Summer Wish (Part 1)

Summer Wish

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya.~

*

Omelan orang-orang yang sedang kesal tidak dipedulikan oleh Kim Rin yang berlari seperti orang kesetanan di sepanjang jalan kecil yang membelah taman kampus. Rin menambah kecepatan kakinya padahal kondisi di lorong justru lebih dipadati mahasiswi. Saat memasuki sebuah ruang kelas, Rin berhenti hanya beberapa langkah dari pintu masuk, tapi matanya menjelajah ke semua tribune dan ia akhirnya berbalik arah, berlari keluar karena sosok yang dicarinya tidak berada di situ.

Tempat selanjutnya yang dituju oleh Rin adalah kantin kampus. Rin baru dapat bernapas lega setelah matanya menangkap seorang gadis yang sedang membuka mulut sangat lebar dan mendorong masuk sekaligus sebuah sandwich ke dalam mulut sehingga membuat pipi gadis itu mengembung. Tanpa pikir panjang, Rin mengayunkan kaki menghampiri Park Yeo Reom, si gadis yang kesulitan mengunyah karena mulutnya yang kepenuhan itu.

“Dasar penyusup! Apa yang kau lakukan di sini?” Yeo Reom bertanya pada Rin yang notabenenya tidak terdaftar di kampusnya tapi sangat hapal seluk beluk kampus itu saking seringnya Rin bertandang ke situ.

“Kenapa kau tidak mengangkat ponselmu? Rasanya sudah ratusan kali aku menelepon.”

“Ketinggalan di rumah. Ada apa?”

Rin mendekatkan bibirnya ke telinga Yeo Reom untuk membisikkan sesuatu, dan seketika itu juga Yeo Reom tersedak.

UHUUKKK!!!

Park Yeo Reom terbatuk-batuk dan membungkuk sehingga tubuhnya menjadi sejajar dengan tinggi meja, sementara tangan kanannya sibuk meraba-raba permukaan meja dan berhenti pada sebuah gelas yang berhasil ia genggam.

Setelah isi gelas yang ditelannya sukses mendorong masuk roti yang tertahan di kerongkongannya, Yeo Reom berpaling pada Rin, menatap Rin dengan mata yang memerah akibat tersedak tadi. “Kau bilang apa?”

“Lee Sewol ada di Seoul,” Rin mengulangi apa yang telah ia sampaikan sebelumnya.

Yeo Reom menegakkan tubuh. Ia menarik sling bag merah miliknya. Rin mencegahnya dan bertanya, “Kau masih ada kelas, kan?”

Rin benar. Sepuluh menit lagi kelas mata kuliah Ekonomi Internasional akan dimulai. “Lantas?”  tapi Yeo Reom justru menerjang Rin dengan sorot mata yang menjeritkan keheranan karena menurutnya bukan hal itu yang harus mereka pusingkan sekarang. “Hubungi Bora dan Yebin. Kita akan menjamu gadis-gadis Daegu sialan itu!” Yeo Reom memberi perintah lalu melenggang pergi. Kim Rin yang tidak dapat melakukan apa-apa, bergegas menyusul Yeo Reom.

Dengan mobil milik Rin, mereka melesat ke Hannam-dong untuk menjemput Han Bora yang mengeluhkan langit musim panas yang kurang bersahabat dengan kulitnya yang sensitif jika dirinya harus memakai kendaraan umum.

“Kau manja sekali,” gerutu Rin begitu Bora masuk ke mobil dan duduk di jok belakang.

“Mobilku sedang dipakai ibu mertuaku. Hari ini jadwal berkumpulnya bersama geng sosialitanya itu dan mobilnya tiba-tiba saja bermasalah,” terang Bora panjang lebar sementara ia memiliki kesibukan lain dengan tangannya yang dikebas-kebaskan di depan wajah, seolah AC di mobil tidak berfungsi. “Bagaimana dengan Yebin?”

“Dia sudah berada di Gogo’s,” Yeo Reom yang duduk di samping Rin yang sedang mengemudi, menjawab Bora. Ia menyebutkan nama sebuah tempat hiburan.

“Kalian yakin?” Bora bertanya dan nadanya terdengar tidak sabaran.

“Yebin tidak mungkin salah. Dia melihatnya sendiri. Mereka sedang bersenang-senang di tempat itu,” Rin yang pertama kali diberitahu Yebin, berbicara sangat optimis. “Ck, berani sekali Sewol menginjakkan kakinya di Seoul,” gumam Rin santai seolah Seoul adalah miliknya seorang sehingga siapa pun yang hendak masuk ke kota itu harus melapor padanya.

Yeo Reom tersenyum sinis, “Sekarang aku sedang sangat bernafsu untuk menggilas si kutu loncat betina jalang super sialan itu!” umpat Yeo Reom yang memang bermulut tajam dan kasar.

Baik Bora maupun Rin sangat setuju dengan Yeo Reom. Itu terlihat dari sinar mata mereka yang berapi-api karena menyimpan kemarahan. Kelihatan sekali bahwa mereka sudah tidak sabaran untuk tiba di Gogo’s, terbukti dengan Rin yang menambah kecepatan mobil yang dikemudinya secara bertahap.

Semua bermula pada saat keempat sahabat itu menghadiri pernikahan salah seorang teman SMA mereka di Daegu tepat seminggu yang lalu. Lee Sewol yang namanya terus disebut-sebutkan itu adalah gadis yang juga berasal dari sekolah yang sama dengan mereka. Hanya saja, sejak dulu Sewol memang bermusuhan dengan mereka, terutama dengan Yeo Reom. Sewol yang tidak pernah mereka jumpai setelah upacara kelulusan, ternyata sedang berkuliah di Daegu.

Kejadiannya bukan pada saat pesta pernikahan, tapi justru setelahnya. Keempat gadis itu bermaksud bersenang-senang sehingga sebelum kembali ke Seoul, mereka mampir di sebuah kelab yang cukup ternama di Daegu. Tak disangka, Sewol juga berada di kelab itu bersama teman-temannya. Perang mulut sampai kejadian saling dorong terjadi di antara mereka. Kalau saja petugas keamanan tidak melerai, mungkin mereka sudah beradu kekuatan. Drama menegangkan itu berakhir dengan diusirnya Yeo Reom, Bora, Rin dan Yebin dari kelab karena dianggap sebagai biang keributan. Kemarahan keempat gadis itu sudah sampai di ubun-ubun karena mereka teringat kembali bagaimana Sewol menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman menyebalkan karena menganggap dirinya unggul dibandingkan mereka.

Seo Yebin yang melihat kedatangan Yeo Reom, Bora dan Rin langsung menghampiri mereka. Entah sudah berapa lama Yebin mondar-mandir gelisah di depan pintu masuk Gogo’s.

“Dia belum pergi?” Yeo Reom bertanya tidak sabaran.

Yebin mengangguk, “Masih berpesta bersama teman-temannya,” katanya selagi mereka melangkah terburu-buru memasuki kelab.

Hari masih siang, tapi tempat itu sudah ramai oleh kaum muda-mudi. Hingar bingar musik dan lampu yang berkedip-kedip khas tempat hiburan menyambut mereka yang melewati orang-orang yang sedang menari. Beberapa saat mereka berdiam, tapi mata mereka yang menyala-nyala marah itu sudah tertuju pada seorang gadis yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya dengan lincah.

Setelah saling pandang, keempat gadis itu pun melangkah mendekati Lee Sewol yang belum menyadari kedatangan mereka. Sewol baru terhenti dari aktivitasnya karena melihat teman-temannya yang sudah tidak menari lagi. Yeo Reom, Bora, Rin dan Yebin sudah berada di hadapannya.

Sambil melipat tangan di depan dada, Sewol menatap mereka dengan tatapan yang sangat menyebalkan. “Kalian lagi rupanya?” ia menarik senyum sinis di sudut bibirnya.

“Lee Sewol. Tidak seharusnya kau berada di sini,” Yeo Reom menatap tenang sambil tersenyum tipis.

“Kenapa? Ah, jangan-jangan kalian tidak bisa melupakan kejadian di Daegu? Oh, ya ampun!” Sewol tertawa, begitu juga dengan gadis-gadis yang bersamanya.

Yeo Reom juga tertawa. “Hei, kau pikir kalau saat itu petugas tidak ikut campur, kau masih bisa menggunakan kakimu itu untuk menari?” ia melirik kaki jenjang Sewol yang terlihat jelas karena hot pants hitam yang dikenakan Sewol. “Biar kuperjelas saja. Menyingkirlah selagi aku masih berbaik hati.”

 Tawa Sewol kembali berderai. “Park Yeo Reom. Kau menyuruhku pergi? Bagaimana kalau aku tidak mau?” ia maju selangkah mendekati Yeo Reom. “Apa yang akan kau lakukan? Ah…aku lupa, kau dan kelompokmu itu hanya pecundang yang—”

Buugghh!

Tinju Yeo Reom sudah bersarang di wajah Sewol sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Sewol sampai terdorong dan terjerembab. Sewol berpaling sadis pada Yeo Reom.

“Sialan kau!” Sewol menghampiri Yeo Reom dan langsung menarik rambut Yeo Reom.

Pertengkaran tidak bisa dihindari. Yeo Reom dan Sewol pun akhirnya bergulat, tampar-menampar dan semua cara yang bisa dilakukan untuk saling serang. Sementara Bora, Rin dan Yebin hatinya telah terbakar, langsung beradu kekuatan dengan teman-teman Sewol. Pertengkaran mereka menyita perhatian semua orang yang berada di kelab. Teriakan para penonton yang entah sedang menyemangati siapa, tapi yang pasti mereka semua sangat menikmati pertengkaran gadis-gadis itu. Kerumunan manusia bubar begitu mendengar sirine yang bersumber dari mobil polisi, tapi gadis-gadis yang sedang kesetanan tampaknya tidak peduli dan justru semakin beringas.

“Berhenti!”

Para petugas kepolisian sudah berhamburan, melerai dan menahan Yeo Reom, juga semua yang terlibat perkelahian. Beberapa gadis yang mencoba melarikan diri, termasuk Bora, berhasil ditangkap.

***

Begitu tiba di kantor polisi, para gadis kelihatan enggan bergerak keluar dari mobil sehingga polisi terpaksa menyeret mereka. Dengan tubuh yang rapat satu sama lain, keempat gadis itu melangkah masuk ke dalam bangunan bertingkat yang berdiri sangat kukuh. Orang-orang yang berpapasan hanya memerhatikan sekilas. Mereka tiba di sebuah ruangan dan ternyata Sewol beserta kelompoknya sudah tiba di sana terlebih dahulu. Masing-masing duduk di hadapan petugas yang sibuk menanyai mereka sambil mengetik laporan.

Yeo Reom dan ketiga sahabatnya pun disuruh duduk di tempat lain, hanya berjarak beberapa langkah dari Sewol dan teman-temannya itu. Mereka saling melempar tatapan sengit.

“Dia yang menyerangku!” tuding Sewol.

“Kau yang mengacau lebih dulu!” Yeo Reom pun tak mau kalah.

“Pak, di sini kami yang menjadi korban. Seharusnya mereka yang ditangkap, bukan kami!” Sewol mengadu pada polisi di hadapannya yang sudah tidak fokus pada layar komputer karena keributan yang ditimbulkan oleh mereka.

“Diamlah! Kalian jangan berisik!” petugas polisi tersebut membentak sehingga mereka mengatup mulut rapat-rapat.

“Bagaimana ini?” Bora bergumam panik, “Kalau Min Ki tahu aku di kantor polisi, dia pasti akan mengomeliku,” teringatlah ia pada suaminya yang seorang pengacara. Laki-laki itu, entah terlalu mencintai Bora atau justru sudah pasrah dengan kelakuan Bora yang kalau sudah berkumpul dengan geng SMA-nya menjadi agak amnesia terhadap status ‘istri’ yang telah disandangnya sejak tiga tahun terakhir.

“Ibu mungkin akan mengeluarkanku dari daftar keluarga,” keluh Yebin.

Rin hanya memamerkan wajah lesu, sementara Yeo Reom sejak tadi sibuk menutupi wajahnya dengan rambut. Ia terus menunduk, tapi kepalanya menoleh hampir ke segala arah. Sangat gelisah.

Mereka semua akhirnya di masukkan ke dalam sel. Polisi telah menghubungi keluarga mereka masing-masing, jadi sekarang mereka hanya perlu menyiapkan diri dari berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi.

Satu-satunya yang bersikeras dengan tidak memberitahukan identitas diri secara lengkap, apalagi keluarga yang bisa dihubungi adalah Yeo Reom. Meskipun polisi membentak kasar, ia sama sekali tidak berkutik. Pada akhirnya, petugas polisilah yang menyerah setelah urat-urat lehernya tegang karena tak sanggup menghadapi sikap keras kepala Yeo Reom yang justru tak segan-segan balik membentak.

“Kau akan terus mendekam di balik jeruji besi itu jika keluargamu tidak datang menjemput,” sambil mengunci pintu sel, petugas polisi itu berkata pada Yeo Reom yang bersikap malas tahu.

Satu per satu keluarga berdatangan menjemput gadis-gadis yang terlibat perkelahian. Ada yang hanya mengomel, tapi beberapa ibu kelihatan sedang menahan diri untuk tidak menghajar anak gadisnya.

“Kita seperti yatim piatu saja,” Rin berdecak sebal karena yang tersisa di dalam sel itu adalah mereka berempat.

Mereka semua hanya mendesah. Kemudian saling pandang dan baru menyadari betapa berantakannya penampilan mereka saat itu. Pakaian yang koyak, rambut yang acak-acakan dan wajah yang memar. Ada yang memiliki bekas cakar di dahi, bahkan sudut bibir yang berdarah. Tak dapat menahan rasa lucu, tawa keempat gadis itu akhirnya berderai. Mereka tidak peduli pada polisi-polisi yang memandang heran ke arah mereka sambil berdecak dan menggeleng prihatin.

“Yeo Reom?”

Suara itu mengalun penuh tanya dan berbalut keterkejutan, sehingga membuat tawa keempat gadis tersebut berhenti saat itu juga. Jantung Yeo Reom rasanya hampir lepas. Berharap ia salah, tapi itu mustahil karena ia sangat mengenal suara itu. Pelan-pelan mereka menoleh pada pemilik suara bass tadi dan mendapati beberapa orang pria yang berdiri di luar jeruji besi yang mengurung mereka.

“Yeo Reom?” lagi, nama Yeo Reom kembali disebutkan dengan nada yang kedengarannya kurang-lebih sama seperti si pemanggil sebelumnya. Lelaki itu, Kim Jong Woon yang sudah seperti kakak bagi Yeo Reom, yang biasanya berwajah datar bahkan kelihatan terkejut. Memandangi Yeo Reom dan ketiga gadis lainnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Normalnya, Yeo Reom akan menggoda Jong Woon yang jarang berekspresi itu. Akan tetapi, melihat pria paruh baya di sisi Jong Woon yang sedang menatapnya dengan sinar mata yang menyala-nyala, Yeo Reom merasa roh-nya sedang dipanggang.

“PARK YEO REOM!!!!”

Detik selanjutnya, teriakan berkekuatan besar itu menggelegar dasyat serasa hendak memorak-morandakan seisi bangunan kantor Kepolisian Metro Seoul.

***

Dari luar sebuah rumah mungil gaya barat minimalis dan modern, sayup-sayup terdengar suara seorang pria yang terus berbicara tanpa henti sejak dua jam lalu. Bagi Yeo Reom yang sedang duduk bersimpuh dengan kedua tangan yang diangkat tinggi-tinggi, suara itu memekakkan telinganya dan jika dibiarkan lebih lama maka gendang telinganya bisa mengalami kerusakan berat.

Park Yong Shik, pria berperawakan sedang, tak berhenti mengomel sambil mondar-mandir seperti setrika rusak di depan Yeo Reom yang menahan pegal karena sudah dua jam dalam posisi yang sangat menyiksa itu. Agaknya Park Yong Shik lupa bahwa putri kecilnya telah tumbuh dewasa. Lihat saja bagaimana caranya menghukum Yeo Reom, seperti menghukum anak kecil saja, padahal Yeo Reom sudah berumur 22 tahun.

“Angkat tanganmu!” perintahnya ketika menyadari Yeo Reom yang pelan-pelan menurunkan tangan. Gadis itu mendesis dan melakukan apa yang diperintahkan padanya.

“Ayah…bisakah kita duduk membicarakan ini secara kekeluargaan?”

“Kekeluargaan katamu?” Yong Shik berhenti di depan Yeo Reom. “Waktu kau membuat masalah di kelab itu, apa kau berpikir tentang keluargamu? Kau sungguh mencoreng wajah ayahmu ini! BERANI-BERANINYA KAU MUNCUL DI KANTOR POLISI DENGAN CARA YANG SEMEMALUKAN ITU?”

Dengan kurang ajarnya air ludah sang ayah berhamburan jatuh pada Yeo Reom, membuat gadis itu mendesis parah. Satu hal yang Yeo Reom sesali bahwa tidak seharusnya ia mengeluarkan kalimat tadi. Sekarang ayahnya sungguh tidak akan berhenti mengomel dan artinya ia akan lebih lama duduk bersimpuh sementara urat-urat kakinya sudah memberi kode bendera putih. Menyerah.

“APA PERLU AYAH MEMASUKKANMU KE SEKOLAH KEPRIBADIAN?”

Kalau ayahnya terus berteriak seperti itu, maka bisa dipastikan bahwa tidak lama lagi Yeo Reom akan basah kuyup.

 “SEBAGAI HUKUMAN, KAU TIDAK AKAN KUBERI UANG SAKU SELAMA DUA BULAN!”

Mendengar uang sakunya di-cut, Yeo Reom yang selalu menganggap omelan ayahnya sebagai angin lalu dan lebih memusingkan anggota tubuhnya yang tersiksa, tiba-tiba mengangkat wajahnya memandang sang ayah dan berteriak, “WHAT THE FUCK?” dengan suara yang meninggi beberapa oktaf.

“MULUTMU, PARK YEO REOM!”

“AYAH CURANG!”

“SIAPA YANG CURANG? ITU UANG AYAH! TERSERAH MAU AYAH APAKAN!”

“TAPI AKU ADALAH ANAK AYAH!”

“MEMANGNYA KENAPA KALAU KAU ANAKKU?”

“ARTINYA AKU JUGA MEMILIKI HAK ATAS UANG AYAH!”

“CUKUP!”

Mereka berdua pun saling tatap dengan sorot mata yang berkilat-kilat. Tak ada yang mau mengalah. Pasangan ayah-anak itu lebih mirip ‘Tom & Jerry’.

Park Yong Shik tidakpercaya bahwa si keras kepala itu adalah putri kecilnya yang dulu sangat manis. Seraya memijit belakang lehernya, ia berkata lagi, “Sudah, ya,” tapi suaranya terdengar pelan.

Senyuman kemenangan tersungging di bibir Yeo Reom. Jika ayahnya bersuara rendah, itu artinya ayahnya telah menyerah. Yeo Reom terus menatap ayahnya yang berlalu ke dapur dan kembali beberapa saat sambil membawa gelas berisi air.

“Minumlah. Lehermu juga pasti sakit,” Yong Shik menduga bahwa putrinya pun mengalami hal yang sama dengan dirinya; tenggorokkan yang sakit karena berteriak tadi.

Mata Yeo Reom berbinar-binar, “Apa itu artinya aku boleh menurunkan tanganku?” tersenyum sumringah dan langsung berdiri setelah melihat ayahnya mengangguk pelan. Ia menerima gelas yang disodorkan padanya.

Pria itu mengawasi putri kesayangannya yang sedang menghabiskan isi gelas. Yong Shik menghela napas panjang, tak meluputkan pandangannya dari wajah putri satu-satunya yang selalu terlihat ceria. Tumbuh dewasa dibawah didikan sang ayah dan tanpa merasakan kasih sayang seorang ibu, Yeo Reom adalah seorang gadis yang berwatak keras. Meski memiliki rambut panjang hitam bergelombang dan paras yang lembut, sebenarnya Yeo Reom sama sekali tidak feminim. Hal itu disebabkan Yeo Reom yang sejak kecil dikelilingi oleh banyak paman dan kakak laki-laki yang selalu memanjakannya, dan mereka semua adalah rekan kerja ayahnya. Para detektif kasus kejahatan agaknya sulit memperlihatkan sisi lembut sementara mereka setiap hari berhadapan dengan penjahat, dan Yeo Reom memiliki mereka sebagai orang dewasa yang ia contohi.

Ponsel Yong Shik tiba-tiba berbunyi sehingga mengusir semua lamunannya. Yeo Reom hanya mengamati ayahnya yang segera menjawab panggilan masuk itu dan mulai berbicara dengan suara yang terdengar sangat serius.

“Ayah harus pergi,” kata Yong Shik setelah selesai berbicara di telepon. Ia berlalu ke kamar dan keluar sambil mengenakan jaket bahan denim. “Jangan pergi ke mana-mana!” masih menasehati Yeo Reom sebelum menutup pintu.

Tanpa diberitahu, Yeo Reom tahu ke mana ayahnya akan pergi. Ayahnya sangat jarang berada di rumah karena sibuk mengejar penjahat. Park Yong Shik adalah seorang detektif yang mengepalai tim tiga unit kriminal di Kantor Polisi Metro Seoul. Itulah sebabnya Yong Shik sangat geram tadi karena disaat ia sibuk mengejar penjahat demi menjaga keamanan masyarakat, putrinya justru seorang pembuat onar.

Pintu yang terbuka membuat Yeo Reom menoleh dan mendapati ayahnya sedang melongok, “Satu hal lagi. Ayah serius terhadap hukumannya,” dan kembali menutup pintu bahkan sebelum Yeo Reom sempat membuka mulut.

“AYAAAAAHHHH!!”

Teriakan Yeo Reom pun membahana menyentuh seluruh ruangan dalam rumah. Sambil menghentak-hentakkan kaki seperti anak kecil, Yeo Reom berlalu ke dalam kamarnya dan begitu melihat kasur empuk yang seperti sedang memanggil-manggil namanya penuh kasih sayang, ia langsung membuang dirinya dengan kasar ke atas kasur itu.

Yeo Reom berusaha memejamkan mata, mencoba melupakan kejadian menyebalkan yang dilaluinya hari ini. Tubuhnya terus menggeliat demi menemukan posisi yang nyaman. Akan tetapi, karena suasana hatinya sedang buruk, maka segala upaya yang ia lakukan terasa sia-sia. Yeo Reom duduk dengan gerakan yang sangat cepat. Kekesalannya sedang memuncak. Yang dilakukannya kemudian adalah menarik-narik rambutnya yang sudah kelihatan berantakan seperti rambut nenek sihir dan menjatuhkan lagi tubuhnya ke kasur lalu kakinya menendang-nendang udara kosong.

Park Yeo Reom adalah tipe yang tidak suka memikirkan sesuatu yang berpotensi membuatnya sakit kepala. Selama ini Yeo Reom menjalani hidup dengan bersenang-senang. Namun begitu Yeo Reom mendengar hukuman yang diberikan ayahnya, ia merasa hidupnya akan segera berakhir. Membayangkan ia tak bisa leluasa melakukan kesenangannya saja sudah membuatnya mual-mual. Hidupnya memang terlihat santai, tapi ia membutuhkan uang untuk menjalani hidup yang super ‘santai’ itu. Sementara sang ayah yang adalah satu-satunya sumber pendapatan justru memvonisnya dengan hukuman yang baginya kedengaran kurang-lebih sama seperti hukuman mati.

Untuk sesaat kekalutan Yeo Reom diputus oleh dering riang yang bersumber dari benda yang terletak di atas nakas. Tanpa menggeser posisi tubuh, hanya tangan Yeo Reom yang bersusaha menggapai ponsel yang berisik itu.

Kau dimarahi ayahmu?” itu suara Rin.

“Hm, kami bertengkar.”

Hei, Rin. Memangnya kapan Yeo Reom dan ayahnya akur?” Yebin berkata dengan santainya, tapi efeknya sangat tajam di hati Yeo Reom.

Seandainya Yebin ada di hadapan Yeo Reom, pasti saat ini mulut Yebin sudah disumpal dengan bantal. Sayangnya, memang benar kalau Yeo Reom selalu beradu mulut dengan ayahnya. Bukan karena mereka adalah ayah dan anak yang bermusuhan. Bukan itu. Yeo Reom tahu bahwa ayahnya sangat mencintainya, dan begitu pun sebaliknya. Mereka berdua hanya memiliki satu sama lain sejak ibu Yeo Reom meninggal dunia. Pertengkaran mereka sebenarnya lebih kepada adu mulut konyol yang akan berakhir dengan makan bersama setelah keduanya kelaparan. Kalau Yeo Reom tidak membuat ramyeon, maka ayahnyalah yang akan menyediakan makanan yang lebih manusiawi di atas meja makan sebab Yeo Reom itu perempuan berjiwa laki-laki yang berprinsip bahwa dapur adalah tempat keramat yang tidak boleh terlalu sering dikunjungi sehingga satu-satunya kehebatan Yeo Reom adalah ramyeon. Atau tidak, mereka akan memesan makanan dari luar.

Berapa lama hukumanmu?” giliran Bora yang bertanya. Mereka sedang melakukan pembicaraan empat arah.

“Dua bulan.”

DUA BULAN?” paduan suara ketiga gadis lainnya terdengar kompak. “Kau serius? Jadi selama dua bulan itu kau hanya akan ke kampus dan setelahnya kau mendekam di rumah seperti seorang putri yang terkurung dalam kastil?” Rin yang cerewet bertanya cepat, entah ia menyempatkan diri untuk bernapas atau tidak.

Ketiga sahabat baik Yeo Reom tahu hukuman seperti apa yang biasanya diterima Yeo Reom. Ayah Yeo Reom selalu konsisten dengan menghukumnya untuk tidak pergi ke mana pun selain kampus. Ayahnya bahkan menugaskan seorang detektif untuk mengawasi Yeo Reom agar menjalani hukuman dengan benar. Juga, hukuman terlama yang pernah diterima Yeo Reom adalah dua minggu.

“Bukan,” sergah Yeo Reom malas. “Selama dua bulan aku tidak akan diberi uang saku,” rasanya hati Yeo Reom seperti sedang dicabik-cabik oleh pitbull galak peliharaan tetangga di depan rumahnya.

WHAT?” lagi-lagi, paduan suara itu terdengar meninggi.

“Kau tahu? Hatiku benar-benar sakit karena hukuman ayahku yang tidak berperikemanusiaan itu. Ini jauh lebih kejam dibandingkan saat aku tahu bahwa Song Joong Ki mengkhianatiku dengan menikahi Song Hye Kyo,” Yeo Reom memegangi dadanya sambil memejamkan mata.

Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Bora.

Yeo Reom mengerjap. Seperti baru tersadar akan sesuatu, ia menegakkan tubuh dan melompat turun dari tempat tidur. “Kita harus bertemu sekarang juga!”

Kau sedang dihukum, kan?” Rin mencoba mengingatkan Yeo Reom kalau-kalau gadis itu mengalami amnesia karena shock.

Dibandingkan menggunakan sisir yang jelas-jelas tampak di depan matanya, Yeo Reom justru merapikan rambut dengan jari-jari tangannya. Yeo Reom masih bertaut di depan meja rias yang adalah hadiah ulang tahunnya ke-17, pemberian sang ayah yang menjadi mubazir karena tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Lalu Yeo Reom menyahut Rin dengan ketus, “Dua bulan tidak diberi uang saku, bukan berarti selama itu aku harus membusuk di kamar ini!”

Setidaknya, bersihkan dulu dirimu,” ujar Yebin, bagaikan paranormal yang tahu apa yang sedang dilakukan Yeo Reom saat ini.

“Kau menyuruhku mandi? Ini keadaan darurat, aku tidak punya waktu untuk itu. Lagipula, aku sudah dibersihkan oleh air maha suci ayahku tadi,” Yeo Reom menutup pintu kamarnya dan tergesa-gesa menuruni anak tangga. Kamarnya berada di lantai dua.

“Guys, omong-omong, kali ini aku tidak bisa bergabung dengan kalian, ya,” Bora berkata sambil terkekeh pelan. “Setelah kekacauan tadi, aku akan membujuk Min Ki. Dia terus memberengut padaku.

Diantara mereka berempat, Han Bora-lah satu-satunya yang telah menikah. Bukan karena faktor ekonomi atau apalah itu, karena Bora sendiri berasal dari keluarga mampu. Ayahnya memiliki sebuah perusahaan tekstil besar. Bora yang mengaku lelah menghadapi pelajaran di sekolah, memilih untuk tidak melanjutkan ke bangku kuliah. Hanya delapan bulan setelah lulus, Bora dengan berani memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya yang saat itu baru menyelesaikan pendidikan hukum di Kyunghee University.

Inilah saat yang tepat untuk mengenakan lingerie yang kubeli beberapa hari yang lalu. Lihat saja, seberapa kuat Min Ki mampu bertahan menghadapi jurus mautku,” suara nakal Bora berhasil membuat Yebin dan Rin terkikik geli membayangkan adegan-adegan dewasa yang tiba-tiba saja melintas di kepala mereka. Terkecuali Yeo Reom yang hanya manyun karena sedang uring-uringan memikirkan uang sakunya yang hilang.

Bora, aku menyemangatimu. Tunjukkan pada Lee Min Ki, siapa Han Bora sebenarnya!” Rin berujar penuh semangat.

Buat dia bertekuk lutut padamu!” Yebin ikut menambahkan.

Ketiga sahabatnya yang seolah lupa dengan permasalahan yang sedang dihadapinya membuat Yeo Reom mendesah kasar. “Bora, memangnya apa saja yang kau dan Min Ki lakukan tiga tahun ini? Kalau kalian adalah pasangan muda yang penuh gejolak dan selalu membara, seharusnya kalian sudah memiliki paling tidak dua atau tiga orang anak. Apa kalian hanya bermain petak umpet? Sebaiknya kalian berkonsultasi ke dokter,” si lidah tajam Yeo Reom yang selalu berkata-kata tanpa memikir perasaan orang lain akhirnya mengeluarkan taringnya.

Han Bora sudah hampir meledak, tapi ditahan perasaannya itu karena memang begitulah sifat Yeo Reom. “Kami juga tidak bisa memaksakan diri untuk segera memiliki anak, kan? Min Ki pun sangat sibuk di firma hukumnya.

Aku sudah sampai di kafe,” Yebin mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi perdebatan-perdebatan lain. “Kalian di mana?” ia bertanya lagi karena belum melihat Rin dan Yeo Reom di kafe itu.

Aku juga sudah sampai,” sahut Rin yang baru saja memarkirkan mobilnya.

“Baiklah, tunggu aku. Lima menit lagi aku tiba di situ,” Yeo Reom mengakhiri percakapan. Ia sedang berada di dalam sebuah bus yang melaju di jalanan Kota Seoul.

***

Setelah menutup pintu, Kim Heechul berjalan menghampiri seorang pria yang tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon. Cho Kyuhyun yang tadi terdengar sangat fasih dalam bahasa Jepang, meletakkan kembali gagang telepon di tempat semula. Ia memandangi Heechul yang menunggunya selesai menelepon.

“Bagaimana? Ada perkembangan?” tanya Kyuhyun. Ia mengistirahatkan punggungnya yang pegal dengan bersandar di tempat duduk yang selama ini telah menjadi takhtanya.

“Agak sulit bagi agen penyalur jasa tenaga kerja untuk menemukan orang baru. Mengingat dalam bulan ini mereka telah mengirimkan lima orang dan tidak sampai seminggu, orang-orang itu mengundurkan diri.”

Seraya memijit pelipis, Kyuhyun mendesah, “Ck, Haneul…,” gumamnya pelan. “Apa mereka sungguh memasang iklan di koran? Bagaimana mungkin tidak ada orang yang berminat?”

“Tapi tadi pihak agen menghubungiku,” mendengar penuturan Heechul, sontak saja Kyuhyun mengangkat wajah dan kembali menatap serius pada pria yang berdiri di hadapannya itu. “Ada satu orang yang mengirimkan berkas pagi tadi, tapi—”

“Tapi apa?”

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Heechul lebih dulu menyodorkan sebuah map kepada Kyuhyun. “Untuk berjaga-jaga, aku meminta mereka mengirimkan CV-nya,” terang Heechul pada Kyuhyun yang sedang membaca lamaran yang baru saja diterimanya. “Sebenarnya, perusahaan agen tidak begitu yakin untuk mempekerjakan gadis itu. Dia masih berstatus sebagai mahasiswa sehingga dia mungkin tidak akan fokus bekerja karena berbenturan dengan kesibukan di kampus. Selain itu, dia tidak memiliki pengalaman apa-apa.”

Kyuhyun memandangi foto seorang gadis yang tersenyum lebar, “Park Yeo Reom,” dan membaca nama yang tertera pada curriculum vitae si pelamar. “Lahir di bulan November, tapi namanya Yeo Reom?” Kyuhyun tersenyum geli memikirkan apa sebenarnya yang ada di otak orangtua Yeo Reom ketika memberi nama itu padanya. “Selain namanya yang terdengar cacat, kupikir tidak ada masalah dengan gadis ini,” katanya lagi setelah membaca riwayat pendidikan Yeo Reom.

Seberandal apa pun  Yeo Reom, ia memiliki prestasi akademik yang sangat memuaskan. Sejak kecil, Yeo Reom selalu menduduki peringkat pertama di kelas bahkan menjadi juara umum di angkatannya. Apalagi Yeo Reom dengan mudah berhasil masuk ke Seoul National University karena mendapat rekomendasi. Gadis itu adalah mahasiswi semester akhir Jurusan Ekonomi di SNU yang namanya konsisten terdaftar sebagai penerima beasiswa prestasi.

Okay. Lanjutkan saja.”

“Ya?” Kim Heechul terkejut. Agaknya ia tidak menyangka bahwa Kyuhyun tidak menolak.

“Lagipula kita sudah mempekerjakan tenaga berpengalaman, tapi mereka pun menyerah. Apa salahnya dicoba? Anggap saja kita sedang mengulur waktu untuk menemukan orang yang tepat.”

“Baik.”

***

“Berhentilah menekuk wajahmu seperti itu. Kau bertindak seolah-olah dunia akan kiamat,” kesal Bora yang merasa terabaikan. Ia menatap sengit pada Yeo Reom yang begitu suntuk dan hanya mengaduk-aduk jus blueberry tanpa minat.

“Duniaku memang sudah berakhir,” Yeo Reom bergumam pelan. Kehilangan semangat hidup.

Pandangan Bora beralih pada Yebin dan Rin yang baru saja membuka pintu kafe tempat mereka sering berkumpul. “Syukurlah kalian segera sampai,” katanya menyambut dua gadis yang baru bergabung dengannya dan Yeo Reom. “Aku bisa mengalami penuaan dini karenanya,” ia sedang mengeluh tentang Yeo Reom.

Yebin tertawa pelan, paham akan maksud Bora. “Maaf, tadi kami ada kelas,” katanya sambil menarik minuman Yeo Reom yang belum berkurang sedikitpun. Seo Yebin dan Kim Rin berkuliah di kampus yang sama, Ewha Womans University.

“Bagaimana ini?”

Yebin, Rin dan Bora menoleh pada Yeo Reom yang lagi-lagi bergumam pelan. Mereka saling pandang dan hanya mengedikkan bahu melihat tampang suram Yeo Reom yang menyerupai zombie.

“Bulan depan, idolaku akhirnya comeback. Disaat yang hampir bersamaan, kickers akan mengeluarkan koleksi terbarunya. Lalu baru-baru ini kudengar bahwa Suzue Miuchi akan segera menamatkan Topeng Kaca. Seharusnya aku sangat berbahagia, kan? Tapi kenapa? Kenapaaaa?”

Yeo Reom mendengus, lalu tertawa pelan penuh ketidakpercayaan akan nasib buruk yang sedang menimpanya. Tawanya yang mengerikan itu pun mulai membahana. Yeo Reom menggila.

“Kalian tahu? Aku selalu iri pada Maya. Dia sangat beruntung karena memiliki Mawar Jingga—si pengagum rahasia—yang kaya raya dan begitu memujanya. Masumi …kenapa aku sangat merindukanmu? Masumi, aku tahu kau sangat mencintai Maya, tapi biarkan aku berada di sisimu. Aku rela menjadi gundikmu asalkan kau memberiku banyak uang.”

Gadis-gadis yang bersama Yeo Reom berpura-pura tidak mendengar apa-apa karena mereka tahu siapa Maya dan Masumi yang sedang disebut-sebut Yeo Reom. Maya Kitajima dan Masumi Hayami adalah nama dua tokoh utama dalam serial Topeng Kaca yang merupakan manga favorit Yeo Reom. Mereka bertiga hanya memasang tampang datar melihat Yeo Reom yang bertambah gila kalau sedang stress.

Kegilaan Yeo Reom teralihkan oleh ponselnya yang berbunyi nyaring. Sebenarnya Yeo Reom sedang tidak berselera untuk menjawab telepon itu, ia masih ingin meratapi hidupnya, tapi karena ponselnya tidak mau berhenti berbunyi maka ia tidak memiliki pilihan lain.

“Hallo?” Yeo Reom menjawab teleponnya dengan malas-malasan. “Ya, benar. Aku Yeo Reom. Park Yeo Reom yang malang dan penuh penderitaan yang sedang berbicara saat ini,” saat seseorang yang terhubung dengannya sedang mengklarifikasi identitasnya, jawaban seperti itulah yang terlontar dari mulut Yeo Reom. Ketiga sahabatnya sudah mendesah parah. Perlahan-lahan ada perubahan yang terjadi pada ekspresi Yeo Reom, “Apa?” tanyanya tidak yakin. “APA?” ia bertanya lagi dengan suara yang keras sehingga membuat ketiga sahabatnya menatap heran padanya. “Aku? Aku…sedang berada di Stars Café. Ya? Ah…iya, baik. Tentu,” tangan Yeo Reom langsung terkulai lemas. Wajahnya kelihatan tegang.

“Kau kenapa?”

“Siapa yang tadi menelepon?”

“Dia bilang apa?”

Rin, Yebin dan Bora sangat bernafsu menyerang Yeo Reom dengan pertanyaan. Namun, Yeo Reom belum berkutik. Ia hanya mengedipkan matanya berkali-kali.

“Aku…diterima…”

“Apa?”

“Aku diterima bekerja..,” Yeo Reom masih tidak percaya.

“Bekerja? Maksudmu, pekerjaan yang kau lamar kemarin?” Rin sama tidak percayanya dengan Yeo Reom. Pasalnya, baru kemarin ia membantu Yeo Reom menulis lamaran setelah melihat lowongan pekerjaan di koran.

“Apa maksudnya?”

“Tunggu dulu. Apa kami melewatkan sesuatu?”

Bora dan Yebin yang tidak tahu-menahu semakin tidak sabaran dan terus mendesak Yeo Reom maupun Rin untuk menuntaskan rasa penasaran mereka berdua.

“Ada lowongan pengasuh anak yang dipasang di koran dan Yeo Reom memasukan lamaran untuk posisi itu, tapi aku tidak mengira bahwa jawabannya akan datang secepat ini,” terang Rin. Tatapan Rin beralih pada Yeo Reom, “Kau yakin tidak salah dengar?”

Yeo Reom mengangguk dan kemudian berkata, “Orang itu bilang, dia akan menemuiku untuk melakukan wawancara.”

Ketiga gadis lainnya pun terlonjak, jauh lebih terkejut daripada sebelumnya, “Apa menurut kalian ini tidak aneh? Agak tidak normal ‘kan kalau justru dia yang datang mencari Yeo Reom untuk diwawancarai?” logika Bora sedang bekerja dan ia mendapat anggukan persetujuan dari Rin dan Yebin.

“Jangan-jangan ini modus penipuan baru?” tebak Yebin.

“Aku juga berpikir begitu. Mungkin saja itu hanya akal-akalan untuk menjebak calon korban,” imbuh Rin.

Yeo Reom tampak setuju dengan perkataan sahabat-sahabatnya sehingga ia tidak membantah.

“Orang itu bilang akan datang ke sini, kan?” pertanyaan Bora dijawab Yeo Reom dengan anggukan. “Baiklah, kurasa kita semua harus melihatnya bersama-sama. Kita harus menyelidiki orang itu.”

“Aku setuju!”

Akhirnya keempat gadis itu mulai memberi perhatian secara intens ke arah pintu masuk kafe. Mereka memerhatikan setiap orang yang masuk ke kafe dan mulai menduga-duga apakah orang itu adalah orang yang tadi menelepon Yeo Reom atau bukan. Namun sejauh ini, mereka yang berdatangan ke situ memang murni adalah pelanggan. Lalu sampailah saat dimana seorang pria berpenampilan rapi terlihat mendorong pintu kafe yang terbuat dari kaca.

“Kupikir itu orangnya. Lihat, dia memandang ke sini.”

Mereka mengawasi seorang pria berbalut jas hitam. Rambut pria itu tertata sangat rapi. Sorot matanya yang tenang terus memerhatikan keempat gadis yang juga sedang mengawasinya. Lalu ia berjalan menghampiri gadis-gadis itu.

“Tapi dia cukup tampan,” Rin yang selalu lemah terhadap pria tampan, terlihat tidak yakin bahwa orang itu adalah penipu.

“Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya. Jangan terpedaya. Bisa saja dia penipu ulung yang menggunakan penampilannya untuk memikat korban,” Yebin tak ingin menyerah terhadap instingnya.

“Nona Park Yeo Reom?” pria itu menyapa dengan tegas, matanya langsung tertuju pada Yeo Reom. Ia telah melihat foto Yeo Reom sebelumnya sehingga bisa mengenali gadis itu.

“Ah, iya,” Yeo Reom lantas berdiri dan mengangsurkan tangannya pada pria itu.

“Aku yang menghubungimu tadi. Kim Heechul,” jawab pria itu sembari menjabat tangan Yeo Reom.

Beberapa saat setelah itu, Yeo Reom sudah duduk berhadapan dengan pria yang mengaku bernama Kim Heechul.

“Bisa kita mulai sekarang?”

“Ya, silakan.”

“Tapi aku tidak berpikir bahwa teman-temanmu juga akan duduk di situ,” Heechul menatap bingung pada Rin, Bora dan Yebin yang duduk di sofa yang sama dengan Yeo Reom, mengapit Yeo Reom di tengah-tengah mereka. Apalagi ketiga gadis itu menatapnya penuh curiga.

“Ah, mereka ini sudah seperti saudara bagiku. Tidak apa-apa, mereka tidak akan mengganggu. Abaikan saja mereka. Kau tidak keberatan, kan?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya akan memberitahu beberapa hal terkait pekerjaanmu. Jadi kita bisa berbicara dengan santai.”

“Oh, syukurlah. Aku tidak suka berbicara dibawah tekanan.”

Celetukan yang dengan entengnya keluar dari mulut Yeo Reom membuatnya harus menerima sikutan dari Bora dan Yebin yang duduk di sisinya. Kim Heechul pun mulai membicarakan banyak hal dengan Yeo Reom.

“Omong-omong, berapa gajiku?” Yeo Reom langsung to the point ke inti pertanyaan yang sudah menari-nari di dalam benaknya. Tampak kurang peduli dengan tugas dan kewajibannya nanti sebab hal itu akan mengikuti dengan sendirinya sesuai bayaran. Yeo Reom tidak berharap gaji yang tinggi karena ia cukup tahu posisi pengasuh anak tidak menjanjikan bayaran mahal. Bagi Yeo Reom, asal ia dapat menerima lembaran won, maka tangannya yang menderita gatal sejak vonis kejam ayahnya akan segera sembuh.

“Sepuluh juta won per bulannya.”

“Oh, sepuluh ju…,” Yeo Reom mengangguk-angguk, tapi kemudian ia terpekik dengan mata yang mendelik, “SEPULUH JUTA?” bukan hanya suaranya, tapi suara ketiga sahabatnya juga ikut melengking naik melebihi ketinggian suara Mariah Carey.

“Ya, dan jika kerjamu bagus, kau bisa mendapatkan kenaikan gaji.”

“KENAIKAN GAJI?” mereka berempat kembali berpaduan suara.

Mereka masih bergeming. Jantung Yeo Reom berpacu kencang sejak mendengar nominal yang disebutkan padanya. Gila. Ini jauh melebihi ekspektasinya. Apakah bayaran seorang pengasuh anak di negaranya memang setinggi itu? Jadi, untuk apa ia bersusah-susah kuliah kalau menjadi pengasuh anak saja sudah bisa membuatnya kaya.

“Aku sungguh akan mengasuh anak manusia, kan?” Yeo Reom bertanya cemas. Otak gilanya mulai memikirkan hal lain. Memang lowongannya disebutkan dengan jelas untuk menjadi pengasuh anak, tapi siapa yang tahu kelanjutannya. Bagaimana kalau ternyata yang diasuhnya justru anak singa? Sontak Yeo Reom menggeleng kasar. Kengerian yang membuatnya merinding.

Kim Heechul sedang berusaha keras menahan perasaannya, mencoba menghadapi para gadis yang sejak tadi memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan. Posisinya jadi berbalik karena Heechul merasa justru dirinyalah yang sedang diwawancarai.

“Anak manusia,” jawab Heechul sambil tersenyum lebar tapi giginya merapat. Geram.

“Kau seorang penipu, ya?” selidik Yebin yang bertanya terang-terangan.

Heechul mendesah karena pertanyaan itu sudah lebih dari sekali ditujukan padanya. Berkali-kali Heechul menarik napas panjang. Ia tidak menjawab, dan langsung beranjak. Sebelum pergi, ia mengeluarkan sebuah benda dari dompetnya. Benda yang kelihatan seperti kartu nama itu ia letakkan di atas meja. “Kau bisa memulainya besok. Datanglah ke alamat yang tertera di situ. Kau harus mencari tahu sendiri apakah ini penipuan atau bukan.”

***

Cheongdam-dong, Distrik Gangnam.

Pintu gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya membuat mulut Park Yeo Reom terbuka. Sudah lima menit Yeo Reom berkutat di depan gerbang itu. Tiba-tiba saja ia memikirkan berapa biaya yang dibutuhkan hanya untuk membangun gerbang se-wow itu, yang bentuk dan desainnya selaras dengan bangunan yang terlihat dari balik teralis gerbang. Sebuah rumah berlantai dua dengan jendela-jendela besar. Rumah bergaya mediteranian yang memiliki desain elegan, klasik dan mewah.

Bergelut dengan otaknya yang lebih memusingkan uang, Yeo Reom menggeleng kasar, berusaha untuk mengembalikan fungsi otaknya ke mode normal. Lantas gadis itu menekan bel pada video intercom yang menempel di sisi kanan gerbang. Hanya beberapa saat setelah itu, gerbang pun terbuka.

Sementara menjajaki susunan paving block menuju rumah mewah yang berada beberapa meter di depannya, mata Yeo Reom memandang liar ke segala arah. Rumah itu dikelilingi oleh halaman yang cukup luas dengan rumput hijau yang sangat terawat, juga beberapa pohon ginko yang tumbuh di pekarangan menambah kesejukan.

Yeo Reom berhenti hanya untuk mengawasi lebih detail rumah itu. Pilar-pilar kokoh di depan rumah, dinding rumah berwarna ivory yang didominasi oleh material marmer, begitu juga lantainya. Di depan pintu utama berkonsepkan renaissance dengan daun pintu yang memiliki motif atau ornamen tak biasa, Yeo Reom masih termangu.

Lalu pintu itu terbuka dan tampak dari balik pintu, seorang wanita yang menurut tebakan Yeo Reom adalah staff atau pelayan. Yeo Reom melangkah masuk dan saat itu juga, ia kembali dibuat terperangah dengan interior design rumah yang banyak menggunakan unsur dekoratif, yang menurutnya sungguh memiliki nilai seni yang tinggi. Ada chandelier atau lampu gantung yang bergelayut di langit-langit, mendukung konsep klasik dan elegan. Pencahayaan dalam rumah begitu glowing dan tampak mewah.

Sebenarnya sejak kemarin Yeo Reom sangat penasaran dengan pekerjaannya. Entah untuk siapa ia harus bekerja sampai-sampai mereka rela merogoh saku cukup dalam hanya untuk menggaji seorang pengasuh. Akan tetapi, setelah melihat sendiri rumah tempatnya bekerja yang berada di kawasan sebuah distrik mewah di negaranya, Yeo Reom pikir sepuluh juta won pasti jumlah yang tidak ada apa-apanya bagi mereka.

Yeo Reom melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang sangat luas itu. Di tengah ruangan terdapat sebuah tangga besar yang bercabang ke kiri dan ke kanan pada bagian tengah, membentuk huruf ‘Y’. Di tengah-tengah dinding di antara cabang tangga, terpampang pigura yang sangat besar. Pigura itu membingkai sebuah potret setengah badan seseorang, yaitu seorang wanita yang menurut Yeo Reom memiliki kecantikan yang sangat tidak biasa. Seperti seorang dewi. Ekspresi dingin yang tersirat di wajah wanita itu tidak membuatnya kehilangan kecantikan, meskipun Yeo Reom merasa sorot mata wanita itu membuatnya membatu.

“Nona Park Yeo Reom, maaf membuatmu menunggu.”

Kim Heechul yang tiba-tiba muncul, cukup membuat Yeo Reom tersentak. Yeo Reom tidak begitu memerhatikan dari arah mana pria itu datang sebab ia seperti tersihir oleh wanita dalam foto berukuran besar itu.

“Tidak, Tuan Kim. Baru beberapa saat aku tiba.”

“Panggil saja aku, Sekretaris Kim.”

“Ah, ya. Sekretaris Kim.”

“Mari, silakan ikut denganku.”

Yeo Reom mengikuti Kim Heechul menuju sebuah ruangan di lantai satu. Mereka duduk santai di dalam sana. Dari jendela besar, Yeo Reom dapat melihat sebuah kolam renang di samping rumah itu.

“Jadi,” suara Heechul mengalihkan lagi perhatian Yeo Reom pada pria itu. “Kau sudah memikirkan matang-matang? Karena yang akan kau asuh adalah Nona Haneul.”

“Haneul?”

“Ya, Cho Haneul. Umurnya delapan tahun,” Heechul mendorong sebuah map yang berisi kontrak kerja yang di dalamnya memuat semua tugas dan kewajiban Yeo Reom. “Semua yang perlu kau lakukan sudah tertuang di situ. Tenang saja, sebenarnya pekerjaanmu hanya lebih kepada menemani nona agar tidak kesepian.” katanya lagi.

Yeo Reom menarik tiga lembar kertas dan mulai membaca isinya yang sarat dengan bahasa hukum. Sementara itu, Kim Heechul tetap memberi beberapa penjelasan padanya.

“Kau harus mengawasi aktivitas nona sepanjang hari. Kecuali di sekolah. Ini adalah jadwal kegiatan nona,” Heechul menyodorkan kertas lainnya. Yeo Reom bergidik ngeri membaca rentetan aktivitas yang harus dilalui seorang gadis berumur delapan tahun. Bahkan anak sekecil itu hidupnya sudah terjadwal. Ck, sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang berjiwa bebas. “Nona harus makan tepat waktu, dan untuk berjaga-jaga, kau harus tahu jenis makanan yang tidak boleh disentuh oleh nona.”

“Abalone, jamur dan anggur?” Yeo Reom mengernyit setelah membaca hal-hal yang pantang bagi anak kecil yang menjadi topik pembicaraan mereka.

“Ya, nona alergi terhadap ketiganya. Apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan?”

Mata tahu apa yang dinginkan oleh hati Yeo Reom. Mata itu begitu berbinar-binar hanya setelah melihat nominal yang tertera pada kontrak kerjanya. Luar biasa.

“Tidak. Semua sudah sangat jelas,” Yeo Reom tersenyum penuh makna. Tugasnya akan sangat mudah. Hanya mengawasi anak kecil dan sepuluh juta won menjadi miliknya.

“Kalau begitu kau boleh menandatangani kontraknya.”

“Baik,” dengan penuh semangat Yeo Reom membubuhkan tanda tangan di atas namanya. Pikirannya sudah meluap-luap dengan sepuluh juta won.

Sambil melirik arloji di tangan kirinya, Heechul berkata, “Nona akan segera pulang dari sekolah. Akan kuperkenalkan kau padanya.”

“Ah, tentu saja.”

“Setelah ini, apa kau butuh bantuan untuk memindahkan barang?”

“Ya?”

“Barang-barangmu. Kau pun harus segera berkemas, kan?”

“Aku?”

“Sesuai dengan point sebelas dalam klausul kontrak, kau harus tinggal di rumah ini agar selalu berada di sisi Nona Haneul.”

“APA?”

Buru-buru Yeo Reom melihat ulang kontrak kerja. Benar saja, di sana tertulis dengan jelas bahwa dirinya wajib tinggal di rumah itu. Astaga! Matanya tadi hanya fokus pada upahnya sehingga ia tidak begitu menghiraukan yang lainnya.

“Apa ada masalah dengan itu?”

Yeo Reom yang tidak tahu harus bagaimana dan karena ia masih terkejut, ia hanya tertawa. Namun di dalam hati, Yeo Reom sedang menjerit bodoh. Bagaimana caranya ia pindah dari rumahnya ke rumah itu? Memikirkan alasan yang harus ia uturakan pada ayahnya saja sudah membuatnya uring-uringan. Apa ia kabur saja dari rumah dengan alasan tidak diberi uang saku oleh ayahnya? Tidak! Ayahnya mungkin akan langsung menjebloskannya ke dalam penjara. Lalu, apa itu artinya ia harus menyerah saja? Yeo Reom menggeleng. Siapa lagi yang bisa memberinya sepuluh juta won? Fix. Sepuluh juta won adalah nilai yang harus diperjuangkan.

“Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya tidak menyangka akan tinggal di rumah semewah ini,” elak Yeo Reom dan tertawa lagi. Baiklah, Yeo Reom akan memikirkan jalan keluarnya nanti.

Yeo Reom dan Heechul akhirnya beranjak pergi, mereka berjalan ke ruangan luas tadi sehingga lagi-lagi Yeo Reom mengarahkan pandangannya ke foto wanita cantik itu. Ia menjadi penasaran tentang wanita itu.

“Paman Heechul!”

Suara riang terdengar berteriak memanggil nama Heechul. Baik Heechul maupun Yeo Reom langsung memberi perhatian pada seorang anak kecil yang sedang tersenyum lebar dan berjalan menghampiri mereka.

“Nona,” Heechul yang baru saja menundukan kepala, memberi hormat pada gadis kecil itu, lantas tersenyum.

Yeo Reom menduga bahwa anak itu pasti Haneul. Sebelumnya ia tidak memiliki gambaran apa-apa, hanya tahu kalau anak sepuluh juta won-nya adalah seorang gadis kecil berusia delapan tahun.

Anak itu memiliki rambut kecoklatan yang alami. Kulit putih, hidung mancung, bibir merah yang juga sangat alami. Kesimpulan yang dapat ditarik Yeo Reom adalah Haneul, seorang gadis kecil yang sangat cantik. Anak itu pasti akan tumbuh menjadi idola para pria. Satu hal yang disadari Yeo Reom bahwa Haneul adalah versi kecil dari wanita yang potretnya terpampang di dinding itu.

Saat mata Yeo Reom bertemu dengan mata Haneul, gadis kecil itu tiba-tiba berhenti tersenyum. Iris cokelat terangnya menelisik Yeo Reom, penuh selidik.

“Nona, mulai hari ini kau akan ditemani olehnya.”

Haneul masih tidak bereaksi dan terus mengamati Yeo Reom dari ujung kaki hingga ujung kepala. Yeo Reom lantas mengambil langkah awal dengan berjalan mendekati Haneul. Bagaimanapun, ia harus berusaha untuk berteman dengan gadis kecil itu, kan?

“Kau pasti Haneul? Namaku Yeo Reom. Park Yeo Reom. Anggap saja aku kakakmu,” sambil mengulurkan tangan, Yeo Reom memamerkan senyum terbaiknya untuk memikat hati anak itu. Biasanya anak kecil mudah luluh oleh sebuah senyuman.

Bergantian Haneul memandangi tangan Yeo Reom yang masih terulur dan wajah Yeo Reom. Sekian lama seperti itu, lalu Haneul berpaling, menoleh pada Kim Heechul.

“Paman. Mengapa membawa gadis bertampang bodoh ini ke sini?”

Mendengar celetukan bernada ketus yang keluar dari mulut Haneul, tubuh Yeo Reom membeku.

Sialan!

Senyuman Yeo Reom masih bertahan, tapi di dalam hatinya sedang mengumpat kasar. Melihat tidak ada niat Haneul untuk menjabat tangan Yeo Reom yang masih terulur bodoh, Yeo Reom lantas menarik lagi tangannya.

“Nona, jangan berkata seperti itu,” tegur Heechul yang merasa tidak enak pada Yeo Reom.

Sepuluh juta won-ku. Sepertinya ini tidak akan mudah.

Entahlah, tapi Yeo Reom memiliki firasat buruk tentang anak kecil yang sedang melayangkan tatapan menyebalkan padanya.

“Haneul, kau sudah pulang rupanya.”

Di tengah suasana hati Yeo Reom yang sedang panas-panasnya, suara itu tiba-tiba menyambangi telinganya.

Pria yang sedang menuruni tangga dari sebelah kiri cabang tangga itu adalah Cho Kyuhyun. Setelan jas abu-abu gelap tampak sangat sempurna di tubuhnya yang tinggi dan tegap. Rambut cokelat gelapnya tertata rapi sehingga mempertontonkan jidatnya yang kelihatan seksi. Ia memiliki garis rahang yang lembut tapi tampak tegas disaat yang bersamaan. Alis mata yang tebal. Hidung yang mancung. Bibir yang penuh dan lagi-lagi tampak seksi dalam pandangan Yeo Reom.

Bagaimana Yeo Reom harus mengungkapkannya? Karena belum satu jam lamanya berada di situ, Yeo Reom sudah berkali-kali dibuat terkesima, baik itu karena rumah maupun karena penghuninya. Mungkinkah sekarang ia sedang berada di Olympus, tempat tinggal para dewa dan dewi?

Sialan.

Kembali Yeo Reom mengumpat, tapi bukan karena sikap Haneul melainkan karena wajah pria yang sudah berdiri di hadapannya itu.

Setidaknya, jika anak itu bersikap menyebalkan, aku dapat melihat wajah tampan kakaknya untuk menghibur hatiku.

“Ayah!”

Seperti ditarik oleh gravitasi bumi, rahang Yeo Reom jatuh sehingga mulutnya menganga lebar begitu mendengar bagaimana Haneul memanggil ‘kakaknya’ itu. Haneul yang berlari ke pelukan Kyuhyun, telah menghancurkan imajinasi Yeo Reom. Hanya satu kata yang diteriakkan Yeo Reom di dalam hati. DAMN!

*Bersambung*

 

Hai semuanya. Akhirnya, saya bisa menyapa kalian dengan ff yang baru.

Btw, tentang ‘Drama’…don’t worry, masih ada sekali extra part yang akan di-posting, jadi mohon kesabarannya ya.

Sy gak tau kalian bakalan suka atau tidak dengan ff ini nantinya, tapi sy berharap semoga kalian merasa terhibur.

Satu lagi, semoga ff ini bisa bikin move on dari ‘Drama’ hohoho

Kalau ada koreksi, silakan disampaikan. Gak usah sungkan. Ok? Makasih. Sampai jumpa…hm, kira-kira (paling cepat) dua minggu lagi 😀

Iklan

105 respons untuk ‘Summer Wish (Part 1)

  1. Yanti berkata:

    anyyeong chia udah lama banget aq ga baca ff…

    dan ga nerusin ff yg lain disini… tapi liat post an ff bru tertarik buat baca ff ini .. dr segi cerita awal aq suka sieh… langsung lanjut ke next part dulu yah… (^O^)

  2. MII berkata:

    annyeong eonnie.. aku Mii masih ingat nggak? ^^ *abaikan* hari ini aku comeback kembali keduni FF (?) dan ff eonnie lah yang menjadi tempat pertamaku mendarat saat kembali kedunia ini *nggak penting*. eonnie aku fans eonnieeeee!!!!!! *teriak gaje* sudah beberapa ff karya eonnie yang aku baca dan semua itu membuat aku semakin mencintai Kyuhyun dan dirimu eonnie *wajah memerah*< karna itulah aku sudah memutuska *wajah serius* aku akan membaca semua ff karyamu eonnie. jadi… terimalah aku sebagai pembacamu yg berharga *nyengir bareng Eunhyuk*.

    salam rindu and salam kenal kembali Marchia.
    Miina KIm atau Mii ^^.

  3. Mrs choi berkata:

    Lama ga ke sini, ternyata ada ff baru ga sabar baca lanjutannya, dan oww Kyu jadi hot papa yes😍

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s