Miracles

Great-Love-Miracles

By. Lauditta Marchia T

***

“Kau sudah membacanya?”

“Apa?”

“Aku menulis surat untukmu.”

“Surat?”

“Sudah kuduga. Memangnya kau tidak punya waktu sama sekali sampai-sampai membuka laci mejamu pun tidak sempat? Ah, kau ini sangat tidak romantis.”

Amplop berwarna merah muda langsung terlihat oleh Cho Kyuhyun begitu ia menarik laci pertama meja kerjanya. “Kau merecokiku karena ini, kan?” gumamnya sambil tersenyum tipis, teringat kalau dua hari yang lalu Baek Mi Rae mengomelinya habis-habisan di telepon karena benda yang kini sudah ia amankan di saku jasnya. Ruangan itu kembali senyap sepeninggalnya.

Han Sara berlari seperti orang gila. Wajahnya pucat pasi. Bau obat dan anyir darah yang terendus oleh hidungnya yang sama sekali tidak mancung itu membuatnya sangat tegang. Jerit kesakitan terdengar di mana-mana. Orang-orang di tempat tidur yang kelihatan menderita karena luka yang mereka alami, dokter dan perawat yang sama sekali tidak terlihat santai—berlari ke sana dan ke mari. Pemandangan itu membuat Sara tertegun.

“Nona! Jangan menghalangi jalan!”

Tubuh Sara terdorong kasar, tapi ia tidak memedulikan teriakan seorang dokter yang ditujukan padanya. Sara menyingkir agak ke tepi, tapi matanya tetap mengikuti brankar yang didorong oleh dua orang dokter, salah satunya adalah dokter yang memarahinya tadi. Sara sempat menahan napas karena mencoba mengenali wajah berlumuran darah seorang lelaki yang tergeletak tak bergerak di atas brankar yang baru saja melewatinya. Tidak, bukan orang yang dicarinya.

“Suster! Suster!”

Hanya beberapa saat tertegun, kesadaran Sara akhirnya kembali. Terlalu kikuk dan kacau sampai-sampai Sara tidak tahu harus bertanya pada siapa, sehingga saat seorang perawat berlalu tak jauh darinya, secepatnya Sara menghampiri perawat yang sedang mendorong meja instrument itu.

“Aku mencari korban kecelakaan di depan Universitas Yonsei!”

“Nona, semua korban yang berdatangan di UGD saat ini adalah mereka yang terlibat dalam kecelakaan itu.”

“Tidak,” Sara menggeleng kasar. “Aku mencari seorang pemuda yang tingginya kira-kira seperti ini,” ia agak kebingungan pada saat menjelaskan ciri-ciri orang yang dimaksudnya, “Donghae! Namanya Lee Donghae! Di mana dia? Dia tidak mungkin ada di sini, kan? Mereka pasti salah mengenali orang, kan?” Sara yang ketakutan, sudah menumpahkan air matanya yang tak tertahankan.

“Permisi, Nona,” seorang dokter yang mendengar teriakan histeris Sara, mendekati mereka. “Apa kau anggota keluarga Lee Donghae?”

“Sara, tiba-tiba aku membayangkan kau menjadi pacarku.”

Mereka dalam perjalanan pulang dan sedang menyusuri lorong kecil, saat Donghae berkata seperti itu. Jantung Sara langsung berdebar kencang. Donghae yang kerap kali menggodanya, justru berbicara dengan nada yang terdengar sangat serius. Sangat bukan Lee Donghae.

“Dan aku langsung merinding,” kata Donghae kemudian sambil bergidik dan menjauh beberapa langkah dari Sara, juga memandangi Sara dengan ekspresi takut-takut. Emosi Sara sudah sampai di ubun-ubun.

“Kau kira aku sudi menjadi pacarmu? Kau laki-laki sialan, membayangkan aku menyukaimu saja rasanya membuat seluruh tubuhku menjadi najis!”

“Perhatikan omonganmu, Han Sara. Aku heran mengapa kau sangat lancang. Itulah kenapa, aku tidak pernah suka bergaul dengan anak kecil!”

Beberapa saat, Cho Kyuhyun bergeming karena hiruk-pikuk UGD. Pemandangan seperti itu memang bukan sesuatu yang mengagetkan, akan tetapi ketegangannyalah yang tidak pernah berubah.

“Cho Kyuhyun?” Choi Minho menghampiri Kyuhyun. Memandangi Kyuhyun dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tatapan yang menyiratkan keheranan, seperti keberadaan Kyuhyun di situ adalah sesuatu yang tidak semestinya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Ada sesuatu yang tertinggal.”

“Apa sepenting itu sampai-sampai kau harus—”

“Apa yang terjadi?”

“Kecelakaan beruntun di depan Universitas Yonsei.”

“Bagaimana situasinya?”

“Kami sangat kewalahan,” Minho mendesah panjang.

“Aku akan menangani pasien yang lain.”

Choi Minho mendelik tak percaya. “Kau ini sudah tidak waras, ya? Kau terlalu gila kerja atau bagaimana?”

“Banyak korban yang berdatangan, sementara kalian kekurangan tenaga.”

“Tidak. Tidak. Kami masih bisa menangani semuanya. Hari ini, tidak seharusnya kau berada di sini. Kau pergilah!”

Laki-laki itu berlalu setelah menggeleng-geleng heran. Tampaknya tidak ada yang bisa dilakukan Kyuhyun. Mereka tetap tidak akan membolehkannya menangani pasien.

Sara gemetar. Menungu adalah hal yang paling dibenci Sara. Terutama, menunggu Donghae yang sedang ditangani oleh paramedis di dalam ruang operasi. Rasanya seperti Sara yang sedang dioperasi. Tubuhnya sakit, seperti sedang disayat oleh pisau bedah yang sangat tajam.

Di depan sana, ada orangtua Donghae yang sedang menanti dan berdoa untuk keselamatan putranya. Ibu yang menangis dalam pelukan ayah yang berkali-kali berusaha untuk menenangkan wanita itu, meskipun dirinya sendiri tidak merasa tenang.

Pada saat pintu otomatis terbuka, Sara dan juga orangtua Donghae langsung memberi perhatian pada seorang dokter dalam balutan pakaian steril khas operasi, yang berlari-lari menghampiri orangtua Donghae yang sudah berdiri.

“Maaf, Anda adalah orangtua dari Pasien Lee Donghae?”

“Iya, dokter. Bagaimana keadaan anak kami?”

“Anak Anda membutuhkan transfusi darah. Pasien memiliki tipe darah yang langka. Kami kehabisan stock darah tersebut. Kami telah menghubungi bank darah, tapi membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama sampai darah tiba di sini.”

“Darahku akan cocok dengannya. Dia menuruni tipe darahku,” kata ayah Donghae.

“Baiklah, kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu,” dokter itu mengarahkan orangtua Donghae agar ikut dengannya.

Donghae tidak baik-baik saja. Keadaannya sangat parah. Sara memeluk erat tas di depan dadanya. Tas milik Donghae. Melihat noda darah di tas ransel berwarna biru gelap itu, tak urung air mata Sara menetes.

“Anak kecil. Jam berapa kau pulang sekolah hari ini?”

Sara hampir melempari Donghae dengan pisau—kalau saat itu ia memegang pisau—karena Donghae tiba-tiba masuk ke kamarnya pagi tadi, sesaat setelah ia menaikkan rok seragam.

“Kau tidak punya sopan santun sampai-sampai tidak bisa mengetuk pintu?” teriak Sara sambil membetulkan rok.

“Kau juga tidak pernah mengetuk pintu kamarku!”

“Dasar laki-laki mesum!”

“Dasar gadis lancang!”

“Kau pergi sana!”

“Tunggu,” Donghae menahan pintu saat Sara bermaksud menutup pintu itu. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Jam berapa kau pulang sekolah?”

“Kenapa? Kau ingin memasang jebakan di pintu kamarku lagi?”

“Han Sara, bisa tidak, kau tidak melenceng dari topik kita?” Donghae menghela napas kasar. Sepertinya mereka tidak pernah memiliki percakapan layaknya manusia normal. “Aku akan menjemputmu.”

“Untuk apa?” bola mata Sara memandang lekat, penuh curiga pada Donghae. “Apa lagi yang sedang kau rencanakan?” ia tidak bisa memercayai Donghae. Terakhir kali, Donghae menyelipkan tarantula raksasa di tas sekolahnya. Beruntung itu hanya mainan. Sialnya, ia di hukum karena membuat kekacauan di tengah jam pelajaran.

Tidak memedulikan Sara yang sedang menyelidikinya bak seorang detective unit kriminal, Donghae justru mengalungkan tangan di leher Sara. “Anak kecil, sepulang sekolah, jangan kemana-mana. Tunggu aku di gerbang sekolah, aku akan menjemputmu,” katanya lembut. Ia tersenyum, sangat manis, lalu pergi begitu saja meninggalkan Sara yang mematung.

Pipi Sara sudah merona. Barusan, Donghae membuat jantungnya berdebar-debar. Ah, sebenarnya, jantungnya selalu bereaksi seperti itu kalau berdekatan dengan Donghae. Namun Donghae itu sangat usil dan suka menggodanya. Kalau Donghae tahu ia berdebar-debar, sudah pasti Donghae akan menggodanya habis-habisan.

Derap langkah kaki Cho Kyuhyun terdengar di sepanjang lorong rumah sakit. Tidak dipedulikan semua mata yang memandang heran padanya karena di kepalanya sekarang hanya dipenuhi oleh wanita itu, Baek Mi Rae. Kyuhyun berhenti di depan sebuah pintu. Ruangan yang tersembunyi di balik pintu itu adalah sebuah kapel. Perhatiannya beralih pada ponsel yang bergetar di saku celana.

Cho Kyuhyun, kau di mana?” Lee Hyukjae bertanya dengan suara yang meninggi.

“Rumah sakit.”

Desahan Hyukjae terdengar jelas di telinga Kyuhyun. “Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi segeralah datang atau Mi Rae akan marah.

Seraya menyimpan kembali ponselnya, Kyuhyun tersenyum tipis karena nama yang baru saja disebutkan Hyukjae. Baek Mi Rae adalah sosok yang lembut yang memiliki karakter seorang penyayang. Ia begitu menyukai anak kecil. Mungkin bisa dihitung dengan jari, berapa kali Mi Rae memerlihatkan kemarahannya sehingga Kyuhyun pikir, akan sangat menyenangkan kalau saat ini wanita itu memarahinya.

Kyuhyun sudah melangkah masuk ke dalam kapel yang tampak kosong. Ia duduk di sebuah bangku panjang yang berada di barisan kedua dari depan.  Kapel itu adalah tempat pertama kali ia bertemu dengan Mi Rae. Ia hanya memerhatikan tanpa maksud seorang wanita yang tengah berdoa, dan sama sekali tidak membayangkan bahwa wanita itu akan menjadi sosok penting dalam hidupnya.

Isakan yang terdengar menyakitkan karena ditahan paksa itu sampai ke telinga Kyuhyun dan mengusir lamunannya. Kyuhyun menoleh dan mendapati seorang gadis di sana, terisak sambil memeluk tas kuat-kuat di depan dadanya. Agaknya Kyuhyun terlalu terbuai dengan lamunannya sehingga ia tidak menyadari kehadiran gadis itu, padahal mereka duduk di bangku yang sama, yang hanya dipisahkan oleh jarak karena gadis itu duduk di ujung kanan, sementara dirinya di ujung kiri.

“Kau tidak apa-apa?”

Han Sara menoleh, memandang heran pada orang asing yang tiba-tiba saja menegurnya. Padahal orang itu tadi seperti patung yang sama sekali tak bergerak, dengan mata yang terus terpejam.

“Tidak seharusnya anak SMA berkeliaran di sini,” Kyuhyun tersenyum lembut pada Sara yang masih menatap bingung dengan mata sembabnya yang berair.

“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”

Kyuhyun tertawa kecil. “Ck, kau harus lebih sopan pada orang yang lebih tua darimu.”

“Paman, kau ini siapa? Tolong jangan ganggu aku!” Sara tidak senang karena merasa terusik. Ia hanya ingin berdoa agar operasi Donghae berjalan lancar.

Kyuhyun pun akhirnya diam, pandangannya lurus ke depan, pada salib yang menggantung di tengah-tengah dinding kapel. Sementara Sara, mulai membuka tas Donghae.  Dalam keadaan seperti ini, Donghae masih sempat membuatnya tertawa. Bayangkan saja, Donghae itu mahasiswa semester akhir yang seharusnya sangat sibuk, tapi tidak ada satupun buku di dalam tasnya. Sebuah headset. Ada coklat kesukaan Sara. Terakhir, dompet. Sara ingat kalau itu adalah pemberiannya—lebih tepatnya, Donghae yang meminta hadiah itu darinya secara paksa karena diterima di universitas favoritnya.

“Pacarmu?” Sara menoleh lagi pada Kyuhyun. “Tas itu. Milik pacarmu?”

Sebenarnya Sara malas menjawab, “Bukan,” tapi akhirnya tetap merespon pertanyaan Kyuhyun. “Dia bukan pacarku.”

“Kelihatannya kau sangat menyukai orang itu.”

Sara sudah memerlihatkan raut sebal karena Kyuhyun bertanya seolah mereka dekat, padahal mereka hanya orang asing yang berada di tempat yang sama. Tapi sebenarnya, Sara hanya malu karena perasaannya tertebak oleh orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

“Oh, cinta sepihak rupanya.”

“Kau!”

Kalau Sara tidak sedang bersedih, ia pasti sudah memberi pelajaran pada orang asing yang kedengaran sangat lancang itu. Namun saat ini Sara hanya ingin fokus pada Donghae. Ia hanya ingin memikirkan Donghae. Memikirkan semua yang telah mereka lalui bersama. Sara terdiam, ternyata ia telah melewatkan banyak waktu tanpa melakukan apa-apa. Saat Donghae sedang kritis, Sara baru menyadari kalau waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Kenapa tidak pernah ia mengutarakan perasaannya? Kalau sudah seperti ini, ia hanya berharap akan ada sebuah keajaiban.

“Kau benar,” Sara berbicara dengan suara yang rendah. “Dia cinta pertamaku,” perkataannya hanya dibalas oleh tatapan tanpa emosi dari Kyuhyun. “Dia sedang mengendarai motornya, dan menjadi salah satu korban tabrakan beruntun itu. Donghae bilang akan menjemputku, tapi dia tidak pernah datang. Bagaimana kalau Donghae tidak pernah tahu perasaanku?”

“Karena itu kau harus mengutarakannya.”

“Bagaimana kalau dia tidak pernah bangun?”

“Kau harus tetap mengatakannya.”

Sara melotot tajam, “Jadi, kau juga berpendapat Donghae akan meninggal?”

“Umur seseorang, siapa yang tahu. Kematian bisa datang kapan saja. Pada siapa saja. Bahkan orang yang sehat, bisa tiba-tiba pergi meninggalkan kita, kan?” Kyuhyun memalingkan wajah, menatap Sara yang napasnya masih memburu. “Karena itu…kau tidak harus menunda-nunda sesuatu karena berpikir masih ada kesempatan lain. Entah kita, atau orang yang kita cintai…kita tidak pernah tahu siapa yang akan pergi lebih dahulu.”

“Kau bukan guruku jadi jangan mengguruiku. Orang menyebalkan sepertimu pasti sangat tidak disukai!”

“Oh, kau menebaknya,” Kyuhyun berjengit, ia mendesah pelan. Menarik napas dan terdiam beberapa saat, lalu kemudian kembali ia berkata, “Tapi ada seorang wanita yang sangat menyukaiku.”

“Mungkin wanita itu sudah tidak waras.”

Kyuhyun tersenyum, “Mungkin kau benar,” katanya pelan. Ia menarik napas. Membenarkan perkataan remaja ingusan labil, bukan Mi Rae yang kehilangan kewarasan, tapi dirinya.

“Maaf, aku memang sangat sibuk, tapi omong-omong, kenapa kau harus menulis surat segala?”

“Kau ini sangat tidak romantis,” Mi Rae hanya mengulang apa yang ditudingkan pada Kyuhyun sebelumnya.

“Ck, Baek Mi Rae. Kau juga bukan tipe yang romantis. Awal-awal kita berpacaran, kau bahkan tidak pernah memanggilku ‘Sayang’ kalau bukan aku yang memulai,” celetuk Kyuhyun. Ia diam. Mi Rae pun diam. “Kau masih di situ?”

“Aku hanya ingin menunjukkan perasaanku padamu.”

Sejenak Kyuhyun kembali terdiam. Ia merasa tidak enak, sepertinya ia telah menyinggung perasaan Mi Rae. Gadis itu mungkin telah mempertaruhkan harga diri demi menulis sepucuk surat untuknya. “Lima tahun itu bukan waktu yang singkat bagi kita berdua. Aku sangat mengenalmu. Tanpa kau katakan, aku pun tahu perasaanmu.”

“Kyu, kau juga tahu, kan? Aku menyukaimu meskipun kau hanya akan menghubungiku dua kali dalam sehari, dan itu akan menjadi sekali dalam sehari kalau kau memiliki jadwal operasi yang lama. Aku menyukaimu meskipun saat kita bertemu, kau lebih banyak membicarakan pasienmu, mengkhawatirkan mereka sampai-sampai kau lupa kalau kau sedang bersamaku. Aku bahkan semakin menyukaimu meskipun kau lebih sering menangisi pasienmu yang tidak berhasil kau selamatkan, ketimbang menangisiku yang duduk berjam-jam menunggumu yang pada akhirnya tak jadi datang karena keadaan emergency. Aku menyukaimu yang seperti itu, Cho Kyuhyun.”

“Karena itu aku sangat bersyukur karena orang yang di sisiku adalah kau,” Kyuhyun terkenal karena tampan, berprofesi sebagai dokter, dan hal-hal baik lainnya yang menarik di mata para wanita, tapi hanya Mi Rae yang mampu bertahan dengan segala kesibukan dan sifat Kyuhyun. Keadaan hening terjadi beberapa menit, sampai Kyuhyun bertanya, “Kau di mana?”

“Aku sedang di butik.”

“Kau ini keras kepala, ya. Sudah kukatakan, seharusnya kita pergi bersama. Kenapa tidak menungguku? Beberapa jam lagi, shift-ku berakhir.”

“Tidak apa-apa, Kyu. Kau sangat sibuk, dan aku sudah tidak tahan untuk mencoba gaun pengantinku,” Mi Rae terkekeh. “Sudah dulu, ya. Gaunku sudah siap. Gaunnya sangat indah dan aku pasti akan terlihat cantik dengan gaun itu. Nanti akan kukirim fotonya padamu,” Mi Rae yang tidak sabaran segera mematikan ponselnya, membiarkan Kyuhyun hanya mendesah tapi kemudian tersenyum.

Melihat Kyuhyun yang diam, Sara jadi merasa bersalah. Kata-katanya tadi memang terdengar kasar, “Maaf.”

“Tidak. Tidak apa-apa.”

“Aku bertetangga dengan Donghae. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengannya. Meskipun Donghae itu sering mengejek dan menggodaku, aku menyukainya.”

Apa wanita selalu seperti itu? Kyuhyun merenung. Menyukai seseorang tanpa memikirkan perasaan mereka sendiri yang mungkin lebih sering dikecewakan. Seperti Mi Rae yang menyukainya yang sebenarnya agak kaku dan selalu sibuk di rumah sakit. Begitu juga dengan Sara yang menyukai laki-laki bernama Donghae yang sifatnya kedengaran sangat menyebalkan.

“Siapa namanya?” Sara bertanya, sementara Kyuhyun menatap bingung, “Wanita itu,” Sara memperjelas pertanyaannya.

“Mi Rae. Baek Mi Rae yang lembut, tapi dia agak cerewet,” terang Kyuhyun sambil tertawa. “Sebenarnya dia menyebalkan karena membuatku merasa tidak dibutuhkan. Kau tahu kenapa? Dia wanita yang sangat mandiri.”

Sara mengernyit, sebab ia justru sangat bergantung pada Lee Donghae. Cho Kyuhyun melanjutkan kembali perkataannya, “Dia tidak banyak bicara, tapi sekali mengoceh, maka akan sulit dihentikan. Mungkin benar bahwa cerewet adalah sifat alami yang dimiliki oleh perempuan,” katanya dan teringat lagi pada Mi Rae yang bahkan bisa mengomel karena hal-hal sepeleh.

“Aku sangat kesal padamu. Lima tahun berpacaran, tapi kau lupa kalau aku suka doraemon. Aku benci kau dan boneka beruang sialan ini!”

“Kau sungguh membenciku?”

“Sangat.”

“Aku punya dua tiket konser Adele.”

“I love you too, Cho Kyuhyun.”

Senyuman mengukir indah di wajah tampan Kyuhyun. “Dia sosok yang sangat dewasa, walau terkadang dia akan terlihat seperti anak kecil. Sisi yang hanya diperlihatkan padaku. Ehm, dia itu…baik, dan lembu. Dia tidak pernah marah walau aku terlambat pada saat kencan. Dia selalu mengantarkan makan siang untukku. Dia tidak pandai memasak pada awalnya, jadi dia mengikuti kursus masak,” Kyuhyun tersenyum mengingat penderitaannya dulu saat harus menelan makanan-makanan yang tidak pantas dikonsumsi manusia. “Setiap sore, dia akan mengajak anjingku jalan-jalan karena aku hampir tidak punya waktu di rumah. Dia akan membereskan rumah dan pergi setelah meninggalkan makan malam, yang terkadang tidak kusentuh karena kesibukanku di tempat kerja, lalu dia akan membuang makanan-makanan itu keesokan harinya dan membuat yang baru. Begitu seterusnya. Aku heran karena dia tidak mengeluhkan itu.”

Han Sara melongo tak percaya. Wanita bernama Baek Mi Rae itu benar-benar seperti bumi dan langit apabila dibandingkan dengan dirinya.

“Hei, kenapa melihatku seperti itu?”

“Tidak. Kupikir kau sangat beruntung.”

“Nah, aku setuju.”

“Andai aku seperti wanita itu, Donghae mungkin akan menyukaiku.”

“Kau harusnya disukai karena siapa dirimu, bukan karena kau berusaha untuk terlihat seperti orang lain. Seseorang tidak membutuhkan alasan untuk jatuh cinta. Jika dia mencintaimu, maka dia tidak akan menuntutmu untuk menjelma menjadi orang lain.”

“Wanita itu juga sangat beruntung,” Sara berkata bukan tanpa alasan, sebab ia dapat melihat perasaan yang begitu besar hanya dari mata Kyuhyun. “Kau kelihatan begitu mencintainya,” kata-kata Sara berhenti di sana, ia menarik napas dan kembali berkata, “Aku sangat iri pada kalian.”

“Jangan iri pada siapa pun. Kau masih punya kesempatan untuk mengutarakan perasaanmu. Menurut pengalamanku, operasi itu akan berjalan lancar.”

“Paman, kau tahu apa?”

“Kau sedang meremehkanku, ya? Aku ini seorang dokter.”

“Dokter? Tapi kau justru bersantai-santai disaat yang lainnya sangat sibuk. Memangnya aku percaya?”

“Aku sedang cuti,” jawab Kyuhyun. “Setelah ini, katakan padanya semua yang kau rasakan. Selama kau masih dapat melihatnya. Selama kau masih dapat mendengarnya. Bahkan jika pada akhirnya dia menolakmu, kau harus tetap mengutarakan perasaanmu.”

Cho Kyuhyun menegakkan tubuhnya. Ia memandangi Sara yang juga sedang memerhatikan dirinya.

“Kau mau pergi?”

“Aku tak boleh membiarkan wanitaku selalu menunggu, kan?” pertanyaan Sara justru dijawab Kyuhyun dengan pertanyaan lain. Sara hanya tersenyum, dan mengangguk, ia sependapat dengan Kyuhyun.

Sepeninggal Kyuhyun, Sara termenung memikirkan semua yang dikatakan Kyuhyun. Sambil menyeka air yang kembali meleleh di sudut-sudut matanya, Sara membuka lipatan dompet yang sejak tadi digenggamnya. Ia tersenyum karena Donghae masih menyimpan foto mereka berdua yang sedang berperahu. Kalau Sara tidak salah ingat, foto itu diambil pada waktu liburan musim panas saat Sara kelas satu SMP. Donghae waktu itu kelas dua SMA. Saat membalikkan foto, ada sebuah tulisan di sana.

‘Kau memang anak kecil yang paling menyebalkan, tapi aku tidak bisa membayangkan duniaku tanpa omelanmu. Aku sedang menunggu, jadi segeralah dewasa.’

Sara membekap mulutnya. Air matanya berjatuhan. Isakan yang ditahan, pecah menjadi sebuah tangisan. Bahunya bergetar, dan ia berlari meninggalkan kapel. Kakinya berhenti mendadak saat melihat seorang dokter yang berbicara kepada orangtua Donghae. Ibunya Donghae langsung membenamkan wajah ke dada sang suami. Sara dengan jantung yang berdegub kencang, berjalan pelan menghampiri dua orang itu. Menyadari kehadiran Sara, wanita itu menatapnya dengan air mata yang berurai.

“Sara. Donghae kita akan baik-baik saja.”

Seketika itu juga, Sara terduduk lemas. Ia menangis, tapi yang keluar bukan lagi air mata kesedihan. Ia menangis haru penuh kebahagiaan. Lee Donghae selamat. Ia masih diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan pada pemuda itu. Cinta telah memberinya sebuah keajaiban.

***

Cho Kyuhyun melangkah masuk ke dalam sebuah gedung. Puluhan pasang mata mengikutinya dengan tatapan sedih. Kyuhyun berhenti sejenak di depan pintu sebuah ruangan. Di dalam sana, kekasihnya berada. Lalu ia melangkah masuk dan mendapati semua orang justru menatapnya dengan lebih iba daripada tatapan yang ia terima sebelumnya.

Altar penghormatan yang berdiri di depan sebuah peti mati, membuat kesedihan memenuhi hati Kyuhyun begitu saja. Melihat foto hitam putih yang sedang tersenyum manis itu, Kyuhyun memejamkan matanya sejenak. Pandangannya bergeser ke sudut ruangan, tempat di mana seorang wanita duduk bersimpuh dan tak berhenti menangis. Lalu matanya bertemu dengan mata Lee Hyukjae yang sedang menatap penuh duka padanya.

Kyuhyun mencoba menarik senyum di sudut bibirnya, seolah mengatakan pada Hyukjae kalau tidak ada yang perlu dicemaskan oleh sepupunya itu. Kyuhyun menarik napas, memenuhi rongga dadanya, lalu perlahan kakinya kembali mengayun, menghampiri tubuh yang telah terbaring dalam peti. Pria paruh baya—ayah dari sosok yang telah pergi itu—sedang menerima ucapan bela sungkawa dari pelayat, tapi melihat Kyuhyun, ia bergeser, sengaja memberi ruang bagi Kyuhyun.

Baek Mi Rae. Gaun selutut berbahan brokat berwarna hijau pastel, warna kesukaannya, membuat wanita itu tampak cantik. Dengan tangan yang gemetar, Kyuhyun menyentuh Mi Rae. Tidak ada yang berbeda kecuali pipi yang sudah terasa sangat dingin. Debaran setiap kali menyentuh pipi Mi Rae masih sama. Hanya saja, sekarang debaran itu diiringi oleh kesedihan yang menyapu habis semua kenangan indah yang pernah dirajut bersama Mi Rae. Kyuhyun menyeka air matanya yang hampir jatuh. Ia tak ingin Mi Rae melihatnya menangis.

Choi Minho yang terlihat pucat sesaat setelah menerima telepon, membuat Kyuhyun menggodanya. Minho memang selalu seperti itu. Ia selalu gugup setiap kali menerima informasi mengenai pasien yang akan dikirim ke UGD.

“Kita akan menerima korban luka tembak,” terang Minho.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Dokter Song, kepala UGD.

“Korban tertembak sebanyak dua kali. Di dada dan perut.”

“Tolong segera siapkan ruang operasi.”

Kyuhyun baru saja hendak bergegas, saat Minho mencegahnya dengan menahan pergelangan tangannya.

“Mungkin sebaiknya, aku saja yang menanganinya.”

“Kau ini kenapa?” Kyuhyun tertawa.

“Kyu,” Minho tidak mengatakan apa-apa, tapi kepalanya menggeleng sebanyak dua kali.

Entah apa maksud Choi Minho, tapi Kyuhyun merasa sahabatnya itu bersikap sangat aneh. Suara ambulance sudah meraung-raung di luar UGD. “Korbannya sudah datang. Cepatlah!” ujar Kyuhyun dan berlari menyongsong pasien.

Pintu otomatis UGD terbuka diikuti oleh munculnya dua orang petugas damkar dan seorang petugas kepolisian yang sedang mendorong brankar. Langkah kaki Kyuhyun langsung tertahan mendadak dan matanya terbuka lebar begitu ia melihat wanita yang berbalut gaun pengantin yang bersimbah darah. Ia merasa jantungnya berhenti. “Mi Rae…”

Sentuhan tangan yang memegang lembut bahunya membuat lamunan Kyuhyun buyar. Tuan Baek—ayah Mi Rae—sedang menatapnya dengan sorot mata yang letih dan berduka, “Katakan saja semua yang ingin kau katakan pada Mi Rae, Nak,” katanya setelah melihat Kyuhyun hanya membisu sembari menatap wajah tenang Mi Rae.

Seandainya Mi Rae tidak bersikeras pergi sendirian ke butik itu, apakah kejadian itu tidak akan terjadi? Seandainya Mi Rae mau menunggu dan pergi bersamanya pada sore hari, apakah mungkin hari ini ia masih bisa melihat senyum wanita itu? Tidak. Tidak. Itu bukan salah Mi Rae. Kalau saja hari itu ia selalu berada di sisi Mi Rae…kalau saja….

Kyuhyun terus mendengungkan pengandaian-pengandaian yang justru menambah rasa bersalah dalam dirinya. Baek Mi Rae, kekasihnya yang berhati lembut itu, menjadi korban penembakan dalam aksi perampokan sadis yang terjadi di butik, tepat dua hari yang lalu saat Mi Rae sedang fitting gaun pengantin.

“Hei, Sayang,” Kyuhyun mencoba menyapa seperti biasa meskipun suaranya telah serak dan terdengar lirih. “Kau bilang, gaun pengantinnya indah dan kau akan terlihat cantik dengan gaun itu. Menurutku, kau tidak harus mengenakan gaun pengantin untuk terlihat cantik. Kau tahu? Kau cantik sekali hari ini. Tapi sungguh, sebenarnya aku ingin sekali melihatmu mengenakan gaun pengantin itu pada saat kita berdiri bersisian di depan altar pernikahan. Bukan seperti bagaimana kau mendatangiku dua hari lalu,” sekeras apa pun Kyuhyun mencoba tegar, air matanya tetap berjatuhan tak terkendali. Ia mulai menangis dengan suara yang keras.

Nasib buruk apa ini, sampai-sampai ia harus melihat kekasihnya di rumah sakit, masih dalam balutan gaun pengantin, dan dalam kondisi yang sekarat? Sedikitpun Kyuhyun tidak pernah membayangkan bahwa wanita yang akan dinikahinya sembilan hari lagi, justru mengembuskan napas terakhir di depan matanya.

“Sayangku, Mi Rae-ku…kenapa menghukumku seperti ini?”

Rasanya sesak karena Kyuhyun sadar bahwa mata Mi Rae yang terpejam itu tidak akan pernah terbuka, dan menatapnya dengan lembut. Rasanya bertambah sesak karena Kyuhyun tidak bisa lagi membaui aroma tubuh Mi Rae setiap kali ia mendekap Mi Rae. Rasanya, dunia Kyuhyun berhenti berputar karena kekasih hatinya telah tertidur lelap untuk selama-lamanya.

“Aku sudah sangat merindukanmu, lalu bagaimana dengan besok dan seterusnya saat aku tidak lagi dapat melihatmu seperti ini?”

Semua yang ada di ruangan itu tertunduk dan terisak mendengar ratapan pilu Kyuhyun. Mata Kyuhyun yang memerah itu, seolah tidak siap melepaskan Mi Rae dari jangkauannya. Tangannya terus mengusap lembut pipi Mi Rae. Kyuhyun sedikit mendongakkan kepala dengan matanya yang terpejam, lalu kembali dipandanginya wajah tenang Mi Rae.  Sambil menyeka air mata, Kyuhyun mencoba mengendalikan diri. Ia menatap Mi Rae begitu lekat. Ia tahu bahwa tidak ada kesempatan lain untuk dapat melihat wanitanya itu.

Seiring kesedihan yang memuncak, air mata Kyuhyun tetap berhamburan jatuh dari bola matanya, akan tetapi tangannya bergerak cepat untuk menyeka bulir-bulir air matanya. Sebab mata yang berair akan membuat wajah cantik Mi Rae tidak terlihat jelas. Pada kesempatan itu, Kyuhyun memutuskan untuk menahan tangisnya dan memilih untuk melihat wajah Mi Rae sebanyak yang ia bisa, sehingga tidak akan ada alasan baginya untuk melupakan wajah itu.

Sekian lama Kyuhyun memandang Mi Rae dengan tatapan penuh cinta, lalu kemudian ia terlihat bergerak. Kyuhyun meraih tangan kanan Mi Rae, lalu dikecup punggung tangan itu.

“Untuk tangan yang selalu terulur dan merangkulku dengan lembut. Terima kasih.”

Kyuhyun masih mengelus buku-buku jari Mi Rae bahkan setelah ia memosisikan tangan Mi Raeseperti semula—di atas perut Mi Rae—saat bibirnya mengecup kedua kelopak mata Mi Rae yang terpejam.

“Untuk mata yang begitu indah dan selalu menatapku dengan penuh cinta kasih. Terima kasih.”

Pandangan Kyuhyun turun ke bibir Mi Rae yang dipolesi lipstick berwarna cerry, kesukaan wanita itu. Bibir itu selalu memanggil namanya sambil tersenyum mekar, indah melebihi keindahan bunga di musim semi. Menyadari bahwa Mi Rae tidak akan lagi memanggil namanya dan tersenyum seperti itu, tangis Kyuhyun kembali pecah. Ia meraung dengan bahu yang bergetar hebat. Beberapa saat lamanya Kyuhyun berjuang, berperang melawan kesedihannya sebab ia ingin mengantar Mi Rae dengan cara yang terbaik. Untuk terakhir kalinya, ia memberikan ciuman di bibir Mi Rae.

Dengan jarak yang sangat dekat, dipandanginya Mi Rae sambil berkata, “Mi Rae-ku yang cantik, beristirahatlah dalam damai. Jangan cemaskan aku. Aku akan mengalami hari-hari yang sulit tanpamu, tapi suatu hari semua itu akan berlalu dan aku akan baik-baik saja. Kau mungkin tidak lagi menjadi bagian dari masa depanku, tapi satu hal yang harus kau tahu, bahwa sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakanmu. Sayangku, aku mencintaimu,” dengan senyuman tulus yang terpancar dari raut wajahnya, Kyuhyun mengucapkan salam perpisahan pada Baek Mi Rae.

***

Hampir dua jam setelah Mi Rae dikremasi, dan abunya yang ditebar di Pantai Eurwangni mungkin telah mengarungi samudera luas. Mi Rae telah bebas, tapi tidak dengan Kyuhyun yang masih terikat dalam kesedihan. Inilah fase terberat yang harus Kyuhyun lalui selepas kepergian Mi Rae. Dadanya terasa berlubang, dan kosong. Hiruk pikuk dan kesibukan Kota Seoul, justru membuat Kyuhyun merasa sangat hampa. Di antara ramainya para pejalan kaki di distrik pusat Seoul yang luar biasa sibuk, Kyuhyun yang hanya berdiri bak patung justru merasa tertelan dalam kesunyian.

Dengan mendongakkan kepala, Kyuhyun memandangi langit yang menaungi mereka. Awan terlihat bergerak cepat. Lalu dipandanginya orang-orang yang melangkah tergesa-gesa di sekitarnya. Semua masih sama, kecuali satu hal. Mi Rae. Baek Mi Rae yang telah pergi jauh dan tidak bisa dijangkau lagi.

Kyuhyun merogoh saku jasnya. Dikeluarkan amplop merah muda dari dalamnya. Sepucuk surat yang ditulis Mi Rae beberapa hari lalu, yang bahkan belum sempat dibacanya. Kyuhyun mulai membuka lipatan kertas dan aroma khas Mi Rae langsung memenuhi indera penciumannya. Wangi sederhana perpaduan buah dan bunga, namun terkesan berkelas. Mi Rae pasti menyemprotkan sedikit parfumnya pada kertas surat itu. Sesaat sebelum membaca surat tersebut, Kyuhyun memejamkan mata, karena aroma itu membuatnya merasakan kehadiran Mi Rae.

‘Karena kau mencintaiku, aku telah menjadi wanita yang paling bahagia. Jadi, kau pun harus berbahagia. Kuharap, tidak ada penyesalan di antara kita. Cho Kyuhyun, lelaki terhebatku, aku juga mencintaimu.’

Air mata Kyuhyun mengalun jatuh, menelusuri pipinya hingga ke dagu dan jatuh di ruas trotoar yang dipijakinya. Kyuhyun tertawa tanpa suara, sambil menyeka air matanya yang rasanya tak mau berhenti menetes. Entah Mi Rae telah memiliki firasat akan kepergiannya ataupun tidak, tapi kalimat yang tertuang di dalamnya seolah menjadi jawaban atas salam perpisahan yang diucapkan Kyuhyun padanya beberapa jam yang lalu.

Kembali Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Di antara sepasang kekasih yang saling merangkul mesra, Kyuhyun melihat kebahagiaan. Di antara kumpulan siswi yang bercanda penuh tawa, Kyuhyun melihat kebahagiaan. Di antara seorang ibu yang berjongkok di hadapan anak lelakinya yang menangis dan memeluk anak itu penuh kasih sayang, Kyuhyun melihat kebahagiaan. Bahkan di antara pasangan paruh baya yang duduk di bangku taman dan memamerkan ekspresi seolah mereka baru saja berdebat untuk hal-hal yang mungkin tak penting, Kyuhyun pun melihat kebahagiaan.

Mi Rae telah menyadarkan Kyuhyun bahwa dunia tidak sesuram yang Kyuhyun sangka. Ada banyak kebahagiaan di sekitarnya. Kyuhyun tersenyum sebab ia tahu bahwa Mi Rae tidak benar-benar meninggalkannya. Ia telah bertemu Mi Rae di antara orang-orang asing yang tidak dikenalnya. Ia melihat Mi Rae dari kebahagiaan orang-orang itu. Cinta telah memberinya sebuah keajaiban.

-Selesai-

 

LOL

Ini bukan extra part ‘Drama’ yang sy maksud ya guys…pasti tau ya, kan? mengingat terdapat perbedaan2 mencolok dalam ff ini hohoho

Biasanya, cast cewe sy buat beda2, sesuai karakter. Tapi,berhubung sy belum bisa move on dari ‘Baek Mi Rae’ jadi sy kontrak dia untuk berperan lagi dalam ff lain hahahaha

Jadi…ff ini gak ada sangkut-pautnya dengan ‘Drama’ ^^

Omong2, kalo di ‘Drama’ Kyu yg jadi dokter, trus Mi Rae hanya wanita lemah lembut dan baik hati…ff ‘Drama’ bakalan berakhir sadis seperti di atas mungkin yaaa LOL

Okay, semoga malam minggu kalian gak berubah kelabu

Satu lagi…dilarang keras mengutuk author wkwkwkwk

Iklan

73 respons untuk ‘Miracles

  1. fuji berkata:

    😭😭😭 ending nya sedih

    ‘Elus dada ‘ Syukur bukan squel ff drama…….iya kak marchia aku juga belum move on dari baek mirae….gimana klo baek mirae jd identitas ff di wp kakak aja(maksa 😁✌) coz udah stuck, udah cinta ama baek mirae 😘❤❤

  2. nieadrian berkata:

    kirain bakal ada part2 selanjutnya…Han Serra jga lumayan…di tunggu karya selaanjutnya…

  3. Kimtwme berkata:

    Wkwk kirain awalnya sequel drama. Btw kok nyesek bgt ya! Kenapa baek harus pergi? Sayang bgt kyuhyun ditinggalin seblm nikahannya. Dan ditungguin juga kok, kalau drma ada sequelnya 😀😀

  4. dufy berkata:

    Kirain sequel drama yg diposting.. eh ternyata cerita yg berbeda toh.. kehidupan adalah keajaiban.. begitupun kematian yang pasti dan penuh misteri dan yg tertinggal adalah cinta.. keajaiban itu sendiri..

  5. debiyamustika berkata:

    aku yang cengeng atau ff nya yang keren ,
    uwwwaaahh eonni tanggung jawab loh eonni aku sampai nangis T_T

  6. Afwi berkata:

    Kirain beneran extra part drama, tpi makin kmri ada yg beda dri peran2 d atas, ceritanya kog sedih bgt yaa, bnyk pertanyaan muncul gara2 ngira ini sequel drama, ah yasudah lah, haha
    Cerita yg ini jg bagus kak,
    Daan ditunggu sequel drama ya kaak

  7. Kyupit berkata:

    Hanya satu kata buat ff ini sedihhh ;-( gx nyangka kalo donge maupun mirae akan meninggal sara dan kyu pasti nyesel bgt blum mengutarakan perasaan mereka pd orang yg dicintai

  8. 🍁KyuRhyn0305🍁 berkata:

    Hadeuuhh si kaka nih jago ya bikin readernya ter mewek mewek 😂 sedih lo sumpah dalem banget pas kyu ngomong gtu 😢
    Wkwkwkwk.. Sempet mikir awalnya ini extra part nya Drama 😄 soalnya masih tema dokter sih.. Dikira kyu udah balik k korea ehhh ternyataaaa…bukan
    Masih menunggu kelanjutan Ending Drama .. Jangan di buat nangis lagi ya kaa 😄😂

  9. Songdami1994 berkata:

    Ini kenapa kita gak boleh baper baper amat kalo nonton drama atau baca ff. Efeknya gabagus buat hati. Tapi gimana pun mencoba gak baper, namanya karya yang dibuat pake hati dan perasaan emang gak bisa diboongin. Air mata nya jatuh gitu aja daritadi sepanjang baca ini dan rasa nyesek di hati makin jadi. Langsung kaya ngerasain banget yang kyuhyun rasain. Kak makasih for another story kyu dan mirae~

  10. i54 berkata:

    knp jd sedih gini kak?
    d awal emng k pikiran, ni sequel drama bukan. tp d tengah udah kliatan bngt ni bukan lanjutan drama.
    knp mirae ny meninggal kak, q kira bakalan happy ending. tp ternyata…
    hebat cho kyu, msh bs senyum pdhl ru d tinggal pergi calon istriny untuk slamany. klo org laen ma, pst nunggu d pemakaman sambil nangis g brenti2.
    tp apakah kyu akan hidup dgn baik stlah ni.
    move on tdk semudah membalikan telapak tangan kan kak.

  11. Dona Silvia berkata:

    Jahat kamu kak, jahattt hiks. Aku subuh2 baca ini sambil nangis. Eh tapi kak, aku tuh sebenernya penasaran. Alesan kakak pake Kyuhyun jadi cast ff ini knp? Soalnya Kyuhyun tuh kayanya laku banget ya di dunia per ff-an ehehe. Genre apapun kalo dia yg jadi cast nya berasa pas/sesuai aja gt kak. Mau yg married life, romance, angst, thriller, fiction, NC juga cocok2 aja ahaha. Padahal dia itu kan aslinya tengil banget, kayanya engga sesuai aja sama karakter2 dia di ff. Aku kalo baca ff yg castnya bukan Kyuhyun jadi berasa “hambar”. Nah, semenjak itu tuh jadi addict sama ff yg ada dia nya. Oke gitu aja kak komenan kali ini, aku tunggu cerita cerita Kyuhyun yg lainnya 😃

    • marchiafanfiction berkata:

      pertama, sy sparkyu. kalo alasan spesifik sih sy kurang tau dek….katanya cinta gak butuh alasan *mulai mabok*

      intinya, sy sudah jatuh cinta pd suju sejak belasan tahun lalu, bahkan sebelum kyu gabung di suju…takjub waktu itu krn ada grup yg membernya ngalahin tim sepakbola

      sebenarnya bukan cuma kyu, member suju yg lain yg gagal tua itu terasa cocok di alam ff sy, LOL

  12. tia99 berkata:

    Di awal2 cerita aku juga ngiranya ini drama kak..tapi lama2 baca gak mungkin dehh mirae nya manis banget gini wkwkw
    Sedihh sumpahhhh yang pasti kyuhyun penyesalannya gak berujung nih 😆😆😂 kayak nya cerita donghae dan ser juga seru tub kalo di bikin oneshoot gini(ngerayu ka chia😋) lagii heheheh

  13. songhobae berkata:

    Kok aku sedih bangeet kak,,
    Untung bukan cerita drama ya kak??
    Atau ini other story drama dimana mirae mimpi ttg mereka, hahahha,, lalu mirae bangun dan syok sma mimpinya, lalu malam2 nya mabuk2an, eehh, ketemu kyuhyun lgsung deeh, makanya mirae lngsung bilang dia cinta banget ama kyuhyun, hahahaaa

    Ditunggu extra part drama kak, semangat kakk💪💪💪

  14. kimseok berkata:

    di awal2 baca udah mikir kalo ini tuh ekstra partnya drama kan ada Mirae tapi yg di RS ko Kyuhyun? , terus menduga Donghae ini tuh sodaranya Hyukjae tapi ko Hyukjae gak di RS kalo sodaranya kena musibah? di drama mereka sodaraan kan? ko malah si Kyuhyun yg jdi sepupunya Hyukjae? (beloknyanya jauh banget) Eeeeehh.. taunya bukan ekstra part drama. castnya ada Mirae, hampir bikin gagal paham. 😀

    ff ini bakal ada seriesnya gak nih kak, disodorin Donghae tau2 jadi kangen hehee….

    goodluck lag buat kakak.

    🙂

  15. onniemini berkata:

    aku panik baca kirain…makanya dr awal bca dahi ini berkerut terus g’ ngerti..rupa2 nya beda crta..:-D tp aku ngebayangin mi rae drama jd sedih,.bcanya cpat2 g’ trima soalnya 😀

  16. naynamika berkata:

    Anyeong unnie
    Woow. .Ini memang ngga ada hubungannya dengan drama, awalnya aku pikir ini bisa jadi obat kegalauan dr drama saat baca castnya kyuhyun dan baek mi rae, karena ada kemungkinan happy, tapi kenapa disini pun mereka berpisah malah selama- lamanya,😭😭
    Ff unnie mamang daebak, bikin nangis ni ,pokoknya semangat unnie

    Fighting
    @_@+

  17. Isti berkata:

    Kok rasanya pingin berkata kasar ya… Waksss… Aku kira ini bisa mengobati hatiku yg sakit karena digantung di FF Drama… Ternyata ini malah memperburuk keadaan. Apakah ini karma untukku yang juga selalu menuliskan cerita yang mempunyai sad ending xD

  18. liyahseull berkata:

    Sedih 😥 perih… tapi imana ya. Aku ikhlas2 aja bayanginnya.
    Semoga kyuhyun nemu kebahagiaan yg setara lagi.

  19. fitrihajizah berkata:

    Demi apapun hati Hayati ikutan sakit dan nyesek. Ternyata Mi Rae meninggal padahal beberapa hari lagi mereka mau nikah dan untungnya Kyuhyun mau berusaha bangkit.
    Alhamdullilah Donghae selamat, aku suka sama kalimat “Aku sedang menunggu, segeralah dewasa.” Uunncchhhh

  20. So_Cho berkata:

    kak ini knapa mi rae harus meninggal?? kan kasihan kyuhyunnya nyesek kak…tpi lega juga aku kira ini bagian dri “drama”. Keep writing kak😘

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s