Summer Wish (Part 2)

Summer Wish

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya.~

*

Pintar. Tampan. Kaya. Seorang pria jika memiliki—paling tidak—satu dari tiga kriteria itu, maka dirinya akan mendapat perhatian tersendiri dari wanita. Bagaimana bila seorang pria memenuhi ketiga kriteria tersebut?

CEO Hongjin Group sangat terkenal, terutama di kalangan wanita karena kepintarannya, ketampanannya dan tentu saja karena status konglomerat yang disandangnya. Orang itu adalah Cho Kyuhyun, pria dengan tinggi badan 180 cm yang mampu membunuh para wanita dengan karismanya yang dinilai sangat mematikan. Hot daddy berumur 37 tahun yang memiliki seorang putri bernama Cho Haneul.

“Sialan!”

Park Yeo Reom terus mengumpat pada laptop tak berdosa yang terletak di atas ranjangnya. Han Bora, Seo Yebin dan Kim Rin yang meskipun lama-kelamaan merasa terganggu dengan umpatan Yeo Reom, mencoba untuk fokus pada laptop di hadapan mereka.

“Di rumah orang ini kau bekerja? Serius?” Rin bertanya, tapi matanya tak berpindah dari foto Cho Kyuhyun. Sejak tadi mereka terus berkelana di internet demi mencari tahu lebih detail sosok pria yang mendadak menjadi topik pembahasan mereka.

“Mengetahui fakta bahwa istrinya telah lama meninggal dunia, orang normal pasti akan bersimpati, kan? Tapi kenapa aku justru merasa senang? Ternyata aku sangat jahat,” Yebin berdecak.

“Sialan!”

“Kau ini terus saja mengumpat,” tegur Bora yang merasa terganggu karena mulut Yeo Reom tak berhenti mengeluarkan kata kasar.

“Orang ini,” Yeo Reom memandang lekat layar laptopnya, pada foto Kyuhyun. “Ketampanannya benar-benar brengsek!”

“Sebenarnya kau sedang memuji atau mengutuk?” Bora mendelik ngeri pada Yeo Reom.

“Itu pujian tertinggi yang pernah kuanugerahi pada seseorang,” jawab Yeo Reom santai. “Kalian lihat sendiri seperti apa penampakan duda limited edition ini, bukan? Mengapa bisa-bisanya dia berwujud seperti—aish, damn. Super sialan brengsek!” dan kembali ia mendesis tajam.

Yang seperti itu adalah sebuah pujian? Pujian tertinggi katanya? Yebin, Bora dan Rin hanya menggeleng miris karena kondisi kejiwaan Yeo Reom yang dinilai sangat abnormal.

Internet telah memberitahu mereka banyak hal tentang Cho Kyuhyun, sang CEO tampan dari Hongjin Group. Kyuhyun berasal dari keluarga kaya, meskipun status konglomerat keluarganya tidak termasuk dalam peringkat sepuluh besar. Ia dijodohkan dan menikah dengan cucu satu-satunya Hongjin Group yang merupakan konglomerat terkuat di negara mereka. Jadi, ahli waris Hongjin Group yang sebenarnya adalah mendiang istri Kyuhyun. Sebelum meninggal dunia, wanita itu mewariskan seluruh kekayaannya kepada Kyuhyun dan juga kepada putri mereka. Cho Haneul yang masih dibawah umur, belum diperkenankan mengurus perusahaan tetapi ia sedang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan Hongjin.

Mengetahui bahwa anak sepuluh juta won-nya adalah seorang anak yang dibesarkan sebagai seorang pewaris, perasaan Yeo Reom menjadi tidak enak. “Aku punya firasat buruk tentang anak ini,” Yeo Reom memandangi wajah malaikat Haneul yang tengah menggenggam jemari ayahnya di foto lain yang diambil pada sebuah pesta.

“Memangnya kenapa?”

“Pertama kali bertemu saja dia sudah membuatku naik pitam. Apa wajahku terlihat seperti orang bodoh?”

Yeo Reom menatap bergantian pada Rin, Bora dan Yebin. Berharap mendapat dukungan dari ketiga sahabatnya. Akan tetapi, dengan mata bulat Yeo Reom yang tak berkedip saking bernafsunya ia meminta pembelaan, ditambah lagi mulutnya yang setengah terbuka itu membuat tiga gadis yang sedang dipelototinya ingin sekali mengangguk antusias, membenarkan bahwa berekspresi seperti itu membuat tampang Yeo Reom terlihat sangat…kau tahu apa maksud mereka, kan?

“Nah,” Yeo Reom tersenyum sumringah begitu melihat Rin, Yebin dan Bora yang pada akhirnya memilih menggeleng daripada menerima segala macam kata-kata pedas Yeo Reom yang mampu mengoyak roh, jiwa dan raga mereka. “Bagaimana bisa bocah itu berkata begitu padaku? Mengatai bodoh Park Yeo Reom yang tak terkalahkan, si pemegang medali emas olimpiade dalam berbagai cabang? Awas! Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengan anak kecil keparat itu!”

Selama beberapa menit, Yeo Reom masih berbicara dengan menggebu-gebu. Mengungkit kembali sejumlah prestasi yang telah diukirnya sambil tetap menyelipkan umpatan kepada Haneul yang dinilai sangat kurang ajar dan telah melukai harga dirinya. Sementara itu, Yebin, Bora dan Rin hanya melongo hebat. Terkadang mereka tidak percaya jika gadis yang sedang mengomel di hadapan mereka itu tercatat sebagai anggota Mensa, yaitu sebuah organisasi internasional untuk orang-orang yang mempunyai IQ tinggi.

“Bagaimana dengan ayahmu?” Yebin yang telinganya telah panas, lantas melempar sebuah pertanyaan yang berhasil menyumbat mulut Yeo Reom yang sejak tadi terus mengeluarkan lengkingan-lengkingan tajam.

“Kau harus segera pindah ke rumah itu, lalu bagaimana caranya memberitahu ayahmu?” Rin ikut mendengungkan rasa cemasnya.

“Aku juga tidak tahu. Kalian punya ide?” tarikan napas Yeo Reom berubah menjadi berat. “Kalau aku minggat begitu saja, ayah pasti akan mengerahkan bawahannya untuk mencariku. Aku tidak bisa luput dari pengawasan ayah.”

“Bagaimana kalau kau menulis surat dan mengatakan pada ayahmu bahwa kau tidak akan pulang sebelum uang sakumu dikembalikan?” usul Rin.

“Hei, Rin. Kau pikir ayahku akan bereaksi dengan surat konyol semacam itu?”

“Lalu kau punya cara lain?” Rin mendengus sebal.

“Kenapa kau tidak berkata jujur saja pada ayahmu?”

Perkataan Bora sukses mengalihkan perhatian tiga gadis lainnya. Mereka menatap serius padanya. “Maksudmu?” Yeo Reom ingin Bora memberi penjelasan yang lebih terperinci.

“Katakan saja pada ayahmu bahwa kau ingin mencoba mandiri dan tidak selalu bergantung pada ayahmu. Karena itu, kau akan mencari pekerjaan sampingan.”

Mereka semua terdiam memikirkan apa yang baru saja dikemukakan oleh Bora. Mungkin karena sudah menikah jadi pikiran Bora menjadi sedikit lebih dewasa dibandingkan sahabat-sahabatnya.

“Menurutmu, ayahku akan setuju?”

“Jadi kau punya ide yang lebih baik dari ini?” Bora balik bertanya dan Yeo Reom pun kembali terdiam.

***

Malam itu, Park Yong Shik pulang dalam keadaan letih. Setelah memarkirkan mobil, ia pun masuk ke dalam rumah. Namun saat membuka pintu, Yong Shik dibuat terkejut dan secara refleks ia bergerak mundur hingga punggungnya menyentuh daun pintu yang telah tertutup.

Yeo Reom sudah menanti di balik pintu sambil tersenyum lebar, “Selamat datang, Ayah,” dengan kedua tangan yang diletakkan diperut, ia membungkukkan tubuhnya membentuk sudut empat puluh lima derajat.

Entahlah, tapi jantung Yong Shik mulai berdebar-debar tak biasa. Baru kali ini Yeo Reom menyambutnya pulang. Biasanya, sepulang dari bekerja, Yong Shik hanya disuguhkan oleh pemandangan rumah yang berantakan, sementara anak gadisnya justru tertawa cekikikan di depan telivisi dengan penampilan urak-urakan. Tapi kali ini, seisi rumah begitu bersih dan rapi. Bahkan nyaris tidak terlihat debu di lantai dan perabot.

“Ayah pasti lelah,” keheranan Yong Shik bertambah manakala Yeo Reom menghampirinya dan langsung mengapit lengannya. Sejak kapan Yeo Reom begitu peduli? “Ayah juga sudah lapar, kan? Aku sudah menyiapkan makanan untuk Ayah,” kerutan di dahi Yong Shik kian dalam. Biasanya Yeo Reom hanya akan memasak dalam keadaan sangat terpaksa.

Park Yong Shik yang masih terheran-heran hanya menurut saja waktu Yeo Reom membawanya ke ruang makan dan langsung memintanya duduk. Begitu melihat hidangan di atas meja, debaran jantung Yong Shik bertambah cepat. Ada apa dengan Yeo Reom? Mengapa anak itu bertingkah sangat aneh?

“Kau membeli semua ini?”

“Tidak, tapi aku yang membuatnya.”

Putrinya sama sekali tidak bisa memasak sehingga tadi Yong Shik berpikir bahwa makanan yang telah disiapkan Yeo Reom adalah ramyeon, seperti biasanya. Namun melihat makanan dengan berbagai macam lauk-pauk yang teratur rapi di atas meja, ditambah mendengar pengakuan Yeo Reom tadi, rasanya air mata Yong Shik hampir saja menetes jatuh. Anaknya sudah normal.

Seseorang tidak mudah untuk berubah. Apalagi mengubah tabiat yang telah mendarah daging, pasti akan membutuhkan usaha yang keras dan tentu saja waktu yang cukup lama. Namun melihat Yeo Reom yang berubah dalam sehari, Yong Shik yang sudah bersiap menyuap makanan ke dalam mulut, mendadak mengurungkan niatnya.

“Ada yang kau sembunyikan dari ayah?” selidik Yong Shik. “Kau melakukan sesuatu, kan?”

“Ih, Ayah selalu saja curiga padaku,” Yeo Reom tersenyum simpul. “Makanlah terlebih dahulu, Yah,” katanya lagi.

Tidak. Pasti terjadi sesuatu. Park Yong Shik hapal betul gelagat anaknya. Kalau tidak ada yang disembunyikan Yeo Reom, maka pasti ada yang diinginkan oleh gadis itu. Bisa dibilang, ini adalah sebuah sogokan. Yong Shik pikir kemungkinan ada kaitannya dengan uang saku, tapi kali ini ia akan bersikap tegas kepada Yeo Reom. Sambil terus memerhatikan Yeo Reom yang masih tersenyum penuh misteri, Yong Shik akhirnya menyuap makan ke dalam mulut, sesuatu yang disesalinya kemudian. Mata Yong Shik melotot tajam dan ekspresi wajahnya terlihat begitu mengerikan. Belum sedetik makanan itu berada di dalam mulut, tapi sudah harus dimuntahkan lagi.

“Ayah? Ayah kenapa?” Yeo Reom ikut panik dan menyodorkan air minum kepada ayahnya. “Supnya terlalu pedas, ya? Kalau begitu makan yang lain saja.”

Pedas katanya? Ini jauh lebih mengerikan daripada kata pedas. Bahkan kata-kata saja tidak cukup untuk menjelaskan kemahadasyatan kreasi Yeo Reom di dapur. Wajah Park Yong Shik tampak pucat pasi dan ia lantas menggeleng cepat, menolak makanan lain yang disodorkan Yeo Reom. Satu sudah cukup untuk menggambarkan rasa dari makanan lainnya. Laki-laki itu menyesal karena tidak seharusnya tadi ia percaya begitu saja bahkan sampai tersentuh. Masakan Yeo Reom sama sekali tidak enak. Bahkan dimakan oleh hewan pun rasanya tidak pantas.

“Katakan saja,” Yong Shik dengan lidahnya yang masih terasa kebas dan nyaris mati rasa, terlihat menambahkan air ke dalam gelasnya. “Kau pasti menginginkan sesuatu,” katanya lagi setelah meneguk habis minuman dalam gelas tadi.

“Aku ingin bekerja!”

Untuk kedua kalinya, Yong Shik tersedak. “Kau bilang apa?” ia menatap Yeo Reom yang sedang memamerkan ekspresi polos.

“Sebenarnya aku sudah menemukan pekerjaan. Aku memberitahu ini kepada Ayah karena aku akan jarang berada di rumah, kecuali pada akhir pekan.”

“Kau sungguh ingin bekerja?” Yong Shik sangat tidak yakin pada putrinya. Yeo Reom itu sukanya hanya main-main saja. “Pekerjaan seperti apa? Kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, kan?” ia cemas kalau-kalau pekerjaan anaknya itu berbahaya.

Yeo Reom menggeleng cepat. “Tentu saja tidak. Aku hanya akan mengasuh anak.”

Park Yong Shik berpaling cepat, “MENGASUH ANAK?” kalau Yeo Reom bilang akan menjadi pramusaji di tempat-tempat hiburan atau bahkan yang terburuk adalah menjadi pengedar narkoba, mungkin Yong Shik tidak seterkejut ini sekalipun ia tidak mengharapkan hal itu terjadi. Tapi menjadi pengasuh anak? “Yeo Reom, jangan lakukan itu! Mengurus dirimu saja kau tak sanggup apalagi mengurus anak orang lain?” mendadak berbagai macam kengerian mulai menari-nari di benak Yong Shik. “Kau bahkan hampir membunuh ayahmu hanya dengan sesendok sup mengerikan tadi,” Yong Shik meringis. Bagaimana jika putrinya berakhir di penjara karena tanpa sengaja membuat anak yang diasuhkan keracunan makanan?

“Tugasku hanya merawat anak, bukan memasak makanannya. Lagipula aku sudah diberitahu apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Jadi aku hanya akan mengikuti aturan kerja yang sudah ditetapkan. Tenang saja, tidak akan terjadi hal-hal buruk. Juga, anak yang menjadi sumber sepuluh jut…ah, maksudku, anak yang akan kujaga itu bukan berasal dari kalangan biasa jadi pekerjaanku tidak akan begitu berat. Ada banyak staff di rumah itu.”

Entahlah,  mendengar Yeo Reom yang berusaha menenangkannya, Yong Shik justru semakin gelisah. Tapi ia melihat keyakinan dalam mata Yeo Reom. Anak itu, baru kali ini terlihat serius akan sesuatu.

“Sebenarnya, aku mengatakan ini hanya untuk memberitahu Ayah, jadi kalau aku tidak berada di rumah Ayah tidak akan kebingungan dan mencariku. Aku sudah bertekad, kalaupun Ayah tidak memberi ijin, aku akan tetap bekerja. Kecuali, ayah mengembalikan uang sakuku.”

“Baiklah.”

Okay, thanks. APA?” Yeo Reom baru sadar belakangan. “Ayah setuju aku bekerja?” ia pikir ayahnya akan menolak dan mati-matian melarangnya keluar rumah.

“Tapi kau harus bertanggung jawab atas keputusanmu. Ayah tidak ingin mendengar hal-hal jelek, apalagi mendapat tuntutan karena ulahmu. Kau mengerti?”

Yeo Reom sudah melompat-lompat senang sepeti anak kecil. Ia langsung mencium pipi ayahnya, “Terima kasih,” katanya dan bergegas ke kamarnya meninggalkan derap langkah kakinya pada saat menaiki tangga. “KAU YANG TERHEBAT! I LOVE YOU!” teriakan itu menggema hampir ke seluruh penjuru rumah, disusul kemudian oleh suara pintu kamar yang tertutup keras.

Sekian menit Yong Shik hanya tersenyum karena tingkah Yeo Reom, tapi begitu melihat hidangan melimpah di atas meja, senyum di wajahnya hilang seketika. Bergantian bulu kuduknya yang meremang.

***

Pukul sebelas siang, Park Yeo Reom baru tiba di rumah Keluarga Cho. Yeo Reom memang sudah memberitahu Kim Heechul terlebih dahulu bahwa dirinya akan sedikit terlambat mengingat ada beberapa hal yang harus dibereskan di rumah. Dirinya harus pandai-pandai mengambil hati sang ayah, bukan?

Sambil menenteng tas yang berisi pakaian, Yeo Reom dituntun oleh seorang pelayan wanita menuju kamar yang akan ditempatinya. Sebuah kamar yang berada di lantai dua.

“Kalau kau berjalan di koridor ke arah timur, kamar Nona Haneul berada di sana.”

Yeo Reom hanya mengangguk karena terlalu sibuk memerhatikan detail kamarnya yang begitu cantik. Pelayan itu pun pergi, meninggalkan Yeo Reom yang mulai mengitari kamar barunya. Kamar itu cukup luas untuk seorang yang hanya berstatus pengasuh. Ranjangnya juga lebih besar daripada ranjang milik Yeo Reom di rumahnya. Ada dua nakas di sisi kiri dan kanan ranjang, yang masing-masing terdapat lampu tidur di atasnya. Sebuah meja rias dengan motif ukiran yang indah. Tirai transparan berwarna biru muda yang menutupi jendela-jendela besar tampak menjuntai hingga ke lantai.

Lalu Yeo Reom membuka lemari, bermaksud mengatur pakaiannya di situ tapi diurungkan niatnya setelah matanya tertuju pada ranjang yang sudah menggodanya sejak pertama kali ia masuk ke dalam kamar. Yeo Reom lantas melompat ke atas kasur yang luar biasa lembut dan empuk. Ia kelihatan sangat menikmatinya. Sekarang Cho Haneul sedang pergi berkuda, jadi Yeo Reom bisa sedikit bersantai.

Tadinya Yeo Reom hanya ingin beristirahat sebentar saja, tapi ia keterusan. Betapa terkejutnya Yeo Reom karena saat kelopak matanya terbuka, tidak ada lagi cahaya matahari yang tadi begitu indah saat menerobos jendela kamar. Di luar hanya kelihatan cahaya yang bersumber dari rumah mewah itu dan juga lampu-lampu taman yang memberi warna dalam kegelapan malam. Tubuh Yeo Reom secara refleks melompat dari ranjang yang telah menyihirnya dan membuatnya lupa akan tugas-tugasnya di rumah itu.

Kaki Yeo Reom melangkah tergesa-gesa, dan mulutnya pun terus mengumpat. Ia mengutuki dirinya sendiri, terlebih mengutuki ranjang yang selalu menjadi kelemahan utamanya. Ini bahkan hari pertamanya bekerja, dan ia sudah mengacau.

Kalau mengikuti apa yang dikatakan pelayan wanita tadi, kamar Haneul berada di bagian timur. Yeo Reom setengah berlari di koridor yang cukup lebar, dan langsung membuka pintu sebuah ruangan yang memang tepat berada di ujung koridor.

“Maaf aku—”

Tidak ada siapa pun. Yeo Reom masuk dengan langkah yang pelan dan penuh kehati-hatian. Kamar itu jauh lebih luas daripada kamar miliknya. Bahkan Yeo Reom menduga luas kamar itu sama seperti rumahnya. Hal yang membuat dahi Yeo Reom sedikit berkerut karena ia tidak mendapati desain kamar serba merah muda dengan wallpaper Barbie atau mungkin Frozen. Tidak ada susunan boneka di lemari. Bahkan tidak ada satu pun boneka di ranjang dengan bedcover berwarna biru gelap yang terlihat suram untuk seorang anak perempuan berumur delapan tahun.

Ada suara pintu yang baru terbuka. Agaknya bersumber dari dalam kamar itu karena suaranya terdengar cukup jelas. Tahu sendiri, kamarnya sungguh luas dan ada tembok yang membagi ruang dalam kamar sehingga membatasi jarak pandang Yeo Reom. Gadis itu masih berdiri menanti, tapi sosok yang tiba-tiba melintas di depan matanya bukan Haneul. Jantung Yeo Reom seperti berhenti, dan kemudian berpacu gila-gilaan.

She’s dying!

Cho Kyuhyun yang hanya berbalut handuk putih yang melingkar di pinggangnya, tampak belum menyadari kehadiran Yeo Reom. Ia berjalan santai sambil mengebas-ngebaskan rambut basahnya dengan tangan. Sampai saat dimana Kyuhyun hampir melepas handuk yang merupakan satu-satunya penutup di tubuhnya, dan tiba-tiba matanya dituntun pada gadis itu.

“Astaga!” seru Kyuhyun. Ia sangat terkejut. “Nona…Park Yeo Reom?” tanyanya keheranan sambil membetulkan kembali lilitan handuk. Diperhatikannya Yeo Reom dengan rambut yang luar biasa berantakan itu sedang berdiri seperti patung. Tak bergerak sama sekali. Mata Yeo Reom yang begitu bulat hanya melotot dan tak berkedip. “Ada apa? Kenapa kau berada di dalam kamarku?”

Jangankan bersuara, membuka mulut saja Yeo Reom tak sanggup. Seumur-umur, ini pertama kalinya Yeo Reom melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang pria yang nyaris telanjang. Tahukah apa yang dirasakan Yeo reom saat ini? Gadis itu merasa daging di tubuhnya telah berubah menjadi zat yang senyawa dengan es krim, dan ada sebuah matahari yang bersinar terik tepat di atas ubun-ubunnya. Yeo Reom meleleh.

Agaknya Kyuhyun tahu apa yang sedang terjadi. “Jadi kau tersesat,” katanya. Suara beratnya terdengar agak serak, tapi mengalun dengan lembut.

Double kill.

Malaikat dalam diri Yeo Reom seakan memberinya sebuah tinju yang bersarang tepat di wajahnya sehingga kesadaran gadis itu kembali terkumpul.

“Ma-maaf. Maafkan aku!” Yeo Reom yang panik, berkali-kali membungkukkan tubuh, meminta maaf pada Kyuhyun. Kemudian, ia berbalik hendak pergi.

“Nona Park Yeo Reom.”

Panggilan Kyuhyun membuat langkah Yeo Reom terhenti. Sebenarnya Yeo Reom sudah tidak tahan berlama-lama di situ karena terlalu berbahaya bagi kesehatan mentalnya. Tulangnya bahkan terasa lunak sehingga ia tak sanggup melangkah. Tapi, mau tidak mau, ia terpaksa berbalik dan menatap Kyuhyun.

“Kau belum makan, kan? Turunlah, kita akan makan malam bersama,” ujar Kyuhyun. Laki-laki itu tersenyum pada Yeo Reom.

Triple kill.

Sebisa mungkin Yeo Reom berusaha untuk tidak ambruk karena seluruh persendiannya lemas. Tentu ia tidak ingin keluar dari kamar itu dengan merayap dalam keadaan nyaris sekarat. Yeo Reom sungguh tak sanggup menanggapi ucapan Kyuhyun. Kocar-kacir Yeo Reom mengayunkan langkah seribu meninggalkan Kyuhyun yang sebelah alisnya meninggi karena keheranan dengan tingkah Yeo Reom.

Yeo Reom tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di balik pintu kamar Kyuhyun. Sambil memegangi dadanya, gadis itu mengumpat. “Sialan! Apa-apaan duda limited edition itu?” menahan pekikannya. Di kamar itu, roh-nya sudah tiga kali terbunuh.

Lalu kembali Yeo Reom melangkahkan kakinya, dan tiba-tiba saja sebuah pintu terbuka, mengagetkan dirinya. Ia terperangah pada Cho Haneul yang ikut memandang padanya. Lalu mendesis setelah mengetahui bahwa kamar Haneul memang berada tepat di sebelah kamar Kyuhyun. Sekarang ia sedang menyalahkan pelayan yang memberinya informasi yang kurang jelas.

“Kau tidak punya cermin?” Haneul bertanya dengan nada yang terdengar datar. “Cih, dasar bodoh!”

Kalau saja Haneul bukan anak bernilai sepuluh juta won, maka Yeo Reom sudah menghajar anak itu dengan jurus jiu-jitsu.

Dengan sangat terpaksa, Yeo Reom menahan nafsu membunuhnya dan membiarkan Haneul melangkah angkuh meninggalkan dirinya beberapa meter di belakang.

“Kurcaci brengsek! Untung saja ayahmu tampan.”

Suara pintu terdengar berdebam kasar karena dibanting Yeo Reom. Gadis itu melangkah mondar-mandir di dalam kamar. Hatinya kehilangan damai sejahtera setelah bertemu Haneul tadi.

Namun, bayangan topless Cho Kyuhyun kembali menyerang saraf-saraf Yeo Reom. Yeo Reom lantas memegang dadanya, “Syukurlah,” ia merasa lega karena jantungnya tidak menghilang.

Pemandangan tadi hampir membunuhnya. Melihat Kyuhyun dalam balutan jas pada waktu itu saja sudah membuat mulut lancang Yeo Reom mengumpat, apalagi melihat Kyuhyun yang hanya berbalut selembar handuk seperti tadi. Laki-laki itu memang tidak memiliki otot-otot menonjol, tapi bahunya begitu lebar, dan sepasang tulang selangkanya pun tampak begitu seksi. Terlebih lagi, dada Kyuhyun yang bidang telah berhasil membuat Yeo Reom ingin bersandar di sana.

Ya ampun! Yeo Reom menggeleng kasar kepalanya. Kalau begini terus, ia bisa kehilangan gelarnya sebagai gadis polos dan lugu.

Okay, berhenti berfantasi di alam liar karena lambung Yeo Reom sudah memberi kode merah. Yeo Reom lantas bergerak menghampiri cermin di meja rias dan alangkah terkejut dirinya karena melihat seperti apa penampilannya. Yeo Reom memang memiliki gaya tidur yang buruk, jadi setiap kali bangun tidur, rambutnya akan sangat berantakan seperti nenek sihir. Diperhatikan lagi lebih detail wajahnya dengan membawa dirinya lebih dekat ke cermin. Matanya melotot sempurna pada bekas air liur yang telah mengering di sudut-sudut bibirnya.

“What the hell?” pekik Yeo Reom. Tadi Kyuhyun melihatnya seperti itu juga, kan? Ah, pantas saja Haneul mengatainya begitu. Yeo Reom meringis kesal karena tanpa sengaja, ia telah membenarkan anggapan Haneul tentangnya. Bodoh.

Suasana di meja makan ternyata tidak seperti apa yang dibayangkan Yeo Reom. Terlalu senyap sehingga bernapas pun rasanya Yeo Reom harus berhati-hati. Tidak seperti di rumahnya yang selalu ribut jika ia telah bertemu ayahnya dan mulai beradu pendapat. Mendadak Yeo Reom merindukan ayahnya.

Dari delapan kursi yang mengitari meja makan berbentuk persegi panjang, hanya tiga kursi yang terisi. Yeo Reom dan Haneul duduk berhadapan, sedangkan Kyuhyun duduk di bagian kepala meja. Ada tiga orang pelayan wanita yang berdiri tak jauh dari meja makan, mereka standby untuk melayani sang pemilik rumah.

Berbagai makanan lezat yang telah terhidang di atas meja membuat Yeo Reom lupa akan kerinduannya pada sang ayah, ck. Di rumahnya tidak pernah ada makanan seperti itu. Tahu sendiri seperti apa keahliannya dalam memasak. Kalaupun ada makanan enak, itu karena mereka memesan dari luar. Perut Yeo Reom sudah bersenandung penuh nafsu, dan ia sangat bersemangat mengambil semua jenis makanan yang ada. Apa yang dilakukannya membuat Kyuhyun tersenyum, sementara Haneul hanya menggeleng heran dan menatap penuh keprihatinan.

“Kenapa dia harus makan bersama kita?” Haneul yang sangat risih dengan keberadaan Yeo Reom, bertanya pada ayahnya.

“Meja makan di rumah ini selalu sepi, kan?” Kyuhyun menanggapi pertanyaan Haneul dengan balik bertanya.

“Tapi—”

“Tapi apa?”

Sergah Kyuhyun, sorot matanya yang tajam membungkam mulut Haneul sehingga anak itu tidak jadi mengemukakan rasa keberatannya. Haneul sedikit mendengus dan kembali mengunyah makanannya. Kyuhyun adalah tipe yang menyukai suasana ceria penuh kehangatan di meja makan. Namun, selama ini dirinya dan Haneul selalu makan berdua saja, kadang bertiga jika Heechul ada di situ.

Tampaknya Yeo Reom tidak merasa bahwa dirinya menjadi topik perselisihan ayah dan anak di meja makan beberapa saat tadi. Ia mungkin tidak sadar apa yang sedang terjadi. Makanan mampu membuat Yeo Reom mengabaikan apa yang ada di sekeliling dirinya. Dua hal yang bisa membuat gadis itu sangat fokus adalah tidur, dan makan.

“Omong-omong, aku penasaran akan satu hal,” Kyuhyun menyudahi makan malamnya. “Yeo Reom?” suara Kyuhyun yang menyebut namanya, telah menghentakkan Yeo Reom dari sihir makanan.

“Ya?” Yeo Reom berhenti mengunyah, mata bulatnya menatap serius kepada Kyuhyun. Sorot matanya sangat polos sehingga mengundang senyum Kyuhyun.

“Kenapa namamu Yeo Reom?”

Yeo Reom paham ke mana arah pertanyaan itu, sebab ini bukan kali pertama ia menerima pertanyaan yang sama. “Aku pun pernah bertanya pada ayah. Kenapa Yeo Reom? Kenapa bukan Ga Eul?” bulan kelahiran Yeo Reom adalah November, menjelang akhir musim gugur. Jika ingin menamai anak menurut musim, maka nama yang cocok untuk gadis itu seharusnya Ga Eul yang berarti musim gugur. “Alasannya sangat simple. Karena ibuku menyukai musim panas,” dan ia menjawab alasan mengapa ia diberi nama seperti itu. Yeo Reom sendiri bermakna musim panas.

“Banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di musim panas,” Kyuhyun sedikit memahami alasan ibu Yeo Reom menyukai musim panas.

Haneul yang menyelesaikan makan malamnya dalam kebisuan, lantas berdiri, “Aku sudah selesai,” katanya dan melenggang pergi begitu saja.

Kyuhyun memerhatikan putrinya selama beberapa saat dan kemudian ia kembali memalingkan wajahnya pada Yeo Reom yang belum berniat berhenti makan, seolah gadis itu punya lambung cadangan yang perlu diisi.

Hingga akhir Yeo Reom sadar, dan ia kaget karena hanya mendapati dirinya dan Kyuhyun di situ. Matanya yang bertemu dengan mata Kyuhyun berhasil membangkitkan kembali bayang-bayang tubuh Kyuhyun yang dilihatnya tadi. Mungkin Yeo Reom perlu membasuh wajahnya dengan sup panas dalam wadah kaca yang berada tepat di hadapannya itu untuk menyucikan kembali pikirannya.

“Aku. Akan. Menemui. Haneul,” Yeo Reom berbicara dengan kata yang terputus-putus dan kaku seperti robot. Ia mengayunkan langkah cepat seperti orang dikejar setan tanpa sedikitpun berpaling, meninggalkan Kyuhyun yang lagi-lagi dibuat heran karena tingkahnya yang tak terduga.

Ingin sekali Yeo Reom membenturkan kepalanya ke tembok. Barangkali dengan begitu otaknya dapat bekerja normal. “Shit!” tapi yang dapat dilakukan Yeo Reom hanyalah mengumpat sambil sesekali memukul kepalanya. Ia bergegas menuju kamar Haneul.

Yeo Reom sedikit terkesiap memandangi seisi kamar Haneul. Memang tidak ada wallpaper bergambar Barbie atau Frozen di situ. Kamarnya dicat berwarna cream lembut. Perabot di dalamnya pun berwarna senada. Tampak sebuah sofa panjang yang terletak di dekat jendela besar, tempat yang sangat strategis untuk bersantai sambil melihat pemandangan di luar. Ada sebuah meja belajar dan tiga buah buku yang tersusun rapi di bawah lampu baca yang terletak di atas meja. Sebuah laptop pun tampak di sana. Lalu lemari besar yang hanya berjarak beberapa langkah dari meja, yang semua rak-nya hanya dipenuhi oleh susunan buku.

Bedcover elegan dan ranjang berkanopi dengan tirai putih dan lembut berbahan transparan yang dipasang pada kanopi, dan diikat pada masing-masing tiang kanopi yang berdiri di setiap sudut ranjang. Terlihat ada dua pigura yang berdiri di nakas, tepat di sisi kepala ranjang. Foto Haneul dan Kyuhyun, lalu satunya lagi adalah foto seorang wanita cantik yang merupakan ibu dari anak itu. Lalu boneka? Percayalah, Yeo Reom tidak menemukan satu pun benda itu di dalam kamar Haneul. Menurut apa yang dilihat Yeo Reom, kamar itu terlalu rapi untuk ukuran kamar seorang anak kecil. Nyaris tidak terlihat benda yang berada tidak pada tempatnya.

Cho Haneul sedang duduk bersandar di kepala ranjang, mengikuti Yeo Reom dengan mata coklatnya. Yeo Reom sedang terkagum-kagum akan dekorasi kamar yang terlihat seperti kamar tidur putri istana. Well, anak perempuan Hongjin Group memang layak disebut seorang putri, bukan?

“Ternyata kau kidak hanya bodoh, tapi tidak punya sopan santun,” decak Haneul.

“Apa?” Yeo Reom menggeram. Emosinya merangkak naik ke ubun-ubun.

“Bukannya kau harus mengetuk pintu terlebih dahulu? Etika dasar seperti itu pun tidak kau ketahui? Ck,” Haneul menjawab tenang. Ia sama sekali tidak terpengaruh melihat Yeo Reom yang sudah terbakar api amarah. Gadis kecil itu justru mengambil ponsel. “Keluar dan ketuk pintu. Kau boleh masuk setelah kupersilakan,” bahkan saat berkata demikian, ia lebih tertarik melihat ponselnya ketimbang melihat Yeo Reom yang matanya sedang berkilat-kilat.

Tahan, Yeo Reom. Demi sepuluh juta won,” ia berbisik pelan pada dirinya. “Baiklah, Nona Muda Cho Haneul,” katanya sambil tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang saling saling menggigit.

Lalu ia mundur beberapa langkah sementara tangannya ikut menarik pintu agar kembali tertutup. Begitu berada di luar kamar, Yeo Reom langsung melakukan tendangan berputar, seolah-olah udara kosong yang ditendangnya itu adalah wajah angkuh Haneul. Ia lalu mengatur pernapasannya. Menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara teratur. Dilakukan cara itu sampai tiga kali hingga dirasakan emosinya telah berkurang.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu terdengar sebanyak tiga kali. Tidak ada sahutan. Yeo Reom kembali mengetuk pintu. Ia menunggu selama beberapa saat, sampai-sampai rela menempelkan telinganya di pintu. Barangkali suara Haneul terlalu pelan sehingga tidak didengarnya. Lagi, Yeo Reom mengetuk pintu dan kembali dirapatkan telinganya ke pintu.

“Sialan! Anak itu sedang mengerjaiku, ya?” duganya karena setelah menunggu, tidak ada jawaban dari dalam kamar.

DUK! DUK! DUK!

Bukan ketukan halus seperti sebelumnya sebab tangan Yeo Reom tampak terlipat santai di depan dada. Suara besar itu bersumber dari ujung sepatu Yeo Reom yang sedang menendang-nendang kasar pintu tersebut.

“Masuk!”

Begitu mendengar suara Haneul, Yeo Reom segera membuka pintu dan mendapati anak itu masih asyik dengan ponselnya. Haneul mengangkat wajahnya, memandangi Yeo Reom yang sedang menghampiri dirinya.

“Kenapa?”

“Nona, sekarang waktumu belajar,” Yeo Reom mengingatkan Haneul tentang kegiatan yang seharusnya dilakukan Haneul setelah makan malam.

“Tidak. Hari ini aku tidak akan belajar,” kata Haneul, masih tak sudi melihat Yeo Reom. “Otakku mendadak buntu karena melihat wajahmu. Jadi menyingkirlah dari sini!”

Yeo Reom diam beberapa saat, lalu kemudian ia mendengus sinis. Ia bersidekap. “Sebenarnya yang tidak sopan itu siapa?” senyuman miring menyungging di bibir Yeo Reom. Haneul itu sangat jauh usianya di bawah Yeo Reom, tapi lihat bagaimana Haneul memperlakukan Yeo Reom?

Haneul mengangkat wajahnya, dan memandangi Yeo Reom. “Kenapa? Kau kesal? Kau dibayar mahal untuk ini, kan? Jadi berhentilah mengeluh dan lakukan seperti yang kuminta.”

“Bagaimana kalau aku menolak?”

“Sederhana saja,” kini bergantian Haneul yang mengumbar senyuman di wajah cantiknya itu. “Kemasi barang-barangmu dan keluar dari rumah ini!”

Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua, tapi untuk sekian menit mereka terlibat dalam perang batin. Terlihat dari bagaimana sorot mata masing-masing yang jika diibaratkan seperti terjadi aliran listrik akibat dari pertemuan tatapan mereka.

***

“Kuhajar saja dia, bagaimana?”

Suatu pagi, Yeo Reom sudah menelepon ketiga sahabatnya. Karena tangannya sedang sibuk memotong kuku kaki, ponsel yang diberi mode speaker, hanya ia letakkan di ranjang.

Kau gila?” Bora yang paling cepat menyuarakan ketidaksetujuannya.

Kau bisa membunuhnya,” imbuh Yebin. Mereka tahu kalau Yeo Reom yang sedang marah akan sangat mengerikan.

“Jadi aku harus menahan diri, begitu? Hah, mana bisa?” Yeo Reom mendengus.

Kalau begitu kau berhenti saja dari pekerjaanmu itu!” tambah Rin.

“Menyia-nyiakan sepuluh juta won-ku? Memangnya aku gila?” Yeo Reom merasa perkataan Rin lebih tidak masuk akal.

Karena itulah, kau harus bisa mengendalikan diri,” Yebin menarik napas panjang. Susah sekali memberi pengertian pada si keras kepala itu.

“Baiklah, aku kucoba. Lagipula aku hanya akan bekerja selama sebulan, sampai musim panas berakhir. Sepuluh juta won adalah jumlah yang fantastis untuk menutupi biaya hidupku selama berbulan-bulan,” Yeo Reom sudah memikirkan semuanya. Sekarang ia bisa bekerja dengan tenang karena liburan musim panas yang cukup panjang, tapi pada awal Oktober nanti kegiatan perkuliahan akan kembali normal. Kalaupun ada kegiatan kampus di musim panas seperti sekarang ini, biasanya adalah kegiatan diluar proses belajar-mengajar. Terkadang jika memang diperlukan, diadakan kelas tambahan.

Memangnya semenyebalkan apa anak itu sampai-sampai kau jadi seperti orang yang kebakaran jenggot begitu?” Bora tiba-tiba merasa penasaran tentang gadis kecil bernama Cho Haneul yang sedang mereka bicarakan sekarang.

“Belum pernah aku bertemu anak kecil selicik itu. Mulutnya sangat lancang dan kurang ajar.”

Rin, Bora dan Yebin tidak bersuara, tapi mereka memikirkan hal yang sama. Entah Yeo Reom sadar atau tidak, Haneul itu seperti dirinya.

“Aku paham kenapa mereka rela membayar mahal. Pekerjaanku memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi karena harus bergaul dengan iblis! Manusia normal tidak mungkin sanggup melakukannya,” Yeo Reom menyeringai, menganggap dirinya memiliki kemampuan khusus untuk menghadapi anak-anak seperti Haneul.

Iya, tentu saja. Karena kau tidak normal,” celetuk ringan tanpa rasa berdosa keluar dari mulut Yebin.

“Brengsek kau, Seo Yebin!” maki Yeo Reom. Tidak peduli pada kekesalan Yeo Reom, ketiga sahabatnya justru tertawa terpingkal-pingkal.

Omong-omong, bagaimana dengan ayah dari anak itu?

Yeo Reom menarik napas sangat dalam. Entah pertanyaan yang diajukan Bora begitu sulit untuk dijawab? Atau karena tiba-tiba saja bayangan topless Kyuhyun telah berkeliaran di pelupuk mata Yeo Reom.

“Ayah dan anak itu begitu kompak menyiksaku,” desis Yeo Reom. Haneul yang terlalu menyebalkan dan Kyuhyun yang terlalu memesona. “Aku masih bisa mengatasi sifat Haneul, tapi pesona Presdir Cho tidak main-main. Aku terbunuh.

Woah, apa ini? Jangan bilang, kau jatuh cinta pada pria itu?” Rin terkikik geli.

“Cinta?” Yeo Reom yang sudah berbaring, hanya menatap langit-langit kamar. “Sepertinya begitu. Presdir Cho jauh lebih tampan daripada foto yang kita lihat di internet. Dia sangat menawan,” begitu santai, Yeo Reom memberikan pendapatnya.

Rin, Bora dan Yebin hanya mendengus. Sebab Yeo Reom selalu berkata demikian jika sedang ‘jatuh cinta’ kepada idola-idolanya, padahal sebenarnya itu adalah bentuk dari sebuah kekaguman. Dibalik kekacauannya, Yeo Reom hanyalah si gadis polos yang tidak tahu apa-apa tentang cinta.

Sembari melirik pada jam yang menempel di dinding, Yeo Reom turun dari ranjang. “Sudah, ya. Nona muda iblis akan akan segera kembali dari tour sekolah.”

Ingat, kendalikan emosimu!” Bora mencoba mengingatkan Yeo Reom lagi sebelum percakapan mereka berakhir.

Berkutat beberapa detik di depan cermin, Yeo Reom menguncir rambutnya dan meyakinkan tidak ada sesuatu yang aneh di wajahnya agar Haneul tidak mengatainya bodoh dan sebagainya. Kemudian ia beranjak pergi, meninggalkan kesunyian di dalam ruangan tersebut.

Hari ini Cho Kyuhyun pulang lebih cepat karena hampir setiap hari ia pulang dari kantor pada saat hari sudah gelap. Tidak langsung pergi kamar seperti biasanya, Kyuhyun justru sedang menuju ke ruang kerja. Kyuhyun tidak sendirian, karena ada orang lain yang bersama-sama dirinya. Orang itu adalah Lee Donghae, sahabat baik sekaligus adik iparnya.

Percakapan Kyuhyun dan Donghae disela oleh kedatangan Yeo Reom yang berjalan dari arah berlawanan. Yeo Reom sempat berhenti sejenak lalu memberi hormat kepada kedua orang itu dengan membungkukkan tubuh. Gadis itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia yang begitu kikuk lantas melangkah terburu-buru.

Lee Donghae mengernyit, ia sempat menoleh ke belakang, memerhatikan Yeo Reom yang seperti sedang dikejar oleh sesuatu. “Siapa?” tanyanya karena baru pertama kali melihat Yeo Reom.

Setelah masuk ke dalam ruang kerja Kyuhyun, mereka berdua menuju sofa dan mengistirahatkan tubuh mereka di situ. “Pengasuh baru Haneul.”

“Lagi?” Donghae berdecak. Mungkin karena terlalu sering terjadi pergantian orang di posisi tersebut.

Kyuhyun mendesah, “Kau pun tahu seperti apa keponakanmu.”

“Gadis itu kelihatan masih sangat muda.”

“Dia mahasiswi dan ini adalah pekerjaan part time-nya.”

“Aku yakin nasibnya akan sama seperti yang lain. Apalagi diusianya yang begitu muda, dan dia masih labil. Membutuhkan orang berpengalaman untuk menghadapi Haneul.”

“Kau pikir yang sebelum-sebelumnya itu tidak profesional?”

“Sudah berapa lama dia bekerja di sini?”

“Lima hari, dan dia telah menyamai rekor wanita sebelumnya. Sebenarnya prediksiku dia akan menyerah paling tidak dua atau tiga hari setelah bertemu Haneul, tapi kau lihat tadi? Dia terlihat ceria sama seperti pertama kali tiba di rumah ini. Dia lebih kuat daripada kelihatannya.”

“Kita lihat saja nanti, sampai sejauh mana gadis itu akan bertahan. Haneul, Haneul…ck,” Donghae berdecak lagi. Cho Haneul memang tidak seperti anak lain yang seumuran dengannya. Anak itu begitu kompleks dan sangat kritis. “Coba kau flashback, sifat Haneul pasti menurun darimu,” ia menuding Kyuhyun sebagai penyebab mengapa Haneul memiliki watak seunik itu.

“Tidak. Itu ibunya,” Kyuhyun mengelak. “Di dalam hatimu, kau pasti sedang membenarkan perkataanku. Kau juga tahu orang seperti apa Yoo Ri, kan?” Donghae mengangguk. Kemudian mereka berdua tertawa. Mereka bernostalgia mengenang sosok yang telah tiada itu.

Kyuhyun beranjak, menghampiri meja kerjanya. Ia mengambil sebuah pigura yang berdiri di sisi laptop dan memandangi seraut wajah cantik yang sedang tersenyum dalam foto tersebut. “Haneul terlalu banyak mengambil gen ibunya,” sudut bibir Kyuhyun melengkung naik. Tersenyum, membalas senyuman wanita yang sedang dipandanginya. Tatapan yang begitu sendu, menyiratkan sebuah kerinduan terhadap sosok yang kini hanya hidup dalam kenangannya.

-Bersambung-

 

Gimana?

Si unyu2 Haneul baik banget, kan? hahahaha

Ya udah, semoga sampai nanti lagi ya.

Iklan

94 respons untuk ‘Summer Wish (Part 2)

  1. angelcho8888 berkata:

    Hai kak aku kmren2 comment ff kk okae id chokyuangel sekarang lg mau coba comment pake id aku yg ini ya….hehehe…Yeo reom punya lawam sebanding ni..hahhahaa….penasaran ni siapa yg kalah ya di antara mereka b2..yeo reom yg nyerah apa haenul?next kakak…

  2. aulia fitri berkata:

    Gak kebayang karakter haneul dipertemukan dengan yeo reom yang kaya gitu haha pasti lucu dan menarik nih teurs hot daddy lagi haha 👍👍

  3. caryati berkata:

    Semoga yeo reom bisa menahan emosinya saat menghadapi sikap haneul
    Ditunggu part selanjutnya
    Fighting!!

  4. Vey berkata:

    Semoga banyak adegan kyu lg toplessssss 😋😋😋😋😋😋😋😋ahahahhaha…ditunggu next partnya ya 😄

  5. Imgyu berkata:

    Kak di part berikutnya tambahin bagian haneul sama yeo reom nya ya kak, pengin liat gimana kalo haneul tahu kalo yeo reom ternyata ga sebodoh yang dia fikirin. Aku ngerasa summer wish itu kebalikannya dr drama (maapkeun aku yg belum bisa move on dr drama) kalo drama banyak ngeliatin ke-kakuan pemerannya tp kalo summer wish malah buka-bukaan ngeliatin tingkah konyol para pemeran. Apalagi umpatannya yeo reom😁 ohmygod😂😂😂

  6. amel chomb berkata:

    Pengasuk sm yg di asuh sebnding ya hahahaha,sama2 pedes cr ngomng nya adehhh yeo reom mlh terpesona. Sm bapak ny, baca ff ini itu bikin senyum2 sndiri lucu ditunggu part slnjut nya author

  7. Dufy berkata:

    Tripple Kill… busyeet untung masih punya nyawa cadangan si Yeo reom.. 😂😂😂 dan Yeo Reom mendapat tandingannya… Cho Hanuel. Mulut berbisa.. kiraian dari Kyu keahliannya itu ternyata dari Ibunya toh… 😅😅😅

  8. Monika sbr berkata:

    Ahahahahaa…. Nggak bisa berhenti tertawa baca ff ini. Tingkahlaku pengasuh dan yg diasuh nggak jauh berbeda.

  9. Monika sbr berkata:

    Ahahahahaa…. Nggak bisa berhenti tertawa baca ff ini. Tingkahlaku pengasuh dan yg diasuh nggak jauh berbeda.

  10. Amoy berkata:

    Ijin baca boleh..ff ny bguss aq suka..yeo reom akn mnyerah ngg ya..ditunggu nextt ny ya..ok salam knal cinguya..

  11. tiwi berkata:

    Aduh… Haneul judes banget sih. Ckck
    Harus tetap bersabar dan bertahan tu yeo reom kerja disana. Hehe

  12. nanakazami berkata:

    Kkk..baru bisa comment…
    Lucu dialognya apalagi bagian yg ayah yeo yang ngerasa kalo anakanya itu normal…kk berasa selama ini yeo hidup dengan tidak normal aja..😂😂
    Wah…mana sempet2nya liat direktur yg topless juga..kk
    Masih menanti untuk lanjutan kisahnya..tentang perjuangan yeo dekat sama haneul dan kisah2 yg mendatang…
    Ganbaaatte kaak..

  13. i54 berkata:

    adakah alasan knp haneul bersifat komplex kya’ gitu kak? lucu nglihat interaksi haneul ma yeoreom. kira2 gmn cara yeoreom ngambil hati haneul.

  14. ryza berkata:

    hahaha… ngakak pas baca part awalnya. cara yeo reom memuji si hot daddy bnr2 deh, muji apa maki sih kkk…
    pengasuh sm yg diasuh sm ya sftnya, sm2 gak sopan dan mulutnya pedes…

  15. syalala berkata:

    huwahahahahaha haneul!!!!! kok aku ikut degdegan sihhhhhh si yoreon salah masuk kamar wkwkw dikirain kyuhyun bakal galak taunya baik ya huhuhu gimana ga meleleh si yroreom guys wkwkw gemessss pen cepet2 tau ceritanya balal kaya gimanaaaa huhu lanjuuut lanjuuuutttt

  16. Widya Choi berkata:

    Wahhh kykny ekstra nahan sabar bgt tu ngasuh anak gadis ny kyu hhhhh. Yg sabar y yoe reom,, org sabar ntr d sayang am kyu eaaaaaaa hahaha.
    Si haneul mulut ny isi cabe kali y..cz klo ngomg pedes mulu,, hadeuhhhh.

  17. alviegyu berkata:

    Yeoreomnya gemesin wkwkwk meskipun kaya gitu tapi aku suka karakternya hihi
    Haneul juga btw nyebelin2 juga kayaya dia asik😂
    Dan duda limited edition yang masih kangen sama mendiang istri, aku sayang kamu *eh

  18. Jseungji berkata:

    woaah unyu kale haneul :)))
    sampe bikin gemes wkwkwk…
    lanjut unnie, dah ga sabar kelanjutan nasibnya yeo rom mueheheheheh pasti deh kepincut sama duda limited edition ala kyuhyun xD

  19. fiyahae berkata:

    Aduhh aku ngebayangin waktu yeoreom liat kyu topless haha….gemes sama haneul-yeoreom nyaaa hahaha, awalnya mereka musuhan tp nanti saling sayang kaann???ditunggu part selanjutnya~~

  20. naynamika berkata:

    Anyeong
    Waaaaduh. . Ngakak. Woow. Keren. Ngga habis2 nya deh ff unnie selalu keren. .duda limited edition??? Wkwkwk. .ya ampun yeo reom. .. Terpesona. Wkwk triple kill. .ya ampun emang si haneul nurun dr sifat bpknya. . Kurasa itu si haneul duplikat dari yeo reom. .wkwkwkw

    Fighting unnie.
    Entah kenapa lupa sama drama yg pengen extra part lagi.

  21. FitriFitri berkata:

    Wkwkwkwk gemes aku sama haneul, lagi si yo reum juga karakternya lucu ya, jadi inget sama ahjumma nya kyuhyun wkwkwk atau si bodoh kesayangannya siwon… Mereka itu lucu, yo reum sm haneul kali di mix jadi seru itu kayaknya. Aku paling suka storymu kak

  22. Sitata berkata:

    Ijin baca ya ka☺️
    Baru komen di part ini,hehe
    Ceritnya seru banget,ngakak parah bacanya, apalagi umpatan2 yeo reom buat haneul sama bapanya. Jadi ga sabar buat nunggu lanjutannya 😁

  23. debiyamustika berkata:

    haneul kok sikapnya dingin banget ya , apa karna kurang dapet perhatian jadi sikapnya begitu? wah jadi penasaran sama lanjutannya 🙂

  24. 🍁KyuRhyn0305🍁 berkata:

    aq bacanya jadi ikutan gila kya yeo reom.. bikin merinding,, ahaahaha
    baru tau kalo yeo reom itu genius,,, pantas gak biasa sikapnya
    gmna nya cara dapet perhatian dari haneul,, jadi penasaran,,
    cho kyuhyunnya??? si duda hot daddy,, ditunggu kelanjutannya unnie,,
    ektra part daramanya juga ditunggu

  25. BlackSwan berkata:

    Huwahhhh….
    Udh bersambung aja….
    Padahal masih asyik bacanya… haneul ama yeoreum sama2 keras wkwkwkkwkwkkkk
    Kira2 haneul bakal nyerah ga ya ama yeoreum… hahahhha
    Ditunggu next chap author….
    Semangat terus nulisnya 😘

  26. Leah berkata:

    Boleh gag kalo haneul di sebut ‘si bocah iblis’? Kok kesel ya 😂😂 ga sanggup saya ngeladeninnya.
    Kakak jangan lama-lama update ceritanya ya, kangen bgt sama tulisan kakak.

  27. Songdami1994 berkata:

    Aku salah fokus sama donghae gegara liat comebacknya di suju. Ah ahjussi itu tetap menjadi hot oppa buat aku hahah.
    Betewe sebenernya haneul itu gak parahparah amat bandelnya cuma mulutnya ituloh pen dimasukin cabe aja bawaannya hahaha

  28. Yoon berkata:

    Ditunggu ditunggu ditunggu ya next chapnya fighting eonni,feelnya dpet soalny aq sbg pmbca ikut ksel terbwa perasaanya yeo reom😂

  29. shin naya berkata:

    hahahahahaha…ketawa aq baca part ini…
    yeo reom ma haneul aepertinya akan akrab, yaaaaa walaupun kayak tom n jerry hihihihi…
    kau menang banyak yeo reom bisa liat khyuhyun topples dia benar² duda limitied edition hihihi…
    g sabar nunggu kelanjutannya kak
    aq seneng ma karakter pemainnnya
    semangat kaaakk…
    I lope yuuuuuuu….

  30. yiza berkata:

    haneul sama yeo reom sma2 kelakuannya. jd mungkin pengasuh kli ini akan bertahan. cumaaaa klo sma bapaknya haneul ga yakin deh bsa bertahan ato ngga. pesonanya susah ditolak

  31. nae.ratna berkata:

    yeo reom harus ekstra sabar nih buat taklukkan haneul
    memang pesona kyuhyun tak tertandingi kkk
    penasaran nih sama interaksi duo judes itu

    di tunggu lanjutan.a…

  32. Yanti berkata:

    naha ih udahan lagi ga kerasa haha…

    karakter yeo reom bakalan klik banget kayaknya sama haneul kalo kata orang sunda mah saruana alias sama sifatnya…
    cerita nya ringan suka banget… ditunggu kelanjutannya yah… kabarin kalo udah ada next nya hehe

  33. So_Cho berkata:

    kalo aku jadi Yeo reom sdah pingsan ditmpat..Kyuhyun jdi hot daddy pas bgt aku yg baca aja deg degan, penasaran sihh sma sosok ibunya Haneul yg udah meninggal kayaknya Kyuhyun cinta bgt sma mendiang istrinya

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s