Pianist’s Melody (Part 10)

pianists-melody-poster-2

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Beating Heart

 

 

“Akhirnya selesai juga. Aku sangat merindukan kasur.”

Jessey sedang mengemudi, dan ia hanya tersenyum mendengar gumaman Kyuhyun. Sudah pukul sebelas malam dan mereka baru selesai melakukan pemotretan dengan sebuah majalah fashion. Kyuhyun tampak kusut meskipun itu tidak mengurangi sedikit pun nilai ketampanannya.

“Bagaimana, kau berubah pikiran? Kita bisa meninggalkan Seoul kalau kau mau,” celetuk ringan Jessey. Kyuhyun hanya mendengus sehingga membuat Jessey tertawa pelan. “Baiklah, Tuan Cho, kau boleh tidur sepuasmu,” katanya lagi. Mereka sudah sampai di rumah.

Sambil memegangi belakang lehernya yang tegang, Kyuhyun melangkah santai memasuki rumah. Langkah Kyuhyun melambat saat melewati ruang utama yang begitu luas. Di sana ada Tuan Seo Jin Hwan yang sedang duduk santai sambil membaca sebuah majalah.

“Temani aku minum, Kyu,” Tuan Jin Hwan memanggilnya.

“Kau duluan saja,” Kyuhyun berujar pada Jessey yang langsung disetujui Jessey. Lalu ia menghampiri Tuan Jin Hwan dan duduk di single sofa. Seorang pelayan datang membawakan sebuah gelas lagi. Tuan Jin Hwan lantas menuangkan wine ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Kyuhyun. “Terima kasih,” kemudian Kyuhyun meneguk wine miliknya.

“Sudah beberapa hari kau di sini, dan kita baru berbincang-bincang sekarang,” Tuan Jin Hwan memulai percakapan dengan santai. Ya, mereka memang disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. “Kau pasti kerepotan karena putriku. Ah, aku agak menyesal untukmu.”

“Tidak, Tuan. Aku senang jika Nona Hana menyukai musikku.”

“Anak itu terlalu dimanjakan. Dia jadi keras kepala dan susah diatur. Sikapnya pun kekanak-kanakkan,” nada bicara Tuan Jin Hwan terdengar sangat frustrasi.

Cho Kyuhyun tersenyum simpul, “Nona Hana adalah putri Anda satu-satunya, jadi aku bisa memaklumi jika Anda selalu memanjakannya. Tingkah lakunya tak berbeda jauh dengan Nona Yun Ae,” senyum di wajah Kyuhyun hilang ketika tanpa sengaja menyinggung nama itu. “Dulu, nona juga seperti Nona Hana,” ya, sudah sangat lama. Dulu, Seo Yun Ae selalu merengek padanya. Tuan Jin Hwan menyadari perubahan mimik Kyuhyun, ia menuangkan lagi minuman di gelas Kyuhyun.

“Yun Ae mengalami hari-hari yang begitu sulit. Kuharap kau tidak menyalahkan Yun Ae. Dia sudah berjuang untuk bertahan hidup. Terkadang, seseorang berubah setelah menghadapi maut.”

Mungkin yang dikatakan Tuan Jin Hwan benar. Seo Yun Ae adalah orang yang selamat dari kematian. Harapan hidupnya tipis, namun kemauan hidupnya sangat tinggi. Tiga tahun tidak sadarkan diri bukan perkara yang mudah. Wajar saja jika pandangan hidupnya menjadi berbeda setelah terbangun dari tidur panjangnya, termasuk mengubah perasaannya terhadap Cho Kyuhyun.

Kyuhyun menyeret kakinya, melangkah gontai hendak menuju kamar tidur. Telinganya menangkap suara piano sehingga langkahnya tertahan. Ia mengurungkan niatnya untuk merebahkan diri di kasur, dan bergerak mendekati sumber suara yang berasal dari sebuah ruangan. Tempat di mana Kyuhyun selalu bermain piano untuk Yun Ae. Kyuhyun berdiam di pintu, menyaksikan Seo Hana sedang memainkan melodi ringan twinkle-twinkle little star. Ia tersenyum dan menghampiri Hana. Permainan Hana terputus saat menyadari Cho Kyuhyun ada di situ.

“Cho Kyuhyun?” padahal sudah berkali-kali Hana bertemu Kyuhyun, tapi ekspresinya masih sama seperti saat pertama kali ia melihat Kyuhyun. “Kau di sini?”

Kyuhyun duduk di sebelahnya, mereka berbagi bangku. “Kau bisa bermain piano juga rupanya,” Kyuhyun menoleh pada Hana, senyumnya itu membuat Hana terhanyut.

“Permainanku biasa-biasa saja. Aku hanya bisa memainkan not-not yang mudah,” Hana terkekeh malu.  Ia menunduk dan kembali berkata. “Tidak sepertimu yang sangat mengagumkan. Saat kau memainkan musik milik Grieg, aku menyukainya. Saat kau memainkan La Campanella, aku juga suka. Baru-baru ini, aku bergetar mendengar Etude Op. 25 No. 11 yang kau mainkan di studio. Aku jatuh cinta pada musikmu,” dan Cho Kyuhyun tertegun mendengar ketulusan yang terucap dari bibir Hana. Sinar mata Hana menyiratkan sebuah kekaguman yang sangat berlebihan.

“Hana, terima kasih,” ucap Kyuhyun. Ia baru mengetahui rasanya. Perasaan dimana musiknya terasa sangat berarti bagi orang lain. Mungkin inilah rasanya dibutuhkan. “Aku akan memainkan sesuatu untukmu.”

“Untukku?” Hana berbinar-binar, ia seperti baru saja diberikan hadiah yang sangat mahal. “Benarkah? Kau akan bermain piano untukku?”

Kyuhyun mengangguk, “Khusus untukmu,” dan Hana bertambah semangat.

“Apa pun yang kuinginkan?”

“Ya, tentu. Katakan saja.”

“Ehm,” Hana terlihat sedikit ragu ketika menyampaikan keinginannya. “Kau pernah mendengar lagu yang berjudul Yue Liang Dai Biao Wo De Xin?”

“Teresa Teng?” Kyuhyun menyebut nama penyanyi yang menyanyikan lagu yang disebut Hana. Sebuah lagu lama yang jika diterjemahkan berarti ‘Bulan Mewakili Hatiku’. “Aku tahu.”

“Aku sangat menyukai lagu itu. Kau tidak keberatan jika aku ikut bernyanyi?” tanya Hana dan Kyuhyun mengangguk.  “Sebelumnya, aku minta maaf, suaraku mungkin akan merusak pendengaranmu,” Hana berkata sambil menundukkan kepala, sebagai permintaan maafnya.

Sambil tertawa, Kyuhyun berkata, “Baiklah, aku akan berpura-pura tidak mendengarnya,” ia menggoda Hana. Melodi lembut pun mengalun dan Hana mulai bernyanyi dalam versi yang telah diterjemahkan.

‘Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu. Seberapa besar aku mencintaimu. Perasaanku ini sungguh-sungguh. Begitu juga dengan cintaku. Bulan mewakili hatiku.’

Suara Hana memang tidak sebaik penyanyi professional, tapi tidak juga seburuk yang digambarkan Hana tadi. Nadanya tepat dan terdengar murni. Kyuhyun tersenyum, sambil sesekali ia melirik pada Hana di sisinya.

‘Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu. Seberapa besar aku mencintaimu. Perasaanku tak akan berpindah. Cintaku tak akan berubah. Bulan mewakili hatiku.’

Entah hanya perasaannya saja atau apa, tapi Kyuhyun merasa dadanya menghangat. Ia terbawa suasana. Hana terus tersenyum manisnya padanya.

‘Sebuah kecupan lembut telah menyentuh hatiku. Sebuah perasaan yang mendalam, membuatku memikirkanmu hingga sekarang. Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu. Seberapa besar aku mencintaimu. Kau memikirkannya. Kau memerhatikannya. Bulan mewakili hatiku.’

Lirik itu menyentuh Kyuhyun sampai ke lubuk hatinya yang terdalam. Lirik yang terasa tepat untuk menggambarkan perasaannya pada Yun Ae. Bagaimana ia teringat pada kenangan demi kenangan manisnya bersama Yun Ae. Ketika ia mengecup lembut Yun Ae saat mereka akan berpisah. Kehangatan dekapan Yun Ae dan aroma lavender yang menguar dari tubuh mungil itu. Ia sangat merindukan Yun Ae melebihi apa pun.

Sementara Seo Yun Ae hanya mematung di pintu. Diam seribu bahasa menyaksikan dua orang yang terlihat sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Tatapan mata Yun Ae sedingin es, dan wajahnya berekspresi sangat kaku. Ia lantas pergi dari situ, tanpa membiarkan Kyuhyun atau Hana menyadari keberadaannya.

♪♫♩♬

“Iya, jangan cemas. Aku akan sampai di sana,” Kyuhyun menyudahi pembicaraannya dengan Jessey. Ia mampir di sebuah kafe untuk membeli kopi. Kyuhyun menyerahkan sejumlah uang pada pelayan yang terus terkagum-kagum padanya. Beberapa orang di dalam kafe juga ikut memerhatikan Kyuhyun. Mereka histeris setelah menyadari siapa Kyuhyun dan langsung memintanya untuk berfoto bersama mereka. Kyuhyun tidak keberatan dan meladeni permintaan mereka.

Saat hendak naik ke mobil, mata Kyuhyun dituntun pada seorang wanita yang baru keluar dari bangunan yang bersebelahan dengan kafe tempatnya membeli kopi tadi. Bangunan itu adalah sebuah butik. Seo Yun Ae membalas tatapan Kyuhyun. Lee Donghae juga ada di sana, baru saja keluar sambil menenteng beberapa paperbag. Kyuhyun tersenyum sembari melambaikan tangan pada mereka. Ia bermaksud menghampiri mereka, tapi sebuah bola yang terpental dan menggelinding ke ruas jalan mengalihkan perhatian Kyuhyun.

Ada seorang anak kecil yang sedang mengejar bola itu. Awalnya Kyuhyun terlihat santai, sampai akhirnya ia menyadari jika sebuah mobil sedang melaju tepat kepada anak kecil tadi. Tanpa pikir panjang, Kyuhyun berlari untuk meraih anak kecil tadi. Seo Yun Ae dan Lee Donghae pun sangat terkejut dengan hal itu. Donghae berteriak keras pada Yun Ae ikut berlari menghampiri Kyuhyun dan anak kecil tersebut.

CCIIIIITTT!!!!

Bunyi ban yang bergesekan kasar dengan aspal akibat mobil yang dipaksa berhenti.

“NONA!” teriak Lee Donghae lagi. Yun Ae dan Kyuhyun, juga anak kecil dalam dekapan Kyuhyun terpental ke tepi jalan. Ia berlari menghampiri ketiga orang itu. Seorang wanita tiba-tiba menjerit histeris, tampaknya ia adalah ibu dari anak kecil yang Kyuhyun coba selamatkan.

Kepala Kyuhyun serasa berputar-putar karena benturan dengan aspal. Ia masih mendekap erat anak kecil itu di dadanya. Kepalanya bergerak pelan, menoleh ke kanan, “Nona,” Yun Ae tergeletak di sana, sudah tak sadarkan diri. “Nona,” Kyuhyun mengerang kesakitan. Ia ingin menghampiri Yun Ae, tapi ia kehilangan tenaga.

Sementara orang-orang mulai berkumpul mengerumuni mereka. Kyuhyun masih dapat mendengar suara keras Lee Donghae yang menghubungi bagian medis. Lambat laun suara di kepalanya mulai menjauh, pandangan Kyuhyun menjadi samar. Setelah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi.

Jessey berlarian di sepanjang lorong rumah sakit. Wajahnya sangat pucat. Kegugupan Jessey tampak jelas saat berbicara dengan seorang perawat. Lalu secepatnya ia bergegas ke ruangan yang dimaksud oleh perawat. Sebuah ruang rawat VIP. Jessey membuka kasar pintunya, tidak sabar untuk melihat keadaan Kyuhyun. Ia menarik napas panjang saat melihat Kyuhyun masih memejamkan mata. Sejak tadi Jessey sibuk mengutuki dirinya sendiri. Menyalahkan keteledorannya yang membiarkan Kyuhyun pergi seorang diri. Kejadian seperti ini tidak akan terjadi jika ia ada bersama Kyuhyun.

“J,” suara lemah itu menyadarkan Jessey.

“Kyu, kau sudah sadar? Aku akan memanggil dokter,” segera Jessey meninggalkan Kyuhyun. Beberapa saat kemudian, Jessey datang bersama beberapa orang dokter yang langsung memeriksa kondisi Kyuhyun. “Bagaimana keadaannya?”

“Tidak ada luka fatal. Dia hanya mengalami trauma ringan akibat benturan. Kondisinya akan segera membaik. Dia dianjurkan untuk beristirahat selama beberapa hari.”

“Tapi, Dokter bagaimana dengan tangannya? Dia seorang pianis, tangannya tidak boleh terluka.”

“Kami sudah melakukan pemeriksaan lengkap dan dia baik-baik saja,” dan Jessey baru bisa bernapas dengan benar setelah mendengar kondisi Kyuhyun. Ia mengucapkan terima kasih pada dokter. Setelah menutup kembali pintu, ia mendekati Kyuhyun, menarik kursi dan duduk.

“Bagaimana dengan Yun Ae?”

“Berhentilah mencemaskan orang lain. Kenapa kau keras kepala, huh? Sudah kubilang, untuk tidak pergi seorang diri,” Jessey menumpahkan kekesalannya.

“Maafkan aku,” Kyuhyun tersenyum, “Aku baik-baik saja. Dokter juga berkata begitu,” katanya. Jessey masih memamerkan wajah yang masam. “Kalau Yun Ae tidak di sana, mungkin sekarang kau sedang mengurusi pemakamanku.”

“Cho Kyuhyun!”

“Jangan marah. Aku tidak akan membuatmu cemas, aku janji,” Kyuhyun berusaha untuk membujuk Jessey. “J, apakah Yun Ae baik-baik saja?” ia teringat pada Yun Ae.

“Iya, dia pasti baik-baik saja.”

“Di kamar nomor berapa dia dirawat?”

“Sudah kubilang, dia baik-baik saja. Aku melihatnya dengan Sekretaris Lee di lobby rumah sakit. Mereka yang mengurusmu di sini sebelum aku datang.”

Alis Kyuhyun bertaut, “Yun Ae? Tapi tadi dia pingsan saat menolongku.”

“Artinya dia tidak separah yang kau kira,” kata Jessey. Mungkin yang dikatakan Jessey benar. Kyuhyun memang melihat Yun Ae tak sadarkan diri setelah ikut terjatuh bersamanya, tapi syukurlah kalau semua baik-baik saja. “Istirahatlah dan jangan terlalu banyak berpikir. Kau bisa membuatku gila,” Jessey mendesis sebal. Kyuhyun membalasnya dengan tersenyum tipis.

♪♫♩♬

Kyuhyun sudah diperbolehkan pulang setelah dua hari dirawat. Selama beberapa hari Jessey tidak membiarkannya bekerja. Benar dikata, bahwa selalu ada hikmah dibalik sebuah musibah. Sekarang Kyuhyun bisa beristirahat. Yun Ae pun tampak baik-baik saja sehingga Kyuhyun tidak perlu mencemaskan banyak hal. Hari sudah sore, Kyuhyun sedang menikmati masa-masa tenangnya di balkon. Duduk bersantai, ditemani secangkir kopi yang wanginya begitu menggoda.

“Kyuhyun.”

Mendengar namanya dipanggil, Kyuhyun menoleh dan mendapati Hana sedang berdiri di sana. Tangannya saling remas. Hana terlihat gugup dan cemas.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Hana sambil berjalan mendekati Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja.”

“Aku terkejut mendengarmu mengalami kecelakaan.”

“Tidak apa-apa, semuanya sudah terkendali. Kau lihat, kan? Jessey saja yang terlalu berlebihan,” Kyuhyun tersenyum lebar, mengisyaratkan kalau tidak ada yang perlu dicemaskan. Hana hanya diam, menundukkan kepalanya. “Hana—kau, kau menangis?” senyum Kyuhyun memudar saat ia menyadari jika Hana sedang menangis. “Hana. Ada apa?”

“Kupikir kau akan mati,” Hana menyeka air matanya. “Aku takut tidak akan bisa mendengar permainan pianomu lagi.”

Bergeming. Kyuhyun tak berkutik. Dadanya berdebar-debar melihat Hana meneteskan air mata untuknya. Seperti halnya Yun Ae, ia pun tidak suka melihat Hana menangis. Tangan Kyuhyun perlahan menyentuh kepala Hana, mengusap lembut surai dark brown gadis itu. Hana memandanginya dan kembali menyeka air mata. Hana selalu membuatnya teringat pada Yun Ae dan tanpa sadar, ia memperlakukan Hana seperti Yun Ae—termasuk kebiasaannya mengusap kepala Yun Ae. Mungkin karena hubungan darah, jadi wajar saja kalau kedua wanita itu memiliki beberapa kemiripan baik itu dari segi perilaku maupun wajah. Keberadaan Hana, terasa seperti pembangkit kenangan sekaligus sebagai obat atas rasa sakit Kyuhyun. Hana memberinya perasaan hangat yang telah lama hilang.

“Kenapa?” tanya Hana saat melihat perubahan raut wajah Kyuhyun.

“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Kyuhyun gugup. Sejak kapan dirinya jadi berdesir? Kyuhyun menelan ludah dan itu terasa sangat sulit. Saat Yun Ae menjauh, Hana datang. Mungkinkah Kyuhyun mencari Yun Ae dalam diri Hana? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Hana adalah Hana; dan Yun Ae tetaplah Yun Ae.

 -Bersambung-

Kesimpulannya. Yun Ae minta dijambak. Hana minta ditampar.

Jadi, siapa diantara mereka berdua yang paling bikin kesal?

Oh ya, berhubung ff ini tidak lama lagi segera berakhir (part 14), maka sy informasikan lebih awal kalau sy berencana mengubah password ff sy. Dimulai dari ff terbaru yang akan tamat (Pianist’s Melody. Disusul dgn Drama). DUA PART TERAKHIR AKAN SY PROTECT DENGAN PASSWORD YANG BARU.

Sy masih berpikir, apakah ff lama akan sy ubah passwordnya atau enggak. Tapi ada kemungkinan diubah. Hanya untuk berjaga-jaga terhadap tindakan plagiat.

Iklan

115 thoughts on “Pianist’s Melody (Part 10)

  1. Mencho berkata:

    Yun ae cepetlah sadar kalo kyuhyun itu suka sama elu,jangan jadi dingin kek gitu dong sama kyuhyun…
    Nanti giliran kyuhyun sama hana nah baru nyesel…

  2. KIKI berkata:

    Ini kenapa jadi nyimpang gini. Yun Ae makin nggak ada interaksi sama sekali sama Kyuhyun. Ini Hana yang nongol aja.
    Ada pikiran yang menghampiri. Kalau Hana itu sebenarnya Yun Ae. Kan nggak mungkin..
    Cho kau mau cinta yang baru gitu?! Dengan Hana. Oh tidakkk

  3. whitedear berkata:

    yun ae tidak apa* kan? sempat ikut cemas waktu kyuhyun kecelakaan.. dia kn pianis kutnya tadi tangannya cidera.. untunglah tidak

    itu kenapakyuhyun merasa nyaman sama Hana, jngan sampai kyuhyun suka sama Hana.. kn bisa jadi, lagian kyuhyun sama yun ae tidak pernah berbicara sama kyuhyun 😦

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s