Drama (Part 18)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Lee Hyukjae tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar cerita Kyuhyun tentang kejadian naas yang dialaminya tiga hari lalu. Hyukjae tidak peduli pada Kyuhyun yang memberengut, serasa ingin menimpuk kepalanya dengan apa pun yang bisa diraih oleh Kyuhyun.

“Jadi itu alasanmu menghilang dari peredaran selama beberapa hari ini?” Hyukjae meringis karena otot wajahnya terasa lelah, kebanyakan tertawa.

Hari ini, Lee Hyukjae sengaja bertandang ke kantor Kyuhyun demi memeriksa kondisi Kyuhyun. Cemas kalau-kalau Kyuhyun sudah kaku di ruang kerjanya. Karena tidak biasanya Kyuhyun tak dapat dihubungi. Kecemasannya bertambah setelah ia menerima pesan Kyuhyun yang menyuruhnya menemui pemuda itu kalau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Begitu mendengar cerita lengkap, bukannya prihatin, tapi justru lengkingan tawa Hyukjae yang diterima Kyuhyun.

“Kalau kau hanya ingin menertawaiku, sebaiknya kau pulang sekarang juga. Pekerjaanku sangat banyak.”

“Maaf, aku hanya tidak bisa mengendalikan diri,” Hyukjae terkekeh. “Waah, ibumu luar biasa. Dia idolaku,” celetuknya sembari mengangkat jempol.

Cho Kyuhyun mendengus, “Sekarang ibu justru menghukumku. Coba pikirkan, yang seharusnya marah itu adalah aku, kan? Tapi, ibu justru membalikkan keadaan, seolah-olah di sini akulah yang bersalah. Wanita itu sangat licik,” keluhnya dan hanya disambut oleh senyuman lebar Lee Hyukjae.

“Aku tahu kalau bibi gemar berimprovisasi dengan trik, tapi aku tidak mengira bibi akan melakukan hal sejauh itu. Hebat,” walau tahu Kyuhyun sedang suntuk, tapi Hyukjae tidak bisa berhenti tertawa. “Aku akan menghubungi bibi,” Hyukjae berkata sembari mengeluarkan ponsel.

“Kenapa kau ingin menghubungi ibuku?”

“Aku ingin tahu jenis obat apa yang dicampurkan ke anggur itu. Akan kuberikan pada Jin Ae,” Hyukjae mengedipkan sebelah matanya. Secepat kilat, Kyuhyun merampas ponsel Hyukjae.

“Kau gila.”

“Aku hanya bercanda,” ujar Hyukjae. Ia mengambil ponselnya di tangan Kyuhyun, lalu menyimpan ponsel itu di saku celananya. “Kau ini terlalu serius. Omong-omong, bagaimana dengan Mi Rae?”

“Kuharap dia tidak mengingat kejadian malam itu,” Kyuhyun mendesah panjang. Ia beristirahat sejenak dari tumpukan dokumen di atas meja kerjanya.

Kerutan samar mulai muncul di dahi Hyukjae, “Kau belum bertemu dengannya?”

“Hey! Kau tidak lihat, ya? Aku hampir tidak punya waktu untuk mandi, dan kau masih bertanya begitu?” pertanyaan Hyukjae justru memancing emosi Kyuhyun. Sudah tiga hari ia bekerja sangat keras, bahkan dirinya harus rela pulang larut malam. “Tapi, aku sudah mengiriminya pesan,” ujarnya lagi, dan kembali sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya yang menggila.

Hyukjae hanya tersenyum tipis, sebelum akhirnya berkata, “Santai, Bro. Kau ini sensitif seperti pantat bayi saja.”

Gerakan tangan Kyuhyun terhenti, kemudian kepalanya terangkat, memandangi Hyukjae yang sedang tersenyum sumringah memamerkan gusi merahnya itu.

Tidak perlu menunggu semenit berlalu. Kim Ryeowook terkejut karena suara pintu yang berbunyi cukup keras. Ia mendapati Lee Hyukjae baru saja menutup pintu ruang kerja Kyuhyun dengan tergesa-gesa. Pemuda itu hanya tertawa kecil menanggapi sorot mata keheranan Ryeowook, “Dia sedang datang bulan,” katanya sambil berlalu dengan sebelah tangan yang mengelus-elus dahinya yang memerah karena ia terlambat menghindari buku agenda yang melayang padanya.

***

Pernahkah kau merasa telah mengalami sesuatu yang dirasa sangat penting, namun kau justru tidak ingat? Kau pasti berusaha mati-matian untuk mengingat dan kepalamu menjadi sangat sakit karenanya. Walau berusaha keras, kau tak berhasil mengorek sedikit saja dari rahasia yang terpendam jauh dalam ingatanmu itu sehingga kau menjadi sangat penasaran. Saat ingatan itu seolah-olah sedang mempermainkanmu dengan membawamu pada titik dimana kau mulai mengingat penggalan dari kejadian penting itu, dan disaat bersamaan, semua kembali berbayang. Kau pasti sangat kesal. Lalu kau berkata bahwa tidak apa-apa untuk lupa, tapi kenyataannya kau tak berhenti memikirkan hal tersebut dan masih saja memaksa otakmu untuk membuka tabir rahasia itu.

Baek Mi Rae mendongakkan kepalanya dan ia terlihat putus asa. Ia menarik napas sangat panjang. Tiga orang perawat jaga UGD yang berada di belakang meja setinggi dada orang dewasa itu hanya saling lempar pandang melihat Mi Rae berdiri di hadapan mereka sambil menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja tinggi berbahan marmer tersebut. Apalagi tatapan Mi Rae menerawang jauh.

“Kau seperti sedang memikirkan banyak hal?” Perawat Min yang merupakan perawat senior di UGD tak kuasa menahan rasa penasarannya sehingga ia melayangkan pertanyaan tersebut, dan membuyarkan lamunan Mi Rae.

“Mm, tidak. Tidak apa-apa,” jawab Mi Rae. Ia tersenyum tipis, kemudian berlalu begitu saja bahkan ia mengabaikan Perawat Min yang beberapa kali memanggil namanya.

“Ck, pasti ada sesuatu yang sedang mengganggunya,” ujar Perawat Min dan disetujui oleh kedua perawat lainnya. Perawat Min baru saja hendak menyimpan data pasien saat Baek Mi Rae terburu-buru menghampirinya. “Dengarkan saranku. Kau butuh refreshing,” celetuknya sembari menyerahkan data pasien yang sebelumnya diminta Mi Rae. Gadis itu terlihat salah tingkah dan hanya mampu tersenyum malu lalu pergi setelah menundukkan kepala berkali-kali sebagai permohonan maaf. Ketiga perawat dibuat tertawa geli karena tingkah Mi Rae.

Saat ini Baek Mi Rae sangat terganggu dengan pikirannya yang sedang tidak fokus. Seminggu sudah ia disiksa oleh sesuatu yang begitu abstrak dalam kepalanya. Seperti kata Perawat Min, ada baiknya jika ia beristirahat selama satu atau dua hari. Bisa saja aroma khas rumah sakit mungkin yang menjadi penyebab utamanya. Namun, dengan melihat statusnya di rumah sakit itu; apa mungkin? Kalau dipikir-pikir, memang ada hal penting yang telah ia lewatkan dan hal itulah yang telah mengganggunya selama ini.

Setelah masuk ke dalam rumah, Mi Rae menyalakan lampu lalu segera menuju kamar dan langsung membuang diri ke atas tempat tidur. Ia memejamkan mata sementara tangan kanannya sedang memberi pijatan halus pada keningnya. Mi Rae teringat pada sesuatu yang membuatnya terduduk cepat, kemudian ia meraih tas yang terletak tak jauh dari sisinya. Ia mengeluarkan ponsel, memeriksa beberapa saat sebelum kembali menghempaskan tubuhnya di kasur. Matanya menerawang ketika memandangi langit-langit kamar tidurnya.

Masih tidak ada kabar dari Cho Kyuhyun. Sudah sembilan hari keadaan seperti ini berlangsung. Setelah kepulangan mereka dari Jeju, Kyuhyun sempat mengirimkan sebuah pesan yang isinya memberitahukan kalau pemuda itu akan sangat sibuk sehingga mereka mungkin tidak bisa bertemu. Selanjutnya, jangankan menelepon, sebuah pesan singkat dari Kyuhyun pun tidak pernah diterima Mi Rae.

Mi Rae merasa hal itu sangat aneh karena sebelumnya, Kyuhyun tidak pernah berlaku demikian. Sesibuk-sibuknya seorang Cho Kyuhyun, ia pasti akan mencari cara untuk menemui Mi Rae. Setidaknya Kyuhyun bisa mengabarinya entah itu dengan menelepon atau mengirim pesan, kan?

Karena hal itulah, keyakinan Mi Rae jika memang telah terjadi sesuatu saat mereka berada di Jeju semakin bertambah. Kyuhyun mulai bersikap aneh sekembali mereka dari sana. Mi Rae sangat yakin jika ia telah melakukan sesuatu.

TAPI APAAAA?

Kekesalan pada diri sendiri hanya mampu dilampiaskan Mi Rae dengan menarik-narik rambutnya, gemas. Ia meraih bantal dan menutupi wajahnya dengan benda itu. Akan lebih baik kalau ia dapat segera tertidur sehingga beban pikirannya bisa terlupakan.

***

Kantin rumah sakit yang cukup ramai membuat Han Jin Ae berdiri beberapa saat sembari mengawasi sekeliling, sementara tangannya sedang memegang nampan berisi makanan. Senyum di wajah Jin Ae mengembang, retinanya menangkap Baek Mi Rae yang sedang duduk seorang diri. Segera ia menghampiri Mi Rae, meletakkan makanannya di atas meja dan langsung mengambil tempat di hadapan Mi Rae.

“Hari ini sangat melelahkan,” celetuk Jin Ae. Ia memberi pukulan-pukulan ringan pada pundaknya. Mi Rae hanya mengawasi tanpa minat. Perilaku Mi Rae yang tidak bersemangat menjadi perhatian Jin Ae, tapi itu hanya berlangsung sekilas setelah Jin Ae memulai topik baru. “Hyukjae memintaku menemaninya di pesta ulang tahun Daehan Group. Kau juga pasti pergi, kan? Ah, aku lupa. Tentu saja kau akan pergi,” ucapnya dengan kepala yang terangguk-angguk. Tidak mungkin dirinya lupa akan status sahabatnya itu. Boleh dikata, Baek Mi Rae adalah calon Nyonya Daehan Group.

Kata-kata Jin Ae sempat membuat gerakan tangan Mi Rae terhenti. Tampaknya ia tak berniat menanggapi ucapan sahabatnya yang sangat berapi-api itu. Ia melanjutkan aktivitas makan siangnya, membiarkan Jin Ae terus berceloteh tentang pesta dan segala sesuatunya.

“Apa yang kalian lihat?”

“Pewaris Daehan Group. Dia sangat tampan.”

Untuk kedua kalinya, gerakan sendok di tangan Mi Rae terhenti. Demikian juga dengan Jin Ae. Mereka memberi perhatian pada sekumpulan perawat yang duduk tak begitu jauh dari tempat mereka. Para perawat itu sedang melihat-lihat berita seputar Cho Kyuhyun.

“Ya, kau benar. Seandainya saja dia pacarku. Kalau aku diberi kesempatan, aku rela melakukan apa pun untuk mendapatkan orang seperti dia.”

“Berhentilah bermimpi!”

“Bisa-bisa kau terobsesi padanya.”

“Aku tahu. Aku tahu. Aku hanya sedang patah hati.”

“Omong-omong, siapa gadis yang berdiri di sebelahnya?”

Empat perawat itu begitu antusias dengan pemberitaan tentang sang pangeran pewaris Daehan Group tersebut.

“Seorang sosialita cantik yang ketenarannya menyaingi selebrity. Kim Ye Bin.”

“Kim Ye Bin, putri bungsu Ghaesung Group? Mereka berdua sangat cocok.”

“Bukan tidak mungkin jika mereka akan dijodohkan. Kehidupan para konglomerat tidak terlepas dari hal-hal seperti itu, kan? Perkawinan mereka lebih kepada perkawinan bisnis.”

“Sudah. Sudah. Hatiku semakin hancur mendengarnya.”

Bohong kalau Baek Mi Rae tidak terganggu karena bahan obrolan para perawat itu. Namun, ia lebih memilih mengurung rapat suaranya dan menyendoki makan siangnya. Akan tetapi, Han Jin Ae yang melihat gelagat aneh Mi Rae berusaha untuk menghibur sahabatnya itu dengan melakukan penyangkalan-penyangkalan terhadap pendapat para perawat tadi.

“Jangan dengarkan mereka. Cho Kyuhyun tidak mungkin berpaling darimu. Dia begitu tergila-gila dan mengejarmu. Hoah, gadis-gadis itu membuatku sebal. Apa perlu aku beritahu siapa sebenarnya kekasih Cho Kyuhyun?”

Sendok di tangan Mi Rae dihempas cukup kasar sehingga membuat Jin Ae agak terkejut. “Bisakah kita makan dengan tenang?” kekesalan terpancar dari sorot mata Mi Rae.

“Ada apa? Terjadi sesuatu antara kau dan Kyuhyun?”

“Tidak.”

“Kau berbohong.”

“Kenapa aku harus membohongimu?”

“Lalu kenapa kau marah-marah?”

“Karena aku tidak bisa menelan makananku dengan baik! Kau sangat berisik!” Mi Rae beranjak dan meninggalkan Jin Ae yang mematung.

Han Jin Ae tertawa sambil mendengus tak percaya, “Apa-apaan dia? Cih, dasar gadis aneh,” ujarnya dan langsung memenuhi mulutnya dengan makanan.

Di toilet, Baek Mi Rae sedang membasuh wajahnya. Lalu ia menarik tissue dan mengeringkan wajahnya. Sekian menit ia terdiam memandangi dirinya di cermin, sementara kedua tangannya yang bertumpu pada wastafel terlihat mengepal kuat.

Okay. Fix. Ini sangat keterlaluan. Sudah genap dua minggu dan masih tidak terdengar kabar dari Cho Kyuhyun. Mi Rae sudah tidak tahan lagi. Selama ini ia sudah berusaha tenang, tapi ia tak bisa lagi mempertahankan sikap ketenangannya. Mi Rae mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik sebaris pesan dengan berapi-api. Lalu dirinya tersadar sebelum  pesan itu sempat terkirim.

“Apa yang kulakukan? Mengapa aku harus mengiriminya pesan seperti ini? Memangnya siapa dia sampai-sampai membuat aku melukai harga diriku? Baek Mi Rae, kembalilah ke akal sehatmu. Kau bukan sedang cemburu, tapi kelelahan. Benar. Aku hanya sedang kelelahan,” Mi Rae mengoceh tak jelas. Ia mengurungkan niatnya mengirim pesan itu.

Suara jangkrik yang bersumber dari ponselnya sendiri justru mengejutkannya. Sepertinya Mi Rae tak benar-benar berniat mengganti nada panggilnya yang kedengaran sangat aneh itu. Nama Dokter Park muncul di layar ponsel. Belum sempat Mi Rae menyapa, lengkingan tajam dokter pembimbingnya itu sudah mendahului.

Berapa jam yang kau butuhkan untuk menghabiskan makan siangmu? Cepat kemari! Ada keadaan darurat di sini!

“Ba-baik,” Baek Mi Rae menyimpan ponselnya dan tergesa-gesa ia berlari ke UGD.

Kekacauan terlihat jelas di UGD. Para dokter dan perawat begitu sibuk dengan pasien-pasien yang berdatangan. Ada sebuah gedung yang runtuh. Diduga terjadi kesalahan pada konstruksi bangunan, sehingga gedung yang sedang dalam tahap pembangunan itu ambruk dan melukai banyak pekerja yang berada di lokasi kejadian.

Jerit kesakitan korban, teriakan dokter yang berusaha menyelamatkan pasien, kegaduhan seperti itu berlangsung sangat lama. Keringat di dahi Mi Rae menunjukkan betapa lelahnya ia akan situasi genting yang terjadi di UGD. Situasi seperti itu adalah hal yang biasa terlihat di UGD. Walau lelah, tidak sedikit pun keluhan keluar dari mulut tenaga medis UGD.

“Dokter!  Aku tidak dapat merasakan nadinya!”

Dokter Jung yang sedang menangani pasien lain menoleh seketika pada pasien yang dimaksud Baek Mi Rae. Pasien yang merupakan salah satu korban bangunan runtuh itu kondisinya sangat parah. Dokter Jung bergegas ke tempat tidur pasien tersebut. Ia terlihat memeriksa sang pasien, “Dia mengalami henti jantung. Siapkan defibrillator. Segera!” teriak Dokter Jung, dan ia mulai melakukan CPR pada pasien tersebut. Mi Rae bergerak menuruti perintah kepala UGD.

Baek Mi Rae datang, mendorong defibrillator. Seorang dokter telah menggantikan Dokter Jung melakukan CPR pada pasien gawat tadi. Dokter Jung langsung menyambut peralatan yang dibawa Mi Rae.

“200 joules!”

Mi Rae melakukan sesuai perintah Dokter Jung. Pria paruh baya itu menempelkan alat yang memiliki bentuk seperti setrika itu ke dada pasien, memberi kejut listrik ke jantung si pasien. Belum ada perubahan.

“Sekali lagi!” ujar Dokter Jung. Kembali ia melakukan hal yang sama pada pasien.

“Dia sudah kembali,” teriak Mi Rae, matanya tertuju pada bedside monitor yang menunjukkan tanda-tanda vital si pasien yang berangsur pulih.

Dokter Jung menarik napas lega, begitu juga dengan beberapa dokter yang berada di sana. “Masih ada ruang operasi yang kosong?” tanyanya.

“Ruang delapan baru selesai digunakan.”

“Pesan ruang operasinya dan hubungi Departemen Anastesi. Kita harus segera melakukan operasi pada pasien ini.”

“Keluarganya belum bisa dihubungi. Kita tidak bisa melakukan operasi tanpa persetujuan wali pasien,” Dokter Park mencoa mengingatkan Dokter Jung.

“Kita tidak bisa menunggu lebih lama. Dengan kondisinya saat ini, dia tidak punya waktu untuk menunggu.”

“Tapi, Dokter—”

“Aku akan bertanggung jawab!” pernyataan tegas Dokter Jung menghenyakkan semua orang. “Aku akan mengambil tanggung jawab penuh atas pasien ini. Jadi, siapkan saja ruang operasinya.”

Meskipun keberatan dengan Dokter Jung, namun tidak ada yang dapat mereka lakukan. “Baik,” mereka pun mulai menyiapkan pasien untuk dibawa ke dalam ruang operasi.

Berjam-jam terlalui, dan keadaan mulai bisa dikendalikan setelah semua korban bangunan runtuh yang datang ke RS Anam mendapat penanganan.

Seorang dokter residen tahun kedua menghampiri Mi Rae yang sedang duduk melepas lelah di dalam sebuah ruangan yang biasanya dipakai para dokter untuk beristirahat. Ia menyerahkan sebuah minuman kaleng pada Mi Rae. “Kau sudah bekerja keras hari ini,” katanya.

“Terima kasih,” Mi Rae menerima minuman itu dengan sopan.

Setelah beristirahat beberapa saat, Mi Rae kembali ke bangsal UGD. Bersama dokter dan perawat, mereka rutin mengawasi pasien satu per satu. Sampailah Mi Rae ke tempat tidur pasien yang dioperasi tadi.

“Keluarganya sudah dihubungi?” Dokter Park sudah bergabung bersama Mi Rae.

“Iya, istri dan kedua anaknya berada di luar kota. Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul.”

“Awasi terus keadaannya. Dia harus tetap hidup,” Dokter Park bergumam. Kalau sampai terjadi sesuatu pada pasien itu, maka Dokter Jung yang akan disalahkan.

“Baik, Dokter.”

“Baek Mi Rae!”

Mendengar suara yang begitu lantang memanggil namanya, bukan hanya Mi Rae, tapi semua turut menoleh pada orang yang memanggil Mi Rae tadi. Seorang pemuda yang memakai celana kain berwarna hitam, dipadankan dengan kemeja putih dan dibalut oleh coat berwarna merah maroon. Penampilannya yang berkelas serta postur tubuhnya yang tinggi telah menarik perhatian semua orang. Mi Rae membelalak menyadari siapa yang sedang berdiri di sana, walau wajahnya tersamar karena orang itu melilitkan syal hingga menutupi mulutnya.

Cho Kyuhyun berjalan tegas, menghampiri Mi Rae yang tak berkutik. Begitu sampai di hadapan Mi Rae, ia langsung menarik Mi Rae ke dalam pelukannya. Mi Rae merasa tubuhnya semakin tak bisa digerakkan setelah menerima perlakuan Kyuhyun yang sangat mengejutkan itu. Sekian detik ia hanya termangu, merasakan pelukan Kyuhyun yang begitu ketat. Saat tersadar jika mereka sedang berada di UGD, dengan seluruh tim medis di sana, Mi Rae melepaskan diri dari Cho Kyuhyun.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Mi Rae sembari menoleh ke sekeliling. Semua orang telah memberi perhatian penuh pada mereka berdua.

“Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?” Kyuhyun justru balik bertanya.

Sementara itu, semua dokter dan perawat sudah saling berbisik, tampak penasaran dengan sosok yang bersama Mi Rae. Tak menunggu lama, Mi Rae lantas menarik tangan Kyuhyun. Ia membawa Kyuhyun menjauh dari UGD.

“Apa kau tidak lihat? Aku sedang bekerja dan kami sangat sibuk hari ini,” Mi Rae merasa kesal, kini semua orang pasti sedang membicarakannya.

“Tapi, apa maksudmu mengirim pesan itu padaku?”

“Pesan apa?”

“Kuharap kau tidak pura-pura lupa,” kata Kyuhyun. Melihat sorot mata Mi Rae yang tampak kebingungan, Kyuhyun mendesah tak percaya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya, “Kau bercanda, kan?” ia menunjukkan pesan itu pada Mi Rae.

Bola mata Mi Rae melebar setelah membaca apa yang tertulis di layar ponsel. Sebuah pesan yang terkirim atas nama dirinya.

-Aku sangat penasaran dan terus bertanya-tanya. Kupikir kau sangat sibuk. Lupakan saja. Aku juga orang yang sibuk. Jadi, mari kita sudahi saja hubungan kita. Omong-omong, gadis bernama Kim Ye Bin itu sangat cocok denganmu.-

“Jadi, katakan padaku. Apa maksudmu mengirimiku pesan seperti ini?” tanya Kyuhyun setelah menyimpan ponselnya di saku coat yang ia kenakan.

Baek Mi Rae membuang wajahnya ke sisi kanan, ia mendesis, dan mengumpat kesal. Sungguh, ia tak berniat mengirim pesan yang ditulisnya dalam keadaan emosi sesaat tadi. Setelah Dokter Jung meneleponnya, pasti pesan itu terkirim tanpa sengaja. Ah, bodoh sekali. Itu sangat memalukan, apalagi dengan deretan kalimat yang menurutnya sangat kekanak-kanakkan dan tidak terpelajar itu. Mi Rae mencoba mengendalikan diri, lalu ia menatap kembali pada Kyuhyun.

“Sebenarnya, aku tidak bermaksud begitu—tapi, ya sudahlah,” kata Mi Rae sembari menahan malu.

“Kau tidak serius ingin putus dariku, kan?”

Mi Rae terdiam beberapa saat. “Ini semua salahmu. Kau sama sekali tidak menghubungiku. Aku tak mengira kau akan sekejam itu menyiksaku.”

Mi Rae sedang marah, tapi melihat kemarahan Mi Rae justru menimbulkan rasa senang dalam hati Kyuhyun. Marah-marah Mi Rae, bagi Kyuhyun terdengar seperti gadis itu sedang menantikannya. “Kupikir, aku sudah mengatakan padamu kalau aku akan sangat sibuk.”

“Ayolah, itu alasan yang sangat klasik. Memangnya kau tidak punya waktu untuk makan? Sampai-sampai mengirimiku pesan pun tak bisa.”

“Mi Rae, bukan itu maksudku. Aku tidak mengira kau akan berpikir begitu. Aku memang sibuk, dan aku selalu ingin menghubungimu, tapi kupikir  kau butuh waktu untuk berbicara denganku.”

“Aku? Kenapa?”

“Kau—tidak ingat?”

Mi Rae berpikir beberapa saat, kemudian ia berkata, “Sebenarnya aku agak penasaran. Apakah terjadi sesuatu saat kita berada di Jeju?”

Mendengar pertanyaan Mi Rae yang begitu polos, Kyuhyun menarik napas lega. “Tidak. Tidak ada yang terjadi.”

“Kau tidak pintar berbohong.”

Kyuhyun terkekeh, ia memegangi pundak Mi Rae dengan kedua tangannya. “Ya, tapi bukan sesuatu yang harus kau ingat. Akan lebih baik jika kau tak mengingatnya,” Mi Rae ingin menyela, tapi Kyuhyun tidak memberinya kesempatan. “Aku minta maaf karena mengabaikanmu selama ini, tapi aku senang akan satu hal.”

“Apa itu?”

“Kau cemburu.”

“Aku? Cemburu? Jangan bercanda,” Mi Rae tertawa kaku. Sekarang ia harus memikirkan cara untuk mengelak dari semua tuduhan Kyuhyun yang sayangnya, memang benar. Hallo, dimana harga dirinya jika ia sampai harus mengakui itu? Kalau ia mengaku, maka itu sama saja dengan suka rela membiarkan dirinya digoda Kyuhyun habis-habisan.

Omong-omong, gadis bernama Kim Ye Bin itu sangat cocok denganmu,” Kyuhyun mengulangi kalimat terakhir dalam pesan yang dikirim Mi Rae padanya. Sontak saja Mi Rae memalingkan wajahnya, dan mendesis tajam. “Jangan khawatir. Tidak ada hubungan apa pun antara aku dan gadis itu. Hubungan kami terjadi hanya karena bisnis.”

“Kenapa kau harus menjelaskan itu padaku? Aku tidak cemburu. Aku hanya berpikir secara rasional. Kupikir gadis itu lebih pantas dibandingkan aku. Latar belakang keluarga kalian sangat cocok. Kalau kalian—”

Kyuhyun menghentikan kalimat Mi Rae dengan menarik tubuh gadis itu, memeluknya lebih erat daripada sebelumnya. “Bukan kalian, tapi kita. Kau dan aku,” Mi Rae terdiam mendengar kata-kata Kyuhyun. “Jangan pedulikan kata orang-orang. Percaya saja padaku,” ucapan Kyuhyun seperti air dingin yang mengguyur tubuh Mi Rae. Gadis itu mengangguk pelan, menyetujui permintaan Kyuhyun. Ya, sebagai pasangan, sudah seharusnya mereka saling percaya satu sama lain.

“Aku sudah terlalu lama meninggalkan UGD,” Mi Rae melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun. “Kau juga, sebaiknya kau segera pulang. Ini sudah malam.”

“Besok Sekretaris Kim akan menjemputmu,” Kyuhyun membuat Mi Rae mengerutkan alisnya, kemudian Kyuhyun memperjelas ucapannya. “Ulang tahun perusahaan. Ibu terus mengingatkanku untuk memastikan kehadiranmu di pesta.”

“Tapi, besok adalah tugas jagaku.”

“Jangan khawatir,” Kyuhyun mengerling dan mendadak Mi Rae paham apa maksudnya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh mereka? Bukankah terakhir kali justru Dokter Jung yang menyuruhnya pergi ke Jeju setelah ditelepon oleh pihak Daehan? Sepertinya hal yang sama akan terjadi besok.

“Baiklah, aku tidak diberikan pilihan di sini,” Mi Rae menarik napas panjang.

Mereka lalu berpisah. Mi Rae pun kembali ke UGD. Kedatangannya disambut dengan sorot mata tim medis UGD. Bahkan ada yang terang-terangan menggodanya.

“Woah, Baek Mi Rae—yang tadi itu sangat hebat.”

“Siapa pemuda tadi? Apa dia kekasihmu?”

“Kelihatannya dia orang yang keren.”

Mi Rae tidak berniat menanggapi pertanyaan mereka. Dalam hati, ia hanya menyesalkan apa yang dilakukan Kyuhyun. Untungnya tidak ada yang mengenali Cho Kyuhyun. Lain kali, ia akan meminta Kyuhyun lebih berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Sampai kapan kalian akan tetap di sini dan membiarkan pasien tanpa pengawasan?” kedatangan Dokter Park mengalihkan perhatian mereka. Dokter Park beralih pada Mi Rae, “Kuharap kalian semua tidak lupa bahwa kita sedang berada di UGD, bukan lokasi syuting drama,” Mi Rae berkali-kali menundukkan kepala, meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ia timbulkan di UGD.

“Lalu siapa yang justru jatuh cinta dan menikahi pasiennya?” kemunculan Dokter Jung sambil berceloteh ringan itu sontak saja menimbulkan gelak tawa. Dokter Park sendiri hanya menggaruk-garuk kepala sambil tertawa malu.

Apa yang dilakukan Dokter Jung secara tidak langsung seperti memberi pembelaan pada Mi Rae. Saat ini bisa bernapas lega, tapi ia sangat yakin bahwa ia akan menjadi bahan pembicaraan di UGD dan kalau tidak beruntung, berita itu akan menyebar ke departemen-departemen lain.

***

Baek Mi Rae tak percaya bahwa gadis cantik yang berdiri di hadapannya adalah dirinya sendiri. Sejak tadi ia berkutat di depan cermin, memandangi dirinya dalam balutan gaun one shoulder berwarna merah dengan kombinasi brokat di bagian dada dan satin yang menjuntai dari bagian pinggang hingga betis. Sepatu berwarna senada dengan gaun tampak indah di kakinya. Warna merah sangat cocok dengan kulit Mi Rae yang putih bersih. Rambut ikalnya yang selalu dibiarkan tergerai atau dikuncir seadanya, telah ditata dengan model updo kepang. Riasan minimalis dan lipstick berwarna nude membuat Mi Rae sangat cantik.

Tadi Mi Rae dibuat terkejut karena Kyuhyun mengirim orang-orang itu dan segala perlengkapan mereka ke rumah sederhananya. Entah apa yang telah dilakukan para penata rias padanya, tapi harus diakui jika kerja mereka sangat professional. Ia sampai-sampai dibuat terkesima dengan penampilannya sendiri.

Di bawah tangga gang kecil, Kim Ryeowook telah menanti Mi Rae. Pemuda itu tersenyum memandangi Mi Rae yang sedang menuruni tangga. Ia membukakan pintu mobil bagi Mi Rae dan mempersilakan gadis itu masuk. Mi Rae tersenyum pada Kim Ryeowook yang bersikap sangat ramah padanya.

Setelah masuk ke dalam mobil, Kim Ryeowook menyerahkan sebuah kotak pada Mi Rae. Ia membuka kotak itu dan mendapati sebuah topeng yang sangat cantik berwarna merah keemasan. “Tuan Muda yang memilihkan untukmu. Katanya, Anda akan cocok mengenakan itu,” penjelasan Kim Ryeowook membuat pipi Mi Rae merona, malu. Kim Ryeowook menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudi dengan berhati-hati.

Tiga puluh menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di sebuah hotel berbintang dengan arsitektur modern classic. Puluhan mobil terlihat berbaris rapi memasuki area hotel. Mobil yang dikemudikan Ryeowook berhenti di depan lobby hotel, ia turun dari sana dan membukakan pintu bagi Mi Rae. Kyuhyun punya selera yang tinggi, Baek Mi Rae memang sangat cocok mengenakan topeng yang menutupi mata dan hidungnya itu. Ryeowook menyerahkan kunci mobil pada petugas agar petugas itu dapat memarkirkan mobil di tempat semestinya.

Baek Mi Rae sangat gugup, apalagi melihat mobil-mobil mewah yang berhenti di depan lobby hotel dan ia tahu kalau orang-orang yang keluar dari dalam mobil-mobil tersebut adalah mereka yang berasal dari kelas atas, meskipun wajah mereka tersamarkan oleh topeng. Ryeowook mempersilakan Mi Rae masuk dan dibalas dengan anggukan kepala gadis tersebut. Ia menarik napas panjang dan mengikuti Ryeowook.

Mereka tiba di ballroom yang menjadi tempat diselenggarakan pesta. Mi Rae terpaku saat memasuki ruangan yang sangat luas itu. Interior ballroom tersebut adalah full classic sehingga menghadirkan kembali suasana di Eropa. Lampu Kristal mewah menggantung di langit-langit. Red carpet  yang membelah ruangan tersebut mulai dari pintu masuk hingga ke panggung yang berdekorasi maroon-gold. Pencahayaan ruangan yang terang dan mewah tampak begitu memukau. Lebih dari lima puluh meja bulat telah tertata rapi. Sesuai dengan konsep pesta, semua orang di dalamnya mengenakan topeng, kecuali para pelayan pria dan wanita berpakaian hitam-putih yang dilapisi rompi, lengkap dengan dasi kupu-kupu. Mereka sangat siap dan sigap melayani semua tamu undangan. Mi Rae seolah-olah menahan napas karena seumur-umur, ini adalah pertama kali baginya berada di tengah pesta kelas atas super mewah.

Cho Kyuhyun sedang berdiri bersama beberapa orang. Mereka berbincang-bincang santai sambil meneguk anggur. Kyuhyun tampak gagah dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya tingginya. Ia mengenakan topeng dengan kombinasi warna hitam dan perak. Saat ia menoleh ke arah pintu, matanya langsung tertuju pada seorang gadis bergaun merah yang berdiri kikuk sambil meremas jari. Untuk sesaat, Kyuhyun terpaku. Ia terkesima lalu senyum di bibirnya mengukir indah. Lalu ia berjalan menghampiri si gadis yang telah memukaunya.

Menyadari siapa pemuda tinggi yang berjalan menghampirinya, debaran jantung Mi Rae mengalami peningkatan. Kyuhyun berhenti di hadapannya, dan ia dapat melihat kedua sudut bibir pemuda itu melengkung naik.

“Wow,” gumam Kyuhyun. “Aku hampir tak mengenalimu, Nona Baek Mi Rae,” pujian Kyuhyun membuat Mi Rae tersipu-sipu malu.

“Aku—sangat gugup,” ujar Mi Rae. Ia menatap ke sekeliling dan menjadi cemas. “Terlalu banyak orang di sini. Juga, ada banyak media yang juga diundang.”

Kyuhyun mengambil tangan Mi Rae, ia dapat merasakan telapak tangan gadis itu begitu dingin. “Tidak apa-apa. Aku ada bersamamu,” katanya berusaha menenangkan Mi Rae. Lalu disilangkan tangan Mi Rae di lengannya. “Pestanya akan segera dimulai,” katanya lagi dan membawa Mi Rae bersamanya.

Kegugupan Mi Rae bertambah saat menyadari mereka menatapnya. Ya, siapa yang tidak penasaran dengan gadis yang sedang digandeng Kyuhyun? Kyuhyun membawanya ke sebuah meja, dimana Nyonya Cho sudah duduk tenang. Wanita cantik itu selalu berpenampilan elegan.

“Mi Rae?” suara Nyonya Cho terdengar bersemangat. Kyuhyun menarik kursi dan dengan sangat sopan ia mempersilakan Mi Rae duduk. Setelah itu, ia duduk di sisi Mi Rae. Hanya mereka bertiga yang duduk di meja itu. “Aku hampir memarahi Kyuhyun. Kupikir kau tak datang.”

“Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku,” Kyuhyun berbisik pada Mi Rae yang dibalas Mi Rae dengan senyuman manis.

Pesta ulang tahun perusahaan dibuka dengan pidato yang disampaikan oleh Nyonya Cho. Dari tempat duduknya, Mi Rae ikut memerhatikan apa yang sedang disampaikan oleh Nyonya Cho walau sebenarnya tidak sepenuhnya ia paham. Ia lebih tertarik pada sosok pemuda yang berdiri di sebelah kanan Nyonya Cho. Sampai sekarang, Mi Rae masih tidak percaya jika Cho Kyuhyun adalah kekasihnya. Lihat saja, Kyuhyun itu tampan. Pintar. Latar belakang keluarga Kyuhyun pun sangat mencengangkan. Orang seperti Kyuhyun, justru jatuh cinta padanya. Bisa kau percaya? Sangat klise, bukan? Namun begitulah kenyataannya.

Pesta terus berlanjut. Nyonya Cho dan Kyuhyun sudah kembali bergabung dengan Mi Rae. Mereka masih mendengarkan beberapa orang yang berkesempatan menyampaikan sambutan mereka pada peringatan ulang tahun perusahaan. Pesta seperti itu bukan gaya Mi Rae, jadi tidak mengherankan kalau gadis itu mulai merasa bosan dan berharap pestanya segera berakhir agar ia bisa pulang, lalu tidur. Ia lebih fokus pada red wine yang dinikmatinya pelan-pelan.

Saat Cho Kyuhyun berdiri di sisinya dan mengulurkan tangan padanya, ia tampak kebingungan. “Berdansalah denganku,” Mi Rae mengedipkan mata. Ia baru sadar setelah mendengar suara musik yang sedang mengalun lembut. Sebenarnya, sudah berapa lama ia mengkhayal? Entahlah.

Nyonya Cho yang merasa gemas melihat kebingungan Mi Rae, berinisitif mengambil tangan Mi Rae dan meletakkan tangan gadis itu di atas tangan anaknya. Tentu saja Kyuhyun tertawa geli melihat tingkah laku ibunya. Tak banyak yang bisa dilakukan Mi Rae. Ia menurut saja saat Kyuhyun menuntunnya ke tengah-tengah ballroom yang memang sengaja dikosongkan agar dapat digunakan untuk berdansa. Mi Rae tak nyaman karena semua pasang mata sedang tertuju padanya dan Kyuhyun. Mereka berdua adalah pasangan pembuka yang berdansa.

Kyuhyun menarik pinggang Mi Rae hingga mereka berdiri begitu rapat. Yang dilakukan Kyuhyun membuat Mi Rae menahan napas. “Jangan pedulikan mereka. Malam ini, kau hanya boleh fokus padaku. Lihat aku seorang.”

Pemuda itu menuntun Mi Rae untuk berdansa. Beberapa kali Mi Rae melakukan kesalahan karena kegugupannya. Kyuhyun tidak memusingkan itu, ia sangat menikmati apa yang sedang ia lakukan bersama Mi Rae. Sangat berbeda dengan Mi Rae yang mau menelan ludah saja terasa menyakitkan. Tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggang rampingnya membuat Mi Rae serasa dilindungi. Berada dalam jarak yang sedekat itu dengan Kyuhyun, jantung Mi Rae berdebar kuat. Lama-kelamaan, Kyuhyun berhasil membuatnya melupakan keadaan di sekitar mereka. Seolah hanya mereka berdua di situ.

Perlahan bibir Kyuhyun mendekati telinga Mi Rae, “Kau tahu, kan?” pertanyaan yang tidak dimengerti Mi Rae, kemudian diperjelas Kyuhyun pada kalimat berikutnya. “Kau selalu membuatku jatuh cinta berulang kali,” bisikan lembut itu mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Mi Rae. Melihat bagaimana cara Kyuhyun menatapnya, Mi rae merasa sangat nyaman. Ia memeluk Kyuhyun, menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya itu dan mereka berdua terus berdansa. Pasangan-pasangan lain mulai bergabung dengan mereka di lantai dansa.

Pada pertengahan pesta, Mi Rae tidak lagi duduk di meja itu bersama Nyonya Cho. Ia memilih berdiri di dekat salah satu meja panjang yang di atasnya terhidang makan-makanan lezat. Cho Kyuhyun tadi dipanggil oleh Nyonya Cho. Jadi kesempatan itu ia manfaatkan untuk mengisi perutnya yang kosong. Beberapa pelayan menghampirinya di tempat duduknya tadi, mereka menawarkan bantuan pada Mi Rae, tapi ditolak Mi Rae. Ia merasa tidak enak kalau harus dilayani seperti itu. Tidak dengan perhatian semua orang yang terus mengarah padanya. Jadi, ia memilih melayani dirinya sendiri.

Kalau saja Han Jin Ae ada di sini, mungkin ia tidak akan seperti orang bodoh di tengah-tengah pesta. Jin Ae si pengkhianat itu lebih memilih menemani Hyukjae yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Kemudian Mi Rae sadar kalau Jin Ae tidak sepenuhnya salah. Walau Hyukjae tidak minta ditemani, yang dilakukan Jin Ae adalah hal yang wajar.

Setelah selesai memilih beberapa menu, Mi Rae bermaksud hendak kembali ke mejanya agar dapat menikmati makanan. Akan tetapi, tiba-tiba saja ia dihadang oleh sekelompok orang.

“Cho Kyuhyun benar-benar menggandeng seorang gadis,” ujar seorang pemuda.

“Ternyata desas-desus itu terbukti. Mereka bilang, Kyuhyun akan membawa pacarnya ke pesta,” giliran seorang gadis berpakaian hitam yang berbicara.

“Kau—benarkah, kau pacar Kyuhyun?”

Dari balik topeng yang mereka kenakan, Mi Rae dapat melihat mata mereka penuh intimindasi. Mi Rae sama sekali tak berniat meladeni mereka. Ini adalah salah satu hal yang paling ia takuti saat memutuskan datang ke pesta.

“Kalian membuatnya tak nyaman,” seorang gadis tampak menengahi. Lalu tatapannya mengarah tepat ke mata Mi Rae. “Nona, siapa namamu?”

“Siapa orang tuamu?”

“Kau—Kim Ye Bin?”

“Tidak, bukan dia. Aku melihat Ye Bin diberita siang tadi, dia sedang berada di Macau.”

“Ah, maaf. Kami tidak bisa mengenalimu karena topeng itu. Kau putri dari perusahaan mana?”

Tangan Mi Rae saling remas, hal itu merupakan bahasa tubuhnya jika sedang gelisah. Tatapan Mi Rae mencari-cari Kyuhyun, tapi pemuda itu tampaknya masih sibuk bersama tamu-tamunya.

“Kau baik-baik saja?”

“Nona—antara level A, B, C dan D, kau berada di mana?”

“D? Hey, kau bercanda? Di tempat ini, tidak ada satu pun yang berasal dari level itu. Aku bahkan tidak yakin jika kita akan menemukan level C di sini. Mana mungkin seorang pewaris group raksasa akan berhubungan dengan seseorang yang berasal dari level C, terlebih lagi D. Pertanyaanmu bisa melukai harga diri nona ini.”

“Selain Ghaesung Group, putri dari group mana yang dikabarkan dekat dengan Cho Kyuhyun? Mungkin saja nona ini adalah putri dari group itu.”

Tangan Mi Rae sudah mengepal kuat. Level? Mi Rae sama sekali tidak suka dengan situasi yang sedang berlangsung saat ini. Orang-orang kaya itu seolah sedang mengingatkannya bahwa ia berada di tempat yang salah. Jika dilihat dari cara mereka berbicara, maka tidak membutuhkan otak jenius Kyuhyun untuk memahami di level mana dirinya berada. Sudah pasti itu adalah level paling terakhir. Mereka berhasil membuatnya kehilangan selera makan. Ia meletakkan begitu saja piring berisi makanan yang belum di sentuh itu di atas meja.

Tanpa mengindahkan mereka, Mi Rae berbalik dan pergi. Ia sempat berhenti di pintu dan memandangi Kyuhyun yang sedang berbincang-bincang dengan sekelompok pria yang Mi Rae yakini adalah relasi bisnis. Ia mengedarkan pandangan pada seisi ruangan, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.

Di halte, beberapa orang memandang aneh padanya. Berpenampilan seperti itu, Mi Rae dinilai terlalu cantik untuk menggunakan jasa bus. Tak peduli dengan tatapan-tatapan mereka, Mi Rae yang telah melepas topengnya ikut menaiki bus. Sepanjang perjalanan dihabiskannya dengan melamun. Kejadian di pesta terus mengusiknya.

Perkataan mereka memang terdengar menyakiti Mi Rae, tapi ia sadar kalau mereka tidak salah. Namun, bukan berarti ia menyalahkan keadaannya. Wajar saja jika orang-orang bertanya, seperti apa kekasih Cho Kyuhyun? Status sebagai pewaris Daehan Group membuat Kyuhyun selalu disorot. Mendadak Mi Rae merasa ketakutan akan perbedaan yang terlalu jauh antara dirinya dan Kyuhyun. Ia senang karena baik Kyuhyun maupun Nyonya Cho tidak sedikitpun meributkan statusnya yang berasal dari keluarga sederhana. Namun, tidak bisa dipungkiri Mi Rae jika memang ada jurang pemisah antara dirinya dan Kyuhyun.

Setelah turun dari bus, pikiran Mi Rae masih mengambang. Ia yang melangkah gontai tiba-tiba berhenti. Beberapa meter di depan sana, ia melihat Cho Kyuhyun. Pemuda itu sedang bersandar di mobilnya. Kyuhyun menoleh padanya dan menarik napas lega, kemudian berjalan menghampirinya lalu berhenti tepat di hadapannya. Mi Rae dapat membaca kecemasan dari raut wajah itu.

“Mengapa kau pergi begitu saja? Ponselmu bahkan tidak aktif.”

Mi Rae memeriksa ponselnya, “Maaf. Aku tidak tahu kalau ponselku mati. Tiba-tiba aku merasa pusing dan ingin segera pulang.”

“Kenapa tidak memanggilku? Aku akan mengantarmu.”

“Aku melihatmu sedang berbicara dengan orang-orang itu. Aku tidak ingin mengganggu pembicaraan kalian. Kalian mungkin sedang membahas sesuatu yang sangat penting.”

“Tapi, tetap saja aku—”

“Maafkan aku, Kyu,” Mi Rae memotong perkataan Kyuhyun. Ia merasa tidak enak membuat Kyuhyun terus mencemaskannya.

“Baiklah, tapi kau tidak apa-apa, kan?

Mi Rae diam beberapa saat, “Ya,” ia berbohong, jelas-jelas pikirannya sedang kalut. Kyuhyun mengamatinya sekian detik dan ia tahu ada yang disembunyikan Mi Rae.

“Bukan hanya aku yang tak pandai berbohong. Aku melihat semuanya di matamu. Aku tahu ada yang kau cemaskan. Apakah terjadi sesuatu selama di pesta? Mi Rae, aku tidak ingin kau menyembunyikan apa pun dariku. Aku—”

Kecupan mendadak yang dilakukan Mi Rae menghentikan Kyuhyun. Pemuda itu mematung, memandang Mi Rae yang sedang tersenyum padanya. “Aku baik-baik saja.”

Keduanya saling pandang. Sadar dengan situasi itu, Mi Rae berbalik membelakangi Kyuhyun, ia mendesis tak percaya pada apa yang baru saja ia lakukan. Mi Rae melangkah terburu-buru meninggalkan Kyuhyun yang masih membeku sambil menyentuh bekas ciuman Mi Rae di pipinya.

Bragh!

Namun keterpakuan Kyuhyun tak bertahan lama. Melihat Mi Rae yang terjatuh menjadi isyarat bagi rohnya yang sempat berpencar agar kembali ke raganya. Secepatnya Kyuhyun berlari menghampiri Mi Rae yang sedang meringis dan membantu gadis itu berdiri.

“Aku tidak apa-apa,” ujar Mi Rae dengan kepala yang tertunduk.

Melihat wajah Mi Rae yang merah padam, Kyuhyun paham apa yang terjadi. Ia tahu kalau Mi Rae sedang menahan malu. Ya, tentu saja. Mi Rae sudah cukup malu dengan yang ia lakukan tadi dan karena menghindari Kyuhyun membuatnya tak fokus pada jalan sehingga tubuhnya pun terjerembab. Luar biasa memalukan, batin Mi Rae berkecamuk. Cho Kyuhyun tersenyum pada Mi Rae dan mengelus kepala gadisnya itu. Lalu ia berjongkok membelakangi Mi Rae.

“Aku akan menggendongmu.”

“Kenapa?”

“Kau terjatuh, dan kakimu pasti terasa sakit.”

“Bukankah adegan seperti ini terlalu sering muncul dalam drama?”

Kyuhyun bangkit berdiri begitu mendengar gumaman ringan yang terlontar dari mulut Mi Rae. Ia tertawa dan berbalik menghadap Mi Rae. Tangannya terlihat memberi pijatan pada keningnya.

“Kakiku memang sakit karena lecet, tapi bukan berarti aku tidak bisa berjalan. Lagipula kalau kau berniat menggendongku sampai di rumah, kau mungkin akan menyerah saat kita tiba di puluhan anak tangga itu.”

“Astaga. Aku hampir lupa kalau kau adalah Nona Drama,” Kyuhyun tertawa lalu mendekap Mi Rae. Ia selalu dibuat gemas dengan tingkah Mi Rae. Lalu ia menautkan jarinya di antara jari Mi Rae. “Aku akan memegang tanganmu agar kau tidak terjatuh,” kalimatnya yang manis mengguratkan senyum di wajah Mi Rae. Kyuhyun mengecup singkat punggung tangan Mi Rae yang berada dalam genggamannya, dan mereka berjalan sambil berpegangan tangan.

***

Pagi ini diwarnai dengan keributan yang ditimbulkan oleh Baek Mi Rae. Ia kesiangan lagi. Kegaduhan terdengar sejak dirinya melompat kaget dari tempat tidur. Semalam Mi Rae kesulitan tidur karena terus teringat pada Kyuhyun. Perlakuan-perlakuan manis Kyuhyun saat di pesta maupun saat mengantarnya pulang seolah enggan beranjak dari dalam kepala Mi Rae. Setelah tidur pun, yang datang dalam mimpinya adalah Cho Kyuhyun. Jadi, wajar saja kalau tidurnya jadi keterusan. Berdekatan dengan Kyuhyun memang cukup berbahaya.

Sambil menyisir rambut dengan jari, Mi Rae berlari mengejar bus yang hampir saja meninggalkannya. Ia naik ke bus dan duduk di satu-satunya tempat duduk yang masih kosong. Rambutnya ia rapikan lagi dengan jarinya dan kemudian dikuncir seperti biasa. Para penumpang terlihat sibuk dengan ponsel di tangan masing-masing. Entah apa yang membuat mereka kasak-kusuk seperti itu. Mi Rae justru lebih memusingkan nasibnya. Sudah dua kali ia terlambat. Record-nya akan buruk di mata staff UGD, dan ia cemas jika itu berpengaruh pada nilai-nilainya.

Setelah merapikan pakaiannya, Mi Rae melangkah mantap memasuki kawasan RS Universitas Anam. Beberapa kali ia menarik napas panjang, mengimbangi permainan jantungnya yang sedang bekerja maksimal. Lagi-lagi, ia melihat semua orang yang berpapasan dengannya; entah itu dokter, perawat ataupun orang-orang yang datang ke rumah sakit tampak sedang membicarakan sesuatu yang—kemungkinan—sangat menarik sambil memandangi ponsel masing-masing. Teknologi telah menginvasi manusia modern telah terbukti kebenarannya. Orang-orang jadi asyik dengan dunianya sendiri sehingga lupa berinteraksi dengan sesama. Bahkan banyak yang menjadi anti sosial. Mi Rae menggeleng prihatin, lupa kalau dirinya nyaris menjadi orang yang anti sosial jika tidak ada Jin Ae, Hyukjae dan Kyuhyun yang perlahan mengikis kebiasaan buruknya itu.

Langkah kaki Mi Rae sedikit melambat. Ia memang merasakan sesuatu yang berbeda pagi ini, selain keterlambatannya. Entahlah, tapi beberapa kali Mi Rae mendapati dokter maupun perawat mencuri-curi pandang padanya dan tentu saja disertai dengan bisik-bisik yang sayangnya, tidak bisa ia dengar.

Apa ini hanya perasaannya saja? Tapi sepertinya ia sedang menjadi sumber perhatian orang-orang. Walaupun merasakan keanehan itu, Mi Rae mengabaikannya dan kembali mengayunkan kaki lebih cepat sebelum masalah yang menantinya karena datang terlambat menjadi lebih fatal.

“Selamat pagi,” sapa Mi Rae begitu memasuki UGD. Perlakuan yang sama kembali ia terima. Semua orang seolah-olah berhenti beraktivitas hanya demi menghadiahinya tatapan yang sulit ia artikan. “Maaf atas keterlambatanku,” dan ia menduga semua itu karena ia datang terlambat.

Baek Mi Rae berlalu dan masuk ke ruang istirahat dokter. Kedatangannya disambut oleh sekitar tiga orang dokter yang kebetulan sedang berada di ruangan tersebut.

“Baek Mi Rae, kau benar-benar sesuatu,” seorang dokter tersenyum sembari mengangkat jempolnya.

“Eh?”

Mereka tidak membiarkan Mi Rae mengetahui apa maksud perkataan mereka. Ketiga dokter itu segera keluar untuk bertugas. Mi Rae sangat kebingungan, dan hal itu jelas terbaca dari ekspresinya. Tanpa membuang banyak waktu, ia segera menuju loker dan mengganti pakaiannya dengan pakaian dinas, kemudian bergegas ke bangsal. Akan tetapi, tatapan-tatapan itu justru semakin intens ia terima.

“Baek Mi Rae!”

Han Jin Ae terburu-buru menghampiri Mi Rae, tidak peduli pada semua orang yang keheranan melihat keberadaannya di UGD. Ia menyeret Mi Rae.

“Ada apa?”

“Jangan banyak tanya,” Jin Ae memaksa menarik Mi Rae keluar dari UGD. Mi Rae yang kebingungan hanya menurut saja pada kehendak Jin Ae.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Mi Rae saat mereka berada di sebuah koridor yang tampak sunyi.

“Sudah kuduga. Kau pasti belum melihatnya,” Jin Ae mendesah pelan. Ia mengarahkan ponselnya tepat di depan wajah Baek Mi Rae. “See?”

Mi Rae mengerjap sekali. Detik berikut, matanya memelotot tajam. Ia langsung merampas ponsel di tangan Jin Ae dan melihat lebih saksama apa yang ada di layar ponsel sahabatnya itu.

Kejadian serupa tengah berlangsung di ruang kerja Cho Kyuhyun. Pemuda itu belum berkutik sejak Kim Ryeowook memberitahukan apa yang telah menggemparkan publik pagi ini.

“Tampaknya, paparazzi itu mengikuti Anda semalam,” terang Kim Ryeowook.

Kyuhyun masih terdiam memandangi berita yang termuat di laman salah satu situs yang diberi judul Kekasih Pewaris Daehan Group Akhirnya Terkuak. Seperti kata sekretarisnya, foto itu baru diambil semalam. Foto-fotonya bersama Baek Mi Rae telah beredar luas. Beberapa foto memperlihatkan dirinya dan Mi Rae yang masih mengenakan topeng, sedang berdansa di pesta peringatan ulang tahun perusahaan. Kemudian ada foto sewaktu Kyuhyun mengantar Mi Rae, tanpa topeng yang menutupi wajah. Beberapa diantaranya adalah saat Kyuhyun sedang memeluk Mi Rae, foto mereka yang bergandengan tangan dan juga foto Mi Rae yang mengecup pipi Kyuhyun.

“Bagian Public Relation memastikan bahwa situs-situs itu telah menghapus foto-foto tersebut, tapi tampaknya berita ini sudah telanjur menyebar. Apa yang akan kita lakukan?”

“Biarkan saja.”

“Ya?”

Cho Kyuhyun bangkit berdiri, ia menarik napas tenang. “Tolong siapkan mobil. Aku akan menemui Mi Rae.”

~bersambung~

Yeeyy! Kyu-day!

HBD, Magnae! Doa yang terbaik untukmu, wahai kesayangan Sparkyu.

Oke teman-teman, kalian puas dengan part ini? Harus Puas! *ngancam* wkwkwk

Tolong doanya ya biar Mi Rae segera menerima pinangan Kyuhyun. Hah! Apa iya langsung nikah? Nantikan di episode-episode mendatang 😀

Dadahhhh… *lambai2 syantik*

 

Iklan

148 thoughts on “Drama (Part 18)

  1. lulu octaviani berkata:

    Keren banget… Ceritanya manis. Diksinya keren. Alurnya keren. Pembawaan bahasanya bagus. Aduhh suka banget deh. Eonni salam kenal, ijinkan aku mengacak-acak library mu yaaa. Aku suka cerita-cerita mu. Kayaknya fansmu bertambah satu deh Wkwk. Ditunggu kelanjutannya eon..

  2. Dona Silvia berkata:

    Wahh kyuhyun mau apa tuh? Mau langsung nikahin mirae? latar belakang keluarga emang selalu jadi momok dalam keluarga2 chaebol yaa. Ye bin ngga bakal jadi pengganggu hubungan kyurae kan kak? Jangannn yaaaa, hehe. Ditunggu next chapternya kak

  3. Shatia berkata:

    Sepandai-pandainya disembunyika pasti bakalan ketahuan juga…
    Yg paling senang dengan menyebarnya foto kyu mi rae pasti ibunya kyu 😆

  4. anie berkata:

    udh nyebar tuh gosip,,apa kyuhyun mau ngjk mirae nikah,,wkwkw,,,kelakuan mira selalu ada ada ajah keulang trus tuh kjadian kekirim sms,,hhaaa,,,,,autor nya kepikiran lagi buat bkin image mirae ancur udh cium pke acara jatuh sgala ,,,wkwkwk keren dech k marchia

  5. KIKI berkata:

    Terungkap sudah identitas Mi Rae. Bagaimana kah kelanjutannya?? Aku tidak tahu. Apakah Mi Rae akan si bully. Oh tidak, itu akan menyakitinya. Di pesta aja udah ngerasa nggak pantas buat Kyuhyun. Kyuhyun kau barus bisa yakinin Mi Rae kalau semuanya baik baik saja. Jangan sampai ada celah Mi Rae buat meninggalkan mu. Kalian tuh udah jadj pasangan yang manisssssss banget. Mannisnya beda bikin gemes gemea gimana tingkah lakunya.

  6. novi berkata:

    Sekarang semuanya sudah tahu klo mirae pcrnya kyuhyun, nanti gmna klo mirae d bully kasian kan. Semoga kyuhyun selalu ada buat mirae.

  7. Leah berkata:

    Aigoo mirae bisa juga jadi pencemburu. Aku penasaran gimana ya reaksinya mirae saat dia inget kejadian di villa itu wkwk.
    Akhirnya akhirnya terkuak juga hubungan mereka, uuhhh gemes banget sama mereka berdua.

  8. Hana Choi berkata:

    Aigoo ternyata mi rae bisa juga ya cemburu, kyuhyun so sweet banget sih dia rela” in datang ke rs biar dia sama mi r ae e ga pustus ya ampun….
    Aduh emang yah mau dibilang apa juga orang kaya mah tetep aja sifatnya kaya gitu selalu merendahkan emang sih ga semuanya kaya gitu tapi rata” pasti kaya gitu.
    Sekarang semua orang udh tau kekasihnya kyuhyun siapa terus gimana ya perlakuan semua orang ke mirae, semoga aja baik” aja deh

  9. My labila berkata:

    se datar-datarnya mirae, sekaku-kakunya mirae dia tetap manusia.#BahasaApaIni wkwk… dan gak nyangka mirae bisa cemburu, akhirnya terkuak juga ke publik kalau mirae kekasihnya kyuhyun,

  10. whitedear berkata:

    ciyeee yg cemburu nihh sampai* ketik pesan kyuhyun dengan kalimat begitu.. mi rae yaa selalu teledor kalau tentang pesan, untung pesan nya nggak sengaja terkirim jadi kyuhyun tau kan wkwkwk

    itu kelas A B C D E udah kayak vitamin aja ya hehehe

  11. Kyuni berkata:

    Cemburu dan rindu telah membutakan seorang baek mirae,,selalu suka sma momen manis mereka,,jdi penasaran gimana reaksi mirae,,bakal ngumpet dimana mbak?

  12. noebita berkata:

    Kebongkar dah siapa kekasihnya pewaris daehan,.. hidupnya mirae makin penuh warna dong kalau gitu

  13. shin naya berkata:

    aduh kak aq ketawa ketawa bacanya..habis cium pipi malah jatuh? mirae mirae segitu g konsennya hehehe…
    si kyu mau apa tuh ..pasti mau ketemu mirae kan..aaaahh si kyu emang perhatian banget ya..aq makin jatuh cinta ma kamu..kecup sayang buat kakak( abaikan)

  14. aulia fitri berkata:

    lucu deh kayanya kalo ada drmanya hahaa bagus bikin kita ketawa. Kira kira apa yg akan dilakukan kyuhyun? Semoga aja mi rae nya gak kerasa terintumidasi ya

  15. aulia fitri berkata:

    lucu deh kayanya kalo ada drmanya hahaa bagus bikin kita ketawa. Apalagi abis cium pipi kyuhyun. Kira kira apa yg akan dilakukan kyuhyun? Semoga aja mi rae nya gak kerasa terintimidasi ya dan ga kebayang sma masa lalu nya

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s