[Teaser] Summer’s Snow

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan. ~Mahatma Ghandi~

~*~

Sebuah kompleks pemakaman di Seoul, Korea Selatan. Orang-orang berpakaian hitam terlihat meninggalkan sebuah lokasi di mana beberapa saat lalu mereka mengantarkan seseorang pada tempat peristirahatan terakhirnya. Mobil-mobil mewah yang terparkir di ruas jalan di area pemakaman mulai bergerak meninggalkan tempat tersebut.

Di hadapan makam yang umurnya belum satu jam, masih ada dua orang yang belum berkutik dari tempat mereka berpijak. Seorang pria dengan raut wajah yang begitu tenang. Dia menggeser pandangannya pada wanita cantik yang membisu di sisinya. Kaca mata hitam yang dipakai wanita itu menyembunyikan matanya yang sembab. Dia memandang lurus pada nama yang tertera pada nisan.

“Apa sekarang dia bahagia?” gumam wanita itu setelah sekian lama bungkam, lalu menarik nafas panjang. “Apakah kini dia benar-benar bahagia?” dia mengulang pertanyaan sebelumnya hingga membuat pria di sisinya kembali menatap sedih padanya. “Aku ingin tahu,” lanjutnya lagi dan air mata terlihat mengaliri pipi putih mulusnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Happiness

“Apa kau sudah gila?”

Jiwon, gadis bertubuh tinggi semampai itu hanya bungkam. Matanya yang besar hanya memancarkan keyakinan bahwa keputusannya tidak berubah. Gadis yang dianugerahi kecantikan fisik dan kecantikan hati yang nyaris sempurna itu hanya tersenyum tenang, bahkan ketika semua orang sedang mempertanyakan kewarasannya.

“Jiwon, tak lebih dari enam bulan lalu ketika kau mengenalnya. Apa kau yakin?”

“Mengapa kalian selalu meragukanku? Ini keputusanku dan aku tak akan mundur,” Jiwon menjawab tenang. “Aku akan tetap menikah dengannya.”

“Cinta memang selalu mengutamakan hati dan mengesampingkan logika, tapi ada saatnya ketika hati menjadi buta dan logika harus bekerja,” Hyo Eun bergumam pelan, “Aku tahu kau mencintainya, tapi bukankah kau sendiri tahu apa yang akan terjadi?”

“Leukimia. Kau bahkan mengatakan dengan jelas jika dia tak memiliki banyak waktu karena penyakitnya itu, dan kau masih bersikeras untuk menikah dengannya?” Yoora memandangi Jiwon sambil berdecak. Dia kesal dengan kebodohan sahabatnya yang memilih untuk menikahi seorang pria penyakitan. Baca lebih lanjut