Drama (Part 19)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

“Apa yang harus kulakukan?”

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Baek Mi Rae setelah bermenit-menit lamanya membungkam karena melihat pemberitaan tentang dirinya dan Kyuhyun. Ia sangat tegang dan tampak pucat. Pandangannya sedikit kosong. Kepalanya menoleh cepat pada Han Jin Ae yang ikut membisu bersamanya.

“Jin Ae. Apa yang harus kulakukan?” Mi Rae mengulang pertanyaan yang sama. “Semua orang akan memerhatikanku. Akan ada banyak spekulasi yang muncul tentang aku. Bagaimana jika mereka mengatakan hal-hal buruk? Bagaimana…bagaimana jika publik mem-bully dan kehidupanku tidak akan setenang dulu? Orang-orang kaya itu…mereka mungkin akan melakukan sesuatu terhadapku, kan? Apa, apa yang harus aku lakukan sekarang? Semua orang di rumah sakit…aku…aku…”

“Mi Rae, cobalah untuk tetap tenang.”

“Bagaimana aku bisa tenang?”

“Lalu apa lagi yang bisa kau lakukan? Tenangkan dirimu. Kau tidak akan bisa berpikir dengan kondisimu yang sepanik itu,” Jin Ae ikut gusar melihat Mi Rae. “Lagipula kepanikanmu terlalu berlebihan. Kenapa sekarang kau jadi percaya pada apa yang kau lihat dalam drama?”

“Percaya atau tidak, tapi aku tidak suka jika kehidupanku disorot.”

“Baek Mi Rae, jangan kekanak-kanakkan! Kita memang tidak bisa mengendalikan opini publik, tapi setidaknya cobalah untuk tidak menjadi seorang pengecut.”

“Kata-katamu sangat berlebihan. Siapa yang kau bilang pengecut?”

Han Jin Ae terkekeh pelan. “Bercanda. Sudahlah, kau juga tahu, cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi. Tidak mungkin kau dapat menghindari itu, kecuali kau pergi dari kehidupan Kyuhyun. Apa seperti itu maumu?”

“Bukan begitu, aku hanya…”

“Kalau kau mencintai seseorang, kau harus belajar untuk menerima orang itu sepenuhnya, tanpa syarat. Termasuk tentang kehidupan orang itu dan apa pun yang ada di sekitarnya.”

Mi Rae hanya diam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Jin Ae. Benar, ia sudah tahu kalau hari seperti ini akan tiba. Namun, kehidupannya yang selama ini serba tertutup membuatnya agak tidak siap menerima perubahan.

“Kita sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan. Sebaiknya kita kembali sekarang,” Jin Ae menepuk pundak Mi Rae. “Jangan khawatir. Okay?” ia tersenyum pada Mi Rae yang masih terpukul karena kejadian pagi itu.

Akhirnya mereka berdua kembali ke masing-masing departemen tempat mereka bertugas. Walau Jin Ae mengatakan padanya untuk tenang, Mi Rae tetap saja diselimuti oleh berbagai macam hal yang terus saja mengusik pikirannya. Ia terlalu cemas dengan opini publik. Ia terlalu mengkhawatirkan perubahan-perubahan yang akan terjadi dalam hidupnya. Setelah pemberitaan tentang hubungannya dan Kyuhyun menyebar, ia tahu bahwa ia akan menjalani kehidupan yang berbeda.

Mi Rae mencoba untuk bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Ia kembali bekerja, akan tetapi ia tak bisa leluasa apalagi dengan semua mata yang terus memerhatikannya, juga pembicaraan-pembicaraan tentang dirinya yang sama sekali tak kuasa ia cegah. Jadi, katakan! Bagaimana bisa ia berkonsentrasi?

“Gadis yang diberitakan berhubungan dengan chaebol itu memang benar kau, bukan?” tanya seorang wanita yang merupakan dokter muda. Mi Rae menoleh padanya. Bukan hanya wanita itu, tapi beberapa orang yang kebetulan mendengar apa yang ditanyakan wanita tersebut ikut menoleh pada Mi Rae. Mungkin, apa yang barusan ditanyakan padanya mewakili apa yang ingin ditanyakan semua orang.

“Itu, aku…,” mengapa jantungnya berdentam kuat sekali karena tatapan mereka? “Bukan. Itu bukan aku,” elaknya.

“Aneh, tapi gadis itu sangat mirip denganmu?”

“Malam itu, kau juga tidak berada di rumah sakit. Baek Mi Rae, tidak apa-apa jika memang benar. Kau sangat hebat bisa menggandeng pemuda seperti itu,” wanita itu mengerling.

Sunbae, kau salah lihat. Gadis itu mungkin hanya mirip denganku,” Mi Rae terkekeh.

Hal-hal seperti inilah yang membuat Mi Rae merasa tidak nyaman jika hubungannya diketahui publik. Sekarang yang ia pikirkan adalah, bagaimana caranya membungkam mereka. Jalan satu-satunya yang melintas di otaknya adalah membuat mereka percaya jika gadis yang bersama Kyuhyun itu bukan dirinya.

“Bagaimana kalian bisa saling kenal?”

“Tidak. Kubilang bukan aku. Coba pikirkan, bagaimana mungkin orang seperti Cho Kyuhyun yang kedengarannya sangat hebat itu, bisa berhubungan denganku?”

Mereka terdiam, ikut memikirkan pertanyaan Mi Rae. Mereka terlihat sedang mengira-ngira, kemungkinan pertemuan seperti itu memang satu berbanding seribu. Pada umumnya, kaum konglomerat hanya akan berhubungan dengan seseorang yang kurang-lebih memiliki status yang sama.

Well. Mungkin, otakku masih dipengaruhi dengan dongeng masa kecil. Kau tahu? Cinderella,” celetuk ringan wanita itu sambil tertawa kecil.

Tidak terlihat jelas, tapi Mi Rae sedang menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan. Ia sangat lega. Ini langkah baik jika ia ingin fokus pada study-nya. Ia hanya ingin orang-orang melihat kemampuannya, bukan karena siapa yang ada di sekitarnya.

Entah sejak kapan, namun keadaan di tempat itu menjadi sedikit berisik. Mereka mendadak heboh dan menatap ke satu arah. Mau tidak mau, Mi Rae ikut menoleh ke tempat di mana mata semua orang sedang tertuju. Raut wajah Mi Rae berubah tegang, dan matanya melotot. Ya Tuhan, dirinya baru saja berhasil meyakinkan orang-orang itu, tapi…

“Hey, bukankah…dia orangnya?” ujar seorang perawat. Sebenarnya ia bertanya pada perawat lain yang berdiri di sisinya, tapi suaranya cukup keras sehingga semua orang ikut mendengarnya.

Pemuda konglomerat yang sedang menjadi bahan perbincangan, Cho Kyuhyun yang super tampan mengenakan setelah jas resmi berwarna kelabu tua dan dilapisi coat panjang selutut berwarna hitam itu, sudah berdiri gagah di UGD. Kyuhyun melangkah tegas menghampiri Mi Rae yang masih sangat terpukul sejak melihat keberadaannya di tempat itu.

“Senang melihatmu,” ia tersenyum pada Mi Rae justru seperti sedang melihat hantu. Sayang sekali, saat ini Mi Rae tidak bisa merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Kyuhyun.

“Ka-kau, kenapa kau berada di sini?” tanya Mi Rae sedikit terbata. Ia tak bisa menjelaskan betapa jantungnya berdentam sangat kuat karena semua orang sedang memberi perhatian padanya, dan tentu saja pada Cho Kyuhyun.

Seperti kehabisan darah, wajah Mi Rae tampak pucat pasi. Kyuhyun paham apa yang sedang dirasakan Mi Rae. Ia tidak menjawab pertanyaan Mi Rae, dan justru menggenggam tangan Mi Rae.

“Kyu,” Mi Rae berusaha melepaskan tangan Kyuhyun. Apa yang dilakukan Kyuhyun? Semua orang sedang melihat mereka.

Kyuhyun tidak membiarkan itu terjadi dan justru menggenggam tangan Mi Rae lebih kuat, “Tidak apa-apa,” Kyuhyun berujar tenang. Mi Rae masih berusaha untuk melepaskan tangannya, akan tetapi usahanya tampak sia-sia. Sementara Kyuhyun lebih memilih untuk menatap orang-orang yang berhenti dari segala aktivitas mereka, dan sepertinya mereka tahu jika akan ada sebuah pertunjukan. “Aku minta maaf karena kekacauan kecil yang kami timbulkan. Namaku Cho Kyuhyun, dan gadis yang berdiri di sisiku adalah kekasihku.”

Keadaan yang hening beberapa saat setelah Kyuhyun mulai berbicara, kini kegaduhan kembali pecah. Semua orang sudah melihat pemberitaan tentang dua orang itu, tapi mendengar langsung pengakuan dari mulut Kyuhyun membuat mereka jauh lebih terkejut. Beberapa gadis yang tersipu sejak kemunculan Kyuhyun sampai-sampai harus membekap mulut. Mi Rae belum berkedip dan memandang tegang pada Kyuhyun.

“Mungkin saat ini banyak yang berpikiran buruk terhadap kami. Aku tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran semua orang, dan aku tidak peduli pada pendapat orang. Apa pun yang mereka pikirkan tentangnya, percayalah, gadis ini terlalu kaku untuk melakukan hal-hal seperti itu. Dia adalah gadis yang sangat tertutup. Aku yang lebih dulu jatuh cinta padanya. Aku yang lebih dulu mengejarnya. Dia mengenalku saat aku hanya seorang mahasiswa biasa. Kalau sejak awal aku mendatanginya sebagai aku yang sekarang, aku tahu hubungan kami tidak akan mungkin sampai sejauh ini. Dia orang yang sangat berhati-hati dan tidak sembarangan menerima perasaan orang lain. Saat dia memilihku, aku mengerti bagaimana perasaan dan ketakutannya jika publik tahu tentang dirinya. Hubungan kami yang terkesan disembunyikan bukan karena disengaja, tapi lebih kepada, aku sedang memberinya waktu. Saat aku melihat berita pagi ini, aku tahu kalau waktunya telah habis. Namun bukan itu alasanku berada di sini. Aku hanya ingin mengatakan padanya—” Kyuhyun mengambil sedikit jeda, ia menoleh pada Mi Rae yang seolah-olah sedang menahan napas. “Terlepas dari apa pun yang akan kau lakukan, kau selalu mendapatkan kepercayaanku.”

Mi Rae tertegun. Senyuman tulus Kyuhyun. Tatapan lembut Kyuhyun. Semua itu membuat tubuh Mi Rae menjadi sangat hangat. Kalimat terakhir Kyuhyun….ah, entahlah, tapi disaat rasa hangat semakin kuat membelenggunya, ada rasa lain yang muncul secara perlahan. Dadanya mulai sesak seperti sedang dihimpit oleh sesuatu yang tak kelihatan. Ia yakin kalau Kyuhyun mendengar percakapannya dengan dokter wanita tadi. Bukannya marah, tapi Kyuhyun justru mendukungnya?

“Baek Mi Rae adalah gadis yang sangat tangguh. Aku yakin kalian juga tahu itu. Dia adalah seseorang yang selalu berusaha paling keras dibandingkan orang lain. Ketakutan terbesarnya kalau hubungan kami terkuak adalah, orang-orang akan memperlakukannya secara berbeda. Orang-orang akan mengira apa pun yang terjadi padanya karena ia memiliki koneksi dengan Daehan. Orang-orang mungkin akan bertambah segan padanya dan semakin menghargainya, tapi bukan karena kemampuannya. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk mencegah hal-hal seperti itu. Aku hanya dapat berharap bahwa semua orang dapat berlaku lebih bijaksana menanggapi pemberitaan tentang kami.”

Selepas berkata demikian, Cho Kyuhyun membungkukkan tubuhnya di hadapan semua orang. Mi Rae sangat terkejut dan tidak mengira jika Kyuhyun akan melakukan hal sejauh itu. Semua orang saling pandang seakan paham apa yang dimaksud Kyuhyun, dan para wanita terlihat jelas menahan pekikan mereka setelah menyaksikan perlakuan Kyuhyun terhadap Mi Rae. Siapa yang tidak terharu? Siapa yang tidak merasa iri? Semua wanita pasti mendambakan sosok seperti Kyuhyun yang sangat menghargai pasangannya. Pemuda itu tahu bagaimana memperlakukan wanitanya dengan baik.

***

Aktivitas yang sangat padat membuat Kyuhyun selalu memanfaatkan waktunya dengan baik. Sejak terjun ke perusahaan, Kyuhyun sudah terbiasa pulang malam karena pekerjaan. Biasanya ia tidak akan menunda jam tidurnya karena itu adalah sesuatu yang cukup berharga, kecuali malam ini. Kyuhyun baru saja mengambil sebotol anggur dari mini bar dan meletakkan anggur itu di meja. Ia lalu duduk pada lantai yang beralaskan karpet bulu dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Sambil meneguk anggur di gelasnya, Kyuhyun sesekali melirik pada Lee Hyukjae yang duduk di single sofa, tepat di hadapannya. Sejak tadi, Hyukjae terus memelototkan matanya pada ponsel. Sesekali Kyuhyun mendengar Hyukjae berdecak, lalu tatapan Hyukjae bergantian mengarah padanya dan kemudian Hyukjae akan fokus lagi pada ponsel.

“Berhenti melakukan itu! Sampai kapan kau akan terus melihat video itu?” Kyuhyun mendesah.

Tanpa mengalihkan tatapan dari ponsel, Hyukjae berkata, “Kau sungguh melakukan ini?”

“Lalu kau pikir itu siapa? Hologram?” Kyuhyun menarik napas panjang karena Hyukjae tidak menjawabnya. Percuma saja ia berbicara tadi. Seharusnya ia tidak menanggapi Hyukjae dan membiarkan pemuda itu selesai dengan apa pun yang sedang dikerjakannya sekarang.

Berbicara dengan Hyukjae memang sangat menyenangkan, tapi tidak disaat ini. Saat dimana Hyukjae terus mengulang-ulang video pengakuan Kyuhyun di rumah sakit. Tampaknya seseorang merekam dan meng-upload itu di internet dan dalam hitungan menit video itu menjadi viral. Alasan mengapa saat ini Hyukjae berada di kondominium Kyuhyun. Setelah puas melihat video tersebut, Hyukjae meletakkan ponselnya di meja.

“Apa? Kenapa melihatku begitu?” tanya Kyuhyun. Pasalnya, tatapan Hyukjae kini justru enggan beranjak dari dirinya.

“Kau sengaja, kan?”

“Tentang apa? Videonya? Atau pengakuannya?”

“Keduanya.”

“Aku memang sengaja mengatakan itu di depan mereka. Selain karena hubungan kami sudah terkuak, aku tidak berpikir untuk menyangkalinya,” Kyuhyun meneguk lagi anggurnya, kemudian melanjutkan perkataannya. “Tapi video itu diluar kuasaku, dan kabar baiknya; aku sama sekali tidak keberatan,” ia tersenyum tipis.

“Baek Mi Rae membuatmu gila rupanya,” Hyukjae berdecak prihatin, tapi Kyuhyun justru tertawa kecil seolah yang dikatakan Hyukjae barusan adalah sebuah pujian. Mungkin ucapan Hyukjae ada benarnya. Kyuhyun sudah gila.

“Kau mungkin tidak keberatan, tapi bagaimana dengan Mi Rae?”

“Hm, aku merasa sedikit menyesal karena beberapa alasan, tapi kupikir kita tidak bisa selamanya terus bersembunyi. Dia akan membutuhkan waktu untuk beradaptasi, dan semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin dia tahu bahwa aku sangat bangga mengenalkannya ke hadapan semua orang sebagai milikku.”

“Ya Tuhan, kata-katamu membuat wajahku terbakar. Apa yang dilakukan Mi Rae padamu sampai-sampai kau jadi begini?” Hyukjae berlagak terkejut.

“Kenapa? Kau cemburu?” Kyuhyun menatap tajam pada Hyukjae. “Tawaranku belum berubah. Kita bisa menjadi sepasang kekasih di kehidupan mendatang asal kau lahir sebagai wanita, bagaimana? Pasti akan sangat menggemaskan melihat wanita bergusi semerah dirimu. Aku tak sabar lagi,” katanya dengan sebelah mata yang mengerling jenaka.

“Dasar kau setan biadab laknat. Enyahlah dari tubuh sahabatku!”

Erangan panjang dari Hyukjae yang memamerkan mimik jijik, justru disambut Cho Kyuhyun dengan tertawa terpingkal-pingkal. Memang sangat menyenangkan jika mencandai Lee Hyukjae. Lengkingan tawa Kyuhyun yang memekak telinga terdengar membahana membelah malam. Untung saja kondominiumnya kedap suara. Kalau tidak, mereka mungkin akan terkena masalah besar karena telah menciptakan keributan.

“Omong-omong, apa yang dikatakan bibi?” Hyukjae yang dongkol memutuskan untuk mengalihkan Kyuhyun agar pemuda itu berhenti menertawakannya.

“Tebak saja. Ibu adalah wanita yang paling berbahagia.”

“Apa kau tidak berpikir kalau mungkin saja ini ulah bibi? Bisa saja bibi sengaja membocorkan hubungan kalian pada paparrazi, bukan begitu?”

“Dibalik casing­-nya yang tampak rupawan, baik hati dan tak berdosa seperti bayi suci; ibuku adalah seorang wanita yang cerdik sekaligus sangat licik, tapi aku tahu dia tidak terlibat dalam hal ini.”

“Kau tahu? Mendengarmu mengatakan hal itu tentang bibi, mendadak aku teringat pada sesuatu. Yang tadi itu terdengar mirip seperti…,” Hyukjae mengambil jeda, ia berdeham kecil dan kemudian mulai bernyanyi, “…liar…nakal…brutal…membuat semua orang menjadi gempar…kera saktiiiii~”

Melihat Hyukjae yang sangat bersemangat dengan nyanyiannya ditambah sedikit gerakan, Kyuhyun pun menggeleng prihatin, “Kau pikir ibuku Sun-go-kong? Ckck, tolong jangan samakan ibuku denganmu.”

“Hey! Jadi maksudmu, aku adalah kera sakti?”

“Tentu saja tidak. Kau sama sekali tidak sakti. Kau hanya monyet gunung biasa.”

“CHO KYUHYUN!”

Suara tawa Kyuhyun kembali menggelegar kuat. Bantal sofa yang mendarat mulus di wajahnya tak membuat Kyuhyun berhenti tertawa. Lee Hyukjae harus banyak bersabar menghadapi manusia seperti Cho Kyuhyun yang sekali waktu dapat berubah menjadi orang yang paling menyebalkan di jagad raya.

“Asal kau tahu,” Kyuhyun sedang berusaha keras untuk membuat dirinya sendiri berhenti tertawa. Perutnya sudah kram dan rahangnya juga terasa kaku. “Ibuku bisa melakukan hal yang jauh lebih gila daripada membocorkan hubunganku dan Mi Rae pada publik,” berhasil, karena wajah cemberut Hyukjae berangsur hilang setelah mendengar penuturan Kyuhyun. “Ibu hampir saja menggelar konferensi pers.”

“Konferensi pers?”

“Hm, benar. Aku tidak tahu apa yang akan ibu lakukan dengan konferensi pers itu, tapi jika menebak watak gilanya; sepertinya aku bisa menduga apa yang ingin dia sampaikan,” Kyuhyun belum mengatakan apa-apa, tapi melihat ekspresi Hyukjae, ia tahu kalau Hyukjae pun memikirkan hal yang sama dengannya. “Pernikahan. Dengan dalih ingin mengklarifikasi pemberitaan yang telah menyebar. Syukur saja aku bisa mencegah ibu melakukan itu. Ibu membuatku merasa akan gila. Itulah mengapa aku merasa video itu jauh lebih baik daripada konferensi pers. Setidaknya, video itu telah membantuku untuk mengatakan pada semua orang kebenaran tentang kami.”

“Aku agak penasaran; mengapa bibi terlihat sangat terobsesi dengan pernikahanmu?”

“Ibu melewati tahun-tahun terberat dalam hidupnya saat memutuskan untuk tetap berada di sisi ayahku. Ditambah lagi setelah aku meninggalkan rumah, ibu pasti sangat kesepian. Sekarang ibu hanya sedang mencoba mengisi hidupnya dengan hal-hal yang membahagiakan.”

***

Senam jantung. Baek Mi Rae mulai berpikir untuk melatih jantungnya. Sejak hubungannya dengan Cho Kyuhyun terkuak, ia terus menghadapi hal-hal mengejutkan yang berpotensi membuatnya mati muda karena serangan jantung. Bagaimana tidak, setelah kedatangan Kyuhyun yang bak seorang pangeran berkuda putih dan melakukan sebuah pengakuan di hadapan semua orang di UGD; seolah belum cukup membuat Mi Rae panas-dingin, masih di hari yang sama, pengakuan itu akhirnya beredar bebas di masyarakat.

Dalam bayangannya, Mi Rae hampir memenggal kepala seseorang yang merekam video tersebut, tapi apa daya; orang itu adalah seorang dokter. Tidak mungkin dirinya yang hanya mahasiswi praktek rendahan sampai melakukan hal itu, kan? Kalau ini Zaman Joseon, maka dirinya yang hanya rakyat jelata sekelas Cheonmin, tak akan pernah bisa berkutik di hadapan sang dokter yang digambarkan sebagai Yangban atau bangsawan. Hidup memang kejam.

Langit hari ini terlihat sangat cerah. Duduk di bangku panjang, Mi Rae sesekali menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Kepalanya sedikit mendongak memandangi langit biru yang begitu luas. Ia lalu meraih sandwich yang terletak di sisinya. Ini cukup untuk makan siangnya. Ia tak ingin berada di kantin, di tengah keramaian dengan dirinya yang menjadi pusat perhatian. Seorang pun tidak akan sanggup menelan makanan dalam kondisi seperti itu.

Setelah menghabiskan sandwich, Mi Rae bersiap untuk pergi dari atap rumah sakit yang mulai sekarang akan menjadi tempat persembunyiannya, namun ia mengurungkan niatnya. Masih ada sepuluh menit tersisa. Sebaiknya ia tetap di situ sampai jam istirahat benar-benar berakhir. Setidaknya, ia memperkecil kesempatan orang-orang yang hendak bergosip karena melihatnya.

Oppa, kau baik-baik saja, kan?”

Mi Rae menoleh, memerhatikan sepasang muda-mudi yang duduk di bangku panjang lainnya. Sang pemuda dengan pakaian rumah sakit tampak sedikit pucat, sementara gadis cantik di sisinya sedang mengemasi kotak-kotak makanan yang isinya telah berkurang. Sepertinya mereka baru saja menikmati makan siang bersama.

“Hm, rasanya aku sudah sembuh setelah makan masakanmu.”

“Kau terlalu keras kepala. Sudah kubilang jangan memaksakan dirimu bekerja,” si gadis memberengut kesal, sementara pemuda itu hanya tertawa kecil sembari mencubit gemas pipi gadis tersebut. “Oppa, aku tahu obat yang sangat manjur untuk menyembuhkanmu.”

Kening pemuda itu berkerut, ia mungkin sedikit kebingungan. Sang gadis menyingkirkan kotak bekal dan mendekatkan dirinya pada pemuda tersebut. “Apa?” tanya pemuda itu karena sang gadis tiba-tiba saja memajukan wajahnya.

Oppa, kau pernah berciuman?”

“Lee Yuri, apa maksudmu?”

“Ciumanku adalah obat yang sangat manjur,” gadis itu mengerling.

Si pemuda bergeser agak menjauh dari gadis itu, “Jangan mengada-ada.”

Gadis bernama Lee Yuri itu justru mendekat, “Aku menyukai Oppa, dan kupikir Oppa juga menyukaiku. Lalu apa masalahnya?”

“Aku tidak berpacaran dengan anak sekolah.”

Oppa, kau sangat kejam,” gadis itu cemberut, tapi hanya sesaat. “Ah, anggap saja ini latihan.”

“Lee Yuri!”

“Kau mau mengajariku, kan? Oppa, aku akan berlatih denganmu. Semua teman-temanku pernah berciuman, hanya aku siswa SMA di tahun ketiga yang belum pernah berciuman,” ujar gadis itu sembari memajukan bibirnya.

Pemuda yang tampak resah itu memegang pundak si gadis dengan kedua tangannya, “Lee Yuri, hentikan!” dan ia berdiri, menjauhi gadis tersebut.

Oppa, jangan lari! Aku hanya ingin menciummu.”

“Berhenti di situ! Jangan mengejarku!”

Tingkah konyol kedua orang itu membuat Baek Mi Rae tersenyum. Ia merasa lucu memerhatikan si gadis yang terus mengejar pemuda yang berlari-lari di taman atap rumah sakit. Dilihat dari kenekatannya, gadis itu mungkin orang yang tak kenal putus asa, atau justru tak tahu malu.

Okay. Jam istirahat sudah berakhir. Baek Mi Rae pun beranjak, senyum di bibirnya masih mengembang karena kejadian lucu tadi. Namun, langkah Mi Rae melambat. Ia tiba-tiba saja memikirkan sesuatu.

“Baek Mi Rae! Hentikan! Jangan mengejarku! Berikan kunci itu padaku!”

“Aku tidak mengejarmu! Aku berniat memberikan kunci ini padamu. Tapi, harus kau yang mengambilnya.

Akhirnya langkah kaki Mi Rae benar-benar terhenti. Tampak perubahan ukuran terjadi pada bola matanya mulai melebar. Percakapan dua orang tadi tanpa diprediksi justru memanggil sesuatu yang selama ini tersembunyi jauh di memori terdalamnya. Ada beberapa kenangan yang tiba-tiba menyapanya.

Jantung Mi Rae berdentam kuat ketika ia dibawa kembali ke masa di mana ia berada di Jeju bersama Keluarga Cho. Waktu yang dihabiskan dengan Kyuhyun di pantai. Lalu teringat pada dirinya yang mengejar Kyuhyun dalam kamar yang terkunci. Juga posisi saat ia menindih Kyuhyun…

“Kau, pernah berciuman? Aku ingin tahu seperti apa rasanya. Maukah kau mengajariku? Aku ingin berlatih denganmu.

DEG!

Dalam hitungan detik, tubuh Mi Rae menjadi lemas. Ia kehilangan tenaga dan terduduk begitu saja. Bahkan ia tak yakin jika masih tulang dalam tubuhnya yang mampu menyanggahnya agar tetap berdiri. Wajah Mi Rae berubah putih, dan irama jantung yang luar biasa mengerikan. Mi Rae pikir, ia akan mati sekarang. Dadanya sangat sakit karena jantungnya berdetak terlalu kuat.

“Apa…apa yang sudah aku lakukan?”

Ia bertanya pada dirinya sendiri. Tubuhnya yang panas-dingin mulai gemetar. Penggalan kenangan yang hilang itu akhirnya ia kembali. Namun, siapa yang menyangka jika ternyata hal semengerikan itu yang terjadi di Jeju?

“Baek Mi Rae. Kau…kau gila?” gadis itu tampak sangat terpukul. Ia terdiam sekian menit, bahkan tidak lagi peduli jika ia akan diomeli karena datang terlambat. “Ya Tuhan, apa yang kulakukan?”

Mi Rae mulai menunjukkan tanda-tanda kepanikan. Ia menoleh ke segala arah seperti mencari sesuatu yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa yang ia cari. Ia menarik-narik rambutnya dan kedua kakinya dihentak-hentakkan, persis anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan. Mi Rae berteriak-teriak histeris seperti orang gila sehingga menjadi perhatian beberapa orang yang kebetulan berada di atap. Ia bahkan lupa kalau keberadaannya di tempat itu adalah untuk menghindari perhatian.

Terkadang, menggali sesuatu di masa lalu tidak selalu berakhir menyenangkan ketika kau menemukan jawaban dari apa yang kau cari. Seperti kata Kyuhyun, akan lebih baik jika Mi Rae tidak mengingat kejadian malam itu.

Semua orang yang berpapasan dengan Mi Rae tampak keheranan. Mi Rae berjalan dengan tatapan kosong, langkah pelan, dan wajah pucatnya itu membuatnya tidak berbeda dengan zombie. Ia bahkan tidak memedulikan sapaan yang ditujukan padanya. Baek Mi Rae seakan telah kehilangan pikiran. Ia tersesat dalam dirinya sendiri.

Saat Dokter Jung sedang memberikan penjelasan dalam rapat internal, Mi Rae sama sekali tidak memerhatikan. Sekarang Mi Rae menyesal. Ia menyesali perbuatan memalukan itu, dan ia lebih menyesali ingatannya yang tiba-tiba saja muncul.

“Baek Mi Rae, kau mendengarku?” Dokter Jung bertanya pada Mi Rae. Sementara seorang mahasiswa praktek lainnya yang duduk di sisi Mi Rae terlihat menepuk pundak Mi Rae untuk menyadarkan Mi rae. “Dokter Park akan mengajarimu,” kata Dokter Jung lagi. Jantung Mi Rae mulai berdetak-detak tak beraturan. “Kau akan berlatih pada Dokter Park. Kau mendengarku, kan?”

Maukah kau mengajariku? Aku ingin berlatih denganmu.

Entahlah, namun kata-kata Dokter Jung justru membuatnya teringat kembali pada apa yang terjadi selama di Jeju. “Tidak! Aku tidak mau!” dan tiba-tiba saja ia berteriak setengah histeris. Ia belum benar-benar sadar rupanya.

Sial. Kenapa ingatan itu justru menerornya? Lalu ia tersadar saat semua orang sedang memberi perhatian serius padanya. Ia paham bahwa ia telah melakukan kesalahan besar. Mungkin sebaiknya ia ke Pusat Psikiatri untuk memeriksakan kesehatan jiwanya. Pasalnya, ia mulai tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan.

Melewati beberapa detik dalam kebisuan dan keterkejutan akibat teriakan Mi Rae tadi, Dokter Jung meletakkan kedua tangannya di atas perut dan membungkukkan tubuhnya 45 derajat sembari berkata, “Baiklah, Nyonya.”

Desisan terdengar dari mulut Mi Rae. Ya Tuhan, tidak lama lagi ia akan gila. Lihat apa yang sudah ia lakukan?

“Kau sudah gila?” Dokter Park bertanya dan bagi Mi Rae itu terdengar sebagai pembenaran kalau ia memang benar-benar telah gila. “Apa yang sedang kau pikirkan, hah?”

“Maaf. Maafkan aku.”

“Dokter Park, jangan marahi dia. Bagaimana jika pacarnya yang chaebol itu tahu? Kau bisa tamat,” celetuk Dokter Jung sembari pergi, dan Mi Rae lagi-lagi mendesis panjang. Dokter Jung adalah orang yang paling tidak bisa menjaga mulutnya dan selalu blak-blakan. Kepala UGD itu secara terang-terangan menyinggungnya.

“Aish, dasar!” Dokter Park menggeleng dan kemudian beranjak pergi.

Tamat sudah riwayatnya. Mi Rae hanya mampu membungkukkan tubuhnya berkali-kali sebagai permohonan maaf kepada semua orang atas sikapnya yang tidak pantas. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke tembok dan berharap dirinya amnesia.

Dengan mimik yang sangat terpukul dan sambil menarik napas berat, Mi Rae mengeluarkan ponsel dan menghubungi Han Jin Ae, “Apa yang akan kau lakukan malam ini?”

***

“Bukankah kau terlalu sering berada di sini?”

Kyuhyun memandangi Hyukjae yang sedang mengurai komik. Sesekali Hyukjae tertawa terpingkal-pingkal karena bacaannya itu. Cho Kyuhyun heran; bagaimana Hyukjae masih bisa membaca komik? Setahunya, ini adalah tahun-tahun sibuk bagi mahasiswa kedokteran seperti Hyukjae. Namun lihatlah apa yang dilakukan Hyukjae, ia justru terlalu santai. Hari ini Lee Hyukjae kembali bertandang ke tempat tinggal Kyuhyun. Ia bahkan menegaskan kalau dirinya akan menginap.

“Aku kesepian di apartemen,” celetuk Hyukjae tenang.

“Ck, kau sedang bermasalah dengan Jin Ae?”

“Tentu saja tidak,” jawab Hyukjae, cepat. “Kalau Jin Ae bisa diajak menginap di apartemenku, tidak mungkin aku berada di sini,” cengirnya. Kyuhyun hanya menggeleng-geleng menanggapi Hyukjae. Ponsel Hyukjae berbunyi, “Kau lihat? Jin Ae menelepon. Hubungan kami semakin hari semakin romantis. Ck, dia selalu merindukanku,” kata Hyukjae, menyombongkan diri. Kemudian ia menjawab panggilan masuk itu. “Hallo, Sayang. Ada apa? Setiap hari kita bertemu di rumah sakit, dan baru beberapa jam kita berpisah; kau sudah merindukanku? Tidak apa-apa, sekarang kau bisa tidur nyenyak setelah mendengar suaraku.”

Kau bersama Cho Kyuhyun?

Senyum Hyukjae langsung hilang mendengar kalimat pertama yang dilontarkan Jin Ae, “Kenapa kau justru menanyakan Kyuhyun?” tanya Hyukjae. Mendengar namanya disebut, perhatian Kyuhyun jadi tertuju pada Hyukjae.

Jangan menjawabku dengan pertanyaan lain. Apa kau sedang bersama Kyuhyun saat ini?

“Iya, tapi kenapa kau—”

Berikan ponselmu padanya.

“Apa?”

Aku ingin bicara dengan Kyuhyun.

“Tapi…,” Hyukjae memandangi Kyuhyun beberapa saat, “Baiklah,” ia mendesah dan menyodorkan ponselnya pada Kyuhyun. “Aku tidak tahu kenapa Han Jin Ae, kekasihku itu justru ingin berbicara denganmu,” dan Kyuhyun tidak tahu kenapa Hyukjae sampai harus menekan kalimatnya begitu.

“Ya, ini aku.”

Cho Kyuhyun, kenapa kau tidak menjawab panggilanku?

“Kau meneleponku?” Kyuhyun bertanya dan Hyukjae menyipitkan mata. Astaga, Hyukjae sedang cemburu? “Ah, maaf, sepertinya aku meninggalkan ponsel di kamar. Ada apa kau mencariku?”

Kau harus datang ke sini!

“Aku?”

Aku melakukan kesalahan. Aku pantas mati.

“Baek Mi Rae?” suara itu membuat Kyuhyun sampai mengubah posisi duduknya, “Kau sedang bersama Mi Rae?”

Iya, cepatlah ke sini! Gadis ini terus mengatakan itu sejak dua jam lalu. Aku bisa gila!

“Baiklah, katakan di mana kalian berada!”

Han Jin Ae mengakhiri pembicaraan via telepon itu setelah menyebutkan sebuah alamat. Ia dan Mi Rae sedang berada di sebuah kedai di salah satu kawasan Sungai Han. Jin Ae mendesah melihat Mi Rae yang baru saja menghabiskan soju yang entah gelas ke berapa. Namun, sudah ada tujuh botol soju yang kosong di atas meja mereka.

“Aku melakukan kesalahan. Aku pantas mati,” Mi Rae menuangkan soju ke dalam gelasnya.

“Sebelum kau mati, aku yang akan mati,” desis Jin Ae. “Sebenarnya ada apa? Kau memanggilku hanya untuk ini?” Mi Rae menoleh, memandangi Jin Ae. Matanya berkaca-kaca. “Kau menangis? Baek Mi Rae, kau serius ingin membunuhku rupanya,” ia mengerang frustrasi melihat tingkah Mi Rae.

“Aku sangat sedih karena aku sudah menghabiskan banyak soju, tapi mengapa aku tak juga mabuk?” Mi Rae bertanya sembari menangis.

“Kau mabuk. Sangat mabuk,” Jin Ae mendesis. Baek Mi Rae adalah orang yang tidak memiliki toleransi terhadap alkohol, itulah sebabnya Mi Rae tidak pernah menyentuh minuman beralkohol. Jadi sangat mustahil jika saat ini gadis itu tidak mabuk. Melihat Mi Rae yang menangis sambil memeluk botol soju membuat Jin Ae kian frustrasi. Ia menuangkan soju ke dalam gelasnya sendiri, “Berhentilah menangis! Semua orang melihat kita!” titahnya setelah menelan minuman dalam sekali teguk. “Orang-orang mungkin akan berpikir kalau kau baru saja dicampakkan oleh kekasihmu.”

Hanya tiga puluh menit berselang, Cho Kyuhyun dan Lee Hyukjae akhirnya tiba di kedai tempat kedua gadis itu berada.

“Gadis ini sama sekali tidak pernah mengonsumsi alkohol,” Jin Ae baru bisa bernapas lega melihat kedatangan mereka.

“Apa dia mabuk?”

“Kau masih bertanya?”

Mereka memandangi Mi Rae yang sedang mengintipi botol soju kosong dan sesekali menjilat bibir botol. Jin Ae sudah meminta bibi penjual untuk tidak lagi menghidangkan soju di meja mereka sekalipun Mi Rae merengek.

“Apa terjadi sesuatu?”

“Kupikir kau jauh lebih tahu. Mi Rae tidak mengatakan apa-apa padaku dan hanya menangis. Tolong urus saja dia,” Jin Ae beranjak. “Aku akan pulang dan segera beristirahat karena pagi-pagi aku sudah harus berada di rumah sakit.”

“Kuantar kau pulang,” Hyukjae berkata sigap, dan Jin Ae mengangguk menyetujui tawaran Hyukjae sebab ia memang tidak membawa mobilnya. Ia dan Mi Rae tadi memakai taksi.

“Baiklah. Sampai nanti,” kata Kyuhyun dan mereka pun berpisah. Kyuhyun lalu mengambil tempat Jin Ae tadi. Ia duduk di sisi Mi Rae. “Mi Rae,” ia menyentuh pundak gadis itu.

“Aku memang salah. Aku pantas mati,” Mi Rae bergumam pelan.

“Kau mabuk. Aku akan mengantarmu pulang.”

Mi Rae menepis tangan Kyuhyun ketika Kyuhyun berusaha membantunya berdiri. “Kau siapa?” ia memerhatikan Kyuhyun dengan saksama, “Kenapa kau sangat mirip dengan Cho Kyuhyun? Kau Cho Kyuhyun? Tidak, tidak. Kau bukan dia.”

“Mi Rae.”

“Kau bukan Cho Kyuhyun, kan?” tanya Mi Rae dan kemudian ia mulai menangis lagi. “Saat ini aku tidak bisa bertemu Kyuhyun.”

“Kenapa?” pancing Kyuhyun sembari kembali duduk di tempat semula.

Mi Rae masih saja menangis, sesekali ia berusaha meneguk sisa-sisa soju dari botol yang telah kosong. “Kau tahu apa yang sudah kulakukan? Aku melakukan dosa besar,” ia berkata disela-sela tangisnya. “Bagaimana bisa aku berbuat hal memalukan itu? Di Jeju…aku tidak bermaksud begitu. Aku pasti sedang mabuk. Biasanya aku tidak mabuk. Kau lihat? Aku sudah menghabiskan berbotol-botol soju, tapi aku tidak mabuk. Lalu mengapa saat itu…aku…kurasa, aku sudah gila. Kau sungguh berteman dengan Kyuhyun? Tolong katakan padanya, aku minta maaf. Aku bukan orang yang seperti itu. Menurutmu, apa yang Kyuhyun pikirkan? Dia pasti mengira aku seburuk itu, kan?”

Melihat Mi Rae yang menangis terisak, keterpakuan Kyuhyun berangsur hilang. Kyuhyun yang tertegun perlahan mulai menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. “Jadi karena itu?” Baek Mi Rae telah mengingat kejadian di Jeju. “Jangan cemas, Kyuhyun masih sangat mengagumimu.”

Tangis Mi Rae sedikit terhenti, ia menoleh, menatap Kyuhyun dengan mata sembabnya, “Benarkah?”

Kyuhyun menangguk, “Jadi, mari kita pulang,” setelah meletakkan sejumlah uang di atas meja, ia membantu Mi Rae berdiri dan kali ini tidak ada penolakan.

Mereka berdua meninggalkan kedai. Kyuhyun tetap memegang Mi Rae agar gadis itu tidak terjatuh. Baru beberapa saat berjalan, Mi Rae sudah melepaskan diri dari Kyuhyun.

“Aku tidak bisa pulang. Aku tidak punya muka untuk bertemu Kyuhyun,” Mi Rae menggeleng.

Kyuhyun lantas menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana dan ia berjalan pelan di belakang Mi Rae. Memerhatikan gadis yang tampak sempoyongan di depannya. Untung saja orang-orang yang lewat tidak begitu memusingkan Mi Rae. Mereka tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa orang terlihat duduk di kursi taman, ada juga yang sedang jogging di sekitar situ.

“Sebaiknya aku mati saja,” Mi Rae berjalan cepat mendekati sungai Han. Melihat itu, Kyuhyun menjadi panik dan melangkah cepat berusaha mengejar Mi Rae, tapi kemudian Mi Rae berhenti sehingga Kyuhyun pun berhenti mendadak. “Tidak, tidak. Kalau aku bunuh diri, ibu akan membunuhku sekalipun aku sudah mati,” gumam Mi Rae. Kyuhyun menarik napas lega. “Ibu, aku harus bagaimana? Aku tidak ingin hidup, tapi kalau aku mati; aku tidak bisa melihat Kyuhyun,” Mi Rae menangis pilu sembari memukul dadanya.

Seharusnya saat seseorang sedang menangis sesedih itu, orang lain akan merasa sedih, bukan? Namun, melihat Mi Rae yang tengah menangis seperti sedang menangisi orang meninggal, Kyuhyun justru tidak bisa berhenti tersenyum. Ia bahkan beberapa kali tertawa karena tingkah Mi Rae. Melihat Mi Rae yang duduk di sebuah kursi panjang, Kyuhyun ikut duduk di kursi yang sama. Beberapa kali Mi Rae menarik napas panjang sembari memandangi langit hitam di atas kepala mereka.

“Aku tidak bisa mati, tapi kalau pun hidup, aku tak akan bisa melihat Kyuhyun. Atau mungkin operasi plastik agar aku tidak dikenali? Tapi gadis miskin sepertiku mana mungkin memiliki uang sebanyak itu? Ah, sebaiknya aku meninggalkan Seoul,” Mi Rae bergumam pelan sambil sesekali menyeka matanya yang terus saja berair. Lalu ia mengeluarkan kertas dan pena dari dalam tasnya. Entah apa yang sedang ditulisnya, kemudian ia menyodorkan kertas itu pada Kyuhyun. “Tolong berikan ini pada Kyuhyun. Ini surat perpisahan dariku.”

Kyuhyun menerima kertas yang disodorkan Mi Rae, “Seorang biksu yang hidup di gunung, menginginkan cahaya di dalam sebuah sumur. Ia menaruh air beserta cahaya bulan dalam sebuah kendi. Ketika kembali ke kuil ia melihat, jika kendi dikosongkan, bulan pun ikut pergi,” ia membaca kalimat yang tertuang di atas kertas dan mengernyit. “Ini…apa? Kalimat ini terasa sangat tua.”

“Sebuah puisi yang ditulis oleh Lee Gyu Bo yang hidup di Tahun 1168 sampai 1241—” Mi Rae memandangi langit, menarik napas yang terasa berat dan melanjutkan perkataannya. “Yang artinya, keinginan manusia tidak semuanya bisa terpenuhi, apalagi melawan kehendak alam atau takdir,” bukannya mengerti, kerutan halus di dahi Kyuhyun mulai terlihat jelas. Tiba-tiba saja Mi Rae berdiri, “Tolong lupakan pertemuan kita. Aku sedang merenungkan kesalahanku,” kata Mi Rae lagi sembari membungkukkan tubuhnya dengan gesture yang sangat santun.

Ini aneh, pikir Kyuhyun. Semua yang dikatakan Mi Rae mulai dari puisi sampai kalimat terakhirnya tadi terasa tidak asing di telinga Kyuhyun. Sepertinya ia pernah mendengar hal itu. Apakah dirinya tengah mengalami sesuatu yang disebut dejavu?

“Ah, tidak! tidak boleh!” Baek Mi Rae menjerit lagi. Ia menghempas tubuhnya di kursi, kemudian menggeleng kepalanya dengan kasar. “Dialog itu bukan bagianku. Aku tidak boleh menirukan surat penyesalan Heo Yeon Woo untuk Putra Mahkota Lee Hwon,” tanpa pikir panjang, Mi Rae merampas kertas di tangan Kyuhyun dan menyobek kertas itu hingga menjadi potongan kecil.

Oh, ternyata…

The Moon Embraces—apalah itu, pikir Kyuhyun. Ia sedang mencoba mengingat judul sebuah drama. Suatu waktu ia pernah dipaksa menemani ibunya menonton sebuah drama kolosal. Pantas saja ia merasa pernah mendengar hal tersebut. Baik surat, maupun kata-kata Mi Rae tadi, adalah salah satu scene dalam drama kolosal tersebut.

“Kau masih tetap menjadi Nona Drama,” Kyuhyun menyengir tajam.

Hidup Kyuhyun tidak pernah penuh warna seperti ini sebelum mengenal Mi Rae. Memiliki Mi Rae di sisinya bagaikan memiliki sebuah harta yang sangat berharga. Semakin ia mengenal Mi Rae, semakin banyak hal yang ia temukan pada diri gadis itu yang membuat kekagumannya bertambah. Pikiran Kyuhyun seolah hanya dipenuhi oleh Mi Rae.

Melangkah santai di belakang Mi Rae yang masih sempoyongan, Kyuhyun tetap mengawasi hati-hati gadisnya itu. Ia tampak sigap kalau-kalau Mi Rae terjatuh. Namun, setiap kali Mi Rae terlihat akan jatuh, gadis itu berhasil mempertahankan dirinya agar tetap berdiri.

Langkah kaki Mi Rae tertahan. Ia menatap orang-orang yang berpapasan dengannya dan kemudian ia menjadi panik. Ia berusaha menutupi wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.

“Mengapa—mengapa semua orang terlihat seperti Kyuhyun?” ia lantas berbalik dan berjalan cepat ke arah Kyuhyun. “Aku melihat Kyuhyun di mana-mana,” tangisnya kembali pecah. Tangannya mencengkeram kuat kemeja yang dikenakan Kyuhyun. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Apa yang harus kulakukan? Tolong sembunyikan aku,” dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada Kyuhyun. “Baek Mi Rae bodoh. Dasar idiot! Mati saja kau!” jeritnya sambil memukul-mukul dada Kyuhyun.

Bagaimana Kyuhyun harus menggambarkan suasana hatinya saat ini? Yang ia tahu bahwa ia tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk menenangkan gadis mabuk itu adalah mendekap gadis itu dengan lembut.

***

Kelopak mata Mi Rae bergerak pelan. Matanya mulai terbuka. Erangan pelan terdengar dari mulutnya. Sebelah tangan Mi Rae bergerak ke kepala, menyentuh kepalanya yang menjadi tempat bersumber rasa pusing luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pelan-pelan Mi Rae berusaha bangun dan duduk, tangannya masih tetap memberi pijatan pada kepalanya.

Saat matanya terbuka sempurna, saat itu juga ia terperanjat. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia sedang berada di dalam sebuah kamar yang sangat luas dan didesain dengan warna coklat elegan dan tampak begitu modern. Pilihan furniture yang cocok diseimbangkan dengan konsep penataan kamar. Nakas di samping kanan dan kiri tempat tidur yang masing-masing di atasnya berdiri sebuah lampu tidur. Lalu ada sebuah flat televisi yang terpampang di dinding, berhadapan dengan tempat tidur. Jendela-jendela besar pada dua sisi kamar dilengkapi dengan tirai berwarna putih gading. Berada di kamar yang ternyata bukan miliknya, membuat kesadaran Mi Rae terkumpul. Sebelumnya, ia pernah sekali berada di tempat itu. Kamar milik…

“Kau sudah bangun?”

Cho Kyuhyun memasuki kamar dan berjalan menghampiri Mi Rae. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur. Mi Rae baru saja hendak menjawab Kyuhyun, namun matanya menangkap hal aneh lainnya.

“Pakaianku…,” jantung Mi Rae sempat berhenti setelah ia menyadari jika sweater biru pastel dan celana jeans-nya telah berganti dengan sebuah kemeja putih yang tampak kebesaran di tubuhnya. “Di mana pakaianku?”

“Kau memuntahi dirimu sendiri.”

“Aku tidak bertanya tentang itu. Di mana pakaianku?”

“Sedang di-laundry.”

Mi Rae terdiam beberapa saat dan wajahnya berubah warna. Pucat. “Si-siapa yang—”

“Jangan cemas. Aku meminta bantuan bibi yang biasa membersihkan tempat ini,” Kyuhyun tertawa geli. Ia sudah menduga apa yang sedang dipikirkan Mi Rae.

“Kenapa aku berada di sini?”

“Kau tak ingat? Semalam kau mabuk. Aku pasti tidak sanggup menggendongmu menaiki anak tangga ke rumahmu, jadi aku membawamu ke sini.”

Lalu Mi Rae kembali membisu, otaknya baru saja memberi peringatan padanya akan sesuatu yang terjadi semalam. Sejurus kemudian, Mi Rae sudah mendesis parah dan memalingkan wajah. Ia ingat apa yang terjadi semalam. Yang lebih memalukan lagi, ia juga teringat pada alasan yang membuatnya memilih menenggak minuman beralkohol. Tahu kalau ia justru berada di kondominium mewah milik orang yang paling ingin ia hindari di muka bumi ini, secara refleks ia menarik bed cover untuk menutupi dirinya.

Sambil tersenyum lebar, Kyuhyun berkata, “Kau masih ingin tidur? Aku sudah menyiapkan sarapan, tapi mandilah terlebih dahulu. Bau alkohol dari tubuhmu sangat menyengat.”

“Ba-baik. Aku, aku akan menyusul,” ujar Mi Rae terbata-bata.

“Jangan lama-lama ya.”

Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus ia katakan? Mi Rae membatin, ia menggigit bibir bawahnya. Rasanya ingin menangis, tapi air matanya tidak mau keluar. Apa karena semalam ia telah membuang air matanya secara percuma? Kenapa ia tidak bisa melupakan kejadian memalukan itu? Ditambah lagi tingkahnya semalam. Oh, ya ampun! Kenapa justru harus di hadapan Kyuhyun? Sekian menit Mi Rae terus berperang dengan dirinya sendiri. Kalau saja ia memiliki Doraemon, maka yang paling dibutuhkan saat ini adalah pintu ke mana saja agar ia tidak perlu bertemu dengan Cho Kyuhyun.

Suara Kyuhyun sudah tidak lagi terdengar. Kyuhyun pasti sudah pergi. Mi Rae sengaja menunggu sedikit lebih lama untuk mengusir Kyuhyun secara halus. Biar bagaimanapun, ia sungguh tak sanggup bertatapan dengan Kyuhyun. Merasa situasi sudah aman, barulah Mi Rae menyingkap bed cover. Namun, alangkah terkejutnya Mi Rae karena Cho Kyuhyun masih berada di kamar, dan duduk di tempat yang sama—tidak bergeser sedikit pun. Kyuhyun menahan Mi Rae saat hendak bersembunyi di balik bed cover itu.

“Kenapa? Kau serius tidak ingin melihatku?” tanya Kyuhyun. Ia tersenyum, tapi jantung Mi Rae justru terasa seperti sedang ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum.

“Aku. Aku—” Mi Rae kelabakan. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan tangan Kyuhyun yang sedang mencengkeram pergelangan tangannya sehingga membuat Kyuhyun jadi ikut tertarik dan jatuh menimpahnya.

Posisi mereka yang entah itu dikategorikan sebagai keberuntungan atau kesialan, membuat Mi Rae luar biasa gugup. Mi Rae mencoba bangkit, tapi kedua tangannya justru dicengkeram Kyuhyun lebih kuat lagi, menekan tangan mungilnya di atas kasur. Debaran jantung Mi Rae sudah tidak bisa dikendalikan.

“Bagaimana? Tidakkah ini waktu yang paling tepat untuk berlatih denganku?” Kyuhyun bertanya pelan. Ada senyum samar di wajahnya.

Mendadak Baek Mi Rae menciut. Melihat ketenangan Kyuhyun, melihat sorot mata Kyuhyun yang setajam elang telah membuat tubuh Mi Rae panas-dingin. Ekspresi Kyuhyun tampak sangat serius. Karma. Sepertinya ia sedang diganjar atas segala perbuatannya. Saat wajah Kyuhyun perlahan mulai mendekatinya, Mi Rae justru sudah kehilangan tenaga sampai-sampai bersuara pun sudah tidak sanggup ia lakukan. Jadi, ia hanya bisa memejamkan kelopak matanya kuat-kuat. Ia sudah pasrah menerima hukumannya. Lalu tiba-tiba ia meringis karena perih di pipi kirinya. Ia membuka mata, memandang terkejut pada Kyuhyun sedang mencubitnya sambil tertawa lebar.

“Ini pembalasan dendamku,” ujar Kyuhyun sembari menyentil pelan dahi Mi Rae.

“Aku—minta maaf, Kyu,” Mi Rae berkata parau. Wajahnya sudah memerah. Sungguh, ia sangat menyesali apa yang ia lakukan. Sangat sembrono dan mengerikan sehingga tak sanggup ia bayangkan.

“Sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan,” kerlingan Kyuhyun membuat Mi Rae justru salah tingkah.

Sadar atau tidaknya mereka berdua, tapi Nyonya Cho baru saja menutup pintu kamar dengan penuh kehati-hatian. Lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi Sekretaris Park.

“Sekretaris Park, tidak lama lagi aku akan memiliki cucu. Tolong cari referensi untuk desain kamar bayi beserta segala furniture-nya,” Nyonya Cho berbicara pelan. “Aku ingin kualitas super. Tidak, tidak—aku akan memilih sendiri. Ini untuk calon cu—”

“Ibu.”

Nyonya Cho tersentak. Ia sangat kaget sehingga hampir melemparkan ponsel di tangannya, “Kau mengagetkanku,” katanya, memandangi Kyuhyun dan Mi Rae sudah berdiri di ambang pintu. Sebelumnya, kedua orang itu merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya seperti mereka sedang diawasi, dan kecurigaan mereka sangat beralasan.

“Apa yang Ibu lakukan di sini?”

“Ah, itu. Tadinya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi—” Nyonya Cho melirik Mi Rae dan tersenyum lebar, “Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri,” kemudian ia mendekat pada Kyuhyun dan berbisik, “Ibu mendukungmu.”

Cho Kyuhyun mendesah, ia memutar tubuhnya dan memijat kening. Kemudian ia berbalik lagi, menoleh pada sang ibu yang tengah melenggang bahagia menuju pintu keluar. “Ibu, ini tidak seperti yang Ibu pikirkan!” Kyuhyun sengaja mengeraskan suaranya agar sampai ke telinga ibunya. Tidak ada reaksi, satu-satunya yang ditinggalkan Nyonya Cho adalah bunyi ‘blam’ yang bersumber dari pintu yang sudah tertutup rapat.

Suasana menjadi hening beberapa saat sepeninggal Nyonya Cho. Kyuhyun dan Mi Rae menarik napas panjang. Tidak ada gunanya berdebat dengan wanita itu. Mi Rae tidak kaget lagi dengan watak ibu kekasihnya tersebut. Di zaman sekarang, tidak disangka ternyata ada seorang ibu dengan perangai yang luar biasa seperti Nyonya Cho.

“Ya sudah, sebaiknya sekarang kau mandi. Pakaianmu sudah diantar. Lalu kita akan sarapan bersama,” Kyuhyun memecahkan kesunyian di antara mereka. Mi Rae mengangguk, dan berlalu ke dalam kamar Kyuhyun. Sementara menunggu Mi Rae selesai mandi, Kyuhyun akan membuatkan teh.

Sepuluh menit kemudian. Mereka berdua sudah duduk di meja makan. Kyuhyun menyodorkan sup pada Mi Rae. Ia sengaja membuat sup itu untuk mengurangi pusing dan mual yang mendera Mi Rae.

“Terima kasih,” Mi Rae tersenyum menyambut mangkuk sup dan mulai menyendoki sup itu pelan-pelan.

Duduk di hadapan Mi Rae membuat Kyuhyun leluasa mengamati gerak-gerik Mi Rae. Gadis itu terlihat sangat canggung, bahkan kepalanya terus menunduk. Mi Rae masih menghindari terjadinya kontak mata dengan Kyuhyun.

“Kau sungguh tak ingin melihatku?” pertanyaan Kyuhyun memecah kesunyian.

Refleks, Mi Rae mengangkat kepalanya. Tatapan mereka bertemu. Sedetik kemudian, Mi Rae kembali menunduk, menatapi sup dalam mangkuknya. “Aku. Aku hanya—” oh, astaga! Canggung sekali. Mi Rae tidak tahan karena situasi yang membuatnya sulit bernapas. Masalahnya bukan pada Kyuhyun, tapi pada dirinya sendiri. Lihat saja, Kyuhyun terlihat tenang seperti biasanya. Mi Rae meletakkan sendok, kemudian ia menatap tepat ke mata Kyuhyun. “Bisakah aku meminta satu hal darimu?”

“Tentu. Katakan saja!”

“Aku sungguh menyesal dan tak tahu bagaimana menghadapimu. Jika kau masih ingin melihatku, maka jangan sekalipun membahas kejadian memalukan itu. Tolong lupakan semuanya.”

Senyuman menyungging di bibir Kyuhyun, lalu ia tertawa meski tak terdengar suara. “Anggap keinginanmu telah terkabulkan,” ujar Kyuhyun. Mi Rae memandang Kyuhyun cukup lama, mencoba meyakinkan dirinya kalau Kyuhyun akan menepati janji. “Apa yang kau cemaskan? Kau bisa meminta apa saja padaku. Aku sanggup melakukan apa pun untukmu. Satu-satunya yang tak bisa kulakukan adalah—meninggalkanmu. Jadi jangan pernah meminta hal itu dariku, karena—” suara Kyuhyun terdengar tanpa keraguan. Sorot matanya yang lembut hanya terarah pada gadis yang mulai kikuk dibuatnya. “Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang kupunya jika tidak ada kau di sana. Kau tahu arti namamu, kan? Mi Rae berarti masa depan. Jadi, kau hanya boleh menjadi Mi Rae-ku.”

Oh Tuhan, sebenarnya siapa makhluk tampan di hadapannya itu? Mengapa ia dapat bersikap semanis itu? Mi Rae sibuk membatin, sampai-sampai ia harus menahan diri untuk tidak menyentuh dadanya yang tengah berdebar-debar karena semua yang Kyuhyun katakan padanya.

“Hei, Kyu,” suara Mi Rae mengalun lembut. Ia menatap hangat pada Kyuhyun. “Kau sepertinya sangat terobsesi padaku? Diantara gadis-gadis kaya yang terhormat dan terpandang; kenapa justru aku?” senyum merekah di wajah Mi Rae.

Kyuhyun tak segera menjawab. Ia hanya tersenyum, membalas tatapan Mi Rae selama beberapa saat. “Karena kau adalah Baek Mi Rae, maka aku mencintaimu. Dan—mungkin saja kita punya ikatan yang kuat di masa lalu,” Kyuhyun tersenyum penuh arti. Mi Rae lantas tertawa kecil menanggapi perkataan Kyuhyun.

Jika Mi Rae yang selama ini diibaratkan seperti gunung es, maka Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang sanggup mencairkan es itu. Seperti saat ini, saat dimana Kyuhyun selalu berhasil mencairkan situasi secanggung apa pun yang terjadi di antara mereka.

~bersambung~

I’m back!

Happy Sunday!

Kalian menemukan banyak typo? Maaf ya, sy tidak sempat me-review part ini.

Semoga terhibur.

See u on next Sunday with Pianist’s Melody Part 12

Iklan

165 thoughts on “Drama (Part 19)

  1. citraarum96 berkata:

    Ihhh telat ini kak.
    Baek mi rae, dia itu bner bner gadis drama the one and only, ya dia Baek Mi Rae. Dengan segala kekonyolannya dan kehidupan dia yg Kasih aja disangkutin sama drama… Ckck rapi itu lah daya tariknya mi rae. Sampai kyuhyun gila banget, mungkin kalau sampai mi rae ninggalin kyuhyun jadinya kyu bukan gila lagi.. Wkwk
    Paling suka wktu dikoridor rumah sakit, kyuhyun bneran cerminan namja idaman kaum hawa. Aku yang baca aja sampek senyum” sndiri kak, tersipu, malu malu.. Arghhh
    Sisain yang kyak begini buat hamba Tuhan… #plakk
    Pkoknya moment itu keliatan banget gimana fatalnya seorang kyuhyun menggilai mi rae.. Hoho
    Dan mi rae yang mabuk dan meracau fak jelas itu sukses bkin ngakak. Udah mabuk aja masih kesangkut adegan drama.. Ckck drama queen bner deh

  2. Dona Silvia berkata:

    Yesss udah go public ya hubungan mereka haha. Duhh ibu nya kyu selalu bikin ngakak deh, kayanya ngebet banget ya pengen punya cucu. Ngga sabar pengen cepet2 mereka nikah. Good job kak, ditunggu next chap nya 😉

  3. sitirhana1 berkata:

    Huaaa.. Eonnie. Makin penasaran sama ini cerita.
    Berasa beruntung bgt ya Mirae bisa dapetin Si Milioner CHO, 😀
    jadi mesam mesem sendiri, bayangin scene yang dirumah sakit.

    Eonnie, ditunggu nextnya.
    Oh ya eon, kalau bisa banyakin scene Nyonya Cho- Mirae- Kyuhyun ya eonnie.
    😀

  4. KIKI berkata:

    Oh hati aku meleleh karena mereka. Kak kau hebat. Membuatku melayang. Mereka manisss banget cepet nikah aja dan buat banyak momen yang nggak ketulungan manisnya. Gemes. Kerennnn. Mi Rae disini beda dari biasanya dan buat Kyuhyun makin cintaa 😁😁
    Suka sama meraka. Nggak bisa move on deh sama mereka.
    Di tunggu kelanjutannya Kak

  5. ghefirasaras010298 berkata:

    Asli, cerita ini gokil banget! Apalagi pas bagian Mi-Rae mabuk itu. Dia mabuknya lucu, nggak kayak kebanyakan orang mabuk yg aku tau. Pantes aja sih Kyu tambah cinta gitu *apasih*
    Dan adegan terakhir itu…….. bikin aku meleleh euy. Si Kyuhyun omongannya manis banget errrr. Ditunggu deh kelanjutannya. Semoga Mi-Rae bener2 jadi Mi-Rae-nya Kyuhyun😍

  6. anie berkata:

    ka marchia 😉😉😉😉pinter banget sih bikin ff ceritanya aduuuuhhhh keren ka,,,pokonya tiap baca ff drama psti ngakak,, ada aja yg bikin lucu ,,beruntung banget mirae punya pcar abang kyu,udh kaya,baik,cinta banget ma mirae,trus punga clon mertua jga lucu ah apa coba yg kurng,,,ka cepet lnjut ya ka,,semngat ka,,oh mksih ka komen nya selalu di bls

  7. novi berkata:

    Asli mirae lucu bngt, tingkahnya sngt konyol apalgi pas mabuk 😀 trus sikap kyuhyun ke mirae manisss banget 😊 dan stu lagi ibunya kyuhyun slalu aja buat ngakak 😁 smgoa mirae sma kyuhyun sgra menikah trus punya anak deh ☺
    D tunggu selalu next chapnya. 😃

  8. Southnam berkata:

    Hahahahahahah serius ini cerita konyol plus greget banget. Btw aku baru komen di part ini, aku reader baru trs baca FF Drama ini dri kemren malem sampai ini tadi aku baca gak bisa berhenti makanya baru sempet komen maaf ya.

    Aku suka ide cerita sama karakter Mirae disini, bacaan yang ringan gak perlu intrik yang berat tapi keren banget, cara penulisan sama penyampaian ceritanya bagus jadi gak bosenin. Sebenernya agak greget gak ada adegan kiss.nya tpi kalau emg pake logika setuju bgt sama ini cerita masak masih pacaran udah aneh2, tapi tetep greget mereka gak kiss hahahahaha. Good job, gak sabar nunggu part berikutnya ^^

  9. Sipur berkata:

    Panjang sekali sist… Tapi aku suka,bagus jalan ceritanya.. Keliatannya masih lama ya endingnya, perasaan kok gak ada konflik ya sit..aman-aman aja.. Lanjut ya sist…Semangat!

  10. Krysdha berkata:

    Mrk Go Public dr prt kemarin kak,,dn di prt ini di perjelas smuanya…
    Mi Rae waw,,, gkj nyangka bgt bkln ingat kejadian wktu di Jeju itu..
    Ngakak habis bc adegan Mi Rae yg kmbali mabuk..
    Ah,, Mi Rae bruntung bgt sih bs dpt cowok macem Kyuhyun…

  11. Leah berkata:

    “Kalau kau mencintai seseorang, kau harus belajar untuk menerima orang itu sepenuhnya, tanpa syarat. Termasuk tentang kehidupan orang itu dan apa pun yang ada di sekitarnya.”
    Quotes nya sangat mengena, love lah…
    Ya ampun, Kyuhyun itu, kenapa dia perfect banget sih. Mau satu pacar kaya gitu 😂😂
    Aku tuh selalu ngakak kalau Kyuhyun lagi ngobrol berdua sama hyukjae, gesrek emng mereka ini ga sopan sekali bikang mama cho kera sakti haha
    Ayolah kyu, lamar aja mirae nya udah ngebet banget nih reader yg satu ini 😂😂

  12. Hana Choi berkata:

    Ya ampun sumpah aku baca part ini ngakak sama malu” sendiri. Jadi pengen jadi mi rae deh beruntung banget dia dicintai sama kyuhyun. Ny cho bener” pengen nimang cucu kayanya bahkan dia ngebiarin gitu aja ya ampun.
    Pengen mereka cepet” nikah aku suka banget ff ini ceritanya ga terlalu complicated bahkan konfliknya pun ga terlalu ribet. Cara penyelesaian pun cepet ga lama” jadinya

  13. My labila berkata:

    akhirnya mirae ingat juga ‘tragedi’ di jeju, dia sampai prustasi begitu wkwk… dasar nona drama sejati, ibunya kyuhyun udah T.O.P. B.G.T , pengen punya Pacar seperti kyuhyun huhu #CulikKyuhyun dan menghilang.

  14. ina berkata:

    kocak mi rae efek mabuknya..wkwkwk dasar nona drama…
    walaupun terkesan data ceritanya tapi karena feel romance dan lucunya berasa.. ceritanya jadi sangat keren…
    ahhh… baper sama kyu….. bikin meleleh … wkwkwk

  15. dubbyblue berkata:

    Eonnieeeee~
    Hueeeew
    Aku ngilang berbulan-bulan, enggak baca ini, dan sekarang baca ini dgn berjuta penyesalan. Kenapa aku sibuk bgt sampe gak sempet baca ini 😩😩😩😩

    Apalagi baca ini pas kyu wamil gini, sumpah! pengen nangis rasanya. Sambil inget* ketawanya kyu di njtw, krn di sini bnyak bgt scene kyu ketawa. gimana ini eon? makin bnyak oppa bermunculan gak bisa gantiin kyu 😔 rasanya pengen jadi mirae. eh. tapi mirae gila bgt ya disini hihihihi

    dan ngomong*, ada judul baru yg udah tamat ya eon? bacaan ku banyak deh ini hihihihi

    Bogosipta eonnie!

  16. whitedear berkata:

    yaampun eonni ini cerita bikin aku senang, sedih, ngakak dn senyum sendiri..

    mi rae udah inget dn sekarang dia malu setengah mati sama kyuhyun wkwkwk emang bener mi eae adalah drama queen nggak salah kyuhyun manggil gitu hahaha

  17. Kyuni berkata:

    Dari semua part yang ada ini adalah bagian favoritku,,,,wlwpun mirae frustasi setengah mati tapi aku bahagia nyaris frustasi krna kyuhyun manis banget ke mirae bikin iri

  18. noebita berkata:

    Dasar mirae absurd. Niatnya mau ngelarin masalah eeh yang ada malah nambahin masalah. Mana tingkahnya konyol pula. Nyonya cho selalu memiliki imajinasi liar. Hhh

  19. Chokyuangel berkata:

    Wkwkww..mirae kocak bener maboknya..hahahaa..bener2 nina drama..ibunya kyu juga heboh bener kaya anaknya lg ngapain aja…wkwkwkw

  20. aulia fitri berkata:

    Kyuhyun itu benar benar orang yang penuh kejutan apalagi kalo udah sangkutannya sma mi rae. Mi rae pasti benar benar malu sampai mabuk gitu haha. Semoga hubungaN meraka lancar jaya
    Bagus makin suka sma ff ini

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s