Under The Joseon Sky (Part 1)

Marchia’s note : Ada yg ingat gak dgn teaser yang tempo doloe yg sempat dipublish di sini dgn judulnya ‘Di Bawah Langit Joseon’? Nah, ini dia ceritanya dan karena ini HASIL IMAGINASI-ku, jadi MOHON UNTUK TIDAK DI COPY PASTE or PLAGIAT! Kalau teman2 mendukungku & menemukan aksi plagiat, tolong beritahu aku. Say no to plagiat!

=========================

Present :

UTJS

 Selama kakimu masih memijaki planet yang sama dan udara yang kau hirup adalah udara yang sama. Asalkan kau dan aku masih bernaung di bawah langit yang sama. Dimanapun dirimu berada, aku pasti akan menemukanmu.

 ***************************************************

~ Orang Aneh ~

 

Mengikuti seminar yang memakan waktu sehari, Ammy akhirnya dapat bernafas lega setelah berhasil meninggalkan parkiran Sari Pan Pacific Hotel dengan sebuah taksi. Taksi yang ditumpangi Ammy melaju dengan tidak terburu-buru disepanjang Jalan M.H. Thamrin. Suasana malam kota Jakarta adalah pemandangan yang familiar selama 26 tahun hidup Ammy.

Hampir tiga puluh menit lamanya dihabiskan Ammy dalam perjalanan hingga ia tiba di tempat tujuannya dan setelah membayar ongkos taksi, Ammy segera memasuki rumah yang ditinggalinya—sebuah rumah bergaya minimalis. Cahaya mulai terlihat dari dalam rumahnya yang semula gelap. Ayah Ammy telah meninggal dunia sejak ia berumur dua tahun, ia hampir tak mengenali sosok ayahnya. Setahun belakangan ini, Ammy mulai membiasakan diri untuk hidup sendiri setelah ibunya menyusuli ayahnya.

Ammy membuka kulkas, menarik sebuah botol kecil yang berisi air mineral, meneguk isinya sampai tuntas. Gadis itu lalu bergegas menuju kamar tidur, melempar sekenanya tas di atas tempat tidur. Ia melepas blazer hitam yang dipakainya. Untuk beberapa saat Ammy terlihat sibuk di depan laptop sambil sesekali merogoh snack yang berada di atas meja dan menjejali itu ke dalam mulutnya. Ammy tak perduli jika tempaan cahaya dari laptop bisa merusak penglihatannya, terlebih ia dengan sengaja hanya menyalakan lampu bercahaya remang yang hanya digunakan ketika ia hendak tidur.

Pukul sembilan malam, Ammy mulai beringsut. Ia meluruskan kedua tangannya, mencoba untuk mengusir semua ketegangan yang menghampirinya. Tak berapa lama, Ammy segera beranjak dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Ammy menghabiskan 45 menit waktunya di dalam kamar mandi dan keluar sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk di tangannya.

Ammy meraih ponsel yang sejak kedatangannya hanya dibiarkan diam di atas meja rias, ia melangkah kecil lalu duduk di tepian pembaringannya. Matanya masih fokus pada ponsel. Sesekali desah nafas berat keluar dari hidungnya. Ponsel di tangannya tiba-tiba bernyanyi riang dan Ammy terlihat girang, namun kegirangannya tak berlangsung lama. Identitas yang tertera di layar ponsel bukanlah nama seseorang yang sedang diharapkannya.

Hallo Gin,” jawab Ammy.

Terdengar lemas?” lengking tajam seorang gadis dari seberang. “Aku tahu. Kau pasti sedang menunggu panggilan dari Chris, benar begitu? Oke, oke.

“Eh, Gin! Gina!” Ammy mencegah Gina agar tidak memutuskan sambungan telepon. “Tidak seperti itu juga caramu,” desah kasar Ammy. “By the way—biasanya kalau ada maunya baru ingat kalau kau masih punya seorang sahabat yang bernama Ammy Moyra?”

Gina terkikik pelan. “Mendadak jadi sensitif? Tidak ada yang penting. Aku hanya ingin tahu kabarmu. Terbukti feelingku benar, belakangan ini fenomena menggalau ria sedang naik daun,” goda Gina.

“Dasar kau ini. Mengapa kau sangat menyebalkan? Mendapat perawatan dari dokter sepertimu, rasanya tak akan membuat kondisi pasien membaik,” desah Ammy kesal.

Sebagai sahabat dari Ammy Moyra, aku menyarankan agar kau tak perlu memikirkan yang aneh-aneh,” Gina sepertinya tahu dengan sangat betul kondisi yang sedang dialami oleh Ammy. “Pernikahanmu itu hanya menghitung hari.

“Hari?” delik Ammy, “Bulan. Sebulan lagi, Gin.”

Tiga puluh hari beibb~ sama sajakan?” goda Gina. “Mungkin yang sekarang sedang kau rasakan itu adalah sesuatu yang disebut sindrom pra nikah. Pernah dengar? Kata orang, kebanyakan calon pengantin pasti mengalami sindrom itu. Nah, termasuk perasaanmu yang selalu saja menggalau ria cetar membahana badai ulala, terpampang nyata,” Gina meminjam istilah yang dipopulerkan oleh salah satu artis tanah air.

Ammy terdiam, mungkin saja yang dikatakan oleh Gina adalah sesuatu yang memang sering terjadi pada calon pengantin. Sebulan lagi Ammy akan resmi menjadi Nyonya Chris—kekasih yang dipacarinya selama lima tahun belakangan ini. Namun entah mengapa, perasaan yang dirasakan Ammy selama menjalin hubungan dengan Chris justru menipis. Semakin mendekati hari H, justru Ammy selalu diliputi dengan kebimbangan. Ingin menghindar namun Ammy yakin bahwa Chris adalah takdirnya dan dia berharap bahwa apa yang dirasakannya saat ini hanyalah sebuah ujian agar hubungannya dan Chris semakin merekat.

Am, bagaimana dengan pria sipitmu itu?” Gina kembali bertanya, “Dia masih menempelimu seperti sebuah perangko?

“Kebetulan aku dan dia bekerja di tempat yang sama, tentu saja intensitas kami bertemu sangat tinggi,” elak Ammy. “Lagi pula, kenapa juga kita harus membahas dia?” Ammy menggerutu pelan.

Dia termasuk dalam sindrom pra nikahmu. Ingat, jangan tergoda dengan pria manapun!” Gina berkata dengan sangat tegas. “Uhm, sebenarnya—aku sangat-sangat tertarik padanya,” Gina terkekeh nyaring.

“Aku tak berniat untuk menjadi biro jodohmu,” tolak Ammy mentah-mentah sebelum Gina menyampaikan maksud terselubungnya.

Cihh, baiklah. Aku akan berusaha sendiri,” omel Gina. Ammy hanya tertawa pelan menanggapi kekesalan sahabat karibnya.

“Jika kau ingin mendekatinya, kau bisa mendaftar dan mengikuti kelasnya. Kau harus tahu, sejak kedatangannya, banyak remaja yang bergabung di tempat kami hanya untuk mengikuti kelasnya.”

Ah, mengapa gadis-gadis muda itu tak bisa memberikan kesempatan pada wanita matang yang telah sangat siap menikah seperti aku ini?” dengus Gina.

Tawa Ammy pecah begitu saja. “Kau memang sudah gila. Sudahlah, renungi saja nasibmu. Aku ingin tidur.”

Oke,” celetuk Gina. “Good night beibb~” pamit Gina sebelum mengakhiri percakapan mereka.

Ammy kembali dalam keheningan suasana kamar tidurnya. Gadis itu membanting kasar tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Ia memejamkan matanya—lalu benar-benar tertidur.

~.o0o.~

PIPP…PIPP..!

Ammy berlari pelan di dalam rumah, ia menepuk jidatnya dan kembali memasuki kamar, meraih tasnya. Gadis itu segera menyarungkan sepatu pada kedua kakinya dan bergegas keluar dari rumah. Mata Ammy tertanam pada sebuah mobil hitam yang telah terparkir. Setelah mengunci pintu rumah, Ammy segera menghampiri mobil tersebut.

“Maaf..” ujar Ammy setelah duduk tenang di dalam mobil. Pria yang sedang memegang kemudi mobil hanya tersenyum, memamerkan ketampanannya.

Mobil mulai bergerak dan bergabung dengan ratusan kendaraan yang tengah melaju dipadatnya jalanan Jakarta. Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan kebisuan, tak jarang Ammy menatap wajah lelaki yang berada di sisinya. Dia tampak tenang mengemudikan mobil.

“Apa aku setampan itu?”

Ammy tersenyum lebar, ia tertawa tanpa suara mendengar pertanyaan pria itu.

“Baiklah. Kau memang tampan—Chris,” jawab Ammy. Chris tersenyum puas.

“Jika kau terus menatapku seperti itu, kau membuatku salah tingkah. Ammy, kau ingin kita mengalami kecelakaan?” goda Chris.

“Silahkan mengemudi dengan benar,” senyuman Ammy kian mekar. Gadis itu lalu terdiam, ia memandangi wajah Jakarta dari balik kaca mobil. Pikirannya kembali berkecamuk.

“Jangan mencemaskan apa pun,” ujar Chris. Seketika Ammy menoleh, mencari maksud lain dari perkataan kekasihnya. “Tak perlu begitu khawatir,” senyuman Chris sangat menenangkan kegetiran di hati Ammy.

“Chris, Ibumu.”

“Pernikahan kita sudah dekat. Ibu tak begitu menentang kita seperti dulu, kau jangan khawatir, dia pasti akan menerimamu.”

Wanita itu adalah satu-satunya orang yang menentang hubungan Ammy dan Chris. Mungkin dia merasa seorang penerus perusahaan besar seperti anaknya, tak pantas menjalin hubungan dengan gadis sederhana yang hanya bekerja sebagai seorang instruktur bahasa asing.

“Tentang Ibu, aku yakin kau bisa melembutkan hatinya. Maukah kau berjanji padaku bahwa kau tak akan menyerah terhadap Ibuku?”

Ammy terdiam dan sejurus kemudian ia tersenyum. “Aku tak akan menyerah. Menyerah bukanlah bagian dari diriku,” jawaban yang diberikan Ammy membuat Chris tersenyum sangat puas. Mereka akhirnya tiba di Equity Tower yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman.

“Jangan lupa, jam delapan malam nanti!”

Ok!” angguk Ammy sembari turun dari dalam mobil, ia melambai pada mobil yang kian menjauh. Ammy segera memasuki gedung bertingkat itu, bergabung bersama pengguna lift lainnya. Lantai tujuh belas adalah tempat tujuannya.

“Hai Am!”

“Hai!”

Ammy begitu ramah membalas sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya. Ammy segera meletakan tas begitu sampai di meja kerjanya, mengistirahatkan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Ia lalu memandangi jadwal kelasnya.

Ammy bekerja di Pusat Kebudayaan Korea di Indonesia atau Korean Culture Center Indonesia. Sebuah lembaga resmi yang berada di bawah Korean Culture and Information Service yang merupakan lembaga di bawah Ministry of Culture and Information of The Republic of Korea. Pusat Kebudayaan Korea tersebut menawarkan berbagai kegiatan dan fasilitas bagi orang-orang yang ingin menambah pengetahuan tentang Korea, termasuk pelatihan untuk berbahasa Korea dengan baik dan benar. Pengajar di Pusat Kebudayaan Korea adalah penutur bahasa Korea yang berkualifikasi tinggi. Ammy termasuk salah satu pengajar di situ.

Beberapa saat berlalu, Ammy tampak meninggalkan meja kerjanya. Ia berjalan menyusuri koridor kantor dan memasuki sebuah ruang kelas, beberapa orang murid telah menunggu dengan tenang. Setelah memberi salam dalam bahasa Korea, Ammy memulai pelajaran. Ammy berbicara bahasa Korea dengan sangat fasih. Murid-murid yang didominasi oleh gadis-gadis muda terlihat begitu antusias. Sesekali mereka mengangguk paham dengan penjelasan Ammy. Tak jarang Ammy melakukan interaksi agar suasana belajar tidak kaku dan tentunya membiasakan murid-murid yang diajarnya agar berbicara dalam bahasa Korea.

Sudah dua jam kelas berlangsung dan akhirnya kelas itu bubar. Ammy masih duduk dengan tenang di dalam ruangan yang telah kosong. Ia membereskan peralatan yang dibawanya lalu meninggalkan ruang kelas, melewati beberapa ruang kelas yang di dalamnya masih berlangsung jam kursus. Kericuhan tampak terjadi di salah satu ruangan. Ammy menoleh, ia mendesah melihat pemandangan yang sangat tak biasa. Ruangan itu penuh sesak oleh para gadis muda. Mereka memandang hikmat pada seorang pria yang berdiri di depan kelas.

Sejak kedatangan pengajar yang baru, banyak murid yang meminta pindah ke kelas pengajar itu. Ammy tidak dapat memungkiri bahwa pria itu tampan. Dengan kulit bersih juga mata sipit namun tetap memancarkan ketegasan—pesona senyumnya mampu menggeser hati para gadis yang melihatnya.

“Ammy,” melihat Ammy yang melintas di depan kelasnya, pria tampan itu melambaikan tangan dengan riang. Ia tersenyum mekar.

Tatapan Ammy justru teralih pada para muridnya yang ikut memandangi Ammy namun dengan tatapan tak senang. Ammy mendesah, berpikir bahwa diusia remaja mereka memang masih sangat labil. Ammy cukup maklum karena ia telah melewati tahap tersebut. Ammy hanya membalas dengan tersenyum tipis lalu benar-benar menghilang dari pandangan mereka semua.

~.o0o.~

 

Ammy menatap jam tangannya. Kecemasan tampak di wajahnya. Posisi duduk Ammy bahkan terus berubah, menjelaskan hatinya yang sedang gelisah. Ammy telah begitu lama duduk di tempat itu, sebuah butik. Sudah lebih dari sejam dari waktu yang dijanjikan namun Chris belum menunjukkan batang hidungnya.

“Chris?” Ammy menjawab panggilan masuk

Am, maaf. Sepertinya aku tak bisa ke situ,” perkataan Chris menimbulkan kekecewaan dalam hati Ammy. “Direksi mengadakan meeting dadakan. Maafkan aku, bisakah kau mencobanya seorang diri? Aku yakin kau akan tampak cantik dengan apa pun yang kau pakai.

“Ya, aku mengerti,” jawab Ammy. “Jangan khawatir, aku baik-baik saja,” ia mengulas senyum tipis di sudut bibirnya sebelum percakapan itu berakhir.

“Nona, apakah Anda ingin mencobanya sekarang?” kedatangan seorang wanita membuyarkan lamunan Ammy.

“Ah, iya—tentu saja,” jawab Ammy, ia segera mengikuti langkah wanita tersebut. Mereka memasuki sebuah ruangan.

Sudah lima belas menit berlalu. Tirai yang menutup segera di buka. Ammy tampak cantik dengan gaun pengantin yang dikenakannya.

“Kau sangat cantik. Gaun itu seperti dibuat khusus untukmu.”

Ammy tersenyum. Ia cukup puas memandangi pantulan dirinya dalam cermin besar di hadapannya. Senyum di wajah Ammy kian menipis, pikirannya tampak menjelajah jauh dari raganya. Andai saja Chris bisa melihatnya saat ini. Sejenak Ammy tersenyum konyol—menyadari bahwa apa yang dipikirkan olehnya sangatlah kekanak-kanakan. Tetap saja Ammy tak dapat memungkiri, meski hanya sesaat ia ingin tahu rasanya ketika melihat Chris tersenyum puas akan penampilannya saat ini. Ammy lalu menggeleng pelan. Tak ada yang ingin disalahkan olehnya. Lagi pula, ia masih baik-baik saja.

~.o0o.~

Bunyi-bunyi yang begitu familiar terdengar ketika dengan lincahnya jemari-jemari mungil Ammy menari-nari di wilayah keyboard. Ia terlihat serius dengan apa yang sedang dikerjakan dan hanya akan mengambil jeda ketika pesawat telepon di mejanya berbunyi.

“Kau memang tak pernah berubah.”

Aktivitas Ammy terhenti ketika suara berat itu terdengar dekat. Ia menoleh dan mendapati seorang pemuda tampan telah berdiri di sisi meja kerjanya.

“Maaf?” alis Ammy saling bertaut. “Kurasa kita baru saling mengenal dan apa yang kau tahu tak berubah dariku?” ia memandangi pengajar baru yang telah menarik perhatian para gadis.

“Benarkah?” pemuda itu tersenyum mekar.

“Aku rasa begitu,” Ammy tak bermasalah sedikit pun ketika harus berkomunikasi dalam bahasa Korea. Pemuda itu sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia, selain baru tiga bulan berada di Indonesia—toh, kedatangannya ke Indonesia untuk mengajar bahasa Korea, bahasa dari negara asalnya. Ammy kembali menyibukkan dirinya.

“Kudengar kau akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat?” Pemuda itu ikut menanamkan matanya pada layar monitor Ammy. Gadis yang ditanya hanya bungkam. “Ammy, kau yakin dia orangnya?”

Ketikan Ammy terhenti. Ia menoleh pada pemuda yang hanya memamerkan tampang tenangnya, keseriusannya pada tampilan monitor itu mengalahkan keseriusan Ammy. Ammy menarik nafas dalam lalu melanjutkan pekerjaannya, ia memutuskan untuk tidak menanggapi perkataan orang itu.

“Kau memiliki sesuatu yang sangat tak biasa. Aku akan sedikit membocorkan rahasia besar padamu,” ia berbisik. “Kau harus menyiapkan hatimu, kau akan terluka—sangat terluka, tapi percayalah luka itu akan segera sembuh. Saat itulah hidupmu yang sesungguhnya dimulai.”

Lagi-lagi Ammy menghirup udara dalam-dalam, ia menjauhkan tangannya dari keyboard lalu menoleh pada pemuda itu. “Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Orang itu bukanlah takdirmu,” perkataan itu membuat air muka Ammy berubah. “Seberapa keras kau dan dia berusaha, itu tidak akan pernah terjadi. Di kehidupan mendatang pun, kau tak akan pernah berjodoh dengannya.”

“Hyuk Jae!” Ammy membentak kasar. “Apa maksudmu?”

“Ah, kau memang selalu seperti ini,” pemuda bernama Hyuk Jae itu hanya berdecak prihatin.

Ammy membereskan meja kerjanya. Ia bangkit dari kursi yang telah memanas karena dudukinya selama berjam-jam. “Jangan mengatakan sesuatu yang tak masuk akal!” Ammy menatap tajam pada Hyuk Jae. Ia melangkah kasar, sedikit menyenggol tubuh orang itu—meninggalkanya seorang sendiri.

“Saat matamu tak bisa berpindah. Saat jantungmu merontah, melompat kasar serasa ingin menembus dadamu. Meskipun itu adalah pertemuan pertama, namun kau merasa telah sangat merindukannya begitu lama,” pemuda bernama Hyuk Jae itu terdiam, ia memandangi punggung Ammy yang kian menjauh. “Ketika kau bertemu seseorang yang membuatmu merasakan hal-hal seperti itu, maka saat itulah kau akan mengerti,” ia menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.

~.o0o.~

Dentingan halus terdengar ketika Ammy sedang menyeduh teh hangat. Ia meletakan cangkir berisi teh itu ke atas wadah. Ammy lalu meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruang tamu, tempat di mana Chris tengah duduk santai sambil memainkan ponsel di tangannya. Ammy meletakan cangkir di atas meja, mendorong pelan, lebih mendekati Chris. Gadis itu lalu duduk di sisi kekasihnya itu. Chris menyimpan ponsel di balik saku celananya dan ia segera menarik cangkir di hadapannya.

“Aku selalu menyukai aroma teh seduhanmu,” kata Chris setelah membaui kepulan asap tipis di permukaan teh.

Ammy tersenyum, “Aromanya akan selalu seperti itu,” ia memandangi Chris yang meneguk hati-hati isi cangkirnya.

“Aku sedang memujimu, Ammy,” ujar Chris. Ia meletakan kembali cangkir itu di atas meja. Ponsel Chris berbunyi cukup nyaring. Chris segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Perubahan tampak dari raut wajahnya ketika melihat identitas si pemanggil. Chris menarik nafas panjang.

“Kau tak menerima panggilan itu?” Ammy bertanya ketika tak terlihat sedikit pun niat Chris untuk mengangkat ponselnya.

“Tidak apa-apa,” senyum tipis Chris.

“Ibumu?” Chris menoleh pada Ammy. Tebakan Ammy sangat jitu. “Tak baik jika kau mengabaikan panggilannya,” ujar Ammy.

“Bukan apa-apa,” ujar Chris. Ia justru mematikan ponselnya. “Jangan dipikirkan,” katanya lagi, mencegah Ammy kembali menasehatinya. Selama beberapa menit suasana yang tercipta di tempat itu hanyalah kebungkaman. Entah apa yang bersarang di kepala kedua orang itu. Mereka hanya diam. “Bagaimana jika kita kawin lari?” pertanyaan Chris yang memecah kesunyian, mampu membuat Ammy berpaling seketika padanya.

“Chris?” dahi Ammy berkerut tipis. Ia sedang mencari keseriusan dari perkataan pemuda tampan di sisinya.

“Kau mencintaiku?” Chris menoleh, tatapan mereka saling bertemu.

Untuk beberapa saat Ammy tertegun, “Tentu. Aku mencintaimu,” Ammy tetap menjawab meskipun kepalanya sedang berusaha menerka-nerka.

“Aku sangat mencintaimu, Ammy. Aku rela meninggalkan segalanya, asal kau tetap di sisiku,” katanya. “Bukankah cinta itu butuh pengorbanan?”

“Chris?” Ammy semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan mereka. “Terjadi sesuatu? Ibumu benar-benar tak mengijinkanku?”

Chris terdiam. Ia lalu tersenyum, “Pernikahan kita sudah dekat. Jangan berpikiran yang aneh. Aku hanya sedang menggodamu,” tangan Chris mengacak-acak lembut rambut Ammy.

Ammy tersenyum tipis, meskipun ia masih menangkap sesuatu yang aneh dari gelagat Chris. Ammy lalu merebahkan kepalanya di bahu Chris. Terasa hangat. “Cinta memang butuh pengorbanan, tapi pengorbanan saja tak akan cukup. Kepercayaan adalah hal lain yang mendasari cinta,” Ammy berkata dengan sangat tenang, “Cinta bukan mengajar kita lemah tapi membangkitkan kekuatan. Cinta tak mengajarkan kita untuk menghinakan diri, tapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tapi harus membangkitkan semangat,” Ammy berujar. Chris lalu menggenggam jemari-jemari halus Ammy. “Hubungan yang kita lalui tak mulus. Ada ibumu yang tak menyukaiku tapi seperti janjiku, aku tak akan menyerah karena itu. Selama kau mempercayaiku untuk berada di sisimu, selama itu pula aku akan baik-baik saja.”

“Ya, dan itu akan sangat menyenangkan,” Chris tersenyum tenang. Ia meremas lembut jemari Ammy. Ada kepercayaan yang ditanam dibalik remasan itu.

~.o0o.~

Ammy berjalan sedikit tergesa-gesa memasuki Convivium Cafe, sebuah kafe yang berada di Jakarta Selatan. Saat memasuki kafe, mata Ammy langsung dimanjakan dengan kenyamanan khas Italia. Kafe tersebut memang bergaya rumah khas Italia, suasana hangat dengan dinding kafe yang dihiasi dengan berbagai macam hiasan botol-botol bekas aqua panna yang ditata cantik. Tak ketinggalan berbagai macam foto dan majalah yang ditata rapi di rak hias. Di dalam kafe telah dipadati oleh para pelanggan. Mata Ammy bergeser, mencari sosok Gina.

“Am!”

Ammy menoleh ketika suara melengking yang begitu familiar meneriakan namanya. Gina sedang melambaikan tangan di salah satu tempat, di sudut ruangan. Ammy segera menghampiri Gina.

“Maaf, aku harus merampungkan pekerjaanku,” ujar Ammy menjelaskan keterlambatannya, ia duduk di hadapan Gina.

“Aku tahu,” Gina tersenyum, tak mempermasalahkan itu. “Mau pesan apa?” tanya Gina.

“Apa pun yang menurutmu enak.”

Gina kembali tersenyum mendengar jawaban enteng Ammy. Berbagai macam hidangan pasta tampaknya tak membuat Gina kebingungan. Gadis itu lalu menentukan jenis menu yang akan mereka nikmati.

“Bagaimana kabar pemuda sipitmu itu?” pertanyaan Gina sukses membuat Ammy menatapnya datar. “Sepertinya pertanyaanku salah,” Gina terkekeh pelan.

“Aku tak ingin memikirkan orang itu,” gerutu Ammy. Ammy masih kesal karena perkataan Hyuk Jae beberapa waktu lalu yang dinilainya sangat berlebihan dan terlalu sok tahu.

“Belakangan ini aku jarang melihatmu bersama Chris,” Gina meneguk anggun chianti, jenis anggur Italia yang paling terkenal.

“Dia sangat sibuk di kantornya,” jawab Ammy singkat. “Oh ya, besok aku ke Seoul.”

Gina menatap lekat wajah Ammy, “Seoul?” ia mencoba meyakinkan apa yang baru saja didengarnya. Ammy menggangguk pasti. “Mendadak sekali. Ada apa?”

“Bukan apa-apa, hanya urusan kantor,” jawab Ammy. Ia tersenyum pada pelayan yang baru saja meletakan pesanan mereka. “Terima kasih,” katanya lagi pada pelayan yang tersenyum ramah.

“Lalu, pernikahanmu?” Gina kembali melayangkan pertanyaan setelah pelayan tadi pergi.

“Kenapa tiba-tiba bertanya tentang pernikahanku? Tugasku hanya dua minggu.”

“Dua minggu? Itu waktu yang lumayan lama,” Gina berdecak. “Kau harus melakukan banyak persiapan sebelum pernikahan. Kau yakin tak akan ada masalah? Kau bisa meminta orang lain menggantikanmu.”

“Gina, mengapa kau tak pernah yakin padaku?” celetuk Ammy, “Aku akan baik-baik saja. Ok?”

“Baiklah, tapi bagaimana dengan Chris?” Gina bertanya dengan sangat serius. “Kau sudah mengatakan keberangkatanmu padanya?”

Ammy menarik nafas, “Ya,” jawabnya sambil menyuapi pasta ke dalam mulutnya. “Dia mengijinkanku, meskipun aku tahu dia keberatan. Aku berhasil meyakinkannya,” Ammy mengerling.

“Kau memang selalu seperti itu. Gadis keras kepala!” Gina kembali berdecak. “Ah, berhubung kau akan ke Seoul, tolong titipkan salamku pada Song Joong Ki.”

“Menarik perhatian Hyuk Jae saja kau sudah tak sanggup,” Ammy memandang miris pada Gina. “Aku bukan promotor artis,” ia berdecak prihatin. Gina hanya tertawa menanggapinya. “Oh ya, bagaimana pekerjaanmu? Belakangan ini kau terlihat sangat sibuk?”

“Benar sekali,” angguk Gina, “Rumah sakit selalu sibuk tapi kau tahu apa yang membuat kami lebih sibuk?” Ammy hanya menggeleng mendengar pertanyaan sahabatnya itu. “Kami akan mendapatkan kunjungan besar.”

“Kunjungan besar?”

“Ya. Seseorang akan datang. Seorang dokter bedah paling populer. Dia ahli bedah jantung yang paling diakui oleh dunia,” jawab Gina. “Saat itu dia tercatat sebagai dokter termuda setelah diterima di universitas pada usia sepuluh tahun.”

“Wow!” satu kata yang bisa dikeluarkan oleh Ammy.

“Bayangkan saja, dalam setahun dia sukses melakukan 450 bedah. Sekarang dia adalah guru besar ilmu bedah jantung dan baru-baru ini didaulat sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia.”

Tak henti-hentinya Ammy berdecak kagum mendengar kehebatan orang yang diceritakan oleh Gina sahabatnya.

~to be continue~

Sebenarnya yg harus dipublish itu last part Lovely Piggy, tp mengingat sampe detik ini blm sempat dibuat jadi beralih ke next story sambil ngerjain Lovely Piggy. Oke, untuk part 1 dan 2 belum ada berbau Joseon, ntar start di part 3 dan mengingat ini pengalaman pertama untuk cerita dengan tema Saeguk yang lumayan (mungkin), jadi mohon dimaklumi jika suatu saat kalian menemukan sesuatu yang ganjil dan aneh hahahahaha

O ya, untuk cerita ini sengaja untuk part demi part gak dibuat panjang2 bgt (malah ada yg salah satu part cuma dikiiiiiiiiiit), maksudnya pengen ngirit gitu 😀

Sekali lagi  sgt berharap tidak ada praktek PLAGIAT dan jika seandainya kalian mendapat cerita di blog ini yg sengaja diplagiat, tolong segera infokan ya. Btw, komen dari teman2 semuanya juga masih sangat diharapkan.. muuuaacchh!

Iklan

313 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 1)

  1. itisyahri berkata:

    Aku penasaran sam hub ammy dan chris… Ahahaha jangan bilang yg dibicarain gina itu donghae? Wohooo.. Makin penasaran aja

  2. nana berkata:

    Sprti udh prnh baca tp lupa jln ceritax… tp ffx bgus n sya paling suka cerita2 yg brbauh sejarah/ joseon☺

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s