pelayan terlihat membukakan pintu raksasa, dimana seorang wanita cantik berpenampilan elegan baru saja masuk. Di belakangnya, berjalan seorang pria. Tak jauh dan masih mematung di tempatnya berpijak, Kyuhyun sudah kehilangan kata-kata. Kemarahan dan kekesalannya yang meluap-luap tadi, hilang tak berbekas setelah melihat wajah wanita itu. Benar. Tidak salah lagi, itu Seo Yun Ae. Mereka bertatapan dan Kyuhyun membeku. Ada yang lain dari sorot mata wanita itu. Tatapan Yun Ae begitu dingin dan ekspresinya sangat datar. Seolah, Yun Ae tidak merasakan apa-apa meskipun ia berhadapan dengan Kyunie-nya. Ah, masa bodoh dengan tatapan dingin itu. Kyuhyun akan memikirkannya lain kali saja. Sekarang, Kyuhyun hanya ingin meluapkan kerinduannya. Dengan tergesa-gesa, ia menghampiri Yun Ae dan langsung melabuhkan Yun Ae ke dalam pelukannya.

“Kau masih hidup,” Kyuhyun tidak bisa memercayai itu. Ia benar-benar sedang memeluk Yun Ae. “Syukurlah. Kau masih hidup,” tak henti-hentinya ia berterima kasih sambil mendekap Yun Ae semakin erat. “Nona,” matanya memejam, meresapi rasa bahagia yang sedang melandanya.

Pelukan Kyuhyun melonggar dan tatapan mereka kembali bertemu. “Senang bisa bertemu lagi, Cho Kyuhyun,”  terkesan biasa-biasa saja ketika Yun Ae berkata demikian. Kyuhyun menegang. Hanya seperti itu? Apa-apaan? Yun Ae tidak terlihat merindukannya.

Setelah berbohong selama bertahun-tahun, tidak adakah satu kata maaf? Tidak adakah penyesalan? Apalagi sebuah penjelasan. Tidak apa-apa, Kyuhyun tidak terlalu memusingkan itu. Akan tetapi, Kyuhyun merasa sakit hati setelah mendengar cara Yun Ae memanggilnya. Padahal dulu ia sempat meributkan hal yang terdengar sepeleh itu. Apakah posisinya di hati Yun Ae telah bergeser? Seolah tak peduli dengan perasaan Kyuhyun; Yun Ae justru berbicara pada Lee Donghae sambil berlalu dari situ. Topiknya terdengar seperti pembicaraan khas orang kantoran. Kyuhyun hanya dapat menatap nanar, tak percaya pada apa yang baru dialaminya.

“Tiga tahun koma, nona akhirnya bangun, dan semuanya berubah. Nona menjadi seseorang yang jauh berbeda dengan nona yang sebelum kecelakaan hebat itu terjadi.”

Hati Kyuhyun begitu hancur. Ingin berteriak, tapi lidahnya bahkan tertelan jauh ke dalam mulut. Mengapa ada kejadian yang seperti itu? Kyuhyun marah, tapi tidak tahu pada siapa ia harus melampiaskan kemarahannya. Semua berkabut dalam kepalanya.

♪♫♩♬

Jessey hampir memuntahkan minumannya saat Kyuhyun mengatakan sesuatu padanya. Ia kembali meletakkan gelas di meja bar dan langsung menghadapkan tubuhnya pada Kyuhyun. Jessey berharap jika telinganya telah salah menangkap informasi, tapi melihat ketenangan Kyuhyun, ia mulai menyangsikan dugaannya.

“Kau bilang—apa?” Jessey bertanya takut-takut. Mencoba untuk memastikan.

“Aku tidak akan ke Wina,” dengan santai, Kyuhyun menyesap minuman. Seketika Jessey merasa pusing. Ternyata ia memang tidak salah dengar. Ia menuangkan minuman ke dalam gelasnya dan menghabiskan minuman itu dalam sekali teguk.

“Kau bercanda, bukan?” erang Jessey. Kyuhyun tidak menjawab. Jessey kembali mendesis panjang. “Astaga, Kyu! Kita sudah menandatangani kontrak. Kalau kau tidak tampil, maka—”

“Kembalikan saja uang mereka dan bayar ganti ruginya!” tandas Kyuhyun, kesal. Belakangan ini emosinya memang sedang diuji. Ia menatap Jessey dengan mata yang berkilatan, “Aku tidak akan meninggalkan Seoul untuk beberapa saat ke depan. Tolong lakukan seperti yang kukatakan, J,” dan di saat-saat begini, Jessey tahu jika Kyuhyun tidak ingin mendengar sebuah penolakan dalam bentuk apa pun.

But, why?

Baik. Jessey tidak keberatan untuk mengikuti semua permintaan Kyuhyun, tapi ia membutuhkan alasan yang jelas. Tidak masalah jika mereka mengembalikan uang dan harus membayar denda, tapi yang dibutuhkan sekarang adalah alasan pembatalan Kyuhyun sehingga Jessey dapat memberikan jawaban yang tepat kepada mereka. Jessey tidak ingin Kyuhyun kehilangan kepercayaan.

She’s still alive,” jawaban singkat yang terlontar dari mulut Kyuhyun berhasil membuat Jessey terperanjat dan tangan wanita itu bergerak, membekap mulutnya agar tidak menjerit. “So, I’m not going to anywhere.

Are you sure?

“Aku sudah mengklarifikasinya.”

“Wanita yang kau kejar tadi?” tanya Jessey dan dijawab oleh anggukan kepala Kyuhyun. Jessey mengerang. Bukan karena Kyuhyun meninggalkannya seorang diri demi mengejar wanita itu, tapi karena ia merasa menyesal tidak begitu memerhatikan saat wanita itu berjalan melewatinya.

♪♫♩♬

Sudah tengah malam, Kyuhyun dan Jessey baru tiba di hotel. Begitu sampai di room mereka, Kyuhyun segera membanting dirinya di atas sofa. Jessey melesat ke meja bar dan mulai menuangkan minuman dalam dua buah gelas. Setelah itu, ia menghampiri Kyuhyun dan duduk di sofa lainnya setelah menyerahkan gelas yang satunya lagi pada Kyuhyun.

“Kau berniat membunuhku rupanya,” ujar Kyuhyun setelah membasahi kerongkongannya dengan minuman. Jessey hanya tersenyum simpul.

“Jangan mengeluh. Karena kita akan berada di Seoul untuk jangka waktu yang belum ditentukan, kupikir ini kesempatan baik untuk menerima tawaran mereka. Lagi pula, kau sudah menolak kontrak di Wina,” tukas Jessey. Sudah tidak terhitung berapa banyak pihak yang menawarkan Kyuhyun untuk sebuah kerja sama. Karena Jessey menyetujui, sehingga Kyuhyun menjadi orang yang sangat sibuk. “Omong-omong, siapa wanita itu?” Jessey tiba-tiba teringat pada seseorang.

“Yang mana? Terlalu banyak wanita di sana. Kau sendiri tahu, kalau penggemarku sangat banyak,” sebenarnya Kyuhyun tidak bermaksud menyombongkan diri, karena kenyataannya, ia mendadak dikerubungi oleh penggemarnya yang mayoritas berasal dari kalangan wanita. Mereka selalu ada di mana-mana. Setelah mengetahui sang pianis tampan itu menetap lebih lama di Seoul, mereka pun menjadi stalker.

“Wanita cantik yang selalu terlihat bersama pria berwajah canggung,” Jessey mempraktekkan ekspresi kaku laki-laki yang dimaksudnya. Ia sedang bertanya tentang Seo Hana. Belakangan ini Hana memang selalu terlihat di dekat Kyuhyun, berbaur bersama-sama dengan penggemar lainnya. Namun, Kyuhyun sedang tidak ingin menjelaskan apa-apa pada Jessey.

♪♫♩♬

“Tidak lama lagi kau diperkenalkan pada publik,” Tuan Seo Jin Hwan sedang berbicara, tangan kirinya tampak sibuk memainkan pena, memutar-mutar begitu saja. Di ruangan yang merupakan ruang kerja mendiang ayah Yun Ae, ada beberapa orang yang bersama Tuan Seo Jin Hwan. “Sampai saat itu, jangan membuat kehebohan,” ia mengawasi wajah tenang Yun Ae.

“Kesiapannya sudah sembilan puluh persen,” Lee Donghae ikut berbicara. Sementara Donghae melaporkan sesuatu, Tuan Jin Hwan mengangguk-angguk, sedang menyimak.

“Omong-omong, di mana Ray?” tanya Tuan Jin Hwan setelah menyadari jika ada seseorang yang tidak hadir pada pertemuan kali itu.

“Ray Hyung, akhir-akhir ini sedikit direpotkan oleh Nona Hana,” celetuk Donghae.

“Hana? Memangnya ada apa?”

“Cho Kyuhyun sudah kembali.”

Tuan Jin Hwan terperanjat begitu mendengar penuturan Yun Ae. Ia mencari keseriusan dibalik perkataan Yun Ae, tapi raut datar Yun Ae tidak memberinya cela untuk meragukan informasi yang baru didengarnya. Pasalnya, baru hari ini Tuan Jin Hwan kembali dari Jepang dan ia disibukkan dengan pekerjaan sehingga tidak mendengar kehebohan yang terjadi di Seoul.

“Astaga! Kenapa harus disaat-saat begini?” Tuan Jin Hwan mengerang frustrasi.

“Maaf, Paman. Ini semua karena aku. Kalau saja Kyuhyun tidak melihatku hari itu, dia mungkin sudah meninggalkan Seoul.”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Semua sudah telanjur. Sekarang, kita harus fokus pada rencana kita. Selain itu, Cho Kyuhyun harus tetap diawasi, jangan sampai rencana kita gagal karenanya.”

Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian. Bibi Han menghampiri mereka. “Tuan, Kyuhyun ada di sini.”

“Apa?”

“Kyuhyun dan seorang wanita berambut pirang.”

Seo Yun Ae hanya menatap dalam diam. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Tuan Jin Hwan juga tidak terlihat tenang mendengar kabar yang disampaikan Bibi Han.

Kyuhyun dan Jessey sudah berada di balkon, tempat di mana dirinya dan Yun Ae menghabiskan banyak waktu. Yun Ae sangat menyukai balkon itu. Hari ini, kegiatan mereka tidak begitu banyak dan Kyuhyun yang berinisiatif mengajak Jessey ke situ. Kyuhyun ingin melihat Yun Ae. Ia sangat merindukan Yun Ae.

“Oh. Jadi ini tempat bersejarah itu,” Jessey menyapu surainya yang dipermainkan angin. Ia bersandar pada pagar pembatas, sementara Kyuhyun menghadapkan tubuh ke depan dengan meletakkan lengannya di atas pagar.

“Hm, sudah lama sekali,” Kyuhyun bergumam pelan.

“Tidak apa-apa kau mengajakku ke sini?” Jessey bertanya dan Kyuhyun menjawab dengan seulas senyum. “Seo Yun Ae mungkin tidak akan menyukainya. Kau bilang, ini tempat yang sangat disukainya.”

“Aku juga penasaran.”

“Maksudmu?”

“Apa yang kau lakukan di sini?” Kyuhyun didahului oleh Yun Ae yang sudah berdiri di situ. Kyuhyun lantas berbalik. “Apa yang membuatmu datang ke sini?” Yun Ae bertanya lagi.

Ah, Seo Yun Ae sungguh berubah. Ia memperlakukan Kyuhyun dengan dingin. Jessey membungkam, tidak berani menyela, dan hanya menyimak dua orang itu dengan tatapannya yang berpindah-pindah dari Kyuhyun lalu bergantian pada Yun Ae.

“Nona,” dada Kyuhyun selalu bergemuruh setiap kali melihat Yun Ae. Mulutnya terlalu kelu untuk berkata kalau ia sangat merindukan sosok itu.

“Kau seharusnya sangat sibuk,” Yun Ae berujar pelan. Ia menatap Jessey beberapa saat dan kembali berpaling pada Kyuhyun. “Rumah ini bukan tempat wisata.”

“Aku ingin bertemu denganmu,” kata Kyuhyun cepat, sebelum Yun Ae pergi. Yun Ae berbalik lagi padanya.

“Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kau katakan, tolong segera tinggalkan tempat ini.”

Baik Kyuhyun maupun Jessey sama-sama terdiam hingga beberapa detik sepeninggal Yun Ae. Alis Jessey bertaut, ini tidak seperti apa yang ia bayangkan. Jessey tidak mengira justru adegan yang tampak seperti perang dingin itu yang akan ia saksikan.

“Kau lihat?” Kyuhyun memecah kesunyian di antara mereka. “Dia memang Seo Yun Ae, tapi bukan Seo Yun Ae yang kukenal.”

“Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap sedingin itu padamu?”

“Entahlah, aku juga kebingungan.”

“Kau yakin tidak melakukan kesalahan apa pun padanya?”

“Tidak. Kami baik-baik saja sampai percakapan terakhir kami sebelum Yun Ae mengalami kecelakaan. Dia sudah seperti itu sejak kami bertemu lagi. Entah apa yang sudah kulewatkan selama sembilan tahun terakhir,” Kyuhyun diam. Sambil tersenyum, ia menoleh pada Jessey. “Ayo pergi sebelum kita diusir untuk kedua kalinya,” kerling Kyuhyun dan mereka berdua beranjak dari balkon.

-Bersambung-

Hai semuanya!!!

Segala sesuatu akan dimulai di sini.

Sy masih menunggu analisa jitu kalian semua hohoho

Okay, sampai jumpa di part 9

Mmuuuuaccchhh ^^

Iklan

106 thoughts on “Pianist’s Melody (Part 8)

  1. ayu pujining berkata:

    masih penasaran sama perubahan sikapnya yun ae.
    kasian sebenarnya sama kyuhyu. Hana juga siapa sih

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s