Pianist’s Melody (Part 12)

pianists-melody-poster-2

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

A Day On Weekend

 

 

“Hey! Cho!” Jessey tiba-tiba menerobos masuk ke kamar Kyuhyun. Setelah menutup pintu, Jessey menghampiri Kyuhyun yang sedang membaca. Kyuhyun sudah tidak tahu harus bagaimana mengisi hari-hari liburnya dan hanya bisa berharap Jessey secepatnya mengatur jadwal agar ia kembali bekerja.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun yang heran melihat Jessey menyeringai tajam. Persahabatannya dengan Jessey sudah berlangsung lama sehingga ia sangat mengenal watak Jessey. Kyuhyun tahu kalau saat ini Jessey sedang merasa puas akan sesuatu. Matanya mengikuti Jessey yang meletakkan beberapa lembar kertas di atas tempat tidur, tak jauh darinya. “Apa ini?” ia bertanya lagi.

“Di dunia ini, kau tidak akan menemukan manager sebaik dan sehebat aku. Kau harus berterima kasih padaku.”

Kyuhyun mendengus, “Baik. Baik, kau yang terhebat. Omong-omong, tentang apa semua ini?”

“Aku sudah melakukan apa yang kau perintahkan, Kyu,” ujar Jessey. Ia bersidekap. “Kau akan terkejut.”

“Apa yang kau temukan?” seketika, Kyuhyun mengabaikan buku bacaannya. Ia sudah fokus sepenuhnya pada Jessey.

“Data-data itu baru saja di-email padaku,” ujar Jessey. Sementara Kyuhyun memilih mendengarkan penjelasan Jessey sambil mengamati kertas-kertas yang dibawa Jessey tadi. Lembar pertama, ada foto Lee Donghae serta beberapa penjelasan tentang dirinya. “Sekretaris Lee mulai bekerja di sini sejak tiga tahun lalu. Dia menamatkan pendidikannya di MIT.”

“MIT?” Kyuhyun bertanya lagi dan dibenarkan Jessey dengan anggukan kepala. Seperti yang dijelaskan dalam kertas itu bahwa Lee Donghae belajar di Massachusetts Institute of Technology atau biasa disingkat dengan MIT.

“Menurutmu, kenapa lulusan terbaik MIT lebih memilih menjadi sekretaris rendahan di perusahaan? Aku yakin kau pun akan penasaran, sepertiku,” Jessey tersenyum miring. Ekspresinya persis seperti seorang detektif yang sedang mengurai teka-teki. “Kita tinggalkan Sekretaris Lee,” dan Kyuhyun beralih pada lembar kedua. Wajah yang terpampang adalah Ray, akan tetapi apa yang tertulis di sana membuat Kyuhyun mengernyit.

“Ini?” Kyuhyun memandang Jessey, meminta penjelasan atas apa yang ia baca.

“Itu benar, Kyu. Pengawal pribadi Seo Hana adalah seorang prajurit terlatih dari unit pasukan khusus dan saat ini dia agen aktif milik NIS. Identitas aslinya—Choi Siwon.”

Wow. Luar biasa. Kyuhyun benar-benar tak menyangka akan hal itu. Kenapa harus mempekerjakan seorang agen khusus sebagai pengawal Hana? Apa itu artinya Ray, maksudnya Choi Siwon, sedang dalam misi penyamaran? Untuk siapa? Lebih tepatnya—untuk  apa?

“Dan yang terakhir. Kau mungkin akan lebih terkejut lagi,” Jessey berpindah ke dekat jendela. “Berpuluh tahun menetap di Amerika, Seo Jin Hwan kembali ke Korea Selatan setelah insiden yang menimpa keponakannya, Seo Yun Ae. Kau tahu apa point pentingnya? Putri mereka, Seo Hana menghilang pada saat mereka berlibur ke Hawai. Istrinya menyalahkan Tuan Seo atas peristiwa itu, dan mereka bercerai. Pada saat peristiwa itu terjadi, Hana baru berumur sembilan tahun,” sesuai perkiraan Jessey, si tampan di hadapannya terlonjak kaget. “Tidak ada catatan kematian atas nama Seo Hana. Kepolisian setempat terus melakukan pencarian, sampai kasus itu ditutup tanpa membuahkan hasil.”

“Kemudian…Hana akhirnya ditemukan. Tapi, ke mana dirinya selama itu?” Kyuhyun bergumam penuh tanya. Mengetahui lebih banyak hal, justru menambah kerumitan teka-teki itu.

“Entahlah. Anehnya, menurut catatan imigrasi, saat meninggalkan Amerika maupun tiba di Korea, Tuan Seo hanya sendirian.”

“Maksudmu, selama ini Hana memang berada di Korea?

“Aku akan memeriksanya kembali, tapi ada dua hal yang menjadi pertanyaan terbesarku. Mengapa mereka sampai harus mempekerjakan NIS untuk melindungi Hana? Dan apa ada keterkaitannya dengan Seo Yun Ae?”

Kyuhyun berpaling cepat menatap Jessey. “Kau tahu sesuatu tentang Yun Ae?” tanyanya, tidak ada kesabaran yang tersisa dalam dirinya. Ia ingin tahu semuanya.

“Tidak ada yang spesifik. Seo Yun Ae mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah. Dia koma selama tiga tahun. Yang sedikit mengganjal bahwa tidak seorang pun dari teman atau kenalan yang diperkenankan menemuinya. Oh ya, informasi yang kudapat dari para pelayan. Seo Yun Ae tidak terlihat berkeliaran setelah sadar dari koma. Dia terus mengurung diri dalam kamar di lantai tiga itu. Hanya mendiang Tuan Seo, Tuan Jin Hwan dan Bibi Han yang bisa masuk ke sana. Hana datang ke rumah ini, setelah Yun Ae dikabarkan sadar dari komanya, akan tetapi Hana pun tidak diperbolehkan menemui Yun Ae. Ada satu orang lagi yang sering masuk-keluar kamar itu sebelum Yun Ae terlihat oleh para pelayan. Lee Donghae.”

“Jadi, maksudmu—”

Yeah. Benar. Baru satu setengah tahun berlalu sejak Seo Yun Ae keluar dari sangkarnya,” alis Jessey meninggi. Otaknya juga ikut berpikir keras, tapi tak kunjung menemukan opsi yang bisa dipilih sebagai kemungkinan jawaban dari semuanya itu. Akhirnya Jessey hanya bisa mendesis untuk melampiaskan rasa gemas yang bercampur penasaran. Demikian halnya dengan Cho Kyuhyun. Semakin jauh mereka tahu, semakin banyak yang hal yang mencurigakan.

“Omong-omong, bagaimana kau bisa mengetahui ini semua? Kau sungguh menyewa seorang detektif?”

“Kau meragukan informasi tadi? Jangan cemas. Aku memang sering berbohong padamu, tapi ayahku tidak akan melakukan itu.”

“Ayahmu?”

“Memangnya kau pikir kepada siapa lagi aku bisa mengemis-ngemis dengan air mata bercucuran setelah kau memberiku tugas gila itu?” Jessey selalu kesal jika Kyuhyun menyuruhnya melakukan hal-hal aneh. “Ayahku bekerja dengan FBI,” kata Jessey enteng. Melihat raut wajah Kyuhyun yang berubah, ia kembali berkata, “Kau tak tahu?” dan Kyuhyun menggeleng pelan. “Sudahlah, itu tak begitu penting.”

“Ehm—J, apa ayahmu tidak mengatakan hal lain? Maksudku, dia mungkin tahu banyak hal.”

“Tuan Muda Cho Kyuhyun. Kau pikir aku tega membuat ayahku mendapat masalah? Dia mau membantuku seperti ini saja sudah syukur. Harusnya kau lihat sendiri bagaimana perjuanganku untuk membujuknya,” omel Jessey panjang lebar. Kyuhyun langsung memalingkan wajah sambil menarik napas panjang. Jessey tidak akan berhenti mengoceh sampai ia benar-benar puas melampiaskan emosi terpendamnya itu.

♪♫♩♬

Pipi gadis itu bersemu merah. Ia terus bersenandung sambil mengemudikan mobilnya. Layaknya orang yang sedang kasmaran, ia tertawa seperti orang gila. Tak berapa lama kemudian, mobil yang ia kemudikan akhirnya menepi di parkiran. Gadis itu turun dari mobil, dan masih saja bersiul riang. Bangunan unik yang berdiri di hadapannya adalah tempat yang ia tuju. Beberapa orang terlihat masuk-keluar bangunan tersebut. Ia menepuk jidatnya karena melupakan tas di dalam mobil. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia pun bergegas. Namun, lagi-lagi ia berhenti. Bukan karena ada lagi yang terlupakan, tapi karena telinganya menangkap suara-suara aneh. Well, sikap ingin tahu memaksanya untuk mencari sumber suara. Ia berjalan ke samping bangunan dan suara yang didengarnya semakin jelas. Ada lorong kecil di sana, yang memisahkan bangunan yang ia tuju dengan bangunan di sebelahnya.

Tampak oleh matanya sejumlah pria dan entah apa yang mereka lakukan dalam remang-remang cahaya, tapi ia merasa itu bukan sesuatu yang baik. Akan tetapi, rasa penasarannya lebih besar melebihi apa pun sehingga ia mengabaikan kata hati yang menyuruhnya pergi dari situ. Dari kejauhan, ia menyaksikan mereka. Matanya menangkap seorang wanita di antara mereka. Wanita yang memakai gaun merah. Dandanannya terlihat seperti wanita-wanita dari kelab malam. Sorot matanya memancarkan ketakutan, dan ia sudah sangat terpojok. Saat wanita itu mengeluarkan sepucuk senjata dan menodongkan pada mereka, si gadis pengintip pun terkejut. Seorang di antara para pria itu bergerak lebih cepat, dengan menembak wanita itu terlebih dahulu. Senjatanya memakai peredam sehingga tidak menimbulkan suara. Bola mata gadis itu membesar, jantungnya berdentam sangat kuat dan tubuhnya terkunci.

Seo Hana terbangun. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia berusaha meraih remote yang terletak di nakas untuk menyalakan lampu agar dapat menerangi kamar tidurnya. Hana berkeringat dan wajahnya pucat pasi. Dadanya masih berdebar keras. Mimpi buruk itu selalu menerornya di malam hari sehingga terkadang tidur menjadi hal yang paling menakutkan baginya.

♪♫♩♬

Pada akhir pekan, rumah Keluarga Seo menjadi lebih sepi dibanding hari lainnya. Biasanya para pelayan akan kembali ke keluarga mereka. Bibi Han juga sudah berkemas dan pergi sejak pagi hari, tentunya setelah ia mengurusi keperluan kedua nona muda di rumah itu dan setelah memastikan pelayan yang tinggal untuk tidak melupakan tugas-tugas mereka.

Sementara itu, Kyuhyun memilih untuk mengisi akhir pekannya dengan berlatih. Jari-jarinya bisa lupa bagaimana cara bermain piano jika Jessey tak kunjung bertobat dan membiarkan dirinya kembali ke panggung. Bermain piano sangat baik untuk mengimbangi kekalutan yang Kyuhyun rasa. Ia tidak dapat tertidur nyenyak setelah mengetahui informasi yang diberikan Jessey. Beberapa kali ia pergi ke lantai tiga, tapi usahanya tidak pernah membuahkan hasil. Selain itu, Hana masih menjaga jarak darinya, dan Yun Ae lebih parah lagi. Jadilah Cho Kyuhyun seperti seorang pangeran yang terkurung dalam sangkar emas, tanpa kawan. Sedangkan Jessey justru berkeliaran bebas di masa-masa penderitaan Kyuhyun. Jessey pergi sejak siang, dan belum kembali hingga sekarang padahal langit mulai gelap.

Ponsel Kyuhyun bergetar. Ia terlihat malas-malasan membaca pesan masuk lalu terkejut didetik selanjutnya. Sambil menahan rasa geram, Kyuhyun menghubungi Jessey. “Jess! Apa yang kau lakukan? Aku baru saja menerima konfirmasi bahwa namaku ada dalam daftar untuk konser di Central Park dan mereka sudah mengirimkan tiket untuk keberangkatan besok. Fine. Aku memang merasa bosan karena tidak melakukan apa pun, tapi kau harusnya tahu jika aku belum berniat meninggalkan Seoul di saat-saat seperti ini. Batalkan itu sekarang juga!” tanpa ampun, ia memberondong Jessey dengan kemarahannya. Jessey mungkin sudah sinting.

Aku tidak melakukannya, Kyu. Aku tidak mungkin mengonfirmasi mereka tanpa persetujuan darimu.

Kyuhyun tertegun. “Bukan kau? Lalu siapa?”

“Aku.”

Suara itu membuat Kyuhyun berpaling seketika. Seo Yun Ae sedang berjalan menghampiri dirinya. “Kau bilang—apa?” tanya Kyuhyun lagi.

“Kau harus pergi dari sini. Kau tidak dibutuhkan di tempat ini. Keberadaanmu hanya membuat kami terganggu. Jangan membuang impianmu hanya demi mengejar wanita yang tidak lagi mencintaimu. Ah, bahkan kau sendiri sudah tidak yakin dengan perasaanmu, lalu untuk apa kau bertahan?”

Mengapa Seo Yun Ae berbicara seperti itu? Ia kembali menjadi sosok yang sangat kejam. Hanya mendengarnya saja sudah membuat Kyuhyun hancur. Yun Ae tetap bersikap setenang air setelah menghunuskan kalimat setajam pedang yang menembus jantung Kyuhyun.

“Nona—” Kyuhyun kehabisan kata-kata. Entah harus bagaimana ia menyikapi Yun Ae. “Apa kau benar-benar, Seo Yun Ae?” ia menatap nanar.

Tidak ada sedikit pun penyesalan yang diperlihatkan Yun Ae setelah ia menyakiti Kyuhyun. Yun Ae sangat konsisten dengan bersikap tenang. Seolah kesakitan Kyuhyun memang tidak memberikan efek pada dirinya.

“Kyu…,” mereka menoleh dan mendapat Hana berdiri di ambang pintu. Wajah pucat, bibir kering, dan mata yang memandang sayu. Hana sedang sakit dan sepertinya suhu tubuh yang tinggi membuatnya mengigau. “Tolong…,” Hana tampak terengah-engah dan ambruk sebelum selesai berbicara.

“Hana!” Kyuhyun bergegas menghampiri Hana lalu mendekap Hana yang masih setengah sadar. Suhu tubuh Hana memang sangat tinggi. “Hana, sadarlah,” Kyuhyun menepuk-nepuk pipi Hana.

Ketika Cho Kyuhyun sedang kebingungan, Seo Yun Ae justru masih mempertahankan ketenangannya. Seolah Yun Ae sudah terlatih untuk bersikap datar dalam segala situasi dan Kyuhyun menilai sikapnya itu sudah tidak wajar. Perhatian Yun Ae terarah pada hal lain dan matanya tampak waspada. Barulah kemudian Yun Ae memberi sedikit warna pada ekspresi wajahnya, dan ia berpaling seketika menatap Kyuhyun.

“Bawa Hana pergi dari sini!”

“Nona, kenapa—”

“Sekarang bukan waktunya untuk bertanya,” ujar Yun Ae tegas. Ia berbicara lagi, tapi bukan kepada Kyuhyun, “Sekretaris Lee, aku menangkap kode asing. Sepertinya kita telah kedatangan tamu,” mungkin sejak awal Yun Ae sudah terhubung dengan Lee Donghae. Pasalnya, Kyuhyun tidak melihat Yun Ae memegang ponsel atau alat komunikasi apa pun. Tak berapa lama kemudian Ray menghampiri mereka, di tangannya ada sebuah senjata. Kalau Kyuhyun tidak tahu identitas Ray yang sebenarnya, mungkin ia akan lebih terkejut daripada sekarang. “Orang-orang itu pasti sudah berada di luar, jadi sembunyikan saja mereka di tempat yang aman!” Yun Ae berkata pada Ray.

Senada dengan keinginan Yun Ae; Ray membawa Kyuhyun dan Hana ke sebuah tempat. Kyuhyun memiliki segudang pertanyaan, tapi saat ini ia lebih memilih melakukan apa yang diperintahkan padanya.

Sebelum Ray meninggalkan mereka, Kyuhyun mencegahnya dengan memegang tangan pria itu. “Bisa kau katakan, apa yang sedang terjadi sekarang?” tanya Kyuhyun yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan padamu,” orang-orang itu terdengar kompak dalam menjawab pertanyaan Kyuhyun, namun Kyuhyun tidak membiarkan Ray pergi begitu saja sehingga membuat pria berambut hitam itu menjadi kesal. “Tolong jaga saja dia baik-baik dan tetap diam di sini! Aku akan datang menemui kalian setelah membereskan kekacauan ini,” ujarnya dan segera melesat pergi. Tidak ada satu pun yang berniat memberi penjelasan pada Kyuhyun.

Beberapa pria berpakaian hitam sudah bergerak masuk ke dalam rumah. Lalu, datanglah seorang pria yang memiliki tubuh tambun. Pria yang menjadi geram hanya karena melihat wajah Yun Ae di televisi beberapa waktu yang lalu.

“Temukan dia dan bawa ke hadapanku, hidup atau mati!” perintahnya membuat seluruh bawahannya berpencar dalam rumah mewah Keluarga Seo.

Seo Yun Ae mengawasi dari tempat persembunyiannya di lantai dua. Irisnya bergerak, menatap beberapa titik yang telah ditempati oleh Ray dan rekan-rekannya. Tatapan mereka seakan berbicara satu sama lain sehingga mereka seolah paham apa yang harus dilakukan tanpa perlu ada suara yang keluar.

“Lee Donghae, kau di sana?” Ray bertanya sambil memperbaiki alat pendengar yang terpasang di telinganya.

“Oh, Hyung,” Donghae menyahut.

Lee Donghae sedang berada di tempat lain. Tidak jelas di bangunan mana, tapi dirinya terlihat sibuk di dalam sebuah ruangan tertutup dengan lima monitor sekaligus yang menyala di atas meja berbentuk setengah bundaran, hampir mengelilinginya. Tubuhnya bergerak ke sana dan ke mari, membuat kursi yang didudukinya berputar setiap kali ia mengarahkan tubuhnya ke monitor yang berbeda. Tangan Donghae bergerak sangat lincah di atas keyboard. Keempat monitor itu hanya memiliki keyboard tunggal. Hal yang Donghae lakukan sebenarnya sangat memusingkan jika dilakukan oleh orang lain.

“Akhirnya, tikus-tikus itu masuk ke dalam perangkap,” Donghae menyeringai tajam. Yang terdengar dari dalam ruangan itu hanya suaranya dan juga suara yang dihasilkan oleh jari-jarinya yang mengetik cepat di atas keyboard. Semua monitor yang menyala memiliki tampilan yang berbeda satu sama lain. “Mereka semua berjumlah dua belas orang. Tiga orang berada di ruang tengah. Lima orang sedang menyisiri lantai satu. Hyung, hati-hati, sisanya sedang bergerak ke lantai dua. Dan—mereka bersenjata.”

Donghae mengarah pada monitor paling ujung di sebelah kanannya. Ia mulai mengetik sebuah kode dan detik selanjutnya, suasana di rumah Keluarga Seo telah tampak di layar monitor. Tidak seperti tampilan normal yang biasa disaksikan oleh mata. Kamera itu adalah kamera khusus untuk memindai suhu tubuh manusia dan segala macam benda yang tersembunyi di balik pakaian sehingga yang paling jelas terlihat adalah makhluk hidup, sedangkan benda-benda mati di sekitar tampak seperti gambar berbayang. Setiap makhluk hidup yang terpindai tampak seperti gambar bergerak berwarna merah, dan benda-benda aneh di tubuhnya memiliki warna yang berbeda. Hitam.

Donghae memindai senjata di tangan para kawanan itu dan data tentang senjata tersebut langsung tersedia  “FN 57. Produksi Belgia,” kata Donghae menyebutkan jenis pistol pihak musuh. “Hyung, bagaimana dengan Nona Hana? Sejak kemarin kesehatannya terganggu.”

“Dia sudah berada di tempat yang aman, bersama Cho Kyuhyun.”

“Cho Kyuhyun? Padahal wanitaku baru saja berencana membuatnya pergi, tapi ternyata para penjahat itu justru datang lebih dulu. Ini menambah pekerjaan kita,” Donghae mendesis. “Lalu, Tuan Jin Hwan?”

“Dia sedang ke Jeju. Target datang lebih awal dari perkiraan, tapi ini sedikit menguntungkan kita karena para pelayan menghabiskan akhir pekan bersama keluarga mereka. Hanya tersisa dua orang pelayan di sini dan mereka berdua sudah berada dalam posisi aman,” terang Ray, matanya mengikuti dua orang dari timnya yang sedang membawa dua pelayan wanita secara berhati-hati agar tidak dilihat oleh kelompok penjahat yang sedang mendekat ke arah mereka.

Kyuhyun menatap gelisah pada Hana yang masih tak sadarkan diri dalam dekapannya. Hana sangat lemah dan membuat rasa iba Kyuhyun meningkat. Situasi genting dalam rumah itu terlalu tiba-tiba terjadi. Tidak ada dalam imajinasi Kyuhyun untuk menghabiskan akhir pekannya dengan drama action, terlebih salah seorang pemerannya dalam kondisi sakit. Menatap wajah pucat Hana lebih lama, seolah memanggil desiran aneh dalam dirinya. Oh, come on, sekarang bukan waktunya memikirkan itu. Jadi Kyuhyun mulai menelusuri kembali rasa penasarannya yang bila dirangkai akan menjadi sebuah cerita panjang.

“..mi..num…,” suara lemah Hana terdengar. “..air..aku..haus..,” Kyuhyun sudah mendekatkan telinganya ke mulut Hana. Hana sedang panas tinggi, mungkin itu yang membuatnya kehausan. Bibirnya saja terlihat sangat kering.

Kyuhyun mengedarkan pandangan. Mereka sedang berada di sebuah ruangan, dalam sebuah kamar. Kyuhyun ingat, itu adalah tempat favoritnya jika bermain petak umpet dengan Yun Ae. Sebenarnya itu kamar yang bagus jika difungsikan dengan baik, namun karena sudah terlalu banyak kamar, maka kamar tersebut dijadikan tempat untuk menaruh benda-benda yang jarang dipakai seperti koleksi mainan atau barang-barang bekas milik Yun Ae. Tidak ada air minum di situ. Pelan-pelan, Kyuhyun merebahkan Hana. Menutupi Hana dengan selimut agar gadis agak tersembunyi.

“Sebentar, aku akan mengambilkan air untukmu,” ujar Kyuhyun.

Seo Yun Ae dan Ray sudah melarangnya meninggalkan tempat persembunyian, tapi Kyuhyun lebih memusingkan keadaan Hana. Wanita itu sangat lemah dengan terlihat menderita. Mengabaikan peringatan dua orang tadi, Kyuhyun pun keluar dari kamar. Ia mengendap-endap. Seharusnya ia bisa menemukan air di dapur dan itu tidak begitu jauh darinya. Kyuhyun terlalu mengambil risiko, tanpa mengetahui bahwa situasinya sangat tidak menguntungkan.

Di lain tempat, seorang anggota komplotan pria berpakaian hitam berjalan pelan di lorong, senjatanya terulur, mengarah ke segala arah mengikuti bahasa tubuhnya yang waspada. Hanya dipisahkan oleh sebuah dinding, Ray berada di sana dalam jarak yang begitu dekat. Saat penjahat bertubuh jangkung itu berbelok, ia disambut mulut senjata Ray lalu ambruk setelah sebuah timah panas bersarang di jantungnya. Bunyi tembakan itu mengagetkan Kyuhyun. Juga menjadi kode bagi anggota komplotan lain untuk bergerak ke lantai dua.

Berkali-kali Kyuhyun mendengar suara tembakan dan jantungnya berpacu cepat. Mendadak sekujur tubuhnya panas-dingin. Sekarang Kyuhyun tahu seberapa berbahayanya situasi mereka setelah ia mendengar adanya kontak senjata. Bahkan di Amerika, Kyuhyun tidak pernah berada dalam situasi seperti itu walau di sana sering kali terjadi kasus penembakan di tempat umum. Di tangan Kyuhyun sudah ada segelas air. Ia hanya perlu mencapai tempat persembunyian dengan segera. Sementara seorang penjahat sudah membuka pintu kamar di mana Hana berada, namun suara-suara tembakan membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya dan pergi dari sana. Kyuhyun bersembunyi. Lalu keluar lagi setelah orang itu melewatinya.

Brugh.

Seseorang ambruk dan di belakangnya terlihat seorang NIS dengan senjata yang masih terangkat, baru saja menembak mati orang ke tujuh dari anggota komplotan penjahat tadi. Ia mengangguk pada Ray yang berada tak jauh. Kalau orang itu tidak menolong Ray tepat waktu, sekarang Ray pasti sudah menjadi mayat.

“Lima orang lagi,” Lee Donghae masih memantau dari jarak jauh. Sambil mengigit roti tawar, membiarkan roti itu menggelantung di ujung bibirnya sebab kedua tangannya sangat sibuk. “Honey, kau sudah mendapatkannya?” Donghae mendorong masuk roti ke dalam mulutnya sehingga tidak ada lagi yang tertinggal. Mulutnya jadi penuh.

“Aku kesulitan melihat wajah mereka dari sini. Ray dan lainnya bahkan membunuh mereka sebelum sampai ke si—,” kata-kata Yun Ae terpotong setelah ia merasakan sesuatu. “Oh, jangan khawatir, aku akan memberikan hadiah untukmu,” katanya lagi. Yun Ae mengangkat kedua tangannya. Mulut senjata telah menyentuh kulit kepalanya.

“Ada apa?” Lee Donghae terdengar panik. Ia mulai sibuk lagi dengan server-nya setelah menelan paksa roti di mulutnya. Donghae mulai menyambungkan sebuah kamera yang terhubung dengan Yun Ae sehingga apa yang dilihat Yun Ae, itulah yang menjadi tampilan monitor. Refleks, ia mendesis panjang. Seo Yun Ae tertangkap dan sekarang sedang dituntun menuruni anak tangga menuju lantai satu.

“Akan kukirim datanya,” Yun Ae berkata pelan.

Pria tambun yang terlihat santai bahkan setelah insiden baku tembak tadi, tersenyum kepada Yun Ae yang sedang mendatanginya. Yun Ae bergantian menatap pada mereka yang berada di situ sehingga wajah mereka terekam dan langsung diterima oleh Donghae. Donghae langsung sibuk melakukan sesuatu dengan komputer canggihnya.

“Senang bertemu denganmu lagi, Seo Yun Ae,” ia tersenyum tipis. Lalu ia berdiri sambil mengawasi sekeliling rumah, dan mengangguk-angguk, “Ternyata kau hidup dengan nyaman.”

Di lain tempat, Donghae sudah menerima data wajah pria yang menjadi pimpinan kelompok itu. Ia sangat tegang, memandangi monitor yang sedang bekerja cepat mencari identitas para penjahat tersebut.

“Hm, apa yang harus aku lakukan padamu?” Ia berjalan mendekati Yun Ae, mengelilingi Yun Ae sambil meneliti wanita itu mulai dari kaki sampai kepala. Lalu ia berhenti di hadapan Yun Ae. “Sudah tujuh tahun berlalu. Kau pandai bersembunyi rupanya. Aku cukup terkejut melihatmu menjadi CEO,” ia berbicara sementara mulut pistol di tangannya sedang menggerayangi wajah Yun Ae. Yun Ae tetap diam, di matanya tidak terlihat adanya ketakutan barang sedikit pun. “Seharusnya kau bersembunyi sampai akhir dan mati dengan tenang dalam persembunyianmu itu, Nona CEO.”

Sebenarnya Cho Kyuhyun punya banyak kesempatan untuk kembali ke tempat Hana, tapi ia tidak melakukannya. Kyuhyun justru bersembunyi di balik sebuah lemari antik berukuran sangat besar dan membiarkan dirinya membeku dengan semua yang ia saksikan. “Nona,” lidah Kyuhyun kelu. Jantungnya berpacu lebih cepat lagi melihat Seo Yun Ae tertangkap dan sekarang berada dalam bahaya.

Pekikan Lee Donghae mengudara, ia menemukan apa yang dicarinya. “Park Mon Gu. Sekilas tidak ada yang istimewa darinya. Hanya ketua geng kecil yang beroperasi di sekitar Itaewon. Namun itu hanya sebuah pengalih. Aku sudah memindai data yang ada dan kalian tahu apa yang kutemukan?”

“Katakan!” Ray dari titik amannya bertanya tidak sabaran. Saat seperti ini, ia tidak suka dengan Donghae yang selalu berbelit-belit dalam menginformasikan sesuatu.

 “Kang Il Ho, pria yang pernah menjalin kerja sama dengan Yakuza lalu membangun kekuatannya sendiri di Korea. Dia terlibat dalam berbagai macam kejahatan terorganisir. Setelah serangan teroris di Blue House yang didalangi olehnya; Kang Il Ho dikabarkan tewas dalam adu senjata.”

“Apa hubungan antara Park Mon Gu dan Kang Il Ho?” tanya Ray lagi. Percakapannya dengan Donghae sedang disimak oleh Yun Ae.

“Ternyata Kang Il Ho tidak meninggal. Kematiannya sengaja dipalsukan. Dia hidup dengan identitas yang baru, yaitu sebagai Park Mon Gu. Dia hanya melakukan beberapa perubahan kecil pada penampilannya. Pria itu adalah alat pembersih yang bertugas untuk menyingkirkan kotoran dalam organisasi mereka, termasuk menghilangkan hal-hal yang berpotensi membahayakan keamanan dan kerahasiaan organisasi. Aku yakin, setelah ini, kita dapat membongkar sindikat organisasi itu dan aku sangat yakin, banyak orang-orang berpengaruh yang terlibat di dalamnya.”

Bingo,” Ray terkejut, sekaligus puas dengan pencapaian mereka saat ini. “Seo Yun Ae. Kami akan segera membebaskanmu.”

Meskipun terlibat dalam pembicaraan tiga arah itu, Yun Ae tidak bisa mengomentari apa-apa sebab ia sudah tertangkap dan para penjahat itu pasti akan mengetahuinya jika ia ikut berbicara.

“Harusnya saat itu kau tidak melarikan diri. Malang sekali jika wanita cantik sepertimu mati muda. Jangan cemas, aku akan membuat mudah bagimu. Kau tidak akan merasakan sakit. Saat kau membuka mata, kau sudah berada di surga. Ah, kau tidak perlu berterima kasih padaku,”pria itu, Park Mon Gu, tampak puas dan menikmati kesenangannya. Ia selalu bermain-main sebelum membunuh korbannya. Senyuman Seo Yun Ae mengembang. “Kau sangat senang?”

“Tentu saja. Menurutmu, adakah yang lebih membahagiakan seorang pemburu dibandingkan melihat buruannya masuk ke dalam perangkap?” Yun Ae bertanya, dan tetap tenang.

Park Mon Gu tersenyum, ia menyukai Yun Ae yang tidak terlihat takut sekalipun nyawanya sedang terancam. “Aku mulai menyukaimu. Sayang sekali, takdir kita hanya sampai di sini.”

“Satu hal sebelum kau membunuhku. Coba kau pikir, alasan mengapa aku muncul kembali setelah tujuh tahun bersembunyi? Bagi seorang gadis yang hampir mati, tidakkah terlalu bodoh untuk tampil di depan umum padahal tahu kalau nyawanya sedang terancam? Apa kalian tidak merasa curiga?” cengiran Yun Ae menajam, berbanding terbalik dengan Park Mon Gu yang senyum di bibirnya secara perlahan berkurang. “Benar sekali. Akulah pemburu itu, dan kalian adalah buruanku. Park Mon Gu?” kata-kata Yun Ae membuat Park Mon Gu menggeram. Ia sangat marah. “Atau, haruskah aku memanggilmu—Kang. Il. Ho?” Yun Ae memberi penekanan saat menyebut nama itu.

Park Mon Gu sangat terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka kalau identitasnya sudah terbongkar. “Siapa kau?” tangannya mengepal kuat. Giginya bergemelatuk. Kegeramanannya bertambah karena Yun Ae tak kunjung menjawab pertanyaannya dan justru hanya tersenyum sinis. Ia menodongkan senjata ke dahi Yun Ae. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya lagi, memperjelas pertanyaan sebelumnya.

“Kalau kalian sedang beruntung, data kalian pasti sudah sampai di tangan NIS dan beberapa pihak intelligent lainnya. Sekarang mungkin sedang diadakan rapat darurat. Black market kalian akan memiliki banyak kesibukan. Bersiap-siaplah. Kalian semua akan—”

DOR!!

Seo Yun Ae ambruk ke lantai setelah kepalanya dilubangi oleh peluru. Park Mon Gu memandang sinis pada sosok yang sudah tidak lagi bergerak itu. Kemarahannya meluap-luap.

“SIAL!” Lee Donghae melompat berdiri, dan ia menendang kaki meja setelah tahu apa yang menimpa Yun Ae.

Sementara itu, di sudut lain, Cho Kyuhyun gemetar. Matanya yang membulat, tidak berkedip. Melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Seo Yun Ae di tembak membuat jantung Kyuhyun terasa jatuh di lantai. Dadanya bergemuruh dan pandangan matanya mengabur. Kyuhyun sampai harus menggelengkan kepala untuk membuat kesadarannya kembali. Ia mulai merasakan tenaga di tubuhnya menghilang. Tak ada tenaga yang tersisa, bahkan memegang gelas pun tak sanggup ia lakukan sehingga gelas di tangannya jatuh dan hancur menghantam lantai.

“No..na..,” Kyuhyun melangkah tertatih. “NONA!” ia berteriak sangat kuat.

Ray kaget melihat Kyuhyun berlari menghampiri Yun Ae, “AWAS!” teriak Ray.

Terlambat. Langkah Kyuhyun tertahan. Matanya menatap nanar. Kyuhyun merasakan sesuatu yang panas bersumber dari dalam perutnya. Rasa panas itu menjalar dan berubah menjadi rasa sakit. Kaki Kyuhyun lemas dan ia berlutut sambil memegangi perutnya. Darah. Kyuhyun ambruk. Dalam keadaan tak berdaya, ia masih dapat mendengar suara-suara tembakan, juga desingan peluru memenuhi udara. Suara itu terdengar menjauh. Napasnya sesak dan ia semakin sulit menarik oksigen. Pandangan Kyuhyun menjadi samar. Lalu semua benar-benar berubah menjadi hitam pekat dan hanya kesunyian yang membelenggu dirinya.

Nona, mengapa seperti ini? Kenapa kita jadi begini? Apakah karena kau adalah melodi bulan yang jauh? Tak bisa digapai.

-Bersambung-

Happy Sunday! May God bless us. Amien.

Gemessss banget baca komen di part2 sebelumnya.

Ada yang udah benar, eh malah jadi salah. Maksud sy, analisanya belum ada yang 100% tepat, tapi gak apa2lah selama tebakannya masih setengah benar.

Nah, setelah membaca part ini…sy pikir semua makin jelas. Iya, kan?

Dan—seperti yang sudah sy infokan lebih awal, dua part terakhir akan sy protect dengan password baru.

Jadi teman2, part berikut alias part 13 sudah pasti akan sy protect. Untuk permintaan pw, seperti biasanya ya 😉 by email.

Oh ya, omong2, kalo mo minta pw, langsung email aja ya ke laudittamarchia@yahoo.co.id mengingat selama ini kebanyakan teman kalo minta pw, mintanya by komen di blog dengan menyertakan alamat email. Gini teman2, sy punya kesibukan di dunia nyata jadi gak selalu buka blog, kalo kalian berharap sy email duluan, kemungkinan akan lama (memang sih, tetap akan sy email, tp menunggu sy buka blog dulu). Jadi, ada baiknya kalo kalian yang duluan email ke sy.

Satu lagi. Jangan minta pw dari sekarang ya hehehe, kan part 13 belum nongol. Eyke juga belum memikirkan pwnya apa.

Akhir kata, semoga Kyuhyun dan Yun Ae bahagia di alam sana *kalau di alam lain mereka bersatu, kan happy ending namanya* kkkkkkkk~ 😀 😀 😀

Iklan

127 thoughts on “Pianist’s Melody (Part 12)

  1. ina berkata:

    heisshh ga mungkin yun aemati kan?
    trus si donghae ngapa honey2 ama yun ae?
    sumpah bingungkan misteri bgt…
    kerennn 💓👍

  2. sanii berkata:

    aku curiga sama hubungan donghae ma yun ae.mereka bukan hanya sekedar bos dan sekertaris .
    tp apa,dan masalahnya tambah rumit

  3. WonwonKyukyu berkata:

    Itu serius kyu nya mati?! Andwaeee… saiia harus segera baca part 13 dan 14 sblm tidur saiia jd tidak tenang

  4. sdf berkata:

    Great post. I used to be checking constantly this weblog and I’m impressed!
    Very helpful information particularly the remaining section 🙂 I take care
    of such info much. I used to be looking for this particular information for a very lengthy time.
    Thanks and good luck.

  5. VIVIANE berkata:

    Kesannya kayak tukeran peran (Yun ae n Hana)….
    eh iya kak kok bisa Yun ae sama dong hae? Kenapa ayahnya Hana kok kliatan benci sama kyuhyun? isinya ruang kamar di lantai 2 mayat ya kak? hihihi ngasal
    #komennya gabung gak apa ya kak?✌

    wah..wah..wah…full of mystery…. 😕

  6. faliin berkata:

    akhhh….selalu berakhir dengan tanda tanya..
    tapi felling ku semakin yakin kalau Yun Ae bukan Yun Ae *mikir dan pliss my ikan kau miliku *siap2 digempur
    sepertinya Hana memang Yun Ae yang asli. tebakan ini muncul setelah menganalisa semua part *benarkan chia?* sepertinya Yun Ae yang mati tertembak adalah seorang agent yg sengaja ditugaskan untuk menjaga dan menggantikan Yun Ae asli. sepertinya “si gadis pengintip pun terkejut” inilah yg menjadi teka teki selama ini bahwa yang menyaksikan peristiwa ini adalah Yun Ae sampai terjadinya tragedi kecelakaan *semoga jawabannya benar

    PS : gak sabar nunggu PW

  7. KIKI berkata:

    Awww Donghae kau disini berperan menjadi orang jenius. Hae kenapa kau Honey Honey ke Yun Ae?
    Kak jadi nya yang kebayang di Yun Ae itu bukan Yun Ae. Dia agent kah?? Aku tak tahu. Dan aslinya kekasih Donghae?!? Ini kisah berubah jadi action nggak nyangka.
    Itu Kyuhyun nya kenapa ikut ikut kena serang?? Banyak pertanyaan yang ada dalam kepala Ku

  8. Kyumbulmbul berkata:

    Wohooo penuh teka teki dr part 1, but i love the story. Lagi seneng baca ff yg penuh teka teki kayak gini nih hahaha. Ditunggu pw nya, ditunggu pw nya~

  9. RaYa berkata:

    Aduh 13 dprotect ya,gk bsa minta pw ne lpa psw email! Hadew,tp kl tbkanku hana tu ya nona muda,trus yg dtmbk tu adlah agen yg oplas jd nona muda mkany kyu brdebr kl ma hana,trus nona muda dismbunyiin krn diincar pmbunuh! Gt ya marcia.he2,,#ngarang

  10. whitedear berkata:

    jadi curiga sama Hana, siapa Hana sebenarnya? apakah dia yun ae yg wajah nya berubah karena kecelakaan dn juga dia lupa ingatan.. dilihat dari penjelasan jessie kalau Hana muncul setelah yun ae sadar 3thn itu.. kalau Hana benar yun ae brarti beneran setiap kyuhyun deket Hana mankanya merasakan perasaan yg sama kayak ke yun ae dn juga Hana yg selalu bisa menikmati musik kyuhyun yg dia mainkan dengan perasaan yg aneh..

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s