Drama (Part 21)

Drama

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Disela-sela kesibukan yang terjadi di UGD, Mi Rae memberanikan diri meminta ijin kepada Dokter Jung untuk pergi ke suatu tempat. Beruntung dokter yang biasanya cerewet itu tidak banyak bertanya dan menyetujui permintaannya. Entahlah, mungkin karena pengaruh Daehan, atau pengaruh Direktur Shin, mengingat beberapa waktu lalu direktur rumah sakit itu secara pribadi meminta Mi Rae menemuinya. Masa bodoh, Mi Rae tidak akan memedulikan hal itu.

“Ibu.”

Gumam Mi Rae pelan. Ia berdiri di hadapan makam ibunya.

“Sepertinya aku telah berubah menjadi orang yang sangat egois. Aku telah banyak membuat orang-orang yang berada di sekitarku menderita. Ibu, dan juga Kyuhyun. Aku lebih mementingkan diriku sendiri daripada kalian. Aku menyangka telah melakukan hal yang baik. Aku berpikir melakukan itu semua demi kalian, tapi ternyata demi diriku sendiri.”

Gadis itu mendongak, memandangi langit. Musim gugur telah menyampaikan salam perpisahan. Seoul dengan segala aktivitasnya telah disapa oleh musim dingin. Tatapan Mi Rae berpindah kembali ke makam di hadapannya.

Sebuah hubungan tidak akan berhasil jika hanya satu pihak yang berjuang mempertahankan hubungan itu.

Ia teringat pada apa yang dikatakan Dokter Park padanya.

“Dokter Park benar. Selama ini hanya Kyuhyun yang berjuang. Kyuhyun melakukan banyak hal seorang diri. Sementara aku yang terlalu takut menghadapi kenyataan, justru tetap bersembunyi dan merasa nyaman. Ibu, sepertinya—apa yang kusebut harga diri itu hanya sebuah kamuflase dari rasa takut dalam diriku. Tembok pemisah itu justru diciptakan olehku karena ketakutanku.”

Mengambil jeda selama beberapa saat, Mi Rae membiarkan keheningan memeluknya. Ia menarik napas sedalam-dalamnya, membulatkan pilihan yang telah ia niatkan.

“Aku tahu Ibu tidak ingin aku menjadi seorang pengecut. Ibu, aku akan mendukung Kyuhyun. Aku akan berjuang bersamanya. Aku yakin, ke manapun aku pergi, Ibu akan selalu bersamaku. Selalu di hatiku,” katanya sembari menyentuh dadanya dimana kehangatan mulai terasa di sana.

Hembusan angin yang menyentuh kulit Mi Rae, memberi sensasi yang berbeda. Angin musim dingin itu terasa sejuk dan nyaman. Seolah-olah itu adalah sebuah pertanda yang diberikan oleh ibunya, merestui keputusan yang telah ia buat. Ia tersenyum cerah, merasakan kelembutan angin, membuatnya bagai berada dalam dekapan sang ibu.

Setelah berbicara dengan ibunya, Mi Rae beranjak pergi. Ada satu tempat lagi yang harus ia datangi.

*

Kantor Pusat Daehan Group.

Dari tempat duduknya, Cho Kyuhyun memandang ke luar jendela. Ia berdiri dan melangkah mendekati jendela. Dengan mata coklatnya yang setajam tatapan elang, entah apa yang dipandangi. Gedung-gedung pencakar langit? Atau kendaraan yang tampak kecil di bawah sana?

Kyuhyun hanya mencoba mengalihkan pikirannya. Mungkin dirinya butuh udara segar setelah semua kepenatan di kantor. Juga, terutama karena gadis yang tak bisa berhenti ia pikirkan.

Apakah dia baik-baik saja?

Otak jenius Kyuhyun tidak perlu diragukan lagi. Namun dibandingkan mengkhawatirkan situasinya yang sedang terancam, ia justru lebih mengkhawatirkan orang lain. Ternyata, sepintar apa pun seseorang, akan menjadi bodoh karena cinta.

Ponsel yang berbunyi di atas meja kerja, mengalihkan perhatian Kyuhyun. Pemuda itu pun menghampiri meja tersebut dan mengambil ponselnya. Lee Hyukjae yang meneleponnya.

Kau baik-baik saja, kan?

Senyuman Kyuhyun merekah begitu mendengar pertanyaan Hyukjae. Tak disangka Hyukjae melayangkan hal yang sama dengan yang dirinya pikirkan tentang Mi Rae. Ia penasaran, apakah Mi Rae juga mengkhawatirkan dirinya?

Jangan diam saja. Kau membuatku sangat cemas.

“Buruk sekali, Hyuk,” Kyuhyun berkata jujur. Bohong kalau ia mengatakan tidak ada yang salah. Juga, Lee Hyukjae pasti tidak akan memercayainya begitu saja.

Mi Rae kelihatan sangat tidak fokus. Kalau sudah seperti ini, kenapa kalian tidak bertemu dan membicarakannya?

“Ya, dia pasti sangat cemas setelah mengetahui berita itu. Hyukjae, ibuku menemui Mi Rae dan mengatakan semua padanya.”

Benarkah?

“Aku merasa bersalah pada Mi Rae.”

Kalau begitu, apa Mi Rae mengatakan sesuatu?

“Aku tak tahu. Dia pasti sangat kebingungan sekarang.”

Tapi, Kyu. Apa keputusanmu itu sudah bulat? Kau akan tetap di sini?

“Iya, aku sangat yakin.”

Bagaimana jika Mi Rae setuju? Maksudku, kau tidak pergi ke luar negeri karena tak bisa membiarkannya seorang diri. Kalau Mi Rae berubah pikiran dan memutuskan pergi denganmu, bagaimana?

Kyuhyun diam beberapa saat memikirkan pertanyaan Hyukjae. “Aku selalu menghormati keputusan Mi Rae. Saat itu, ketika aku bertanya tentang beasiswa ke luar negeri. Dari matanya, aku sudah tahu jawaban apa yang akan dia berikan. Seoul memberinya banyak hal. Cinta, kasih sayang, pengkhianatan, luka juga duka. Walau lebih banyak penderitaan yang dia terima, tempat ini pun menyimpan kenangan berharga baginya. Aku ingin menjaga kenangan itu bersamanya. Aku tidak ingin mengubahnya. Jadi—apa pun yang Mi Rae putuskan, aku tidak akan pergi ke mana pun.”

Kyuhyun, bagaimana dengan perusahaanmu? Cara berpikirmu tidak logis, padahal kau bergaul dengan gadis yang paling logis. Kau bisa mengorbankan semua itu?

“Pengorbanan? Aku tidak menganggap ini sebagai pengorbanan. Hm, lebih tepatnya ini adalah keegoisanku. Kuakui, aku begitu egois sampai-sampai ingin tetap berada di sisinya. Lalu tentang perusahaan—ayolah Hyuk, kita tidak perlu mendramatisir ini. Jangan khawatir, aku akan mencari jalan keluarnya. Semua akan baik-baik saja. Aku mampu mengatasinya. Kau seperti tidak mengenalku saja.”

Beberapa saat setelah percakapannya dengan Hyukjae berakhir, pintu ruangannya yang terbuka membuatnya menoleh. Kim Ryeowook berjalan menghampirinya.

“Rapatnya akan dimulai dalam sepuluh menit.”

Sekretarisnya sedang mengingatkannya tentang jadwal yang harus ia lakukan setelah itu. Kyuhyun mengangguk.

“Apa Nona Baek menemui Anda?”

“Mi Rae?” alis Kyuhyun menyatu mendengar pertanyaan Ryeowook. “Dia berada di sini?”

“Sepertinya aku melihat Nona Baek di lobby tadi,” Kim Ryeowook mengernyit. “Atau, mungkin aku yang salah lihat?” ia bergumam pada dirinya sendiri.

“Sedikit saran dariku, pergilah ke rumah sakit dan periksakan matamu. Mungkin ada sedikit gangguan di sana,” celetuk Kyuhyun sebelum beranjak pergi. Ryeowook hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

Ting.

Lift di lobby terbuka dan beberapa orang keluar dari sana. Seorang gadis yang keluar paling terakhir kelihatan pucat. Ia melangkah lemas di lobby kantor yang sangat luas itu. Menyeret langkahnya menuju pintu keluar.

Baek Mi Rae berhenti. Ia terpaku bagai tertelan dalam kesunyian yang hanya dirasakan olehnya sendiri. Perlahan, tangannya bergerak menyentuh dadanya yang sakit dan menekankan tangannya di sana. Tatapannya sangat kosong. Ia menarik napas sangat dalam. Seharusnya ia menemui Kyuhyun, tapi di depan ruangan Kyuhyun dengan pintu yang sedikit terbuka, ia mendengar Kyuhyun berbicara dengan seseorang yang diyakininya adalah Lee Hyukjae. Mereka membicarakan dirinya.

Mengapa Kyuhyun harus melakukan semua itu demi dirinya?

Mengapa ia selalu menjadi alasan bagi Kyuhyun untuk merusak kehidupan pemuda itu?

Sekarang ia tidak yakin akan perannya dalam kehidupan Kyuhyun. Selama ini, ia selalu berusaha mendukung Kyuhyun. Namun, jika begini, bukankah ia justru hanya akan menjadi sebuah penghalang bagi pemuda itu?

***

Berada di perusahaan adalah hal yang selalu aku inginkan, karena di sana ada jerih payah kakek dan kerja keras ayah. Di sana tersimpan impian kakek dan ayah, juga harapan orang banyak. Aku ingin menjaga Daehan karena Daehan adalah keluargaku.

Walau sudah lama berlalu, namun masih jelas dalam ingatan Mi Rae saat Kyuhyun berkata demikian. Saat itu, untuk pertama kalinya Mi Rae tahu cita-cita Kyuhyun. Mi Rae bahkan masih dapat merasakan dadanya yang berdebar setelah Kyuhyun mengutarakan keinginannya itu. Kyuhyun bukan mengatakan kalimat kosong sebatas retorika semata, tapi Mi Rae dapat merasakan ketulusan pada setiap kata yang terucap.

Jadi—apa pun yang Mi Rae putuskan, aku tidak akan pergi ke mana pun.

Kalau Kyuhyun tidak pergi ke universitas yang telah ditentukan baginya, bagaimana ia bisa menjaga Daehan?

Apa yang kemarin didengar Mi Rae seperti bertolak belakang dengan keinginan awal seorang Cho Kyuhyun. Seolah Kyuhyun yang kemarin, adalah orang yang berbeda dengan Kyuhyun yang bercerita tentang impiannya terhadap Daehan.

Apakah Daehan tidak lagi memiliki arti bagi Kyuhyun?

 “Minta izin lagi?”

Bukan salah Mi Rae kalau ia beranggapan semua yang terjadi karena dirinya. Pemuda tampan dengan cita-cita besar itu, seolah tersihir dengan kutukan cinta sehingga ia lupa dan mengabaikan hal-hal lain yang seharusnya menjadi prioritasnya.

“Baek Mi Rae!”

Suara Dokter Jung yang meninggi satu oktaf menghentakkan Mi Rae. Buyar sudah lamunannya. Matanya berkedip cepat, seperti sebuah usaha untuk menarik kembali rohnya dari alam bawah sadar.

“Kau tidak mendengarku berbicara, ya?” cerca Dokter Jung. Si bodoh Mi Rae mendesis, merutuki kebodohannya. “Sebaiknya kau selesaikan apa pun yang akan kau lakukan sekarang, karena ini terakhir kalinya aku memberimu izin keluar,” tahu-tahu saja pria itu setuju. Mi Rae melongo tak percaya.

Jujur saja, Mi Rae tidak berharap jika Dokter Jung akan berbesar hati memberinya izin, apalagi sekarang dirinya tengah bertugas di shift malam. Ditambah lagi, ia baru meminta hal yang sama kemarin. Wajar saja ia sangat tercengang dan berpikir kalau dirinya masih berada di dunia halusinasi.

Sementara itu, Cho Kyuhyun sedang sibuk di kondominiumnya. Dibantu oleh Lee Hyukjae, mereka sedang mendekorasi ruangan.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Hyukjae selepas mengatur ratusan mawar di salah satu sudut ruangan.

Perfect,” Kyuhyun memandangi seisi ruangan yang telah disulap sangat indah.

Ada ratusan mawar merah di kondominium Kyuhyun. Balon-balon berwarna emas menutupi lantai. Lokasi yang terbebas dari balon hanyalah sepanjang red carpet dari pintu depan hingga ke meja bulat dan dua kursi yang ditutupi taplak dan sarung kursi berwarna putih sehingga menampilkan kesan klasik dan elegan. Mejanya pun sudah tertata rapi. Piring berbahan porselen yang bermotif vintage tampak tertelengkup, dengan serbet di sebelah kirinya. Tak ketinggalan sendok, garpu dan pisau. Gelas berbentuk bundar dengan tangkai gelas yang lebih kecil, khusus digunakan untuk anggur merah. Meja itu dipermanis dengan setangkai mawar merah yang diletakkan di dekat botol anggur. Floating candle yang diapungkan ke gelas-gelas beling yang telah diisi air memberikan pencahayaan fantastis dan romantis pada saat lampu ruangan diredupkan.

Kyuhyun tersenyum puas. Semua tampak diluar ekspektasinya. Ini sangat sempurna untuk sebuah candle light dinner dadakan. Siang tadi, ia berbincang-bincang dengan Hyukjae. Lalu tiba-tiba saja ide itu tercetus dari mulut Hyukjae dan tanpa pikir panjang, Kyuhyun menyanggupinya.

Membayangkan makan malam romantis dengan Mi Rae, tanpa sadar Kyuhyun tersenyum lebar. Hyukjae menggodanya, tapi ia sedang bahagia jadi ia hanya mengabaikan Hyukjae.

“Ingat. Malam ini, kau dan Mi Rae harus berbaikan,” omel Hyukjae sembari menyingkirkan balon-balon yang  berada di atas red carpet.

“Ini bukan ide yang buruk, kan? Maksudku, kau yakin Mi Rae akan senang? Kau tahu sendiri, Mi Rae itu gadis yang seperti apa.”

Mendengar keraguan Kyuhyun, sontak saja Hyukjae menegakkan tubuhnya. Ia berkacak pinggang sembari berkata, “Coba lihat tempat ini! Ayolah, wanita selalu suka diperlakukan romantis.”

“Aku harap kau benar,” kata Kyuhyun lagi, tapi Hyukjae tahu jika Kyuhyun tidak yakin sepenuhnya.

“Oh! Ya ampun, Kyu!” Hyukjae menggeleng-geleng kesal. “Kau sudah menghubungi Mi Rae?” ia memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan mereka, sebelum Kyuhyun berubah pikiran dan usahanya untuk memberikan sentuhan ajaib dalam ruangan itu berakhir sia-sia. Dengusannya terdengar berat setelah ia melihat mimik Kyuhyun.

Membutuhkan waktu beberapa menit bagi Kyuhyun untuk mencari ponselnya, baru ditemukan setelah Hyukjae menghubungi nomornya dan ternyata ponselnya berada di antara balon-balon. Kyuhyun terdiam beberapa saat, kemudian sambil menyeringai, ia mengarahkan layar ponsel di tangannya ke depan wajah Hyukjae agar pemuda itu dapat membaca sebuah pesan yang baru diterimanya dari Mi Rae.

Kyuhyun bergegas ke kamar, dan keluar sambil mengenakan coat hitam. “Aku akan menemuinya, kemudian kuajak dia ke sini,” katanya, sangat bersemangat. Hyukjae tak berkomentar dan hanya mengangkat jempolnya.

*

“Kau masih berniat menebus kesalahanmu? Kalau begitu, datanglah sekarang ke restaurant Seoul Hotel.”

Setelah menyimpan ponselnya, Mi Rae masih berdiri selama kurang-lebih lima belas menit di luar gedung mewah tersebut. Ia adalah tipe orang yang selalu tepat waktu, namun kali ini ia sengaja tidak segera menemui orang yang sedang menunggunya. Tarikan napas berat mengiringi langkah kakinya saat memasuki lobby hotel. Sesaat ia terlihat berbicara dengan seorang receptionist yang kemudian mengarahkannya ke suatu tempat. Mi Rae berterima kasih dan melangkah ke restaurant di dalam hotel tersebut. Seorang pelayan menyambut Mi Rae dan mengantarnya ke sebuah ruangan setelah ia menyebut nama orang yang membuat reservasi.

Sang pelayan membukakan pintu sebuah ruangan, dengan ramah mempersilakan Mi Rae masuk, kemudian meninggalkan mereka—Mi Rae, dan Nyonya Cho. Wanita itu tersenyum ramah—seperti biasanya—dengan mata yang terus mengikuti Mi Rae hingga gadis itu duduk di hadapannya.

“Ibu,” sebelum Nyonya Cho mengatakan kalau sebaiknya mereka makan sebelum berbincang-bincang, Mi Rae sudah lebih dulu menyela.

Sejak tiba di tempat itu, Mi Rae sudah terlihat cukup tegang dan ekspresi kakunya sangat serius. Nyonya Cho menautkan jari-jarinya di atas meja, tatapannya kepada Mi Rae mengisyaratkan kalau kali ini ia akan mengikuti apa pun keinginan Mi Rae.

“Aku sudah memikirkan semuanya matang-matang,” sementara Mi Rae berbicara dengan suara yang terdengar sangat gugup, Nyonya Cho tetap mengawasinya, tenang. Menanti dengan sabar agar Mi Rae dapat menuntaskan apa yang hendak ia katakan. Gadis itu tertunduk, kemudian ia mengangkat lagi wajahnya dan menatap Nyonya Cho. “Aku—aku tidak bisa mengabulkan permohonan Ibu.”

Tidak ekstrem, tapi keterkejutan Nyonya Cho memang terlihat dari gesture tubuhnya yang menjadi lebih tegak. Wanita itu masih mengatup bibirnya rapat, ia tahu kalau Mi Rae belum selesai berbicara.

“Maafkan aku,” kata Mi Rae dengan kepala yang tertunduk.

Sorot mata Nyonya Cho yang tadinya begitu tenang telah berubah, memancarkan kegusaran dalam dirinya. Ia memikirkan nasib Kyuhyun setelah Mi Rae menolak pergi ke luar negeri, tapi ia pun tak mungkin memaksa Mi Rae. Wanita itu hanya bungkam. Bingung sehingga tak tahu apa yang harus ia lakukan, atau kata seperti apa yang harus ia tuturkan saat ini.

“Kupikir kita semua telah sepakat.”

Baik Nyonya Cho dan Mi Rae sama-sama menoleh. Mereka memandangi Kyuhyun yang sedang berjalan mendekati mereka.

“Aku akan mengatasi semuanya. Setiap keputusan yang kubuat, telah aku pikirkan risikonya. Ibu harus yakin padaku, dan berhentilah mencemaskan hal yang tidak perlu,” kata Kyuhyun lagi, menenangkan ibunya. Lalu tatapannya beralih pada Mi Rae. “Kau tak perlu merasa tak nyaman. Apa yang terjadi padaku bukan tanggung jawabmu, Mi Rae. Percaya saja padaku,” ia tersenyum.

“Aku,” Mi Rae menelan ludah. Gugup. Kemudian dipaksakan dirinya untuk menatap langsung ke mata Kyuhyun. “Aku punya sesuatu yang harus kukatakan padamu.”

“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu,” senyuman Kyuhyun mengembang. “Tapi, kita akan membicarakan itu di tempat lain,” ia teringat pada kondominiumnya yang telah berubah menjadi tempat makan malam yang sangat romantis.

“Tidak, Kyu! Kau harus mendengarnya sekarang,” sergah Mi Rae. Ia tidak bisa menunggu karena jika ditunda, ia mungkin tak akan mampu mengatakannya lagi.

Ok,” meski sempat mengernyit, Kyuhyun akhirnya setuju. Ia menatap Mi Rae yang kelihatan sangat gelisah. Ia begitu sabar menanti apa yang hendak dikatakan Mi Rae.

Gadis itu memejamkan matanya sejenak, mengatur pernapasan untuk mengurangi sedikit saja rasa gugup yang menderanya. Lalu perlahan kelopak matanya terbuka, dan tatapannya langsung mengarah lurus pada Cho Kyuhyun.

“Mari kita sudahi hubungan kita.”

Hening.

Kyuhyun mengerjap, “Kau—bilang apa?” ia tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Nyonya Cho pun tersentak mendengar kalimat yang diucapkan Mi Rae. “Aku pasti salah dengar,” Kyuhyun bergumam pelan.

“Tidak, Kyu. Kau tidak salah dengar.”

Kyuhyun berpaling cepat, menatap Mi Rae. Sorot matanya yang tajam dapat dirasakan Mi Rae menembus jantungnya. “Tapi—kenapa?” Kyuhyun menggeleng tak mengerti. “Kupikir kita baik-baik saja. Apa aku salah?”

“Mi Rae, kenapa kau berkata begitu?” Nyonya Cho menyela, ia tak dapat mengurungkan rasa penasarannya.

Rahang Mi Rae mengetat, ia mencoba bertahan sekuat tenaga agar mulutnya yang telah kaku dapat terbuka sehingga suaranya tidak terkurung begitu saja. Tarikan napasnya begitu panjang. Ia berusaha untuk tampak tenang, meskipun di dalam dirinya badai sedang mengamuk.

“Kau dan aku, telah menghabiskan banyak waktu dengan percuma.”

Kyuhyun terperanjat. Mi Rae berbicara seperti itu, dengan nada yang terdengar santai, sorot matanya begitu tenang dan ekspresi kakunya yang agak menyebalkan itu membuatnya tampak angkuh.

“Mi Rae, kau tidak mungkin serius, bukan?”

“Ah, kau benar. Selama ini aku memang tidak serius. Jadi sudah waktunya untuk fokus pada kehidupanku. Kehidupan kita masing-masing.”

Tidak. Dia bukan Baek Mi Rae. Sukar diterima oleh akal sehat Kyuhyun kalau kata-kata yang terdengar sangat sinis itu dikatakan oleh Mi Rae.

“Ibu, aku minta maaf karena membuatmu menyaksikan ini, tapi aku tidak bisa terus berpura-pura seolah aku baik-baik saja,” kata Mi Rae. Ia menggeser pandangannya pada Kyuhyun yang kelihatan sangat terpukul, “Cho Kyuhyun. Dengarkan apa yang akan kukatakan!”

Ketenangan Mi Rae justru membangkitkan rasa sakit Kyuhyun. Sampai sekarang, ia belum bisa memercayai jika gadis itu adalah Baek Mi Rae.

Gadis itu pun mulai berbicara, “Selama ini, kupikir semua akan berjalan lancar, tapi ternyata aku salah.”

Kita menghadapi banyak tantangan, tapi kita mampu mengatasinya.

Ia diam beberapa detik, mengumpulkan keberaniannya. Membuang jauh-jauh rasa bersalah karena sedang menyakiti orang lain.

“Aku menyimpan banyak keraguan dalam diriku.”

Aku tidak akan meragukanmu.

Semua yang ia katakan justru berbanding terbalik dengan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.

“Aku tak bisa mengikuti cara hidupmu.”

Kau menerima aku apa adanya.

Satu-satunya yang Mi Rae harapkan saat ini adalah sebuah pengampunan, walau ia tahu jika hukum karma tetap berlaku.

“Seperti langit dan bumi. Kau dan aku terlalu berbeda.”

Perbedaan telah mengajarkan kita berdua untuk saling melengkapi.

Luka yang tersirat dari sinar mata Kyuhyun, tak ayal membuat seluruh tubuh Mi Rae mulai menggigil.

“Mulai sekarang, aku akan mengejar mimpiku.”

Mulai sekarang, aku akan melindungimu.

Setelah ini, apa yang akan terjadi? Kyuhyun pasti akan membencinya, kan? Membayangkannya saja sudah membuat Mi Rae ingin menangis histeris.

“Jadi aku tidak akan memikirkan hal lain.”

Aku pasti akan selalu memikirkanmu.

“Karena itu—”

Mi Rae mengambil jeda sejenak, tangannya mengepal kuat di atas pangkuannya. Kemudian ia menuntaskan perkataannya.

“Aku ingin putus.”

Aku ingin bersamamu, Kyu.

Langit seolah runtuh di atas kepala Kyuhyun. Pandangannya berpendar bagai kejatuhan benda yang rasanya sangat berat. Rasa kaget menerkamnya tanpa belas kasihan. Sementara Baek Mi Rae hanya mampu menggigit bibirnya sekuat tenaga, menahan air mata agar tidak menetes.

Seperti mimpi. Alangkah baiknya jika yang sedang terjadi sekarang hanya mimpi, akan tetapi rasa sakit yang dirasakan oleh Kyuhyun menyadarkannya, mimpi tidak akan sesakit itu.

“Mi Rae, apa yang kau katakan?” Nyonya Cho pun tak paham dengan keputusan yang diambil Mi Rae. “Kau sangat mencintai Kyuhyun,” alisnya bertaut. Logikanya sedang mengira-ngira. Mi Rae memang gadis yang kaku, tapi dari perlakuan juga tatapan Mi Rae, ia tahu apa yang dirasakan Mi Rae terhadap anaknya.

Mi Rae mencintaiku.

Meskipun tidak pernah Mi Rae berkata—aku mencintaimu—secara langsung padanya, Kyuhyun percaya jika perasaannya berbalas. Atau mungkin ia hanya terlalu percaya diri? Keyakinan yang terkikis oleh detik demi detik yang berlalu, membawanya ke titik dimana sebuah tanda tanya besar bersarang di kepalanya.

Mi Rae mencintaiku?

Sudut bibir kanan Kyuhyun terangkat, membentuk sebuah senyum yang lebih mirip seringaian. Ia tertawa pelan, namun matanya tampak berkaca-kaca. Dirinya mulai beranggapan kalau hal-hal indah yang dilaluinya bersama Mi Rae hanya sebatas ilusi.

Pada saat itu, pintu ruangan tempat mereka berada dibuka oleh seseorang. Choi Siwon melangkah masuk. Tatapan semua orang di ruangan itu mengikutinya.

“Siwon, kau sudah datang?” Mi Rae berdiri, merapikan pakaiannya. “Aku yang memanggilnya ke sini. Ada sesuatu yang harus kami lakukan,” katanya tenang. Siwon mengernyit bingung, namun tidak digubris oleh Mi Rae.

“Mi Rae, tolong pikirkan keputusanmu baik-baik,” suara Nyonya Cho terdengar lembut, namun mengandung keprihatinan.

“Ini adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat,” jawab Mi Rae cepat.

“Tapi—”

“Hentikan!” Kyuhyun bersuara keras. Ia sangat kesal. Situasi yang dihadapinya saat ini sedang menguji kesabarannya. Sinar matanya yang biasanya memancarkan kelembutan, kini tampak berkilat dan begitu terluka. Tak melepaskan tatapannya dari Mi Rae saat ia berkata, “Kenapa Ibu merepotkan diri? Siapa dia sampai-sampai kita harus mengemis belas kasihan padanya? Kalau dia ingin pergi, biarkan saja.”

Tanpa sadar Mi Rae meremas ujung jaketnya. Satu hal yang dipahaminya saat ini, bahwa ia tak perlu menunggu lama untuk sebuah hukuman.

Kyuhyun membenciku.

Gadis itu mengambil tas mungilnya dan menyampirkan di bahu. Mi Rae berharap tidak ada satu pun yang menyadari tangannya yang gemetar saat meraih tas tadi. Kemudian ia balas menatap Kyuhyun, berlagak kuat padahal persendiannya lemas.

“Kupikir kita berjodoh, tapi—sudahlah. Kalau bukan jodoh, mau bagaimana lagi?”

Kepala Kyuhyun menggeleng pelan. Apakah gadis itu benar-benar Baek Mi Rae? Mereka seperti dua orang yang sangat berbeda. Tak mengatakan apa-apa lagi, Mi Rae berlalu melewati Kyuhyun dan Nyonya Cho. Ia tersenyum pada Siwon yang masih membatu di tempatnya berpijak.

“Maaf membuatmu menunggu. Ayo pergi!” katanya dan berjalan mendahului Siwon. Untuk beberapa saat, Siwon masih menatapi Kyuhyun dengan sorot mata yang sukar dijelaskan. Mungkin karena ia sendiri dibuat terkejut dan kebingungan dengan situasi itu. Lalu, bergegas ia keluar menyusuli Mi Rae.

Beberapa menit, suasana dalam ruangan itu terasa mencekam sepeninggal Mi Rae. Nyonya Cho, juga Kyuhyun masih mengatup mulut mereka rapat-rapat. Perlahan, Nyonya Cho bangkit berdiri dan menghampiri Kyuhyun. Dengan lembut tangannya menyentuh pundak Kyuhyun.

“Tidak, Bu. Jangan katakan apa-apa,” Kyuhyun memaksakan dirinya tersenyum di hadapan ibunya. Nyonya Cho justru semakin sedih melihat keadaan Kyuhyun. Ia tahu kalau putranya itu sedang hancur. “Aku akan mengantar Ibu pulang,” katanya, berusaha seolah-olah tidak ada kejadian hari ini.

Nyonya Cho menggeleng. “Sekretaris Park sedang menuju ke sini. Pulanglah lebih dulu. Aku akan menunggu Sekretaris Park,” ujarnya pelan. Yang dibutuhkan Kyuhyun saat ini adalah ketenangan.

Sampai di lobby hotel, Baek Mi Rae masih kelihatan baik-baik saja. Siwon memandang cemas, tapi tak berani bertanya. Lalu tiba-tiba saja Mi Rae seperti kehilangan tenaga dan ia hampir jatuh kalau tidak ada Siwon yang dengan sigap menangkap lengan atasnya.

“Tidak apa-apa?” Siwon tahu itu pertanyaan yang salah. Sebab ia sebenarnya paham seperti apa perasaan gadis itu.

Seraya menegakkan kembali tubuhnya, Mi Rae menepis pelan tangan Siwon. “Jangan cemas,” katanya sambil tersenyum.

Siwon tak tahan lagi dan akhirnya bertanya, “Kenapa kau lakukan itu? Aku ingin menebus kesalahanku padamu, tapi bukan begini caranya.”

“Maaf, aku memang memanfaatkanmu. Dan terima kasih sudah datang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak di sana tadi.”

Tidak masalah. Choi Siwon tidak peduli apa motivasi Mi Rae memanggilnya. Selama bisa membantu Mi Rae, ia tidak akan mempermasalahkan itu. Siwon menarik napas panjang, gadis yang bersamanya saat ini adalah sosok yang  keras kepala. Apa pun yang akan ia katakan, Mi Rae tidak akan menggubris. Jadi, ia menyimpan kembali kalimat-kalimat yang hendak ia suarakan, yang kurang-lebih akan terdengar sama seperti yang dilontarkan oleh Nyonya Cho tadi.

“Aku akan mengantarmu pulang,” kesimpulan terbaik yang dapat dilakukan oleh Siwon.

“Tidak. Aku harus kembali ke rumah sakit.”

“Baik, aku akan mengantarmu ke sana,” ke mana pun Mi Rae pergi, Siwon berniat akan mengantarnya.

Namun Mi Rae menggeleng lemah, “Aku akan pergi sendiri,” katanya.

Kalau Mi Rae berkata begitu, maka Siwon tidak mungkin membantah. Mi Rae pasti ingin menyendiri. Itulah sebabnya Siwon hanya tersenyum, mengiyakan keinginan Mi Rae. Ia menatap cemas pada Mi Rae yang berlalu dari hadapannya. Ia belum beranjak. Matanya terus berusaha menemukan Mi Rae yang terkadang menghilang, lalu muncul di antara para pejalan kaki, sampai akhirnya gadis itu benar-benar tak terlihat lagi.

Menyusuri trotoar yang cukup ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang, Mi Rae tampak begitu lemas. Orang-orang tampak terburu-buru seolah sedang berlomba dengan sesuatu, Mi Rae justru melangkah gontai. Sinar mata Mi Rae seolah redup dan tak terlihat hidup, ia hanya memandang lurus ke depan. Lalu kakinya berhenti melangkah, dan ia mulai menekankan tangannya ke dada. Rasanya sangat sakit dan membuatnya ingin menangis, tapi…

Mengapa aku tak bisa menangis?

Tenaga dalam tubuh Mi Rae seperti disedot oleh sesuatu, sehingga mengeluarkan air mata pun tak sanggup ia lakukan. Gadis itu hanya mampu menengadahkan kepalanya dan menarik napas sedalam-dalamnya.

Sementara menunggu bus di halte, Mi Rae menghabiskan waktunya hanya dengan melamun. Tak berapa lama kemudian, bus tiba dan ia menaiki bus tersebut bersama beberapa orang yang menunggu bersamanya di halte. Mi Rae duduk di barisan kedua dari belakang, dekat jendela. Bus agak kosong karena penumpangnya belum banyak.

Malam di musim dingin seperti ini memang sebaiknya dihabiskan dengan berkumpul bersama orang-orang terkasih. Ah, aku juga ingin segera pulang.

Suara itu terdengar memenuhi seisi bus. Sang sopir sedang mendengarkan sebuah siaran radio.

“Things I Can’t Do For You by Gummy akan menutup perjumpaan kita hari ini. Dan, terakhir—jangan lupa memakai pakaian hangat. Bye.”

Mi Rae memandang ke luar jendela, sementara alunan musik lembut terdengar. Sesuai janji sang penyiar sebelum pamit, ia memutar sebuah lagu yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi papan atas—Gummy.

Ada kata yang sulit kuungkapkan

Kata terakhir yang kuucapkan dengan berat hati

Berada di sampingku, tak bisa membuatku menyerupaimu

Hal yang bisa kita lakukan bersama adalah berpisah

Suara indah Gummy membelah kesunyian yang tengah berlangsung di dalam bus. Mengiringi jalannya bus yang melaju dengan kecepatan normal. Pikiran Mi Rae sedang melayang-layang. Ia tidak peduli jika yang dinaikinya bukan bus yang akan membawanya ke rumah sakit. Ia bahkan tidak berpikir untuk kembali ke rumah sakit. Hatinya yang perih dan kepalanya yang pusing tidak memberinya ruang untuk memikirkan kemarahan Dokter Jung.

Pikiran Mi Rae saat ini hanya dipenuhi dengan Kyuhyun. Terutama sorot mata Kyuhyun yang begitu terluka seakan enggan beranjak dari dalam kepalanya. Ia merasa tidak pantas untuk dimaafkan, dan sejujurnya ia tidak berharap kalau Kyuhyun akan memaafkannya.

Aku tak tahu apa yang harus dilakukan

Hal yang sulit juga untukmu

Kau bahkan tak mengetahui apa pun

Tak cukup denganku meminta maaf

Tangan Mi Rae bergerak pelan, kembali ia menyentuh dadanya. Bukannya berkurang, rasa sakit itu justru menjadi-jadi. Mi Rae sesak napas. Dadanya bergemuruh dan memanas.

Memikirkan Kyuhyun sedang terluka di sana, memikirkan jika mungkin saja Kyuhyun sedang menangis di sana—Mi Rae memukul dadanya, ia menggigit bibirnya kuat. Menahan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Katanya, cinta itu butuh pengorbanan. Ya, Mi Rae tahu, tapi ia tak menyangka jika pengorbanan seperti itu yang akan ia lakukan. Tidak semudah mengatakannya, pengorbanan ternyata akan semenyakitkan itu.

Kau bahkan tak mengetahui apa pun

Meskipun kau kembali tanpa perasaan

Meskipun kau tak bisa melihatku mulai besok

Tak ada yang berbeda dalam diriku tentangmu

Kyuhyun mungkin—atau pasti—telah membencinya. Cara Kyuhyun memandangnya tadi, membuatnya tak berani mengira seberapa dalam luka yang telah ia goreskan pada pemuda itu.

Siapa yang berharap ini akan terjadi? Siapa yang ingin semuanya berakhir? Mi Rae tahu hanya ada dua kemungkinan yang terjadi dalam sebuah hubungan. Pernikahan atau perpisahan. Ia berharap bisa berakhir bahagia dengan Kyuhyun, tapi juga tetap menyiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk. Namun, sama sekali tidak dibayangkan jika mereka akan berpisah dengan cara yang seperti itu. Bukan karena cinta yang telah tawar. Tidak, bukan karena itu. Baik Kyuhyun atau pun Mi Rae tahu dan merasakan cinta yang bertumbuh subur dan bersemi indah di hati mereka melampaui keindangan sakura.

Kyuhyun mencintainya dengan cara yang bodoh, pikir Mi Rae. Sebab ia tahu, ia tak akan bisa mengubah keyakinan Kyuhyun. Ia memang telah memilih untuk belajar ke luar negeri, namun Kyuhyun pun telah bulat dengan keputusannya sendiri untuk tidak pergi ke mana pun. Padahal mereka sama-sama tahu hal seperti apa yang menanti Kyuhyun jika pemuda itu tetap berada di Seoul. Kyuhyun akan kehilangan segalanya.

Jadi, bagaimana mungkin Mi Rae sanggup membiarkan itu terjadi? Lantas, apakah Mi Rae telah melakukan kebodohan terbesar dalam hidupnya dengan berlaku kejam pada Kyuhyun? Ya, ia melakukannya. Seperti Kyuhyun yang menjadi bodoh karena mencintai dirinya, ia pun sanggup menempuh jalan yang sama.

Mi Rae memeluk tubuhnya sendiri. Ia telah menyakiti Kyuhyun, namun bukan berarti ia tidak terluka. Luka yang dideritanya mungkin jauh lebih besar daripada Kyuhyun. Ia menggigil karena kesakitan yang dirasanya.

Kau pun sudah tahu tentang hal itu

Kau bisa melakukan apa pun jika kau menginginkannya

Hanya satu hal yang tak bisa kulakukan

Yakni meninggalkanmu saat aku masih sangat mencintaimu

Di ruang tengah yang remang dan hanya tersentuh cahaya lampu dari ruang tamu, Cho Kyuhyun masih termangu. Ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan tersebut. Semua yang telah ia siapkan untuk candle light dinner telah kehilangan nilai dan berakhir sia-sia. Seharusnya sekarang ia dan Mi Rae duduk di meja itu, menikmati steak dan red wine sambil berbincang-bincang penuh keakraban. Ternyata semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang ia bayangkan.

Kyuhyun melangkah menghampiri meja tersebut, lalu menarik kursi dan duduk di sana. Tangannya meraih botol anggur dan menuangkan ke dalam gelas. Ia menggoyang pelan gelasnya, sehingga cairan merah di dalam gelas itu tampak beriak. Lalu diteguknya minuman tersebut. Gelas yang isinya hanya berkurang sedikit, ia letakkan kembali di atas meja.

Ponsel yang tadi Kyuhyun letakkan di atas meja tiba-tiba berbunyi. Kyuhyun memandang tanpa minat, tapi kemudian memutuskan menjawab panggilan masuk tersebut.

Bagaimana?

Dari seberang, suara Hyukjae terdengar riang. Pemuda itu agaknya penasaran dengan kejutan yang mereka berdua rancang untuk Mi Rae. Untuk sekian detik, mata Kyuhyun terpejam. Pertanyaan Hyukjae tadi membuatnya semakin larut dalam kesedihan.

“Hei, Hyuk. Kau masih penasaran mengapa aku keluar dari dunia gelap itu?”

Aku tak tahu apa yang harus dilakukan

Hal yang sulit juga untukmu

Kau bahkan tak mengetahui apa pun

Tak cukup denganku meminta maaf

Kau bahkan tak mengetahui apa pun

Meskipun kau kembali tanpa perasaan

Meskipun kau tak bisa melihatku mulai besok

Tak ada yang berbeda dalam diriku tentangmu

Han Jin Ae terburu-buru menuruni anak tangga. Ia bergegas membuka pintu dan mendapati seorang gadis yang berdiri kaku di depan pintu rumahnya. Dengan wajah yang pucat, Mi Rae tersenyum tipis.

“Aku lapar,” kata Mi Rae pelan.

Jin Ae diam beberapa saat sebelum menyuruh Mi Rae masuk. “Masuklah,” ia menarik tangan Mi Rae, kemudian menutup pintu.

Tanpa diberitahu pun, Jin Ae sudah tahu jika sesuatu telah terjadi dan itu adalah hal yang tidak menyenangkan untuk didengar. Di ruangan itu, hanya ada mereka berdua. Kedua orangtua Jin Ae sedang pergi ke luar kota. Jin Ae tidak menggeser tatapannya dari Mi Rae yang sedang menyantap makanan yang disiapkan oleh bibi pengurus di rumah itu.

Mi Rae tampak seperti orang yang sangat kelaparan, yang tidak makan berhari-hari lamanya. Begitu lahapnya ia menghabiskan makanan sebanyak itu.

“Tidak ada lagi?” ia menatap Jin Ae, kemudian pandangannya mengedar pada piring-piring yang telah kosong.

Sepuluh menit kemudian, Jin Ae yang berjalan dari arah depan, datang menghampirinya sambil menenteng dua mangkuk jjajangmyeon. Ia memesannya tadi. Mi Rae menyunggingkan senyum sembari menyampur jjajangmyeon miliknya dan mulai menyeruput mie itu dalam-dalam.

“Aku masih lapar,” katanya lagi setelah menghabiskan dua mangkuk jjajangmyeon.

Jin Ae mendesah, “Sudah cukup. Kau sudah terlalu banyak makan.”

“Aku tahu. Tapi kenapa di sini masih terasa sangat kosong? Apa yang harus kulakukan, Jin Ae?” ia menyentuh dadanya, matanya yang sendu mengarah pada sahabatnya yang sedang menatapnya iba.

Jika demi dirimu aku ingin melakukannya

Aku mencoba untuk menerima hingga kita berpisah

Sepertinya apa pun itu sulit bagiku

Aku tak bisa hidup tanpamu karena

Aku tak punya kepercayaan diri

Aku tak bisa mendengar kata apa pun

Tak ada apa pun yang terjadi

Beberapa saat keadaan menjadi hening. Di ujung sambungan telepon, Hyukjae membisu. Sebenarnya, ia bukannya tidak tahu sama sekali alasan Kyuhyun memutuskan untuk tidak lagi menjadi mafia, tapi ada bagian yang memang tidak pernah diceritakan Kyuhyun padanya.

Kyuhyun menarik napas yang saat ini terasa tidak leluasa untuk dilakukan, “Orang itu—”

Jika kau ingin melindungi seseorang, hal apa yang akan kau lakukan?

Hyukjae kembali teringat kejadian bertahun-tahun lalu. Di hari kelulusan SMA, Kyuhyun yang sangat berantakan setelah terlibat perkelahian dengan pelajar dari sekolah lain, datang menemuinya dan menanyakan pertanyaan itu padanya.

Menjadi seseorang yang bertumbuh dengan baik.  

Bahkan masih segar dalam ingatan Hyukjae, jawaban yang ia berikan kepada Kyuhyun sambil mengerutkan alis karena penasaran terhadap maksud dibalik pertanyaan sahabatnya itu.

Apa pun itu, tampaknya Kyuhyun menerima jawaban yang ia lontarkan, yang ia sendiri tidak yakin kata-kata itu telah melalui tahap penyaringan di otaknya atau tidak. Karena setelah itu, Kyuhyun benar-benar keluar dari organisasi berbahaya tersebut dan hidup dengan baik. Jadi kesimpulan yang diambil Hyukjae adalah, karena ada yang ingin dilindungi Kyuhyun sehingga pemuda itu tidak lagi hidup serampangan sebagai anggota mafia.

“—Baek Mi Rae.”

Betapa terkejutnya Hyukjae mendengar nama itu, “Baek—siapa?” ia bertanya karena tidak yakin. Pikir Hyukjae, mungkin ia telah salah mendengar.

Namun, Kyuhyun tidak berusaha untuk menegaskan kembali jawabannya. Situasi aneh yang dirasa Hyukjae membuatnya sadar, adalah benar bahwa Kyuhyun menyebut nama Mi Rae tadi.

Bagaimana bisa?” tanyanya heran. Sangat heran. Selama ini, ia berprasangka bahwa orang yang ingin dilindungi Kyuhyun adalah ibunya. Lalu, apakah itu artinya—Kyuhyun telah bertemu Mi Rae sebelum mereka menjadi mahasiswa di Universitas Anam?

Lagi-lagi Kyuhyun tidak bersuara dan Hyukjae akhirnya menangkap sesuatu yang mencuriga. Biasanya Kyuhyun tidak sependiam ini. Kyuhyun adalah tipe yang senang bercerita, apalagi jika itu menyangkut Baek Mi Rae. Saat Kyuhyun justru lebih banyak diam, itu artinya ia sedang bermasalah.

Kyu.

Desahan Kyuhyun begitu berat. Kenangan membawanya bernostalgia pada masa dimana hidupnya terasa sangat manis. “Rasanya jantungku akan melompat keluar karena melihatnya lagi di kampus, tapi dia tidak mengenaliku,” ia memandang perih pada kursi kosong di hadapannya.

Pemuda itu sempat berdecih karena teringat betapa konyol dirinya saat itu yang tertegun dan tanpa sadar langsung menyentuh dadanya yang berdebar sangat kuat, karena melihat sosok Mi Rae di kampus. Ia selalu tersenyum dan merasa malu pada dirinya sendiri acap kali mengingat kejadian itu. Bahkan saat ini pun, kenangan itu masih sanggup menciptakan senyum di wajahnya yang letih, walau matanya tampak berkaca-kaca menahan kepedihan.

Jika bisa menghapus kejadian hari ini

Tak ada yang berubah antara kita berdua

Karena tak ada hal yang membuat kita merasa lelah

“Mi Rae.”

Entah apa yang harus dikatakan Jin Ae, ia dapat merasakan kesedihan yang mendera sahabatnya itu. Mi Rae menatapnya dan tersenyum samar.

“Aku baik-baik saja.”

Han Jin Ae bukan anak kecil. Mi Rae tidak dapat mengelabuinya begitu saja. Tanpa sadar air mata Jin Ae justru menetes. Ia bukan Mi Rae, tapi hatinya sangat hancur melihat Mi Rae yang berusaha tegar. Jin Ae tak bisa membayangkan sesakit apa Mi Rae sekarang.

“Aku akan baik-baik saja, kan?” Mi Rae bertanya lirih.

Tidak bisa ditahan, Jin Ae meneteskan air mata. “Mi Rae—kenapa jadi begini?” ia menyentuh tangan Mi Rae. Gadis yang ditanya, hanya menggeleng lemah.

“Aku,” Mi Rae bergumam pelan. Ia menoleh pada Jin Ae yang masih menatapnya dengan mata yang sembab. “Aku tidak baik-baik saja, Jin Ae. Rasanya…rasanya sangat—” Mi Rae menggeleng, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus menggambarkan perasaannya seperti apa. “Aku merasa kosong dan sesak secara bersamaan,” air mata yang tadinya tak bisa keluar, akhirnya bergulir jatuh ke pipinya.

Jin Ae pun mendekapnya, memeluknya sangat kuat. Jin Ae merasakan bahu Mi Rae yang bergetar. Mi Rae meratap dalam keheningan. Tidak ada suara tangisan yang ia keluarkan.

“Aku harus bagaimana, Jin Ae? Karena aku…karena aku…Kyuhyun…,” dengan tersendat-sendat Mi Rae berbicara, meluapkan perasaannya. “Kyuhyun bilang, satu-satunya yang tidak bisa dia lakukan adalah meninggalkanku. Karena itu…karena itu aku harus memaksanya pergi. Yang aku lakukan ini benar, kan?”

Mendengar perkataan Mi Rae, bagai tersiram cuka pada luka yang menganga. Perihnya sampai-sampai membuat Jin Ae terisak. Kedua sahabat itu berpelukan dan menangis untuk waktu yang cukup lama.

~selesai~

.

.

SELESAI?????

Ahahahahahahaha!!!!!

Sy yakin, pasti sy bakalan disumpah2 kalian kalo ending-nya begitu.

Okay..okay..sy cuma bercanda

Omong2, tentang lagu Things I Can’t Do For You. Lagunya sy suka, yaah..sy emang suka yang selow2 gimana gitu, dan ini pun lagu lama (sekitar 2009 atau 2010, kalau gak salah). Penyanyi aslinya Park Hyo Shin (salah satu penyanyi fav sy), tapi dinyanyikan lagi oleh Gummy. Versi asli dan versi Gummy sama2 keren, tapi belakangan sy lebih sering dengerin yang versinya Gummy, yah mungkin mewakili perasaannya Mi Rae.

Translate lagu sy ambil dari blog https://haerajjang.wordpress.com, terima kasih 🙂

Nah, selanjutnya; Apakah Mi Rae akan balikan dengan Kyuhyun sebelum Kyuhyun pergi ke LN? Atau mereka tetap berpisah dan kemudian posisi Mi Rae digantikan oleh.. ehm, *tunjuk diri sendiri* hihihihi

Gak usah ikut2an galau ya. Entah galau karena perpisahan kyu-rae. Atau galau karena menanti kelanjutan ceritanya.

Cukup sekian dan terima kasih.

Cerita ini selesai.

Eh…salah ya?

Bisa salah, bisa benar juga sih. Karena belakangan sy sempat berpikir untuk berhenti menulis, dan menutup blog. Alasannya? Biar sy sendiri yang pendam. Tapi semoga saja niat sy tidak terkabul ya sodara2 hehehe. Kali aja cerita ini cepat ending, trus mulai dengan FF baru…ya bisa saja, kan? Tapi… ya sudahlah, cerita ini akan sy selesaikan.

Sampai jumpa di episode mendatang.

Iklan

110 thoughts on “Drama (Part 21)

  1. noebita berkata:

    Kenapa mirae gak mencoba buat bicara dulu ma kyu kalau dia mau ke LN. Kenapa pilihannya harus putus. Jadi gilakan mereka berdua. Ngeselin banget part ini. Author jahat banget sih bikin kyurae putus

  2. Chokyuangel berkata:

    Huft np jd gini si..bukannya mirae mau ikut kyu pergi??np juga kyu musti ngomong kaya gtu ma hyuk….semoga mereka balik lg…

  3. aulia fitri berkata:

    Syok berat baca nya, kenapa mi rae ngambil keputusan seperti itu? Kyuhyun syok banget gak bisa nebak karakter dan jalan ceritanta yang ada di ff ini tuh. Kasian sma mereka berdua huhu. Kenapa mi rae gitu banget sih nyakitin dirinya sendiri.
    Ini beneran udan and? Tpi ga apa apa lah tetep suka ko sma ff nya. 👍
    Kalo bisa berharap sih masih ada lanjutannya. Semangat aja deh buat mba nya ya ❤

  4. Cc berkata:

    hah. aku baca part2 ff ini secara rapel dalam sehari, karna penasaran,
    jdnya komennya di part ini aja ya kak, hehehe

    di part pertengahan, pas mi rae mulai curiga kyuhyun itu siapa, kayaknya mi rae yg paling ngerti kyuhyun, dia juga bisa jadi alasan kyuhyun buat semangat lagi,

    aku suka sama alurnya, materi ffnya juga bagus bgt kak, realistis n nggak pasaran, bisa ketawa n nangis tiba-tiba pas baca part2 di ff ini, hehehe
    kenapa mi rae makin ke sini makin menyalahkan diri sendiri ya? harusnya dia ngomong dulu sama kyu, sedih deh baca bagian awalnya,
    emang sih, semua nggak harus happy ending, tapi sedih aja liat mereka nyakitin diri masing2,

    oh iya, kyuhyun ketemu mi rae dimana sebelum di kampus?

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s