Drama (Part 20)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Cuaca Kota Seoul hari ini sangat bersahabat dengan orang-orang yang hendak beraktivitas di luar ruangan. Seperti yang sedang dilakukan Baek Mi Rae sekarang. Mengenakan simple dress selutut berwarna hitam dan sambil memeluk seikat bunga krisan putih di depan dadanya, ia melangkah pelan menjajaki jalan setapak yang sedikit menanjak. Hijaunya rerumputan dan juga pepohonan yang rindang dan sejuk seolah sedang menceritakan ketenangan di tempat itu. Seseorang memang harus mendapatkan ketenangan semacam itu dalam peristirahatan panjangnya, bukan begitu?

Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini di tahun sebelumnya, adalah saat terberat dalam hidup Mi Rae. Ia kehilangan orang yang paling berarti baginya. Sudah setahun lamanya Mi Rae ditinggal sang ibu. Langkah kaki Mi Rae terhenti begitu melihat seseorang sudah mendahuluinya. Dari kejauhan, ia sudah mengenali pemilik siluet tubuh yang berdiri membelakanginya itu.

Ia menghampiri Cho Kyuhyun yang sedang berdiri di hadapan gundukan tanah yang cukup tinggi dan tampak rapi berwarna hijau karena ditumbuhi oleh rumput-rumput pendek. Ada nisan yang terbuat dari batu yang dibentuk persegi panjang. Kyuhyun menoleh begitu Mi Rae berdiri di sisinya.

“Kau sudah datang.”

“Aku tak mengira akan melihatmu di sini,” ujar Mi Rae sembari meletakkan krisan yang dibawanya di depan nisan, menemani seikat mawar putih milik Cho Kyuhyun. Mi Rae lantas menoleh pada Kyuhyun yang sepertinya sudah ditakdirkan untuk terlahir tampan dalam kondisi apa pun, sekalipun pemuda itu hanya berbalut setelan jas serba hitam yang dilengkapi dasi hitam, pakaian khas pemakaman. “Terima kasih,” ungkapnya.

Sebuah senyum adalah respon yang diberikan Kyuhyun kepada Mi Rae. Setelah itu keduanya tidak lagi berbicara. Mi Rae menuangkan soju ke gundukan makam ibunya. Mereka berdua berdiri cukup lama di sana. Tidak seorang pun yang mencoba untuk memulai percakapan. Mereka melewati menit demi menit dalam kesunyian. Tak lama setelah itu, Kyuhyun beranjak dan menjauh. Ia sengaja membiarkan Mi Rae sendirian dengan ibunya. Kyuhyun memilih untuk duduk di bawah sebuah pohon, hanya dengan beralaskan rumput. Sesekali ia akan menoleh, untuk memastikan keadaan Mi Rae.

“Tidak apa-apa kau di sini?” tanya Mi Rae. Kyuhyun menoleh sejenak padanya. Mereka berdua sudah bersama-sama duduk di bawah pohon.

Sure,” jawab Kyuhyun singkat.

“Aku sengaja tidak memberitahumu, kupikir kau sangat sibuk dan aku merasa tidak seharusnya mengganggumu.”

“Kau berlebihan,” Kyuhyun tertawa pelan. Tatapannya mengarah lurus ke depan.

Mi Rae tersenyum tipis. Ia mengembuskan napas pelan, “Aku sangat merindukan ibu. Dia pergi sebelum aku menepati janjiku untuk menjadi seorang dokter. Aku memikirkan itu siang dan malam, kemudian aku akan mendapati diriku dalam sebuah penyesalan. Ini tidak nyaman, rasanya sedikit sesak sehingga menarik napas pun tak leluas.”

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau telah melakukan hal yang baik dan ibumu pasti tahu itu. Sekalipun ibumu tak lagi ada untuk menyaksikannya, janji tetaplah sebuah janji. Kau harus menepatinya. Aku yakin, kau akan menjadi seorang dokter yang baik.”

“Ya, aku harus.”

“Kau tidak berpikir untuk belajar di luar?” pertanyaan Kyuhyun membuat Mi Rae mengernyit. “Aku tahu kemampuanmu. Kau sangat berbakat. Mungkin saja kau bisa mendapatkan program belajar di luar negeri. Kau bisa mengikuti seleksi untuk mendapatkan bea siswa ke luar negeri.”

Apa yang dikatakan Kyuhyun membuat Mi Rae terdiam. Tampaknya ia sedang memikirkan saran Kyuhyun barusan. “Sejujurnya, pemikiranku belum sampai ke sana. Kupikir itu ide yang bagus, tapi—”

“Tapi?”

“Aku yang tidak siap. Rasanya sulit bagiku untuk pergi dari Seoul. Kehidupanku ada di sini. Ada banyak hal yang memberatkanku untuk beranjak dari kota ini,” katanya sambil menoleh pada makam ibunya.

Gantian Kyuhyun yang diam, tapi tak begitu lama. Lalu ia mengacak-acak rambut Mi Rae. “Tidak apa-apa.”

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau kau tidak bersamaku,” Mi Rae berkata pelan sambil menatap lurus ke depan. Namun, ia tahu jika Kyuhyun sempat menoleh padanya. Beberapa saat mereka berdua membisu. Mi Rae mengawasi Kyuhyun yang tertangkap mata sedang menarik napas panjang berkali-kali. “Ada apa?”

“Ya?”

“Sepertinya kau sedang terganggu akan sesuatu? Kulihat belakangan ini kau agak berbeda—maksudku, kau tidak seperti biasanya. Kau lebih banyak diam,” Mi Rae menatap dalam pada Kyuhyun. Mencoba mencari sesuatu yang mungkin saja sedang disembunyikan oleh pemuda tersebut. “Terjadi sesuatu? Kau tak ingin membagikannya denganku?”

“Terlihat jelas, ya?” tanya Kyuhyun. “Ah, sebenarnya sedang banyak kesibukan di perusahaan. Aku sangat kelelahan. Kau tahu ibuku seperti apa, kan? Dia membuat agendaku begitu padat sampai-sampai aku kesulitan bernapas,” celetuk Kyuhyun santai. “Jangan cemas. Itu adalah hal yang lumrah. Aku masih bisa mengatasinya.”

“Kau yakin?”

“Hm, tentu saja.”

“Tapi sesibuk apa pun, kau harus tetap menjaga kesehatanmu dan aku tak perlu memberitahumu bagaimana caranya, kan? Kau pernah menjadi calon dokter.”

“Iya, iya. Kupikir itu tidak lagi penting, karena aku punya dokter pribadi di sisiku,” kerlingnya dan kembali mengacak-acak rambut Mi Rae. Gadis itu tertawa karena tingkah Kyuhyun dan membalas Kyuhyun dengan mendorong-dorong pelan tubuh pemuda itu.

***

“Nyonya. Tuan muda sudah kembali.”

Majalah yang sedang dibaca Nyonya Cho langsung ditutup begitu mendengar informasi yang disampaikan oleh seorang pelayan. Ia meletakkan majalah tersebut di meja sembari mengawasi Cho Kyuhyun yang sedang menghampirinya.

“Ibu mencariku?” tanya Kyuhyun. Ia duduk dan melonggarkan dasinya.

Dengan sigap, pelayan menuangkan teh di sebuah cangkir dan menyodorkan pada Kyuhyun. Pemuda itu tersenyum dan meneguk sekali teh miliknya.

“Bagaimana dengan Mi Rae?”

“Dia agak sedih, tapi selebihnya dia baik-baik saja.”

“Syukurlah.”

Nyonya Cho bernapas lega. Wanita itu tampak sangat mencemaskan Baek Mi Rae. Lalu ia kembali memerhatikan Kyuhyun yang kini terdiam dengan sorot mata yang agak sukar untuk dijelaskan. Sebagai seorang ibu; Nyonya Cho paham jika ada sesuatu yang mengganggu putranya.

“Kau—sudah memberitahu Mi Rae?” selidik Nyonya Cho. Melihat Kyuhyun tetap bungkam, ia menduga kalau Kyuhyun belum mengatakan apa-apa pada Mi Rae. “Kyu. Ibu sudah mengatakan padamu kalau kau merasa berat, kau kan bisa—”

“Aku sudah membuat keputusan, Bu.”

Suara Kyuhyun terdengar begitu lantang. Dari sorot matanya yang memancarkan ketegasan, ia telah membulatkan tekadnya. Kegelisahan justru mendera Nyonya Cho. Firasatnya mengatakan bahwa apa yang Kyuhyun lakukan kali ini akan bertentangan dengan keinginannya.

***

Sedang apa aku di sini?

Baek Mi Rae berusaha untuk menyadarkan dirinya kalau ia tidak sedang berhalusinasi. Tidak terhitung berapa kali ia menarik napas dalam-dalam, memenuhi rongga dadanya. Kemudian mengembuskan udara yang ditariknya itu secara perlahan. Jantungnya berdetak kuat. Ia memandang gelisah pada pintu di hadapannya yang tertutup rapat. Bagaikan terdapat ruang keramat di balik pintu itu.

Oh, mungkin kegugupan Mi Rae terlalu berlebihan, tapi tetap saja ia tidak bisa menemukan jawaban atas alasan mengapa ia harus masuk ke dalam ruangan tersebut. Terakhir, sebelum ia mengetuk pintu, ia kembali menarik napas lebih dalam lagi. Kesunyian dipecahkan oleh suara ketukan Mi Rae di pintu sebanyak dua kali dan itu terdengar ragu. Kemudian Mi Rae membuka pintu dan jantungnya semakin menggila.

Pelan, Mi Rae melangkah memasuki ruangan yang tidak semua dokter di rumah sakit berkesempatan masuk ke dalamnya, apalagi untuk mahasiswa magang sepertinya. Sosok seorang wanita yang tengah berdiri di dekat jendela, dan sedang membelakanginya justru membuat jantung Mi Rae semakin tak terkendalikan.

“Sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan?”

Suara dengan nada yang terdengar meninggi itu bagai suara petir sehingga Mi Rae tersentak kaget dan membeku di tempatnya berpijak.

Benar juga. Apa yang ia lakukan di sini? Hal apa juga yang membuat Dokter Shin, direktur rumah sakit itu sampai-sampai memanggilnya? Terdengar mustahil, kan? Dan baru saja Mi Rae hendak mengucapkan sesuatu yang mungkin akan terdengar terbata-bata, ketika wanita itu kembali berbicara.

“Siwon, kalau kau tidak bisa membereskan kekacauan ini, maka aku yang akan melakukannya.”

Oh, jadi…

Wanita itu berbalik dan mendapati Mi Rae yang pucat, “Ah, kau sudah datang,” katanya ramah sembari mematikan ponselnya. Ia berjalan ke tempat di mana satu set sofa teratur rapi, lantas duduk di situ. “Silakan duduk.”

“Iya,” angguk Mi Rae. Ia duduk dan bertambah gelisah. Sofa empuk itu terasa tak nyaman, seolah ada ribuan jarum di sana.

“Kau pasti kaget karena aku memintamu ke sini.”

Mi Rae membenarkan perkataan Direktur Shin di dalam hati. Jangankan dirinya; Dokter Park dan beberapa orang yang bersamanya tadi di UGD sangat terkejut saat mendengar dirinya dipanggil oleh direktur rumah sakit. Bahkan Dokter Jung sebagai pembawa pesan pun terlihat keheranan dan tak habis pikir. Sementara Direktur Shin sedang menuangkan teh ke dalam dua buah cangkir, Mi Rae masih mengira-ngira alasan keberadaannya di tempat itu.

“Silakan,” Direktur Shin mendorong cangkir yang satunya lagi hingga berhenti tepat di hadapan Mi Rae. Ia meneguk teh dalam cangkirnya, kemudian meletakkan cangkir itu di atas meja. “Aku akan berterus terang. Aku ingin meminta bantuanmu.”

Mi Rae mengernyit. “Bantuanku?” memangnya, bantuan seperti apa yang diinginkan seorang direktur rumah sakit dari seorang mahasiswa magang sepertinya?

“Aku sudah melihat beritamu—dan juga pewaris Daehan itu. Kudengar, kau bahkan sangat dekat dengan Nyonya Cho.”

Ini…

Jadi, ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang Daehan Group. Ah, seharusnya Mi Rae sudah bisa menebak. Entah permintaan seperti apa yang hendak disampaikan Direktur Shin, tapi Mi Rae sudah tidak bersemangat mendengar kelanjutannya.

 “Kau pasti tahu kalau perusahaan kami, termasuk rumah sakit sedang guncang setelah Daehan menghentikan kerja samanya dengan kami. Direktur baru Daehan, Cho Kyuhyun, yang mengambil keputusan itu.”

Karena hal-hal seperti inilah yang membuat Mi Rae enggan hubungannya dengan Kyuhyun terkuak. Orang-orang melihatnya bukan karena siapa dirinya, tapi karena siapa yang berada di sekitarnya. Bagi Mi Rae, orang-orang seperti itu sangat munafik dan terkesan menjadi penjilat. Ia merasa muak sehingga perutnya menjadi mual.

“Sebenarnya aku malu meminta hal ini padamu, tapi sepertinya aku tidak punya pilihan lain,” Direktur Shin mulai menunjukkan kecemasannya. Gerak tubuhnya tampak sangat gelisah. Tiba-tiba saja wanita itu meletakkan lututnya di lantai.

“Di-direktur?”

Secara refleks Mi Rae berdiri. Ia sangat terkejut. Sama sekali tidak terbayang kalau wanita itu akan berlutut di hadapannya. Apakah sebesar itu pengaruh Daehan Group sampai-sampai seorang terhormat seperti Direktur Shin rela membuang harga dirinya?

“Apa, apa yang Anda lakukan?”

“Tolong katakan pada Cho Kyuhyun untuk menghentikan ini. Dia pasti akan mendengarkan ucapanmu, kan?”

“Direktur, aku…andai aku bisa membantu, tapi nyatanya aku tidak punya kuasa untuk melakukan hal-hal semacam itu.”

“Hanya kau yang bisa menghentikan dia.”

“Kami memang terikat dalam sebuah hubungan, tapi itu tidak berarti aku bisa melibatkan diriku dalam setiap keputusan yang Kyuhyun buat,” Mi Rae menjadi lebih gelisah daripada sebelumnya. Ia tidak suka dengan situasi yang sedang terjadi sekarang. Rasa muak yang semula menggerogotinya perlahan mulai terkikis habis, dan tergantikan oleh rasa iba yang memuncak setelah melihat kenekatan Direktur Shin. Akan tetapi, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia tidak yakin mempunyai pengaruh sebesar itu terhadap Kyuhyun. “Jika menyangkut perusahaannya, aku hanya orang luar sehingga tidak mungkin bagiku untuk ikut campur. Direktur, aku minta maaf, tapi permintaan Anda terdengar sangat mustahil.”

“Tidak mustahil kalau itu kau. Dia melakukan ini kepada kami pun karena dirimu.”

“IBU!”

Choi Siwon masuk tergesa-gesa ke dalam ruangan itu. Ia terlihat sangat lelah seperti baru saja berlari. Segera ia menghampiri ibunya dan menarik tangan wanita itu agar berdiri tegak.

“Siwon. Kenapa kau ke sini? Kau seharusnya sangat sibuk di St. Marie, kan?” tanya Direktur Shin, menyebutkan rumah sakit tempat Siwon menjalani masa pra kliniknya.

“Apa yang Ibu lakukan?”

“Aku hanya mencoba menyelesaikan apa yang kau mulai.”

“Tapi Bu, kau tidak perlu sampai sejauh itu. Aku yang akan bertanggung jawab.”

“Bagaimana caranya? Kau pikir semua akan selesai dengan sendirinya, sementara kau hanya berdiam diri? Pemecatan ayahmu berhasil dibatalkan, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Para pemegang saham akan kembali melakukan rapat luar biasa, dan aku pikir ayahmu tidak akan selamat kali ini.”

“Aku paham, Bu. Kumohon untuk tidak melibatkan Mi Rae.”

“Ibu tidak melibatkan dia, tapi dia telah terlibat sejak awal. Cho Kyuhyun melakukan ini karena gadis itu, kan?” Direktur Shin yang putus asa itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia memijit pelan kepalanya. Gelisah dan tampak kelelahan.

Choi Siwon bungkam. Lalu tatapannya beralih pada Mi Rae yang membeku. Rasa bersalah terlihat dari sorot mata Siwon. “Mi Rae, bisa kita bicara di luar?”

Tanpa mengatakan apa pun, Mi Rae membiarkan Siwon memegang pergelangan tangannya dan membawanya pergi. Ia hanya menuruti ke mana Siwon menyeretnya. Ia menangkap sesuatu dari percakapan Siwon dan Direktur Shin tadi.

“Bisa kau jelaskan semuanya padaku?”

Mi Rae berhenti dan Siwon berbalik padanya. Gadis itu melepaskan tangan Siwon darinya.

“Kenapa Direktur Shin berkata demikian? Seakan-akan kerja sama antara Anam dan Daehan berakhir—karena aku? Jangan mengada-ada!” Mi Rae mendengus, dan kemudian tertawa tawar. Mereka sengaja melucu, ya? Melihat Siwon yang hanya diam, Mi Rae pun sadar bahwa situasi mereka sangat serius. “Apa—itu benar?”

Siwon mendesah. Tampaknya tidak ada pilihan baginya selain menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Mi Rae. “Kyuhyun memberi satu syarat padaku. Semua akan berakhir saat kau memaafkanku.”

Anam akan baik-baik saja jika gadis itu memaafkanmu. Siwon teringat akan perkataan Kyuhyun padanya waktu itu.

“Apa maksudmu? Sudah lama aku memaafkanmu, tapi kenapa?”

“Kau benar, tapi Kyuhyun tidak tahu itu. Baek Mi rae, ini bukan karenamu, tapi sepenuhnya adalah kesalahanku. Cho Kyuhyun hanya berusaha untuk melindungi gadis yang dicintainya.”

“Lalu selama ini kau hanya diam, dan tidak memberitahukan hal sepenting ini padaku? Kau sungguh mempertaruhkan masa depan keluargamu demi rasa bersalahmu itu? Bullshit! Kau tidak pernah berubah. Kau masih saja menjadi seorang pengecut,” Mi Rae mendengus tak percaya. Kedua tangannya mengepal kuat. “Kalian berdua benar-benar sudah gila!” ia yang sangat marah lantas bergegas pergi dan membiarkan kalimat Siwon kembali tertelan tanpa sempat dikeluarkan.

***

Setumpuk map di atas meja yang diletakkan di sisi kanan baru saja dikerjakan Kyuhyun. Namun masih ada tumpukan lain di sisi kiri yang sedang menanti untuk ditindaklanjuti olehnya. Pemuda itu menyandarkan punggungnya di kursi. Ia beristirahat sejenak dari pekerjaan di balik meja yang ternyata sangat melelahkan dan tentu saja cukup untuk membuat titik jenuhnya menyapa. Kalau sudah seperti ini, biasanya ia akan mengenang masa-masa kehidupan bebasnya sebagai seorang mahasiswa biasa, dan hanya mengandalkan pekerjaan sambilannya sebagai penyanyi di kafe untuk bertahan hidup. Ah, ia sangat merindukan itu.

Suara ketukan pintu membuyarkan kesenangan Kyuhyun. Ia memberi perhatian penuh pada Kim Ryeowook yang terburu-buru menghampirinya. Raut wajah sekretarisnya itu seperti sedang membawa berita kalau dalam lima menit asteroid akan menghantam bumi.

“Ada apa?” Kyuhyun heran melihat Ryeowook sepanik itu.

“Nona Mi Rae.”

Mendengar nama yang disebutkan Ryeowook membuat tubuh Kyuhyun menegak. “Kenapa dengan Mi Rae?”

“Nona ada di luar.”

“Baek Mi Rae di luar? Maksudmu—dia sedang berada di sini sekarang?” raut wajah Kyuhyun langsung berbinar. Itu berita yang sangat baik. Lalu ia terlihat berpikir sejenak seperti baru saja menyadari sesuatu. “Omong-omong, apa yang dia lakukan di sini?” agak mustahil jika mengharapkan Mi Rae datang menemuinya sekarang. Apalagi ia tahu kalau seharusnya Mi Rae sedang berada di rumah sakit.

“Aku tidak tahu, tapi nona terlihat tegang dan auranya terasa sangat tak bersahabat,” Kim Ryeowook memegang tengkuknya yang meremang sementara sebelah alis Cho Kyuhyun telah meninggi mendengar penuturannya.”Sepertinya nona terlihat sangat marah. Mungkin sebaiknya Anda segera menemuinya,” ia melanjutkan kalimatnya.

Mereka berdua keluar dari ruangan milik Kyuhyun. Benar saja. Mi Rae ada di situ. Masih berdiri di dekat meja kerja Ryeowook. Ia bahkan tidak berniat duduk dengan nyaman di tempat duduk yang tersedia saat tadi Ryeowook memintanya untuk menunggu. Ryeowook meneruskan langkahnya, sehingga hanya tersisa Kyuhyun dan Mi Rae di tempat itu.

Persis seperti yang digambarkan oleh Kim Ryeowook tadi, raut wajah Mi Rae tampak ditekuk. Tidak ada segaris senyum di sana. Sorot mata gadis itu begitu tajam dan dipenuhi kemarahan. Kyuhyun pun berjalan menghampirinya. Ia tersenyum pada Mi Rae, tapi sedikit pun gadis itu tidak merespon. Melihat itu, Kyuhyun menegakkan tubuh. Tangan Kyuhyun yang semula berada di dalam saku celana pun akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Sepertinya mereka tidak akan berbicara sesantai biasanya.

“Ada apa, Mi Rae?” Kyuhyun dibuat kian penasaran terhadap alasan keberadaan Mi Rae di kantornya.

“Kau melakukan sesuatu terhadap Anam hanya karena aku, benarkah?” tanya Mi Rae. Ia melihat Kyuhyun terperanjat. “Kau sungguh melakukan itu?” tangan Mi Rae mengepal sebab ekspresi Kyuhyun membenarkan pertanyaannya.

“Mi Rae, bagaimana kau—”

“Ya! Atau tidak!” Mi rae memotong perkataan Kyuhyun. “Jawab saja pertanyaanku!”

Kyuhyun terdiam. Ia hanya menatap Mi Rae selama beberapa saat. Tidak pernah ia melihat Mi Rae semarah itu. “Ya. Aku melakukannya,” aku Kyuhyun.

Dengusan berat Mi Rae terdengar. Ia sempat memalingkan wajahnya. Sulit memercayai apa yang baru saja didengarnya. Senyuman aneh tersungging dari sudut bibirnya. Kemudian ia berbalik dan menatap langsung ke mata Kyuhyun.

“Aku tidak percaya kau melakukan itu. Mempermainkan hidup seseorang. Tampaknya orang-orang kaya seperti kalian sangat menikmatinya. Kalian sedang pamer kekuasaan, ya?”

“Mi Rae.”

“Bagaimana bisa aku menjadi alasan dari kehancuran hidup orang lain? Semudah itukah? Memangnya kenapa kalau Siwon pernah membuatku terluka? Menghancurkan perusahaannya; apakah itu balasannya? Kita terlibat dalam sebuah hubungan, tapi bukan berarti kau berkewajiban membalas sakit hatiku. Dengan harta yang kau miliki, kau dapat melakukan apa saja yang kau inginkan. Namun kau bukan Tuhan sehingga berhak menghukum orang lain.”

“Baek Mi Rae. Tolong dengarkan aku.”

“Kau punya alasan lain?”

“Tidak. Aku mengakui semuanya. Saat itu aku berpikir bahwa aku melakukan hal yang benar, tapi melihatmu hari ini, aku sadar kalau aku telah keliru.”

“Kau tahu apa yang aku alami hari ini? Aku menyaksikan seorang ibu berlutut untuk kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Aku bahkan kesulitan menggambarkan seperti apa perasaanku saat menyaksikan itu,” air mata yang menetes dari mata Mi Rae menjadi alasan mengapa seluruh tubuh Kyuhyun tak bisa digerakkan. Sedikitpun, ia tak ingin melihat Mi Rae menangis. Apalagi karena dirinya. “Jika aku memberikan daftar orang-orang yang pernah menyakitiku, kau akan membalas mereka untukku?”

Kyuhyun membungkam. Ia kehilangan kata untuk menjawab Mi Rae.

“Kau percaya pada karma, kan? Jika kau percaya, maka tidak seharusnya kau melakukan apa pun demi membalas orang-orang yang pernah melukaimu. Kyuhyun, kita telah menghabiskan banyak waktu bersama, tapi sepertinya kau belum begitu mengenalku.”

Desahan napas Kyuhyun terdengar berat. Barangkali ia sadar kalau Mi Rae memang bukan tipe yang gemar membalas perbuatan jahat yang dilakukan seseorang kepada dirinya dengan kejahatan lainnya. Mi Rae adalah orang yang membalaskan penghinaan yang ia terima dengan cara yang anggun. Ya, ia membalas mereka semua dengan membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi seorang dokter.

“Yang kau lakukan itu, membuatmu tak berbeda dari Choi Siwon. Kalian tampak bersenang-senang setelah mempermainkan orang lain. Seolah kehidupan orang itu tidak ada harganya di mata kalian.”

“Mi Rae,” Cho Kyuhyun menggeleng.

“Jangan bilang karena aku. Aku tidak pernah memintamu berbuat begitu. Ini tentang dirimu sendiri, tentang egomu. Keegoisan yang sepertinya telah berakar dalam karakter kalian, para tuan muda. Kau, dan juga Siwon. Berhentilah menginjak leher orang lain.”

Cho Kyuhyun meraih tangan Mi Rae. Ia menggenggam tangan gadis itu begitu erat, menyisipkan penyesalan dalam genggamannya. Sorot mata yang lembut itu tak berbinar seperti biasanya.

“Maafkan aku, Mi Rae,” hanya itu yang dapat dikatakan Kyuhyun.

Semenit Mi Rae membisu. Menatap Kyuhyun, sementara bibirnya tetap terkatup rapat. Kemudian ia melepaskan tangan Kyuhyun, “Aku harus kembali ke rumah sakit,” katanya kaku.

Langkah gontai Mi Rae membawanya pergi, meninggalkan tempat itu. Kemarahan Mi Rae belum reda sehingga permintaan maaf Kyuhyun belum disambut baik. Cho Kyuhyun tak berusaha menghentikan Mi Rae padahal dirinya sendiri tidak puas dengan ending pertemuan mereka hari ini. Ia menahan langkahnya sekalipun ia ingin mengejar gadis itu. Karena ia tahu kalau yang dibutuhkan Mi Rae saat ini adalah ketenangan untuk menyurutkan emosinya. Jika yang satu marah, maka sebaiknya yang lain tetap diam dan menjauh untuk beberapa saat. Berbicara dalam keadaan emosi justru akan membuat segala sesuatunya bertambah buruk.

***

“Bagaimana kabar Cho Kyuhyun?”

Han Jin Ae sengaja bertanya pada Baek Mi Rae. Mereka berdua sedang berada di kantin rumah sakit. Mi Rae tampak tak bersemangat saat menyampurkan nasi ke mangkuk sup.

“Mungkin seperti biasanya,” jawab Mi Rae sekenanya.

“Maksudmu?”

“Hm, kelihatannya dia baik-baik saja.”

“Yang aku maksudkan bukan keadaan Kyuhyun, tapi kata mungkin yang keluar dari mulutmu tadi,” Jin Ae meletakkan sendok, berhenti menyendoki makanannya setelah melihat Mi Rae hanya mengedikkan bahu. “Kalian belum baikan? Ini sudah lewat beberapa hari sejak kejadian itu, kan? Kau masih marah padanya?”

Mi Rae menggeleng, “Aku sudah bisa menguasai kemarahanku, tapi aku masih sedikit kesal.”

“Aku mengerti perasaanmu, tapi yang dia lakukan itu semata-mata karena dirimu.”

“Justru karena itu. Aku membuat Cho Kyuhyun berniat menghancurkan orang lain. Karena aku, Cho Kyuhyun hampir menjadi orang yang jahat. Aku marah pada diriku sendiri.”

“Aku percaya kalau Kyuhyun tidak bermaksud begitu. Dia sangat memedulikanmu, tapi mungkin caranya yang salah. Dia sama menderitanya dengan dirimu. Dia sudah cukup menerima hukumannya. Tidakkah kau berniat memaafkannya?”

“Aku sudah memaafkannya.”

“Sudah kau katakan padanya?” melihat Mi Rae hanya diam, Jin Ae pun kembali berkata, “Mi Rae, dengar. Wanita dan pria berbeda dalam segala hal, termasuk cara berpikir. Cara berpikir pria jauh lebih simple dibandingkan wanita. Kata orang, pikiran wanita itu seperti sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan. Pria sulit menebak apa yang ada di pikiran kita. Mereka tidak akan tahu jika kita tak mengutarakannya. Saranku, kau harus berbicara pada Kyuhyun. Dia pasti berpikir kau belum memberi maaf padanya.”

Wah, Han Jin Ae bertambah dewasa. Cara berpikirnya berkembang pesat dibandingkan sebelum-sebelumnya. Mi Rae bahkan kagum mendengar apa yang dikatakan Jin Ae. Belakangan, Jin Ae menjadi orang yang paling bisa ia andalkan jika membutuhkan pendapat.

“Kalian harus segera berbaikan. Aku tidak tahan melihat sahabat-sahabatku bertengkar. Hyukjae terus mendesakku untuk membujukmu agar menemui Kyuhyun. Katanya Kyuhyun sangat membutuhkanmu,” ujar Jin Ae.

Raut wajah Mi Rae agak berubah, “Ehm, Hyukjae mengatakan hal lain?”

Jin Ae menggeleng pelan, “Apa?”

“Kata-kata Hyukjae seolah terjadi sesuatu pada Kyuhyun.”

“Errr, barangkali nasib Kyuhyun agak memrihatinkan karena pertengkaran kalian. Maka dari itu, segeralah berbaikan.”

Waktu itu Mi Rae sangat marah. Ia tahu bagaimana rasanya ketika hidup seseorang dipermainkan; meskipun dengan cara yang berbeda, rasa sakit yang ditimbulkan tetap sama. Ia tidak ingin Kyuhyun menjadi tipe manusia yang berperilaku serendah itu.

Baek Mi Rae telah mempertimbangkan saran Jin Ae. Permasalahan antara dirinya dan Kyuhyun harus segera diselesaikan. Rasanya tidak benar kalau ia terus mendiamkan Kyuhyun. Berhubung karena hari ini shift Mi Rae berakhir sehingga ia bisa pulang dan mendapatkan libur sehari, maka ia memutuskan akan mampir menemui Kyuhyun secara langsung sebelum pulang ke rumahnya.

Bergelut dengan susunan rencana yang akan dilakukan selepas jam jaganya di rumah sakit, Mi Rae mengabaikan Han Jin Ae yang akhirnya memilih menyibukkan diri dengan ponselnya. Sampai tiba-tiba saja Jin Ae menyerukan sesuatu.

What the hell?!

Jin Ae lebih intens memerhatikan layar ponselnya. Matanya yang melotot ditambah mulutnya yang menganga, telah berhasil menarik perhatian Mi Rae. Mi Rae memandang was-was pada Jin Ae yang masih sibuk dengan sesuatu yang membuatnya terperangah tadi. Jin Ae mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata Mi Rae yang sedang mengawasinya, penasaran.

“Kau benar,” Jin Ae bergumam, ludahnya tertelan paksa. Ia membuat Mi Rae ikut menegang. “Terjadi sesuatu pada Cho Kyuhyun.”

Mi Rae terhenyak, lantas segera menarik ponsel Jin Ae.

“Status Cho Kyuhyun sebagai ahli waris sedang terancam?” Jin Ae mengulang berita utama yang muncul di mesin pencarian, mengubah tajuk berita itu menjadi sebuah kalimat tanya. “Ada apa ini?”

Kalau saja Mi Rae bisa menjawab pertanyaan Jin Ae, tapi saat ini rasa penasarannya mungkin melebihi apa yang sedang dirasakan Jin Ae.

Cho Kyuhyun, kenapa?

Apa selama ini Mi Rae kurang peka? Padahal ia sempat curiga melihat gelagat aneh kekasihnya itu. Namun kecurigaannya menghilang begitu saja setelah mendengar jawaban Kyuhyun, yang tentu saja oleh Kyuhyun dilengkapi sebuah senyuman. Seharusnya ia sadar kalau saat itu Kyuhyun tidak sedang baik-baik saja. Seharusnya ia tidak percaya begitu saja pada perkataan Kyuhyun.

Cho Kyuhyun tidak pernah ingin membuatnya khawatir. Mengapa ia tidak menyadari itu? Mengapa ia mengabaikan intuisinya yang selama ini belum pernah teragukan?

“Baek Mi Rae!”

Mi Rae tersentak karena suara keras Jin Ae.

“Kau mendengarku, tidak?”

Ia dapat melihat kecemasan di wajah Jin Ae. Ah, entahlah—dirinya mendadak tidak fokus setelah mengetahui kabar itu sehingga tidak begitu mendengar apa yang dikatakan Jin Ae sebelumnya.

“Hubungi Kyuhyun. Sekarang!”

“Iya,” Mi Rae mengangguk, menuruti perintah Jin Ae. Namun ponselnya justru lebih dahulu berbunyi dengan suara—jangkrik yang katanya hendak ia ganti tapi ternyata tak juga ia lakukan—aneh. Agak lama Mi Rae menatapi layar ponselnya, hingga ia mengangkat kepalanya, menatap Jin Ae dan berkata, “Ibunya Kyuhyun,” setelah melihat tatapan Jin Ae yang seolah turut menyuarakan sebuah pertanyaan—siapa? 

“Ya ampun, kenapa kau malah ling-lung begitu?” Jin Ae memutar bola matanya. Kesabarannya menipis melihat tingkah Mi Rae yang membuatnya gemas. Pasalnya, ia sudah sangat penasaran dengan berita yang muncul, dan mungkin saja Nyonya Cho menghubungi sahabatnya itu karena ada keterkaitannya dengan berita tersebut.

“Ha, hallo?” Mi Rae menjawab panggilan masuk itu dengan suara yang tersendat. Ia gugup karena dipengaruhi oleh situasi yang terasa tegang.

***

Setelah menemui Cho Kyuhyun dan berbaikan, Mi Rae akan mampir ke sebuah swalayan dan berbelanja. Dua hari belakangan, isi kulkasnya kelihatan sepi. Persediaan kebutuhan sehari-harinya pun telah menipis. Sekalian ia akan membeli daging. Kemudian, ia akan membuat kimchi dan memanggang daging. Ada kemungkinan, ia akan melanjutkan dengan berbenah dan merapikan rumahnya yang jadi kurang terurus karena kesibukannya di rumah sakit. Walau sebenarnya hal yang sering terjadi setelah perutnya kenyang adalah ia akan mengantuk dan memutus akan melanjutkan pekerjaan rumah setelah tidur barang sejam. Kenyataannya, ia akan tidur berjam-jam, dan tidak memiliki waktu lagi untuk melakukan pekerjaan lain.

Sekiranya, semua hal tersebut adalah susunan kegiatan yang telah ia rencanakan sepulang dari rumah sakit. Alih-alih menemui Cho Kyuhyun, ia justru berada di sebuah restaurant, di dalam ruangan yang lebih private. Setelah mendapat telepon dari Nyonya Cho, rencana kegiatan Mi Rae pun berubah total. Jadi, di sinilah Mi Rae berada sekarang. Wanita itu meminta bertemu dengan Mi Rae secara pribadi.

Berbagai jenis makanan telah terhidang di atas meja. Sementara Nyonya Cho begitu lahap menikmati makan malam yang kelihatannya lezat itu, Mi Rae justru kehilangan selera makan. Lalu Nyonya Cho sadar jika Mi Rae tidak bergerak dan hanya termangu memerhatikan dirinya.

“Setidaknya kita harus mengisi perut terlebih dahulu,” kata Nyonya Cho, mengedarkan pandangan di atas meja, seolah mengisyaratkan kalau tidak adil jika makanan sebanyak itu harus dihabiskannya seorang diri. Mi Rae mengangguk santun, dan akhirnya melakukan apa yang dikehendaki wanita cantik di hadapannya itu.

Tidak lama kemudian, Nyonya Cho meletakkan sumpit di atas meja. Mi Rae sudah berhenti makan sejak tadi, ia sama sekali tak bisa menelan makanan dalam situasi yang seperti sekarang ini. Tatapan Nyonya Cho mengarah lurus pada Mi Rae. Walau sinar mata itu terlihat hangat dan juga ada segaris senyum di bibir merah Nyonya Cho, akan tetapi Mi Rae justru gelisah. Ia pikir, sesuatu yang akan dibicarakan oleh Nyonya Cho bukan hal yang menyenangkan. Entahlah, tapi firasat Mi Rae berkata begitu.

“Kau setuju bertemu denganku tanpa banyak bertanya, dan melihat kegelisahanmu saat ini, aku menebak kalau kau telah mengetahui kabar itu.”

“Aku sangat terkejut. Kyuhyun tidak pernah mengatakan hal itu padaku.”

“Mungkin dia pernah mencoba mengatakannya padamu.”

Mi Rae terhenyak, menatap Nyonya Cho lebih dalam lagi. Kalau memang seperti yang dikatakan Nyonya Cho, berarti dirinya memang telah kehilangan kepekaannya.

“Pernahkah Kyuhyun menyinggung sesuatu tentang luar negeri?” tanya Nyonya Cho, dan Mi Rae mengerjap. Ya, wanita itu benar.

“Kyuhyun menyarankan diriku untuk belajar ke luar negeri.”

Nyonya Cho menarik napas dalam, “Ah, anak itu. Kenapa tidak dia katakan terang-terangan?” ia mendesah. Ia kemudian fokus lagi pada Mi Rae yang tak bisa bersikap sesantai dirinya. “Begini. Sebenarnya, tentang kuliah di luar di negeri, akulah yang menyarankan hal tersebut. Aku yang akan membiayai semuanya, tapi Kyuhyun tak setuju. Dia bilang, kau pasti akan menolak jika aku membiayai kuliahmu. Kurasa, karena itu dia mencoba memintamu secara halus,” ya, Nyonya Cho memang benar, yaitu dengan mengatakan pada Mi Rae tentang mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa.

Cho Kyuhyun tidak salah. Sudah pasti Baek Mi Rae akan menolak tawaran itu tanpa perlu berpikir terlebih dahulu. Kyuhyun tahu orang seperti apa kekasihnya. Mi Rae menarik kembali pernyataannya kalau Kyuhyun belum begitu mengenal dirinya.

“Kenapa?” sekian banyak hal yang bermunculan di kepala Mi Rae, hanya itu yang bisa ia ungkapkan.

Kenapa?

Apakah drama akan terjadi lagi? Nyonya Cho berubah pikiran dan berusaha memisahkan mereka dengan cara mengirim Mi Rae ke luar negeri?

Mengherankan, tapi disaat-saat genting seperti sekarang, dan mungkin juga karena dipengaruhi oleh situasi yang agak tegang, otak Mi Rae justru secara otomatis memutar ulang adegan-adegan yang pernah dilihatnya dalam drama.

“Para pemegang saham meragukan kemampuan Cho Kyuhyun. Mereka tidak yakin Kyuhyun dapat memimpin perusahaan, apalagi dalam usianya yang masih sangat muda,” Nyonya Cho mendesah pelan, kelihatan sekali kalau ia sangat mencemaskan anak semata wayangnya itu.

“Kyuhyun lebih dari mampu untuk memimpin perusahaan. Dia sangat pantas untuk itu,” Mi Rae tidak setuju dengan apa yang dikatakan orang-orang tentang Kyuhyun. Cho Kyuhyun memang masih begitu muda, tapi ia bukan seseorang yang boleh diremehkan. Seseorang dengan kemampuan seperti Cho Kyuhyun sangat diyakini Mi Rae akan membawa dampak positif bagi perusahaan.

“Ya, kau benar,” dan Nyonya Cho sangat setuju dengan perkataan Mi Rae. Ia sependapat dengan jalan pikiran Mi Rae. “Tidak ada yang mengenalnya sebaik aku mengenalnya. Aku dan lima puluh persen pemegang saham tidak pernah meragukan kemampuan putraku. Akan tetapi, mereka yang meragukan Kyuhyun pun sama besar jumlahnya. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan pemegang saham. Mereka berpikir, seseorang yang tidak pernah secara formal belajar tentang cara mengelola dan memimpin perusahaan, tidak cukup pantas untuk menjadi ahli waris.”

Mi Rae bungkam. Kyuhyun sebelumnya pernah belajar di perguruan tinggi, tapi ia berhenti. Juga, disiplin ilmunya berbeda dengan apa yang dijalani Kyuhyun sekarang. Mi Rae agak mengerti apa yang dicemaskan orang-orang itu, tapi tetap saja mereka tidak boleh memandang sebelah mata pada Kyuhyun.

“Kau sendiri tahu, potensi dan kemampuan yang dimiliki Kyuhyun begitu luar biasa. Namun di zaman sekarang, kemampuan seseorang baru akan diakui setelah melihat latar belakang pendidikannya.”

“Kalau itu yang menjadi akar permasalahannya, maka jalan keluarnya sudah sangat jelas, bukan?”

Nyonya Cho tersenyum, ia mengangguk pelan. “Standard yang mereka berikan cukup tinggi. Kyuhyun hanya memiliki dua pilihan. Harvard atau Oxford.”

Agaknya Mi Rae mulai paham relevansi antara permintaan Nyonya Cho agar dirinya belajar ke luar negeri, dengan apa yang sedang terjadi pada Kyuhyun. Perasaan Mi Rae semakin tak nyaman.

“Jadi—” Mi Rae diam sejenak. Kemudian ia berpaling lagi, bertatapan langsung dengan Nyonya Cho. “Ke mana Kyuhyun akan pergi? Amerika? Atau Inggris?” tak disangkanya jika mereka akan hidup berlainan tempat untuk beberapa tahun ke depan.

“Tidak keduanya,” Nyonya Cho menggeleng lemah.

“Apa?” Mi Rae terkejut.

“Dia memilih untuk tetap di sini karena satu alasan,” Nyonya Cho menatap Mi Rae, sorot matanya yang lembut itu terlihat begitu dalam, bercampur dengan kecemasan. Baek Mi Rae tertegun dan jantungnya berdebar-debar kuat. Sekian menit lidahnya kelu.

“Aku.”

Menyadari dirinya menjadi alasan Kyuhyun tidak mengindahkan keinginan para pemegang saham, dan memilih tetap di Seoul; rasa panas telah memenuhi rongga dada Mi Rae.

“Mi Rae, pertimbangkanlah posisi Kyuhyun. Jika dia terus seperti ini, dia bisa kehilangan segalanya.”

“I-Ibu, aku…” Mi Rae kehilangan kata-kata. Situasi ini membuatnya sesak napas dan sekujur tubuhnya panas-dingin.

“Kyuhyun selalu mencemaskanmu. Dia bisa melepaskan apa saja, kecuali dirimu. Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa melihat anakku kehilangan apa yang seharusnya menjadi miliknya,” Nyonya Cho berkata sangat lembut. Ia bukannya tak mengerti dengan situasi Mi Rae, tapi ia memiliki seorang putra yang harus ia utamakan diatas segalanya. “Mi Rae, aku sangat menyukaimu. Anakku telah banyak berubah. Dia menjadi sosok yang tangguh dan kuat berkat dirimu. Aku ingin kau selalu menyokong Kyuhyun dan berada di sisinya. Namun, jika kau tak bisa meyakinkan dirimu sendiri untuk selalu memegang tangan Kyuhyun, maka Kyuhyun harus belajar berdiri dengan kekuatannya sendiri. Aku tak ingin melihatnya menderita.”

Mata Mi Rae tampak berkristal. Apa yang sudah ia lakukan pada Kyuhyun? Kyuhyun selama ini menyimpan penderitaannya seorang diri. Mi Rae menyesalinya.

“Sayangku, pergilah ke luar negeri bersama Kyuhyun. Kau mau mempertimbangkan permohonanku ini, kan?”

Tuhan.

Apa yang harus aku lakukan?

***

Han Jin Ae mendekati Baek Mi Rae yang tengah bersandar di pagar pengaman. Sesekali Mi Rae terlihat menyelipkan surainya ke belakang telinga karena tersibak angin. Jin Ae menyodorkan botol air mineral yang satunya kepada Mi Rae, lalu ikut bersandar di pagar. Kemudian Jin Ae membuka tutup botol miliknya dan meneguk isinya sehingga tenggorokannya terasa segar. Ia menoleh, dan melirik pada Mi Rae di sisinya, sedang melakukan hal yang sama dengannya. Dari sekian banyaknya lokasi yang nyaman di rumah sakit, keduanya justru memilih bersantai di atap rumah sakit dengan udara dingin yang cukup menusuk mengingat mereka telah berada dipenghujung musim gugur.

“Kau sudah memutuskan?”

Pertanyaan Jin Ae membuat Mi Rae menarik napas dalam dan kemudian menggeleng lemah. Sudah dua hari berlalu sejak pertemuannya dengan Nyonya Cho. Sejak itu juga, Mi Rae berada dalam kebimbangan. Ia belum dapat meyakinkan dirinya mengenai apa yang harus ia lakukan. Seoul adalah tempat yang terasa sulit ia tinggalkan karena ibunya. Wanita itu memang telah tiada, tapi ia tak bisa membiarkan ibunya seorang diri. Namun di sisi lain, ia tak ingin Kyuhyun mendapat masalah. Ia tengah berada dalam sebuah dilemma yang membuatnya kalut.

“Maaf. Aku tak akan mengintervensi. Aku paham situasimu. Tapi, pikirkanlah semuanya baik-baik. Semua bergantung pada keputusanmu. Aku hanya berharap, apa pun yang kau putuskan adalah sesuatu yang akan berdampak baik bagi kalian.”

Senyuman tipis menyungging di sudut bibir Mi Rae. Dirinya pun berharap jika ia tidak membuat keputusan yang keliru. Bagaimanapun, baik ibunya, maupun Cho Kyuhyun adalah dua orang yang sangat penting di dalam hidupnya.

Seharian ini Baek Mi Rae banyak merenung, apalagi setelah berbicara banyak hal dengan Jin Ae tadi. Ia memikirkan semuanya dengan hati-hati. Cho Kyuhyun tak mau beranjak dari dalam kepalanya. Sampai saat ini, ia belum berbicara dengan Kyuhyun. Seharusnya sudah ia lakukan dua hari yang lalu, tapi pertemuannya dengan Nyonya Cho mengacaukan segalanya.

Beberapa kali Mi Rae menarik napas panjang. Ia menatap layar ponselnya, pada foto Cho Kyuhyun yang sedang tersenyum lembut. Sampai-sampai Mi Rae tak menyadari kedatangan Dokter Park yang langsung mengintip dari balik pundak Mi Rae.

“Eih, kau sebegitu rindu padanya, ya?”

“Dokter Park!” Mi Rae tersentak kaget dan refleks menyembunyikan ponselnya.

Dokter tampan itu tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang menawan. “Menjadi dokter membuatmu kesulitan berkencan. Kau menyesal?”

“Bukan begitu,” elak Mi Rae.

“Akhir-akhir ini kau lebih banyak melamun. Kelihatannya kau bertengkar dengan si pemuda konglomerat itu,” gesture Mi Rae yang salah tingkah membuat Dokter Park tersenyum geli. “Aku tidak bermaksud menyampuri urusan pribadimu, tapi kinerjamu memburuk.”

Mi Rae tersentak. “Ma-maaf. Maafkan aku,” ia membungkukkan tubuhnya 45 derajat. Ia menyesal. Seharusnya ia bertindak professional dengan tidak membawa masalah pribadi di rumah sakit.

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Dokter Park. Ia hanya tersenyum tipis. Setelah mengambil buku tebal—yang tentu saja berbau kedokteran—di atas meja, ia lantas beranjak pergi. Namun, sebelum ia keluar dari ruangan itu, ia berhenti dan berbalik lagi pada Mi Rae. “Sebuah hubungan tidak akan berhasil jika hanya satu pihak yang berjuang mempertahankan hubungan itu.”

Baek Mi Rae mematung. Lima menit berselang sejak Dokter Park meninggalkannya, barulah gadis itu terduduk lemas. Kalimat dokter pembimbingnya itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.

~bersambung~

Setelah insiden typo judul pada ff PM, kali ini beneran Drama yg diposting hehe

Baru tau salah ketik judul setelah sehari posting, itu pun posisi sy sudah berada di luar kota.

Okay, gak bertele-tele lagi, semoga terhibur, dan bagi yang lupa jalan cerita sebelumnya (saking lamanya sy posting) monggo dibaca lagi part2 sebelumnya hahaha

Ya udah, sampai jumpa lagi.

^^

Iklan

99 thoughts on “Drama (Part 20)

  1. uchie vitria berkata:

    kemarin ikutan kena zonk karna salah judul 😄😄😄
    heumm masalah baru nich lagian juga gk papah kan kalo mi rae ikut kyuhyun kulian keluar negeri tetap bersama dan saling mendukung

      • Angel CHO berkata:

        Setelah penantian panjang, ff ini di posting juga hahahhaa..

        Menurutku ini kok jadi makin rumit yaa kak? Aku kira mau end. Tapi malah ada masalah baru. Jangan bilang nanti mereka putus? Nggak kan kak hahaha
        Takutnya pikirian Mirae ini malah buat dia mau ninggalin Kyuhyun. Parah ya asumsiku wkwkwkwk

        Tapi kadang aku suka gemes sama Mirae loh kak.. Dia kayaknya jarang peka sama Kyuhyun. Padahal Kyuhyun sayang bgt sama dia. Sampr kulia juga gak mau ninggalin mirae. Duuhh.. Di dunia nyata ada gak sih cowo kayak gitu wkwkkwkw

      • marchiafanfiction berkata:

        setelah sy lihat ke dalam pikiran sy *eh?* cerita ini emang jd sedikit lebih rumit ya hahaha nah…si mi rae itu kebanyakan mikir soale, coba kalo kita yg ditawarin gitu…hadeh, kalo perlu langsung nikah 😛 XD

  2. BlackSwan berkata:

    Cobaan apa lagi itu yg diberikan kepada mirae dan kyuhyun…. apapun itu semoga mereka bisa bersama selamanya…
    Ditunggu next chap tor….

  3. dianisadylla berkata:

    Akhirnyaaa…., nah loo mi rae, udah disindir sana sini, diomongin sana sini, masih blom bisa ambil keputusan, ckckck
    Gemes deh sama mi rae, sampe pengen garuk dinding rasanyaa
    Semoga keputusannny ga bikin salah satu dari mereka sakit, terutama kyuhyun, udah ikut aja napa sih… Hih…
    Aku tunggu banget klanjutannya kak

    Keep Writing!!!!

  4. ryza berkata:

    akhirnya drama lanjut juga. semoga mirae mau kuliah di luar negeri sekalian menemani kyuhyun ya.

  5. Rei berkata:

    Aku teriak pas lihat email ,akhirnya di post juga part terbaru..huhuhu mi rae ayo berjuang bersama-sama jangan sampai berhenti sampai di sini saja

  6. Octa berkata:

    Hore….😀😀😀🤗🤗😀 😍😍😍😍😍😘😘😘akhirnya fanfic drama di post aku senang sekali… Mi rae semoga ikut belajar ke luar negeri bersama kyuhyun..
    Ditunggu part selanjutnya 😘

  7. songhobae berkata:

    Akhirnya dipublish jugaa, sejujurnya aku udh mulai lupa sma ceritanya. Tapi untung masih inget, hehehe..
    Kok aku brasa part ini lebih pendek dari yg sebelumnya ya kak? Atau ini clue buat part slanjutnya yang bakal cepet publish, #hahaabaikankak
    Semoga mirae bakal ngalah dan lebih mentingin kyuhyun buat keluar negri, kapan lagi mirae yag bakal mencoba terbuka sama halnya kyk kyuhyun ke mirae, #amiinnn.
    Aku sangat2 berharap mereka gak bakal pisah kyk drama2 yang ada huhuhuuu
    Semoga part slanjutnya cepat publish ya kak, and, ttep semangaat kakkk

  8. Afwi berkata:

    Mirae galau berat. Apapun keputusan mirae nnti gk bikin hubungan mereka putus.
    Makasih kak sdh update drama.
    Dan tak lupa pula, ditunggu kelanjutannya 😄😄

  9. vey berkata:

    Akhirnyaaaa..ahahahha..semoga mi rae sama kyuhyun ga putus yaaa…klo bisa nikah dl br keluar negri…hihihihihi…

  10. imgyu berkata:

    kak aku fikir setelah kemarin situasi sudah baik-baik aja di part ini bakal happy-happy an atau bahkan ending tp ternyata malah ada cobaan lagi (seneng, tandanya ff ini masih panjang xD) aku ga tau tentang masalah siwon ternyata bikin Mirae marah gitu, mungkin nambah beban fikiran kyuhyun juga. Aku harap mirae bisa membuat keputusan yang bijak yang bisa ngebahagiain dirinya dan kyuhyun plus para readers hahaha

  11. WonwonKyukyu berkata:

    Awww… ini benar2 dilemma. Tapi kasian kyuhyun 😦
    Mirae, pliss… ikut aja kyu ke LN 😦
    Berharap yang terbaik utk.mereka.. saiia ikutan baper

  12. debiyamustika berkata:

    hoorrree akhirnya update juga 🙂 senengnya itu (kaya anak kecil dikasih mainan baru) wkkkk

  13. Kyuri berkata:

    Wuaaa dusah amat si mirae di biayain juga loohh
    Kesempatan ituuu jgn dilewatkan
    Org lain susah susah

  14. Hana Choi berkata:

    Kenapa kyuhyun ga mau berterus terang sama mi rae sih, padahal tinggal bilang aja. Mi rae kenapa masih berpikir sih padahal tinggal bilah iya aja lagian mi rae kuliahnya sama kyuhyun juga kan. Ga sabar pengen baca next part nya

  15. kim_vikyu94 berkata:

    Pait bener , gak ada manis.manisnya hehehe sempet lupa tapi kangen banget pasangan ini. Kalo aku jadi mirae *maunya* 😁 aku bakal tetap diseoul, gak tahu alasannya hahaaha .. LDR gak sesulit itu , apalagi kan kyu kaya disini , bisa lah sesekali pulang 😛 Semangat terus kak , pengennya sih cepetcepet update tapi juga gak rela nanti kalo cepetan end ehehee

  16. 154 berkata:

    kangen sama ff ini. hehe
    setuju bngt ma perkataan dokter park “sebuah hub tdk akan berhasil klo hanya slh satu yg berjuang”
    mirae tinggal ikut kyuhyun ja knp si, kan tiap thn msh bs plng bwt ziarah k makam.
    kliatan bngt to, kyuhyun sayang bngt ma km.
    km tu no 1 untuk kyuhyun,
    kak butuh scene kyuhyun & mirae lbh bnyk. kasih moment manis gitu, jgn cuma tersenyum.
    msk pegangan tangan ja mreka jarang. pelukan gitu kak. kiss kening or pelipis. hehe
    d tunggu next part ny

  17. syalala berkata:

    akhirnya di lanjut………….. eeeeehhh kakkk!!! ini trh kenapaaaa beginii grmes bgttt huwaaaa mirae pake segala marah sama kyuhyun aku sakit hati huhu tp ga salah juga dia marah tp salah juga karena dia gamau dnegerin penjelasan kyuhyun!! semoga mau ya ikut ke luar megri yelaaaaaahhh minta nikahin sekalian lah toh ibunya kyuhyun kan setuju haha gemes bgt jangan sampe putus semoga kyuhyun idah digtuin sama mirae juga dia ga nyerah sama mirae yaaaaaa huhuhu ini cerita yah harus bgt dibaca dari awal kayanya hahahah lanjut lagii lanjuttt semoga ga cepet kelar ya ceritanua sampe nikah sampe punya anak hahahaha

  18. nazaki berkata:

    G perlu banyak mikir deh,tinggal berangkat aja.. bisa belajar bareng keluar negri,pasti lebih banyak manfaatnya daripada ruginya…😁😁

  19. Dona Silvia berkata:

    Wahh akhirnya update lagi kak ☺. Emm makin keliatan konfliknya ya. Dilema atuh si mirae. Jaman sekarang itu kalo ngga ”bergelar” emang susah buat dipercaya padahal udah keliatan jelas kemampuannya. Kyuhyun kenapa ngga bilang langsung sih? Udah tau mirae ngga pekaan orangnya. Mirae juga belajarlah mengerti kyuhyun. Siapa tau aja tiba2 mirae kepikiran buat nikah sama kyuhyun gitu ehehehh biar bisa ikut kemanapun kyuhyun pergi. Makasih udah nyempetin update ya kak, ditunggu next chap nyaa😀😀

  20. Miss cho berkata:

    Mirae mah kebanyakan mikir, padahal kyuhyun udh cinta mati matian ma dia . ibunya pun sdh beristirahat dg tenang dan pastinya bangga kalau tau mirae ke luar negeri jg untuk mengejar ilmu.

    Jangan smpe putus ya hubungan kyuhyun dan mirae , kalau bisa mirae ikutan ke luar negeri bareng kyuhyun .
    Ya biar keren juga setting ceritanya di luar negeri . hehehhe.
    Yg pasti jgn smpe kyuhyun dan mirae terpisah jarak apalagi putus . pleaseeeee

    Ditunggu kelanjutannya segera yaaa . penasaran akut nih .gomawo

  21. butterflyannisa berkata:

    lama bgt nunggu dan akhirnya penantian itu tidak sia sia #eak.. aku mah dukung dukung aja kalo mirae & kyuhyun pergi keluar.. tapi lebih baik nikah dulu deh baru keluar.. hehe

  22. iamdies02 berkata:

    sepertinya aku baru komen di part ini ._. jujur, maafkan saya …… 😑😣
    tertarik baca karena judul dan langsung baca di part 9 keatas (gak dari awal soalnya kepo 😂) ku pikir ff ini akan end di part 20 atau 22.. eh malah tambah rumit gini …. perasaanku ga enak, kaya ada bau” putus gegara masing” ngejar cita”nya sendiri.. keep writing.. kuharap kamu (ga sopan pake kamu kamu -_-) bisa ngelesaiin nih ff sesuai dg ekspetasimu..

  23. lvraz berkata:

    Aduh Susah deh, kalo Saya jadi Mirae udah Saya sikat abis Kali Kyuhyunnnnn, Mirae tolong dengar Dan resapi kata dokter park, sebuah hubungan Gak akan berhasil Kalo cuma satu pihak yg berjuang, jangan khawatir tentang ibu yg udah meninggal, Kan bisa pulang pas lagi Liburan, perhatiin lah perasaannya kyuhyun Dan Masa depan kalian, Meskipun kalian Jodoh Tapi Kalo Gak sama sama berjuang apa Iya kalian bakalan berakhir nikah? Di satu hubungan yg paling penting adalah kata saling, saling berjuang, saling mencintai. Semoga FF ini Cepet tamat, kasian readers yg digantungin mulu kapan mereka nikah atau paling Gak kapan kyuhyun cium Mirae. Semangat terus nulisnyaaa kakkk

  24. cutebabyhae berkata:

    Hufhh. Banyak pikiran emang si mi rae. Tapi btw scene kyuhyun dikit disini. Aku kangennnn 😂 *efek ditinggal kali.

    Dokter park jjang!! Semangat kakak!!!

  25. Cho_hyuna berkata:

    Akhirnyaaaa……
    Mifae jangna lama” ngambil keputusan, kasian kyu.
    Ikut aja keluar negri, aku tau kau sulit meninggalkan ibumu. Tapi bukankan ibumu akan baik” saja jika kau tinggal. Dua sudah ada yang jag.
    La kyuhyun kasian dia.

  26. Widya Choi berkata:

    Bhrap mirae bisa mmtuskan smua ny dg baik. Jd hubngn mrk pun bisa bjln dg lancar. Syukur2 klo mirae mau ikut kyu..dg bgtu kan hubngn mrk bisa smkin dekat. Tp y balik lg..smua kputusn ad d mirae. Klo pun tpksa hrs ldr gpp lah..yg pnting sling pcya aj n ttp jg komuniksi.

  27. Iyha Buchu berkata:

    Ya Ampun Mirae…
    jangan egois donk,kacian kyuhyun…
    ikut aja,,duhhh ke luar negeri pula,sama kesayangan kan nggk ada ruginya…
    hahahaha

  28. songdami1994 berkata:

    hai kak apa kabarrrrrr
    finally drama keluar jugaaaaaa
    kakk baper banget sumpah ff nya bagus kak
    love love loveeeee

  29. citraarum96 berkata:

    Oke… Kenapa disini Mirae jadi orang yg makin makin rumit, udah kayak benang kusut kalo mikirin kelakuannya mi rae. Bukannya benci sama Mirae, tapi ada rasa kyak gemes gemes sebel gimana gitu lho kak.
    Ada gak sih didunia nyata orang macam mirae, ditawari kuliah diluar negeri juga gak mau. Dibela in pacarnya sampek segitunya, juga gak menerima. Maunya apa coba? Ahh… Namanya juga Baek Mi rae, tingkat berfikirnya itu terlalu banyak cabangnya.. Hahaha

    Sebelnya tuh selain dia yg kebanyakan berfikir, dia juga gak peka gitu. Bner kyak kata dokter Park, Mi rae itu kurang berjuang dalam mempertahankan hubungannya sama kyuhyun. Dia kebanyakan berfikir sebab dan akibatnya… Ckckck

    Langkah yg diambil Mirae berikutnya, aku berharap bukan langkah gila ala Baek Mi Rae.. Wkwk

    • marchiafanfiction berkata:

      hahaha… duh mi rae, lu bikin dongkol banget sih.. tuh lihat sono, pada emosi… yang sabar ya menghadapi kepolosan mi rae yang mendekati tingkatan dasar…tp mungkin karena dia terlalu logis juga kali ya jadi ada hal2 lain yg dia pikirkan

  30. naynamika berkata:

    Anyeong unnie.
    Kangen niih. . .emang lama bikin kangen. Wkwkw jadi telat deh, baru mampir sudah banyak yg muncul,
    Woooah kirain mirae ma kyuhyun mau segerA menikah,wkwkw
    Itu benera ff unnie selalu keren, sisi positif yg bisa di ambil selalu ada, semangat deh unnie

    @_@+ FIGHTING

  31. ina berkata:

    wuahhhhhh karna itu toh….
    emmm entah apa yang membuat itu rumit bagi mi rae, seharusnya dia sadar ibunya juga bakalan kecewa klo dia memakai alasan ‘karna ibu’ ..
    perlakuan kyu se mi rae bikin melting banget…
    dan kalo mi rae ga sadar juga, keterlaluan yah..

  32. Yoon berkata:

    Didunia nyata apa ada beneran cowok kayak kyuhyun gitu,udah jagain prinsip ceweknya yg gk mau dicium,pinter,ganteng,holang kaya, paket lengkap😬

  33. yiza berkata:

    mi rae ini susah bgt diperjuangin. dia ga liat apa keseriusan kyu pd dia. jarang lo ada cwo kyk begitu. lg pla diakan bisa jagain ibunya lewat doa

  34. Chokyuangel berkata:

    Bener tu apa yg di bilang dr.park..sebuah hubungan ga akan berhasil klo cuma 1 aja yg berjuang…mirae aneh ya..kan skull di luar bagus dan dia bisa jd dokter yg hebat..dan untuk ibunya kan bisa mnta tolong jin he buat seswkali besuk ke makam ibunya..toh nanti dia jiga balik lg ke korea…

  35. shin naya berkata:

    uuuuhhh..gemes aq ma mirae,knp kebayakan mikir sih…
    berjuanglah jgn biarkan kyu sendiri..ku harap mirae bisa slalu bersama sikyu…aq tau kaluan salung mencintai

  36. aulia fitri berkata:

    Wah wah gak nyangka bakal ada yang meragukan kemampuam kyuhyun. Padahalkan dia mampu menjalankan perusahaannya jdi kasian sma kyuhyun kasian jga sma mi rae yang susah ngambil kepeutusan yang sangat berat untung ada ji ae yang selalu hadir

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s