Drama (Part 10)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Baek Mi Rae telah melewatkan beberapa bus. Sudah 30 menit ia duduk termenung. Orang yang menunggu bus bersamanya bahkan telah berganti-ganti, namun ia masih betah berlama-lama di halte. Hari ini Mi Rae memilih absen dari kerja part time­, sesuatu yang jarang terjadi. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Ia hanya akan bertingkah seperti itu dengan satu alasan. Memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu ketentraman seorang gadis yang super cuek seperti dirinya.

Suara jangkrik membuyarkan lamunan Mi Rae. Beberapa orang yang duduk di halte ikut menoleh padanya. Mereka pasti merasa aneh mendengar ringtone Mi Rae.

“Ada apa?” Mi Rae malas-malasan menjawab telepon Jin Ae.

Di mana kau?

“Halte di seberang kampus.”

Kau akan bekerja?

Mi Rae menarik napas, “To the point saja,” ia tahu jika Jin Ae memiliki motif tersembunyi. Jin Ae tertawa kecil.

Sepertinya sudah lama kita tidak berbelanja.

Kita?” Mi Rae bertanya dengan penuh penekanan. Sejak kapan ia termasuk dalam golongan gadis yang gemar berbelanja?

Maksudku. Bagaimana jika kita berbelanja?

“Han Jin Ae, mungkin kau sudah lupa seperti apa aku ini. Hanya karena kau memiliki pacar, dan kau membuang sahabatmu! Itu sangat buruk.”

Aish, mengapa kau selalu berprasangka buruk terhadap aku?” Jin Ae mengerang kesal. Kalau saja ia ada di sebelah Mi Rae, ia pasti akan menjitak kepala sahabatnya itu. “Dengar. Aku sedang berada di COEX Mall.

“Jadi?” tanya Mi Rae.

Gosh,” erangan Jin Ae terdengar lebih panjang. “Nona Baek. Daripada kau memamerkan wajah datarmu yang kaku sehingga membuat orang-orang di sekitarmu bergidik karena mengira kau sedang kerasukan,” celoteh Jin Ae dalam satu tarikan napas membuat Mi Rae ikut mengawasi sekelilingnya. Apakah ia baru sadar jika sejak tadi terus diperhatikan dengan tatapan aneh? Ada apa dengan Jin Ae akhir-akhir ini? Otaknya mulai bekerja dengan lancar. Atau ia telah beralih profesi menjadi seorang cenayang? “Lebih baik kau ke sini. Sekarang juga!” titah Jin Ae. Mulut Mi Rae baru saja terbuka untuk menyela ketika Jin Ae berkata, “Tidak ada kata tidak!” sambungan telepon pun terputus.

Mi Rae meradang. Ia mengerang kesal dan tak sadar ketika ia menendang tong sampah yang terletak di sebelahnya. Ia salah tingkah karena orang-orang itu semakin menghujaninya dengan tatapan curiga. Buru-buru ia berdiri dan berjalan pergi sambil memasang wajah datar, berusaha untuk mengabaikan tatapan-tatapan aneh yang ditujukan padanya.

*

Samseong-dong, Seoul. Mi Rae menyeret kakinya memasuki COEX Mall. Tak bisa dipercaya jika pada akhirnya ia menuruti permintaan Jin Ae yang sangat memaksa, mungkin lebih tepat jika dikatakan ‘perintah Jin Ae’. Tak henti-henti ia menggerutu, mempertanyakan dirinya yang entah sejak kapan menjadi sangat penurut.

Mi Rae berhenti. Ia baru menyadari sesuatu. Di mana Han Jin Ae? Astaga, tidak mungkin ia harus mencari Jin Ae di tempat itu. COEX Mall adalah mall bawah tanah terluas di Asia yang merupakan kompleks perbelanjaan, pusat budaya, pendidikan dan rekreasi di jantung Kota Seoul. Jadi bayangkan saja, mencari Jin Ae di situ sama saja dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Mi Rae mulai sibuk menghubungi ponsel Jin Ae. Ada nada sambung, tapi tidak diangkat. Ia mencoba menghubungi gadis itu lagi. Ia ingin membanting ponsel karena Jin Ae tidak kunjung menjawab panggilannya yang kesekian kalinya. Kemudian ia seakan menyadari sesuatu dan langsung mengelus ponsel dengan penuh kasih sayang. Ya, kalau saja ia sekaya Hyukjae atau Jin Ae—sudah sejak tadi ponsel itu diinjak-injak hingga tak berbentuk.

Ia memutuskan untuk pulang, tapi mengingat dirinya sudah telanjur berada di tempat itu, maka diurungkan lagi niatnya. Mi Rae pun menyusuri COEX Mall. Meski tidak berbelanja, tapi banyak hal yang bisa ia lakukan di situ. Setidaknya, itu bisa membantunya meredam amarah. Jadi, dimulailah petualangan pendek Baek Mi Rae. Tak mungkin baginya untuk mengitari COEX Mall secara penuh.

Di COEX Mall ada aquarium terbesar di Seoul. Bisa dihitung dengan jari, berapa kali Mi Rae berkunjung ke situ. Itulah sebabnya ia begitu terkesima melihat ribuan ikan dan penghuni laut di aquarium. Tentu saja, karena memang dikonsepkan sebagai pusat pendidikan, sehingga membuat pengunjung belajar tentang flora dan fauna. Tidak heran mengapa aquarium tersebut menjadi favorit pengunjung.

Sekali lagi Mi Rae mencoba menghubungi Jin Ae, tapi tidak berhasil. Mungkin saja Jin Ae sedang menghabiskan uangnya di deretan rumah mode atau salon yang ada di mall itu. Lelah berada di aquarium, Mi Rae segera keluar. Berjalan santai di antara ribuan pengunjung. Ia melewati toko-toko, tapi tidak seperti kebanyakan perempuan, ia sama tidak tertarik untuk mengunjungi salah satu toko. Ia tahu diri jika dompet tipisnya selalu memberi alarm peringatan. Membayangkan harga yang dipatok saja sudah membuatnya pusing. Kebanyakan toko di situ menjual brand-brand terkenal.

Mata Mi Rae sesekali mengawasi orang-orang yang berlalu lalang. Cukup banyak pasangan muda-mudi. Selain karena toko-tokonya menjual barang branded dan karena terdapat aquarium raksasa yang menarik minat pengunjung dari semua kalangan usia. COEX Mall memiliki bioskop 16 layar multi-kompleks, food court yang sangat luas hingga mampu menampung seribu orang pengunjung sekaligus, ada area bermain dengan perangkat game terbaru, bahkan ada Museum Kimchi. Wajar saja jika tempat itu cukup favorit.

Mi Rae lebih tertarik pada sebuah tempat. Toko buku. Ia mulai menjelajahi rak demi rak. Ada begitu banyak buku yang membuatnya sangat bersemangat, tapi lagi-lagi dengan alasan yang sama—kondisi keuangan yang sangat memprihatinkan—ia tidak bisa sesuka hati membelanjakan uangnya untuk buku-buku itu. Gadis itu terlihat berpikir keras, menimbang-nimbang buku mana yang harus ia beli. Terlalu banyak pilihan. Parahnya, ia menyukai semuanya. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli dua buah buku, dimana aroma kedokteran telah terendus dari sampul kedua buku itu. Sementara ia membayar di kasir, ponselnya sedang melantunkan suara jangkrik. Untuk kedua kali di hari yang sama ia menerima tatapan aneh. Ah, seharusnya ia mengganti ringtone itu. Ia terlambat menyadari jika ringtone itu kedengarannya aneh, berpikir untuk menggantinya, tapi tak juga ia lakukan.

“Di mana kau?” tanyanya dengan emosi yang mendadak tersulut.

Maaf, tadi aku sedang di salon,” jawab Jin Ae. Mi Rae mengangguk, dugaannya tidak meleset. “Aku akan segera ke tempatmu!

“Aku di toko buku.”

Toko buku yang mana?” ada banyak toko buku di dalam mall, Jin Ae harus memastikan ke mana ia akan mencari Mi Rae.

Mi Rae mendesah, “Sudahlah. Aku lapar. Jadi, kau harusnya tahu di mana akan menemukanku,” tanpa menunggu, ia memutuskan telepon. Sepertinya itu adalah aksi balas dendam.

Meski hanya membeli dua buku, tapi berada di COEX Mall serasa menghabiskan seluruh energi. Mi Rae yang lapar segera menuju ke tempat yang bisa menyelesaikan masalahnya. Ia tidak berniat untuk beristirahat di kafe atau bar. Setelah sekian menit berjalan di deretan restaurant, ia akhirnya masuk ke sebuah restaurant yang menyediakan makanan khas Korea.

Han Jin Ae tergopoh-gopoh memasuki restaurant. Ia mengembuskan napas lega begitu melihat Mi Rae yang sedang duduk tenang di salah satu meja. Gadis itu hanya melirik sekilas pada Jin Ae yang sedang menghampirinya, dan selanjutnya ia lebih tertarik memerhatikan seorang pelayan yang meletakkan makanan yang ia pesan di atas meja.

Tangan Mi Rae sibuk mengaduk-aduk jjajangmyeon dengan sumpit agar acar lobaknya tercampur rata. Sementara itu, Jin Ae telah duduk lesuh.

“Kau terlihat seperti baru mengikuti lomba lari maraton,” sindir Mi Rae.

“Aku tahu kau tidak akan pernah berkhianat dari jjajangmyeon, tapi pikirkan berapa banyak restaurant masakan Korea yang harus kuperiksa untuk menemukanmu,” Jin Ae mengibas-ngibas tangan di depan wajahnya.

Baek Mi Rae memang seorang penggila jjajangmyeon. Hidangan mie khas Korea. Terbuat dari mie, saus kedelai hitam kental, potongan daging, atau seafood.

“Kau tak lapar?” tanya Mi Rae, cuek.

Jin Ae hanya mendesis, selanjutnya dengan satu gerakan tangan yang mengambang di udara, ia memanggil pelayan. “Oh ya, bagaimana dengan penampilanku?”

Pertanyaan itu membuat Mi Rae mendongak, ia mengawasi Jin Ae yang tersenyum lebar. Memang ada yang berbeda dari penampilan Jin Ae. Ah, benar. Itu karena warna rambutnya yang tadinya coklat gelap, kini berwarna sedikit kemerahan. Mi Rae lantas menyuapi jjajangmyeon sembari berkata dengan ekspresi datar andalannya, “Sekarang kau terlihat persis seperti Ariel si putri duyung itu.”

Jin Ae mengerang panjang. Ia ingin mengumpat, tapi tertahan karena kedatangan pelayan yang meletakkan di hadapannya seporsi nasi campur ala Korea dengan aneka macam lauk serta saus sambal yang disajikan dalam mangkuk. Lauk-lauk yang disusun sedemikian rupa sehingga warnanya terlihat kontras dan menarik. Tak ketinggalan kuning telur mentah yang diletakkan di tengah lauk-lauknya. Yup, bibimbap.

Mr. Simple, Super Junior—terlantun dari ponsel Jin Ae. Buru-buru ia mengais-ngais isi tas dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Senyum di wajahnya mekar ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel. Mi Rae hanya berdecak prihatin karena sudah menduga siapa si penelepon itu.

“Kau sudah sampai?” pertanyaan Jin Ae menghentikan suapan jjajangmyeon Mi Rae. Ia mendongak mengawasi Jin Ae. “Kami sedang makan di Pulhayanggi,” Jin Ae menyebut nama restaurant tempat mereka berada. “Baiklah,” katanya lalu mengakhiri pembicaraan.

“Ah, Jin Ae, sepertinya aku harus segera pergi,” kata Mi Rae. Tangannya mendorong mangkuk jjajangmyeon sedikit menjauh dari hadapannya.

“Kenapa?” tanya Jin Ae. Tatapannya berganti pada mangkuk Mi Rae. “Kau tidak menghabiskan jjajangmyeon itu?” ia heran. Tidak pernah Mi Rae menyisakan jjajangmyeon.

“Aku lupa. Hari ini aku harus kerja part time.”

“Aku bahkan belum menelan makananku,” Jin Ae mengernyit. “Baek Mi Rae. Tidak ada gunanya. Ini sudah terlalu terlambat untuk pekerjaanmu. Hari ini kita akan bersenang-senang, okay?”

“Tapi—”

“Jin Ae! Mi Rae!”

Lee Hyukjae tersenyum lebar memamerkan gusi-gusinya. Ia menghampiri mereka dan langsung bergabung dengan mereka. Sementara itu mata Mi Rae tidak terlihat fokus. Ia tampaknya mencari sesuatu.

“Kau tidak bersama Cho Kyuhyun?” tanya Jin Ae. Raut wajah Mi Rae sedikit menegang mendengar nama itu.

“Lupakan si pengkhianat itu!” Hyukjae menggerakkan tangannya, seperti sedang menampar udara kosong di hadapannya. “Tadinya dia yang paling bersemangat, tapi begitu tahu tempat yang akan kita datangi, dia langsung masuk kamar dan tidur.”

Raut wajah Mi Rae melega begitu mendengar jawaban Hyukjae. Ia menarik napas dalam, mengembuskannya secara teratur, lalu meneguk air mineral di gelasnya. Selanjutnya, ia menarik kembali mangkuk berisi jjajangmyeon dan langsung menyuapi gulungan jjajangmyeon ke dalam mulutnya. Jin Ae sempat menganga sesaat melihat kelakuan aneh Mi Rae, tapi ia lebih tertarik pada hal lain.

“Kenapa? Dia sakit?” Jin Ae mengekspose kekhawatirannya terhadap Kyuhyun. Mendadak Hyukjae cemberut, “Hey! Dia itu sahabatmu,” Jin Ae mendesis karena menyadari Hyukjae sedang cemburu.

Hyukjae tersenyum sambil mencubit gemas pipi Jin Ae dengan kedua tangannya, dan dibalas dengan tamparan malu-malu Jin Ae di lengan Hyukjae. Sedangkan Mi Rae, hampir saja ia memuntahkan jjajangmyeon yang ditelannya karena melihat tingkah menjijikkan dua makhluk di hadapannya itu.

“Kyuhyun tidak mau menginjakkan kakinya di sini,” Hyukjae bersandar, lalu menarik minuman Jin Ae dan langsung menghabiskan setengah isi gelas tersebut.

“Memangnya kenapa? Dia punya pengalaman buruk di tempat ini?”

Hyukjae justru tersedak, sambil menggaruk kepala, ia berkata, “Bukan. Bukan begitu. Dia hanya tidak suka berada di tempat yang ramai,” jawabnya.

Berbeda dengan Jin Ae yang mengangguk sok paham, Mi Rae justru memikirkan hal lain. Sekarang Hyukjae bukan satu-satunya yang tahu kehidupan Kyuhyun dulu. Ya, meski itu adalah kejadian di masa lampau, tapi Mi Rae pun sempat terjebak dalam kejar-kejaran bahkan mengalami penculikan yang dilakukan oleh kelompok mafia. Mi Rae sedikit mengerti alasan mengapa Kyuhyun tidak menyukai keramaian.

Setelah itu, mereka tidak langsung pulang. Mereka justru kembali ke aquarium. Sesuatu yang membuat wajah Mi Rae terus-terusan masam. Tadi ia sudah ke situ, dan sekarang harus ke tempat itu lagi. Sebenarnya ia tidak membenci aquarium, tapi melihat Hyukjae dan Jin Ae yang tak segan-segan memamerkan kemesraan mereka membuat perutnya mual. Apalagi Han Jin Ae tidak mengijinkan ia pulang terlebih dahulu.

Gadis itu berjalan beberapa langkah di belakang Hyukjae dan Jin Ae. Ia mendesis parah melihat Hyukjae yang tak sedikit pun melepas rangkulannya dari pundak Jin Ae. Hallo, ia juga tahu jika mereka adalah pasangan kasmaran, tapi melupakan keberadaannya itu sangat keterlaluan.

Bersama-sama, mereka menyusuri terowongan di dalam aquarium raksasa yang terbuat dari kaca sehingga membuat keindahan aquarium terekspose sempurna. Langkah kaki Hyukjae tiba-tiba saja tertahan.

Jin Ae menoleh, “Ada apa?” tapi Hyukjae tak menjawab. Ia memandang lurus dan terpaku.

Baik Jin Ae, maupun Mi Rae, sama-sama mengikuti arah pandang Hyukjae. Berjarak sepuluh langkah di depan mereka, ada seorang wanita yang sedang berdiri menghadap ke sisi kanan terowongan kaca aquarium. Wanita itu memiliki rambut pendek yang mempertontonkan leher jenjangnya. Usianya tidak muda, tapi ia terlihat sangat cantik dengan kesederhanaan yang terpancar dari penampilannya.

“Sebaiknya kita pergi sekarang,” Hyukjae hendak berbalik, tapi wanita itu sudah lebih dahulu menoleh. Hyukjae mendadak terdiam.

“Lee Hyukjae?”

Bahasa tubuh Hyukjae yang sedang salah tingkah terlihat jelas. Akhirnya, ia membungkukkan tubuhnya, memberi hormat pada wanita itu. “Apa kabar, Bibi?” sapanya kaku. Wanita itu pun berjalan mendekati Hyukjae.

“Ternyata benar kau. Sudah lama kita tak bertemu,” ia tersenyum dan senyumannya sempat memukau Jin Ae dan Mi Rae.

“Ah, ya. Bagaimana kabar Bibi?”

Wanita menarik napas panjang, dan menjawab pertanyaan Hyukjae dengan sebuah senyuman. Matanya lalu tertuju pada Mi Rae dan Jin Ae. “Kau bersama teman-temanmu?”

“Iya.”

“Bagaimana dengan Kyuhyun?”

Hyukjae menelan paksa ludahnya. “Kyuhyun, dia dalam keadaan yang baik,” kata Hyukjae. Ia kemudian melanjutkan perkataannya setelah melihat tatapan mata wanita itu yang masih menuntutnya untuk menjelaskan lebih banyak lagi. “Dia sedang berada di apartemenku.”

Suasana menjadi sedikit lebih tenang karena untuk beberapa saat tidak ada yang bersuara di antara mereka, sampai akhirnya wanita yang disapa ‘Bibi’ oleh Hyukjae itu berkata dengan raut wajahnya yang tenang, “Dia mungkin tidak akan ke sini,” ujarnya pelan. “Bersenang-senanglah. Aku pergi dulu,” ujarnya lagi. Hyukjae kembali membungkukkan tubuhnya.

“Siapa wanita itu?” Jin Ae mendahului Mi Rae yang sejak tadi ingin bertanya. Mereka memandangi punggung wanita yang mulai menjauh itu.

“Ibunya Kyuhyun.”

Jawaban singkat Hyukjae membuat Mi Rae dan Jin Ae terkejut, tapi apa yang dipikirkan keduanya setelah itu, berbeda. Jin Ae terperangah karena wanita cantik itu adalah ibu dari seorang Cho Kyuhyun. Sedangkan Mi Rae, tetap bungkam. Ia tahu bahwa Kyuhyun memiliki dua orang ibu. Nyonya Song yang merupakan ibu biologis Kyuhyun dan telah meninggal dunia. Seorangnya lagi adalah wanita yang merawat Kyuhyun sejak kecil. Wanita yang begitu dicintai oleh Kyuhyun, dan itu adalah wanita cantik tadi.

“Tapi, mengapa dia bertanya seperti itu? Mungkinkah Kyuhyun tidak tinggal di rumah orangtuanya?”

Hyukjae dan Mi Rae sama-sama saling pandang setelah mendengar pertanyaan Jin Ae. “Eihh, Kyuhyun hanya ingin hidup mandiri,” Hyukjae mengelak, tampak sedikit kikuk. Tidak mungkin bagi mereka untuk menceritakan masalah Kyuhyun pada Jin Ae. Ia lalu menghela napas, “Aquarium ini adalah tempat favorit Kyuhyun. Dulu, ia selalu ke sini dengan ibunya,” ia menuntaskan penjelasannya dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya.

Entah kenapa, Mi Rae seperti diberi sedikit pengertian. Kyuhyun mungkin tidak menyukai keramaian, tapi ada alasan lain yang mengurungkan niatnya untuk pergi dengan Hyukjae. Seperti kata Hyukjae, aquarium di COEX Mall adalah tempat yang sering didatangi Kyuhyun bersama ibunya. Berada di situ, akan membangkitkan kenangan Kyuhyun bersama ibunya. Kyuhyun takut jika itu dapat melukainya lebih dalam.

***

Di kampus, selepas jam kuliah, seperti biasanya Mi Rae dan Jin Ae menjadi satu paket yang tidak terpisahkan. Namun, ada hal lain yang berbeda belakangan ini. Kehadiran Lee Hyukjae. Penyakit ekspresi datar super akut milik Mi Rae kambuh karena itu. Tidak, ia tidak cemburu, tapi terkadang kemesraan yang dipamerkan Hyukjae dan Jin Ae rasanya bisa mengubah posisi organ-organ di dalam rongga perut Mi Rae. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi dua makhluk yang sedang dilanda badai asmara itu seolah lupa jika dunia ini bukan milik mereka berdua.

Lihat saja, intensitas Mi Rae untuk mengelus dada terus bertambah. Baru saja dua orang itu berciuman di hadapannya. Memang bukan ciuman yang begitu dalam dan penuh tuntutan. Hanya sekadar kecupan ringan—tapi, tetap saja Mi Rae tak bisa berhenti berdecak sambil menggeleng kepala. Prihatin. Melihat kelucuan Mi Rae, sontak saja membuat Jin Ae dan Hyukjae saling pandang dan mereka tersenyum aneh. Tiba-tiba terlintas di kepala mereka ide untuk mengerjai Mi Rae. Keduanya berciuman, lagi.

Ada yang datang dan menutup mata Mi Rae. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk memberikan ceramah pada dua makhluk iseng itu.

“Keterlaluan.”

Mendengar suara Kyuhyun, tiba-tiba saja tubuh Mi Rae terasa kaku. Kyuhyun menyingkirkan tangannya yang menutupi mata Mi Rae. Senyum manisnya langsung menyambut Mi Rae.

“Dasar pengganggu!” Hyukjae mendesah.

“Tidak baik mengotori otak si polos ini,” ujar Kyuhyun dan ia tak segan-segan merangkul mesra pundak Mi Rae.

Secara refleks Mi Rae menghindar. Ia mundur beberapa langkah. Tingkahnya itu membuat Kyuhyun, Hyukjae dan Jin Ae sedikit terkejut. Mereka memandang bingung pada Mi Rae yang memamerkan ekspresi datar monotonnya. Gadis itu berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Ada apa dengannya?” selidik Hyukjae.

“Kau tahu?” Jin Ae bergantian menatap Kyuhyun. “Belakangan ini, Mi Rae sepertinya sedang menghindarimu. Terjadi sesuatu di antara kalian?”

Kyuhyun berpikir. Alisnya bertaut dengan kerutan tipis di dahinya. Ia mencoba mengingat, tapi rasanya hubungannya dengan Mi Rae baik-baik saja. Kepala Kyuhyun hanya menggeleng pelan, meski raut wajahnya sendiri belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh otak cemerlangnya itu. Memang benar. Itu bukan hanya perasaannya saja, tapi Baek Mi Rae mulai menjauhinya.

***

“Baek Mi Rae!”

Suara Kyuhyun yang memanggil namanya, membuat ia justru mengayunkan kaki lebih cepat. Sebenarnya, di perpustakaan tadi ia melihat Kyuhyun. Pemuda itu mungkin sengaja mengikutinya.

“Setelah ini apa yang akan kau lakukan?” tanya Kyuhyun yang telah menyamakan langkahnya dengan Mi Rae.

“Pulang.”

“Hyukjae dan Jin Ae mengatakan ingin pergi ke Itaewon,” pancing Kyuhyun.

Iya, Mi Rae juga tahu itu. Jin Ae bahkan baru beberapa menit lalu meneleponnya demi mengatakan rencana mereka untuk bersenang-senang di Volume, sebuah kelab yang terletak di Itaewon.

“Oh ya,” Mi Rae memberi respon yang terkesan biasa-biasa saja.

“Bagaimana jika kita—”

“Aku hanya ingin pulang,” ia memotong perkataan Kyuhyun dan melangkahkan kakinya lebih cepat lagi.

Kyuhyun sedikit tertinggal di belakang. Ia terdiam sejenak. Mi Rae yang ingin menghindar darinya, sudah terbaca jelas. Lalu ia kembali menyusuli Mi Rae.

“Hei, sahabat,” goda Kyuhyun. “Sebenarnya, ada satu hal lagi yang belum aku katakan padamu. Ini tentang—”

“Aku sedang sibuk,” lagi-lagi Mi Rae memotong ucapan Kyuhyun. “Katakan dengan cepat!” ia menatap dingin pada Kyuhyun sehingga pemuda itu pun bungkam dengan sorot mata yang terkejut. 30 detik setelah itu, ia kembali mengayunkan kakinya.

Kyuhyun mendongak memandangi langit. Ada apa dengan Mi Rae? Ia menarik napas panjang dan langsung menatap Mi Rae yang telah berjalan mendahuluinya. Ia pun mempercepat langkahnya, mengejar Mi Rae dan langsung menangkap tangan Mi Rae, namun Mi Rae menepis. Rona keterkejutan tercetak jelas di wajah Kyuhyun. Ia tak pernah menduga jika Mi Rae akan menghempas tangannya sekasar itu.

“Hei, Mi Rae!”

Siwon yang entah datang dari mana, tiba-tiba saja tersenyum lebar sembari menghampiri mereka. Senyumnya sedikit memudar saat matanya bertemu Kyuhyun.

“Kau ingat tentang buku yang kau tanyakan padaku beberapa waktu lalu? Kebetulan sekali, aku menemukan buku itu di gudang.”

“Choi Siwon, bisakah kau mengantarku pulang?”

“Ya?”

Jangankan Kyuhyun; Siwon saja terperanjat mendengar permintaan Mi Rae yang tak biasa. Siwon menatap dalam, menyelidiki keseriusan Mi Rae.

“Baik, aku pulang sendiri.”

Dengan gerakan cepat, Siwon memegang tangan Mi Rae, “Tentu. Aku akan mengantarmu.”

Mi Rae tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan kedua orang itu. Siwon dan Kyuhyun saling pandang dalam diam. Ada keanehan dari sorot mata mereka. Kemudian, Siwon menyusuli Mi Rae. Sepeninggal mereka, Kyuhyun mendesah pelan. Ia tak kunjung menemukan jawaban atas pertanyaan terbesar dalam dirinya.

Sebenarnya, apa yang telah terjadi?

Keadaan itu berlanjut hingga beberapa hari kemudian. Alis Kyuhyun semakin bertaut memikirkan perubahan sikap Mi Rae. Contohnya saja, Kyuhyun duduk di sebelah Mi Rae saat kelas akan berlangsung, namun Mi Rae segera membereskan tas dan pindah ke lain tempat. Saat Kyuhyun menyapanya ketika mereka berpapasan di depan kantor fakultas, Mi Rae justru membuang muka dan mengajak bicara seorang mahasiswi yang kebetulan berjalan bersamanya. Padahal Kyuhyun yakin jika Mi Rae sama sekali tidak mengenal mahasiswi itu.

Melihat kelakuan Mi Rae membuat Jin Ae ikut meradang. Mata dan hatinya masih bekerja dengan baik dan sangat peka. Tentu saja, ia dapat merasakan keanehan dari sikap Mi Rae. Saat mereka sedang makan di kantin kampus, Jin Ae sudah tak tahan dan langsung mengeluarkan unek-uneknya.

“Jadi, katakan. Tentang apa semua ini?”

“Apa?”

“Mengapa kau terus menjauhi Kyuhyun?”

“Aku? Memangnya terlihat begitu?”

“Ayolah. Aku bukan anak kecil!”

“Aku juga tahu itu,” Mi Rae mendengus santai sambil menatap Jin Ae secara utuh dengan ekor matanya, salah satu sudut bibirnya bahkan melengkung naik—tersenyum miring. Ia tak buta untuk melihat bentuk tubuh Jin Ae yang tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk fisik dari seorang anak kecil.

“Bukan itu maksudku,” kesal Jin Ae yang bisa menebak apa yang dipikirkan Mi Rae. “Kau tidak bisa membodohiku.”

Mi Rae terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Aku hanya tidak ingin orang-orang menjadi bodoh karena mencintaiku.”

“Eh?” Jin Ae terkejut. “Kau bicara apa?” tanyanya antusias, tapi Mi Rae sudah tidak memusingkannya. Gadis itu hanya menyuapi makanan ke dalam mulutnya secara teratur. Mengabaikan rasa penasaran Jin Ae. Jin Ae tak akan mengerti bagaimana perasaannya ketika mendengarkan langsung apa yang terucap dari mulut Kyuhyun.

Jadi menurutku, mencintai seorang gadis seperti Baek Mi Rae adalah sebuah kebodohan.

Ia memang secara kebetulan mendengar percakapan Kyuhyun dan Siwon saat hendak mengambil atlas anatominya yang tertinggal di lab anatomi. Rasanya seperti sebuah batu menghantam kepalanya. Tubuhnya masih lemas, tapi ia harus menyeret paksa kakinya untuk sesegera mungkin pergi dari situ. Kejadian di masa lalu—perasaan terkhianati dan dipermalukan—kembali menghantui, menciptakan horror paling menakutkan bagi dirinya.

                                                              ***

Apa pun yang terjadi, hari ini ia harus mendapatkan jawaban Mi Rae. Entah sudah berapa hari Kyuhyun merasa ketenangannya terusik. Ia kesal memikirkan Baek Mi Rae yang terus saja menjauhinya. Kepalanya serasa akan pecah ketika mencoba menghubungkan benang-benang kusut, mencari akar dari permasalahan yang sama sekali tidak ia pahami.

Itulah mengapa hatinya berlonjak girang ketika matanya menemukan Mi Rae yang sudah sejak tadi dengan sengaja ia tunggu, bahkan mengabaikan Hyukjae—yang jarang sekali—mengajaknya tanding game.

Kyuhyun berjalan berlawanan arah dengan Mi Rae. Gadis itu terhenti sejenak, tapi memutuskan untuk kembali berjalan. Kyuhyun menghadangnya. Ketika Mi Rae hendak menerobos, Kyuhyun tetap menjaga posisinya agar tetap berada di hadapan gadis itu.

“Bisa kau jelaskan padaku, mengapa kau bersikap seperti ini? Berkali-kali aku berpikir, tapi tak kunjung menemukan jawaban. Kepalaku sakit memikirkan semuanya.”

“Cho Kyuhyun. Sepertinya kita harus mempertimbangkan kembali tentang persahabatan kita,” tutur Mi Rae. “Alangkah baiknya jika kita kembali seperti awal,” lanjutnya lagi.

“Apa maksudmu?”

“Seperti tidak pernah saling mengenal. Kita hanya sebatas teman sekampus. Mungkin dengan begitu akan membuat kita lebih nyaman satu sama lain.”

“Mi Rae,” Kyuhyun mengernyit. Ia tak bisa memahami perkataan Mi Rae.

“Kau cemas jika aku akan membeberkan masa lalumu? Aku akan membawa itu sampai ke liang kubur.”

“Katakan jika aku melakukan sesuatu yang salah. Jangan hanya diam!”

“Dan—terima kasih untuk selama ini.”

“Baek Mi Rae. Aku—”

Mi Rae berbalik, membelakangi Kyuhyun. Ia menarik napas sangat panjang. Ia seperti sedang berusaha untuk melepaskan beban yang mengganjal di dadanya. Membuang bebannya di tempat itu juga. Di ujung jalan, Choi Siwon baru saja keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada Mi Rae dengan wajah bahagia.

Kyuhyun bergeming. Matanya tak bisa berkedip menatap Mi Rae yang menghampiri Siwon, hingga Mi Rae masuk ke dalam mobil bersama Siwon dan mobil itu melesat meninggalkan kampus. Tadinya ia bertekad menuntut jawaban Mi Rae, tapi sekarang ia tak lagi tertarik dengan semua itu. Melihat Mi Rae dan Siwon, mendadak dirinya takut mendengar jawaban Mi Rae. Dada yang bergemuruh tak bisa ia tenangkan begitu saja. Mungkin, ia mulai memahami rasa dari sebuah penolakan.

Kejadian itu disaksikan Hyukjae dari jauh. Ia menghampiri Kyuhyun, menyentuh pundak pemuda itu, “Kau baik-baik saja?”

Senyum tipis terukir dari sudut bibir Kyuhyun, “Jika tanganmu patah, maka hanya tanganmu yang terasa sakit. Namun begitu hatimu patah, seluruh tubuhmu menderita,” katanya pelan dan berlalu meninggalkan Hyukjae yang membungkam.

***

Sementara Hyukjae berteriak-teriak histeris dengan jari yang sibuk memencet stick game, Kyuhyun justru hanya duduk termenung. Tidak biasanya ia bersikap seperti orang yang kehilangan jiwa, padahal ia selalu yang paling bersemangat jika itu menyangkut game. Sesekali Lee Hyukjae melirik Kyuhyun dengan ekor matanya. Ah, orang itu lebih mirip mayat hidup sejak kejadian empat hari lalu. Tidak keluar rumah, tidak ke kampus, makan pun tidak teratur. Hyukjae sendiri tidak yakin jika Kyuhyun masih ingat bagaimana caranya tidur. Hyukjae tak mengira jika sedalam itu perasaan sahabatnya kepada Mi Rae.

Penyakit paling mematikan versi Kyuhyun adalah patah hati. Kyuhyun membutuhkan waktu sendiri untuk merenung. Saat ia memutuskan untuk pergi ke kampus, orang yang paling berbahagia di dunia adalah Hyukjae. Rasanya seperti ingin merayakan sebuah pesta penyambutan dengan sangat meriah.

Di kampus, Kyuhyun dan Mi Rae hanya saling pandang, tanpa bertegur sapa. Keduanya bahkan berusaha agar tidak terjadi kontak mata. Hyukjae dan Jin Ae hanya menggeleng, mendesah frustasi melihat tingkah kedua sahabat mereka itu. Berlakon seolah tidak saling kenal. Sungguh kekanak-kanakan. Ketika kelas usai, Kyuhyun adalah orang pertama yang meninggalkan ruangan setelah dosen.

“Ini mengesalkan,” Jin Ae berdecak sambil memijat kepalanya. Ia dan Hyukjae memerhatikan Mi Rae yang mengemas barang-barangnya, lalu berjalan keluar kelas dengan mulut yang tetap terkatup rapat.

Dilain hari, satu-satunya yang tersisa di dalam kelas adalah Mi Rae. Ia menolak ajakan Jin Ae untuk pergi ke Lotte World. Sementara Kyuhyun masih setia menjadi orang yang selalu meninggalkan ruang kelas lebih dulu. Mi Rae hanya duduk merenungi sesuatu, dan ia tak menyadari jika Choi Siwon sedang mengawasinya di ambang pintu kelas.

“Akhir-akhir ini kau lebih banyak melamun.”

Kedatangan Siwon menyadarkan Mi Rae. Ia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Siwon. Pemuda itu duduk di sebelah Mi Rae, menatap dalam wajah Mi Rae yang terlihat sedikit lebih tirus.

“Kau sakit?” tanya Siwon sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Mi Rae.

“Tidak,” Mi Rae sedikit memalingkan wajahnya agar tangan Siwon berpindah tempat.

“Kau tidak ingin cerita padaku?”

“Hm, tidak ada yang harus kuceritakan.”

“Kau bertengkar dengan Kyuhyun, bukan?”

Seketika Mi Rae berpaling, menatap tajam Siwon. Ia tak menjawab. Dari tarikan napas panjang seolah ingin menguras semua oksigen di ruangan itu, Siwon tahu jika ada yang sesuatu yangsalah.

Dua orang itu terdiam cukup lama. Membisu dalam keheningan, hanya membiarkan jarum jam berdetak konstan. Sampai akhirnya Mi Rae merasakan tangannya disentuh. Ia menoleh pada Siwon, dahinya berkerut dalam melihat Siwon menggenggam jemari tangannya.

“Mi Rae, aku mencintaimu.”

Ungkapan cinta yang begitu tiba-tiba membuat mata gadis itu sedikit melebar. Dalam situasinya sekarang, ia tak sedang mengharapkan seseorang mengutarakan perasaan padanya. Ia cukup peka untuk menyadari perlakuan Siwon kepadanya, tapi bukan seperti ini yang ia harapkan. Setidaknya, untuk saat ini ia hanya ingin menenangkan dirinya.

“Siwon, aku sedang—”

“Aku tahu,” sergah Siwon. Pemuda itu menyentuh wajah Mi Rae dengan lembut, tersenyum hangat. “Aku hanya ingin mengatakan itu,” katanya.

Mi Rae hanya diam. Mereka terus bertatapan. Lama-kelamaan wajah Siwon terlihat semakin mendekati wajahnya. Mi Rae menyadari situasi itu. Jujur saja, jantungnya berdetak sangat cepat. Ketika bibir Siwon hampir menyentuhnya, gadis itu memalingkan wajahnya. Siwon terdiam. Ia kembali menyentuh wajah Mi Rae, membimbing Mi Rae untuk membalas tatapannya. Wajah datar Mi Rae dalam jarak pandang yang begitu dekat, tampak sangat menggemaskan. Juga, bibir Mi Rae yang merekah membuat Siwon kian tergoda untuk mengecap bibir itu.

Menyadari jika Siwon masih berniat menciumnya, sontak saja Mi Rae mendorong kasar tubuh Siwon sehingga membuat pemuda itu hampir terjungkal. Siwon tak begitu terkejut. Mungkin ia sudah memprediksikan apa yang akan Mi Rae lakukan.

“Mi Rae.”

“Jangan menyentuhku!”

Siwon diam beberapa saat, memalingkan wajahnya dari Mi Rae. Bibirnya tersenyum miring dan tatapannya kembali tertuju pada Mi Rae sembari membenarkan posisi duduknya.

“Kau sangat kasar, Nona Baek!”

“Kenapa kau lakukan itu?”

“Kau belum pernah berciuman?” Siwon tersenyum. Ia lalu mendengus, tatapan matanya terlihat kesal, “Jika kau bertingkah seperti itu, tak akan ada orang yang mau mendekatimu.”

Mi Rae tersenyum sinis, “Apa pun yang terjadi padaku, kau tidak perlu memusingkan itu,” Ia meraih tasnya, ia berdiri dan berniat pergi, tapi Siwon justru menarik tangan gadis itu. Siwon memaksanya tetap duduk. “Kau mau apa?” tanya Mi Rae terbata. Ia sedikit takut melihat tatapan Siwon. Benar-benar berbeda.

“Sekarang kau berubah menjadi gadis angkuh?” Siwon bertanya dingin. “Apa kau tak sedikit pun melihatku? Baiklah, lupakan itu. Aku akan membuatmu jadi milikku—dengan cara apa pun!” katanya. Ia langsung mendaratkan ciuman ke bibir Mi Rae. Gadis itu terkejut dan berontak sambil memalingkan wajahnya.

“Lepas…lepaskan aku!” teriak Mi Rae, tapi tenaga Siwon jauh lebih besar dari dirinya. Entah setan apa yang telah merasuki Siwon, tapi ia sudah kehilangan kendali. “Choi Siwon!” hardik Mi Rae.

Brughh!

Tiba-tiba saja Siwon ambruk ke lantai. Mi Rae tersentak, ia menatapi Cho Kyuhyun yang berdiri. Raut wajahnya sangat tegang, napasnya memburu dengan dada yang naik-turun. Barusan, Kyuhyun yang menarik kemeja Siwon, mendorong kasar pemuda itu hingga terpental di lantai.

Kyuhyun kembali menarik Siwon hingga berdiri, “Brengsek kau!” ia meninju wajah tampan Siwon membuat pemuda itu kembali terjatuh.

Sementara itu, Mi Rae masih mematung dengan bola matanya yang mulai berair. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia berlari dari tempat itu sambil menyeka kasar bibirnya. Kyuhyun semakin emosi. Ia menghampiri Siwon, berlutut di dekat Siwon dan menarik kerah kemeja Siwon.

“Apa yang kau lakukan padanya?” lagi, ia menghadiahi wajah tampan Siwon dengan sebuah pukulan. “Sialan!” Kyuhyun memukul Siwon seperti orang yang kesetanan. Ia terus melakukan itu hingga berhenti setelah puas dan lelah.

Ia melepaskan Siwon, berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Mata elangnya menatap tajam pada Siwon yang sedang berupaya untuk duduk. Wajah pemuda itu babak belur, bibirnya sobek. Siwon meludah darah di lantai. Ia menyeka sudut bibir dengan punggung tangannya. Ia membalas tatapan Kyuhyun, dan menyeringai.

“Cuma ini kemampuanmu?”

“Kau memancingku?”

“Kenapa? Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertimu?”

Kyuhyun mendengus, “Orang sepertiku?”

“Aku tak harus mendefinisikan orang seperti apa dirimu,” Siwon tertawa pelan. Ia menatap Kyuhyun dari ujung kaki hingga kepala. Terlihat sekali jika ia sedang meremehkan Kyuhyun. “Kau mungkin akan berbangga hati karena semua orang yang mengelu-elukan kehebatanmu, tapi itu tidak akan membuatmu menjadi orang yang berkuasa,” ujar Siwon. Ia sedang mengejek Kyuhyun. “Aku punya uang untuk membeli segalanya, termasuk membeli kekuasaan dan juga—membelimu.”

Kepalan tangan Kyuhyun semakin kuat. Ia menggeram. Rahangnya terlihat jelas karena menahan emosinya, “Baiklah. Lakukan semampumu, tapi ingat ini. Aku bisa melakukan apa pun untuk membuatmu bertekuk lutut bahkan menjilat kakiku,” tutur Kyuhyun dengan raut wajah yang sangat serius. “Satu lagi. Jangan mengusik Baek Mi Rae. Aku diam dan tidak melakukan apa pun karena aku menghargai keputusannya. Belajarlah untuk menghargai orang yang menyukaimu.”

Siwon hanya tertawa. Ia menatap Kyuhyun yang pergi dan menghilang di balik pintu. “Orang yang menyukaiku? Baek Mi Rae menyukaiku, katamu?” tawa Siwon semakin kuat. “Apa kau tahu? Alasan aku melakukan? Karena aku tidak bisa mendapatkan perhatiannya. Bahkan saat bersamaku, bukan aku yang ia pikirkan. Sial,” Siwon mengumpat. Raut wajahnya perlahan mulai menenang. “Mengapa kalian berdua membuatku begitu bodoh,” gumamnya dan langsung merebahkan tubuhnya di lantai.

Ia memejamkan mata, meletakkan sebelah tangannya di atas kepala. Sekarang, ia sangat sedih. Sebenarnya, ia mengutuk dirinya sendiri karena menjadi orang yang begitu brengsek dan melakukan hal semengerikan itu pada Mi Rae. Kekesalannya tumbuh karena tidak bisa menarik hati Mi Rae sehingga membuatnya berpikiran pendek. Lebih sebal lagi melihat sikap Kyuhyun dan Mi Rae. Saling menjauhi, tapi sebenarnya di dalam hati mereka masih menyimpan rasa peduli yang sangat besar. Ya, dua orang bodoh itu. Tentang perasaan Siwon pada Mi Rae, ia sangat tulus—tapi ternyata ada orang lain yang mencintai Mi Rae jauh lebih besar daripadanya. Siwon hanya bisa tersenyum pahit ketika teringat lagi bagaimana Kyuhyun melukiskan arti seorang Baek Mi Rae bagi pemuda tersebut.

“Jadi menurutku, mencintai seorang gadis seperti Baek Mi Rae adalah sebuah kebodohan.”

Siwon tertegun, tapi belum sempat ia bersuara, Kyuhyun telah lebih dulu menyergah.

“Tapi aku tidak keberatan jika terjebak dalam kebodohan semacam itu.”

Senyum hangat Kyuhyun terlukis di raut wajahnya yang tampan. Matanya yang sendu menyiratkan banyak cinta untuk gadis yang sedang tergiang di benaknya dan itu membuat Siwon merasa gugup.

“Tak adil rasanya jika membandingkan Mi Rae dengan gadis-gadis cantik, kaya, pintar dan semua hal yang menjadikan mereka idaman setiap pria, tapi tidak satu pun dari gadis-gadis itu yang dapat mengalahkan pesona Mi Rae di hatiku,” Kyuhyun berujar mantap.

Ia tak terlihat ragu sedikit pun dengan apa yang ia pikirkan tentang Mi Rae. Memang setiap orang memiliki penilaian yang berbeda dan Kyuhyun tidak pernah memaksa siapa pun untuk menyetujui pendapatnya.

“Dia kaku dan sulit bergaul, tapi dia orang yang sangat menyenangkan. Dia jarang sekali berbicara, tapi ketika dia berbicara maka kau akan kagum dan tanpa sadar kau berharap jika dia tak berhenti berbicara. Suaranya seperti nikotin yang membuatmu candu. Dia terlalu logis dan sangat relistis, tapi itu daya tariknya. Dia adalah tipe yang tegas dan berpendirian. Dia akan mengatakan ya jika benar dan tidak jika salah. Dia selalu bersikap dingin dan terkesan tak pedulian, tapi apa kau tahu jika dia adalah seseorang yang sangat penyayang dan penuh perhatian?”

Atmosfer aneh telah tercipta di antara mereka. Siwon terus saja mematung disaat Kyuhyun masih memuja Mi Rae, dengan tak habis-habis. Melihat cara Kyuhyun berbicara, melihat sinar mata Kyuhyun ketika menyebut nama Mi Rae atau mendeskripsikan Mi Rae setiap incinya; rasa sesak mulai menyeruak di dalam dada Siwon. Apa itu artinya ia sudah kalah dari Kyuhyun?

“Kesimpulannya. Mencintai Mi Rae adalah kebodohan yang sangat manis.”

Selepas mengatakan itu, Kyuhyun berbalik. Ia meninggalkan Siwon yang bergeming dan hanya matanya yang menatap sendu.

Semua yang dikatakan Kyuhyun tidak meleset. Baek Mi Rae memang orang yang seperti itu, tapi ada satu hal yang disesalkan Siwon. Kyuhyun mungkin tak tahu, gadis seperti apa Baek Mi Rae dulunya. Siwon kembali mendesah panjang. Semua memang karenanya. Kesalahannya.

Di tempat lain, Cho Kyuhyun disibukkan dengan mencari Mi Rae. Ia berlari-lari di sepanjang koridor dan juga tempat yang kemungkinan dilewati oleh Mi Rae. Matanya bergerak lincah, selincah gerakan kakinya demi menemukan gadis itu. Ketika berada di sebuah koridor berkaca di lantai tiga yang menghubungkan dua buah gedung berbeda, ia mengenali sosok yang berjalan ke arah taman yang terletak di bagian belakang Fakultas Kedokteran. Kyuhyun menuju lift. Menekan tombol dengan gerakan cepat. Begitu tiba di lantai dasar, Kyuhyun tak membuang waktu. Ia bergegas menuju tempat di mana ia melihat Mi Rae tadi.

Benar. Baek Mi Rae ada di sana. Berdiri di dekat sebuah lampu taman. Kyuhyun menunduk, memegang lutut dengan kedua tangannya. Ia bertumpuh, kelelahan karena terus berlari. Rasa lelah itu tidak sebanding dengan kelegaan yang memeluk hatinya. Ia menegakkan tubuh, dan berjalan pelan menghampiri Mi Rae. Gadis itu terlihat mengeluarkan ponsel.

“Jin Ae.”

Langkah Kyuhyun tertahan. Ia tak ingin menyela pembicaraan mereka.

“Tidak apa-apa, aku hanya teringat padamu,” ujar Mi Rae pelan. Gadis itu menarik napas berat. “Sudah berapa lama kita bersahabat. Hm, sejak kelas satu SMA. Benar?” Mi Rae tersenyum getir.

Di seberang sana, Han Jin Ae pasti bertanya-tanya. Tidak biasanya Mi Rae seperti itu. Jin Ae mungkin sudah merasa jika ada sesuatu terjadi pada sahabatnya.

“Kau mungkin belum mengetahui cerita ini. Jadi, dengarkan baik-baik,” Mi Rae tersenyum tipis. “Ada seorang gadis yang selalu merasa bahagia. Meski hidup susah, tapi dia selalu tersenyum. Dia periang dan begitu ceria. Kegiatan yang paling disukainya adalah menonton drama. Selepas itu, dia akan membahas drama yang ditontonnya dengan teman-temannya, sangat antusias. Dia menyukai seorang senior yang tampan, idola para gadis di sekolah. Dia sebenarnya sadar jika angannya itu adalah sesuatu yang mustahil. Lalu, suatu hari—sang senior memanggil namanya dan dia sangat terkejut. Tak menyangka jika namanya diketahui oleh orang sepopuler seniornya itu. Lambat laun, hubungan mereka semakin dekat. Dia mulai besar kepala, dan mengira senior itu menyukainya. Tapi, keyakinannya semakin kuat saat sang senior memintanya secara khusus untuk hadir di pesta ulang tahun sang senior. Dia mengupayakan banyak hal untuk tampil cantik. Di pesta, senior itu mengutarakan perasaan. Ah, dia sangat senang. Seperti cerita yang pernah dilihatnya dalam drama. Seorang lelaki tampan, namun menyukai gadis biasa.”

Sunyi. Mi Rae berhenti sejenak. Mengumpulkan udara di paru-paru dan kembali melanjutkan ceritanya.

“Tapi ternyata—ungkapan cinta sang senior tidak ditujukan untuknya, melainkan untuk gadis lain. Malam itu, dia dipermalukan dengan kejam. Ah, seandainya saja saat ini dia bisa menceritakan alasan mengapa mereka melakukan itu padanya, tapi kejadian itu membuatnya merasa seperti bumi runtuh di atas kepalanya. Sejak saat itu, dia bermetamorfosa menjadi sosok yang jauh berbeda. Hatinya yang hangat, perlahan mulai diselimuti es. Satu hal yang tidak berubah adalah kecintaannya terhadap drama. Dia masih senang menonton drama, tapi dengan tujuan yang berbeda. Kini, drama baginya adalah sebuah peringatan agar dia tidak terjebak dan mampu membedakan antara kenyataan dan ilusi.”

Ada sesuatu yang menyeruak paksa, keluar dari mata Mi Rae. Rasanya hangat ketika mengalir di pipinya. “Han Jin Ae. Apa kau tahu siapa gadis bodoh itu?” Mi Rae memaksa bibirnya untuk tersenyum, “Si bodoh itu adalah aku. Baek Mi Rae,” ia menuntaskan semua.

Tangan Mi Rae terjuntai lemah. Ia tak mempedulikan suara Jin Ae yang memanggil-manggil namanya. Mi Rae terisak pelan dengan tubuh yang mulai bergetar. Ia bahkan tak menyadari jika di belakangnya, Kyuhyun sedang mengepalkan tangan kuat. Sangat kuat sehingga mempertontonkan urat-urat di tangannya.

*

Di apartemen Hyukjae. Kyuhyun sudah berjam-jam hanya duduk bak patung di mini bar. Diam seribu bahasa dengan sorot mata yang aneh. Ia sedang memikirkan banyak hal. Hanya tangannya yang menggoyang pelan gelas berisi minuman beralkohol. Perhatiannya sedikit teralih saat mendengar suara pintu dan tak lama kemudian terlihat Hyukjae yang berjalan lesuh sambil membuang jaket begitu saja di sofa depan televisi. Pemuda itu menghampirinya dan bergabung dengannya di mini bar.

Hyukjae juga tak bersuara. Ia tahu siapa yang dipikirkan Kyuhyun sehingga membuat pemuda itu betah berdiam diri.

“Jin Ae mengatakan padaku tentang kejadian hari ini,” Hyukjae akhirnya memulai percakapan. “Kau sudah tahu?” pancingnya.

Kyuhyun justru kembali menenggak minuman dan Hyukjae langsung menarik kesimpulan jika pemuda yang tampak frustasi di hadapannya itu pun tahu tentang apa yang telah terjadi.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan?” tanya Hyukjae. “Kau akan membiarkan Siwon begitu saja?” ia memperjelas pertanyaannya.

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Kyuhyun. Ia hanya menuangkan minuman ke dalam gelasnya yang telah kosong. Ia meneguk sekali, lalu menoleh pada Hyukjae, “Kau tak perlu menggigit seekor anjing, hanya karena anjing itu menggigitmu,” ujarnya tenang. Sebuah ketenangan yang justru mengusik Hyukjae, “Yang harus kau lakukan adalah membunuh anjing itu.”

Lee Hyukjae sangat terperanjat mendengar Kyuhyun mengucapkan kalimat mengerikan itu sambil menyeringai tajam. Entahlah, tapi jantung Hyukjae berdebar kuat. Bahkan dirinya bergeming, memerhatikan Kyuhyun yang kembali menghabiskan minuman dalam sekali teguk. Ekspresi dingin dan sorot mata aneh tergurat di wajah Kyuhyun. Hyukjae tahu jika kata membunuh yang diucapkan Kyuhyun bukanlah membunuh dalam arti yang sebenarnya. Ia tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Kyuhyun. Namun apa pun itu, Lee Hyukjae bergidik ngeri. Merinding.

                                                     ~bersambung~

Entah karena pengaruh ditinggal wamil, atau karena cemburu ngeliat kucing yang pacaran di depan mess… berasa agak galau wkwkwkwk.

Abaikan itu.

Sebenarnya sih, sekitar tiga hari belakangan ini, semangat nulis sy sedang deru dendam membara (ya elah, bahasa sy). Berhubung saat kembali ke tempat kerja sy gak bawa laptop, begitu selesai jam kantor, cuma bisa gelindingan di kasur sampe gak waras.

Tapi ternyata keinginan menulis itu terlalu kuat menyentuh sanubari lapisan terdalam -_- eyke sakau.

Dan…dua hari ini, sangat terpaksa sy nyuri2 waktu untuk melanjutkan drama part 10 di kantor. Dengan sebuah pertimbangan; gak enak sama dokter, kalo tiba-tiba sy dilarikan ke klinik, kejang-kejang akibat dari memendam keinginan menulis. Tapi, kalo dokternya cem Kyu…Hayati rela jadi tawanan abang 😀

Forgive me, Bos!!!

Ya udah, selamat membaca. Jangan tanya kelanjutannya kapan karena itu masih menjadi sebuah misteri ilahi hahaha.

Wokay! Mohon tanggapannya ya.

Iklan

212 thoughts on “Drama (Part 10)

  1. de15 berkata:

    Tuh kan bener Mi Rae salah faham. Jangankan Mi Rae, kita aja readers salah faham bang..
    Ternyata Mi Rae gak dengerin omongan kyu selanjutnya… #poorkyu..
    Ff ini banyak banget rahasianya.. Dan gak ketebak.. Ternyata Mi Rae adalah seorang yg periang dulunya.. Moga kyu bisa balikin sisi periang Mi Rae seperti dulu lg..

  2. aulia fitri berkata:

    Oh,,,, ternyata ini yg membuat mi rae berubah.choi siwon kenapa bisa setega itu sma mi rae, saya nnggami rae menghindari kyuhyun itu karena masa lalu kyuhyun ternyata dia dengerin kata kata kyuhyun sma siwon. Jdi kasian sma mi rae nya
    ❤👍

  3. Chokyuangel berkata:

    Waduh mirae np ga denger mpe selesai si..kan jd salah paham…waduh kyu mau ngapain tu?ngeri amat marah nya..

  4. shin naya berkata:

    tuhkan mirae salah faham lagi..semoga masalh kalian cepet selesai…
    dan kau siwon kanapa kau selalu menyakiti baek mi rae..kau tlah mendapatkan kesempatan kedua tp kau malah membuatnya terluka lagi…kau sungguh tak tau diri(sebel dech )

  5. Lala berkata:

    Haduhhh… mirae beneran denger omongannya kyu, salah paham deh
    Trs ngapain tuh siwon
    Kok nyebelin gitu

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s