Summer Wish (Part 4)

Summer Wish

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya.~

*

 

“Dia orang luar, tapi menyelinap ke lingkungan sekolah dan menyerang anak-anak kami!”

“Aku bahkan tidak pernah menaruh tangan pada putriku. Berani-beraninya dia membuat putriku terluka!”

“Dia pasti berandalan yang menyusup ke sekolah.”

“Aku heran, bagaimana gadis ini dididik orangtuanya!”

“Gadis kurang ajar ini harus dihukum seberat-beratnya!”

Pernah berada di antara kumpulan wanita yang tak bisa berhenti mengomel? Terutama ibu-ibu yang tidak terima anggota keluarganya diperlakukan dengan buruk dan terus menuntut keadilan yang seadil-adilnya?

Tiga wanita yang kelihatannya berasal dari kalangan menengah ke atas itu sudah sejak tadi berlomba-lomba untuk berbicara, bahkan polisi tidak diberi kesempatan untuk menyela. Sang petugas kepolisian hanya mengamati dari satu orang ke orang lain dengan ekspresi yang entahlah, seperti ingin mengusir ibu-ibu cerewet yang membuat kepalanya pening, tapi tidak bisa ia lakukan karena itu adalah bagian dari tugasnya untuk menerima setiap laporan yang masuk.

Masing-masing dari mereka duduk mendampingi putri mereka yang tampak begitu berantakan. Seragam compang-camping, rambut seperti rambut singa, memar dan luka cakaran di beberapa tempat.

Penampilan Yeo Reom pun tidak berbeda jauh dengan ketiga siswi itu. Sementara Yeo Reom mendengarkan kegeraman para ibu itu, ia sesekali memandangi Haneul yang duduk terpisah jauh. Haneul yang mulutnya terkatup rapat tampak mengedarkan pandangan, sedang mengamat-amati aktivitas di kantor polisi. Itu pasti pemandangan yang asing baginya, tapi ia kelihatan biasa-biasa saja. Sikapnya begitu tenang.

“PARK YEO REOM!!”

Laki-laki yang baru saja hampir merusak pita suaranya sendiri itu adalah Park Yong Shik. Ia meneriaki anak gadisnya yang selalu memberikan kejutan tak biasa padanya. Seperti bagaimana hari ini, Yeo Reom muncul di kantor polisi dengan tangan terborgol mirip kriminal kelas kakap.

Desisan tajam terdengar dari mulut Yeo Reom. Ia tahu pasti akan seperti ini kejadiannya jika berakhir di kantor polisi. Ayahnya itu sangat mengerikan apabila sedang marah. Apalagi keberadaannya di kantor polisi karena perkelahian, lagi. Dari apa yang disimak Yeo Reom tadi, ibu-ibu singa yang masih mengamuk hingga detik ini, telah menghubungi pengacara dan mereka akan menuntut Yeo Reom karena penyerangan terhadap anak dibawah umur. Jadi Yeo Reom tidak akan membayangkan semurka apa ayahnya sekarang. Ia sudah cukup bergidik hanya dengan melihat mata ayahnya yang menyala-nyala bengis.

Petugas-petugas polisi yang tadinya begitu sibuk meladeni para ibu yang tak bisa diam itu sontak berdiri dan memberi hormat pada Park Yong Shik. Yong Shik memberi isyarat agar mereka melanjutkan pekerjaan mereka, setelah itu tatapan Yong Shik mengarah lurus pada Yeo Reom yang tetap tertunduk dan berkali-kali mendesis tajam.

“Pak Detektif, kau kenal dia?” seorang ibu yang memiliki tahi lalat di ujung bibir berbicara dengan nada ketus.

Park Yong Shik menghela napas, dibandingkan menjawab pertanyaan barusan, niatannya untuk menghajar Yeo Reom lebih bergelora. Lagi-lagi Yeo Reom membuat kepalanya berkedut, pening.

“Kau masuk ke sekolah dan menyerang murid di sana? Astaga! Kau sungguh ingin membunuhku, ya?”

“Ini tidak seperti yang Ayah pikirkan!”

“Ayah?” suara dengan intonasi meninggi itu adalah milik seorang wanita yang merupakan ibu dari salah satu gadis yang berkelahi dengan Yeo Reom. Seketika dua wanita lainnya ikut melempar tatap sengit secara bergantian pada Yeo Reom dan Yong Shik. “Apa-apaan ini? Ayahnya seorang polisi, tapi lihat seperti apa kelakuan anaknya! Sungguh pembuat onar!”

Itu dia.

Yong Shik menggeram di dalam hati. Apa yang dilontarkan wanita tadi cukup menjengkelkan, tapi tak bisa ia sangkal. Sembari memejamkan mata, pria itu memijit keningnya yang kedutannya terus bertambah. Saat dipandangi wajah Yeo Reom yang memberengut dengan mulut mengerucut, Yong Shik lantas mendesah berat. Dosa apa yang diperbuatnya di masa lalu sampai-sampai ia memiliki anak gadis sebadung itu? Ia berdecak prihatin.

“Kau memiliki penjelasan untuk semua ini?”

“Mengapa tidak Ayah tanyakan pada gadis-gadis itu? Sejak tadi hanya aku yang disalahkan, sementara mereka terus berlindung pada ibu mereka! Hehh! Kalian tidak sedang bermain sebagai korban, kan?” Yeo Reom memelototkan mata pada para gadis yang langsung memalingkan wajah, menghindari kontak mata dengan Yeo Reom.

“Pak, kau lihat? Dia jelas-jelas mengancam. Anak-anak kami ketakutan dan masih trauma!”

“Nyonya, aku tidak tahu seperti apa anak kalian bertingkah di depan kalian, tapi kalian harusnya tahu bahwa gadis-gadis ini tidak sepolos yang kalian pikirkan!”

“Ap-apaa?”

“Kau sungguh berani menindas anak kami bahkan saat kami ada di sini, dan mengatakan hal buruk tentang mereka. Oh, Tuhan. Dunia semakin aneh?”

“Siapa yang menindas siapa?” Yeo Reom mendesah tak percaya. “Merekalah si penindas, bukan aku!”

“PARK YEO REOM!” hardikan Yong Shik kembali menggema. Bahkan para wanita yang hendak menyerang Yeo Reom pun ikut terkejut dan mendadak ciut melihat pria yang tampak begitu murka itu. “Ayah sedang melakukan penyergapan penting saat dihubungi Petugas Han yang mengatakan bahwa kau ada di kantor polisi. Kau membuat Ayah meninggalkan anggota tim hanya untuk menyaksikan kau berdebat dengan tidak tahu malunya?”

Kepala Yeo Reom kembali tertunduk, ia memandangi ujung sepatunya, tapi di dalam hati ia terus mengutuk. Park Yong Shik berkali-kali menarik napas panjang seraya mengedarkan pandangan dan saat itulah matanya berhenti pada Haneul yang masih duduk manis di tempatnya.

Dengan dahi yang berkerut, ia bertanya pada Petugas Han. “Siapa anak kecil itu?”

“Dia dibawa ke sini bersama-sama dengan Nona Yeo Reom.”

“Cho Haneul, anak yang ditindas oleh ketiga gadis sialan itu!” Yeo Reom masih menunduk saat ia menambahkan penjelasan Petugas Han dengan nada kesalnya setelah mendapati sepatu kesayangannya rusak akibat perkelahian tadi.

“Gadis kurang ajar ini!” rupanya perkataan Yeo Reom kembali memancing murka para ibu.

“Aku tidak peduli lagi. Aku ingin dia dihukum seberat-beratnya!”

“Nyonya, tolong tenang!” ujar Yong Shik. “Meskipun dia putriku sendiri, aku akan mengirimnya ke penjara jika dia terbukti bersalah.”

Saat itu juga Yeo Reom menelan ludah mendengar kalimat dingin sang ayah. Pria itu benar-benar marah. Tatapan mata Yong Shik sedang meminta penjelasan lebih tentang keterkaitan Yeo Reom dengan anak kecil yang tampak tenang-tenang saja di sana.

“Itu…,” Yeo Reom mendadak gugup. “Aku pernah bilang bahwa aku mendapatkan sebuah pekerjaan, kan?”

“Jadi, maksudmu anak itu—” perkataan Yong Shik terputus begitu matanya tidak lagi mendapati Haneul di tempat duduknya.

“Aku sudah menghubungi Paman Kim.”

Haneul yang dicari-cari ternyata sudah berdiri di situ, di dekat mereka, entah kepada siapa ia mengabarkan berita itu sebab matanya menatap semua orang secara bergantian.

Yong Shik agaknya masih terkejut, “Paman Kim?” bermaksud bertanya pada Yeo Reom.

“Sekretaris ayahku,” tapi sudah lebih dahulu dijawab oleh Haneul. Sorot mata Yong Shik yang masih kebingungan seperti sedang berkata memangnya-siapa-ayah-anak-ini? “Paman akan segera sampai. Ayahku juga sudah tiba di Seoul dan sedang dalam perjalanan dari bandara ke sini,” kali ini Haneul berbicara pada Yeo Reom yang hanya memberinya tatapan ngeri. Mendengar CEO Hongjin secara pribadi akan datang ke kantor polisi, sepertinya masalah yang dihadapi Yeo Reom cukup serius.

“Nona Haneul!” itu suara Kim Heechul. Ia tampak terburu-buru menghampiri Haneul. “Nona tidak apa-apa?” tanyanya, memastikan keadaan Haneul. Anak kecil itu hanya mengangguk sekali. Lalu ia mengarahkan pandangannya pada Park Yong Shik. “Aku Kim Heechul. Sekretaris Presdir Cho,” katanya mengenalkan diri.

“Presdir Cho?” Yong Shik tidak begitu tahu siapa yang sedang mereka bicarakan saat ini. “Bisa kau jelaskan pada Ayah tentang orang-orang ini?” Yong Shik kembali menatapi putrinya.

Yeo Reom diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa anak ini adalah anak yang kuasuh. Dan dia adalah putri dari Hongjin Group.”

Mendengar nama Hongjin Group disebutkan, sontak saja semua orang di situ terkejut. Terutama para ibu itu.

“Detektif Park,” Kim Heechul tampaknya telah mengetahui identitas Park Yong Shik. “Perkelahian seperti ini memang sangat disayangkan. Aku minta maaf karena putri Anda pun terseret. Dia mungkin hanya berusaha melindungi Nona Haneul, jadi aku harap Anda tidak terlalu keras pada Nona Yeo Reom. Tapi, tindakan perkelahian ini harus diselesaikan secara hukum apa pun konsekuensinya. Karena ini melibatkan Hongjin, maka kami akan bekerja sama dengan proses hukum. Kita akan mencari tahu permasalahan yang sebenarnya.”

Para ibu yang tadinya begitu beringas mendadak seperti macan yang kehilangan gigi. Gadis-gadis SMA itu pun tampak jauh lebih ketakutan daripada sebelumnya. Mereka pasti tahu apa yang telah mereka lakukan dan kalau sampai melibatkan Hongjin maka semua akan tersingkap.

Keheningan yang berlangsung hampir semenit itu dirusak oleh dering telepon. Secara bersamaan, para ibu itu menjawab panggilan masuk itu. Saat berbicara, terlihat keterjutan dari ekspresi mereka. Wajah mereka menjadi pucat.

“Ehm, aku menarik laporanku atas kasus penyerangan terhadap anakku,” ujar seorang ibu tak lama setelah ia mengakhiri pembicaraan via telepon tadi.

“Aku juga,” pada akhirnya kedua ibu lainnya pun ikut menarik laporan mereka. “Pengacara kami akan menyelesaikannya. Jadi, bisakah kami pulang sekarang?” meskipun kebingungan, Yong Shik tetap mengiyakan permintaan mereka.

“Ayahmu akan membunuh kita!”

“Dasar! Mengapa tidak kau ceritakan yang sebenarnya pada Ibu?

“Mengapa kau harus mencari masalah dengan anak perempuan Hongjin?”

Omelan-omelan para ibu terhadap anak-anak mereka terdengar mengiringi langkah kaki mereka saat meninggalkan kantor polisi. Di pintu, mereka berpapasan dengan Cho Kyuhyun, tapi tampaknya mereka tidak menyadari itu.

Melihat kedatangan Kyuhyun, degub jantung Yeo Reom menggila. Jantungnya memang selalu lemah jika itu menyangkut Cho Kyuhyun, tapi ini bukan debaran seperti biasa. Yeo Reom ketakutan dan nyalinya pun ciut. Menatapi sepatu yang rusak jadi terasa lebih menyenangkan untuk dilakukan saat ini, ketimbang mencoba menatap manja pada duda limited edition-nya sekadar melepas rasa rindu akibat ditinggal ke luar negeri.

“Anda ayah dari gadis kecil ini?”

“Cho Kyuhyun,” Kyuhyun mengulurkan tangan pada Yong Shik. “Kalau begitu, Anda pasti ayah Yeo Reom,” Yong Shik pun menyambut uluran tangan Kyuhyun dan mereka berjabat tangan.

“Aku minta maaf. Putriku sudah menyebabkan masalah pada keluarga Anda.”

“Dari apa yang kudengar. Yeo Reom berkelahi karena berusaha melindungi putriku. Jadi, kupikir seharusnya aku yang minta maaf.”

Melindungi putriku?

Kalimat itu langsung terngiang di kepala Yeo Reom dan membuatnya merasa telah melakukan hal baik yang melebihi apa yang telah dilakukan oleh Raja Sejong Yang Agung di masa lalu. Yeo Reom belum berani mengangkat wajahnya, jadi yang ia lakukan adalah tertawa di dalam hati.

Tapi sepertinya ia tidak hanya tertawa di dalam hati, sebab kini semua orang menatap padanya. Yong Shik menggeleng dan berdecak prihatin karena Yeo Reom terus terkikik pada lantai. Ia menyangka kepala putrinya terbentur saat berkelahi.

“Abaikan saja dia. Biasanya dia bisa lebih gila daripada ini.”

Baik Cho Kyuhyun maupun Kim Heechul hanya saling pandang setelah mendengar penuturan Yong Shik, tapi sebenarnya mereka sedang berusaha keras untuk menyamarkan cengiran di wajah mereka.

“Kalau begitu, sudah tidak ada yang perlu dipermasalahkan sekarang,” kata Kyuhyun sembari melirik pada jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Mungkin laki-laki itu punya janji lain.

“Sekali lagi aku minta maaf karena putriku membuat orang sesibuk Anda jadi mengurusi masalah semacam ini.”

“Tidak. Ini bukan apa-apa,” Kyuhyun tersenyum.

Yeo Reom mengendap-endap berusaha untuk menyelinap keluar bersama Kyuhyun, Heechul dan Haneul. Akan tetapi niatnya dihentikan oleh Yong Shik yang segera meraih kerah kemejanya.

“Mau ke mana?”

“Semua sudah selesai, kan?”

“Kecuali urusanmu dengan Ayah.”

Lagi, Yeo Reom bergidik karena tatapan ayahnya yang begitu menyeramkan. Firasatnya tidak enak. Ini mungkin akan lebih buruk daripada sebelumnya.

“Ta-tapi, Ayah…aku harus kembali bekerja,” Yeo Reom berusaha menghindar meskipun kata-katanya tergagap.

“Tuan Cho, Anda pasti tidak keberatan jika Yeo Reom mengambil cuti selama beberapa hari. Bukan begitu?”

Mata bulat penuh Yeo Reom tak berkedip pada Kyuhyun. Ia menggeleng tegang, memberi isyarat agar Kyuhyun menolak permintaan ayahnya yang sarat dengan tekanan itu. Akan tetapi, tidak ada yang bisa diperbuat Kyuhyun selain memberi Yeo Reom tatapan penyesalan.

***

Hari-hari penuh tekanan sedang dijalani Yeo Reom. Ayahnya memang tidak mengirimnya ke penjara, tapi rasa sama saja bagi Yeo Reom. Ia tidak diperboleh pergi keluar rumah.

“Apa kau terus akan berada di sini?”

Kim Jong Woon yang sedang nonton, dengan posisi bersila di atas sofa, menoleh pada Yeo Reom yang sudah bergabung di ruang tengah.

“Kau pikir aku akan kabur kalau tidak ada kau?”

“Memangnya tidak?” Jong Woon balik bertanya. Ia tahu Yeo Reom pasti akan segera menghilang begitu dibiarkan seorang diri.

“Kau tidak bosan?” dengus Yeo Reom, sebab ia sendiri bosan melihat wajah datar Jong Woon selama tiga hari belakangan ini. Ayahnya sengaja menyuruh Jong Woon mengawasi dirinya agar tidak pergi ke mana pun. “Kau ini detektif kurang kerjaan!”

“Karena itu, sebaiknya kau tidak membuat masalah dengan ayahmu. Aku juga merasa dirugikan,” kesal Jong Woon, yang harus membatalkan acara kencan dengan tunangannya karena tugas tidak resminya ini. “Omong-omong, kenapa kau selalu berbicara tidak formal padaku? Aku ini lebih tua darimu.”

“Cihh!” Yeo Reom hanya tertawa ringan disela dengusannya. “Kalau sampai aku tidak menerima gaji penuh, kupastikan kau dan ayah yang akan membayar kekurangan gajiku!” Kim Jong Woon tidak merespon, ia hanya beranjak dari situ dan berjalan ke toilet.

Di hari keempat, terjadi hal yang tidak diduga-duga.

Cho Kyuhyun dengan segala ketampanannya sedang berada di rumah Yeo Reom. Rambut yang disisir rapi sehingga jidatnya yang terekspos membuat Yeo Reom mengumpat di dalam hati. Bukan hanya tulang selangkanya, bahkan jidat seksi itu pun sanggup membuat jantung Yeo Reom berkedut-kedut nyeri.

Kim Heechul juga ada di situ. Ia hanya berdiri meskipun Yong Shik telah mempersilakannya duduk. Yeo Reom masih berkedip cepat, antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya. Jangankan ayahnya, dirinya sendiri tidak pernah berpikir bahwa pria itu akan bertandang ke rumahnya.

“Itu…,” Park Yong Shik memecah keheningan yang berlangsung beberapa saat. “Apa yang membuat Anda datang ke tempat ini?” memandangi Kyuhyun yang dilihat dari sudut manapun tampak memancarkan aura bossy, bahkan dengan gaya duduk yang kelewat kasual sambil memangku kaki seperti itu.

  Senyuman terlihat di wajah Kyuhyun, “Aku minta maaf atas kedatanganku yang begitu tiba-tiba,” dan Yeo Reom sedang menahan napas karena senyuman itu.

Serius pria ini berumur 37 tahun?

Di dalam hati, Yeo Reom terus bergumam. Masih mengamat-amati Kyuhyun dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia bahkan sampai menggeleng-geleng takjub setelah memberi nilai 99 pada sosok itu. Niatnya memberi nilai seratus, tapi karena di dunia ini tidak ada yang sempurna, maka Yeo Reom menyisakan satu untuk kekurangan Kyuhyun yang belum ditemukan Yeo Reom.

Mulut Yong Shik baru saja terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi tak jadi dilakukan karena Yeo Reom yang melamun sambil berdecak. “Apa yang kau lakukan?”

“Eh? Ya?”

Decakan Yong Shik kembali terdengar. “Mengapa tidak kau suguhkan sesuatu pada tamu kita, hm?”

Yeo Reom sudah berdiri saat Kyuhyun berkata, “Tidak usah repot-repot. Kami tidak akan lama,” sehingga membuat Yeo Reom bernapas lega dan kembali duduk.

Namun, gadis itu langsung menarik napas panjang karena ayahnya memicingkan mata padanya. “Ok. Ok,” katanya lagi sembari beranjak menuju dapur. Tentu saja diiringi dengan umpatan.

Ayahnya tidak pengertian sama sekali. Padahal Yeo Reom juga sangat penasaran tentang maksud kedatangan Kyuhyun. Untungnya, ukuran rumah yang tidak terlalu besar membuat percakapan yang terjadi di ruang tamu itu dapat sampai ke telinga Yeo Reom meskipun tidak begitu jelas. Oleh karena itu, ia sengaja memperhalus gerakannya agar tidak menimbulkan bunyi lain yang berpotensi dapat menutupi suara mereka.

“Jika Detektif Park tidak berkeberatan, aku bermaksud menjemput Yeo Reom.”

Yeo Reom hampir menjatuhkan cangkir di tangannya saat suara Kyuhyun yang begitu tegas tanpa keraguan menyambangi telinganya.

Menjemputku?

Jantung Yeo Reom yang sangat norak mendadak berdegub kencang. Sebenarnya Yeo Reom tahu bahwa Kyuhyun tidak bermaksud apa-apa, tapi hatinya kelewat lancang mencari arti lain dari perkataan Kyuhyun.

“Ini bukan sepenuhnya kemauanku,” kalimat yang membuat hati Yeo Reom mencelos lemas. “Putriku, Haneul, sepertinya merasa bersalah pada Yeo Reom. Dia tidak mengatakan secara blak-blakan, tapi aku tahu maksudnya saat bertanya kapan Yeo Reom akan datang. Sebelumnya Haneul tidak pernah seperti itu. Dia tidak begitu peduli pada orang lain. Kupikir, dia sedikit menyukai Yeo Reom.”

Detik itu juga, Park Yeo Reom bersumpah bahwa dirinya akan langsung memeluk Haneul jika bertemu dengan anak itu. Masa bodoh dengan khayalan-khayalan tingkat dewa yang sempat dipikirkannya tadi. Sebelum menaklukkan sang ayah, ia harus mengambil hati anaknya. Jika Haneul mulai menyukainya, maka itu artinya Yeo Reom sudah selangkah lebih maju.

Seperti orang gila, Yeo Reom terkikik saking bahagianya. Sadar dengan kelakuannya yang aneh, Yeo Reom tak segan menghajar keji kepalanya sendiri. Come on, mengapa dirinya jadi hilang kendali dan bertingkah abnormal begitu? Atau mungkin ia telah menjadi penggemar seorang Cho Kyuhyun. Biasanya Yeo Reom selalu histeris seperti itu terhadap idola-idolanya.

Park Yong Shik merenung memikirkan perkataan Kyuhyun. Entah apa yang sedang bergelayut di pikirannya, ia kelihatan cukup resah. Bahkan beberapa kali menarik napas panjang.

“Anda yakin?” Yong Shik bertanya gusar. Kyuhyun diam, dan menunggu pria itu melanjutkan kata-katanya. “Begini. Putriku itu—aku tidak meragukan kemampuan akademiknya, tapi aku sangsi dia dapat melakukan hal lain dengan baik. Aku memang tidak dapat menyalahkan keadaannya karena dia tumbuh tanpa seorang ibu yang dapat mengajarkannya banyak hal yang tidak dijabarkan oleh sains.”

“Jangan khawatir. Haneul bukan anak yang mudah ditaklukkan. Sudah tidak terhitung berapa banyak tenaga berpengalaman yang kami pekerjakan, tapi semua menyerah. Jika Yeo Reom bisa membuat Haneul tergerak seperti itu, maka artinya dia lebih daripada apa yang Anda kira. Percayalah padanya.”

“Hanya saja—”

Kalimat Park Yong Shik terputus begitu saja karena kemunculan Yeo Reom di ruangan itu. Sambil membawa nampan di tangannya, Yeo Reom melangkah penuh kehati-hatian. Ekspresi wajahnya begitu tenang. Ia meletakkan tiga buah cangkir di atas meja dengan gerakan yang luwes.

“Silakan,” kata Yeo Reom, iramanya terdengar sopan. Setelah itu ia bergerak mundur secara teratur.

Semua orang mengawasinya. Yong Shik sampai harus mengucek matanya karena tidak yakin dengan penglihatannya. Yeo Reom sangat berbeda tadi. Sekilas, siluetnya seperti gadis-gadis bangsawan era Joseon. Anggun dan berkelas.

Mereka terdiam beberapa saat. Mungkin pemandangan tadi sempat mencengangkan mereka. “Silakan diminum,” Yong Shik akhirnya bersuara, ia yang lebih dahulu mengambil cangkirnya. Disusul Kyuhyun, dan kemudian Heechul setelah Kyuhyun memberi kode dengan menatap sekretarisnya itu.

Bukan Park Yeo Reom namanya kalau ia tidak merusak suasana dengan menimbulkan kekacauan lain.

Park Yong Shik dan Cho Kyuhyun sama-sama menyemburkan teh yang baru saja masuk ke dalam rongga mulut mereka. Tidak demikian dengan Kim Heechul yang tidak begitu berhati-hati dan dengan polosnya menelan minuman itu tanpa memiliki firasat buruk sebelumnya. Raut wajah Heechul yang begitu terpukul, tampak menegang penuh kengerian.

“PARK YEO REOM!!”

Teriakan Yong Shik pun membahana dan memekakkan telinga. Salah satu contoh kecil yang membuat Yong Shik cemas melepas putrinya tanpa adanya pengawasan. Tidak ada yang dapat dilakukan Yeo Reom dengan benar. Ia bahkan tidak bisa membedakan gula dan garam.

***

“Kampungan.”

Satu kata yang keluar dari mulut Haneul membuat Yeo Reom menyesali sumpahnya bahwa ia akan memeluk Haneul begitu bertemu anak itu. Yeo Reom sudah diperbolehkan ayahnya untuk kembali bekerja setelah Cho Kyuhyun yang tidak diduga-duga datang ke rumahnya kemarin.

Pagi ini, Yeo Reom berpapasan dengan Haneul yang hendak berangkat ke sekolah. Tidak ada yang berubah. Cho Haneul masih tetap menjadi seorang anak kecil yang menyebalkan. Untung saja suasana hati Yeo Reom sedang baik. Daripada meladeni Haneul, ia justru mengeratkan pelukannya sehingga membuat Haneul menggeliat berusaha membebaskan diri.

“Ihh, lepas!”

Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Haneul berhasil mendorong tubuh Yeo Reom. Ia menatap sebal pada Yeo Reom sebelum akhirnya bergegas meninggalkan Yeo Reom yang terkekeh. Tadi itu, Yeo Reom melihat rona merah di pipi tembem Haneul. Yeo Reom tahu kalau Haneul tidak benar-benar marah, tapi justru merasa malu sehingga membuat anak itu salah tingkah.

“Kau sudah datang?”

Mendengar suara Kyuhyun saja sudah membuat jantung Yeo Reom berlonjak kegirangan. Bagaimana jika ia melihat wajah Kyuhyun yang—

Holy shit!

Ayah muda itu baru saja selesai berolahraga. Hal itu disimpulkan Yeo Reom setelah melihat pakaian yang dikenakan oleh Kyuhyun. Kaos oblong putih, dan celana pendek di atas lutut berbahan parasut, yang juga berwarna putih. Dilengkapi sneakers kelabu.

“Ya?”

Kyuhyun menatap bingung pada Yeo Reom, mungkin ia terkejut mendengar umpatan Yeo Reom tadi. Keringat membuat kaos yang melekat di tubuhnya sedikit basah. Rambut Kyuhyun yang biasanya tertata rapi, kali ini tampak sedikit berantakan dengan poni yang jatuh menutupi dahi.

Damn!

“Nona Yeo Reom, adakah sesuatu yang salah?” selidik Kyuhyun yang bertambah heran karena Yeo Reom mengumpat lagi.

Sejak awal Yeo Reom bermaksud mengumpat dalam hati. Akan tetapi penampilan Kyuhyun pagi ini membuatnya sulit mengendalikan mulutnya.

“Presdir Cho, apa kau…malaikat?” tanpa sadar, Yeo Reom mengajukan pertanyaan yang kedengaran konyol itu.

“Ya???” alis Kyuhyun pun bertaut karena kalimat aneh Yeo Reom.

Selama beberapa saat terpaku, kesadaran Yeo Reom akhirnya kembali. Ia lantas menghajar kepalanya sendiri. Cukup kuat, sampai-sampai membuatnya meringis kesakitan. Bahkan Kyuhyun sendiri terkejut melihat bagaimana Yeo Reom menyiksa dirinya sendiri.

“Kau tidak apa-apa?”

Ok. Kyuhyun hanya mencemaskan keadaan Yeo Reom, atau mungkin mencemaskan mental Yeo Reom yang terganggu, tapi yang dilakukannya dengan maju dua langkah dan menatap Yeo Reom cukup dekat dengan sorot mata yang…

Fuck!” sungguh luar biasa kelancangan Yeo Reom yang begitu konsisten itu. “Maaf. Maaf,” gadis itu menundukkan kepala berkali-kali karena ekspresi Kyuhyun yang kelihatannya agak terpukul.

Park Yeo Reom, tanpa menoleh ke belakang, bergegas meninggalkan Kyuhyun dengan langkah seribu sambil mendesis malu. Dibandingkan mencemaskan mulutnya yang selalu berkata kotor, ia lebih memusingkan jantungnya yang berdetak super duper norak karena apa yang dilakukan Kyuhyun padanya tadi.

***

Cho Haneul beberapa kali melirik pada ayahnya saat mereka sedang sarapan bersama. Anak itu juga kelihatan gelisah. Yeo Reom merasa heran dengan tingkah Haneul yang tidak seperti biasanya.

“Ayah.”

Kyuhyun menoleh pada Haneul, “Ada apa?” tahu bahwa ada yang ingin disampaikan oleh putri semata wayangnya itu.

“Ayah tidak lupa, kan?” kyuhyun terlihat berpikir sejenak, “Undangan yang aku letakkan di meja kerja Ayah,” lanjut Haneul.

“Ah,” tampaknya Kyuhyun baru memahami maksud Haneul. “Tentu, tentu saja.”

“Ayah sungguh akan datang?”

“Iya,” Kyuhyun tersenyum.

Haneul terlihat senang untuk beberapa saat, tapi kemudian ia terdiam. “Tapi, Ayah tidak perlu datang kalau memang Ayah sangat sibuk di kantor.”

“Tidak, Sayang. Ayah pasti akan datang.”

Senyuman Haneul kembali merekah. “Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah,” katanya dan berlari riang meninggalkan meja makan.

Kyuhyun lalu menjelaskan pada Yeo Reom yang mendadak selalu penasaran dengan urusan rumah tangga itu. Hari ini adalah Daddy’s Day di sekolah Haneul dan para ayah diminta untuk bercerita di kelas.

Beberapa jam kemudian. Yeo Reom, Rin, Bora dan Yebin sudah berada di area sekolah internasional tempat Haneul bersekolah. Para gadis tidak tahu malu itu nekat datang ke situ setelah Yeo Reom mengatakan bahwa Kyuhyun akan datang ke sekolah dan bercerita di depan teman-teman sekelas putrinya. Sahabat-sahabat Yeo Reom begitu bernafsu ingin melihat secara langsung pria itu.

“Apa kita tidak terlalu mencolok?” tanya Rin.

Mereka memang menjadi pusat perhatian murid yang lalu lalang. Setelah kejadian Yeo Reom yang berkelahi dengan murid SMA di sekolah itu, kehadiran mereka di situ pasti menimbulkan tanda tanya. Mereka mungkin disalahpahami sebagai geng nakal yang berniat membuat kekacauan.

“Abaikan saja mereka. Kita hanya perlu pergi ke gedung SD, kan?” Bora langsung melenggang cuek. Ck, ibu-ibu memang lebih nekat dibandingkan para gadis.

Cho Haneul masih berdiri di depan kelas. Terlihat menanti kedatangan ayahnya dengan sabar. Ia terus memerhatikan sambil berharap sosok sang ayah muncul. Sementara itu, ayah dari teman-temannya sudah mulai berdatangan.

Yang muncul di ujung sana bukanlah bukan orang yang diharapkan Haneul, melainkan Yeo Reom yang melambai kelewat girang padanya. Anak kecil itu terlihat menghela napas kesal.

“Kenapa kau di sini?” Haneul bertanya. Tatapannya secara bergantian mengawasi Rin, Yebin dan Bora. “Dan membawa rombongan sirkus ini?”

Ketiga sahabat Yeo Reom langsung berdecak dan mendengus antara takjub dan kesal mendengar julukan yang diberikan Haneul pada mereka.

“Kubilang juga apa. Kalian pasti menyesal bertemu dengannya,” celetuk Yeo Reom santai. Maklum, ia sudah sedikit terlatih mendengar kata-kata pedas Haneul.

Bora menarik napas panjang, ia lalu membungkukkan tubuhnya menyamai tinggi Haneul. “Adik kecil. Yeo Reom meskipun kasar dan lancang, dia masih bisa bersabar, tapi kakak ini—” Bora menahan perkataannya, lalu tersenyum manis pada Haneul. “Ahli dalam memutilasi, lho.”

Sontak saja Rin menarik Bora. “Kau gila?” desisnya dengan suara yang dipelankan.

“Hei, apa yang kulakukan? Memangnya kalian tidak tahu kalau kemampuanku memotong daging meningkat sejak aku menikah?”

“Tapi kau membuatnya ketakutan,” Yebin melirik pada Haneul yang sebenarnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

“Apa aku bilang memutilasi manusia? Tidak, kan?”

“Cukup!” Yeo Reom menengahi adu argumen yang jika tidak dihentikan akan terus berlanjut. “Kalian berdua tidak akan mampu mendebat ibu-ibu,” katanya pada Yebin dan Rin. Bora hanya memberengut sebal setiap kali mendengar predikat ‘ibu-ibu’ dijulukan untuknya.

Lalu Yeo Reom berpaling pada Haneul. “Ayahmu belum datang, ya?” Haneul hanya mendengus sambil memalingkan wajah, dan sontak membuat geram ketiga sahabat Yeo Reom. “Mungkin ayahmu sedang dalam perjalanan. Sebentar, biar kutanyakan pada Sekretaris Kim,” kata Yeo Reom lagi sesudah menarik napas panjang, menetralisir kekesalannya akan sikap Haneul.

Yeo Reom segera menelepon Kim Heechul. Ia sempat menunggu beberapa saat sebelum akhirnya Heechul merespon panggilannya. Saat Yeo Reom sedang berbicara dengan Heechul, Haneul kembali memerhatikan teman-temannya yang berjalan bersama ayah mereka sambil bergandengan tangan. Mereka kelihatan bahagia.

“Apa katanya?” Rin bertanya begitu Yeo Reom menurunkan ponselnya dari telinga.

Haneul kini ikut menatapi Yeo Reom. Sepertinya tidak hanya Rin dan kedua gadis lainnya yang menantikan jawaban Yeo Reom. Sementara itu Yeo Reom mulai kelihatan serba salah. Ia mencoba mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan pada Haneul bahwa—

“Ayah tidak datang.”

Yeo Reom terperanjat, tak mengira jika Haneul sudah bisa menebaknya dengan benar. Beberapa saat keadaan menjadi hening. Rin, Bora dan Yebin hanya saling pandang. Yeo Reom sendiri memandang penuh penyesalan pada Haneul yang masih menampilkan raut wajah datarnya.

“Sudahlah, ayahku memang sangat sibuk. Apa pentingnya juga kegiatan ini?” katanya pelan, sebelum melangkah gontai memasuki kelas dengan kepala yang tertunduk.

“Apa yang terjadi?” Yebin bertanya pada Yeo Reom.

“Orang itu sedang dalam meeting yang kedengarannya cukup penting. Jauh lebih penting dari putrinya sendiri.”

Entahlah. Namun kali ini Yeo Reom merasa sangat kesal pada Kyuhyun. Agaknya, Yeo Reom dapat memahami perasaan Haneul. Walau Haneul mengisyaratkan seolah dirinya baik-baik saja, Yeo Reom tahu bahwa anak itu pasti sangat kecewa. Sekecewa Yeo Reom terhadap Kyuhyun yang mengingkari janjinya.

 

*Bersambung*

 

Ada yang nunggu ff ini?

Semoga terhibur ^^

26 respons untuk ‘Summer Wish (Part 4)

  1. nisa berkata:

    Ya ampun kyu kasihan haneul mengharapkan kedatanganmu, pantes sikap haneul spt itu krn mungkin itu cr haneul ingin d perhatikan

  2. Widya Choi berkata:

    Pdhl udh jnji mau dtg. Ksian jg jd ny liat haneul, dy kykny mnghrapkn bgt appa ny dtg, tp syg appa ny mlah g dtg.
    Ampun dahhh yeo reom bhsa ny hhhhhh.

  3. hara980120 berkata:

    Ff paling ditunggu. Kok merasa lebih pendek ya … tiba2 udah abis aja ngebacanya. Nyesek juga sih waktu kyuhyun gak dateng di daddy’s day. Eh ternyata udah tbc aja 😂😂 keep writing authornim. Semangaaat~ love ya

  4. blackswan berkata:

    kyaaaaaa…. kak… akhirnya ff ini di publish juga… aku sampe lupa cerita sebelumnya diri ff ini dan harus baca ulang ff sebelumnya hehehehhehe…
    tapi as always… aku selalu ga pernah kecewa karna nungguin ff ini, bagus bgt dan diakhir ff selalu bikin aku ga sabar buat nunggu next part karna penasaran. hehehehhe

    ditunggu next part kak… semoga ga kelamaan publishnya dan tetap semangat nulisnya ya kak 😁

  5. black swan berkata:

    kyaaaaaa…. kak… akhirnya ff ini di publish juga… aku sampe lupa cerita sebelumnya diri ff ini dan harus baca ulang ff sebelumnya hehehehhehe…
    tapi as always… aku selalu ga pernah kecewa karna nungguin ff ini, bagus bgt dan diakhir ff selalu bikin aku ga sabar buat nunggu next part karna penasaran. hehehehhe

    ditunggu next part kak… semoga ga kelamaan publishnya dan tetap semangat nulisnya ya kak 😁

  6. restucho berkata:

    Akhirnya dilanjut thank you, kak 😀
    Ini awalnya udah ketawa-ketawa tapi bagian akhir bikin sedih, ikutan kesel sama kyuhyun yang lebih mentingin kerjaan dibanding anak sendiri huhuhu
    Ditunggu kelanjutannya ya, kak. Semangat nulisnya!! 😀

  7. nabilatrrsydh berkata:

    Ya ampun haneul, kasian kamu nak. Haneul selalu bersikap biasa aja pdhal dia kecewa karna ayahnya ga dateng. Berharap yeo reom bisa ngebuat haneul gak ngerasa kesepian lagi 😦

  8. WonKyu_ELF berkata:

    Saiia nungguin banget ff ini 🤩🤩🤩🤩
    Suka banget sama tiap cerita di sini sist..
    moga lanjutannya cepat update yah..

  9. Shin Haehyun berkata:

    Kasian juga sama haneul.Kirain kyuhyun disini termasuk orangtua yang mengutamakan anaknya tapi ternyata….

  10. Mrs choi berkata:

    Kyu semacam pemeran pembantu aja ya dalam cerita ini tapi aku kok ga merasa ada yg kurang malah terhibur sama karakter Haneul dan yeo reom , jadi ada ga adanya Kyu ga terlalu berpengaruh😊
    Ga sabar nunggu next part 😅

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s